Retorika sebagai Instrumen Filsafat: Telaah Pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles terhadap Framing Bahasa dalam Komunikasi Publik Kontemporer
Samsurizal (0000-0001-8782-0746)
STAI Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan
samsurizalpakdosen@gmail.com
Abstrak
Retorika merupakan salah satu cabang penting dalam tradisi filsafat klasik Yunani yang hingga kini masih memengaruhi praktik komunikasi publik, politik, dan pendidikan. Namun, perkembangan komunikasi modern menunjukkan bahwa retorika sering direduksi menjadi sekadar teknik persuasi yang bertujuan membentuk opini publik tanpa selalu berorientasi pada kebenaran. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep retorika menurut Socrates, Plato, dan Aristoteles serta relevansinya terhadap fenomena framing bahasa dalam komunikasi publik kontemporer. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan filosofis, hermeneutis, dan analisis konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Socrates menjadikan dialog kritis sebagai sarana pencarian kebenaran, Plato mengkritik retorika yang hanya mengejar persuasi tanpa pengetahuan, sedangkan Aristoteles mengembangkan retorika sebagai seni persuasi yang tetap berlandaskan logos, ethos, dan pathos. Temuan ini menunjukkan bahwa retorika dalam filsafat klasik bukanlah instrumen manipulasi, melainkan media etis untuk mengomunikasikan kebenaran. Oleh karena itu, praktik komunikasi publik yang menggunakan eufemisme dan framing perlu dikaji secara kritis agar bahasa tetap berfungsi sebagai sarana membangun rasionalitas publik, bukan sekadar alat legitimasi kekuasaan.
Kata kunci: retorika, Socrates, Plato, Aristoteles, filsafat, framing, komunikasi publik.
Pendahuluan
Bahasa memiliki peran sentral dalam membentuk cara manusia memahami realitas. Dalam komunikasi publik modern, pemilihan istilah sering kali tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membingkai persepsi masyarakat terhadap suatu kebijakan. Penggunaan istilah seperti penyesuaian harga untuk menggantikan kenaikan harga merupakan contoh bagaimana bahasa dapat digunakan sebagai strategi retoris untuk memengaruhi penerimaan publik. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa retorika tidak lagi dipahami semata sebagai seni berbicara, melainkan juga sebagai instrumen pembentukan opini melalui pilihan kata dan struktur argumentasi.
Dalam tradisi filsafat Yunani, retorika memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekadar teknik persuasi. Socrates menempatkan dialog sebagai metode untuk menguji pengetahuan dan menemukan kebenaran melalui pemeriksaan kritis terhadap argumentasi. Plato kemudian mengkritik praktik retorika kaum Sofis yang lebih mengutamakan kemenangan debat daripada pencarian kebenaran (Plato, 1997; 2008). Berbeda dengan gurunya, Aristoteles merehabilitasi retorika sebagai disiplin ilmiah yang sah dengan menekankan keseimbangan antara logos (rasionalitas), ethos (integritas pembicara), dan pathos (pemahaman terhadap audiens) (Aristotle, 2007; Kennedy, 1991).
Kajian mutakhir menunjukkan bahwa filsafat tetap menjadi fondasi berpikir kritis, sistematis, dan reflektif dalam berbagai disiplin ilmu (Juwaenah et al., 2026). Bahkan, dialog filosofis antara Socrates dengan tradisi Timur seperti Konfusius dan Laozi memperlihatkan bahwa pencarian kebenaran tidak hanya bertumpu pada rasionalitas, tetapi juga pada pembentukan kebijaksanaan dan karakter moral (Yu, 2005; Yang, 2026). Oleh sebab itu, pemahaman terhadap retorika klasik menjadi penting sebagai landasan etis dalam menghadapi praktik komunikasi publik kontemporer yang semakin dipengaruhi oleh strategi framing dan eufemisme.
Hasil dan Diskusi
Kajian ini menunjukkan bahwa bagi Socrates, retorika bukanlah tujuan filsafat, melainkan bagian dari proses dialog untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Melalui metode elenchus, Socrates mengajak lawan bicaranya menguji konsistensi argumen sehingga kebenaran diperoleh melalui refleksi kritis, bukan melalui dominasi verbal. Pendekatan ini menempatkan rasionalitas sebagai dasar komunikasi yang etis.
Plato memperkuat pandangan tersebut melalui kritiknya terhadap kaum Sofis dalam Gorgias. Menurut Plato, retorika yang hanya berorientasi pada persuasi tanpa didukung pengetahuan merupakan bentuk sanjungan (flattery) yang berpotensi menyesatkan masyarakat. Oleh karena itu, retorika harus berada di bawah bimbingan filsafat agar tetap berpihak kepada kebenaran dan keadilan (Plato, 2008).
Aristoteles mengambil posisi yang lebih moderat. Dalam Rhetoric, ia mendefinisikan retorika sebagai kemampuan menemukan cara persuasi yang tersedia dalam setiap situasi. Namun, persuasi yang sah harus dibangun melalui keseimbangan logos, ethos, dan pathos, sehingga retorika tetap memiliki dasar rasional dan etis (Aristotle, 2007). Dengan demikian, retorika menurut Aristoteles bukanlah legitimasi untuk memanipulasi publik, melainkan sarana menyampaikan kebenaran secara efektif.
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian Assoburu (2026) yang menegaskan bahwa public speaking tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara, tetapi juga tanggung jawab intelektual dan moral dalam menyampaikan informasi. Komunikasi yang baik bukan sekadar mampu meyakinkan audiens, melainkan juga menjaga integritas pesan yang disampaikan.
Dalam perspektif epistemologi, perbedaan antara Plato dan Aristoteles menunjukkan bahwa kebenaran dapat dicapai melalui dua jalur yang saling melengkapi, yaitu refleksi filosofis dan observasi empiris. Idealisme Plato dan pendekatan logis-empiris Aristoteles membentuk fondasi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Keduanya memperlihatkan bahwa retorika memperoleh legitimasi apabila didasarkan pada pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan pada manipulasi persepsi.
Kajian komparatif Yu (2005) memperlihatkan bahwa Socrates dan Konfusius sama-sama membangun etika melalui pembentukan karakter dan pencarian kebajikan, meskipun menggunakan pendekatan yang berbeda. Sementara itu, Yang (2026) menunjukkan bahwa dialog antara Socrates dan Laozi menggambarkan dua jalan kebijaksanaan yang saling melengkapi, yaitu keberanian mempertanyakan segala sesuatu melalui rasio dan kemampuan hidup selaras dengan keteraturan alam. Perspektif lintas tradisi ini memperluas pemahaman bahwa retorika yang berakar pada filsafat bertujuan membentuk manusia yang bijaksana, bukan sekadar komunikator yang persuasif.
Di sisi lain, Zhimin (2026) menegaskan bahwa pengabdian Socrates kepada masyarakat tidak diwujudkan melalui praktik politik praktis, melainkan melalui pendidikan moral dan pencarian kebenaran. Dengan demikian, filsafat memiliki fungsi sosial yang sangat penting karena membentuk kualitas intelektual warga negara. Retorika menjadi bernilai apabila mendukung fungsi tersebut, bukan ketika digunakan untuk menutupi fakta melalui eufemisme atau framing yang menyesatkan.
Oleh sebab itu, praktik komunikasi publik dewasa ini perlu dievaluasi berdasarkan prinsip-prinsip filsafat klasik. Penggunaan istilah yang memperhalus kenyataan mungkin memiliki fungsi komunikasi tertentu, tetapi apabila mengaburkan substansi kebijakan, praktik tersebut berpotensi melemahkan kepercayaan publik. Dalam perspektif Socrates, Plato, dan Aristoteles, komunikasi yang etis harus mengutamakan kejujuran argumentatif sehingga retorika berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan, moralitas, dan kepentingan masyarakat.
Kesimpulan
Retorika dalam tradisi filsafat Yunani klasik bukanlah seni memanipulasi opini, melainkan instrumen etis untuk mengomunikasikan kebenaran. Socrates menempatkan dialog sebagai jalan menuju pengetahuan, Plato mengkritik retorika yang terlepas dari filsafat, sedangkan Aristoteles mengembangkan retorika sebagai disiplin yang memadukan rasionalitas, karakter, dan sensitivitas terhadap audiens. Relevansi pemikiran tersebut semakin nyata dalam menghadapi praktik komunikasi publik kontemporer yang sering menggunakan framing dan eufemisme. Oleh karena itu, pemahaman terhadap retorika klasik penting untuk membangun komunikasi yang lebih jujur, kritis, dan bertanggung jawab sehingga bahasa tetap menjadi sarana pencarian kebenaran, bukan alat manipulasi persepsi.
Daftar Pustaka
Aristotle. (2007). On Rhetoric: A Theory of Civic Discourse (G. A. Kennedy, Trans., 2nd ed.). Oxford University Press.
Assoburu, S. (2026). Retorika public speaking. Prenada Media.
Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58.
Goffman, E. (1974). Frame Analysis: An Essay on the Organization of Experience. Harvard University Press.
Juwaenah, A. N., Maspuroh, M., Silmi, A. F., & Sanusi, I. (2026). The essence of philosophy: Definition, branches and functions. Bibliotheca: Journal of Philosophy, 2(1), 21–28. https://doi.org/10.61166/bibliotheca.v2i1.60
Kennedy, G. A. (1991). Aristotle on Rhetoric: A Theory of Civic Discourse. Oxford University Press.
Perelman, C., & Olbrechts-Tyteca, L. (1969). The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation. University of Notre Dame Press.
Plato. (1997). Complete Works (J. M. Cooper, Ed.). Hackett Publishing.
Plato. (2008). Gorgias (R. Waterfield, Trans.). Oxford University Press.
Yang, C. X. (2026). Socrates and Laozi: A Philosophical Dialogue Between Inner Inquiry and the Way of Nature.
Yu, J. (2005). The beginning of ethics: Confucius and Socrates. Asian Philosophy, 15(2), 173–189. https://doi.org/10.1080/09552360500165304
Zhimin, C. (2026). On the deeds of the philosopher: Philosophy and politics in Plato's Apology of Socrates. Journal of Jishou University (Social Sciences Edition), 47(2), 98–109. https://doi.org/10.13438/j.cnki.jdxb.2026.02.011



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏