“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


KEISTIMEWAAN UMAR BIN AL KHATHTHAB BIN NUFAIL

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Terkait dengan keistimewaan Umar bin Al Khaththab sering dibicarakan oleh umat Islam baik berdasarkan sejarah maupun menghimpun riwayat-riwayat tentang beliau. Hal tersebut dapat ditemukan dalam hadits-hadits berikut.

1. Allah meletakkan kebenaran di hati dan lisan beliau serta penyebab turunnya Al Qur'an atas pernyataan beliau

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا خَارِجَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى قَلْبِ عُمَرَ وَلِسَانِهِ
قَالَ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَا نَزَلَ بِالنَّاسِ أَمْرٌ قَطُّ فَقَالُوا فِيهِ وَقَالَ فِيهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَوْ قَالَ عُمَرُ إِلَّا نَزَلَ الْقُرْآنُ عَلَى نَحْوٍ مِمَّا قَالَ عُمَرُ. (رواه أحمد: ٥٤٣٨)

Telah menceritakan kepada kami Abu Amir telah menceritakan kepada kami Kharijah bin Abdillah Al-Anshariy dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ bersabda, "Azza wa Jalla telah meletakkan kebenaran di hati Umar dan lisannya." Ibnu Umar berkata, "Tidaklah suatu perkara terjadi pada suatu masyarakat, kemudian mereka memberi tanggapan, dan Umar bin Khaththab memberi tanggapan lain, atau Umar memutuskan, kecuali Al-Qur'an turun seperti yang diucapkan Umar." (HR. Ahmad: 5438 - shahih, namun isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahmad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Begitu juga hadis riwayat imam Abu Daud: 2573, Ibnu Majah: 105, Ahmad: 8846, 4898, dan 5438, at Tirmidzi: 3615.

At Tirmidzi: 3615, Ahmad: 4898, 5438 - Hadits yang diriwayatkan dari 'Abdullah bin Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahmad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Abu Daud: 2573, Ibnu Majah: 105 - shahih dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Sedangkan hadits riwayat Ahmad: 8846 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

2. Menyedekahkan harta terbaiknya

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ الْعَدَنِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّه بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمِائَةَ سَهْمٍ الَّتِي بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهَا وَقَدْ أَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْبِسْ أَصْلَهَا وَسَبِّلْ ثَمَرَهَا
قَالَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ فَوَجَدْتُ هَذَا الْحَدِيثَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ فِي كِتَابِي عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ عُمَرُ فَذَكَرَ نَحْوَهُ. (رواه إبن ماجه: ٢٣٨٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Umar Al 'Adani berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar ia berkata, " Umar bin Al Khaththab berkata, "Wahai Rasulullah, seratus saham yang ada di Khaibar, aku tidak pernah mendapatkan harta yang paling aku sukai selain itu. Dan aku ingin mensedekahkan harta itu! " Nabi ﷺ kemudian bersabda, "Tahanlah tanah itu dan sedekahkanlah buahnya." Ibnu Abu Umar berkata, "Dalam bukuku aku mendapatkan hadits ini dalam tempat lain; dari Sufyan, dari Abdullah, dari Nafi', dari Ibnu Umar ia berkata, " Umar berkata, lalu ia menyebutkan sebagaimana dalam hadits tersebut." (HR. Ibnu Majah: 2388 - shahih dari Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)

3. Setan takut kepada beliau, bahkan tidak berani berpapasan dengan beliau

Imam Al Bukhari berkata,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَاهُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ
اسْتَأْذَنَ عُمَرُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ نِسَاءٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُكَلِّمْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ قُمْنَ يَبْتَدِرْنَ الْحِجَابَ فَأَذِنَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْحَكُ فَقَالَ عُمَرُ أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ قَالَ عُمَرُ فَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ يَهَبْنَ ثُمَّ قَالَ أَيْ عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ أَتَهَبْنَنِي وَلَا تَهَبْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَ نَعَمْ أَنْتَ أَفَظُّ وَأَغْلَظُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ. (رواه البخاري: ٣٠٥١)

Telah bercerita kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah bercerita kepada kami Ya'qub bin Ibrahim telah bercerita kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata telah mengabarkan kepadaku 'Abdul Hamid bin 'Abdur Rahman bin Zaid bahwa Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqash mengabarkan kepadanya bahwa Sa'ad bin Abi Waqash berkata; 'Umar meminta izin menemui Rasulullah ﷺ saat ada wanita-wanita Quraisy sedang berbincang bersama beliau dan berlama-lama berbicara hingga suara mereka terdengar dengan keras. Ketika 'Umar terdengar meminta izin, para wanita itu berdiri lalu pergi berlindung di balik tabir. Rasulullah ﷺ mengizinkan 'Umar masuk lalu Rasulullah ﷺ tertawa. 'Umar berkata, "Semoga Allah selalu membuat gigi baginda tertawa wahai Rasulullah". Beliau berkata, "Aku heran dengan para wanita yang tadi bersamaku. Ketika mereka mendengar suaramu mereka langsung saja menghindar dan berlindung dari balik tabir". 'Umar berkata, "Kamulah wahai Rasulullah, seharusnya yang lebih patut untuk disegani". Selanjutnya 'Umar berkata, "Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi diri kalian sendiri, mengapa kalian segan (takut) kepadaku dan tidak segan kepada Rasulullah ﷺ?". Para wanita itu menjawab, "Ya, karena kamu lebih galak dan keras hati dibanding Rasulullah ﷺ". Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada satu setan pun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong melainkan dia akan mencari lorong lain yang tidak kamu lalui". (HR. Al Bukhari: 3051 - shahih dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abi Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 3407 - shahih dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abi Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H. Hadits 'aziz pada akhir sanad, karena imam Al Bukhari menerima dari dua orang gurunya yaitu 'Aliy bin 'Abdullah bin Ja'far bin Najih, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 234 H. Dan dari 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Yahya bin 'Amru bin Uwais, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Al Qasim dan negeri hidup Madinah.

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 1392 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abi Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H. Selanjutnya juga diriwayatkan oleh imam Al Bukhari: 5621, Muslim: 4410, Ahmad: 1496 dan 1392 - shahih.

Demikian keistimewaan Umar bin Al Khaththab yang dijelaskan dalam beberapa riwayat. Bahkan di masa kekhalifahan beliau telah banyak menetapkan hukum berdasarkan ijtihad beliau, seperti penentuan waris bagi khuntsa al musykil (orang yang punya dua kelamin). Beliau memutuskan dipatok darimana ia buang air duluan. Bahkan sebelumnya, di masa Abu Bakar beliau menyarankan untuk membukukan Al Qur'an.

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]