Pages - Menu

Jumat, 16 Juni 2023

RASULULLAH MELAKNAT SELURUH YANG TERKAIT DENGAN AKTIVITAS RIBA


RASULULLAH MELAKNAT SELURUH YANG TERKAIT DENGAN AKTIVITAS RIBA

Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِعُثْمَانَ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُغِيرَةَ قَالَ سَأَلَ شِبَاكٌ إِبْرَاهِيمَ فَحَدَّثَنَا عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ قَالَ قُلْتُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ قَالَ إِنَّمَا نُحَدِّثُ بِمَا سَمِعْنَا. (رواه مسلم: ٢٩٩٤)

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim dan ini adalah lafadz Utsman. Ishaq berkata, telah mengabarkan kepada kami, dan Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Mughirah dia berkata, "Syibak bertanya kepada Ibrahim, lalu ia menceritakan kepada kami dari 'Alqamah dari Abdullah dia berkata, "Rasulullah ﷺ melaknat orang yang memakan hasil riba dan yang menyuruh memakannya." 'Alqamah berkata, "Saya bertanya, "(Bagaimana dengan) sekretaris pembuat akte riba dan saksi-saksinya?" dia menjawab, "Kami hanya menceritakan dari sesuatu yang kami dengar." (HR. Muslim: 2994 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits 'aziz diakhir sanad, hadits ahlul Kufah)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 2995 [tambahan kalimat "hum sawaa'"], Abu Daud: 2895, At-Tirmidzi: 1127, an-Nasa: 5015 dan 5016, Ibnu Majah: 2268, Ahmad: 3550 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H.

Dari jalur Jabir bin 'Abdullah Imam Ahmad juga meriwayatkan,

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ. (رواه أحمد: ١٣٧٤٤)

Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Abu Az Zubair dari Jabir berkata, Rasulullah ﷺ melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan dengan harta riba, dua saksinya dan penulisnya. (HR. Ahmad: 13744 - shahih Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. Hadits tsulatsiyat)

Demikian juga lafazh hadits riwayat imam Ahmad: 4099 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah. Begitu juga didukung juga oleh riwayat imam Ad-Darimi: 2423 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Abdullah bin Mas'ud dan hadits ahlul Kufah.

Masih dari jalur 'Abdullah bin Mas'ud,

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ قَالَ وَقَالَ مَا ظَهَرَ فِي قَوْمٍ الرِّبَا وَالزِّنَا إِلَّا أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه أحمد: ٣٦١٨)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah memberitakan kepada kami Syarik dari Simak dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas'ud dari ayahnya dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Allah melaknat pemakan riba, yang memberi makan, para saksi dan penulisnya." Ia berkata, Beliau juga bersabda, "Tidaklah nampak pada suatu kaum riba dan perzinaan melainkan mereka telah menghalalkan bagi mereka mendapatkan siksa Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ahmad: 3618 - shahih lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)

Dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 3618 terdapat periwayat yang dinilai lemah oleh sebagian kritikus hadits. Ia adalah Simak bin Harb bin Aus, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Mughirah dan wafat tahun 123 H. Penilaian ulama: Ibnu Hibban menilainya banyak salah, adz-Dzahabi menilainya hafalannya jelek. An-Nasa'i menilainya di haditsnya ada sesuatu. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq tsiqah dan Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah.

Redaksi berbeda dengan makna yang sama diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ قَالَ لَا تَصْلُحُ سَفْقَتَانِ فِي سَفْقَةٍ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَشَاهِدَهُ وَكَاتِبَهُ. (رواه أحمد: ٣٥٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Simak bin Harb ia berkata, Aku mendengar Abdurrahman bin Abdullah menceritakan dari Abdullah bin Mas'ud bahwa ia berkata, Tidak sah ada dua akad (jual beli) dalam satu akad, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah melaknat pemakan harta riba, yang memberinya, saksi atas akad riba dan orang yang menuliskannya." (HR. Ahmad: 3539 - shahih lighairihi menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ مُجَالِدٍ حَدَّثَنِي عَامِرٌ عَنْ الْحَارِثِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَةً آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَالْحَالَّ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ وَمَانِعَ الصَّدَقَةِ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ. (رواه أحمد: ٦٠١)

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Mujalid, telah menceritakan kepadaku 'Amir dari Al Harits dari Ali dia berkata, "Rasulullah ﷺ melaknat sepuluh orang; pemakan riba, pemberi makannya, penulisnya, kedua saksinya, muhallil dan muhallal lahu, orang yang menolak membayar zakat, pembuat tato dan yang di tato." (HR. Ahmad: 601 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 601 terdapat periwayat dha'if (lemah). Ia adalah al-Harits bin Abdullah, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Zuhair dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Abu Hatim dan An-Nasa'i menilainya laisa bi qawi. ad-Daruquthni menilainya dha'if, sedangkan Ibnu Hajar berkomentar, "dalam haditsnya ada dha'if".  adz-Dzahabi menilainya layyin Syi'iy.

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 624, 634, 683, 933, 803, 1222, dan 1294 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Sedangkan hadits riwayat Ahmad: 1065 diriwayatkan dari al-Harits bin 'Abdullah (ia tabi'in-yang lemah), hadits jelas maqthu'.

Terdapat juga hadits masyhur dipertengahan sanadnya diriwayatkan oleh imam An-Nasa'i terkait dengan hadits-hadits di atas. Imam an-Nasa'i berkata:

أَخْبَرَنِي زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ أَنْبَأَنَا حُصَيْنٌ وَمُغِيرَةُ وَابْنُ عَوْنٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ الْحَارِثِ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَمَانِعَ الصَّدَقَةِ وَكَانَ يَنْهَى عَنْ النَّوْحِ أَرْسَلَهُ ابْنُ عَوْنٍ وَعَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ. (رواه النسائي: ٥٠١٤)

Telah mengabarkan kepadaku Ziyad bin Ayyub ia berkata, telah menceritakan kepada kami Husyaim ia berkata, telah memberitakan kepada kami Hushain dan Mughirah dan Ibnu Aun dari Asy Sya'bi dari Al Harits dari Ali berkata, "Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, yang membawakannya dan penulisnya, penolak zakat, dan beliau juga melarang dari niyahah (meratapi mayit)." Ibnu Aun dan 'Atha bin As Sa`ib memursalkan hadits ini. (HR. An-Nasa'i: 5014 - shahih dari Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Dan banyak lagi hadits-hadits semakna terkait dengan masalah riba ini, baik yang shahih maupun tidak. Namun, yang jelas praktek dan aktivitas riba sangat tidak disukai dan dapat memberikan efek buruk bagi kehidupan pribadi dan merusak keharmonisan sosial masyarakat.

Rabu, 14 Juni 2023

KESENDIRIAN (FALSAFAH HIDUP)

KESENDIRIAN
Disarikan oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Simon menyindir kerakusan manusia, ia berkata: “Betapa rakusnya aku; Aku menginginkan segalanya dalam ‎kehidupan. Aku ingin menjadi seorang wanita dan sekaligus seperti pria, memiliki banyak teman ‎sekaligus menikmati kesendirian, banyak bekerja sekaligus menulis buku-buku bagus, banyak ‎kegiatan sekaligus bersenang-senang, memenuhi keinginan sekaligus tidak egois ... Lihat, sulit ‎bukan untuk mendapatkan semua yang aku inginkan. Begitu pun saat tidak berhasil, kemarahanku ‎meledak.” (Simon de Beauvoir).‎

Simon de Beauvoir adalah pasangannya Sartre seorang filosof eksistensialisme, beliau terkenal ‎dengan filsafat Feminisme.‎

Makna Kesendirian

Terdapat tiga istilah untuk makna kesendirian:‎

‎1.‎ Sendiri (alone) adalah fakta, banyak orang yang tidak ingin sendiri tetapi faktanya sendiri.‎
‎2.‎ Kesepian (loneliness) adalah jiwa/rasa sendiri walaupun di sekelilingnya banyak orang, ‎maka ia butuh teman. Hal ini bermakna negatif dan membuat diri tersiksa dan ‎menyakitkan.‎
‎3.‎ Menyendiri (solitude/uzlah) adalah upaya menjauh dari keramaian untuk tujuan dan ‎kondisi tertentu.‎

‎“Two sides of man’s being alone: the word “lonelness” to express the pain of being alone, and ‎the word “solitude” to express the glory of being alone.” (Paul Tillich, The Eternal Now).‎

Ada dua istilah yang terkenal sekali dalam bahasa inggris yaitu “loneliness” kesepian (negatif), ‎dan “solitude” kesendirian (positif).‎

Kesendirian Sebagai Kenyataan Hidup

Hakekat hidup ini adalah sendiri, sebagaimana ilustrasi yang diungkapkan Osho:‎ ‎“Kita lahir sendiri dan akan mati sendiri. Di antara dua kenyataan tersebut kita menciptakan ‎seribu satu ilusi tentang kebersamaan, yakni semua jenis hubungan, pertemanan, permusuhan, ‎cinta dan kebencian, ... Kita menciptakan aneka halusinasi hanya untuk menghindari fakta bahwa: ‎kita adalah sendirian. Namun apapun yang kita lakukan, kebenaran tidak dapat berubah. Seperti ‎itulah adanya, dan daripada berusaha untuk melarikan diri darinya, jalan terbaik adalah ‎bergembira di dalamnya. (Osho, The Sound of One Hand Clapping- suara satu tangan yang ‎bertepuk)‎

Kesendirian (kasunyatan-jawa) sebagai kecenderungan jiwa para introvert.‎

Indikasi: ‎

• Berinteraksi dengan orang merasa capek/lelah
• Lingkaran pertemanan sangat kecil
• Lebih suka menghabiskan waktu sendirian
• Self-healing terbaik: di rumah/di kamar
• Tidak suka lingkungan yang berisik
• Lebih tertarik dengan pekerjaan/aktivitas sendirian (independen)‎

 
Implikasi:‎

• Memendam apa yang dirasakan, dan berharap orang lain mengerti
• Melakukan silent-treatment tanpa batas waktu hingga akhirnya menjadi asing dengan ‎orang yang sebelumnya dikenal.‎
• Sering kecewa dengan diri sendiri karena merasa tidak seperti orang lain, dan akhirnya ‎menyalahkan diri sendiri.‎
• Terlalu berekspresi lebih kepada orang lain yang dianggap dekat, dan akhirnya kecewa.‎
• Sering tidak-enakan sehingga sering dimanfaatkan orang lain.‎

Variasi:‎

• Social Introvert: Suka juga bersosialisasi dan juga aktif, namu di circlenya sendiri.‎
• Thingking Introvert: Bisa ditempat ramai, namun mengamati, diam, di pojok berpikir, ‎menganalisis sekeliling, tenggelam dalam pikiran sendiri.‎
• Anxious Introvert: Setelah berinteraksi berpikir: aku salah ucap gak ya? Bagaimana ‎komentar orang lain ya?‎
• Restrained Introvert: Tertutup, misterius pada awalnya, sulit cair, meski lama-lama bisa.‎

‎“If you`re lonely when you`re alone, you`re in bad company”. (Jean-paul sartre)‎

Kesendirian itu fakta (kasunyatan), tetapi kesepian tidak. Ini yang dikatakan Sartre, “Jika engkau ‎merasa kesepian saat sendiri, engkau ada di perusahaan/frekwensi yang salah/keliru.” Karena ‎kesendirian itu asik, harusnya kamu nikmati.‎

Ragam Kesepian:‎

‎1.‎ Kesepian emosional (tidak ada rasa dekat dan bisa disandari)‎
‎2.‎ Kesepian sosial (Kurangnya jaringan sosial)‎
‎3.‎ Kesepian eksistensial (rasa terpisah/berbeda dari yang lain)‎
‎4.‎ Kesepian sementara (hanya diwaktu tertentu)‎
‎5.‎ Kesepian kronis (senantiasa merasa sepi)‎
‎6.‎ Kesepian situasional (hanya dalam situasi tertentu)‎


Kesepian: Keinginan Untuk Dipahami

‎“Kesepian tidak datang karena tidak adanya orang di sekelilingmu, namun karena engkau tidak ‎mampu mengungkapkan segala yang menurutmu penting”. (Carl Jung)‎
‎“Biar kuberi tahu engkau: kalau engkau bertemu seorang penyendiri, itu bukanlah karena mereka ‎menyukai kesendirian, namun karena mereka sebelumnya telah berusaha keras untuk membaur ‎ke dalam dunia, dan orang-orang selalu mengecewakan.” (Jodi Picoult, My Sister’s Keeper)‎
‎“Rasa kesepianku lahir saat orang memuji omong-kosongku dan mencela kediaman bijaksanaku.” ‎‎(Khalil Gibran, Sand and Foam)‎

Rute Kesepian hingga menjerumuskan pada keburukan: Kesepian - menyalahkan diri – Stres Berat ‎‎– Resiko kematian meningkat

Kesepian: Kecewa (karena lenyapnya support) – Menyalahkan diri sendiri: Runtuhnya Self-‎Esteem (kebanggaan pada dirinya) – Stres berat: Meningkatnya Kortisol, sistem imun berantakan, ‎mudah sakit – Resiko kematian meningkat: Setara dengan merokok 1 bungkus per-hari, lebih ‎berat dari obesitas, lebih berpengaruh daripada tidak mau berolahraga.‎

From Loneliness to Solitude (mengubah kesepian menjadi kesendirian yang positif/bermanfaat)‎

Lakukanlah lima hal ini:‎

Acceptance and Reflections : diterima dan renungi
Self-development: meningkatkan diri
Actions: berkarya
Social-support: berinteraksi dengan orang lain untuk mendapatkan dukungan semangat bahwa ‎masih ada orang yang peduli
Sprituality: meningkatkan aktivitas spritual, sesepi apa pun kita tetapi masih ada Allah.‎

Keberanian Untuk Sendiri: Keutamaan

‎“Adalah mudah untuk tegak dalam kerumunan, namun memerlukan keberanian untuk tegak ‎sendirian.” (Mahatma Gandhi)‎
‎“Orang biasa membenci kesendirian, namun seorang master memanfaatkannya, memeluk ‎kesendirian, sambil menyadari ia adalah satu dengan seluruh semesta.” (Lao Tzu)‎

Kesendirian adalah pembuktian ketangguhan diri seseorang yang berujung pada keunggulan. ‎

KESENDIRIAN DAN KEBEBASAN

‎“Seseorang bisa menjadi dirinya sendiri hanya selama dia sendirian; dan jika dia tidak menyukai ‎kesendirian, dia tidak akan menyukai kebebasan; karena hanya ketika dia sendirian dia benar-‎benar bebas. (Athur Schopenhauer)‎

‎“Jika engkau sendirian, engkau sepenuhnya memiliki diri sendiri. Jika engkau ditemani oleh satu ‎pendamping, engkau hanya memiliki sebagian dari dirimu sendiri atau bahkan kurang, sebanding ‎dengan kesemberonoan perilaku, dan jika engkau memiliki lebih dari satu pendamping, engkau ‎akan jatuh lebih dalam ke dalam penderitaan yang sama.” (Leonardo da Vinci)‎

KESENDIRIAN DAN PEMENUHAN DIRI ‎
‎(Dalam kesendirian kita dapat mewujudkan semua keinginan)‎

‎“Tanpa kesendirian yang luar biasa tidak ada pekerjaan serius yang mungkin dilakukan.” (Pablo ‎Picasso)‎

‎“Tidak ada yang menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri. Tidak ada yang bisa, dan tidak ada ‎yang mungkin bisa. Kita sendiri harus menempuh jalan itu.” (Budha Gautama)‎

‎“Aku butuh sakitnya kesepian untuk membuat imajinasiku berhasil.” (Orhan Pamuk)‎
‎“Jiwa yang melihat keindahan terkadang bisa berjalan sendiri.” (Goethe)‎

From Solitude to Spiritual Awareness (Dari kesendirian yang positif menuju kesadaran spritual)‎

‎“Orang yang takut sendirian, pasti akan kesepian, tidak peduli seberapa banyak orang di ‎sekelilingnya. Namun orang yang belajar dalam kesendiriannya, untuk berdamai dengan ‎kesepiannya, dan lebih memilih kenyataan daripada ilusi persahabatan, akan menyadari ‎kehadiran Tuhan yang tak terlihat.” (Thomas Merton, No Man is an Island)‎

Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah, ketika mengalami kesepian beliau melakukan tahannus ‎‎(menyendiri).‎

‎“Perjalanan ke dalam diri adalah perjalanan menuju kesendirian absolut, engkau tidak dapat ‎mengajak orang lain ke sana bersamamu.” (Osho, Just The Tip of Iceberg)‎

‎“Kita harus menjadi sendiri, begitu sendirian, lalu kita menarik diri ke dalam diri yang terdalam. ‎Ini memang jalan penderitaan yang pahit. Tetapi kemudian kesendirian kita akan teratasi, kita ‎tidak lagi merasa kesepian, karena kita menemukan bahwa dalam diri kita yang terdalam ada ‎jiwa, yang ilahiyah, yang tak terpisahkan. Lalu kita menemukan diri kita berada di tengah-tengah ‎dunia, namun tidak terganggu oleh keserbaragamannya, karena jjiwa kita yang paling dalam itu ‎membuat kita tahu bahwa diri kita adalah menjadi satu dengan semua makhluk.” (Hermann ‎Hesse)‎

Diawali dari sendiri, sendiri yang tidak kesepian. Dilanjutkan dengan perjalanan ke dalam diri, ‎dipuncaki dengan kesadaran ilahiyah, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak merasa ‎ada bedanya dengan semua makhluk dan tidak tergoda oleh warna-warni duniawi. Kongkritnya ‎adalah uzlah.‎


Spritual Solitude (uzlah), terdapat dua istilah yang dekat dengan uzlah dalam dunia tasawuf yaitu ‎khalawat dan zuhud: Uzlah menjauhkan diri dari keramaian. Zuhud adalah kondisi jiwa yang tidak ‎tergoda dengan hal-hal yang duniawi. Khalawat memisahkan diri dari keramaian berdua dengan ‎yang dicintai (Allah).‎

Ayat yang menyarankan kita untuk memperhatikan diri sendiri ditemukan dalam Qu’an yaitu QS. ‎Al-Maidah/5: 105. Allah menyarankan, “Orang-orang yang sesat tidak akan ada yang mampu menggoda, membahayakan, ‎kalau kalian sudah mendapatkan hidayah/petunjuk Tuhan. Jangan lupa ‎bahwa kepada Allah-lah kamu akan kembali.‎

KEUTAMAAN UZLAH (Solitude)‎

Uzlah melatih jiwa kita untuk menjadi kuat. ‎

‎1.‎ Mendapat banyak kesempatan untuk beribadah dan bertafakkur atas Kemahasucian-Nya
‎2.‎ Terlepas dari dosa yang dilakukan karena hidup dalam masyarakat: 1) Ghibah, 2) Tidak ‎melakukan amar ma`ruf nahi munkar, 3) Riya’, 4) Perilaku buruk seperti: mengumpat, ‎memfitnah.‎
‎3.‎ Membebaskan diri dari pertengkaran dan perselisihan serta menyelamatkan diri dari ‎percakapan yang tidak berguna dan sia-sia.‎
‎4.‎ Menyelamatkan diri dari gangguan atau cercaan orang lain.‎
‎5.‎ Putusnya harapan orang banyak atas kita dan harapan kita atas orang banyak, karena ‎mustahil mendapatkan kerelaan orang banyak dan memuaskan semua keinginan mereka.‎
‎6.‎ Jika orang yang bodoh, maka orang lain aman dari kebodohan dan keburukan karena ‎ketidaktahuannya.‎

Kesendirian itu indah dan memberikan banyak manfaat. Rasulullah menyarankan untuk uzlah ‎ketika kondisi masyarakat yang negatif. Rasulullah bersabda: “Apabila engkau menyaksikan ‎manusia yang mengingkari janji dan amanah yang dipercayakan kepada mereka, dan apabila ‎mereka kemudian menjadi begini (beliau memasukkan jari-jari satu tangan ke dalam jari tangan ‎lainnya) maka mereka akan sibuk dengan pertengkaran dan perselisihan”. Seseorang kemudian ‎bertanya: “Lalu apa yang harus kami lakukan, Ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Tetaplah kalian ‎berada di rumah kalian, jaga lidahmu baik-baik dan ambil apa yang kalian ketahui dan tinggalkan ‎apa yang tidak ketahui. Karena itu tetaplah sibuk dengan urusan kalian sendiri dan tinggalkanlah ‎urusan orang banyak.” (Ihya’)‎

Sebagian atsar sahabat juga menginspirasi untuk uzlah:‎

Umar bin Khaththab r.a.: “Kesendirian lebih baik daripada punya sahabat yang buruk ‎perilakunya.”‎
Ibnu al-Samad berkata: “Manusia adalah ibarat obat yang dengannya mereka menyembuhkan ‎penyakit. Namun manusia masa kini telah berubah menjadi penyakit yang tidak lagi ada penawar ‎baginya. Karena itu larilah dari manusia banyak sebagaimana kalian lari dari Singa.”‎

Menciptakan kesendirian untuk diri/hidup kita pada kondisi yang memungkinkan dan kondosi ‎yang pas justru itu sesuatu yang dianjurkan, mulia, dan hal yang utama.‎

Great eagles fly Alone, Great lions Hunt alone, Great souls walk alone, alone with God. (Leonard ‎Ravenhill)‎

‎“Burung elang yang hebat itu terbang sendiri, singa yang hebat itu berburu sendirian, jiwa yang ‎hebat berjalan sendirian, sendirian bersama Tuhan.” (Leonard Ravenhill)‎

Kesendirian itu hebat kalau rumus dan dosisnya tepat, tetapi kalau meleset maka akan ‎membuahkan kesepian, tekanan stres. Oleh karena itu, pintar-pintarlah mencari formula yang ‎tepat untuk meletakkan kapan diri untuk sendiri dan kapan mesti berbaur.‎

DR. Fahruddin Faiz - https://youtu.be/VfevZyttGH4‎

Ngaji Filsafat : Kesendirian ‎
Ngaji Filsafat 389 Edisi : Falsafah Hidup (Lagi) ‎
Bersama Dr. Fahruddin Faiz, M. Ag ‎
Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta Rabu, 07 Juni 2023

Sabtu, 03 Juni 2023

MUNCULNYA BID'AH DAN MEMAHAMINYA


MUNCULNYA BID'AH DAN MEMAHAMINYA

Oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Bid'ah, sesuatu yang dipertentangkan di kalangan umat setelah masa hidupnya Rasulullah ﷺ terkait dengan hal-hal yang baru yang bertentangan dengan al-Qur'an,  as-Sunnah, dan penjelasan para shahabat yang mendapat petunjuk atau berpikiran sehat. Sebaliknya, jika hal-hal yang baru itu tidak bertentangan dengan kandungan dari sumber-sumber terdahulu maka hal tersebut bukan termasuk dalam lingkup dimaksud. Oleh karenanya, diantara bid'ah tersebut dimaksudkan kepada perubahan dan penambahan syari`at yang diajarkan dalam ajaran Islam. Seperti memasukkan ajaran baru, dengan menyatakan itu ajaran Islam tanpa ada penjelasan secara jelas dari nash. Begitu juga, jika terjadi perbedaan yang tidak bisa dicarikan solusinya oleh para ulama mesti dikembalikan kepada nash Al-Qur'an dan as-Sunnah. Selanjutnya, terkait dengan masalah muamalah tentu sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap muamalah itu boleh sampai ditemukan atau ada Nash yang melarang. Nah, bid'ah dikatakan sesat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Majusi di masa lalu. Dimana peribadatan dilakukan kepada selain Allah. Hal ini terbukti, setelah Nabi Muhammad wafat bermunculan nabi-nabi palsu yang membawa ajaran baru ke dalam Islam yang murni bertauhid meng-esa-kan Allah. 

Cermati dengan seksama riwayat-riwayat di bawah ini:

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ لَهَا الْأَعْيُنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ قُلْنَا أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. (رواه أحمد: ١٦٥٢١)

Telah menceritakan kepada kami Adh-Dhahak bin Mukhlad dari Tsaur dari Khalid bin Ma'dan dari Abdurrahman bin 'Amr As-Sulami dari Al 'Irbadh bin Sariyah berkata, Rasulullah ﷺ salat fajar (subuh) bersama kami, lalu beliau menghadap kepada kami dan memberi nasihat kepada kami dengan nasihat mendalam, yang menyebabkan air mata bercucuran dan hati tergetar. Kami bertanya atau mereka berkata, "Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, maka wasiatkanlah kepada kami." Beliau bersabda, "Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taat walau kepada budak dari Habasyah (yang hitam). Sungguh siapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak. Berpeganglah dengan sunahku dan sunah Khulafa' Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah oleh kalian dengan gigi geraham. Hindarilah oleh kalian hal-hal yang baru, sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat. (HR. Ahmad: 16521 - shahih dari Irbadh bin Syariyah, ia shahabat kuniyahnya Abu Najih negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 3991(hadits `aziz dipertengahan sanad yaitu diriwayatkan dari Irbadh bin Sariyah oleh dua orang tabi'in yaitu `Abdur Rahman bin `Amru bin `Abasah dan Hujr bin Hujr keduanya dari Syam), Ad-Darimi: 95 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Irbadh bin Sariyah, ia shahabat kuniyahnya Abu Najih negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H.

Kemudian terkait juga dengan riwayat imam Abu Daud terdapat beberapa penjelasan dari imam At-Tirmidzi dalam riwayat beliau. Sebagaimana mana terdapat dalam kitab sunannya. Ia berkata:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ .

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَى ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا.

حَدَّثَنَا بِذَلِكَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ.

وَالْعِرْبَاضُ بْنُ سَارِيَةَ يُكْنَى أَبَا نَجِيحٍ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ حُجْرِ بْنِ حُجْرٍ عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ. (رواه الترمذي: ٢٦٠٠)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin al Walid dari Bahir bin Sa'd dari Khalid bin Ma'dan dari Abdurrahman bin Amru as Sulami dari al 'Irbadh bin Sariyah dia berkata, suatu hari Rasulullah ﷺ memberi wejangan kepada kami setelah salat Subuh wejangan yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata, 'seakan-akan ini merupakan wejangan perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah?' Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barang siapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham."

Abu Isa berkata, hadits ini adalah hadits hasan shahih, Tsaur bin Yazid, telah meriwayatkannya dari Khalid bin Ma'dan dari Abdurrahman bin 'Amru as sulami dari Al 'Irbadh bin Sariyah dari Nabi ﷺ, seperti hadits di atas.

Dan telah menceritakan kepada kami seperti itu Al Hasan bin Ali al Khallal dan tidak tidak hanya satu orang saja, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Ma'dan dari Abdurrahman bin 'Amru as sulami dari Al 'Irbadh bin Sariyah dari Nabi ﷺ, seperti hadits di atas.

Dan Al 'Irbadh bin Sariyah mempunyai kunyah Abu Najih. Dan telah diriwayatkan hadits ini dari Hujr bin Hujr dari 'Irbadh bin Sariyah dari Nabi ﷺ seperti hadits di atas. (HR. At-Tirmidzi: 2600 - shahih dari Irbadh bin Sariyah, ia shahabat kuniyahnya Abu Najih negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H)

Selanjutnya diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah tanpa menyebutkan "setelah shalat subuh". Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَشِيرِ بْنِ ذَكْوَانَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي الْمُطَاعِ قَالَ سَمِعْتُ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ يَقُولُ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَعَظْتَنَا مَوْعِظَةَ مُوَدِّعٍ فَاعْهَدْ إِلَيْنَا بِعَهْدٍ فَقَالَ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. (رواه إبن ماجه: ٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al 'Ala` berkata, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abi Al Mutha' ia berkata, aku mendengar 'Irbadl bin Sariyah berkata, "Pada suatu hari Rasulullah ﷺ berdiri di tengah-tengah kami. Beliau memberi nasihat yang sangat menyentuh, membuat hati menjadi gemetar, dan airmata berlinangan. Lalu dikatakan, "Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan nasihat kepada kami satu nasihat perpisahan, maka berilah kami satu wasiyat." Beliau bersabda, "Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski kepada seorang budak Habasyi. Dan sepeninggalku nanti, kalian akan melihat perselisihan yang sangat dahsyat, maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham, dan jangan sampai kalian mengikuti perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya semua bid'ah itu adalah sesat." (HR. Ibnu Majah: 42 - shahih dari Irbadh bin Sariyah, ia shahabat kuniyahnya Abu Najih negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H. Hadits ahlul Syam)

Diceritakan oleh imam Ahmad

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَعْدَانَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو السُّلَمِيُّ وَحُجْرُ بْنُ حُجْرٍ قَالَا أَتَيْنَا الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ وَهُوَ مِمَّنْ نَزَلَ فِيهِ { وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ } فَسَلَّمْنَا وَقُلْنَا أَتَيْنَاكَ زَائِرِينَ وَعَائِدِينَ وَمُقْتَبِسِينَ فَقَالَ عِرْبَاضٌ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ فَتَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنِ ابْنِ أَبِي بِلَالٍ عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَظَهُمْ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَذَكَرَهُ.

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ هِشَامٍ الدَّسْتُوَائِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ أَبِي بِلَالٍ عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَظَهُمْ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَذَكَرَهُ. (رواه أحمد: ١٦٥٢٢)

Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yazid, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Ma'dan berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin 'Amr As-Sulami dan Hujr bin Hujr berkata, kami mendatangi Al 'Irbadl bin Sariyah dia adalah termasuk orang yang menyebabkan turunnya ayat, 'Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu " Lalu kami mengucapkan salam dan kami katakan, "Kami mendatangi Anda, dalam rangka mengunjungi, kembali dan mencari ilmu. lalu 'Irbadl berkata, "Rasulullah ﷺ salat Subuh bersama kami pada suatu hari, lalu beliau menemui kami dan memberi nasihat yang sangat mengena, yang menyebabkan mata bercucuran dan hati menjadi tergetar. Lalu ada seseorang yang bertanya, "Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, maka apa yang Anda wasiatkan kepada kami." Beliau bersabda, "Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walau kepada budak dari Habasyah. Sungguh siapa yang hidup di antara kalian setelahku akan melihat perselisihan yang banyak. Berpeganglah dengan sunahku dan sunnah Khulafa' Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah dengan gigi geraham. Hindarilah kalian hAl hal yang baru, sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah ada sesat.

Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepadaku Bahir bin Sa'ad dari Khalid bin Ma'dan dari Ibnu Abu Bilal dari Al 'Irbadh bin Sariyah, ia menceritakan kepada mereka sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah memberi nasihat kepada mereka pada suatu hari setelah salat Subuh, lalu dia sebutkan.

Telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Hisyam Ad-Dustuwa'i dari Yahya bin Abu Katsir dari Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits dari Khalid bin Ma'dan dari Abu Bilal dari Al 'Irbadh bin Sariyah, dia menceritakan kepada mereka sesungguhnya Rasulullah ﷺ memberi nasihat kepada mereka pada suatu hari setelah salat Subuh, lalu dia menyebutkanya secara lengkap. (HR. Ahmad: 16522 - shahih dari Irbadh bin Sariyah, ia shahabat kuniyahnya Abu Najih negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H. Hadits ini masyhur dikalangan tabi'in karena diriwayatkan dari seorang shahabat yaitu Irbadh bin Sariyah oleh lebih dari tiga orang tabi'in yaitu `Abdurrahman bin `Amru, Hujr bin Hujr, Ibn Abu Bilal, dan Abu Bilal)

Sebagai contoh pernyataan

أَخْبَرَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ مَا ابْتَدَعَ رَجُلٌ بِدْعَةً إِلَّا اسْتَحَلَّ السَّيْف. (رواه الدارمي: ٩٩)

Telah mengabarkan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Kilabah ia berkata, "Tidaklah seorang berbuat bid'ah kecuali ia menghalalkan pedang ditebaskan". (HR. Ad-Darimi: 99 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin Zaid bin `Amru bin Nabil, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Qilabah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 104 H. Hadits mauquf dari Ahlul Bashrah)

Adapun contoh yang bertentangan dengan hadits yang shahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ حَمَّادٍ عَنْ بِشْرِ بْنِ حَرْبٍ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ إِنَّ رَفْعَكُمْ أَيْدِيَكُمْ بِدْعَةٌ مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا يَعْنِي إِلَى الصَّدْرِ. (رواه أحمد: ٥٠١٣)

Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Hammad dari Bisyr bin Harb, Aku mendengar Ibnu Umar berkata, "Sesungguhnya mengangkat tangannya kalian adalah termasuk bid'ah, karena Rasulullah ﷺ tidak melebihi dari ini, yakni sebatas dada." (HR. Ahmad: 5013 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari `Abdullah bin `Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Catatan: dapam riwayat imam Ahmad: 5013 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits. Ia adalah Bisyir bin Harbi, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu `Amru dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Zur'ah, An-Nasa'i, adz-Dzahabi menilainya dha'if. Ahmad bin Hambal dan Al Hakim menilainya laisa bi qawi, dan Abu Daud menilainya laisa bi syai'. Sedangkan al-'Ajli menilainya dha'iful hadits. Terkait dengan matan hadits dalam hadits yang shahih dijelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat tangan ketika takbir tidak hanya sebatas dada saja sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas. Seperti diriwayatkan imam Muslim: 608 dari Wail bin Hajar bin Sa'ad bahwa beliau melihat Nabi ﷺ,

" ... أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ ...".

"Bahwasanya dia melihat Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika masuk salat, bertakbir." Hammam menggambarkannya, "Di hadapan kedua telinganya ... ". (HR. Muslim: 608 - shahih dari Wail bin Hajar bin Sa'ad)

Dengan demikian hadits riwayat imam Ahmad: 5013 adalah dha'if sanad dan matan-nya.

Terakhir, imam Ad-Darimi meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ حَسَّانَ قَالَ مَا ابْتَدَعَ قَوْمٌ بِدْعَةً فِي دِينِهِمْ إِلَّا نَزَعَ اللَّهُ مِنْ سُنَّتِهِمْ مِثْلَهَا ثُمَّ لَا يُعِيدُهَا إِلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (رواه الدارمي: ٩٨)

Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mughirah, telah menceritakan kepada kami Al `Auza'i dari Hassan ia berkata, "Tidaklah suatu kaum membuat satu bid'ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhaanallahu wa Ta'ala akan mencabut dari sunnah mereka seperti bagian bid'ah (yang mereka perbuat) kemudian Dia tidak mengembalikan lagi sunnah tersebut sampai hari kiamat". (HR. Ad-Darimi: 98 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Hasan bin `Athiyah, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Bakar dan negeri hidup Syam. Hadits ahlul Syam dan bukan hadits tsulatsiyat yang dimaksud dalam ilmu hadits karena tidak dari seorang shahabat)