“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

HADITS-HADITS TSULATSIYAT KHAFIY
DALAM SUNAN AT-TIRMIDZI
Oleh: Samsurizal, MA. C.I.P


Imam at-Tirmidzi adalah salah seorang muridnya imam al-Bukhari dan telah meriwayatkan ‎lima puluh buah hadits dari beliau. Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi ‎berkualitas shahih, hasan, dha`if, bahkan ada yang palsu menurut Muhammad Nashiruddin al-‎Albani. Hal ini tentu menguatkan anggapan bahwa imam al-Bukhari menulis hadits-hadits dalam ‎kitab shahihnya merupakan saringan (ikhtishar) dari enam ratus ribu hadits (600.000) buah yang ‎beliau hafal. Demikian juga halnya dengan hadits ats-tsulatsiyat yang beliau riwayatkan dalam kitab ‎shahihnya sebanyak dua puluh dua (22) hadits, semuanya berkualitas shahih dan inilah sanad yang ‎istimewa (`Aliy) dari 7008 hadits yang terhimpun dalam kitab shahih beliau. Sementara selain hal ‎tersebut ada juga hadits yang mirip sanad `Aliy namun mu`allaq, tetapi khusus hadits-hadits ‎dimaksud imam al-Bukhari menulis sanadnya lengkap pada tempat atau kitab-kitab beliau yang lain. ‎Ini bearti hadits mu`allaq dalam kitab beliau adalah shahih dan marfu`. Hadits ats-Tsulatsiyat adalah ‎hadits yang jumlah sanadnya berjumlah tiga tabaqat atau tiga orang periwayat antara Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎dengan penulis hadits (mukharrij). Syarat untuk hadits tsulatsiyat jalli (jelas, sesuai kaidah), mesti ‎ada nama shahabat sebagai periwayat langsung dari Rasulullah ‎ﷺ‎. Jika tidak, maka dikelompokkan ‎kedalam hadits tsulatsiyat khafiy (dihukumi, samar).‎

Pada kesempatan kali ini penulis paparkan terkait dengan lima buah hadits tsulatsiyat dalam ‎Sunan at-Tirmidzi yang disarikan dari 3891 buah hadits. Pelacakannya menggunakan Aplikasi Lidwa, ‎Ensiklopedi Hadits 9 Imam, (Indonesia: Saltanera, 2010), v.15.9.9.‎

PERTAMA

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ. ‏

قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ قَالَ أَبُو عِيسَى سَمِعْت أَبَا دَاوُدَ السِّجْزِيَّ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ الْأَشْعَثِ يَقُولُ سَأَلْتُ أَحْمَدَ ‏بْنَ حَنْبَلٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ فَقَالَ أَخُوهُ عَبْدُ اللَّهِ لَا بَأْسَ بِهِ قَالَ و سَمِعْت مُحَمَّدًا يَذْكُرُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ ضَعَّفَ ‏عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ و قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ثِقَةٌ قَالَ وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْكُوفَةِ إِلَى هَذَا الْحَدِيثِ فَقَالُوا يُوتِرُ ‏الرَّجُلُ إِذَا ذَكَرَ وَإِنْ كَانَ بَعْدَ مَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ. (رواه الترمذي: 428)‏

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah bercerita kepada kami Abdullah bin Zaid bin ‎Aslam dari bapaknya bahwa Nabi ‎ﷺ‎ bersabda, "Barang siapa yang tertidur tanpa witir, maka ‎hendaklah dia salat di pagi harinya." ‎

Abu Isa berkata, hadits ini lebih shahih dari hadits yang pertama. Abu Isa berkata, saya mendengar ‎Abu Daud As Sajzi yaitu Sulaiman bin Al Asy'ats berkata, saya bertanya kepada Ahmad bin Hambal ‎tentang Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dia menjawab, dia adalah saudaranya Abdullah, dia tidak ‎apa-apa (tidak ada masalah). Dia (Abu Isa) berkata, saya mendengar Muhammad menyebutkan ‎tentang Ali bin Abdullah bahwa dia melemahkan (riwayat) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dia ‎berkata, Abdullah bin Zaid bin Aslam adalah Tsiqah. Dia (Abu Isa) berkata, sebagian ahli ilmu di ‎kuffah berpendapat dengan hadits ini, mereka mengatakan, hendaknya seseorang melakukan ‎witir ketika mengingatnya walaupun matahari telah terbit dan ini adalah pendapat Sufyan Ats ‎Tsauri. (HR. At-Tirmidzi: 428 – shahih dari Zaid bin Aslam, ia tabi`in kalangan pertengahan ‎kuniyahnya Abu Usamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 136 H. Penilaian ulama hadits; ‎Ahmad bin Hambal, Abu Zur`ah, Abu Hatim, Muhammad bin Sa`id, Ya`kub Ibnu Syaibah, an-Nasa’i ‎menilainya tsiqah, sedangkan adz-Dzahabi menilainya ahli fikih)‎

Hadits-hadits pendukung dari hadits riwayat imam at-Tirmidzi: 428 di atas diriwayatkan oleh imam ‎at-Tirmidzi: 427, Abu Daud: 1219, Ibnu Majah: 1178, dan Ahmad: 10834 dan 10968. Semua hadits ini ‎kualitasnya shahih dan diriwayatkan dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat ‎kuniyahnya Abu Sa`id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Berikut penulis paparkan hadits-‎hadits dimaksud di bawah ini. ‎

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:‎

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَ وَإِذَا اسْتَيْقَظَ. (رواه الترمذي: 427)‏

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Waki', ‎telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Atha' bin Yasar ‎dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata, Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda, "Barang siapa yang tertidur dari (tidak ‎mengerjakan) salat Witir atau lupa, hendaknya ia salat waktu ia ingat atau disaat ia terbangun." (HR. ‎At-Tirmidzi: 427 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id ‎negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)‎

Sedangkan imam Abu Daud meriwayatkan, ‎

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي غَسَّانَ مُحَمَّدِ بْنِ مُطَرِّفٍ الْمَدَنِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ ‏أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّهِ إِذَا ذَكَرَهُ. (رواه أبوداود: 1219)‏

Telah menceritakan kepada Kami Muhammad bin 'Auf, telah menceritakan kepada Kami Utsman ‎bin Sa'id dari Abu Gassan Muhammad bin Mutharrif Al Madani dari Zaid bin Aslam dari 'Atha` bin ‎Yasar dari Abu Sa'id, ia berkata, Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda, "Barang siapa yang tertidur dari melakukan ‎witir atau lupa untuk melakukannya maka hendaknya ia melakukannya apabila ia ingat." (HR. Abu ‎Daud: 1219 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id ‎negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)‎

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,‎

حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمَدِينِيُّ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ ‏عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَهُ. (رواه إبن ماجه: ‏‏1178)‏

Telah menceritakan kepada kami Abu Mush'ab Ahmad bin Abu Bakr Al Madini dan Suwaid bin Sa'id ‎berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Bapaknya dari ‎‎'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id ia berkata, "Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda, "Barang siapa kehilangan salat ‎Witir karena tidur atau lupa, hendaklah ia kerjakan ketika bangun (Subuh) atau teringat." (HR. Ibnu ‎Majah: 1178 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id ‎negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H) ‎

Demikian juga secara makna diriwayat oleh imam Ahmad,‎

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ ‏عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوَتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُوتِرْ إِذَا ذَكَرَهُ أَوْ اسْتَيْقَظَ. (رواه أحمد: 10834)‏

Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin ‎Zaid bin Aslam dari bapaknya, dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎bersabda, "Barang siapa tidur sebelum melaksanakan salat Witir, atau beliau mengatakan, "Lupa ‎hendaklah ia witir ketika mengingatnya, atau beliau mengatakan, "Ketika bangun." (HR. Ahmad: ‎‎10834 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id negeri ‎hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)‎

Dan beliau berkata,‎

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ ‏عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ الْوَتْرَ أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا أَوْ إِذَا أَصْبَحَ. (رواه أحمد: 10968)‏

Telah menceritakan kepada kami Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman -‎yaitu Ibnu Zaid- dari Bapaknya dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎bersabda, "Barang siapa lupa melaksanakan salat Witir, atau tidur sebelum mengerjakannya, maka ‎hendaklah ia melaksanakannya ketika ingat, atau jika ia mendapatkan waktu Subuh." (HR. ‎Ahmad: 10968 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id ‎negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)‎

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa apabila seseorang terlupa atau tertidur untuk ‎melaksanakan shalat witir hendaknya ia melaksanakan saat bangun subuh atau ketika ingat atau ‎disaat kapan pun ia bangun. Redaksi yang semakna ini memberikan isyarat bahwa bagi seseorang ‎yang sudah terbiasa melakukan shalat witir maka disenangi jika tetap menjaganya.‎

HADITS KEDUA

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ وَصَفَ حُسْنَ الْخُلُقِ فَقَالَ هُوَ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ ‏وَكَفُّ الْأَذَى. (رواه الترمذي: 1928)‏

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi, telah menceritakan kepada kami ‎Abu Wahb dari Abdullah bin Mubarak bahwasanya ia menjelaskan tentang husnul khuluq (akhlak ‎yang baik) seraya berkata, "Berwajah ceria, menebarkan kebaikan dan mencegah keburukan." (HR. ‎At-Tirmidzi: 1928 – shahihul isnad menurut Muhammad Nashiruddin al-Albani dari `Abdullah bin al-‎Mubarak bin Wadhih, ia tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu `Abdur Rahman ‎negeri hidup Himash dan wafat tahun 181 H. Penilaian ulama hadits; Ahmad bin Hambal menilainya ‎hafizh, Ibnul Madini menilainya tsiqah, Yahya bin Ma`in menilainya tsiqah tsabat, Abu Hatim ‎menilainya tsiqah imam, dan Ibnu Sa`ad menilainya tsiqah ma`mun)‎

HADITS KETIGA

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ فِي تَفْسِيرِ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ سَمَاءٍ ‏وَلَا أَرْضٍ أَعْظَمَ مِنْ آيَةِ الْكُرْسِيِّ قَالَ سُفْيَانُ لِأَنَّ آيَةَ الْكُرْسِيِّ هُوَ كَلَامُ اللَّهِ وَكَلَامُ اللَّهِ أَعْظَمُ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. (رواه ‏الترمذي: 2809)‏

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il, ia berkata, telah menceritakan kepada ‎kami Al Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah tentang penafsiran hadits ‎Abdulah bin Mas'ud, ia berkata, "Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi lebih agung daripada ‎ayat kursi." Sufyan berkata, "Karena ayat kursi adalah Kalamullah, sementara Kalamullah lebih ‎agung dari ciptaan-Nya seperti langit dan bumi.” (HR. At-Tirmidzi: 2809 – shahih dari Sufyan bin ‎‎`Uyainah bin Abi `Imran Maimun, ia tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu ‎Muhammad negeri hidup Kufah dan wafat tahun 198 H. Penilaian ulama; Ibnu Hibban menilainya ‎hafizh mutqin, al-`Ajli menilainya tsiqah tsabat dalam hadits, adz-Dzhabi menilainya ahadul a`lam, ‎hafizh imam, dan tsiqah tsabat)‎

‎ ‎
HADITS KEEMPAT

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا مَسْلَمَةُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ كَانَ عُمَيْرُ بْنُ هَانِئٍ يُصَلِّي كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ سَجْدَةٍ وَيُسَبِّحُ مِائَةَ أَلْفِ تَسْبِيحَةٍ. (رواه ‏الترمذي: 3337)‏

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Maslamah bin ‎‎'Amru? ia berkata, 'Umair bin Hani` melakukan salat setiap hari seribu sujud dan bertasbih seratus ‎ribu tasbih. (HR. At-Tirmidzi: 3337 – dhaìful isnad maqthu` menurut Muhammad Nashiruddin al-‎Albani dari `Umar bin Hani`, ia tabi`in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Walid negeri hidup Syam ‎dan wafat tahun 127 H. Penilaian ulama; al-`Ajli menilainya tsiqah tsiqah, Ibnu Hajar menilainya ‎tsiqah, sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, “disebutkan dalam ats-tsiqath”)‎

Dalam riwayat imam at-Tirmidzi: 3337 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama ‎kritikus hadits. Ia adalah Maslamah bin `Amru, ia tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya ‎Abu `Amru dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama; Abu Hatim dan Ibnj Hajar menilainya majhul ‎‎(tidak dikenal), sedangkan adz-Dzahabi menilainya tsiqah. Ibnu Hibban berkata, “disebutkan dalam ‎ats-tsiqat”.‎

HADITS KELIMA

حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ ‏حَتَّى يَسْأَلَهُ الْمِلْحَ وَحَتَّى يَسْأَلَهُ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ قَطَنٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ. (رواه الترمذي: 3537)‏

Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin ‎Sulaiman dari tsabit Al Bunani bahwa Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda, "Hendaklah salah seorang diantara ‎kalian akan benar-benar memohon kebutuhan kepada Rabnya, hingga ia memohon garam, dan ‎hingga tali sandal yang putus pun ia akan memohon kepada-Nya." Hadits ini lebih shahih dari hadits ‎Qathn dari Ja'far bin Sulaiman." (HR. At-Tirmidzi: 3537 – dha`if menurut Muhammad Nashiruddin al-‎Albani dari Tsabit bin Aslam, ia tabi`in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup ‎Bashrah dan wafat tahun 127 H. Penilaian ulama hadits; An-Nasa’i menilainya tsiqah, Ibnu `Adi ‎menilainya tsiqah ma`mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah `abid, sedangkan Ibnu Hibban ‎mengatakan, “disebutkan dalam ats-tsiqat”.)‎

Dalam hadits riwayat imam at-Tirmidzi: 3537 terdapat juga periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ‎ulama kritikus hadits. Ia adalah Ja`far bin Sulaiman, tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya ‎Abu Sulaiman negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 178 H. Penilaian ulama; Ibnu Hajar menilainya ‎shaduuq zahid tetapi Syi`ah, al-Bukhari mengatakan, “disebutkan dalam adh-dhu`afa’”. Sedangkan ‎Yahya bin Ma`in dan Ibnul Madini menilainya tsiqah. Ibnu Hibban berkomentar, “disebutkan dalam ‎ats-tsiqat”.‎

Riwayat tsulatsiyat imam at-Tirmidzi berbeda dengan riwayat tsulatsiyat imam al-Bukhari. Hal ini ‎terkait juga dengan kriteria yang diterapkan oleh masing-masing mereka. Imam al-Bukhari memiliki ‎kriteria keshahihan yang ketat; mulai dari ketersambungan sanat dengan syarat hubungan antara ‎guru dengan muridnya mesti pernah bertemu (liqa’) dan hidup semasa (mu`asyarah), harus tsiqah ‎‎(`adil lagi dhabith), riwayatnya tidak bertentangan dengan riwayat orang banyak atau periwayat ‎yang lebih tsiqah baik sanad maupun matan-nya, demikian juga pada sanad dan matan-nya tidak ‎cacat (ber`illat). Sedangkan riwayat-riwayat imam at-Tirmidzi juga mempunyai kriteria tersendiri ‎dalam menentukan kualitas hadits. Beliau justru menggunakan istilah shahih, hasan, dan dha`if ‎untuk memilah kualitas hadits. Merujuk pada kriteria yang diterapkan imam al-Bukhari, maka imam ‎at-Tirmidzi dalam kriteria hadits hasan-nya jika ada dalam rangkaian sanad periwayat yang kurang ‎hafalan dan ke-`adil-annya dibanding periwayat yang tsiqah. Namun, hadits shahih dan hasan ‎dikuatkan lagi bahwa ia adalah maqbul (dapat diterima sebagai hujjah). Sedangkan hadits dha`if ‎adalah hadits yang kurang salah satu dari lima kriteria hadits shahih yang diterapkan oleh imam al-‎Bukhari dalam kitab shahih beliau. Kemudian, perkara ittishal sanad hanya imam al-Bukhari yang ‎menerapkan liqa’ dan mu`asyarah. Oleh karena itu wajar riwayat tsulatsiyat imam at-Tirmidzi ada ‎yang shahih dan dha`if. Semua hadits tsulatsiyat dalam kitab sunannya yang penulis temui adalah ‎hadits mauquf, oleh sebab itu dikategorikan dalam tsulatsiyat khafiy (tersembunyi).‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]