Pages - Menu

Rabu, 13 Oktober 2021

MEMBACA PEMIKIRAN PROF. MUSA ASY`ARIE: ‎"BERPIKIR PROFETIK”‎


MEMBACA PEMIKIRAN PROF. MUSA ASY`ARIE: ‎"BERPIKIR PROFETIK”‎
Oleh: Samsurizal, MA


Abstrak

Kajian pola berfikir profetik yang dianut oleh Prof. Musa Asy`Arie mengupas kecerdasan Nabi ‎Muhammad SAW sebagai landasan berfikir universal sangat penting. Hal ini akan membangunkan ‎akal untuk mengakses semua keistimewaan seorang nabi dan rasul Allah yang paripurna. Seiring ‎dengan waktu memberi bekas yang positif bagi insan akademik untuk membangun peradaban. ‎Sekolah eSFIMA inilah tempat kita belajar menggagas tujuan fundamental ini.‎

I.‎ Latar Belakang

Latar belakang penulisan resume ini diawali dari kekaguman kepada pemikiran Prof. Musa ‎Asy`Ari. Kemudian menjadi pondasi berfikir bagi Dr. Zaprul Khan untuk mengungkap bagaimana ‎pemikiran bercorak kenabian atau disebut dengan “Berfikir Profetik”. Ini adalah kajian yang ‎mendalam terhadap pola pikir Rasulullah SAW terhadap kebenaran hakiki yang pernah diajarkan ‎Allah kepadanya. 

Selanjutnya menjadi tradisi berpikir untuk menyelesaikan semua permasalahan ‎hidup. Kemudian dapat diaplikasikan sehingga menghasilkan berbagai bidang keilmuan. Hal ini ‎bertolak dari motivasi firman Allah, seperti QS. Al Àlaq/96 ayat 1 sampai dengan 5 dan QS. Ali ‎‎`Imran/3 ayat 190 sampai dengan 191. ‎

Berdasarkan pandangan di atas maka dikembangkan dengan alur berfikir filsafat yaitu berfikir ‎yang mendalam. Sehingga memperkecil peluang tertinggalnya tiga segi pancaran pola berpikir ‎profentik yaitu ayat-ayat Kauniyah, Insaniyah, dan Qur’aniyah. Oleh karena itu, metode yang ‎tepat untuk menguraikan ini adalah dengan metode kepustakaan. Baik dengan menelaah referensi ‎dari karya-karya Musa Asy`ari dan wawancara/belajar langsung dengan beliau. Sehingga ‎mengahsilkan satu pola pemikiran yaitu “Berpikir Profetik” Musa Asy`ari. ‎

Hasil dari hal di atas, memunculkan alur berpikir yang luar biasa dan mendalam. Corak berpikir ‎semacam ini dikembangkan dari apa yang telah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad ‎SAW sepanjang hidup beliau. Sehingga menginspirasi para filosof muslim untuk mengikutinya ‎termasuk Musa Asy`ari. Selanjutnya, agar lebih jelasnya tentang apa dasar berpikir profetik dan ‎bagaimana alur atau epistemologinya serta hasil pengembangannya, simak uraian berikut ini. ‎

II.‎ Pembahasan

A.‎ Makna Kebebasan Berpikir

Kita harus berpikir sekeras-kerasnya, sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya untuk ‎menemukan kebenaran yang terdalam, kebenaran yang hakiki, dan syaratnya adalah ‎harus bebas dan dibebaskan dari kepentingan dan muatan hawa nafsu.‎
‎1.‎ Berpikir: pemikiran yang bersifat bebas dan terbuka‎
‎2.‎ Berpikir yang menyatukan dengan perbuatan (Pemikiran yang sudah dibatasi oleh ‎etika dan hukum
‎3.‎ Perbuatan orang yang tidak sadar atau gila

B.‎ Teladan Berpikir Profetik

‎1.‎ Keteladanan berpikir Nabi Muhammad SAW
‎2.‎ Innamal afkar ummahatul a`mal
‎3.‎ Fathanah: kecerdasan kenabian (al Fathanah an Nabawiyah) atau logika kenabian (al ‎Manthiq an Nabawiyah) yang mencakup seluruh aspek mulai dari aspek ruh, hati, ‎perasaan, akal, dan berbagai lathifah, esensi batiniah dala kesatuan tunggal yang utuh.‎

C.‎ Epitemologi Berpikir Profetik

Pertama, QS. Al `Alaq/96: 1-5,‎

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) ‏عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5). (قرآن سورة العلق/96: 1 – 5)‏
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (1). Dia menciptakan ‎manusia dari segumpal darah (2). Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia (3), mengajar ‎‎(manusia) dengan pena (4). Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5). ‎‎(QS. Al-‘Alaq/96: 1-5)‎

Iqra’, maksudnya adalah proses pembacaan yang disertai pemahaman. Akar dari makna ‎Iqra’ yaitu mengumpulkan. Hal ini mencakup kegiatan membaca yang disertai menelaah, ‎mengkaji, dan meneliti yang pada akhirnya menghasilkan temuan yang bersifat ilmiah, ‎akliah, sekaligus irfaniah.‎

Selanjutnya, objek Iqra’ secara global ada tiga klaster:‎
‎1.‎ Ayat-ayat Kauniyah yang menghasilkan natural sciences.‎
‎2.‎ Ayat-ayat Insaniyah yang menghasilkan social and philosophical sciences.‎
‎3.‎ Ayat-ayat Quraniyah atau diniyah yang akan membuahkan religious sciences.‎

Kedua, QS. Ali `Imran/3: 190-191, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ‎

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ. (قرآن سورة آل ‏عمران/3: 190)‏
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang ‎terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (QS. Āli ‘Imrān/3: 190)‎

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا ‏خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. (قرآن سورة آل عمران/3: 191)‏
‎(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan ‎berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya ‎Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah ‎kami dari azab neraka. (QS. Āli ‘Imrān/3: 191)‎

Tahapan Berpikir Profetik Ulul Albab berdasarkan QS. Ali `Imran/3 ayat 190-191 terdiri dari ‎empat tahap berpikir

‎1.‎ Zikir, kesadaran transenden/teologi
‎2.‎ Pikir, berpikir secara metodologis/saintifik
‎3.‎ Transendensi Ilmu
‎4.‎ Pengabdian/Ibadah

D.‎ Berpikir Profetik Rasional Transendental

Berpikir dalam metode kenabian sesungguhnya adalah berpikir rasional transendental. ‎Rasionalitasnya terletak pada penguasaan proses penciptaan yang dimulai dari membangun ‎konsep, kemudian diikuti uji coba yang konsisten dan lantas dirumuskan dan dituliskan dalam ‎teori-teori sains dan teknologi yang akurat dan aplikatif. Sementara itu, transendentalnya yang ‎terletak pada pengakuan atas imannya dalam kata kerja yang dinamis dan mencair untuk ‎kebermanfaatan bagi kehidupan manusia, bukan untuk kepentingan egoisme manusia, ‎egoisme sektoral yang cenderung memecah belah demi kepentingan politik, kekuasaan dan ‎pragmatisme.‎

E.‎ Strategi Perjuangan Nabi Muhammad SAW

‎1.‎ Strategi perjuangan secara kultural di Mekah
‎2.‎ Strategi perjuangan secara kultural di Madinah
‎3.‎ Pembangunan masjid nabawiy
‎4.‎ Persaudaraan antara umam Islam
‎5.‎ Piagam Madinah

F.‎ Urgensi Berpikir Profetik

‎1.‎ Alasan prioritas bagi kaum akademis:‎
Aspek fathanah, scientific mentality dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan ‎seluas-luasnya.‎
‎2.‎ Alasan kontekstual:‎
a.‎ Hilangnya critical thinking
b.‎ Tenggelam dalam banalitas
c.‎ Tenggelam dalam pop culture

G.‎ Peradaban Transendental Universal

Secara kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan teknologi sesunggunya milik semua manusia ‎dan untuk manusia semuanya, bukan milik peribadi atau sekelompok orang. Sains dan ‎teknologi adalah jalan keluar untuk mengatasi problem kemanusiaan universal, menjadi upaya ‎perbaikan hidup bersama yang lebih baik dan lebih sejahtera.‎

H.‎ Teori Radiasi Peradaban

‎1.‎ Ilmu Pengetahuan, sains dan teknologi
‎2.‎ Estetika ‎
‎3.‎ Etika
‎4.‎ Spritual

III.‎ Kesimpulan ‎

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dasar berpikir profetik adalah dari Al ‎Qur’an dan hadis sebagai sumber utama acaran Islam. Kemudian dikembangkan dengan penafsiran ‎dan berusaha memahaminya dengan metode keilmuan yang benar yaitu dengan filsafat. Inilah ciri ‎khas yang tidak dapat ditinggalkan dari cara berpikir filosof islam. Sehingga menghasilkan para ‎pemikir yang memiliki cara berpikir kenabian.‎
Berpikir dengan pola ini dinilai oleh Musa Asy`ari sebagai berfikir bebas tanpa ada ‎kepentingan. Oleh karena itu, semua hasil pikiran ini dapat dinikmati dan dikembangkan oleh ‎semua orang. Bertolak dari ini akan diperoleh jalan keluar dari semua masalah kemanusian. ‎Sehingga memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan milik bersama dan untuk semua.‎

Referensi ‎

Zaprul Khan, Membaca Pemikiran Musa Asy`Arie; Berpikir Profetik, (Yoqyakarta: Sekolah Filsafat ‎Musa Asy`arie, 10 Oktober 2021)‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏