MENCIUM ISTRI KETIKA BERPUASA
Apakah membatalkan puasa? Bagi siapa dan bagaimana?
Mari kita simak riwayat-riwayat berikut:
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَسَعْدٌ قَالَا حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ قَالَ سَعْدٌ التَّيْمِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ قَالَتْ أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقَبِّلَنِي فَقُلْتُ إِنِّي صَائِمَةٌ فَقَالَ وَأَنَا صَائِمٌ ثُمَّ قَبَّلَنِي. (رواه أحمد: ٢٥١١٦)
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub dan Sa'ad keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Ayahnya dari Thalhah bin Abdullah bin Utsman berkata, berkata Sa'ad Attaimiy; saya telah mendengar Aisyah berkata, "Ketika Rasulullah ﷺ ingin mencium ku, saya katakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa.' beliau menjawab, 'Saya juga sedang berpuasa.' Kemudian beliau mencium ku." (HR. Ahmad: 25116 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari `Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu `Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Imam Ahmad juga meriwayatkan,
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ خَرَجَ عَلْقَمَةُ وَأَصْحَابُهُ حُجَّاجًا فَذَكَرَ بَعْضُهُمْ الصَّائِمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْهُمْ قَدْ قَامَ سَنَتَيْنِ وَصَامَهُمَا هَمَمْتُ أَنْ آخُذَ قَوْسِي فَأَضْرِبَكَ بِهَا قَالَ فَكُفُّوا حَتَّى تَأْتُوا عَائِشَةَ فَدَخَلُوا عَلَى عَائِشَةَ فَسَأَلُوهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ قَالُوا يَا أَبَا شِبْلٍ سَلْهَا قَالَ لَا أَرْفُثُ عِنْدَهَا الْيَوْمَ فَسَأَلُوهَا فَقَالَتْ كَانَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ. (رواه أحمد: ٢٣٠٠٠)
Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari Alqamah, Alqamah pernah pergi haji bersama para sahabatnya, beliau menceritakan bahwa sebagian mereka ada yang berpuasa tapi ia tetap mencium dan mencumbuinya (istrinya). Lalu berdiri seorang lelaki diantara mereka yang telah berpuasa selama dua tahun. Aku ingin mengambil busur panahku dan aku ingin memukulmu dengannya. Dia (Alqamah) Berkata, "Hanya mereka menahannya sampai mereka menemui Aisyah, lalu mereka menemui Aisyah dan bertanya kepadanya mengenai hal tersebut." Aisyah menjawab, "Rasulullah ﷺ berpuasa tapi juga mencium dan mencumbuinya (istrinya) dan beliau adalah orang yang paling bisa menjaga nafsunya diantara kalian." Mereka berkata, "Wahai Aba Syibli, tanyalah dia (Aisyah)." Dia (Alqamah) menjawab, "Semenjak hari itu aku tidak pernah berkata keji di hadapannya." Lalu mereka menanyakan hal itu kepadanya (Aisyah) dan dia menjawab, "Beliau mencium dan mencumbui (istrinya) sedang beliau dalam keadaan berpuasa." (HR. Ahmad: 23000 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari `Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu `Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Selanjutnya,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ أَنَّ عَلْقَمَةَ وَشُرَيْحَ بْنَ أَرْطَاةَ كَانَا عِنْدَ عَائِشَةَ فَقَالَ أَحَدُهُمَا سَلْهَا عَنْ الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لَا أَرْفُثُ عِنْدَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ. (رواه أحمد: ٢٣٨٠٢)
Telah menceritakan kepada kami Muhmmad bin Ja'far, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al-Hakam dari Ibrahim bahwasanya Alqomah dan Syuraih bin Arthah bersama Aisyah, salah seorang di antara mereka berkata, Tanyakan kepadanya tentang (hukum) mencium bagi orang yang berpuasa?", salah seorang lagi berkata, "Janganlah berkata kotor di hadapan ummul mukminin." Lalu (Aisyah) Berkata, "Rasulullah ﷺ pernah mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan berpuasa dan mencumbui (istrinya) sedang beliau dalam keadaan berpuasa, dan beliau merupakan orang yang paling bisa menahan hawa nafsunya di antara kalian." (HR. Ahmad: 23802 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari `Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu `Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits `aziz dipertengahan sanad)
Imam Ad-Darimi meriwayatkan, tentang apa yang dilakukan Umar kepada istrinya:
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْأَشَجِّ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ هَشِشْتُ فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ إِنِّي صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ مَضْمَضْتَ مِنْ الْمَاءِ قُلْتُ إِذًا لَا يَضِيرُ قَالَ فَفِيمَ. (رواه الدارمي: ١٦٦١)
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid Ath Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa'd dari Bukair bin Abdullah bin Al Asyaj dari Abdul Malik bin Sa'id Al Anshari dari Jabir bin Abdullah dari Umar bin Al Khathab ia berkata, "Aku merasa berhasrat, lalu aku mencium dalam keadaan berpuasa. Kemudian aku datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, "Sungguh, hari ini aku telah melakukan perkara yang besar, aku telah mencium dalam keadaan berpuasa!" Beliau bersabda, "Bagaimana pendapatmu apabila engkau berkumur-kumur dengan air?" Aku menjawab, "Jika demikian hal itu tidak merusak puasa?" Beliau balik bertanya, "Dalam hal apa!' (HR. Ad-Darimi: 1661 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari `Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)
Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 132 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari `Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H.
Rasulullah ﷺ juga pernah mencium salah seorang istri beliau selain `Aisyah. Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ. (رواه أحمد: ٢٤٥٥٠)
Telah menceritakan kepada kami Waqi' dia berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari ayahnya dari Aisyah bahwasanya Nabi ﷺ pernah mencium salah seorang di antara istrinya sementara beliau sedang berpuasa. Kemudian Aisyah tertawa. (HR. Ahmad: 24550 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari `Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu `Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Selain itu dari Jalur Hafshah juga diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ. (رواه أحمد: ٢٥٢٤٢)
Telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Muslim dari Syutair bin Syakal dari Hafshah berkata, "Bahwa Rasulullah ﷺ pernah mencium istrinya, sementara beliau sedang berpuasa." (HR. Ahmad: 25242 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Hafshah bin `Umar bin al-Khaththab, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 41 H)
Hadits yang diriwayatkan oleh `Aisyah dan Hafshah ini memberikan informasi bahwa sebagaimana diceritakan oleh `Aisyah salah satu istri yang dicium Rasulullah ﷺ adalah Hafshah dan begitu juga sebaliknya sebagaimana diceritakan Hafshah adalah yang dicium Rasulullah ﷺ adalah `Aisyah.
Namun, imam Malik meriwayatkan secara mauquf, hadits tentang mencium istri diwajibkan berwudhuk. Beliau berkata,
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ مِنْ قُبْلَةِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ الْوُضُوءُ. (رواه مالك: ٨٨)
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab bahwa dia berkata, "Wajib berwudu bagi seorang laki-laki yang mencium istrinya." (HR. Malik: 88 - mauquf shahih menurut Salim bin `Ied Al Hilaliy dari Muhammad bin Muslim bin `Ubaidillah bin `Abdullah bin Syihab, ia tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 134 H. Ibnu Hajar menilainya faqih hafizh mutqin dan adz-Dzahabi menilainya seorang tokoh)
Hadits ini merupakan pendapat shahabat, yaitu Ibnu `Umar. Sebagaimana imam Malik meriwayatkan secara mauquf pada hadits sebelumnya:
حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قُبْلَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَجَسُّهَا بِيَدِهِ مِنْ الْمُلَامَسَةِ فَمَنْ قَبَّلَ امْرَأَتَهُ أَوْ جَسَّهَا بِيَدِهِ فَعَلَيْهِ الْوُضُوءُ. (رواه مالك: ٨٧)
Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari bapaknya, - Abdullah bin Umar - dia pernah berkata, "Ciuman dan rabaan tangan laki-laki pada istrinya termasuk mulamasah. Barang siapa yang mencium istrinya atau merabanya, wajib baginya berwudu." (HR. Malik: 87 - mauquf shahih menurut Salim bin `Ied Al Hilaliy dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits ahlul Madinah)
Ibnu `Abbas menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ شَيْخٍ مِنْ بَنِي سَدُوسٍ قَالَ سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصِيبُ مِنْ الرُّءُوسِ وَهُوَ صَائِمٌ حَدَّثَنَاه ابْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فَذَكَرَهُ. (رواه أحمد: ٣٢١٨)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari seorang syaikh dari bani Sadus ia berkata, Ibnu Abbas ditanya mengenai mencium bagi orang yang berpuasa? Lalu ia berkata, Rasulullah ﷺ pernah mencium bagian kepala, saat itu beliau sedang berpuasa.
Telah menceritakannya kepada kami Ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Sa'id dari Ayyub dari Abdullah bin Syaqiq dari Ibnu Abbas lalu ia menyebutkannya. (HR. Ahmad: 3218 - isnadnya dha'if dan isnadnya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari `Abdullah bin `Abbas bin `Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-`Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Dua jalur sanad; yang pertama dha`if karena periwayat yang menerima langsung dari Ibnu 'Abbas tidak diketahui; sedang yang kedua shahih)
Sementara itu, imam meriwayatkan:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ قَيْصَرَ التُّجِيبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ شَابٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُقَبِّلُ وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ لَا فَجَاءَ شَيْخٌ فَقَالَ أُقَبِّلُ وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَنَظَرَ بَعْضُنَا إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ عَلِمْتُ لِمَ نَظَرَ بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ إِنَّ الشَّيْخَ يَمْلِكُ نَفْسَهُ. (رواه أحمد: ٦٤٥١)
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Daud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari yazid bin Abu Habib dari Qaishar At Tujibi dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash, dia berkata, Ketika kami sedang bersama Nabi ﷺ datanglah seorang pemuda seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah boleh aku mencium (istriku) padahal aku sedang berpuasa?" "Tidak", jawab beliau. Lalu ada seorang kakek-kakek datang dan bertanya, "Apakah aku boleh mencium (istriku) padahal aku sedang berpuasa?"Ya", jawab beliau. Ia berkata, lalu kamipun saling memandang satu sama lain, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku tahu kenapa kalian saling berpandangan satu sama lain; sesungguhnya orang yang sudah tua itu dapat menahan nafsu syahwatnya." (HR. Ahmad: 6451 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari `Abdullah `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)
Dalam riwayat terdapat periwayat dha'if, yaitu `Abdullah bin Lahihah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa`ad dan adz-Dzahabi menilainya dha'if. Abu Zur`ah menilainya layadhbuth dan Hakim menilainya dzahibul hadits, sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 6757 dengan sanad yang sama (diulang penulisannya).
Dari riwayat di atas dipahami bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang suami yang mampu mengendalikan syahwatnya dengan baik. Sementara selain beliau "tidak". Jika hal tersebut dilakukan oleh pasangan muda, maka dianjurkan untuk berwudhuk jika akan shalat. Apabila dilakukan pada kondisi puasa maka dapat "membatalkan" puasa. Jika dilakukan oleh suami yang sudah tua maka tak apa-apa dan tak wajib wudhuk akan shalat dan tidak membatalkan puasa. Akan tetapi jika mampu mengendalikan syahwat ketika mencium istrinya, baik muda maupun tua maka tak apa-apa melakukannya sebagai bentuk kasih sayang.
Wallaah a`lam bish shawaab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏