Pages - Menu

Kamis, 21 Oktober 2021

MEMBACA PEMIKIRAN MUSA ASY`ARIE: PARADIKMA TEOLOGI INTEGRALISTIK

MEMBACA PEMIKIRAN MUSA ASY`ARIE: PARADIKMA TEOLOGI INTEGRALISTIK
OLEH: SAMSURIZAL, MA
‎17 Oktober 2021‎


Abstrak

Paradikma teologi integralistik ‎ adalah suatu epistemologi berpikir tauhid multidimensional, ‎profetik, eksistensional dan ekonomi islam. Hal ini mentolerir semua pemikiran dalam lingkaran ‎absulutisme dan refleksi tingkat tinggi. Sehingga memunculkan sikap toleransi terhadap hasil ‎pikiran multidimensi. Musa Asy`arie menawarkan corak berpikir integralistik dalam ranah tauhid ‎multidimensional diletakkan pada ruang terbuka, relatif dan membaca dengan critical thinking.‎

I.‎ Pendahuluan

Pemikiran filosof klasik cenderung berpikir bebas tapi terikat. Sehingga sering terbatas oleh ‎dogma. Seperti Al Kindi tentang pandangan ke-Tuhan-annya, “Allah adalah wujud yang ‎sebenarnya, bukan berasal dari tiada kemudian ada”. Menurut Sirajuddin Zar, pandangan ini ‎bertentangan dengan pendapat Aristoteles, Plato dan Plotinus.‎ ‎ Sedangkan al Farabi berpendapat ‎bahwa wujud pertama sebagai sebab pertama bagi segala yang ada.‎ ‎ Pernyataan yang sama ‎dengan al Farabi dikembangkan oleh Ibnu Sina, namun ia membagi wujud itu kepada tiga ‎tingkatan dengan kemampuan kreasi tersendiri yaitu wajib al wujud, mumkin al wujud dan ‎mumtani` al wujud (esensi yang tidak dapat mempunyai wujud)‎‎. Hal ini untuk memeroleh ‎pengetahuan yang menyakinkan tentang Allah. Sementara itu, filosof setelahnya banyak terjebak ‎pada perdebatan akal dan memeroleh kebenaran serta terkait agama dan filsafat.‎
Sedangkan Musa Asy'arie merefleksikannya, berpikir bebas tidak sama dengan bertindak ‎bebas. Sehingga, memeroleh kelanggengan dalam absurditas berpikir dan pengembalian ‎kebenaran absolut menjadi integralistik. Selanjutnya, menghendaki pemahaman ‎multidimensional. Akhirnya, kebenaran otentik dapat leluasa mengeritisi pembenaran parsial. ‎Inilah pondasi utama berpikir integralitas Musa Asy'arie. Berpikir integralistik membutuhkan ilmu ‎mumpuni. Hal ini tidak akan pernah dimiliki orang awam. Oleh karena itu, tingkatan berpikir ‎ketuhanan dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu persepsi, konsepsi dan empirik. Ketiga konsep ‎berpikir ini diintegeralkan menjadi satu pondasi untuk mencapai kebenaran sebagaimana ‎dipahami kaum sufi dan filsof. Sebagaimana Allah menyindir dalam al Qur’an, bahwa Allah ‎Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ‎

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ اِذْ قَالُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍۗ  قُلْ مَنْ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ الَّذِيْ جَاۤءَ بِهٖ مُوْسٰى ‏نُوْرًا وَّهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًاۚ وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنْتُمْ، وَلَآ اٰبَاۤؤُكُمْ قُلِ اللّٰهُ، ‏ثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ. (قرآن سورة الأنعام/6: 91)‏

Mereka (Bani Israil) tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, ‎‎“Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Nabi Muhammad), ‎‎“Siapakah yang menurunkan kitab suci (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk ‎bagi manusia? Kamu (Bani Israil) menjadikannya lembaran-lembaran lepas. Kamu ‎memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan ‎kepadamu apa yang tidak diketahui baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” Katakanlah, ‎‎“Allah.” Kemudian, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. Al-An‘ām/6: 91)‎

Asas pemikiran teologi di atas sejalan dengan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah ‎SAW,‎

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ ‏وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي. (رواه البخري/6: 2725)‏ 
‎ 
Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah ‎menceritakan kepada kami Abuz Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎bersabda, "Allah berfirman: 'Aku selalu tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku." (HR. Al ‎Bukhari/6: 2725)‎

Hadits semakna dengan hadits di atas cukup banyak, baik dalam riwayat imam al Bukhari, ‎Muslim, at Tirmidzi, an Nasa’iy, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Malik, ad Darimiy, al Hakim, ath ‎Thabraniy, al Baihaqiy dan yang lainnya. Sehingga kemutawatirannya tidak diragukan lagi. ‎Memahami Allah sebagaimana terurai dalam pola berpikir teologi integeralistik dapat ‎diterima dengan legitimasi dogmatis, filosofis dan empirik. Alasan inilah kenapa perlunya ‎mengembangkan pola berpikir sebagaimana dimaksud. Agar lebih jelasnya mari simak dan ‎cermati uraian di bawah ini.‎

II.‎ Pembahasan  ‎

A.‎ Paradikma Teologi Integralistik

Tauhid teologis menurunkan tauhid kosmologi yang kemudian memunculkan tauhid ‎kebidayaan.‎

‎1.‎ Tauhid Teologis ‎
‎2.‎ Tauhid Kosmologis: Alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan dikelola oleh manusia. ‎Kemudian memberi solusi dengan  ‎
‎3.‎ Tauhid Antropologis: Tauhid kebudayaan.‎

B.‎ Struktur Fundamental Paradikma Teologi Integralistik

‎1.‎ Paradigma Berpikir Multidimensional ‎
‎2.‎ Metodologi Berpikir Profetik ‎
‎3.‎ Filsafat Eksistensialis Teo-Antroposentrisme: Manusia sebagai khalifah Allah.‎
‎4.‎ Filsafat Ekonomi Islam: Sebagai akibat dari kekhalifahan manusia untuk mengatur ‎hidup, terbentuk dari kebudayaan.‎

C.‎ Filsafat Ketuhanan

‎1.‎ Tanggung jawab Dogmatis yang berdasarkan pada dogma atau wahyu, ini ‎kebertuhanan kaum awam.‎
‎2.‎ Tanggung jawab Filosofis yang berpijak pada akal dengan melakukan penalaran secara ‎rasional-filosofis. Ia bersifat universal yang dapat melampaui dogmatis.‎

D.‎ Tauhid Teologis

Sifatnya terbuka terhadap hasil pikiran orang lain. Pendekatan tersebut dibagi tiga ‎pandangan yaitu Tuhan Persepsi, Tuhan Konsepsi, dan Tuhan Empirik.‎

‎1.‎ Tuhan Persepsi: Pendekatan Dogmatis: Keberagamaan/kebertuhanan kaum awam. ‎Gaya kebertuhanan seperti ini rawan akan perubahan atau dirubah orang lain. Mereka ‎mudah terjebak kepada intoleransi.‎
‎2.‎ Tuhan Konsepsi: Pendekatan Filosofis dengan menggunakan lima argumentasi ‎rasional filosofis yakni argumentasi ontologis, teologis, kosmologis (sebab-akibat), ‎moralitas dan pragmatis: Keberagamaan/kebertuhanan kaum intelektual. Gaya ‎kebertuhanan ini, mereka akan senantiasa mencari atau muncul keinginan yang luar ‎biasa untuk meningkatkan gaya kebertuhanannya.‎
‎3.‎ Tuhan Empirik: hal ini dapat dilakukan secara filosofis Tuhan yang benar-benar kita ‎alami dalam hidup
a.‎ Tuhan Empirik: Religious Experience, pendekatan intuitif memalui pengalaman.‎
b.‎ Erich Fromm: The Highest development of rationality, rasionalitas tertinggi tidak ‎bisa digambarkan. Kecuali oleh orang yang mengalaminya sendiri. Ini adalah ‎karakter Keberagamaan/kebertuhanan kaum sufi (sufistik).‎

Tuhan Empirik, hakikatnya ber-Tuhan itu dapat menjadi pengalaman empirik yang ‎menggetarkan, di mana seseorang menjalani jejak-jejak Tuhan dalam kehidupannya dan ‎bersama kehidupan semua yang ada, baik di daratan, di lautan maupun di langit, karena ‎sesungguhnya semua kehidupan itu berada di dalam Tuhan, dan di luar Tuhan ‎sesungguhnya tidak ada kehidupan sama sekali. Dengan menapaki jejak-jejak Tuhan itu, ‎maka manusia berkenalan secara pribadi dengan Tuhan yang autentik dalam pengalaman ‎empirik yang menggetarkan hatinya. Hal ini dapat diarahkan pada aspek Filosofis: ilmu, ‎karu’yatin nar, sementara dipandang dari sisi sufistik. Ini merupakan kekuatan makrifat, ‎kal isthilahi biha “seperti tenggelam dalam api”(Imam Ghazali) dan ‘Adamul ilmi laisa ilman ‎bil adami “tidak adanya pengetahuan, bukan berarti tidak ada”(Ibnu Taimiyah).‎
Maksudnya, sesuatu yang tidak bisa dicerna secara rasional, bukan berarti realitas ‎tentang sesuatu itu tidak ada. Hanya saja, pengalaman mistik bersifat supra-indrawi ‎bahkan supra-rasional sehingga tak terjangkau oleh kapasitas panca indra dan akal ‎manusia. Hal tersebut disebabkan karena gabungan jasmani, intelektual dan spritual.‎
Ketiga Tuhan itu digabungkan, karena masing-masing sifatnya relatif, baik Tuhan ‎persepsi, konsepsi dan empirik kita tentang Tuhan bukanlah Tuhan. Oleh karena itu, perlu ‎membuka diri. Alasanya, semuanya konsepsi tentang Tuhan itu terbatas. Masuklah ‎kebertuhanan Sufistik, maka jiwa akan tenang. Artinya sudah benar-benar memahami ‎bertemu atau keber-Tuhan-an. Sehingga memunculkan toleransi yang sangat tinggi ‎terhadap pemikiran tentang Tuhan oleh orang lain.‎
Pernyataan di atas sejalan dengan informasi yang ditemukan dalam kitab-kitab hadits ‎bahwa semua makhluk ada dalam genggaman Allah. Bahkan semuanya hanya diciptakan ‎oleh Allah dengan jari-Nya. Imam Al Bukhari meriwayatkan ‎,‎

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَزْهَرُ السَّمَّانُ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ قَالَ كُنْتُ ‏جَالِسًا فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ فَدَخَلَ رَجُلٌ عَلَى وَجْهِهِ أَثَرُ الْخُشُوعِ فَقَالُوا هَذَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ‏فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ تَجَوَّزَ فِيهِمَا ثُمَّ خَرَجَ وَتَبِعْتُهُ فَقُلْتُ إِنَّكَ حِينَ دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ قَالُوا هَذَا رَجُلٌ مِنْ ‏أَهْلِ الْجَنَّةِ قَالَ وَاللَّهِ مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ مَا لَا يَعْلَمُ وَسَأُحَدِّثُكَ لِمَ ذَاكَ رَأَيْتُ رُؤْيَا عَلَى عَهْدِ ‏النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَصْتُهَا عَلَيْهِ وَرَأَيْتُ كَأَنِّي فِي رَوْضَةٍ ذَكَرَ مِنْ سَعَتِهَا وَخُضْرَتِهَا ‏وَسْطَهَا عَمُودٌ مِنْ حَدِيدٍ أَسْفَلُهُ فِي الْأَرْضِ وَأَعْلَاهُ فِي السَّمَاءِ فِي أَعْلَاهُ عُرْوَةٌ فَقِيلَ لِي ارْقَ قُلْتُ لَا ‏أَسْتَطِيعُ فَأَتَانِي مِنْصَفٌ فَرَفَعَ ثِيَابِي مِنْ خَلْفِي فَرَقِيتُ حَتَّى كُنْتُ فِي أَعْلَاهَا فَأَخَذْتُ بِالْعُرْوَةِ فَقِيلَ ‏لَهُ اسْتَمْسِكْ فَاسْتَيْقَظْتُ وَإِنَّهَا لَفِي يَدِي فَقَصَصْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تِلْكَ ‏الرَّوْضَةُ الْإِسْلَامُ وَذَلِكَ الْعَمُودُ عَمُودُ الْإِسْلَامِ وَتِلْكَ الْعُرْوَةُ عُرْوَةُ الْوُثْقَى فَأَنْتَ عَلَى الْإِسْلَامِ حَتَّى ‏تَمُوتَ وَذَاكَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ و قَالَ لِي خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ‏قَيْسُ بْنُ عُبَادٍ عَنْ ابْنِ سَلَامٍ قَالَ وَصِيفٌ مَكَانَ مِنْصَفٌ. (رواه البخاري: ٣٥٢٩)‏

Telah bercerita kepadaku 'Abdullah bin Muhammad telah bercerita kepada kami Azhar as-‎Samman dari Ibnu 'Aun dari Muhammad dari Qais bin 'Abbad berkata; Aku pernah duduk ‎di masjid Madinah lalu datang seorang laki-laki yang nampak pada wajahnya tanda-‎tanda kekhusyukan. Orang-orang berkata, "Inilah seseorang diantara calon penghuni ‎surga". Orang itu kemudian mengerjakan shalat dua rakaat dengan menyempurnakannya ‎lalu keluar masjid. Aku mengikutinya lalu aku berkata, " ketika Anda masuk masjid tadi ‎orang-orang mengatakan bahwa Anda termasuk calon penghumi surga". Orang itu ‎berkata, "Demi Allah, sungguh tidak patut buat seorangpun mengatakan hal yang dia ‎tidak mengetahuinya. Aku akan ceritakan kepadamu apa alasannya. Sungguh aku pernah ‎bermimpi pada zaman Nabi ‎ﷺ‎ lalu aku ceritakan mimpiku kepada beliau. Dalam mimpiku ‎itu seolah aku melihat taman yang luas, suasananya yang hijau nan asri, di tengahnya ‎ada tiang-tiang dari besi. Bagian bawahnya adalah bumi sedang atasnya adalah langit. ‎Pada bagian atasnya itu ada tali. Dikatakan kepadaku, "Mendakilah". Aku katakan, "Aku ‎tak sanggup". Kemudian datang kepadaku orang yang membantuku, lalu dia ‎mengangkat bajuku dari belakangku sehingga aku mampu mendakinya hingga ketika ‎sudah berada di atas aku pegang tali tersebut. Dikatakan kepadaku, "Berpeganglah". ‎Maka aku sanggup memegangnya dan sungguh tali itu berada pada genggamanku". ‎Kemudian aku ceritakan mimpiku itu kepada Nabi ‎ﷺ‎ maka beliau berkata, "Yang dimaksud ‎dengan taman itu adalah Islam sedangkan tiang-tang adalah tiangnya Islam dan tali itu ‎adalah al-'urwatul wutsqa (kalimat tauhid). Dan kamu berada dalam Islam hingga ‎meninggal dunia". Orang itu adalah 'Abdullah bin Salam. Dan berkata kepadaku Khalifah ‎telah bercerita kepada kami Mu'adz telah bercerita kepada kami Ibnu 'Aun dari ‎Muhammad telah bercerita kepada kami Qais bin 'Abbad dari Ibnu Salam berkata; Kata ‎Shiifu sebagai kata ganti dari minshaf". (HR. Al Bukhari: 3528 - shahih dari 'Abdullah bin ‎Salam bin Al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Yusuf negeri hidup Madinah dan wafat ‎tahun 43 H. Hadits 'aziz, karena imam Al Bukhari meriwayatkan dari dua orang gurunya)‎

Demikian juga diriwayatkan secara makna yaitu hadits riwayat imam Al Bukhari: 6497  ‎‎(hadits 'aziz, karena imam Al Bukhari meriwayatkan dari dua orang gurunya) dan Muslim: ‎‎4536 (dengan lafazh sama)- shahih dari 'Abdullah bin Salam bin Al Harits, ia shahabat ‎kuniyahnya Abu Yusuf negeri hidup Madinah dan wafat tahun 43 H.‎

Redaksi lain mengungkapkan bahwa Rasulullah bersumpah dengan jiwanya yang berada ‎dalam genggaman Allah. Begitu juga Langit dan bumi semua isinya. Hal ini terekam dalam ‎hadits riwayat imam Al Bukhari: 4467, beliau berkata:‎

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ ‏حَبْرٌ مِنْ الْأَحْبَارِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ ‏عَلَى إِصْبَعٍ وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَسَائِرَ ‏الْخَلَائِقِ عَلَى إِصْبَعٍ فَيَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا ‏لِقَوْلِ الْحَبْرِ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا ‏قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ }. (رواه البخاري: ‏‏٤٤٣٧)‏
Telah menceritakan kepada kami Adam Telah menceritakan kepada kami Syaiban dari ‎Manshur dari Ibrahim dari Abidah dari Abdullah radhiallahu'anhu dia berkata; Seorang ‎rahib datang kepada Nabi ‎ﷺ‎ lalu dia berkata; 'Ya Muhammad, Kami mendapatkan bahwa ‎Allah Ta'ala memegang langit, bumi, pohon-pohon, air, binatang-binatang, dan seluruh ‎makhluk dengan jari-Nya seraya berkata; 'Akulah Raja (Penguasa)! 'Maka Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎pun tertawa hingga nampak gigi serinya sebagai pembenaran terhadap perkataan rahib ‎tersebut. Kemudian beliau membaca ayat: 'Dan mereka tidak mengagungkan Allah ‎dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya ‎pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Tuhan dan ‎Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.' (QS. Al Zumar: 67). (HR. Al Bukhari: ‎‎4437 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu ‎‎'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat 32 H)‎

Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 6865 (hadits ahlul Kufah), 6897, 6959 ‎‎(hadits ahlul Kufah), Muslim: 4992 (hadits masyhur, karena ia imam Muslim meriwayatkan ‎dari tiga orang gurunya), at Tirmidzi: 3164, Ahmad: 2154, 3409, 4138 (hadits 'aziz, karena ‎imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya) dan 5157. Semunya shahih, kecuali ‎hadits riwayat Ahmad: 2154. Imam Ahmad meriwayatkan,‎

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ حَسَنٍ الْأَشْقَرُ حَدَّثَنَا أَبُو كُدَيْنَةَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ ‏يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ جَالِسٌ قَالَ كَيْفَ تَقُولُ يَا أَبَا الْقَاسِمِ يَوْمَ يَجْعَلُ اللَّهُ ‏السَّمَاءَ عَلَى ذِهْ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْأَرْضَ عَلَى ذِهْ وَالْمَاءَ عَلَى ذِهْ وَالْجِبَالَ عَلَى ذِهْ وَسَائِرَ الْخَلْقِ ‏عَلَى ذِهْ كُلُّ ذَلِكَ يُشِيرُ بِأَصَابِعِهِ قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ }. (رواه أحمد: ‏‏٢١٥٤)‏

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan Al Asyqar telah menceritakan kepada ‎kami Abu Kudainah dari 'Atho` dari Abu Adl Dhuha dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Seorang ‎Yahudi lewat di depan Rasulullah ‎ﷺ‎ yang sedang duduk, lalu berkata, "Wahai Abul Qasim ‎bagaimana menurutmu ketika Allah menciptakan langit seperti itu." Seraya menunjuk ‎dengan telunjuknya."Bumi seperti ini, air seperti ini, gunung-gunung seperti ini dan semua ‎makhluk seperti itu?" semuanya ditunjuk dengan jari telunjuknya. Maka Allah ‎menurunkan ayat: (Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang ‎semestinya). (HR. Ahmad: 2154 - hasan ligharihi dan isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al ‎Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat ‎kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)‎

Catatan: periwayat hadits riwayat Ahmad: 2154 terdapat periwayat yang dinilai jarah ‎‎(buruk) oleh ulama kritikus hadits, ia adalah Al Husain bin Al Hasan, ia tabi'ul ‎atba' kalangan tua dan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 208 H. Penilaian ‎ulama: Abu Hatim, ad Daruquthni dan an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah. Adz ‎Dzahabi menilainya waahi. Al Bukhari menilainya fihi nazhar dan Abu Zur'ah ‎menilainya munkar hadits. Disisi lain, matan hadits tidak berurutan sebagaimana ‎hadits yang lain. Hadits riwayat at Tirmidzi: 3164 - shahih dari 'Aisyah. Hadits ‎riwayat Ahmad: 5157 dari 'Abdullah bin 'Umar. Selebihnya dari 'Abdullah bin ‎Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri ‎hidup Kufah dan wafat 32 H.‎

E.‎ Urgensi Teologi Integralistik

Integrasi antara ketiga wacana tentang Tuhan: Tuhan Persepsi, Tuhan Konsepsi, dan Tuhan ‎Empirik. Kita letakkan pada ruang terbuka dan relatif dan membaca dengan critical thinking. ‎
F.‎ Kesadaran Kritis

‎“Perlu ada kesadaran diri bahwa persepsi tentang Tuhan adalah bukan Tuhan itu sendiri. ‎Kecenderungan seseorang untuk mengabdi, menyembah dan mempertuhankan persepsinya ‎harus direlatifkan. Karena itu, diperlukan kesadaran bahwa Tuhan yang ada dalam ‎persepsinya itu sangat terbatas, sedangkan Tuhan tidak terbatas, sehingga tidak boleh ‎dimutlakkan. Apalagi untuk menghakimi orang lain yang berbeda persepsi dengannya sebagai ‎sesat dan kafir”.‎

‎1.‎ What do I love when I love my God?‎
‎2.‎ What do I know when I know my God? (John Caputo) ‎
‎3.‎ Al-Ilahul Mu’taqadat: Tuhan sebagaimana dipahami oleh manusia ‎
‎4.‎ Al-Ilahul Muthlaq: Tuhan Yang Maha Mutlak/Absolut (Ibnu Arabi)‎
G.‎ Implikasi Teologi Tauhid

Pembacaan melalui perspektif filsafat ketuhanan tersebut, dengan suatu tujuan agar ‎mengalami pendewasaan dalam hal keberagamaan secara intelektual, emosional sekaligus ‎spiritual. Sehingga sikap keberagamaan kita menjadi terbuka, toleran, humanis, inklusif, ‎bahkan pluralis.‎

Implikasi positifnya:‎
‎1.‎ Setiap orang harus dewasa dalam bertuhan
‎2.‎ Tidak perlu berebut untuk memiliki Tuhan
‎3.‎ Berebut klaim kebenaran tentang Tuhan
‎4.‎ Berebut paling tahu dan benar tentang Tuhan yang menyebabkan terjadinya tindakan ‎anarkis, kekerasan, dan pertumpahan darah

III.‎ Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa berpikir teologi integralistik merupakan ‎epistemologi berpikir yang multidimensional dan bersifat otentik sebagai kritik terhadap pola ‎berpikir persepsi, konsep dan empirik secara integral. Sehingga melahirkan gaya berpikir baru ‎yang terbuka dan fundamental. ‎


REFERENSI

Lidwa, Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam v10.6.2, (Indonesia: Saltanera, 2021)‎
Muhammad bin Isma`il Abu `Abdullah al Bukhariy al Ja`fiy (selanjutnya disebut al Bukhariy), al ‎Jami` ash Shahih al Mukhtashar, (Bairut: Dar Ibnu Katsir, 1987), Juz VI
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: RajaGrafindo, 2007), Ed. 2, hlm. 50‎
Zaprul Khan, Paradikma Berpikir Kritis Musa Asy`Arie: Paradikma Teologi Integralistik, (Kuliah ‎Filsafat,  17 Oktober 2021)‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏