Dari Ghaflah Menuju al-Haqq: Transformasi Kesadaran dalam Pencarian Realitas Absolut
Samsurizal
STAI Balaiselasa, Sumatera Barat, Indonesia
Email: samsurizalpakdosen@gmail.com
Refleksi Filosofis tentang Perjalanan Manusia dari Kelalaian Eksistensial Menuju Kesadaran akan Kebenaran Tertinggi
Manusia sering dipahami sebagai makhluk yang bergerak dari ketidaktahuan menuju pengetahuan. Dalam paradigma modern, kemajuan manusia kerap diukur melalui akumulasi informasi, penguasaan ilmu pengetahuan, dan perkembangan teknologi. Namun, dalam perspektif filosofis dan spiritual yang lebih mendalam, perjalanan eksistensial manusia tidak berhenti pada perolehan pengetahuan semata. Perjalanan tersebut merupakan proses transformasi kesadaran yang membawa manusia dari ghaflah (kelalaian eksistensial) menuju kesadaran akan al-Haqq, Realitas Absolut yang menjadi sumber, dasar, dan tujuan segala keberadaan.
Dalam pandangan ini, manusia tidak hanya dipahami sebagai makhluk yang belajar mengetahui dunia, tetapi sebagai makhluk yang terus berjuang menembus lapisan-lapisan kelalaian yang menutupi kesadarannya terhadap realitas terdalam. Cahaya pengetahuan memang memiliki nilai yang fundamental karena membebaskan manusia dari kebodohan dan kesesatan. Akan tetapi, pengetahuan bukanlah tujuan akhir. Tujuan yang lebih mendasar adalah tercapainya kesadaran yang utuh terhadap hakikat keberadaan dan relasi manusia dengan Realitas Absolut. Oleh karena itu, perjalanan manusia sejatinya merupakan transformasi berkelanjutan: dari sekadar mengetahui menuju memahami, dari memahami menuju menyadari, dan dari menyadari menuju menghadirkan kebenaran dalam seluruh dimensi kehidupan.
Pemahaman semacam ini memiliki akar yang kuat dalam tradisi filsafat Islam dan metafisika klasik. Al-Ghazali menempatkan kesadaran spiritual sebagai inti dari perjalanan manusia menuju kebahagiaan sejati, yaitu ketika hati terbebas dari kelalaian dan mampu menangkap cahaya kebenaran yang berasal dari Tuhan (Al-Ghazali, 1991, 1998). Dalam kerangka yang lebih metafisis, Ibn Arabi memandang al-Haqq sebagai Realitas Absolut yang menjadi sumber seluruh manifestasi wujud, sementara perjalanan manusia merupakan proses pengenalan diri yang pada akhirnya mengantarkan kepada pengenalan terhadap Realitas tersebut (Ibn Arabi, 1980; Chittick, 2007).
Perspektif ini juga memperoleh penguatan dari pemikiran Seyyed Hossein Nasr yang menegaskan bahwa krisis manusia modern bukan semata-mata krisis pengetahuan, melainkan krisis makna dan kehilangan orientasi terhadap dimensi sakral kehidupan. Dalam pandangannya, ilmu pengetahuan, filsafat, dan spiritualitas tidak seharusnya dipisahkan, melainkan dipahami sebagai jalan yang saling melengkapi dalam pencarian kebenaran yang utuh (Nasr, 1989, 1996, 1997). Sejalan dengan itu, Syed Muhammad Naquib al-Attas menekankan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan manusia yang mampu menempatkan segala sesuatu pada posisi yang benar dalam tatanan realitas dan keberadaan (Al-Attas, 1980, 1995).
Gagasan mengenai transformasi kesadaran ini juga memiliki resonansi yang kuat dalam tradisi filsafat Barat. Alegori Gua Plato menggambarkan perjalanan manusia dari dunia bayangan menuju dunia realitas, dari ilusi menuju pengetahuan yang sejati (Plato, 1992). Sementara itu, Heidegger menunjukkan bahwa problem fundamental manusia bukan hanya ketidaktahuan, tetapi kecenderungan untuk melupakan hakikat keberadaannya sendiri, sehingga tugas utama manusia adalah membuka kembali dirinya terhadap kebenaran yang tersembunyi di balik rutinitas dan keterasingan eksistensial (Heidegger, 1962).
Dalam konteks tersebut, makna terdalam pendidikan dan pencarian ilmu bukanlah akumulasi informasi atau peningkatan kapasitas intelektual semata. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pembentukan kesadaran yang memungkinkan manusia menemukan dirinya, memahami posisi eksistensialnya, serta menyadari relasinya dengan realitas yang melampaui dirinya. Dengan demikian, pencarian ilmu menjadi sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang mengarahkan manusia pada penyingkapan hakikat, bukan sekadar penguasaan pengetahuan.
Pada akhirnya, perjalanan manusia bukan sekadar perpindahan dari kegelapan menuju cahaya, melainkan perjalanan dari kelalaian menuju kesadaran, dari keterpisahan menuju keterhubungan, dan dari pencarian pengetahuan menuju penghayatan akan al-Haqq sebagai Realitas Absolut. Di titik inilah pengetahuan menemukan makna terdalamnya: bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jalan menuju kebenaran yang menghidupkan, membebaskan, dan memberi arah bagi seluruh keberadaan manusia.
References
Al-Attas, S. M. N. (1980). The concept of education in Islam: A framework for an Islamic philosophy of education. Muslim Youth Movement of Malaysia.
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the worldview of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Al-Ghazali. (1991). The alchemy of happiness (C. Field, Trans.). M. E. Sharpe. (Original work published ca. 1105)
Al-Ghazali. (1998). The niche of lights (D. Buchman, Trans.). Brigham Young University Press.
Chittick, W. C. (2007). The self-disclosure of God: Principles of Ibn al-'Arabi's cosmology. State University of New York Press.
Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row. (Original work published 1927)
Ibn Arabi. (1980). The bezels of wisdom (R. W. J. Austin, Trans.). Paulist Press.
Ibn Arabi. (1989). The Sufi path of knowledge: Ibn al-'Arabi's metaphysics of imagination (W. C. Chittick, Trans. & Comm.). State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the sacred. State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1996). Religion and the order of nature. Oxford University Press.
Nasr, S. H. (1997). Man and nature: The spiritual crisis of modern man. ABC International Group.
Plato. (1992). Republic (G. M. A. Grube & C. D. C. Reeve, Trans.). Hackett Publishing Company.
Sells, M. A. (1994). Mystical languages of unsaying. University of Chicago Press.
Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.
“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.
Pages - Menu
▼
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏