“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

DUA PULUH DUA HADITS TSULATSIYAT
DALAM KITAB SHAHIH AL-BUKHARI

Oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Sekumpulan hadits yang antara Imam al-Bukhariy dan Nabi Muhammad ﷺ hanya terdapat tiga periwayat hadits saja. Jumlah haditsnya sebanyak 22 dan hadits-hadits tersebut sanadnya 'aliy (tinggi). Hadits tsulatsiyat juga terdapat dalam kitab-kitab hadits lain, seperti kitab musnad Ahmad bin Hanbal, Malik, dan Ad-Darimi. Penulis tidak memasukkan hadits yang periwayatnya tiga tingkatan antara Nabi Muhammad ﷺ sampai imam al-Bukhari, sedangkan dalamnya tidak ada nama shahabat. Gambarannya adalah Imam Al-Bukhari, kemudian perawi diatasnya adalah generasi Tabiut Tabiin dan berlanjut ke generasi diatasnya adalah generasi Tabiin dari Shahabat dan di puncak adalah Nabi shallahu ‘alaihi wasallam. Inilah sanad imam Al-Bukhari paling tinggi ('aliy), sedang Sanad imam Al-Bukhari paling rendah (nazil) ada 9 tingkatan perawi.

Kriteria Imam Bukhari Terkait Hadis Tsulatsiyat. Apabila hadis tsulatsiyat dikaitkan dengan kriteria hadis shahih versi Imam Bukhari, maka kriteria Imam Bukhari untuk hadis tsulatsiyat antara lain: 

1. Setiap hadis tsulatsiyat yang diriwayatkan dalam kitab shahihnya harus memenuhi lima syarat hadis shahih, yaitu: sanadnya muttashil, rawinya adil, dhabith, terbebas dari illat, dan terbebas dari syadz. Jadi, selain sanadnya uluw (dekat dengan Rasulullah), hadis tsulatsiyat juga harus shahih.

2. Rawi harus merupakan ahlu al-hifdzi wa al-itqaan (orang yang kuat hafalannya dan professional dalam hal hadis). Ringkasnya, semua rawi hadis tsulatsiyat merupakan rawi yang tsiqah. 

3. Tersambungnya sanad mu’an’an. Meskipun jalur periwayatan hadis tsulatsiyat berupa sanad yang mu’an’an, tapi antara satu rawi dengan yang lainnya (guru dan murid) harus terbukti pernah bertemu dan pernah hidup di satu masa. Pada kajian kitab turats, hal ini bisa diketahui dengan melihat daftar guru-murid dari masing-masing rawi.

Hadits-hadits yang dimasukkan dalam kelompok tsulatsiyat adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang periwayat dalam sanadnya dari Nabi Muhammad ﷺ hingga MUKHARRIJ (orang yang menulis hadits dalam kitabnya). Oleh karena itu, tidak termasuk hadits tsulatsiyat apabila tidak menyebutkan sahabat yang menerima langsung dari Rasulullah ﷺ (mursal). 

مجموعة من الأحاديث بين الإمام البخاري والنبي محمد لها ثلاث روايات فقط. مجموع الأحاديث 22 وسلاسل الأحاديث علي (مرتفع). تم العثور على الحديث الثلاثيات أيضًا في كتب الحديث الأخرى ، مثل كتاب أحمد بن حنبل في مسند. ولم يذكر المؤلف الحديث الذي رواه ثلاثة بين النبي محمد والإمام البخاري ، ولم يرد فيه أسماء الصحابة. 

الأحاديث المدرجة في مجموعة الثلاثيات هي أحاديث رواها ثلاثة رواة في تسلسل نقلهم من النبي محمد إلى المخرج (الشخص الذي كتب الأحاديث في كتابه). لذلك لا يشمل الحديث التسولات إذا لم يذكر الصحابة الذين تلقوه مباشرة من رسول الله ﷺ (المرسل).

Seperti hadits riwayat imam Ad-Darimi berikut:

أَخْبَرَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا الصَّعْقُ قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ لَمَّا أَنْ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ جَعَلَ يُسْنِدُ ظَهْرَهُ إِلَى خَشَبَةٍ وَيُحَدِّثُ النَّاسَ فَكَثُرُوا حَوْلَهُ فَأَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُسْمِعَهُمْ فَقَالَ ابْنُوا لِي شَيْئًا أَرْتَفِعُ عَلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ عَرِيشٌ كَعَرِيشِ مُوسَى فَلَمَّا أَنْ بَنَوْا لَهُ قَالَ الْحَسَنُ حَنَّتْ وَاللَّهِ الْخَشَبَةُ قَالَ الْحَسَنُ سُبْحَانَ اللَّهِ هَلْ تُبْتَغَى قُلُوبُ قَوْمٍ سَمِعُوا قَالَ أَبُو مُحَمَّد يَعْنِي هَذَا. (رواه الدارمي: ٣٨)

Telah mengabarkan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ash Sha'q, ia berkata, Saya mendengar Al Hasan berkata, Tatkala Nabi ﷺ datang ke Madinah, beliau menyandarkan punggungnya pada sebatang pohon (kurma) sambil memberikan wejangan kepada orang-orang. Lambat laun semakin banyak hadirin yang berada di sekeliling beliau. Hal ini menjadikan beliau berniat agar semua -tanpa terkecuali-mendengar ucapannya. Maka beliau ﷺ sabdakan "Tolong, buatkan untukku mimbar yang tinggi sebagaimana yang dimiliki Musa!" Tatkala mereka membuatnya, Batang pohon itu demi Allah -kata al-Hasan- merintih. Al Hasan berkata lagi; Mahasuci Allah Subhanahu wa Ta'ala, apakah hati orang-orang yang mendengar itu masih bisa diharapkan (patuh)? Abu Muhammad berkata, Maksudnya orang-orang yang mendengar (kisah) ini. (HR. Ad-Darimi: 38 - mursal, dan isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Al Hasan bin Abi Al Hasan Yasar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H. Hadits ahlul Bashrah)

Demikian halnya hadits riwayat imam Ad-Darimi, beliau berkata:

أَخْبَرَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا فِطْرٌ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ مُصِيبَةٌ فَلْيَذْكُرْ مُصَابَهُ بِي فَإِنَّهَا مِنْ أَعْظَمِ الْمَصَائِبِ. (رواه الدارمي: ٨٥)

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu'aim, telah menceritakan kepada kami Fithr dari 'Atha` ia berkata, Rasulullah ﷺ, " Jika suatu musibah menimpa seseorang dari kalian maka bayangkanlah musibah itu menimpaku, maka hal itu adalah termasuk musibah yang terbesar". (HR. Ad-Darimi: 85 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Atha' bin Abi Rabbah Aslam, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 114 H)

Bahkan dalam kitab shahih al-Bukhari sendiri, seperti hadits jalur Sa'id bin 'Amru bin Sa'id bin Al 'Ash. Al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي جَدِّي
أَنَّ أَبَانَ بْنَ سَعِيدٍ أَقْبَلَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا قَاتِلُ ابْنِ قَوْقَلٍ وَقَالَ أَبَانُ لِأَبِي هُرَيْرَةَ وَاعَجَبًا لَكَ وَبْرٌ تَدَأْدَأَ مِنْ قَدُومِ ضَأْنٍ يَنْعَى عَلَيَّ امْرَأً أَكْرَمَهُ اللَّهُ بِيَدِي وَمَنَعَهُ أَنْ يُهِينَنِي بِيَدِهِ. (رواه البخاري: ٣٩١٢)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Yahya bin Sa'id ia berkata, telah mengabarkan kepadaku kakekku, bahwasanya Abban bin Sa'id menemui Nabi ﷺ dan mengucapkan salam, lantas Abu Hurairah berujar, "Wahai Rasulullah, inilah si pembunuh Ibnu Qauqal." Maka Abban katakan kepada Abu Hurairah, 'Alangkah mengherankan untukmu, si hewan yang turun dari pelosok gunung Dho'n.' Ia mencelaku dengan seseorang yang telah Allah muliakan melalui perantaraanku, sedang ia mencegahnya untuk menghinaku dengan tangannya. (HR. Al-Bukhari: 3912 - shahih dari Sa'id bin 'Amru bin Sa'id bin Al 'Ash, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Utsman dan negeri hidup Kufah)

Atau, jalur Wahab bin Kaisan. Sebagaimana diinformasikan oleh imam al-Bukhari,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ أَبِي نُعَيْمٍ قَالَ
أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَعَامٍ وَمَعَهُ رَبِيبُهُ عُمَرُ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ فَقَالَ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ. (رواه البخاري: ٤٩٥٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Wahb bin Kaisan Abu Nu'aim ia berkata, Rasulullah ﷺ pernah diberi makanan, dan saat itu beliau bersama anak tirinya Umar bin Abu Salamah, maka beliau pun bersabda, "Bacalah Basmalah dan ambillah makanan yang ada di dekatmu." (HR. Al-Bukhari: 4959 - shahih dari Wahab bin Kaisan, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Nu'aim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 127 H)

Walau demikian halnya, Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits semacam ini terdapat sanad yang nazil (sanad hadits lebih dari tiga tabaqat/periwayat). Sehingga kualitas sanadnya marfu' (sampai kepada Rasulullah ﷺ). Kemudian ditemukan juga sanad nazil dan tsulatsiyat dalam satu riwayat. Sebagaimana imam al-Bukhari meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو قُتَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَتَمَثَّلُ بِشِعْرِ أَبِي طَالِبٍ وَأَبْيَضَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ ثِمَالُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلْأَرَامِلِ وَقَالَ عُمَرُ بْنُ حَمْزَةَ حَدَّثَنَا سَالِمٌ عَنْ أَبِيهِ رُبَّمَا ذَكَرْتُ قَوْلَ الشَّاعِرِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَسْقِي فَمَا يَنْزِلُ حَتَّى يَجِيشَ كُلُّ مِيزَابٍ وَأَبْيَضَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ ثِمَالُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلْأَرَامِلِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي طَالِبٍ. (رواه البخاري: ٩٥٣)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Ali berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin 'Abdullah bin Dinar dari Bapaknya berkata, "Aku mendengar Ibnu 'Umar menirukan sya'irnya Abu Thalib, "#Wajahnya yang putih mengharap turunnya awan (hujan), #sumber kehidupan anak-anak yatim dan pelindung para janda." Dan Umar bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada kami Salim dari Bapaknya, barangkali aku sebutkan kepadanya perkataan syair -sementara aku lihat wajah Nabi ﷺ meminta turunnya hujan. Maka beliau belum selesai, setiap aliran air telah penuh dengan air- Wajahnya yang putih mengharap turunnya awan (hujan), #sumber kehidupan anak-anak yatim dan pelindung para janda." Itulah perkataan Abu Thalib. (HR. Al-Bukhari: 953 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits 'aziz pertengahan sanad sampai akhir, jalur sanad keduanya tsulatsiyat dan ahlul Madinah)

Hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad, namun bertentangan sanadnya dengan hadits di atas. Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا تَمَثَّلَتْ بِهَذَا الْبَيْتِ وَأَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقْضِي وَأَبْيَضَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ رَبِيعُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلْأَرَامِلِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ذَاكَ وَاللَّهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ٢٦)

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa dan 'Affan keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah, bahwasanya dia membaca bait Sya'ir ini ketika Abu Bakar sedang memutuskan perkara, "Dan awan putih membasahi wajahnya, menyayangi para anak yatim dan melindungi para janda", maka Abu Bakar berkata, "Demi Allah, itu adalah Rasulullah ﷺ." (HR. Ahmad: 26 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Utsman bin 'Amir bin 'Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taymi bin Murrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 13 H dan 'Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits 'aziz diawal dan diakhir sanad)

Dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 26 terdapat pada kedua jalur sanadnya periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits. Ia adalah Ali bin Zaid bin Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: An-Nasa'i, Yahya bin Ma'in, dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan Ahmad bin Hambal, Al-’Ajli dan Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawiy.

Dan, banyak lagi contoh haditsnya dalam kitab hadits imam Ad-Darimi. Sehingga hadits-hadits tersebut dinilai mursal, karena tidak menyebutkan shahabat yang menerima langsung dari Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam tulisan kali ini penulis paparkan dua puluh dua riwayat atau hadits tsulatsiyat yang terdapat dalam kitab shahih al-Bukhari lengkap dengan hadits-hadits pendukung (syawahid) -nya jika ada. Jalur sanad hadits tersebut dari tiga orang shahabat Rasulullah ﷺ, yaitu: Salamah bin 'Amru bin Al 'Akwa' (wafat tahun 74 H) 17 buah hadits, Anas bin Malik (wafat tahun 91 H) empat buah hadits, dan Abdullah bin Busr bin Abi Busr (wafat tahun 88 H) satu buah hadits. Jika kita merujuk riwayat lain dari kitab musnadnya imam Ahmad, maka periwayat hadits tsulatsiyat dari 'Abdullah bin Abi Awfa 'Alqamah bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu Ibrahim negeri hidup Kufah dan wafat tahun 87 H.

Hadits tsulatsiyat yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dalam Kitab Shahih-nya

A. Jalur sanad Salamah bin 'Amru bin Al Akwa'

Pertama:

Imam al-Bukhari meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ. (رواه البخاري، كتب العلم: ١٠٦)

Telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah berkata, "Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Barang siapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka." (HR. Al-Bukhari, kitab ilmu: 106 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Hadits riwayat imam al-Bukhari: 106 termasuk hadits mutawatir lafzhiy, dan terdapat 53 hadits semakna dengannya baik riwayat imam Muslim, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi. 

Kedua:

Sanad yang sama dengan redaksi/matan berbeda diriwayatkan oleh imam al-Bukhari. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ
كَانَ جِدَارُ الْمَسْجِدِ عِنْدَ الْمِنْبَرِ مَا كَادَتْ الشَّاةُ تَجُوزُهَا. (رواه البخاري، كتب الصلاة: ٤٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah berkata, "Jarak antara dinding masjid di mimbar kira-kira seukuran kambing bisa lewat." (HR. Al-Bukhari, kitab shalat: 467 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Ketiga:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ
كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا. (رواه البخاري، كتب الصلاة: ٤٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid berkata, "Aku dan Salamah bin Al Akwa' datang (ke Masjid), lalu dia salat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf. Lalu aku tanyakan, 'Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat salat dekat tiang ini?' Dia menjawab, 'Sungguh aku melihat Nabi ﷺ memilih untuk salat di situ.'" (HR. Al-Bukhari, kitab shalat: 472 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 788 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Keempat: 

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ
كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَغْرِبَ إِذَا تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ. (رواه البخاري، كتب مواقيت الصلاة: ٥٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah berkata, "Kami pernah salat Magrib bersama Nabi ﷺ ketika matahari sudah tenggelam tidak terlihat." (HR. Al-Bukhari, kitab waktu-waktu shalat: 528 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Hadits terkait dengan konteksi ini (matan sama) juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah: 680 dan Ahmad: 15954 (tsulatsiyat - sanad yang sama dengan sanad imam al-Bukhari - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Kelima:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا يُنَادِي فِي النَّاسِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ إِنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ أَوْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ فَلَا يَأْكُلْ. (رواه البخاري، كتب الصوم: ١٧٩٠)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' radhiallahu'anhu bahwa Nabi ﷺ mengutus seseorang untuk menyeru manusia pada (waktu sahur) hari 'Asyura', bila ada seseorang yang sudah makan maka hendaklah ia meneruskan makannya atau hendaklah puasa dan barang siapa yang belum makan maka hendaklah ia tidak makan (maksudnya teruskan berpuasa)." (HR. Al-Bukhari, kitab puasa: 1790 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat) 

Keenam:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ. (رواه البخاري، كتب الصوم: ١٨٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Al Makkiy bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' radhiallahu'anhu berkata, Nabi ﷺ memerintahkan seseorang dari suku Aslam untuk menyerukan kepada manusia, bila ada seseorang yang sudah makan maka hendaklah ia mengganti puasanya pada hari yang lain dan siapa yang belum makan hendaklah dia meneruskan puasanya karena hari ini adalah hari 'Asyura'". (HR. Al-Bukhari, kitab puasa: 1868 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Hadits terkaid dengan konteks ini diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 1790 (tsulatsiyat), 1824, dan 6723, Muslim: 1918, An-Nasa'i: 2282, Ad-Darimi: 1696 (hadits tsulatsiyat) - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Ketujuh:

Hadits terkait dengan penanggung utang si mayit. Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ فَقَالُوا صَلِّ عَلَيْهَا فَقَالَ هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا لَا قَالَ فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا قَالُوا لَا فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلِّ عَلَيْهَا قَالَ هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ قِيلَ نَعَمْ قَالَ فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا قَالُوا ثَلَاثَةَ دَنَانِيرَ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ فَقَالُوا صَلِّ عَلَيْهَا قَالَ هَلْ تَرَكَ شَيْئًا قَالُوا لَا قَالَ فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا ثَلَاثَةُ دَنَانِيرَ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ قَالَ أَبُو قَتَادَةَ صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَعَلَيَّ دَيْنُهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ. (رواه البخاري: ٢١٢٧)

Telah menceritakan kepada kami Al Makkiy bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abi 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' radhiallahu'anhu berkata, "Kami pernah duduk bermajelis dengan Nabi ﷺ ketika dihadirkan kepada beliau satu jenazah kemudian orang-orang berkata, "Salatilah jenazah ini." Maka beliau bertanya, "Apakah orang ini punya utang?" Mereka berkata, "Tidak." Kemudian beliau bertanya kembali, "Apakah dia meninggalkan sesuatu?" Mereka menjawab, "Tidak." Akhirnya beliau menyolatkan jenazah tersebut. Kemudian didatangkan lagi jenazah lain kepada beliau, lalu orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah ﷺ, salatilah jenazah ini." Maka beliau bertanya, "Apakah orang ini punya utang?" Dijawab, "Ya." Kemudian beliau bertanya kembali, "Apakah dia meninggalkan sesuatu?" Mereka menjawab, "Ada, sebanyak tiga dinar." Maka beliau bersabda, "Salatilah saudaramu ini." Berkata, Abu Qatadah, "Salatilah wahai Rasulullah, nanti utangnya aku yang menanggungnya." Maka beliau ﷺ menyolatkan jenazah itu. (HR. Al-Bukhari: 2127, kitab al-Hawalah (pengalihan utang) - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat, sanadnya sama dengan hadits ke-2814)

Kedelapan:

Selanjutnya hadits riwayat imam al-Bukhari: 2131, beliau meriwayatkan dari adh-Dhahak bin Makhlad bin adh-Dhahak bin Muslim. Imam al-Bukhari berkata: 

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهَا فَقَالَ هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ قَالُوا لَا فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى فَقَالَ هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ قَالُوا نَعَمْ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ قَالَ أَبُو قَتَادَةَ عَلَيَّ دَيْنُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَصَلَّى عَلَيْهِ. (رواه البخاري: ٢١٣١)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim, dari Yazid bin Abi 'Ubaid, dari Salamah bin al-Akwa' radhiallahu'anhu, suatu ketika, Nabi ﷺ pernah dihadirkan satu jenazah untuk disalatkan. Kemudian beliau bertanya: "Apakah orang ini punya utang?" Para sahabat pun menjawab: "Tidak." Maka beliau pun menyalatkan jenazah tersebut. Kemudian beliau dihadirkan lagi jenazah yang lain, maka beliau bertanya kembali: "Apakah orang ini punya utang?" Mereka menjawab: "Ya." Lantas beliau bersabda, "Diri kalian sajalah yang menyalatkan jenazah ini." Abu Qatadah pun berujar: "Wahai Rasulullah, aku yang akan menanggung utangnya." Maka beliau ﷺ kemudian menyalatkan jenazah tersebut. (HR. Al-Bukhari: 2131, kitab Kafalah (jaminan) - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 15913 dan 15930 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Keduanya hadits tsulatsiyat, dan diterima oleh imam Ahmad dari guru yang berbeda; pertama dari Hammad bin Mas'adah, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 202 H. Penilaian ulaman: Abu Hatim, Muhammad bin Sa'id, Ibnu Hajar, dan adz-Dzahabi menilainya tsiqah. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats-Tsiqaat". Kedua, dari Yahya bin Sa'id bin Farrukh, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 198 H. Penilaian ulama: An-Nasa'i menilainya tsiqah tsabat, Abu Zur'ah dan Abu Hatim menilainya tsiqah hafizh, Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah mutqin, dan adz-Dzahabi menilainya hafizh kabir. Sedangkan al-'Ajli menilainya tsiqah.

Sedangkan hadits terkait dengan masalah ini juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 3747 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H, dan HR. Ahmad: 21605 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari al-Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri Madinah dan wafat tahun 54 H keduanya dengan sanad nazil (lebih dari tiga orang periwayat antara Rasulullah ﷺ dan mukharrij).

Kesembilan:

Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نِيرَانًا تُوقَدُ يَوْمَ خَيْبَرَ قَالَ عَلَى مَا تُوقَدُ هَذِهِ النِّيرَانُ قَالُوا عَلَى الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ قَالَ اكْسِرُوهَا وَأَهْرِقُوهَا قَالُوا أَلَا نُهَرِيقُهَا وَنَغْسِلُهَا قَالَ اغْسِلُوا قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ كَانَ ابْنُ أَبِي أُوَيْسٍ يَقُولُ الْحُمُرِ الْأَنْسِيَّةِ بِنَصْبِ الْأَلِفِ وَالنُّونِ. (رواه البخاري: ٢٢٩٧)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim Adh-Dhohhak bin Makhlad dari Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' radhiallahu'anhuma bahwa Nabi ﷺ melihat api yang dinyalakan pada perang Khaibar. Beliau bertanya, "Untuk apa api itu dinyalakan?" Mereka menjawab, "Untuk daging keledai piaraan manusia." Beliau berkata, "Hancurkan dan bakarlah." Mereka bertanya, "Apakah kita bakar lalu kita cuci (bersihkan)?" Beliau berkata, "Bersihkanlah." Berkata, Abu 'Abdullah Al Bukhariy: Ibnu Abu Uwais berkata, Al Humur Al Insiyah dengan huruf alif dan nun manshub. (HR. Al-Bukhari: 2297, kitab perbuatan-perbuatan zalim - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat) 


Kesepuluh:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَايَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عَدَلْتُ إِلَى ظِلِّ الشَّجَرَةِ فَلَمَّا خَفَّ النَّاسُ قَالَ يَا ابْنَ الْأَكْوَعِ أَلَا تُبَايِعُ قَالَ قُلْتُ قَدْ بَايَعْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَأَيْضًا فَبَايَعْتُهُ الثَّانِيَةَ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ عَلَى أَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تُبَايِعُونَ يَوْمَئِذٍ قَالَ عَلَى الْمَوْتِ. (رواه البخاري: ٢٧٤٠)

Telah bercerita kepada kami Al Makkiy bin Ibrahim, telah bercerita kepada kami Yazid bin Abi 'Ubaid dari Salamah radhiallahu'anhu berkata, "Aku berbaiat kepada Nabi ﷺ (pada peristiwa Hudaibiyah) kemudian aku berpindah kepada naungan pohon. Ketika orang-orang sudah agak longgar, beliau berkata, "Wahai Ibnu Al Akwa' (Salamah), tidakkah kamu berbaiat?" Aku berkata, "Aku sudah berbaiat, wahai Rasulullah." Beliau berkata, "Baiat lagi." Maka kemudian aku berbaiat untuk kali kedua. Lalu aku (Yazid) bertanya kepadanya, "Wahai Abu Muslim, untuk apakah kalian berbaiat pada saat itu?" Dia berkata, "Untuk mati". (HR. Al-Bukhari: 2740, kitab jihad dan penjelajahan - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Selaras dengan hadits riwayat imam al-Bukhari: 6668, kitab hukum-hukum, bab berbaiat dua kali - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat.

Kesebelas:

Tentang Ibnu Haritsah sebagai komandan perang. Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ وَغَزَوْتُ مَعَ ابْنِ حَارِثَةَ اسْتَعْمَلَهُ عَلَيْنَا. (رواه البخاري: ٣٩٣٧)

Telah menceritakan kepada kami Abu "Ashim Adh Dhahak bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' katanya, aku pernah berperang bersama Nabi ﷺ sebanyak tujuh kali dan beliau pernah mengangkat Ibnu Haritsah sebagai komandan kami." (HR. Al-Bukhari: 3937, kitab peperangan - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat, sanadnya sama dengan hadits ke-2131)

Demikian hadits semakna diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 3938, Ahmad: 15946 (hadits tsulatsiyat) dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa' dan 18351 dari Abdullah bin Abi Awfaa 'Alqamah bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu Ibrahim negeri hidup Kufah dan wafat tahun 87 H - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth.

Tujuh peperangan dimaksud dijelaskan pada hadits berikutnya, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَ
غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ فَذَكَرَ خَيْبَرَ وَالْحُدَيْبِيَةَ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ وَيَوْمَ الْقَرَدِ قَالَ يَزِيدُ وَنَسِيتُ بَقِيَّتَهُمْ. (رواه البخاري: ٣٩٣٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas'adah dari Yazid bin Abu Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' katanya, aku pernah berperang bersama Nabi ﷺ sebanyak tujuh kali peperangan, dan ia sebutkan Khaibar, Hudaibiyah, Hunain, Dzatu qarad, kata Yazid, yang lain aku lupa." (HR. Al-Bukhari: 3938 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 15946 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat. Sementara itu hadits semakna juga diriwayatkan imam Ahmad. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ قَالَ
سَأَلَ شَرِيكِي وَأَنَا مَعَهُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى عَنْ الْجَرَادِ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِهِ وَقَالَ غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ فَكُنَّا نَأْكُلُهُ. (رواه أحمد: ١٨٣٦١)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ya'fur ia berkata, Serikatku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa mengenai Belalang, sementara aku, saat itu sedang bersamanya. Maka Ibnu Abu Aufa menjawab, "Tidaklah mengapa dengannya." Ia juga mengatakan, "Saya telah berperang bersama Rasulullah ﷺ sebanyak tujuh kali peperangan, maka kami pun pernah memakannya." (HR. Ahmad: 18361 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Abi Awfah 'Alqamah bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu Ibrahim negeri hidup Kufah dan wafat tahun 87 H)

Kedua belas:

Tentang kebijaksanaan Rasulullah ﷺ terhadap kaum yang suka memberi pinjaman kepada kaumnya. Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ قَالَ خَرَجْتُ مِنْ الْمَدِينَةِ ذَاهِبًا نَحْوَ الْغَابَةِ حَتَّى إِذَا كُنْتُ بِثَنِيَّةِ الْغَابَةِ لَقِيَنِي غُلَامٌ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قُلْتُ وَيْحَكَ مَا بِكَ قَالَ أُخِذَتْ لِقَاحُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ مَنْ أَخَذَهَا قَالَ غَطَفَانُ وَفَزَارَةُ فَصَرَخْتُ ثَلَاثَ صَرَخَاتٍ أَسْمَعْتُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يَا صَبَاحَاهْ يَا صَبَاحَاهْ ثُمَّ انْدَفَعْتُ حَتَّى أَلْقَاهُمْ وَقَدْ أَخَذُوهَا فَجَعَلْتُ أَرْمِيهِمْ وَأَقُولُ أَنَا ابْنُ الْأَكْوَعِ وَالْيَوْمُ يَوْمُ الرُّضَّعْ فَاسْتَنْقَذْتُهَا مِنْهُمْ قَبْلَ أَنْ يَشْرَبُوا فَأَقْبَلْتُ بِهَا أَسُوقُهَا فَلَقِيَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْقَوْمَ عِطَاشٌ وَإِنِّي أَعْجَلْتُهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا سِقْيَهُمْ فَابْعَثْ فِي إِثْرِهِمْ فَقَالَ يَا ابْنَ الْأَكْوَعِ مَلَكْتَ فَأَسْجِحْ إِنَّ الْقَوْمَ يُقْرَوْنَ فِي قَوْمِهِمْ. (رواه البخاري: ٢٨١٤)

Telah bercerita kepada kami Al Makkiy bin Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami Yazid bin 'Ubaid dari Salamah bahwa dia mengabarkan kepadanya, katanya, "Aku keluar dari Madinah untuk pergi menuju hutan hingga ketika aku sudah berada di dekat hutan tersebut, ada seorang anak kecil pelayan 'Abdur Rohman bin 'Auf yang menemuiku. Aku bertanya, "Ada apa denganmu?" Dia menjawab, "Unta perahan milik Nabi ﷺ telah dirampok." Aku tanya, "Siapa yang mencurinya?" Anak itu berkata, "(Suku) Ghathafan dan Fazarah." Maka aku berteriak sebanyak tiga kali dengan teriakan yang dapat kuperdengarkan diantara dua bukit berbatu hitam. Aku katakan, " "Awas, ini pagi yang bahaya! Awas, ini pagi yang bahaya! kemudian aku terus berjalan cepat hingga mereka (musuh) bisa kususul lengkap dengan hewan Rampokannya. Sambil kulempari mereka, aku mengatakan "Akulah Ibnul Akwa', hari ini hari binasa bagi mereka itu!" Maka aku dapat merebut kembali unta itu dari mereka sebelum mereka meminum susunya. Kemudian aku kembali dengan membawa unta itu. Selanjutnya Nabi ﷺ menemuiku dan kukatakan, "Wahai Rasulullah, kaum itu kehausan dan aku dapat mendahului mereka sebelum meminumnya. Untuk itu, kirimlah pasukan untuk memburu jejak mereka!" Maka beliau ﷺ berkata, "Wahai Ibnu Al Akwa', tahanlah emosimu dan bersikap lembutlah, karena mereka adalah kaum yang suka menjamu tamu dan suka memberi pinjaman di tengah-tengah kaum mereka". (HR. Al-Bukhari: 2814 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Demikian juga diriwayatkan dengan sanad yang sama oleh imam Ahmad: 15916 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat.

Ketiga belas:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ
رَأَيْتُ أَثَرَ ضَرْبَةٍ فِي سَاقِ سَلَمَةَ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ مَا هَذِهِ الضَّرْبَةُ فَقَالَ هَذِهِ ضَرْبَةٌ أَصَابَتْنِي يَوْمَ خَيْبَرَ فَقَالَ النَّاسُ أُصِيبَ سَلَمَةُ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَفَثَ فِيهِ ثَلَاثَ نَفَثَاتٍ فَمَا اشْتَكَيْتُهَا حَتَّى السَّاعَةِ. (رواه البخاري، كتب المغازي: ٣٨٨٤)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid ia berkata, "Aku pernah melihat bekas luka pukulan pedang pada kaki (bagian lutut) Salamah. Aku lalu berkata kepadanya, "Wahai Abu Muslim, luka bekas pukulan apakah ini?" Dia menjawab, "Ini luka bekas pukulan yang aku alami pada perang Khaibar. Saat itu orang-orang berkata, "Salamah terluka" Maka aku mendatangi Nabi ﷺ, lalu beliau meludahi lukaku sebanyak tiga kali. Setelah itu aku tidak merasakan sakit hingga sekarang." (HR. Al-Bukhari, kitab peperangan: 3884 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat) 

Hadits terkait dengan konteks ini juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 3396, dan Ahmad: 15819 (sanad I tsulatsiyat, hadits 'aziz diakhir sanad) - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Keempat belas:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ وَغَزَوْتُ مَعَ ابْنِ حَارِثَةَ اسْتَعْمَلَهُ عَلَيْنَا. (رواه البخاري كتب المغازي: ٣٩٣٧)

Telah menceritakan kepada kami Abu "Ashim Adh Dhahak bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' katanya, aku pernah berperang bersama Nabi ﷺ sebanyak tujuh kali dan beliau pernah mengangkat Ibnu Haritsah sebagai komandan kami." (HR. Al-Bukhari, kitab peperangan: 3937 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Kelima belas:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلَا يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِي قَالَ كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا. (رواه البخاري، كتب ألأضاحي: ٥١٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' dia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa saja di antara kalian yang berkurban, janganlah menyisakan daging kurban di rumahnya melebihi tiga hari." Pada tahun berikutnya orang-orang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana yang kami lakukan pada tahun lalu?" beliau bersabda, "Makanlah daging kurban tersebut dan bagilah sebagiannya kepada orang lain serta simpanlah sebagian yang lain, sebab tahun lalu orang-orang dalam keadaan kesusahan, oleh karena itu saya bermaksud supaya kalian dapat membantu mereka." (HR. Al-Bukhari, kitab kurban: 5143 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 3648 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Kedua hadits ini (Bukhari dan Muslim) menjadi dasar kebijakan pengelolaan daging kurban.

Keenam belas:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خَيْبَرَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ أَسْمِعْنَا يَا عَامِرُ مِنْ هُنَيْهَاتِكَ فَحَدَا بِهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ السَّائِقُ قَالُوا عَامِرٌ فَقَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَّا أَمْتَعْتَنَا بِهِ فَأُصِيبَ صَبِيحَةَ لَيْلَتِهِ فَقَالَ الْقَوْمُ حَبِطَ عَمَلُهُ قَتَلَ نَفْسَهُ فَلَمَّا رَجَعْتُ وَهُمْ يَتَحَدَّثُونَ أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ فَجِئْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي زَعَمُوا أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ فَقَالَ كَذَبَ مَنْ قَالَهَا إِنَّ لَهُ لَأَجْرَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّهُ لَجَاهِدٌ مُجَاهِدٌ وَأَيُّ قَتْلٍ يَزِيدُهُ عَلَيْهِ. (رواه البخاري: ٦٣٨٣)

Telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abi 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' mengatakan, Dahulu kami berangkat bersama Nabi ﷺ ke Khaibar. Salah seorang pasukan berujar, 'Wahai Amir, perdengarkan syair-syairmu kepada kami!' Lantas Amir Ibn Al Akwa' memperdengarkan bait-bait syairnya sehingga terdengar oleh mereka. Selanjutnya Nabi ﷺ bertanya, "Siapa yang menggiring unta-unta kita?" 'Sahabat kita, Amir bin Al akwa' Jawab para sahabat. Nabi Terus memanjatkan doa, "Semoga Allah merahmati dia!" Para sahabat berujar, 'Ya Rasulullah, apakah engkau memberi kami kenyamanan lewat perantaraannya' pagi harinya ia meninggal, selanjutnya para sahabat berkomentar (mengenai peristiwa 'Amir), 'Sungguh amir sia-sia amalnya, ia telah membunuh dirinya.' Ketika aku pulang, para sahabat berbincang-bincang dengan mengatakan bahwa Amir bin Al Akwa' sia-sia amalnya karena telah membunuh dirinya sendiri. Maka kudatangi Nabi ﷺ dan aku berkata, 'ya Nabiyullah, demi ayahku dan ibuku menjadi tebusanmu, orang-orang beranggapan bahwa saudaraku, Amir, sia-sia amalnya!' maka beliau bersabda, "Bohong semua yang mengatakan seperti itu, bahkan ia memperoleh dua pahala, sungguh ia orang yang bersungguh-sungguh sekaligus menjadi mujahid, mana ada pembunuhan yang lebih sadis dari seperti yang dialaminya?". (HR. Al-Bukhari: 6383 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Imam Ahmad meriwayatkan dengan lebih rinci, bahwa beliau meriwayatkan:

حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ يَزِيدَ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ كَانَ عَامِرٌ رَجُلًا شَاعِرًا فَنَزَلَ يَحْدُو قَالَ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَاغْفِرْ فِدًى لَكَ مَا أَتَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا وَأَلْقِيَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا إِنَّا إِذَا صِيحَ بِنَا أَتَيْنَا وَبِالصِّيَاحِ عَوَّلُوا عَلَيْنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ هَذَا الْحَادِي قَالُوا ابْنُ الْأَكْوَعِ قَالَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ وَجَبَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْلَا أَمْتَعْتَنَا بِهِ قَالَ فَأُصِيبَ ذَهَبَ يَضْرِبُ رَجُلًا يَهُودِيًّا فَأَصَابَ ذُبَابُ السَّيْفِ عَيْنَ رُكْبَتِهِ فَقَالَ النَّاسُ حَبِطَ عَمَلُهُ قَتَلَ نَفْسَهُ قَالَ فَجِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَزْعُمُونَ أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ قَالَ وَمَنْ يَقُولُهُ قَالَ قُلْتُ رِجَالٌ مِنْ الْأَنْصَارِ مِنْهُمْ فُلَانٌ وَفُلَانٌ قَالَ كَذَبَ مَنْ قَالَهُ إِنَّ لَهُ لَأَجْرَيْنِ بِإِصْبَعَيْهِ وَإِنَّهُ لَجَاهِدٌ مُجَاهِدٌ وَقَلَّ عَرَبِيٌّ مَا مَشَى بِهَا يُرِيدُكَ عَلَيْهِ. (رواه أحمد: ١٥٩١٤)

Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Yazid dari Salamah berkata, 'Amir adalah seorang penyair, lalu dia memberi semangat saat mempercepat untanya dengan berkata, Ya Allah, kalaulah bukan karena Engkau, kami tidaklah mendapat petunjuk, kami tidak pernah bersedekah, kami tidak akan pernah salat, ampunilah apa yang kami lakukan sebagai tebusan-Mu. Teguhkanlah kaki-kaki kami ketika kami saling bertemu, dan turunkanlah ketenangan atas kami. Sesungguhnya kami jika kami dipanggil kami akan mendatanginya, dengan panggilan, mereka menolong kami. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapakah orang yang membaca tadi?" Mereka menjawab, Ibnu Al Akwa', beliau bersabda, "Semoga Allah, merahmatinya." (Yazid bin Salamah radhiallahu'anhu) berkata, lalu ada seorang laki-laki yang berkata, 'Pasti dia mendapat kerahmatan Wahai Rasulullah', Aduhai sekiranya Anda tidak menangguhkan doa sehingga kami bisa berteman dengannya.' (Yazid bin Salamah radhiallahu'anhu) berkata, selanjutnya Amir terkena musibah saat pergi untuk membunuh orang Yahudi, dan terkena ujung pedangnya sendiri pada pangkal kedua lututnya. Lalu orang-orang berkata, 'Sia-sialah amalannya, dia telah bunuh membunuh dirinya.' (Yazid bin Salamah radhiallahu'anhu) berkata, lalu saya temui Rasulullah ﷺ setelah sampai di Madinah, waktu itu beliau sedang di masjid. Saya bertanya, 'Wahai Rasulullah, mereka mempunyai pendapat bahwa 'Amir terhapus amalannya.' Beliau bertanya, 'Siapa yang mengatakannya?' Saya menjawab, 'Beberapa orang dari kalangan Anshar, di antara mereka ada si 'A' dan si 'B.' (Rasulullah ﷺ) bersabda, "Telah dusta orang yang mengatakannya. Bahkan dia memiliki dua pahala -sambil beliau mendemontrasikannya dengan kedua jarinya--, dia dalam keadaan jihad dan mujahid, dan sangat jarang orang Arab yang mempunyai sifat mengagumkan seperti itu. Saudaramu sangat menginginkan engkau meneladaninya. (HR. Ahmad: 15914 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat) 

Ketujuh belas:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ
بَايَعْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ لِي يَا سَلَمَةُ أَلَا تُبَايِعُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ بَايَعْتُ فِي الْأَوَّلِ قَالَ وَفِي الثَّانِي. (رواه البخاري، كتب ألأحكام: ٦٦٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah mengatakan, Kami berbaiat kepada Nabi ﷺ di bawah pohon, lantas Nabi mengatakan, "Hai Salamah, tidakkah engkau berbaiat?" 'Saya sudah pada baiat yang pertama ya Rasulullah' Jawabku. Maka Rasulullah menjawab, "Lakukanlah juga pada baiat yang kedua!". (HR. Al-Bukhari, kitab hukum-hukum: 6668 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Hadits ini terkait baiat para shahabat yang ikut perang ke Hudaibiyah. Mereka berjumlah seratus empat belas orang. Abu Muslim (Salamah) berkomentar bahwa baiat tersebut untuk menyongsong kematian, ia berbaiat tiga kali. Namun akhirnya kaum Musyrik mengajak damai. Hal tersebut diceritakan dalam riwayat imam Muslim: 3372 (masyhur diakhir sanad), Ahmad: 15912 dan 15953 (keduanya hadits tsulatsiyat) - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

B. Jalur Anas bin Malik 

Kedelapan belas:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي حُمَيْدٌ أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمْ
أَنَّ الرُّبَيِّعَ وَهِيَ ابْنَةُ النَّضْرِ كَسَرَتْ ثَنِيَّةَ جَارِيَةٍ فَطَلَبُوا الْأَرْشَ وَطَلَبُوا الْعَفْوَ فَأَبَوْا فَأَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهُمْ بِالْقِصَاصِ فَقَالَ أَنَسُ بْنُ النَّضْرِ أَتُكْسَرُ ثَنِيَّةُ الرُّبَيِّعِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا فَقَالَ يَا أَنَسُ كِتَابُ اللَّهِ الْقِصَاصُ فَرَضِيَ الْقَوْمُ وَعَفَوْا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
زَادَ الْفَزَارِيُّ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ فَرَضِيَ الْقَوْمُ وَقَبِلُوا الْأَرْشَ. (رواه البخاري، كتب الصلح: ٢٥٠٤)

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin 'Abdullah Al Anshariy berkata telah bercerita kepadaku Humaid bahwa Anas bercerita kepada mereka bahwa Ar Rubayyi', -dia adalah putri dari An-Nadhar- mematahkan gigi depan seorang anak perempuan lalu mereka meminta ganti rugi, namun mereka menolaknya hingga akhirnya mereka (kedua kaum itu) menemui Nabi ﷺ. Maka beliau memerintahkan mereka untuk menegakkan qishash (tuntutan balas yang setimpal). Maka Anas bin an-Nadhar berkata, "Apakah kami harus mematahkan gigi depannya ar-Rubayyi' wahai Rasulullah? Demi Dzat yang mengutus Tuan dengan benar, kami tidak akan mematahkan giginya." Maka beliau berkata, "Wahai Anas, di dalam kitab Allah ada ketetapan qishash (Allah yang menetapkan qishash)." Maka kaum itu ridha lalu memaafkannya. Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada hamba yang apabila bersumpah dia memenuhinya." Al Fazariy menambahkan dari Humaid dari Anas: "Maka kaum itu ridha dan menerima ganti ruginya". (HR. Al-Bukhari, kitab perdamaian: 2504 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tsulatsiyat)

Kesembilan belas: 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمْ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كِتَابُ اللَّهِ الْقِصَاصُ. (رواه البخاري، كتب التفسير القرآن: ٤١٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Anshari, telah menceritakan kepada kami Humaid bahwa Anas menceritakan kepada mereka dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Kitabullah adalah al Qishas." (HR. Al-Bukhari, kitab at-Tafsir al-Qur'an: 4139 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tsulatsiyat dan hadits ahlul Bashrah)

Demikian juga hadits riwayat imam al-Bukhari: 4140 dan 4245, Ibnu Majah: 2639, dan an-Nasa'i: 4671, Ahmad: 12243 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hanya saja pada dua riwayat imam al-Bukhari yaitu hadits ke-2504, 4140, 4245, Ibnu Majah hadits ke-2639, dan Ahmad: 12243 (hadits tsulatsiyat, sanadnya sama dengan HR. Al-Bukhari: 6383) terdapat kalimat, "Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat orang yang apabila ia bersumpah atas nama Allah maka Allah akan mengabulkannya."

Hadits ini adalah termasuk al-jaami'ul kalam, yaitu matan hadits yang singkat tetapi memiliki makna yang mendalam. Sedangkan dari segi makna hadits ini merupakan ringkasan dari hadits sebelumnya. Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرٌو قَالَ سَمِعْتُ مُجَاهِدًا قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ
كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ الْقِصَاصُ وَلَمْ تَكُنْ فِيهِمْ الدِّيَةُ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِهَذِهِ الْأُمَّةِ
{ كُتِبَ عَلَيْكُمْ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ }
فَالْعَفْوُ أَنْ يَقْبَلَ الدِّيَةَ فِي الْعَمْدِ
{ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ }
يَتَّبِعُ بِالْمَعْرُوفِ وَيُؤَدِّي بِإِحْسَانٍ
{ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ }
مِمَّا كُتِبَ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
{ فَمَنْ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ }
قَتَلَ بَعْدَ قَبُولِ الدِّيَةِ. (رواه البخاري: ٤١٣٨)

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amru dia berkata, Aku mendengar Mujahid berkata, Aku mendengar Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma berkata, "Dahulu pada Bani Israil terdapat hukum qishas namun tidak ada diyah pada mereka, lalu Allah 'Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). (QS. Al-Baqarah 178). Pemberian maaf itu maksudnya adalah menerima diyat pada pembunuhan dengan sengaja. mengikuti dengan cara yang baik yaitu ia mengikuti ini dengan cara yang ma'ruf, dan membayar dengan cara yang baik serta melaksanakan ini dengan kebaikan. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat (QS. Al-Baqarah 178) dari apa yang telah diwajibkan atas kaum sebelum kalian, sesungguhnya hal tersebut adalah qishas bukan diyah. Barang siapa yang melampui batas setelah itu, maka baginya azab yang pedih.' Yaitu membunuh setelah menerima diyah. (HR. Al-Bukhari: 4138 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Semua periwayat dari Marur Rawdz, kecuali Sufyan bin Uyainah negeri hidup Kufah dan w. 198 H)

Dijelaskan juga,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
كَانَتْ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ قِصَاصٌ وَلَمْ تَكُنْ فِيهِمْ الدِّيَةُ فَقَالَ اللَّهُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ
{ كُتِبَ عَلَيْكُمْ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى }
إِلَى هَذِهِ الْآيَةِ
{ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ }
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَالْعَفْوُ أَنْ يَقْبَلَ الدِّيَةَ فِي الْعَمْدِ قَالَ
{ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ }
أَنْ يَطْلُبَ بِمَعْرُوفٍ وَيُؤَدِّيَ بِإِحْسَانٍ. (رواه البخاري: ٦٣٧٣)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Amru dari Mujahid dari Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma mengatakan, 'Di kalangan Bani Israil hanya berlaku hukum qisas dan tidak ada hukum tebusan (diyat), sehingga Allah menurunkan ayat ini 'Diwajibkan atas kalian qisas dalam pembunuhan (QS. Al-Baqarah/2: 178) Hingga ayat ini; kecuali jika ia mendapat pemaafan dari saudara (QS. Al-Baqarah/2: 178), kata Ibnu Abbas; istilah maaf maksudnya menerima diyat secara tulus. Dan Ibnu Abbas berkata perihal kutipan ayat, 'fattibaa'un bil ma'ruuf (Maka hendaklah ia mengikutinya dengan baik), ' maksudnya hendaklah betu-betul meminta maaf dan melakukannya dengan sebaik-baiknya. (HR. Al-Bukhari: 6373 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Kedua puluh:

حَدَّثَنَا الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ ابْنَةَ النَّضْرِ لَطَمَتْ جَارِيَةً فَكَسَرَتْ ثَنِيَّتَهَا فَأَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَ بِالْقِصَاصِ. (رواه البخاري، كتب الديات: ٦٣٨٦)

Telah menceritakan kepada kami Al Anshari, telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas radhiallahu'anhu, anak perempuan Nadhr menempeleng seorang hamba sahaya sehigga gigi serinya tanggal, maka mereka mengadukan perkaranya kepada Nabi ﷺ, dan Nabi memerintahkan qisas berlaku. (HR. Al-Bukhari, kitab diyat: 6386 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tsulatsiyat, dan hadits ahlul Bashrah)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 12243 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tsulatsiyat, hadits ahlul Bashrah, dan sanadnya sama dengan hadits riwayat imam al-Bukhari: 6386) 

Seperti itu juga halnya hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ أَبِي و حَدَّثَنَا الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ.(رواه أحمد: ١٢٦٠٣)

Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Anas bapakku berkata, dan telah menceritakan kepada kami al-Anshari, telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas berkata, Nabi ﷺ pernah memanjatkan doa, "Ya Allah, Sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari kemalasan, penyakit tua, ketakutan, kebakhilan, fitnah Dajjal dan siksa kubur". (HR. Ahmad: 12603 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tsulatsiyat, hadits ahlul Bashrah, dan sanadnya ke-2 sama dengan hadits riwayat imam al-Bukhari: 6386 serta 'aziz diakhir sanad) 

Demikian juga hadits tsulatsiyat berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَقَارِبَةً
وَصَلَاةُ أَبِي بَكْرٍ وَسَطٌ وَبَسَطَ عُمَرُ فِي قِرَاءَةِ صَلَاةِ الْغَدَاةِ. (رواه أحمد: ١٢٩٨١)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Anshari, telah menceritakan kepada kami Humaid Ath Thowil dari Anas bin Malik berkata, salat Rasulullah ﷺ ringkas, Abu Bakar adalah pertengahan, dan 'Umar memanjangkan pada bacaan salat Subuh. (HR. Ahmad: 12981 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tsulatsiyat, hadits ahlul Bashrah, dan sanadnya sama dengan hadits riwayat imam al-Bukhari: 6386 serta 'aziz diakhir sanad)

Kedua puluh satu:

حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ طَهْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
نَزَلَتْ آيَةُ الْحِجَابِ فِي زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ وَأَطْعَمَ عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ خُبْزًا وَلَحْمًا وَكَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ تَقُولُ إِنَّ اللَّهَ أَنْكَحَنِي فِي السَّمَاءِ. (رواه البخاري، كتب التوحد: ٦٨٧١)

Telah menceritakan kepada kami Khallad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Isa bin Tahman berkata, aku mendengar Anas bin Malik radhiallahu'anhu mengatakan, "Ayat hijab diturunkan tentang Zainab binti Jahsyin, yang ketika itu beliau ﷺ memberinya makan berupa roti dan daging, dan Zainab membanggakan diri kepada istri-istri Nabi ﷺ lainnya dengan berkata, 'Allah lah yang menikahkanku di langit.' (HR. Al-Bukhari, kitab tauhid: 6871 - dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tsulatsiyat)

C. JALUR ABDULLAH BIN BUSR

Kedua puluh dua:

Imam al-Bukhari meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا عِصَامُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا حَرِيزُ بْنُ عُثْمَانَ أَنَّهُ سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ صَاحِبَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرَأَيْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ شَيْخًا قَالَ كَانَ فِي عَنْفَقَتِهِ شَعَرَاتٌ بِيضٌ. (رواه البخاري: ٣٢٨٢)

Telah bercerita kepada kami 'Isham binKhalid, telah bercerita kepada kami Jarir bin 'Utsman bahwa dia bertanya kepada 'Abdullah bin Busr, sahabat Nabi ﷺ katanya, "Apakah kamu pernah melihat Nabi ﷺ pada usia lanjut?.' Dia menjawab, "Ya, rambut yang sudah memutih pada dagu beliau". (HR. Al-Bukhari: 3282, kitab perilaku budi pekerti yang terpuji - shahih dari 'Abdullah bin Busr bin Abi Busr, ia shahabat kuniyahnya Abu Shafwan negeri hidup Syam dan wafat tahun 88 H. Hadits ahlul Syam)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 17012 dan 17021 (imam Ahmad menerima dari dua orang guru beliau yaitu Hajjaj bin Muhammad w. 206 H dan Abdul Quddus bin Al Hajjaj w. 212 H. Keduanya hadits tsulatsiyat.

Sedangkan imam Muslim meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَضَبَ فَقَالَ لَمْ يَبْلُغْ الْخِضَابَ كَانَ فِي لِحْيَتِهِ شَعَرَاتٌ بِيضٌ قَالَ قُلْتُ لَهُ أَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَخْضِبُ قَالَ فَقَالَ نَعَمْ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ. (رواه مسلم: ٤٣١٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Zakaria dari 'Ashim Al Ahwal dari Ibnu Sirin dia berkata, "Aku bertanya kepada Anas bin Malik, "Pernahkah Rasulullah ﷺ mencelup rambut beliau?" Jawab Anas, "Beliau tidak kelihatan beruban, kecuali di janggutnya tampak beberapa helai rambut putih." Ibnu Sirin bertanya lagi; Apakah Abu Bakar mencelup rambutnya?" Jawab Anas, "Ya, dengan inai dan yang sejenisnya." (HR. Muslim: 4318 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Kesimpulan

HADITS tsulatsiyat yang terdapat dalam kitab shahih al-Bukhari. Jalur sanad hadits tersebut dari tiga orang shahabat Rasulullah ﷺ, yaitu: Salamah bin 'Amru bin Al 'Akwa' (wafat tahun 74 H) 17 buah hadits, Anas bin Malik (wafat tahun 91 H) empat buah hadits, dan Abdullah bin Busr bin Abi Busr (wafat tahun 88 H) satu buah hadits. 

Jika kita merujuk riwayat lain dari kitab musnadnya imam Ahmad, maka periwayat hadits tsulatsiyat selain tiga periwayat di atas juga dari jalur shahabat bernama 'Abdullah bin Abi Awfa 'Alqamah bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu Ibrahim negeri hidup Kufah dan wafat tahun 87 H. Seperti hadits riwayat imam Ahmad: 18354, 18356, dan 18593 (ketiganya hadits tsulatsiyat) - shahih dari 'Abdullah bin Abi Awfa 'Alqamah bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu Ibrahim negeri hidup Kufah dan wafat tahun 87 H. Hadits berbicara tentang berita bahwa Khadijah dianugerahi oleh Allah rumah yang sangat nyaman di surga. Begitu juga hadits riwayat imam Ahmad: 18594 tentang Rasulullah ﷺ melakukan umrah dan ketika thawaf dilempari atau dicelakai oleh kaum musyrikin Makkah dan beliau mendoakan kecelakaan buat mereka. Imam ad-Darimi juga meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ قَالَ وَسَمِعْتُ ابْنَ أَبِي أَوْفَى يَقُولُ سَعَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَنَحْنُ نَسْتُرُهُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَنْ يُصِيبَهُ أَحَدٌ بِحَجَرٍ أَوْ بِرَمْيَةٍ. (رواه الدارمي: ١٨٤١)

Telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin 'Aun, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Khalid, ia berkata, aku mendengar Ibnu Abu Aufa berkata, Rasulullah ﷺ melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah, sementara kami menutupinya dari penduduk Makkah agar tidak ada seorangpun yang menimpakan batu atau lemparan kepada beliau." (HR. Ad-Darimi: 1841 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin Abi Awfaa 'Alqamah bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu Ibrahim negeri hidup Kufah dan wafat tahun 87 H. Hadits tsulatsiyat)

Selanjutnya ditemukan jalur riwayat tsulatsiyat dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H. Riwayat tentang Abu Umamah menangis karena peristiwa pebantaian yang dilakukan Khawarij? Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ قَالَ سَمِعْتُ صَفْوَانَ بْنَ سُلَيْمٍ يَقُولُ دَخَلَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ دِمَشْقَ فَرَأَى رُءُوسَ حَرُورَاءَ قَدْ نُصِبَتْ فَقَالَ كِلَابُ النَّارِ كِلَابُ النَّارِ ثَلَاثًا شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوا ثُمَّ بَكَى فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا أُمَامَةَ هَذَا الَّذِي تَقُولُ مِنْ رَأْيِكَ أَمْ سَمِعْتَهُ قَالَ إِنِّي إِذًا لَجَرِيءٌ كَيْفَ أَقُولُ هَذَا عَنْ رَأْيٍ قَالَ قَدْ سَمِعْتُهُ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ قَالَ فَمَا يُبْكِيكَ قَالَ أَبْكِي لِخُرُوجِهِمْ مِنْ الْإِسْلَامِ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاتَّخَذُوا دِينَهُمْ شِيَعًا. (رواه أحمد: ٢١٢٨٢)

Telah bercerita kepada kami Anas bin 'Iyadh berkata, Aku mendengar Shafwan bin Sulaim berkata, Abu Umamah Al Bahili masuk ke Damaskus lalu melihat kepala-kepala dipasang, ia berkata, Anjing-anjing neraka -sebanyak tiga kali- seburuk-buruk korban yang dibunuh di bawah kolong langit, dan sebaik-baik korban yang dibunuh di bawah kolong langit adalah orang-orang yang mereka bunuh. Ia menangis kemudian seseorang mendekatinya lalu bertanya; Yang kau katakan itu dari pendapatmu ataukah kau dengar dari Rasulullah ﷺ? Ia berkata, Sesungguhnya aku (kalau begitu) gegabah, bagaimana aku mengucapkannya dengan pendapatku sendiri. Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ bukan hanya sekali, dua kali, tiga kali. Orang itu bertanya; Lalu apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab, Karena mereka murtad dari Islam, mereka itulah orang-orang yang bercerai berai dan menjadikan agama mereka sebagai golongan-golongan. (HR. Ahmad: 21282 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H. Hadits tsulatsiyat)

Dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 21282 terdapat periwayat "tertuduh beraliran qadariyah". Ia adalah Shafwan bin Sulaim, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 132 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar berkata, "tsiqah ahli ibadah, tertuduh beraliran qadariyah". Sedangkan Ibnu Sa'ad, Ibnu Uyainah, Ahmad bin Hambal, al-'Ajli, an-Nasa'i, Abu Hatim menilainya tsiqah. Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah tsabat, al-'Ajli menilainya hafizh dan Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats-Tsiqaat". adz-Dzahabi menilainya tsiqah hujjah.

Jumlah Hadits Tsulatsiyat dalam Kitab 9 imam secara umum dapat dilacak adalah:
1. Shahih Al-Bukhari 22 hadits
2. Shahih Muslim (Tidak ada)
3. Sunan Abu Daud (Tidak ada)
4. Sunan Nasai (Tidak ada)
5. Sunan At-Tirmidzi 1 Hadits
6. Sunan Ibnu Majah 5 Hadits
7. Muwattha’ Imam Malik 122 Hadits
8. Musnad Ahmad 331 Hadits
9. Musnad Ad-Darimi 15 Hadits

Jalur sanad hadits tsulatsiyat dalam kitab shahih Al-Bukhari, yaitu dari Jalur Sanad Makiy bin Ibraahim dari Yazid bin Abiy ‘Ubaid dari Salamah bin Al Akwa radhiallahu anhu 11 hadits, dari Adh Dhahaak bin Makhlad dari Yazid bin Abiy ‘Ubaid dari Salamah bin Al Akwa radhiallahu anhu 6 Hadits, dari Muhammad bin ‘Abdillah Al Anshaariy dari Humaid Ath Thaawil dari Anas bin Malik radhiallahu anhu 3 Hadits, dari ‘Ishaam bin Khaalid dari Hariz bin ‘Utsman dari ‘Abdullah bin Busyr radhiallahu anhu 1 Hadits, dan dari jalan Khallad bin Yahya dari ‘Isa bin Thahmaan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu 1 Hadits. Jadi totalnya ada 22 hadits.

Faidah mengetahui hadits tsulatsiyat: (1) Ketinggian dan bagusnya Sanad, (2) Kedekatan dengan sebaik-baik generasi, (3) Kemudahan dalam mengecek para rijal sanad, (4) Lebih dekat kepada keshahihan hadits, dan (5) Mudah dihafal, karena jalur dan jumlahnya sedikit, (6) Dapat diketahui keunggulan periwayat yang ke-istiqamah-annya terpelihara sampai akhir hayat mereka, (7) Memotivasi para pecinta hadits untuk senantiasa menjaga hadits-hadits Rasulullah ﷺ secara serius, Arif dan bijaksana.

Demikian paparan penulis, semoga bermanfaat dan dapat memberi pencerahan terhadap kekayaan terpendam dalam kitab-kitab hadits. Insyaallah pada kesempatan lain akan dilengkapi.

Kitab shahih al-Bukhari mengandung 7008 hadits dan terdiri dari 96 bab/kitab yang dimulai dari bab Wahyu diakhiri bab "berpegang teguh terhadap kitab dan sunnah" (الإعتصام بالكتابه و السنة). 
Ibnu Hajar mengatakan, "Poros hadits shahih adalah ketersambungan sanad dan mutqin (kekuatan hafalan) perawinya, tatkala engkau mengamati Kitab Shahih Bukhari, maka akan nampak jelas bahwa kitab ini adalah yang paling kuat kemutqinan perawinya dan yang paling jelas ketersambungan sanadnya."
Judul Asli kitab tersebut adalah al-Jami' al-Musnad As-Shahib al-Mukhtashar min Umuri Rasulullah ﷺ wa Sunanihi wa Ayyamihi (Shahih Bukhari). Penulis, Muhammad bin Isma'il Abu 'Abdillah al-Bukhari al-Ju'fi. Penerbit: Dar Tuq an-Najah, cetakan I, 1422 H.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Selesai...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]