Pages - Menu

Selasa, 01 Agustus 2023

HADITS-HADITS TSULATSIYAT KHAFIY

HADITS-HADITS TSULATSIYAT KHAFIY
DALAM SUNAN AT-TIRMIDZI
Oleh: Samsurizal, MA. C.I.P


Imam at-Tirmidzi adalah salah seorang muridnya imam al-Bukhari dan telah meriwayatkan ‎lima puluh buah hadits dari beliau. Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi ‎berkualitas shahih, hasan, dha`if, bahkan ada yang palsu menurut Muhammad Nashiruddin al-‎Albani. Hal ini tentu menguatkan anggapan bahwa imam al-Bukhari menulis hadits-hadits dalam ‎kitab shahihnya merupakan saringan (ikhtishar) dari enam ratus ribu hadits (600.000) buah yang ‎beliau hafal. Demikian juga halnya dengan hadits ats-tsulatsiyat yang beliau riwayatkan dalam kitab ‎shahihnya sebanyak dua puluh dua (22) hadits, semuanya berkualitas shahih dan inilah sanad yang ‎istimewa (`Aliy) dari 7008 hadits yang terhimpun dalam kitab shahih beliau. Sementara selain hal ‎tersebut ada juga hadits yang mirip sanad `Aliy namun mu`allaq, tetapi khusus hadits-hadits ‎dimaksud imam al-Bukhari menulis sanadnya lengkap pada tempat atau kitab-kitab beliau yang lain. ‎Ini bearti hadits mu`allaq dalam kitab beliau adalah shahih dan marfu`. Hadits ats-Tsulatsiyat adalah ‎hadits yang jumlah sanadnya berjumlah tiga tabaqat atau tiga orang periwayat antara Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎dengan penulis hadits (mukharrij). Syarat untuk hadits tsulatsiyat jalli (jelas, sesuai kaidah), mesti ‎ada nama shahabat sebagai periwayat langsung dari Rasulullah ‎ﷺ‎. Jika tidak, maka dikelompokkan ‎kedalam hadits tsulatsiyat khafiy (dihukumi, samar).‎

Pada kesempatan kali ini penulis paparkan terkait dengan lima buah hadits tsulatsiyat dalam ‎Sunan at-Tirmidzi yang disarikan dari 3891 buah hadits. Pelacakannya menggunakan Aplikasi Lidwa, ‎Ensiklopedi Hadits 9 Imam, (Indonesia: Saltanera, 2010), v.15.9.9.‎

PERTAMA

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ. ‏

قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ قَالَ أَبُو عِيسَى سَمِعْت أَبَا دَاوُدَ السِّجْزِيَّ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ الْأَشْعَثِ يَقُولُ سَأَلْتُ أَحْمَدَ ‏بْنَ حَنْبَلٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ فَقَالَ أَخُوهُ عَبْدُ اللَّهِ لَا بَأْسَ بِهِ قَالَ و سَمِعْت مُحَمَّدًا يَذْكُرُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ ضَعَّفَ ‏عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ و قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ثِقَةٌ قَالَ وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْكُوفَةِ إِلَى هَذَا الْحَدِيثِ فَقَالُوا يُوتِرُ ‏الرَّجُلُ إِذَا ذَكَرَ وَإِنْ كَانَ بَعْدَ مَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ. (رواه الترمذي: 428)‏

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah bercerita kepada kami Abdullah bin Zaid bin ‎Aslam dari bapaknya bahwa Nabi ‎ﷺ‎ bersabda, "Barang siapa yang tertidur tanpa witir, maka ‎hendaklah dia salat di pagi harinya." ‎

Abu Isa berkata, hadits ini lebih shahih dari hadits yang pertama. Abu Isa berkata, saya mendengar ‎Abu Daud As Sajzi yaitu Sulaiman bin Al Asy'ats berkata, saya bertanya kepada Ahmad bin Hambal ‎tentang Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dia menjawab, dia adalah saudaranya Abdullah, dia tidak ‎apa-apa (tidak ada masalah). Dia (Abu Isa) berkata, saya mendengar Muhammad menyebutkan ‎tentang Ali bin Abdullah bahwa dia melemahkan (riwayat) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dia ‎berkata, Abdullah bin Zaid bin Aslam adalah Tsiqah. Dia (Abu Isa) berkata, sebagian ahli ilmu di ‎kuffah berpendapat dengan hadits ini, mereka mengatakan, hendaknya seseorang melakukan ‎witir ketika mengingatnya walaupun matahari telah terbit dan ini adalah pendapat Sufyan Ats ‎Tsauri. (HR. At-Tirmidzi: 428 – shahih dari Zaid bin Aslam, ia tabi`in kalangan pertengahan ‎kuniyahnya Abu Usamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 136 H. Penilaian ulama hadits; ‎Ahmad bin Hambal, Abu Zur`ah, Abu Hatim, Muhammad bin Sa`id, Ya`kub Ibnu Syaibah, an-Nasa’i ‎menilainya tsiqah, sedangkan adz-Dzahabi menilainya ahli fikih)‎

Hadits-hadits pendukung dari hadits riwayat imam at-Tirmidzi: 428 di atas diriwayatkan oleh imam ‎at-Tirmidzi: 427, Abu Daud: 1219, Ibnu Majah: 1178, dan Ahmad: 10834 dan 10968. Semua hadits ini ‎kualitasnya shahih dan diriwayatkan dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat ‎kuniyahnya Abu Sa`id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Berikut penulis paparkan hadits-‎hadits dimaksud di bawah ini. ‎

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:‎

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَ وَإِذَا اسْتَيْقَظَ. (رواه الترمذي: 427)‏

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Waki', ‎telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Atha' bin Yasar ‎dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata, Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda, "Barang siapa yang tertidur dari (tidak ‎mengerjakan) salat Witir atau lupa, hendaknya ia salat waktu ia ingat atau disaat ia terbangun." (HR. ‎At-Tirmidzi: 427 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id ‎negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)‎

Sedangkan imam Abu Daud meriwayatkan, ‎

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي غَسَّانَ مُحَمَّدِ بْنِ مُطَرِّفٍ الْمَدَنِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ ‏أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّهِ إِذَا ذَكَرَهُ. (رواه أبوداود: 1219)‏

Telah menceritakan kepada Kami Muhammad bin 'Auf, telah menceritakan kepada Kami Utsman ‎bin Sa'id dari Abu Gassan Muhammad bin Mutharrif Al Madani dari Zaid bin Aslam dari 'Atha` bin ‎Yasar dari Abu Sa'id, ia berkata, Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda, "Barang siapa yang tertidur dari melakukan ‎witir atau lupa untuk melakukannya maka hendaknya ia melakukannya apabila ia ingat." (HR. Abu ‎Daud: 1219 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id ‎negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)‎

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,‎

حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمَدِينِيُّ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ ‏عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَهُ. (رواه إبن ماجه: ‏‏1178)‏

Telah menceritakan kepada kami Abu Mush'ab Ahmad bin Abu Bakr Al Madini dan Suwaid bin Sa'id ‎berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Bapaknya dari ‎‎'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id ia berkata, "Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda, "Barang siapa kehilangan salat ‎Witir karena tidur atau lupa, hendaklah ia kerjakan ketika bangun (Subuh) atau teringat." (HR. Ibnu ‎Majah: 1178 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id ‎negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H) ‎

Demikian juga secara makna diriwayat oleh imam Ahmad,‎

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ ‏عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوَتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُوتِرْ إِذَا ذَكَرَهُ أَوْ اسْتَيْقَظَ. (رواه أحمد: 10834)‏

Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin ‎Zaid bin Aslam dari bapaknya, dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎bersabda, "Barang siapa tidur sebelum melaksanakan salat Witir, atau beliau mengatakan, "Lupa ‎hendaklah ia witir ketika mengingatnya, atau beliau mengatakan, "Ketika bangun." (HR. Ahmad: ‎‎10834 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id negeri ‎hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)‎

Dan beliau berkata,‎

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ ‏عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ الْوَتْرَ أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا أَوْ إِذَا أَصْبَحَ. (رواه أحمد: 10968)‏

Telah menceritakan kepada kami Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman -‎yaitu Ibnu Zaid- dari Bapaknya dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎bersabda, "Barang siapa lupa melaksanakan salat Witir, atau tidur sebelum mengerjakannya, maka ‎hendaklah ia melaksanakannya ketika ingat, atau jika ia mendapatkan waktu Subuh." (HR. ‎Ahmad: 10968 – shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id ‎negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)‎

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa apabila seseorang terlupa atau tertidur untuk ‎melaksanakan shalat witir hendaknya ia melaksanakan saat bangun subuh atau ketika ingat atau ‎disaat kapan pun ia bangun. Redaksi yang semakna ini memberikan isyarat bahwa bagi seseorang ‎yang sudah terbiasa melakukan shalat witir maka disenangi jika tetap menjaganya.‎

HADITS KEDUA

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ وَصَفَ حُسْنَ الْخُلُقِ فَقَالَ هُوَ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ ‏وَكَفُّ الْأَذَى. (رواه الترمذي: 1928)‏

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi, telah menceritakan kepada kami ‎Abu Wahb dari Abdullah bin Mubarak bahwasanya ia menjelaskan tentang husnul khuluq (akhlak ‎yang baik) seraya berkata, "Berwajah ceria, menebarkan kebaikan dan mencegah keburukan." (HR. ‎At-Tirmidzi: 1928 – shahihul isnad menurut Muhammad Nashiruddin al-Albani dari `Abdullah bin al-‎Mubarak bin Wadhih, ia tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu `Abdur Rahman ‎negeri hidup Himash dan wafat tahun 181 H. Penilaian ulama hadits; Ahmad bin Hambal menilainya ‎hafizh, Ibnul Madini menilainya tsiqah, Yahya bin Ma`in menilainya tsiqah tsabat, Abu Hatim ‎menilainya tsiqah imam, dan Ibnu Sa`ad menilainya tsiqah ma`mun)‎

HADITS KETIGA

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ فِي تَفْسِيرِ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ سَمَاءٍ ‏وَلَا أَرْضٍ أَعْظَمَ مِنْ آيَةِ الْكُرْسِيِّ قَالَ سُفْيَانُ لِأَنَّ آيَةَ الْكُرْسِيِّ هُوَ كَلَامُ اللَّهِ وَكَلَامُ اللَّهِ أَعْظَمُ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. (رواه ‏الترمذي: 2809)‏

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il, ia berkata, telah menceritakan kepada ‎kami Al Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah tentang penafsiran hadits ‎Abdulah bin Mas'ud, ia berkata, "Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi lebih agung daripada ‎ayat kursi." Sufyan berkata, "Karena ayat kursi adalah Kalamullah, sementara Kalamullah lebih ‎agung dari ciptaan-Nya seperti langit dan bumi.” (HR. At-Tirmidzi: 2809 – shahih dari Sufyan bin ‎‎`Uyainah bin Abi `Imran Maimun, ia tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu ‎Muhammad negeri hidup Kufah dan wafat tahun 198 H. Penilaian ulama; Ibnu Hibban menilainya ‎hafizh mutqin, al-`Ajli menilainya tsiqah tsabat dalam hadits, adz-Dzhabi menilainya ahadul a`lam, ‎hafizh imam, dan tsiqah tsabat)‎

‎ ‎
HADITS KEEMPAT

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا مَسْلَمَةُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ كَانَ عُمَيْرُ بْنُ هَانِئٍ يُصَلِّي كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ سَجْدَةٍ وَيُسَبِّحُ مِائَةَ أَلْفِ تَسْبِيحَةٍ. (رواه ‏الترمذي: 3337)‏

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Maslamah bin ‎‎'Amru? ia berkata, 'Umair bin Hani` melakukan salat setiap hari seribu sujud dan bertasbih seratus ‎ribu tasbih. (HR. At-Tirmidzi: 3337 – dhaìful isnad maqthu` menurut Muhammad Nashiruddin al-‎Albani dari `Umar bin Hani`, ia tabi`in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Walid negeri hidup Syam ‎dan wafat tahun 127 H. Penilaian ulama; al-`Ajli menilainya tsiqah tsiqah, Ibnu Hajar menilainya ‎tsiqah, sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, “disebutkan dalam ats-tsiqath”)‎

Dalam riwayat imam at-Tirmidzi: 3337 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama ‎kritikus hadits. Ia adalah Maslamah bin `Amru, ia tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya ‎Abu `Amru dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama; Abu Hatim dan Ibnj Hajar menilainya majhul ‎‎(tidak dikenal), sedangkan adz-Dzahabi menilainya tsiqah. Ibnu Hibban berkata, “disebutkan dalam ‎ats-tsiqat”.‎

HADITS KELIMA

حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ ‏حَتَّى يَسْأَلَهُ الْمِلْحَ وَحَتَّى يَسْأَلَهُ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ قَطَنٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ. (رواه الترمذي: 3537)‏

Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin ‎Sulaiman dari tsabit Al Bunani bahwa Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda, "Hendaklah salah seorang diantara ‎kalian akan benar-benar memohon kebutuhan kepada Rabnya, hingga ia memohon garam, dan ‎hingga tali sandal yang putus pun ia akan memohon kepada-Nya." Hadits ini lebih shahih dari hadits ‎Qathn dari Ja'far bin Sulaiman." (HR. At-Tirmidzi: 3537 – dha`if menurut Muhammad Nashiruddin al-‎Albani dari Tsabit bin Aslam, ia tabi`in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup ‎Bashrah dan wafat tahun 127 H. Penilaian ulama hadits; An-Nasa’i menilainya tsiqah, Ibnu `Adi ‎menilainya tsiqah ma`mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah `abid, sedangkan Ibnu Hibban ‎mengatakan, “disebutkan dalam ats-tsiqat”.)‎

Dalam hadits riwayat imam at-Tirmidzi: 3537 terdapat juga periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ‎ulama kritikus hadits. Ia adalah Ja`far bin Sulaiman, tabi`ut tabi`in kalangan pertengahan kuniyahnya ‎Abu Sulaiman negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 178 H. Penilaian ulama; Ibnu Hajar menilainya ‎shaduuq zahid tetapi Syi`ah, al-Bukhari mengatakan, “disebutkan dalam adh-dhu`afa’”. Sedangkan ‎Yahya bin Ma`in dan Ibnul Madini menilainya tsiqah. Ibnu Hibban berkomentar, “disebutkan dalam ‎ats-tsiqat”.‎

Riwayat tsulatsiyat imam at-Tirmidzi berbeda dengan riwayat tsulatsiyat imam al-Bukhari. Hal ini ‎terkait juga dengan kriteria yang diterapkan oleh masing-masing mereka. Imam al-Bukhari memiliki ‎kriteria keshahihan yang ketat; mulai dari ketersambungan sanat dengan syarat hubungan antara ‎guru dengan muridnya mesti pernah bertemu (liqa’) dan hidup semasa (mu`asyarah), harus tsiqah ‎‎(`adil lagi dhabith), riwayatnya tidak bertentangan dengan riwayat orang banyak atau periwayat ‎yang lebih tsiqah baik sanad maupun matan-nya, demikian juga pada sanad dan matan-nya tidak ‎cacat (ber`illat). Sedangkan riwayat-riwayat imam at-Tirmidzi juga mempunyai kriteria tersendiri ‎dalam menentukan kualitas hadits. Beliau justru menggunakan istilah shahih, hasan, dan dha`if ‎untuk memilah kualitas hadits. Merujuk pada kriteria yang diterapkan imam al-Bukhari, maka imam ‎at-Tirmidzi dalam kriteria hadits hasan-nya jika ada dalam rangkaian sanad periwayat yang kurang ‎hafalan dan ke-`adil-annya dibanding periwayat yang tsiqah. Namun, hadits shahih dan hasan ‎dikuatkan lagi bahwa ia adalah maqbul (dapat diterima sebagai hujjah). Sedangkan hadits dha`if ‎adalah hadits yang kurang salah satu dari lima kriteria hadits shahih yang diterapkan oleh imam al-‎Bukhari dalam kitab shahih beliau. Kemudian, perkara ittishal sanad hanya imam al-Bukhari yang ‎menerapkan liqa’ dan mu`asyarah. Oleh karena itu wajar riwayat tsulatsiyat imam at-Tirmidzi ada ‎yang shahih dan dha`if. Semua hadits tsulatsiyat dalam kitab sunannya yang penulis temui adalah ‎hadits mauquf, oleh sebab itu dikategorikan dalam tsulatsiyat khafiy (tersembunyi).‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏