Pages - Menu

Rabu, 14 Juni 2023

KESENDIRIAN (FALSAFAH HIDUP)

KESENDIRIAN
Disarikan oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Simon menyindir kerakusan manusia, ia berkata: “Betapa rakusnya aku; Aku menginginkan segalanya dalam ‎kehidupan. Aku ingin menjadi seorang wanita dan sekaligus seperti pria, memiliki banyak teman ‎sekaligus menikmati kesendirian, banyak bekerja sekaligus menulis buku-buku bagus, banyak ‎kegiatan sekaligus bersenang-senang, memenuhi keinginan sekaligus tidak egois ... Lihat, sulit ‎bukan untuk mendapatkan semua yang aku inginkan. Begitu pun saat tidak berhasil, kemarahanku ‎meledak.” (Simon de Beauvoir).‎

Simon de Beauvoir adalah pasangannya Sartre seorang filosof eksistensialisme, beliau terkenal ‎dengan filsafat Feminisme.‎

Makna Kesendirian

Terdapat tiga istilah untuk makna kesendirian:‎

‎1.‎ Sendiri (alone) adalah fakta, banyak orang yang tidak ingin sendiri tetapi faktanya sendiri.‎
‎2.‎ Kesepian (loneliness) adalah jiwa/rasa sendiri walaupun di sekelilingnya banyak orang, ‎maka ia butuh teman. Hal ini bermakna negatif dan membuat diri tersiksa dan ‎menyakitkan.‎
‎3.‎ Menyendiri (solitude/uzlah) adalah upaya menjauh dari keramaian untuk tujuan dan ‎kondisi tertentu.‎

‎“Two sides of man’s being alone: the word “lonelness” to express the pain of being alone, and ‎the word “solitude” to express the glory of being alone.” (Paul Tillich, The Eternal Now).‎

Ada dua istilah yang terkenal sekali dalam bahasa inggris yaitu “loneliness” kesepian (negatif), ‎dan “solitude” kesendirian (positif).‎

Kesendirian Sebagai Kenyataan Hidup

Hakekat hidup ini adalah sendiri, sebagaimana ilustrasi yang diungkapkan Osho:‎ ‎“Kita lahir sendiri dan akan mati sendiri. Di antara dua kenyataan tersebut kita menciptakan ‎seribu satu ilusi tentang kebersamaan, yakni semua jenis hubungan, pertemanan, permusuhan, ‎cinta dan kebencian, ... Kita menciptakan aneka halusinasi hanya untuk menghindari fakta bahwa: ‎kita adalah sendirian. Namun apapun yang kita lakukan, kebenaran tidak dapat berubah. Seperti ‎itulah adanya, dan daripada berusaha untuk melarikan diri darinya, jalan terbaik adalah ‎bergembira di dalamnya. (Osho, The Sound of One Hand Clapping- suara satu tangan yang ‎bertepuk)‎

Kesendirian (kasunyatan-jawa) sebagai kecenderungan jiwa para introvert.‎

Indikasi: ‎

• Berinteraksi dengan orang merasa capek/lelah
• Lingkaran pertemanan sangat kecil
• Lebih suka menghabiskan waktu sendirian
• Self-healing terbaik: di rumah/di kamar
• Tidak suka lingkungan yang berisik
• Lebih tertarik dengan pekerjaan/aktivitas sendirian (independen)‎

 
Implikasi:‎

• Memendam apa yang dirasakan, dan berharap orang lain mengerti
• Melakukan silent-treatment tanpa batas waktu hingga akhirnya menjadi asing dengan ‎orang yang sebelumnya dikenal.‎
• Sering kecewa dengan diri sendiri karena merasa tidak seperti orang lain, dan akhirnya ‎menyalahkan diri sendiri.‎
• Terlalu berekspresi lebih kepada orang lain yang dianggap dekat, dan akhirnya kecewa.‎
• Sering tidak-enakan sehingga sering dimanfaatkan orang lain.‎

Variasi:‎

• Social Introvert: Suka juga bersosialisasi dan juga aktif, namu di circlenya sendiri.‎
• Thingking Introvert: Bisa ditempat ramai, namun mengamati, diam, di pojok berpikir, ‎menganalisis sekeliling, tenggelam dalam pikiran sendiri.‎
• Anxious Introvert: Setelah berinteraksi berpikir: aku salah ucap gak ya? Bagaimana ‎komentar orang lain ya?‎
• Restrained Introvert: Tertutup, misterius pada awalnya, sulit cair, meski lama-lama bisa.‎

‎“If you`re lonely when you`re alone, you`re in bad company”. (Jean-paul sartre)‎

Kesendirian itu fakta (kasunyatan), tetapi kesepian tidak. Ini yang dikatakan Sartre, “Jika engkau ‎merasa kesepian saat sendiri, engkau ada di perusahaan/frekwensi yang salah/keliru.” Karena ‎kesendirian itu asik, harusnya kamu nikmati.‎

Ragam Kesepian:‎

‎1.‎ Kesepian emosional (tidak ada rasa dekat dan bisa disandari)‎
‎2.‎ Kesepian sosial (Kurangnya jaringan sosial)‎
‎3.‎ Kesepian eksistensial (rasa terpisah/berbeda dari yang lain)‎
‎4.‎ Kesepian sementara (hanya diwaktu tertentu)‎
‎5.‎ Kesepian kronis (senantiasa merasa sepi)‎
‎6.‎ Kesepian situasional (hanya dalam situasi tertentu)‎


Kesepian: Keinginan Untuk Dipahami

‎“Kesepian tidak datang karena tidak adanya orang di sekelilingmu, namun karena engkau tidak ‎mampu mengungkapkan segala yang menurutmu penting”. (Carl Jung)‎
‎“Biar kuberi tahu engkau: kalau engkau bertemu seorang penyendiri, itu bukanlah karena mereka ‎menyukai kesendirian, namun karena mereka sebelumnya telah berusaha keras untuk membaur ‎ke dalam dunia, dan orang-orang selalu mengecewakan.” (Jodi Picoult, My Sister’s Keeper)‎
‎“Rasa kesepianku lahir saat orang memuji omong-kosongku dan mencela kediaman bijaksanaku.” ‎‎(Khalil Gibran, Sand and Foam)‎

Rute Kesepian hingga menjerumuskan pada keburukan: Kesepian - menyalahkan diri – Stres Berat ‎‎– Resiko kematian meningkat

Kesepian: Kecewa (karena lenyapnya support) – Menyalahkan diri sendiri: Runtuhnya Self-‎Esteem (kebanggaan pada dirinya) – Stres berat: Meningkatnya Kortisol, sistem imun berantakan, ‎mudah sakit – Resiko kematian meningkat: Setara dengan merokok 1 bungkus per-hari, lebih ‎berat dari obesitas, lebih berpengaruh daripada tidak mau berolahraga.‎

From Loneliness to Solitude (mengubah kesepian menjadi kesendirian yang positif/bermanfaat)‎

Lakukanlah lima hal ini:‎

Acceptance and Reflections : diterima dan renungi
Self-development: meningkatkan diri
Actions: berkarya
Social-support: berinteraksi dengan orang lain untuk mendapatkan dukungan semangat bahwa ‎masih ada orang yang peduli
Sprituality: meningkatkan aktivitas spritual, sesepi apa pun kita tetapi masih ada Allah.‎

Keberanian Untuk Sendiri: Keutamaan

‎“Adalah mudah untuk tegak dalam kerumunan, namun memerlukan keberanian untuk tegak ‎sendirian.” (Mahatma Gandhi)‎
‎“Orang biasa membenci kesendirian, namun seorang master memanfaatkannya, memeluk ‎kesendirian, sambil menyadari ia adalah satu dengan seluruh semesta.” (Lao Tzu)‎

Kesendirian adalah pembuktian ketangguhan diri seseorang yang berujung pada keunggulan. ‎

KESENDIRIAN DAN KEBEBASAN

‎“Seseorang bisa menjadi dirinya sendiri hanya selama dia sendirian; dan jika dia tidak menyukai ‎kesendirian, dia tidak akan menyukai kebebasan; karena hanya ketika dia sendirian dia benar-‎benar bebas. (Athur Schopenhauer)‎

‎“Jika engkau sendirian, engkau sepenuhnya memiliki diri sendiri. Jika engkau ditemani oleh satu ‎pendamping, engkau hanya memiliki sebagian dari dirimu sendiri atau bahkan kurang, sebanding ‎dengan kesemberonoan perilaku, dan jika engkau memiliki lebih dari satu pendamping, engkau ‎akan jatuh lebih dalam ke dalam penderitaan yang sama.” (Leonardo da Vinci)‎

KESENDIRIAN DAN PEMENUHAN DIRI ‎
‎(Dalam kesendirian kita dapat mewujudkan semua keinginan)‎

‎“Tanpa kesendirian yang luar biasa tidak ada pekerjaan serius yang mungkin dilakukan.” (Pablo ‎Picasso)‎

‎“Tidak ada yang menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri. Tidak ada yang bisa, dan tidak ada ‎yang mungkin bisa. Kita sendiri harus menempuh jalan itu.” (Budha Gautama)‎

‎“Aku butuh sakitnya kesepian untuk membuat imajinasiku berhasil.” (Orhan Pamuk)‎
‎“Jiwa yang melihat keindahan terkadang bisa berjalan sendiri.” (Goethe)‎

From Solitude to Spiritual Awareness (Dari kesendirian yang positif menuju kesadaran spritual)‎

‎“Orang yang takut sendirian, pasti akan kesepian, tidak peduli seberapa banyak orang di ‎sekelilingnya. Namun orang yang belajar dalam kesendiriannya, untuk berdamai dengan ‎kesepiannya, dan lebih memilih kenyataan daripada ilusi persahabatan, akan menyadari ‎kehadiran Tuhan yang tak terlihat.” (Thomas Merton, No Man is an Island)‎

Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah, ketika mengalami kesepian beliau melakukan tahannus ‎‎(menyendiri).‎

‎“Perjalanan ke dalam diri adalah perjalanan menuju kesendirian absolut, engkau tidak dapat ‎mengajak orang lain ke sana bersamamu.” (Osho, Just The Tip of Iceberg)‎

‎“Kita harus menjadi sendiri, begitu sendirian, lalu kita menarik diri ke dalam diri yang terdalam. ‎Ini memang jalan penderitaan yang pahit. Tetapi kemudian kesendirian kita akan teratasi, kita ‎tidak lagi merasa kesepian, karena kita menemukan bahwa dalam diri kita yang terdalam ada ‎jiwa, yang ilahiyah, yang tak terpisahkan. Lalu kita menemukan diri kita berada di tengah-tengah ‎dunia, namun tidak terganggu oleh keserbaragamannya, karena jjiwa kita yang paling dalam itu ‎membuat kita tahu bahwa diri kita adalah menjadi satu dengan semua makhluk.” (Hermann ‎Hesse)‎

Diawali dari sendiri, sendiri yang tidak kesepian. Dilanjutkan dengan perjalanan ke dalam diri, ‎dipuncaki dengan kesadaran ilahiyah, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak merasa ‎ada bedanya dengan semua makhluk dan tidak tergoda oleh warna-warni duniawi. Kongkritnya ‎adalah uzlah.‎


Spritual Solitude (uzlah), terdapat dua istilah yang dekat dengan uzlah dalam dunia tasawuf yaitu ‎khalawat dan zuhud: Uzlah menjauhkan diri dari keramaian. Zuhud adalah kondisi jiwa yang tidak ‎tergoda dengan hal-hal yang duniawi. Khalawat memisahkan diri dari keramaian berdua dengan ‎yang dicintai (Allah).‎

Ayat yang menyarankan kita untuk memperhatikan diri sendiri ditemukan dalam Qu’an yaitu QS. ‎Al-Maidah/5: 105. Allah menyarankan, “Orang-orang yang sesat tidak akan ada yang mampu menggoda, membahayakan, ‎kalau kalian sudah mendapatkan hidayah/petunjuk Tuhan. Jangan lupa ‎bahwa kepada Allah-lah kamu akan kembali.‎

KEUTAMAAN UZLAH (Solitude)‎

Uzlah melatih jiwa kita untuk menjadi kuat. ‎

‎1.‎ Mendapat banyak kesempatan untuk beribadah dan bertafakkur atas Kemahasucian-Nya
‎2.‎ Terlepas dari dosa yang dilakukan karena hidup dalam masyarakat: 1) Ghibah, 2) Tidak ‎melakukan amar ma`ruf nahi munkar, 3) Riya’, 4) Perilaku buruk seperti: mengumpat, ‎memfitnah.‎
‎3.‎ Membebaskan diri dari pertengkaran dan perselisihan serta menyelamatkan diri dari ‎percakapan yang tidak berguna dan sia-sia.‎
‎4.‎ Menyelamatkan diri dari gangguan atau cercaan orang lain.‎
‎5.‎ Putusnya harapan orang banyak atas kita dan harapan kita atas orang banyak, karena ‎mustahil mendapatkan kerelaan orang banyak dan memuaskan semua keinginan mereka.‎
‎6.‎ Jika orang yang bodoh, maka orang lain aman dari kebodohan dan keburukan karena ‎ketidaktahuannya.‎

Kesendirian itu indah dan memberikan banyak manfaat. Rasulullah menyarankan untuk uzlah ‎ketika kondisi masyarakat yang negatif. Rasulullah bersabda: “Apabila engkau menyaksikan ‎manusia yang mengingkari janji dan amanah yang dipercayakan kepada mereka, dan apabila ‎mereka kemudian menjadi begini (beliau memasukkan jari-jari satu tangan ke dalam jari tangan ‎lainnya) maka mereka akan sibuk dengan pertengkaran dan perselisihan”. Seseorang kemudian ‎bertanya: “Lalu apa yang harus kami lakukan, Ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Tetaplah kalian ‎berada di rumah kalian, jaga lidahmu baik-baik dan ambil apa yang kalian ketahui dan tinggalkan ‎apa yang tidak ketahui. Karena itu tetaplah sibuk dengan urusan kalian sendiri dan tinggalkanlah ‎urusan orang banyak.” (Ihya’)‎

Sebagian atsar sahabat juga menginspirasi untuk uzlah:‎

Umar bin Khaththab r.a.: “Kesendirian lebih baik daripada punya sahabat yang buruk ‎perilakunya.”‎
Ibnu al-Samad berkata: “Manusia adalah ibarat obat yang dengannya mereka menyembuhkan ‎penyakit. Namun manusia masa kini telah berubah menjadi penyakit yang tidak lagi ada penawar ‎baginya. Karena itu larilah dari manusia banyak sebagaimana kalian lari dari Singa.”‎

Menciptakan kesendirian untuk diri/hidup kita pada kondisi yang memungkinkan dan kondosi ‎yang pas justru itu sesuatu yang dianjurkan, mulia, dan hal yang utama.‎

Great eagles fly Alone, Great lions Hunt alone, Great souls walk alone, alone with God. (Leonard ‎Ravenhill)‎

‎“Burung elang yang hebat itu terbang sendiri, singa yang hebat itu berburu sendirian, jiwa yang ‎hebat berjalan sendirian, sendirian bersama Tuhan.” (Leonard Ravenhill)‎

Kesendirian itu hebat kalau rumus dan dosisnya tepat, tetapi kalau meleset maka akan ‎membuahkan kesepian, tekanan stres. Oleh karena itu, pintar-pintarlah mencari formula yang ‎tepat untuk meletakkan kapan diri untuk sendiri dan kapan mesti berbaur.‎

DR. Fahruddin Faiz - https://youtu.be/VfevZyttGH4‎

Ngaji Filsafat : Kesendirian ‎
Ngaji Filsafat 389 Edisi : Falsafah Hidup (Lagi) ‎
Bersama Dr. Fahruddin Faiz, M. Ag ‎
Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta Rabu, 07 Juni 2023

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏