“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


STOICISM (Toxic Positivity)
 Hidup: Menghadapi Patah Hati
(Nasehat Epictetus dan Marcus Aurelius)

"Proses dalam kontrolku, namun hasil diluar kontrolku. Buat apa responsif terhadap hal yang diluar kontrol. Yang penting usahanya maksimal, agar lebih siap."

"Sumbernya kebaikan itu adalah kebajikan: empat kebajikan utama - Wisdom (kebijaksanaan), tahu mana baik dan yang buruk. Temperance (kesederhanaan) - menyadari diri, justice (keadilan) - tidak memihak, and courage (berani).

Toxic Positivity: gagasan bahwa kita seharusnya hanya memikirkan hal-hal yang positif dan tidak membiarkan diri memiliki pikiran atau emosi yang negatif. Sering kali kita melakukan ini dan memproteksikan citra positif, bahkan saat kita tidak merasa positif. Pada dasarnya ini adalah represi emosional, yakni tidak membiarkan diri kita merasakan apa yang seharusnya dirasakan, dan kadang juga mengabaikan apa yang orang lain rasakan. Secara umum hal semacam ini adalah palsu dan pura-pura.

Menjadi Stoik, sama halnya belajar menerima. Menyarankan kepada kita bahwa agar dikelola secara positif. ketabahan menerima, bukan kepura-puraan tidak menerima.

Stoicism tentang hidup: paham dan sadar - menerima rasa dan pengalaman - mengendalikan diri - memberi yang terbaik - belajar untuk lebih baik.

Segala sesuatu ada pola-nya, hukum/sunnatullah-Nya. Misalnya: ada pertemuan-ada perpisahan, ada suka-ada duka, siapa mencintai-ia dicintai, dll.

1. Menyiapkan diri/mental untuk menghadapi.
2. Menyadari nilai segala sesuatu di sekeliling kita dan menyukurinya.
3. Manfaatkanlah segala anugerah itu sebagai dasar kebajikan.
4. Membangun monumen dan kenangan kebajikan sebanyak mungkin agar tetap dikenang dan menjadi sejarah yang tetap hidup di hati mereka.
5. Meningkatkan kualitas diri, sehingga bisa memberi lebih banyak kepada orang yang dicintai. Kemampuan kita bertambah maka manfaat kita juga akan bertambah.
6. Pada akhirnya saat keniscayaan itu tiba, apa pun yang terjadi, kita tetap menjadi manusia yang selalu lebih baik.

"Ayo sadar diri, bersyukur, manfaatkan anugerah, bangun momen terbaik, tingkatkan kualitas diri, tetap jadi yang terbaik".

Menghadapi Patah Hati dari sudut pandang Stoikisme

Sadari Kenyataan Hidup

Ada yang hadir, ada yang keluar dari keberadaan. Beberapa dari apa yang pernah ada, sekarang sudah hilang. Perubahan dan perubahan terus menerus mengubah dunia, seperti perkembangan waktu yang tak henti-hentinya mengubah keabadian." (Marcua Aurelius)

Sadarilah hidup ini senantiasa berubah, itulah hidup. Jangan mengungkit-ungkit yang dahulu, dimana kamu rasa sesuai dengan harapanmu. Hal ini harus diakhui agar meringankan hidupmu. Perubahan seperti bukan sesuatu yang aneh, hanya saja tidak bisa kamu kontrol.

Ingat kalimat ini, "Tanamkan dalam dirimu bahwa yang lain durasinya panjang, sedang bagi kita durasinya pendek". Oleh karena itu, kepahitan tersebut tidak membebankan pikiranmu.

Sadari Kenyataan Hidup

"Saat engkau mencintai sesuatu, tempatkan di hadapan dirimu posisi yang berlawanan. Apa salahnya saat engkau mencium anakmu engkau bisikkan dengan suara lirih, "Besok kamu pun akan mati", dan kepada seorang teman, "Besok kamu yang akan pergi atau aku yang akan pergi, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi". (Epictetus - sang Budak)

عندما تحب شيئًا ما ، ضع أمامك الموقف المعاكس. ما الخطأ عندما تقبل طفلك ، فأنت تهمس بصوت منخفض ، "غدًا ستموت أيضًا" ، ولصديق ، "غدًا سترحل أو سأرحل ، ولن نلتقي مرة أخرى أبدًا". (أبكتيتوس - العبد)

"Jangan berharap segalanya terjadi seperti yang engakau inginkan, namun terimalah segalanya yang terjadi, maka hidupmu akan tenang". (Epictetus - seorang budak)

"لا تتوقع أن يحدث كل شيء كما يحلو لك ، ولكن تقبل كل ما يحدث ، فعندئذ ستكون حياتك هادئة." (ابكتيتوس)

"Jangan biarkan pikiranmu tentang keseluruhan hidupmu menghancurkanmu. Jangan isi pikiranmu dengan segala hal buruk yang mungkin masih akan terjadi. Tetap fokus pada situasi saat ini dan tanyakan pada diri sendiri mengapa begitu tak tertahankan dan rasanya tidak dapat bertahan." (Marcus Aurelius - Seorang Kaisar)

"Kebahagiaan hidupmu tergantung pada kualitas pikiranmu: oleh karena itu, jagalah sebagaimana mestinya, dan berhati-hatilah agar engkau tidak memiliki pikiran yang tidak sesuai dengan kebajikan dan kewajaran." (Marcus Aurelius - Kaisar)

"Apapun yang dilakukan atau dikatakan orang, aku harus tetap menjadi zamrud dan mempertahankan warnaku". (Marcus Aurelius)

Rintangan Hakekatnya Adalah Jalan
"Meskipun benar bahwa seseorang dapat menghalangi tindakan kita, mereka tidak dapat menghalangi niat dan sikap kita, yang memiliki kekuatan untuk berubah dan dapat beradaptasi. Karena pikiran menyesuaikan dan mengubah hambatan apa pun menjadi penghalang tindakan diubah menjadi jembatan bagi tindakan. Hambatan menjadi petunjuk jalan." (Markus Aurelius)

Jangan Memperparah Keadaan:
"Betapa jauh lebih berbahaya konsekuensi dari kemarahan dan kesedihan daripada keadaan yang membangkitkan ya dalam diri kita!." (Markus Aurelius)

Jangan Cengeng,
"Kami menangis kepada Tuhan, bagaimana kami bisa lolos dari penderitaan ini? Bodoh, kau tidak punya tangan? Atau mungkin Tuhan lupa memberimu sepasang?". (Epictetus)

Jangan Malu Minta Bantuan,
"Jangan malu saat membutuhkan bantuan. Engkau memiliki kewajiban untuk dipenuhi seperti seorang prajurit di tembok pertempuran. Jadi bagaimana jika engkau terluka dan tidak bisa memanjat tanpa bantuan prajurit lain?". (Marcus Aurelius)

Mengapa Sakit Sekali:
"Saat engkau tersiksa oleh sesuatu dari luar dirimu, rasa sakit itu sebenarnya bukan dari sesuatu itu sendiri, dan engkau memiliki kekuatan terhadapnya, dan engkau memiliki kekuatan untuk mencabutnya kapan pun kau mau. Tolaklah rasa sakitmu dan rasa sakit itu akan lenyap." (Marcus Aurelius)

Dan,
"Saat engkau sedang melawan orang yang tidak tahu malu, tanyakan kepada dirimu hal ini: apakah mungkin di dunia ini bersih dari tindakan tidak tahu malu? Tidak. Maka jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Selalu ada orang yang tidak punya malu di dunia, dan ini adalah salah satunya. Hal yang sama lakukanlah untuk seseorang yang jahat, tidak dapat dipercaya atau kerendahan moral lainnya. Mengingat bahwa di seluruh dunia ini pasti ada beda-beda kelas moral akan lebih membuatmu toleran terhadap penghuninya." (Marcus Aurelius)

Aku Harus Bagaimana Kepadanya?
"Merasa sayang kepada orang lain, meskipun mereka melakukan banyak kesalahan adalah sifat unik manusia. Engkau dapat melakukannya, cukup dengan mengakui: bahwa mereka juga manusia. Mereka melakukan itu karena tidak sadar, berlawanan dengan kata hati mereka, dan kita semua akhirnya akan sama-sama mati tidak lama lagi. Di di atas semuanya, mereka tidak benar-benar menyakitimu, mereka tidak melenyapkan kemampuanmu untuk memilih." (Marcus Aurelius)

Bagaimana aku melanjutkan hidup tanpa dia?
"Jangan biarkan masa depan mengganggumu. Engkau pasti menghadapinya, jika perlu, dengan senjata yang sama yang hari ini menjadi senjatamu melawan masa kini." (Marcus Aurelius)

Artinya: menjalaninya dengan gaya hidup dan pikiran yang sama.

Apa Yang Aku Dapat Dari Semua Ini?
"Jika ada yang mengahalangimu untuk mencapai tujuan tepat waktu, itu adalah kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika seseorang menyakitimu, itu adalah kesempatan untuk berlatih memaafkan. Jika ada sesuatu yang sulit merintangimu, itu adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat." (Marcus Aurelius)

Pintar-pintarlah mengambil hikmah dari kepahitan hidup karena ini akan lebih menguatkan dan menjadikanmu lebih tangguh. Secara kepribadian yang terbaik adalah jika mampu menjadikan momen ini sebagai pelajaran.

Disarikan dari: https://youtu.be/W-Ar_ceGIng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]