Pages - Menu

Senin, 30 Januari 2023

NASAKHNYA HADITS TENTANG KURBAN DI BULAN RAJAB (`ATIIRAH/RAJABIYAH)


NASAKHNYA HADITS TENTANG KURBAN DI BULAN RAJAB (`ATIIRAH/RAJABIYAH)

(Penjelasan Mukharrij)
Oleh: Samsurizal, MA.,C.I.P

Qurban adalah salah satu bentuk ibadah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan-Nya. Namun, pelaksanaannya dilakukan pada waktu tertentu. Hal ini juga menunjukkan bentuk kepatuhan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagai contoh bentuk qurban yang diperintahkan oleh Allah adalah pada waktu hari-hari tasyrik saat hari raya `Idul Adha (hari raya kurban).

Sedangkan pada bulan Rajab, pernah juga diperintahkan untuk ber-qurban bagi setiap keluarga bahkan setiap orang dalam keluarga. Namun, perintah tersebut di-nasakh atau dihapuskan hukumnya, setelah adanya perintah qurban di hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ. (قرآن سورة الحج/٢٢: ٣٤)

Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). (QS. Al-Ḥajj/22: 34)

Demikian juga firman Allah dalam Al-Qur'an surat al-Hajj ayat 35 sampai ayat 38 terkait dengan hewan qurban ini.

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا مُوسَى يَعْنِي ابْنَ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ هُنَّ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهُنَّ أَيَّامُ أَكَلٍ وَشُرْبٍ. (رواه أحمد: ١٦٧٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Musa -yakni Ibnu Ali- dari Bapaknya dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya hari Nahr (Iduladha), hari Arafah dan hari-hari tasyrik, adalah hari raya kami kaum muslimin. Dan hari-hari itu adalah hari makan dan minum." (HR. Ahmad: 16743 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Uqbah bin `Amir bin `Abbas, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 54 H)

Hadits-hadits terkait dengan masalah ini cukup banyak, seperti HR. Ahmad: 945 - hasan lighairihi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari `Ali bin Abi Thalib. Ibnu Majah: 1709 dari Abu Hurairah. Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه أحمد: ١٩٧٩٧)

Telah menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Khalid, dari Abu al-Malih, dari Nubaisyah al-Hudzali, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Hari-hari Tasyrik (tanggal sebelas, dua belas dan tiga belas bulan Zulhijah) adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah ﷻ." (HR. Ahmad: 19797 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Nubaisyah bin `Abdullah bin `Amru, ia shahabat)

Kemudian hadits-hadits terkait dengan kewajiban ber-qurban pada sepuluh awal bulan Rajab, berikut penulis paparkan di bawah ini:

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا أَبُو رَمْلَةَ عَنْ مِخْنَفِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ كُنَّا وُقُوفًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ وَعَتِيرَةٌ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَلَا نَعْرِفُ هَذَا الْحَدِيثَ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَوْنٍ. (رواه الترمذي: ١٤٣٨)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' berkata, telah menceritakan kepada kami Rauh bin Ubadah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ramlah dari Mikhnaf bin Sulaim ia berkata, "Kami bersama Nabi ﷺ wukuf di Arafah, lalu aku mendengar beliau bersabda, "Wahai manusia, setiap pemilik rumah wajib memberikan hewan kurban dan Atirah pada setiap tahunnya. Tahukah kalian apa itu Atirah? Kalian biasa menamainya dengan rajabiyah (hewan yang dipotong untuk memuliakan bulan Rajab)."

Abu Isa berkata, "Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini, yaitu dari hadits Ibnu Aun." (HR. At-Tirmidzi: 1438 - shahih dari Mikhnaf bin Sulaim bin al-Harits, ia shahabat negeri hidup Kufah dan wafat tahun 64 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ibnu Majah: 3116 - hasan dari Mikhnaf bin Sulaim bin al-Harits, ia shahabat negeri hidup Kufah dan wafat tahun 64 H. Sedangkan dalam riwayat imam an-Nasa'i: 4152 terdapat penambahan kalimat, " ... Mu'adz berkata, Ibnu 'Aun pernah menyembelih pada bulan Rajab dan saya melihat dengan kedua mataku", hadits hasan dari Mikhnaf bin Sulaim. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits semakna yaitu hadits ke-17216. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنِ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ أَبِي رَمْلَةَ قَالَ حَدَّثَنَاهُ مِخْنَفُ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ وَنَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ أَوْ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحَاةً وَعَتِيرَةً قَالَ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ قَالَ ابْنُ عَوْنٍ فَلَا أَدْرِي مَا رَدُّوا قَالَ هَذِهِ الَّتِي يَقُولُ النَّاسُ الرَّجَبِيَّةُ. (رواه أحمد: ١٧٢١٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Adi dari Ibnu Aun dari Abu Ramlah ia berkata, telah menceritakannya kepada kami Mikhnaf bin Sulaim ia berkata, "Kami bersama Nabi ﷺ saat beliau melakukan wukuf di Arafah. Kemudian beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya atas setiap keluarga, atau atas setiap anggota keluarga wajib memberikan Adlaah (memotong kurban) dan 'Atiirah setiap tahunnya." Mikhnaf bin Sulaim berkata, "Tahukah kalian apa itu 'Atirah?" Ibnu 'Aun berkata, "Aku tidak tahu apa jawaban mereka waktu itu." Mikhnaf bin sulaim berkata, "(Atirah) Orang-orang mengatakan bahwa itu adalah binatang yang disembelih di bulan Rajab.'" (HR. Ahmad: 17216 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Mikhnaf bin Sulaim bin al-Harits, ia shahabat negeri hidup Kufah dan wafat tahun 64 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 19895 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Mikhnaf bin Sulaim bin al-Harits, ia shahabat negeri hidup Kufah dan wafat tahun 64 H. Kedua hadits riwayat imam Ahmad di atas terdapat periwayat yang bernama tidak dikenal yang menerima dari Mikhnaf yaitu `Amir, ia tabi'in kalangan pertengahan dan kuniyahnya Abu Ramlah.

Kemudian terkait dengan hadits-hadits di atas, imam Abu Daud memberikan penjelasan dalam riwayatnya. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ ح و حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا بِشْرٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَوْنٍ عَنْ عَامِرٍ أَبِي رَمْلَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مِخْنَفُ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ وَنَحْنُ وُقُوفٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً أَتَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ هَذِهِ الَّتِي يَقُولُ النَّاسُ الرَّجَبِيَّةُ. 

قَالَ أَبُو دَاوُد الْعَتِيرَةُ مَنْسُوخَةٌ هَذَا خَبَرٌ مَنْسُوخٌ. (رواه أبوداود: ٢٤٠٦)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yazid, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas'adah, telah menceritakan kepada kami Bisyr dari Abdullah bin 'Aun dari 'Amir Abu Ramlah, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Mikhnaf bin Sulaim, ketika kami sedang berwukuf bersama Rasulullah ﷺ di 'Arafah beliau berkata, "Wahai umat manusia, sesungguhnya kewajiban setiap penghuni rumah pada setiap tahun untuk menyembelih kurban serta 'atirah, tahukah kalian apakah 'atirah? Yaitu yang orang-orang menyebutnya rajabiyyah (menyembelih hewan pada sepuluh hari pertama)."

Abu Daud berkata, "'atirah telah dihapuskan dan hadits ini adalah hadits yang telah terhapus". (HR. Abu Daud: 2406 - hasan dari Mikhnaf bin Sulaim bin al-Harits, ia shahabat negeri hidup Kufah dan wafat tahun 64 H)

Sedangkan kalimat, " ... `Atirah, Orang-orang mengatakan bahwa itu adalah binatang yang disembelih di bulan Rajab" adalah perkataan Mikhnaf bin Sulaim sendiri. Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa hadits dimaksud adalah hadits mudraj atau terdapat tambahan dari periwayat. Sedangkan terkait dengan hukum, maka hadits tersebut menurut imam Abu Daud, "hadits tersebut sudah nasakh (terhapus) hukumnya". Oleh karena itu, secara otomatis perintah untuk ber-qurban pada sepuluh awal bulan Rajab sudah tidak dilakukan lagi. Wallaahu a'lam bish shawaab.

Minggu, 29 Januari 2023

KARAMAH ITU ANUGERAH YANG MESTI DISYUKURI


KARAMAH ITU ANUGERAH YANG MESTI DISYUKURI

Karamah, secara bahasa bearti kemuliaan.

Bahkan Ifrid terkalahkan oleh seorang ahli hikmah, sedangkan secara istilah bermakna: a) dalam muamalah bermakna orang yang mulia dan dermawan, b) dalam tasawuf bermakna kelebihan luar biasa yang Allah anugerahkan kepada orang yang shalih.

Menurut Thahir bin Shalih al-Jazairi, "perkara luar bisa yang tampak pada seorang wali" (dalam Jawahirul kalamiyah). Sedangkan Ibrahim al-Bajuri berpendapat bahwa, "karamah dipahami sesuatu luar biasa yang tampak dari seorang hamba yang telah jelas kebaikannya yang ditetap karena adanya ketekunan dalam mengikuti syari'at Nabi dan mempunyai i'tiqat yang benar" (dalam tuhfatul murid).

Hakekat Karamah menurut Hakim at-Tirmidzi adalah memuliakan, ketetapan Allah bagi seorang yang dikehendaki-Nya, penegasan ke-wali-an, dan tanda ke-wali-an pada tingkat realitas.

Menyikapi Karamah ini, bagi sebagian orang ada yang menganggap negatif yaitu berlebihan (ifrath) seperti ada kejadian luar biasa pada seseorang selalu dikaitkan bahwa ia mendapat karamah, ada juga yang menolak atau tidak mengakui (tafrid),  dan yang positif adalah menganggap positif yaitu bahwa Karamah adalah hikmah, memahami Karamah dengan memercayai adanya qadha dan qadar Allah berlaku kepada hamba-Nya dan itu termasuk sunnatullah.

Karamah terbagi dua: pertama, Karamah hissiyyah yaitu yang dapat disaksikan oleh orang awam. Seperti kemampuan berjalan di atas air, dikabulkan dia dalam waktu dekat, dan lain-lain. Kedua, Karamah maknawiyah yaitu Karamah yang tidak dimengerti oleh orang-orang awam. Ia hanya dipahami dan dirasakan oleh orang-orang khusus saja. Seperti keistiqamahan menjalankan adab-adab syari'at, akhlak terpuji, bersegera dalam kebaikan, dan lain-lain.

Ibnu Atha'illah al-Sakandari berkata, "terkadang Karamah (keistimewaan) itu dianugerahkan kepada orang yang belum sempurna ke-istiqamah-annya".

KARAMAH YANG DIANUGERAHKAN KEPADA ORANG SHALIH

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَالَ عِفْرِيْتٌ مِّنَ الْجِنِّ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَّقَامِكَۚ وَاِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ. (قرآن سورة النمل/٢٧: ٣٩)

Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu (Nabi Sulaiman) sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml/27: 39)

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ  لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ. (قرآن سورة النمل/٢٧: ٤٠)

Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci (Taurat dan Zabur) berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml/27: 40)

Rabu, 25 Januari 2023

KETIKA RASULULLAH TIDAK MAMPU DAN PERHATIAN PARA SHAHABAT

KETIKA RASULULLAH TIDAK MAMPU DAN PERHATIAN PARA SHAHABAT

(Sababun Nuzul QS. Al-Ahzab/33: 28)
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

IMAM AHMAD meriwayatkan,

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ أَزْوَاجَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْنَهُ النَّفَقَةَ فَلَمْ يُوَافِقْ عِنْدَهُ شَيْءٌ حَتَّى أَحْجَزْنَهُ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَاسْتَأْذَنَ عَلَيْهِ فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ ثُمَّ أَتَاهُ عُمَرُ فَاسْتَأْذَنَ عَلَيْهِ فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ ثُمَّ اسْتَأْذَنَا بَعْدَ ذَلِكَ فَأُذِنَ لَهُمَا وَوَجَدَاهُ بَيْنَهُنَّ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَةَ زَيْدٍ سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ فَوَجَأْتُهَا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ وَأَرَادَ بِذَلِكَ أَنْ يُضْحِكَهُ فَضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ وَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا حَبَسَنِي غَيْرُ ذَلِكَ فَقَامَا إِلَى ابْنَتَيْهِمَا فَأَخَذَا بِأَيْدِيهِمَا فَقَالَا أَتَسْأَلَانِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ فَنَهَاهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُمَا فَقَالَا لَا نَعُدْ فَعِنْدَ ذَلِكَ نَزَلَ التَّخْيِيرُ. (رواه أحمد: ١٤١٦٥)

Telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Abu Az Zubair, telah mendengar Jabir bin Abdullah berkata, istri-istri Rasulullah ﷺ meminta nafaqah kepada beliau, namun ternyata beliau sedang tidak memiliki sesuatupun, sampai mereka menahan beliau. Lalu datanglah Abu Bakar dan meminta izin namun tidak diizinkan. Lalu datanglah 'Umar dan meminta izin namun juga tidak diberi izin. Lalu keduanya meminta izin, lalu diizinkan. Mereka mendapati (Rasulullah ﷺ) berada di antara mereka (para istri radhiallahu'anhum). 'Umar berkata kepada beliau, Wahai Rasulullah, Sesungguhnya anak perempuan Zaid telah meminta kepadaku nafaqah lalu saya tusuk atau semisalnya. Dan (hal itu dilakukan karena) hendak menghibur beliau. Sehingga (Rasulullah ﷺ) tertawa sampai terlihat gigi gerahamnya. Beliau bersabda, "Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang menghalangiku kecuali hal itu" lalu keduanya berdiri kepada anak perempuan mereka dan memegang tangan anaknya. Keduanya berkata, apakah kau meminta Rasulullah ﷺ apa yang tidak beliau miliki, lalu Rasulullah ﷺ melarangnya dan mereka berdua berkata, kami tidak akan mengulanginya lalu turunlah ayat takhyir (ayat dalam surah Al-Ahzab yang isinya memberi tawaran kepada para istri untuk memilih antara tetap bersama Nabi ﷺ dengan rejeki yang terbatas ataupun thalaq). (HR. Ahmad: 14165 - shahih, isnadnya dha`if menurut Syu`aib al-Arna'ud dari Jabir bin `Abdullah bin `Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Ayat yang dimaksud dalam riwayat di atas adalah QS. Al-Ahzab/33 ayat 28. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ اِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا فَتَعَالَيْنَ اُمَتِّعْكُنَّ وَاُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيْلًا. (قرآن سورة ألأحظاب/٣٣: ٢٨)

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, kemarilah untuk kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. (QS. Al-Ahzab/33: 28)

Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kepada istri-istrinya supaya mereka memilih apa yang mereka kehendaki dari dua hal. Pilihan pertama ialah jika mereka menginginkan kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya, maka Nabi tidak mempunyai yang demikian itu, dan beliau tidak mempunyai sesuatu pun yang akan diberikan untuk memenuhi keinginan itu. Oleh karena itu, Nabi akan mentalak mereka dan beliau memberi mut’ah, sebagaimana yang telah disyariatkan agama. Beliau juga akan menceraikan mereka secara baik-baik pula.

Menurut ketentuan Allah, seorang suami yang menceraikan istrinya memberi mut’ah berupa pakaian, uang, atau perhiasan secara sukarela kepada istri yang diceraikannya, sesuai dengan kemampuannya, orang kaya sesuai dengan kekayaannya dan orang miskin sesuai dengan kemiskinannya. Firman Allah:

وَّمَتِّعُوْهُنَّ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهٗ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهٗ ۚ مَتَاعًا ۢبِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢٣٦)

Dan hendaklah kamu beri mereka mut’ah, bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya, yaitu pemberian dengan cara yang patut, yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Al-Baqarah/2: 236)

Allah juga menetapkan bahwa jika seorang suami mentalak istrinya, maka hendaklah ia melepaskan mereka secara baik-baik dan mentalaknya pada waktu suci sebelum dicampuri, agar mereka dapat melaksanakan idah dalam masa yang pendek. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَاَحْصُوا الْعِدَّةَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ رَبَّكُمْۚ. (قرآن سورة الطلاق/٦٥: ١)

Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. (QS. Aṭ-Ṭalaq/65: 1)

Pada waktu ayat ini turun, Rasulullah mempunyai istri 9 orang, yaitu ‘Aisyah binti Abu Bakar, Hafṣah binti ‘Umar, Ummu Salamah, Ummu Ḥabībah Ramlah binti Sufyān, Saudah binti Zam’ah, Zainab binti Jahsy, Maimūnah binti Harṡ, Ṣafiyyah binti Huyai bin Akhṭāb, dan Juwairiyah binti al-Ḥāriṡ. Dari istri beliau yang sembilan itu, lima orang berasal dari suku Quraisy dan empat orang bukan dari suku Quraisy.
Firman Allah:

عَسٰى رَبُّهٗٓ اِنْ طَلَّقَكُنَّ اَنْ يُّبْدِلَهٗٓ اَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنْكُنَّ مُسْلِمٰتٍ مُّؤْمِنٰتٍ قٰنِتٰتٍ تٰۤىِٕبٰتٍ عٰبِدٰتٍ سٰۤىِٕحٰتٍ ثَيِّبٰتٍ وَّاَبْكَارًا. (قرآن سورة التحريم/٦٦: ٥)

Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.  (QS. At-Taḥrīm/66: 5)

Ayat ini turun disebabkan para istri Rasulullah ﷺ melakukan protes secara serempak, karena cemburu. Sebagaimana diinformasikan oleh imam al-Bukhari,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اجْتَمَعَ نِسَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْغَيْرَةِ عَلَيْهِ فَقُلْتُ لَهُنَّ { عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبَدِّلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ } فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ. (رواه البخاري: ٤٥٣٥)

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Aun, telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Humaid dari Anas ia berkata, Umar radhiallahu'anhu berkata, Para istri-istri Nabi ﷺ berkumpul untuk membuat sesuatu sebagai bentuk rasa kecemburuan mereka terhadap beliau. Maka aku pun berkata pada mereka, "Bila saja Rabb-nya -jika beliau menceraikan kalian- mudah-mudahan Ia menggantikan untuknya istri-istri yang lebih baik dari kalian." Maka turunlah ayat ini. (HR. Al-Bukhari: 4535 - shahih dari `Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)

Ayat Al-Qur'an yang turun disebabkan oleh saran Umar bin al-Khaththab:

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَنْبَأَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَافَقْتُ رَبِّي فِي ثَلَاثٍ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اتَّخَذْنَا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى فَنَزَلَتْ { وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى } وَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ نِسَاءَكَ يَدْخُلُ عَلَيْهِنَّ الْبَرُّ وَالْفَاجِرُ فَلَوْ أَمَرْتَهُنَّ أَنْ يَحْتَجِبْنَ فَنَزَلَتْ آيَةُ الْحِجَابِ وَاجْتَمَعَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاؤُهُ فِي الْغَيْرَةِ فَقُلْتُ لَهُنَّ { عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ } قَالَ فَنَزَلَتْ كَذَلِكَ. (رواه أحمد: ١٥٢)

Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah memberitakan kepada kami Humaid dari Anas dia berkata, Umar berkata, aku telah menepati Rabb-ku dalam tiga hal; aku berkata, "Wahai Rasulullah seandainya kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat salat, " maka turunlah ayat, "Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat" (Q S Al-Baqarah: 125). aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri istrimu didatangi oleh orang-orang baik dan jahat, seandainya Engkau perintahkan kepada mereka supaya memakai hijab." Maka turunlah ayat hijab. Dan terakhir istri-istri Rasulullah serempak bersikap cemburu kepada beliau maka aku katakan kepada mereka, "Jika nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kalian" dia berkata, "Maka turunlah ayat seperti itu (QS. At Tahrim: 5)." (HR. Ahmad: 152 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari `Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi: 2885, Ahmad: 155 dan 242 - shahih dari Umar bin al-Khaththab.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

KEWAJIBAN HAJI


KEWAJIBAN HAJI
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Awal perintah haji adalah pada masa Nabi Ibrahim, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ. (قرآن سورة الحج/٢٢: ٢٧)

(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Ḥajj/22: 27)

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim a.s agar menyeru manusia untuk mengerjakan ibadah haji ke Baitullah dan menyampaikan kepada mereka bahwa ibadah haji itu termasuk ibadah yang diwajibkan bagi kaum Muslimin.
Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Ibrahim a.s yang baru saja selesai membangun Ka’bah. Pendapat ini sesuai dengan ayat ini, terutama jika diperhatikan hubungannya dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Pada ayat-ayat yang lalu disebutkan perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ agar mengingatkan orang-orang musyrik Mekah akan peristiwa waktu Allah memerintah Ibrahim supaya membangun Ka’bah, sedang ayat-ayat ini menyuruh orang-orang musyrik itu mengingat peristiwa ketika Allah memerintahkan Ibrahim menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji.

Pendapat ini sesuai  pula dengan riwayat Ibnu ‘Abbas dari Jubair yang menerangkan, bahwa tatkala Ibrahim a.s selesai membangun Ka’bah, Allah memerintahkan kepadanya, “Serulah manusia untuk mengerjakan ibadah haji.”
Ibrahim a.s menjawab, “Wahai Tuhan, apakah suaraku akan sampai kepada mereka?” Allah berkata, ”Serulah mereka, Aku akan menyampaikannya.” Maka Ibrahim naik ke atas bukit Abi Qubais, lalu mengucapkan dengan suara yang keras, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah benar-benar telah memerintahkan kepadamu sekalian mengunjungi rumah ini, supaya Dia memberikan kepadamu surga dan melindungi kamu dari azab neraka, karena itu tunaikanlah olehmu ibadah haji itu.” Maka suara itu diperkenalkan oleh orang-orang yang berada dalam tulang sulbi laki-laki dan orang-orang yang telah berada dalam rahim perempuan, dengan jawaban, “Labbaika, Allahumma labbaika”. Maka berlakulah “talbiyah” dengan cara yang demikian itu. Talbiyah ialah doa yang diucapkan orang yang sedang mengerjakan ibadah haji atau umrah, doa itu ialah, “Labbaika, Allahumma Labbaika.”

Al-Hasan berpendapat bahwa perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Alasan beliau ialah semua perkataan dan pembicaraan dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, termasuk di dalamnya perintah melaksanakan ibadah haji ini. Perintah ini telah dilaksanakan oleh Rasulullah bersama para sahabat dengan mengerjakan haji wada’ (haji yang penghabisan), sebagaimana tersebut dalam hadis:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللّٰهَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَااَيُّهَا النَّاسُ، اِنَّ اللّٰهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحَجُّوْا. (رواه احمد)

Dari Abi Hurairah, ia berkata, “Rasulullah telah berkhutbah dihadapan kami, beliau berkata, “Wahai sekalian manusia Allah telah mewajibkan atasmu ibadah haji, maka kerjakanlah ibadah haji.” (Riwayat Aḥmad)

Jika diperhatikan, maka sebenarnya kedua pendapat ini tidaklah berlawanan. Karena perintah menunaikan ibadah haji itu ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan umatnya diwaktu beliau selesai membangun Ka’bah. Kemudian setelah Nabi Muhammad ﷺ diutus, maka perintah itu diberikan pula kepadanya, sehingga Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya diwajibkan pula menunaikan ibadah haji itu, bahkan ditetapkan sebagai rukun Islam yang kelima.

Dalam ayat ini terdapat perkataan, “...niscaya mereka akan datang kepadamu...” Dari perkataan ini dipahami, seakan-akan Tuhan mengatakan kepada Ibrahim a.s bahwa jika Ibrahim menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya manusia akan memenuhi panggilannya itu, mereka akan berdatangan dari segenap penjuru dunia walaupun dengan menempuh perjalanan yang sulit dan sukar. Siapapun yang memenuhi panggilan itu, baik waktu itu maupun kemudian hari, maka berarti ia telah datang memenuhi panggilan Allah seperti Ibrahim dahulu telah memenuhi pula. Ibrahim dahulu pernah Allah perintahkan datang ke Mekah yang masih sepi, Ibrahim memenuhinya walaupun perjalanannya sukar, melalui terik panas padang pasir yang terbentang antara Mekah dan Syiria. Perintah itu telah dilaksanakan dengan baik, bahkan Ibrahim bersedia menyembelih anak kandungnya Ismail, semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah, karena itu Allah akan menyediakan pahala yang besar untuk Ibrahim, dan pahala yang seperti itu akan Allah berikan pula kepada siapa yang berkunjung ke Baitullah ini, terutama bagi orang yang sengaja datang ke Mekah ini untuk melaksanakan ibadah haji. Perkataan ini merupakan penghormatan bagi Ibrahim dan menunjukkan betapa besar pahala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang menunaikan ibadah haji semata-mata karena Allah.

Para ulama sependapat bahwa datang ke Baitullah untuk mengerjakan ibadah haji dibolehkan mempergunakan kendaraan dan cara-cara apa saja yang dihalalkan, seperti dengan berjalan kaki, dengan kapal laut atau dengan pesawat terbang atau dengan kendaraan melalui darat dan sebagainya. Tetapi Imam Malik dan Imam Asy-Syafi‘ī berpendapat bahwa pergi menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kendaraan melalui perjalanan darat itu lebih baik dan lebih besar pahalanya, karena cara yang demikian itu mengikuti perbuatan Rasulullah. Dengan cara yang demikian diperlukan perbelanjaan yang banyak, menempuh perjalanan yang sukar serta menambah syi’ar ibadah haji, terutama di waktu melalui negara-negara yang ditempuh selama dalam perjalanan. Sebagian ulama berpendapat bahwa berjalan kaki lebih utama dari berkendaraan, karena dengan berjalan kaki lebih banyak ditemui kesulitan-kesulitan daripada dengan berkendaraan. Dalam masalah ini berkendaraan atau tidak adalah masalah teknis saja. Secara umum Islam tidak menghendaki kesukaran tetapi kemudahan. Islam juga tidak membebani seseorang sesuatu yang dia tidak mampu melakukannya.

Melaksanakan ibadah haji baik dengan kendaraan atau pun dengan berjalan kaki, pasti akan memperoleh pahala yang besar dari Allah, jika ibadah itu semata-mata dilaksanakan karena Allah. Yang dinilai adalah niat dan keikhlasan seseorang serta cara-cara melaksanakannya. Sekalipun sulit perjalanan yang ditempuh, tetapi niat mengerjakan haji itu bukan karena Allah maka ia tidak akan memperoleh sesuatu pun dari Allah, bahkan sebaliknya ia akan diazab dengan azab yang sangat pedih karena niatnya itu.
Jika seseorang telah sampai di Mekah dan melihat Baitullah, disunnahkan mengangkat tangan, sebagaimana tersebut dalam hadis:

رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ تُرْفَعُ اْلاَيْدِي فِى سَبْعِ مَوَاطِنَ افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ وَاسْتِقْبَالِ الْبَيْتِ وَالصَّفَا وَالْمَرْوَةَ وَالْمَوْقِفَيْنِ وَالْجَمَرَتَيْنِ. (رواه أحمد)

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas ra dari Nabi saw, beliau bersabda, “Diangkat kedua tangan pada tujuh tempat, yaitu pada pembukaan salat, waktu menghadap Baitullah, waktu menghadap bukit Safa dan bukit Marwah, waktu menghadap dua tempat (Arafah dan Muzdalifah)  dan waktu melempar dua jamrah.” (Riwayat Aḥmad)

Hadis ini diamalkan oleh Ibnu Umar ra. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ٩٧)

Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam. (QS. Āli ‘Imrān/3: 97)

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْحَجُّ فِي كُلِّ عَامٍ قَالَ لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَوْ وَجَبَتْ لَمْ تَقُومُوا بِهَا وَلَوْ لَمْ تَقُومُوا بِهَا عُذِّبْتُمْ. (رواه إبن ماجه: ٢٨٧٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu 'Ubaidah dari Ayahnya dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, ia berkata, "Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah haji wajib dilaksanakan setiap tahun?' Beliau menjawab, 'Andai aku jawab: 'Ya' niscaya (akan dianggap) wajib (untuk dilaksanakan) setiap tahun, dan andai memang wajib untuk dikerjakan setiap tahun, tentu kalian tidak akan sanggup melaksanakannya. (Dan jika kalian tidak melaksanakannya) maka kalian tentu akan diazab.'" (HR. Ibnu Majah: 2876 - shahih dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Sedangkan imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ أَبُو دَاوُدَ الْوَاسِطِيُّ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ شِهَابٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سِنَانٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُتِبَ عَلَيْكُمْ الْحَجُّ قَالَ فَقَامَ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ أَفِي كُلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ وَلَوْ وَجَبَتْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهَا وَلَمْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْمَلُوا بِهَا الْحَجُّ مَرَّةٌ فَمَنْ زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ. (رواه أحمد: ٢٥١٠)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Katsir Abu Daud Al Wasithi berkata, aku telah mendengar Ibnu Syihab menceritakan dari Abu Sinan dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah kepada kami, beliau bersabda, "Wahai manusia, telah diwajibkan haji atas kalian." Ia Ibnu Abbas berkata, Lalu Al Aqra' bin Habis berdiri dan berkata, "Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?" beliau bersabda, "Seandainya aku katakan (ya), niscaya akan menjadi wajib (setiap tahun), dan bila itu diwajibkan, kalian tidak akan melakukannya dan tidak mampu melaksanakannya. Haji itu hanya sekali, barang siapa yang menambah, maka itu adalah tathawwu' (amalan sunnah)." (HR. Ahmad: 2510 - shahih dari `Abdullah bin `Abbas bin `Abdul Muthalib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-`Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Minggu, 22 Januari 2023

MEMBANGUN KUBURAN (SEBAGAI TANDA) DAN PENJELASAN BI AR-RIWAYAH


MEMBANGUN KUBURAN (SEBAGAI TANDA) DAN PENJELASAN BI AR-RIWAYAH
OLEH: SAMSURIZAL, MA., C.I.P

Bismillaahir rahmaanir rahiem

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Menjelaskan masalah meninggikan atau bahkan membangun kuburan dengan tujuan-tujuan tertentu perlu penjelasan syar`iy agar jelas mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Karena "dasar dari setiap mu'amalah itu adalah boleh, hingga ada dalil atau alasan yang melarangnya". Oleh karena itu, perlu diketahui dan dipahami ilmu dan sumbernya secara menyeluruh sehingga dapat memperkecil kemungkinan terdapat kekeliruan atau bahkan salah paham.

Atas dasar inilah penulis ingin memaparkan beberapa riwayat dan perbandingannya. Harapan penulis dapat dipahami dan dijadikan bahan rujukan. Mari cermati dan pahami riwayat-riwayat berikut ini.

Imam Muslim meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ قَالَ قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ و حَدَّثَنِيهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنِي حَبِيبٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ وَلَا صُورَةً إِلَّا طَمَسْتَهَا. (رواه مسلم: ١٦٠٩)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb -Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami -sementara dua orang yang lain- berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Habib bin Abu Tsabit dari Abu Wa`il dari Abul Hayyaj Al Asadi ia berkata, Ali bin Abu Thalib berkata, "Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah ﷺ telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan patung-patung kecuali kamu hancurkan, dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan yang tinggi kecuali kamu ratakan." Dan telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Khallad Al Bahili, telah menceritakan kepada kami Yahya Al Qaththan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepadaku Habib dengan isnad ini, dan ia mengatakan, "Dan jangan pula kamu tinggalkan gambar kecuali kamu menghapusnya." (HR. Muslim: 1609 - shahih dari `Ali bin Abi Thalib bin `Abdul Muthalib bin Hasyim bin `Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Hadits masyhur)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam an-Nasa'i: 2004, Abu Daud: 2801, Ahmad: 703 (hadits ahlul Kufah), 1012 (hadits `aziz diakhir sanad) - shahih dari `Ali bin Abi Thalib bin `Abdul Muthalib bin Hasyim bin `Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.

Namun imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits semakna dengan menambahkan pendapatnya dan imam Asy-Syafi'iy. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ أَنَّ عَلِيًّا قَالَ لِأَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ وَلَا تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ.

قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَلِيٍّ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ أَنْ يُرْفَعَ الْقَبْرُ فَوْقَ الْأَرْضِ.

قَالَ الشَّافِعِيُّ أَكْرَهُ أَنْ يُرْفَعَ الْقَبْرُ إِلَّا بِقَدْرِ مَا يُعْرَفُ أَنَّهُ قَبْرٌ لِكَيْلَا يُوطَأَ وَلَا يُجْلَسَ عَلَيْهِ. (رواه الترمذي: ٩٧٠)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basy-syar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Habib bin Abi Tsabit dari Abu Wa`il bahwa Ali berkata kepada Abu Al Hayyaj Al Asadi, 'Saya mengutusmu sebagaimana Nabi ﷺ telah mengutusku, janganlah kamu meninggalkan kuburan yang menggunduk kecuali kamu ratakan dan (jika ada) patung-patung kecuali kamu hancurkan.

(Abu Isa At-Tirmidzi) berkata, "Hadits semakna juga diriwayatkan dari Jabir." Abu Isa berkata, "Hadits Ali merupakan hadits hasan, sebagian ulama mengamalkannya. Mereka membenci meninggikan kuburan.

Syafi'i berkata, 'Saya membenci meninggikan kuburan kecuali sekedarnya saja sebagai tanda bahwa itu adalah kuburan, agar tidak dilewati dan diduduki di atasnya.'" (HR. At-Tirmidzi: 970 - shahih dari `Ali bin Abi Thalib bin `Abdul Muthalib bin Hasyim bin `Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ الشَّهِيدِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى قَبْرِ امْرَأَةٍ قَدْ دُفِنَتْ. (رواه أحمد: ١١٨٦٩)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Habib bin Asy Syahid dari Tsabit dari Anas bin Malik berkata, "Rasulullah ﷺ pernah salat di atas kuburan seorang wanita yang telah dikuburkan." (HR. Ahmad: 11869 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Selanjutnya hadits yang menunjukkan bahwa kuburan para shahabat dan para syuhada ditunjuki dengan bekas (tanda) keberadaannya. Sebagaimana diinformasikan dalam riwayat imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْنٍ الْمَدَنِيُّ أَخْبَرَنِي دَاوُدُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ رَبِيعَةَ يَعْنِي ابْنَ الْهُدَيْرِ قَالَ مَا سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا قَطُّ غَيْرَ حَدِيثٍ وَاحِدٍ قَالَ قُلْتُ وَمَا هُوَ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ قُبُورَ الشُّهَدَاءِ حَتَّى إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى حَرَّةِ وَاقِمٍ فَلَمَّا تَدَلَّيْنَا مِنْهَا وَإِذَا قُبُورٌ بِمَحْنِيَّةٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُبُورُ إِخْوَانِنَا هَذِهِ قَالَ قُبُورُ أَصْحَابِنَا فَلَمَّا جِئْنَا قُبُورَ الشُّهَدَاءِ قَالَ هَذِهِ قُبُورُ إِخْوَانِنَا. (رواه أبوداد: ١٧٤٧)

Telah menceritakan kepada kami Hamid bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma'n Al Madini, telah mengabarkan kepadaku Daud bin Khalid dari Rabi'ah bin Abu Abdurrahman dari Rabi'ah bin Al Hudair, ia berkata, aku tidak mendengar Thalhah bin 'Ubaidullah menceritakan hadits dari Rasulullah ﷺ kecuali satu hadits, Rabi'ah bin Hudair berkata, aku katakan; apakah hadits tersebut? Ia berkata, kami pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ, beliau ingin pergi ke kuburan orang-orang yang mati syahid, hingga kami berada di atas tanah bebatuan yang (dikenal dengan nama) Waqim, kemudian tatkala kami telah dekat dari kuburan tersebut ternyata terdapat kuburan di tempat tikungan. Rabi'ah bin Hudair berkata, kami katakan; wahai Rasulullah, apakah ini kuburan saudara-saudara kita? Beliau berkata, "Ini adalah kuburan sahabat-sahabat kita." Kemudian tatkala kami sampai pada kuburan orang-orang yang mati syahid beliau bersabda, "Ini adalah kuburan saudara-saudara kita." (HR. Abu Daud: 1747 - shahih dari Thalha bin `Ubaidillah bin `Utsman, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 36 H. Semua periwayat hidup di Madinah, kecuali Hamid bin Yahya bin Hani', ia tabi`ul atba` kalangan tua kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 242 H, ia adalah guru imam Abu Daud)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 1315 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Thalha bin `Ubaidillah bin `Utsman, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 36 H.

Sebagai alasan kenapa tidak boleh ditinggikan atau dibangun layaknya rumah ibadah adalah sebagai antisipasi perbuatan non muslim dan efek kemusyrikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya riwayat menyatakan hal tersebut. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat imam

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي لَمْ يَقُمْ مِنْهُ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ قَالَ قُلْتُ وَلَوْلَا ذَلِكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خَشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا. (رواه أحمد: ٢٣٧٤٨)

Telah menceritakan kepada kami Affan, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Hilal bin Abi Humaid dari 'Urwah bin Az-Zubair dari `Aisyah berkata, Ketika Rasulullah ﷺ sakit dan tidak bisa bangun, beliau bersabda, "Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, yang mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai masjid." ('Urwah bin Zubair) Berkata, saya berkata, "Kalaulah bukan karena hal itu, maka kuburan nabi akan ditampakkan (tidak dipagar), hanya karena ada kekhawatiran kuburan beliau akan dijadikan sebagai masjid." (HR. Ahmad: 27348 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari `Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu `Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Hadits semakna dengan hadits riwayat imam Ahmad di atas ditemukan dalam ensiklopedi hadis 9 imam sebanyak 34 buah dengan berbagai redaksi dan kasus. Seperti hadits riwayat imam al-Bukhari, beliau meriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا. (رواه البخاري: ٤١٧)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri, telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah bahwa 'Aisyah dan 'Abdullah bin 'Abbas keduanya berkata, "Ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin parah, beliau memegang bajunya dan ditutupkan pada mukanya. Bila telah terasa sesak, beliau lepaskan dari mukanya. Ketika keadaannya seperti itu beliau bersabda, 'Semoga laknat Allah tertimpa kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.' Beliau memberi peringatan (kaum muslimin) atas apa yang mereka lakukan." (HR. Al-Bukhari: 417 - shahih dari `Aisyah dan `Abdullah bin `Abbas)

Hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari 'Aisyah, Ibnu `Abbas, Abu Hurairah, dan terdapat dalam kitab shahih imam al-Bukhari, Muslim, dan Sunan Abu Daud.

Sementara itu perlu diketahui batasan bahwa semua tempat di bumi Allah ini adalah Masjid (boleh jadi tempat ibadah), namun terdapat pengecualian dan perlu dipertimbangkan. Sebagaimana diinformasikan oleh imam ad-Darimi,

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ أَنَا سَأَلْتُهُ عَنْهُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ قِيلَ لِأَبِي مُحَمَّدٍ تُجْزِئُ الصَّلَاةُ فِي الْمَقْبَرَةِ قَالَ إِذَا لَمْ تَكُنْ عَلَى الْقَبْرِ فَنَعَمْ وَقَالَ الْحَدِيثُ أَكْثَرُهُمْ أَرْسَلُوهُ. (رواه الدارمي: ١٣٥٤)

Telah mengabarkan kepada kami Sa'id? bin Manshur, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad -aku bertanya kepadanya tentangnya- ia berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Amru bin Yahya dari Ayahnya dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Seluruh bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi." Abu Muhammad ditanya, "Apakah salat di kuburan sah?" Ia menjawab, "Selama tidak di atas kuburan maka salatnya sah." Dan ia berkata, "Kebanyakan ahli hadits telah memursalkan hadits tersebut." (HR. Ad-Darimi: 1354 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 415 (dua jalur sanad), Ibnu Majah: 737 (dua jalur sanad), Ahmad: 11358 dan 11362 - shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Kemudian terdapat beberapa pendapat yang dikemukakan oleh imam at-Tirmidzi dalam riwayatnya:

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ وَأَبُو عَمَّارٍ الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ الْمَرْوَزِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَجَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَحُذَيْفَةَ وَأَنَسٍ وَأَبِي أُمَامَةَ وَأَبِي ذَرٍّ قَالُوا إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ جُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا.

قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ قَدْ رُوِيَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مُحَمَّدٍ رِوَايَتَيْنِ مِنْهُمْ مَنْ ذَكَرَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يَذْكُرْهُ وَهَذَا حَدِيثٌ فِيهِ اضْطِرَابٌ رَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلٌ وَرَوَاهُ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَكَانَ عَامَّةُ رِوَايَتِهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَأَنَّ رِوَايَةَ الثَّوْرِيِّ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَثْبَتُ وَأَصَحُّ مُرْسَلًا. (رواه الترمذي: ٢٩١)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar dan Abu 'Ammar Al Husain bin Huraits Al Marwazi, keduanya berkata, telah bercerita kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari 'Amru bin Yahya dari Ayahnya dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Bumi ini seluruhnya adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi."

Abu Isa berakta, "Dalam bab ini ada juga hadits dari Ali, Abdullah bin 'Amr, Abu Hurairah, Jabir, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Anas, Abu Umamah dan Abu Dzar. Mereka berkata, "Nabi ﷺ bersabda, "Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan bersuci."

Abu Isa berkata, "Hadits Abu Sa'id ini telah diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Muhammad dengan dua riwayat; Satu riwayat ada yang menyebutkan dari Abu Sa'id dan riwayat yang lainnya tidak disebutkan. Dalam hadits ini ada idhtirab (pertentangan). Sufyan Ats Tsauri meriwayatkan hadits ini dari 'Amru bin Yahya dari ayahnya dari Nabi ﷺ secara mursal, sedangkan Hammad bin Salamah meriwayatkannya dari 'Amru bin Yahya dari ayahnya dari Abu Sa'id dari Nabi ﷺ. Muhammmad bin Ishaq meriwayatkannya dari 'Amru bin Yahya dari ayahnya. Kemudian ia berkata, "Mayoritas riwayatnya dari Abu Sa'id, dari Nabi ﷺ. Namun dalam hadits ini, ia tidak menyebutkan dari Abu Sa'id, dari Nabi ﷺ, seakan-akan riwayat Ats-Tsauri dari 'Amru bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ lebih kuat dan lebih shahih secara mursal." (HR. At-Tirmidzi: 291 - shahih dari Sa`ad bin Malik bin Sinan bin `Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa`id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits masyhur diakhir sanad)

Penulis menyadari bahwa informasi yang telah disuguhkan di atas bukanlah sesuatu yang pasti benar, akan tetapi kemungkinan ada kekeliruan baik penyusunan riwayat maupun pola penjelasannya. Namun, mari kita selalu berharap dan berdoa kepada Allah insya Allaah diberikan hidayah dan inayahnya untuk memahami masalah dimaksud.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Jumat, 20 Januari 2023

IZIN SUAMI UNTUK BERTAMU DAN MENGELUARKAN HARTA SETELAH MENIKAH


IZIN SUAMI UNTUK BERTAMU DAN MENGELUARKAN HARTA SETELAH MENIKAH

IMAM at-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا سُوَيْدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ ذَكْوَانَ عَنْ مَوْلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ أَرْسَلَهُ إِلَى عَلِيٍّ يَسْتَأْذِنُهُ عَلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ فَأُذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْ حَاجَتِهِ سَأَلَ الْمَوْلَى عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا أَوْ نَهَى أَنْ نَدْخُلَ عَلَى النِّسَاءِ بِغَيْرِ إِذْنِ أَزْوَاجِهِنَّ وَفِي الْبَاب عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَجَابِرٍ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٢٧٠٣)

Telah menceritakan kepada kami Suwaid, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Syu`bah dari Al Hakam dari Dzakwan dari Bekas budak `Amru bin Al `Ash bahwa `Amru bin Al `Ash pernah mengutusnya menemui Ali untuk meminta izin menemui Asma` binti Umais, lalu ia memberi izin, setelah menunaikan keperluannya, budak itu bertanya kepada |Amru bin Al `Ash tentang masalah itu, `Amru menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang kami atau melarang kami memasuki kediaman wanita-wanita tanpa izin suami-suami mereka." Dalam hal ini ada hadits serupa dari 'Uqbah bin 'Amir, Abdullah bin `Amru dan Jabir.

Abu Isa berkata, Hadits ini hasan shahih. (HR. At-Tirmidzi: 2703 - shahih dari `Amru bin al-'Ash bin Wa'il bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 43 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 17137 dan 17156 - shahih dari `Amru bin al-'Ash bin Wa'il bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 43 H.

Catatan: Maula `Amru bin al-`Ash adalah bernama 'Abdur Rahman bin Tsabit, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Qais negeri hidup Maru dan wafat tahun 54 H (lihat HR. Ahmad: 17099 - shahih dari `Amru bin al-'Ash bin Wa'il bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 43 H.

Ibnu `Abbas menjelaskan tafsir firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 58. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat imam Abu Daud. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ قَالُوا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ تَرَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ الَّتِي أُمِرْنَا فِيهَا بِمَا أُمِرْنَا وَلَا يَعْمَلُ بِهَا أَحَدٌ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمْ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنْ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ } قَرَأَ الْقَعْنَبِيُّ إِلَى { عَلِيمٌ حَكِيمٌ } قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ إِنَّ اللَّهَ حَلِيمٌ رَحِيمٌ بِالْمُؤْمِنِينَ يُحِبُّ السَّتْرَ وَكَانَ النَّاسُ لَيْسَ لِبُيُوتِهِمْ سُتُورٌ وَلَا حِجَالٌ فَرُبَّمَا دَخَلَ الْخَادِمُ أَوْ الْوَلَدُ أَوْ يَتِيمَةُ الرَّجُلِ وَالرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ فَأَمَرَهُمْ اللَّهُ بِالِاسْتِئْذَانِ فِي تِلْكَ الْعَوْرَاتِ فَجَاءَهُمْ اللَّهُ بِالسُّتُورِ وَالْخَيْرِ فَلَمْ أَرَ أَحَدًا يَعْمَلُ بِذَلِكَ بَعْدُ.

قَالَ أَبُو دَاوُد حَدِيثُ عُبَيْدِ اللَّهِ وَعَطَاءٍ يُفْسِدُ هَذَا الْحَدِيثَ. (رواه أبوداود: ٤٥١٨)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz -yaitu Abdul Aziz bin Muhammad- dari Amru bin Abi Amr dari Ikrimah, Bahwasanya pernah ada beberapa orang dari penduduk Irak berkata, "Wahai Ibnu Abbas, apa pendapatmu tentang ayat ini yang mana Allah perintahkan kami untuk mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, namun tidak seorang pun yang mau mengamalkannya? Yaitu firman Allah: (Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kalian, agar meminta izin kepada kalian pada tiga waktu, yaitu sebelum ditunaikan salat Subuh, saat qailulah (istirahat siang) dan seusai salat Isya.' (Itulah) tiga waktu bagi kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan mereka selain dari tiga waktu tersebut untuk berlalu lalang tanpa izin" Al -Qa'nabi membacanya hingga firman-Nya-:(Dia Mahatahu lagi Mahabijaksana) ' -QS. An-Nur/24: 58- Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyanyangi orang-orang mukmin. Allah suka (sifat) menutupi aib hamba-Nya. Kala itu orang-orang tidak memiliki penutup atau tabir di rumah mereka, sehingga dimungkinkan seorang pembantu, atau anaknya, atau anak yatim perempuan berlalu lalang, sementara ada sang suami yang sedang menggauli istrinya. Maka Allah memerintahkan mereka untuk meminta izin pada waktu-waktu tersebut. Lantas Allah limpahkan kepada mereka kecukupan dan kebaikan, hanya saja aku tidak pernah mendapati seorang pun yang meminta izin setelah itu (setelah mereka jadikan tabir-tabir pada rumah mereka)."

Abu Daud berkata, "Hadis Ubaidullah dan `Atha' merusak hadits ini." (HR. Abu Daud: 4518 - hasanu isnad mauquf menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari `Abdullah bin `Abbas bin `Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-`Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Diceritakan dalam sebuah hadits riwayat imam Ibnu Majah bahwa seorang wanita (Khairah) istri Ka`ab bin Malik ingin menyedekahkan harta miliknya sendiri. Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَحْيَى رَجُلٌ مِنْ وَلَدِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ جَدَّتَهُ خَيْرَةَ امْرَأَةَ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحُلِيٍّ لَهَا فَقَالَتْ إِنِّي تَصَدَّقْتُ بِهَذَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ فِي مَالِهَا إِلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا فَهَلْ اسْتَأْذَنْتِ كَعْبًا قَالَتْ نَعَمْ فَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ زَوْجِهَا فَقَالَ هَلْ أَذِنْتَ لِخَيْرَةَ أَنْ تَتَصَدَّقَ بِحُلِيِّهَا فَقَال نَعَمْ فَقَبِلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا. (رواه إبن ماجه: ٢٣٨٠)

Telah menceritakan kepada kami Harmalah bi Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku Al Laits bin Sa'ad dari Abdullah bin Yahya -seorang lelaki anak dari Ka'ab bin Malik- dari Bapaknya dari Kakeknya bahwa neneknya Khairah -istri Ka'ab bin Malik- datang menemui Rasulullah ﷺ dengan membawa perhiasannya, lalu ia berkata, "Aku ingin menyedekahkan perhiasan ini." Rasulullah ﷺ lalu bersabda kepadanya, "Seorang istri tidak boleh menyedekahkan hartanya kecuali atas izin suaminya. Apakah kamu sudah meminta izin kepada Ka'ab?" ia menjawab, "Ya." Rasulullah ﷺ kemudian mengutus seseorang menemui Ka'ab bin Malik suaminya untuk menanyakan, "Apakah kamu sudah mengizinkan Khairah untuk bersedekah dengan perhiasan miliknya?" Ka'b menjawab, "Ya." Akhirnya Rasulullah ﷺ pun menerima sedekahnya." (HR. Ibnu Majah: 2380 - shahih dari seorang sahabat Rasulullah ﷺ)

Hal tersebut atas dasar hadits riwayat imam Abu Daud,

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ أَنَّ أَبَاهُ أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجُوزُ لِامْرَأَةٍ عَطِيَّةٌ إِلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا. (رواه أبوداود: ٣٠٨٠)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits, telah menceritakan kepada kami Husain dari 'Amru bin Syu'aib bahwa Ayahnya, telah mengabarkan kepadanya dari Abdullah bin 'Amru bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak boleh seorang wanita memberikan suatu pemberian kecuali dengan seizin suaminya." (HR. Abu Daud: 3080 - hasan shahih dari `Abdullah bin `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadits riwayat imam at-Tirmidzi: 606 - hasan dari Shady bin `Ajlan , an-Nasa'i: 2493, 3696 (masyhur diakhir sanad), dan 3697 (hadits `aziz diakhir sanad) - hasan shahih dari `Abdullah bin `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hanya saja terdapat penjelasan bahwa hal tersebut sudah sah dinikahi. Sebagaimana diinformasikan oleh imam an-Nasa'i,

حَدَّثَنَا أَبُو يُوسُفَ الرَّقِّيُّ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الصَّيْدَلَانِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ الْمُثَنَّى بْنِ الصَّبَّاحِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي خُطْبَةٍ خَطَبَهَا لَا يَجُوزُ لِامْرَأَةٍ فِي مَالِهَا إِلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا إِذَا هُوَ مَلَكَ عِصْمَتَهَا. (رواه إبن ماجه: ٢٣٧٩)

Telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf Ar Raqqi Muhammad bin Ahmad Ash Shaidalani berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Al Mutsanna bin Ash Shabbah dari Amru bin Syu'aib dari Bapaknya dari Kakeknya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam khuthbahnya, "Seorang wanita tidak boleh menggunakan uang miliknya tanpa izin suaminya, jika suaminya telah sah menikahinya." (HR. Ibnu Majah: 2379 - shahih dari `Abdullah bin `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud: 3079 - shahih dari `Abdullah bin `Amru bin al-`Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H.

Kamis, 19 Januari 2023

TIDUR YANG TIDAK MENGHARUSKAN MEMPERBAHARUI WUDHUK APABILA MELAKSANAKAN SHALAT



TIDUR YANG TIDAK MENGHARUSKAN MEMPERBAHARUI WUDHUK APABILA MELAKSANAKAN SHALAT

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأَيْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ. (رواه أحمد: ١٤٨٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Mu'tamir bin Sulaiman At Taimi berkata, telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Abdullah bin 'Ubaid dari salah seorang sahabat Nabi ﷺ berkata, saya pernah melihat Nabiyullah ﷺ tidur hingga mendengkur kemudian beliau bangun, lalu Salat tanpa berwuduk. (HR. Ahmad: 14875 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari seorang shahabat Nabi ﷺ)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah: 468 (Hadits ahlul Kufah) - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Begitu juga hadits riwayat imam Ahmad: 1980 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Sebuah penjelasan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah ﷺ waktu itu adalah setelah azan dan menunggu Iqamah diperdengarkan. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat imam Ahmad, beliau meriwayatkan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَرَجُلٌ يُنَاجِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا زَالَ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى. (رواه أحمد: ١١٨٦٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abdul Aziz dari Anas ia berkata, "Iqamah telah dikumandangkan, sementara seorang laki-laki masih berbisik dengan Rasulullah ﷺ, dan orang itu masih saja berbicara dengan Rasulullah hingga sebagian dari para sahabatnya tidur. Setelah itu beliau bangun dan salat." (HR. Ahmad: 11865 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari riwayat-riwayat di atas, bahwa Rasulullah ﷺ tidur antara azan dan Iqamah. Sehingga tidak dapat dianggap tidur yang mengharuskan untuk memperbaharui wudhuk lagi ketika hendak melaksanakan shalat. Karena jarak waktu yang singkat dan tidak kekhawatiran menghilangkan kesadaran (tidur pulas). Hal ini tergambar dalam teks-teks hadits di atas. Wallaahu a'lam bish shawaab.

RASULULLAH MATANYA TIDUR TETAPI HATINYA TERBANGUN

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لَمَّا صَلَّى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ اضْطَجَعَ حَتَّى نَفَخَ فَكُنَّا نَقُولُ لِعَمْرٍو إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَنَامُ عَيْنَايَ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي. (رواه أحمد: ١٨١٢)

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Amru berkata, telah mengabarkan kepadaku Kuraib dari Ibnu Abbas berkata, "Tatkala Rasulullah ﷺ selesai melaksanakan salat fajar dua rakaat, beliau berbaring hingga terdengar suara nafas beliau." Kami berkata kepada 'Amru; sesungguhnya beliau bersabda, "Mataku tidur akan tetapi hatiku tidak." (HR. Ahmad: 1812 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 7110 dan 9280 (diulang) - isnadnya qawi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Demikian juga Rasulullah ﷺ ketika bulan Ramadhan, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّهُ أَوْ إِنِّي تَنَامُ عَيْنَايَ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي. (رواه أحمد: ٢٢٩٤٤)

Telah bercerita kepada kami 'Abdur Rahman, telah bercerita kepada kami Malik dari Sa'id ibn Abu Sa'id dari Abu Salamah berkata, Aku bertanya kepada 'Aisyah tetang salat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan, ia berkata, Rasulullah ﷺ tidak melebihi sebelas rakaat baik di bulan ramadlon atau yang lain, beliau salat empat rakaat, jangan kau tanya baik dan lamanya, setelah itu beliau salat empat rakaat, jangan kau tanya baik dan lamanya, setelah itu beliau salat tiga rakaat. Berkata 'A`isyah: Aku berkata, Wahai Rasulullah, Tuan tidur sebelum salat Witir. Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai 'A`isyah, sesungguhnya mataku tidur tapi hatiku tidak." (HR. Ahmad: 22944 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian juga hadits riwayat imam al-Bukhari: 1079 dan 3304 (hadits ahlul Madinah), At-Tirmidzi: 403, Ahmad: 23307 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.

Selasa, 17 Januari 2023

KURUN WAKTU SERATUS TAHUN DIAKHIR KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD (Maksud sabda Rasulullah ﷺ dalam satu riwayat)


KURUN WAKTU SERATUS TAHUN DIAKHIR KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD
(Maksud sabda Rasulullah ﷺ dalam satu riwayat)
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Penjelasan sabda Rasulullah ﷺ terkadang terdapat dalam beberapa atau bahkan dalam riwayat saja. Oleh karena itu, perlu pengetahuan yang mumpuni dan referensi terkait dengan apa yang kita ingin ketahui dari maksud sabda Beliau. Sehingga mendapatkan pencerahan dari makna dan tujuan sebenarnya.

Sebagai contoh, salah satunya hadits riwayat imam Muslim berikut:

" ... فَإِنَّ عَلَى رَأْسِ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ ... "

" ... sesungguhnya pada penghujung seratus tahun yang akan datang tidak ada lagi seseorang yang masih hidup di muka bumi." ... (HR. Muslim: 4605)

Menjelaskan makna hadits secara langsung dalam satu hadits dapat ditelusuri pada kitab hadits dimaksud dan kitab-kitab hadits lain. Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا و قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ سُلَيْمَانَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ صَلَاةَ الْعِشَاءِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ فَقَالَ أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ عَلَى رَأْسِ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَوَهَلَ النَّاسُ فِي مَقَالَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ فِيمَا يَتَحَدَّثُونَ مِنْ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ عَنْ مِائَةِ سَنَةٍ وَإِنَّمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ يُرِيدُ بِذَلِكَ أَنْ يَنْخَرِمَ ذَلِكَ الْقَرْنُ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ وَرَوَاهُ اللَّيْثُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَالِدِ بْنِ مُسَافِرٍ كِلَاهُمَا عَنْ الزُّهْرِيِّ بِإِسْنَادِ مَعْمَرٍ كَمِثْلِ حَدِيثِهِ. (رواه مسلم: ٤٦٠٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi' dan 'Abad bin Humaid. Muhammad bin Rafi' berkata, telah menceritakan kepada kami. Sedangkan 'Abad berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Abdur Razzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri, telah mengabarkan kepadaku Salim bin 'Abdullah dan Abu Bakr bin Sulaiman bahwa 'Abdullah bin 'Umar berkata, "Pada suatu malam, Rasulullah ﷺ mengimami kami salat Isya di hari-hari terakhir kehidupannya. Setelah mengucapkan salam, beliau berdiri dan bersabda, 'Dapatkah kalian menghayati malam kalian ini, sesungguhnya pada penghujung seratus tahun yang akan datang tidak ada lagi seseorang yang masih hidup di muka bumi.' Ibnu Umar berkata, 'Para sahabat merasa takut terhadap sabda Rasulullah ﷺ tersebut, sehingga mereka memperbincangkan maksud kata-kata seratus tahun dalam hadits itu. Sebenarnya Rasulullah ﷺ hanya ingin mengatakan: 'Di awal abad yang akan datang, orang yang hidup pada masa sekarang ini tak satupun yang masih hidup.' Maksudnya masa para sahabat itu akan habis. Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Daarimi, telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib. Dan Laits, telah meriwayatkannya dari Abdurrahman bin Khalid bin Musafir keduanya dari Az Zuhri melalui sanad Ma'mar sebagaimana Haditsnya. (HR. Muslim: 4605 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 113, 531, dan 566, at-Tirmidzi: 2177, Abu Daud: 3784 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Penjelasan lebih lanjut terdapat dalam hadits ke-531 dan 566. Pertama bahwa malam itu dikenal dengan (العتمة).

" ... الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ ... ".

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa,

" ....  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ يُرِيدُ بِذَلِكَ أَنْ يَنْخَرِمَ ذَلِكَ الْقَرْنُ. (رواه البخاري، مسلم، أبوداود، و  الترمذي)

" ... Rasulullah ﷺ adalah, "Tidak ada seorangpun manusia yang hidup pada hari ini (zaman Rasulullah) akan tetap hidup pada seratus tahun yang akan datang, dengan kata lain sehingga kurun itu telah berlalu." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan at-Tirmidzi)

Begitu juga hadits riwayat imam Ahmad: 14526 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. Hadits 'aziz dipertengahan sanad.

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Muslim,

حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا أَبُو الْوَلِيدِ أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ تَبْلُغُ مِائَةَ سَنَةٍ فَقَالَ سَالِمٌ تَذَاكَرْنَا ذَلِكَ عِنْدَهُ إِنَّمَا هِيَ كُلُّ نَفْسٍ مَخْلُوقَةٍ يَوْمَئِذٍ. (رواه مسلم: ٤٦٠٩)

Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur, telah mengabarkan kepada kami Abu Al Walid, telah mengabarkan kepada kami Abu 'Awanah dari Hushain dari Salim dari Jabir bin 'Abdullah dia berkata, Nabiyullah ﷺ bersabda, "Orang-orang yang hidup masanya tidak akan lebih dari seratus tahun. Salim berkata, 'Kami ingat hal itu, bahwa yang dimaksud beliau adalah setiap jiwa yang hidup pada masa itu.' (umurnya tidak akan lebih dari seratus tahun). (HR. Muslim: 4609 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 13853 - isnadnya qawi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. 


Senin, 16 Januari 2023

MELEMAHNYA ALAM SEMESTA DAN HANYA ADA ALLAH DAN MAKHLUK YANG DIKEHENDAKI-NYA

MELEMAHNYA ALAM SEMESTA
DAN HANYA ADA ALLAH DAN MAKHLUK YANG DIKEHENDAKI-NYA

‏" وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ. (قرآن سورة الحآقة/69: 17)"‏


القول في تأويل قوله تعالى : { وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ (16) وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا ‏وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ (17) يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ (18)‏‎) ‎يقول ‏تعالى ذكره: وانصدعت السماء( فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ ) يقول: منشقة متصدّعة‎.‎‏ وبنحو الذي قلنا في ‏ذلك قال أهل التأويل‎.‎
‎* ‎ذكر من قال ذلك‎:‎
حدثني موسى بن عبد الرحمن المسروقيّ، قال: ثنا أبو أسامة، عن الأجلح، قال: سمعت الضحاك ‏بن مزاحم، قال: "إذا كان يوم القيامة أمر الله السماء الدنيا بأهلها، ونزل من فيها من الملائكة، ‏فأحاطوا بالأرض ومن عليها، ثم الثانية، ثم الثالثة، ثم الرابعة، ثم الخامسة، ثم السادسة، ثم ‏السابعة، فصفوا صفا دون صفّ، ثم نزل الملك الأعلى على مجنبته اليسرى جهنم، فإذا رآها أهل ‏الأرض ندّوا، فلا يأتون قطرا من أقطار الأرض إلا وجدوا سبعة صفوف من الملائكة، فيرجعون إلى ‏المكان الذي كانوا فيه، فذلك قوله الله:( إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ يَوْمَ تُوَلُّونَ مُدْبِرِينَ مَا لَكُمْ مِنَ ‏اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ )، وذلك قوله:( وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ )، وقوله:( يَا ‏مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا ‏بِسُلْطَانٍ )، وذلك قوله:( وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا‏‎ ‎‏. حدثني محمد بن ‏سعد، قال: ثنى أبي، قال: ثني عمي، قال: ثني أبي. (تفسير الطبري/23: 581)‏

الكتاب : جامع البيان في تأويل القرآن
المؤلف : محمد بن جرير بن يزيد بن كثير بن غالب الآملي، أبو جعفر الطبري، (224 – 310 ه)‏
المحقق : أحمد محمد شاكر
الناشر : مؤسسة الرسالة
الطبعة : الأولى ، 1420 هـ - 2000 م

وقد قال [الله] (2) تعالى: { فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ وَالْمَلَكُ ‏عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ } [ الحاقة : 15 -17] قال شهر بن حَوْشَب: ‏حملة العرش ثمانية، أربعة منهم يقولون: سبحانك اللهم وبحمدك، لك الحمد على حلمك بعد ‏علمك. وأربعة يقولون: سبحانك اللهم وبحمدك، لك الحمد على عفوك بعد قدرتك، رواه ابن ‏جرير عنه‎.‎
وقال أبو بكر بن عبد الله: إذا نظر أهل الأرض إلى العرش يهبط عليهم من فوقهم، شخصت إليه ‏أبصارهم، ورَجَفت كُلاهم في أجوافهم، وطارت قلوبهم من مَقَرّها من صدورهم إلى حناجرهم‎.‎
وقال ابن جرير: حدثنا القاسم، حدثنا الحسين، حدثنا معتمر بن سليمان، عن عبد الجليل، عن ‏أبي حازم، عن عبد الله بن عمرو قال: يهبط الله حين يهبط وبينه وبين خلقه سبعون ألف ‏حجاب، منها النور والظلمة، فيُصَوّت الماء في تلك الظلمة صوتا تنخلع منه (3) القلوب‎.‎
وهذا موقوف على (4) عبد الله بن عمرو من كلامه، ولعله من الزاملتين، والله أعلم. (تفسير إبن ‏كثير/6: 107)‏

الكتاب : تفسير القرآن العظيم
المؤلف : أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي [ 700 -774 هـ‎ ]‎
المحقق :  سامي بن محمد سلامة
الناشر : دار طيبة للنشر والتوزيع
الطبعة : الثانية 1420هـ - 1999 م

‏{ فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ (13) وَحُمِلَتِ الأرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً (14) فَيَوْمَئِذٍ ‏وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (15) وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ (16) وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ ‏رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ (17) يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ (18) }.‏
يقول تعالى مخبرا عن أهوال يوم القيامة، وأول ذلك نفخة الفزع، ثم يعقبها نفخة الصعق حين ‏يُصعق من في السموات ومن في الأرض إلا من شاء الله، ثم بعدها نفخة القيام لرب العالمين ‏والبعث والنشور، وهي هذه النفخة. وقد أكدها هاهنا بأنها واحدة لأن أمر الله لا يخالف ولا ‏يمانع، ولا يحتاج إلى تكرار وتأكيد‎.‎
وقال الربيع: هي النفخة الأخيرة. والظاهر ما قلناه؛ ولهذا قال هاهنا: { وَحُمِلَتِ الأرْضُ وَالْجِبَالُ ‏فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً } أي: فمدت مَدّ الأديم العُكَاظي، وتَبَدّلت الأرض غير الأرض، { فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ ‏الْوَاقِعَةُ } أي: قامت القيامة . { وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ } قال سِماك، عن شيخ من ‏بني أسد، عن علي قال: تنشق السماء من المجرة. رواه ابن أبي حاتم‎.‎
وقال ابن جريج: هي كقوله: { وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا } [النبأ: 19]. (تفسير إبن كثير/8: ‏‏211)‏

‏{ وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ } ضعيفة. قال الفراء: وَهْيُها: تشُّقُقها (4) . { وَالْمَلَكُ } يعني ‏الملائكة { عَلَى أَرْجَائِهَا } نواحيها وأقطارها ما لم 173/ب ينشق منها واحدها: "رجا" مقصورًا ‏وتثنيته رَجَوَان. قال الضحاك: تكون الملائكة على حافتها حتى يأمرهم الرب فينزلون فيحيطون ‏بالأرض ومن عليها { وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ } أي فوق رءوسهم يعني الحملة { يَوْمَئِذٍ } يوم ‏القيامة { ثَمَانِيَةٌ } أي ثمانية أملاك‎.‎
جاء في الحديث: "إنهم اليوم أربعة فإذا كان يوم القيامة أيدهم الله بأربعة أخرى، فكانوا .... ‏ثمانية على صورة الأوعال ما بين أظلافهم إلى ركبهم كما بين سماء إلى سماء" (1)‏
وجاء في الحديث: "لكل ملك منهم وجه رجل ووجه أسد ووجه ثور ووجه نسر" (2). ‏

أخبرنا أبو بكر بن الهيثم الترابي، أخبرنا أبو الفضل محمد بن الحسين الحدادي، أخبرنا محمد بن يحيى ‏الخالدي، أخبرنا إسحاق بن إبراهيم [الحنظلي] (3) حدثنا عبد الرزاق، حدثنا يحيى بن العلاء، عن ‏عمه شعيب بن خالد، حدثنا سماك بن حرب، عن عبد الله بن عميرة، عن العباس بن عبد ‏المطلب قال: كنا جلوسا عند النبي صلى الله عليه وسلم بالبطحاء فمرت سحابة فقال: النبي صلى الله عليه وسلم: "أتدرون ما هذا؟ ‏قلنا: السحاب. قال: والمزن؟ قلنا: والمزن، قال: والعنان؟ فسكتنا فقال: هل تدرون كم بين ‏السماء والأرض؟ قلنا: الله ورسوله أعلم، قال: بينهما مسيرة خمسمائة سنة، وبين كل سماء إلى ‏سماء مسيرة خمسمائة سنة، وكذلك غلظ كل سماء خمسمائة سنة، وفوق السماء السابعة بحر ‏بين أعلاه وأسفله كما بين السماء والأرض [ثم بين ذلك ثمانية أوعال بين أظلافهن وركبهن كما بين ‏السماء والأرض] (4) ثم فوق ذلك العرش بين أسفله وأعلاه كما بين السماء والأرض والله تعالى ‏فوق ذلك، ليس يخفى عليه من أعمال بني آدم شيء" (5)‏
ويروى هذا عن عبد الله بن عميرة عن الأحنف بن قيس عن العباس‎.‎
وروي عن ابن عباس أنه قال: "فوقهم يومئذ ثمانية" أي: ثمانية صفوف من الملائكة لا يعلم. ‏‏(تفسير اليغوي/8: 209-210)‏
الكتاب : معالم التنزيل
المؤلف : محيي السنة ، أبو محمد الحسين بن مسعود البغوي [ المتوفى 516 هـ‎ ]‎
المحقق : حققه وخرج أحاديثه محمد عبد الله النمر - عثمان جمعة ضميرية - سليمان مسلم ‏الحرش
الناشر : دار طيبة للنشر والتوزيع
الطبعة : الرابعة ، 1417 هـ - 1997 م

ثم هذه مشاهد النهاية المروعة لهذا الكون . . هذه هي تخايل للحس ، وتقرقع حوله ، وتغمره ‏بالرعب والهول والكآبة . ومن ذا الذي يسمع : { وحملت الأرض والجبال فدكتا دكة واحدة } . . ‏ولا يسمع حسه القرقعة بعد ما ترى عينه الرفعة ثم الدكة!! ومن الذي يسمع : { وانشقت ‏السماء فهي يومئذ واهية . والملك على أرجائها } . . ولا يتمثل خاطره هذه النهاية الحزينة ، وهذا ‏المشهد المفجع للسماء الجميلة المتينة؟! ثم من الذي لا يغمر حسه الجلال والهول وهو يسمع ‏‏: { والملك على أرجائها ويحمل عرش ربك فوقهم يومئذ ثمانية . يومئذ تعرضون لا تخفى منكم ‏خافية } . (تفسير في ظلال القرآن/7: 309)‏
الكتاب : في ظلال القرآن
المؤلف : سيد قطب

Minggu, 15 Januari 2023

MENGGAULI ISTRI (Tafsir ayat dengan hadits: Penafsiran QS. Al-Baqarah ayat 223)


MENGGAULI ISTRI
(Tafsir ayat dengan hadits: Penafsiran QS. Al-Baqarah ayat 223)
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Imam Ad-Darimi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ عِكْرِمَةَ { فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } قَالَ يَأْتِي أَهْلَهُ كَيْفَ شَاءَ قَائِمًا وَقَاعِدًا وَبَيْنَ يَدَيْهَا وَمِنْ خَلْفِهَا. (رواه الدارمي: ١١١٣)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Aun dari Khalid bin Abdullah dari Khalid Al Hadzdza` dari 'Ikrimah firman Allah: '(Maka datangilah sawah ladang kalian sesuai dengan kehendak kalian)' (QS. Al-Baqarah/2: 223), ia berkata, "Suami boleh menggauli istrinya sesuai kehendaknya, berdiri, duduk, dari arah depan atau dari arah belakang." (HR. Ad-Darimi: 1113 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Ikrimah (Maula Ibnu 'Abbas), ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 104 H)

Tafsiran lain dikemukakan oleh Ummu Salamah dari Rasulullah ﷺ, sebagaimana hadits diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنْ ابْنِ سَابِطٍ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } يَعْنِي صِمَامًا وَاحِدًا.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَابْنُ خُثَيْمٍ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ وَابْنُ سَابِطٍ هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَابِطٍ الْجُمَحِيُّ الْمَكِّيُّ وَحَفْصَةُ هِيَ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَيُرْوَى فِي سِمَامٍ وَاحِدٍ. (رواه الترمذي: ٢٩٠٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Khutsaim dari Ibnu Sabith dari Hafshah binti Abdurrahman dari Ummu Salamah dari Nabi ﷺ tentang firman Allah, "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." (QS. Al-Baqarah/2: 223) yaitu shimam wahid (satu lubang)."

Abu Isa berkata, Hadits ini hasan shahih. Ibnu Khutsaim adalah Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, sedangkan Ibnu Sabith adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Sabith Al Jumahi Al Makki dan Hafshah adalah putri Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq." Diriwayatkan juga dengan redaksi: Simam wahid (satu lubang). (HR. At-Tirmidzi: 2905 - shahih dari Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 25425 - isnadnya hasan, namun iktilafihi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H. Isnadnya 'aziz dipertengahan sanad. Begitu juga hadits riwayat imam Ahmad: 25475, 25482 - isnadnya hasan, ad-Darimi: 1099 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani. Imam Ad-Darimi meriwayatkan satu hadits tergolong tsulatsiyat dalam masalah ini. Beliau berkata:

أَخْبَرَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ رَبَاحٍ عَنْ عِكْرِمَةَ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } قَالَ إِنَّمَا هُوَ الْفَرْجُ. (رواه الدارمي: ١١٠٤)

Telah mengabarkan kepada kami Utsman bin Umar, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Rabah dari 'Ikrimah (Ketika menafsirkan ayat): '(Istri-istri kalian (bagaikan) sawah ladang kalian, maka datangilah sawah ladang kalian sesuai kehendak kalian) ' (QS. Al-Baqarah: 223), ia berkata, "Itu adalah kemaluan". (HR. Ad-Darimi: 1104 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Ikrimah (Maula Ibnu 'Abbas), ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 104 H)

Rasulullah ﷺ pernah juga menjelaskan ayat tersebut kepada Umar bin Al Khaththab, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي الْقُمِّيَّ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ وَمَا الَّذِي أَهْلَكَكَ قَالَ حَوَّلْتُ رَحْلِيَ الْبَارِحَةَ قَالَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا قَالَ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى رَسُولِهِ هَذِهِ الْآيَةَ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } أَقْبِلْ وَأَدْبِرْ وَاتَّقِ الدُّبُرَ وَالْحَيْضَةَ. (رواه أحمد: ٢٥٦٩)

Telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub yakni Al Qummi dari Ja'far dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata, Umar bin Khaththab datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah binasa." Beliau bertanya, "Apa yang membinasakanmu?" Umar menjawab, "Aku membalik tungganganku (yakni istriku) tadi malam." Ibnu Abbas berkata, Beliau tidak mengatakan apa-apa mengenai itu. Ibnu Abbas melanjutkan; Lalu Allah mewahyukan kepada rasul-Nya ayat ini (QS. Al-Baqarah/2: 223):  "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki". Lalu beliau mengatakan, "Bagaimana saja kamu kehendaki, dari depan atau belakang tapi hindarilah dubur dan haid." (HR. Ahmad: 2569 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Hanya saja terdapat hadits yang terkesan penafsirannya bertentangan dengan hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh imam ad-Darimi. Beliau meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا خَلِيفَةُ بْنُ خَيَّاطٍ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ قَالَ سَمِعْتُ لَيْثًا حَدَّثَ عَنْ عِيسَى بْنِ قَيْسٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } قَالَ إِنْ شِئْتَ فَاعْزِلْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَعْزِلْ. (رواه الدارمي: ١١١٠)

Telah mengabarkan kepada kami Khalifah bin Khayyath, telah menceritakan kepada kami Al Mu'tamir ia berkata, Aku pernah mendengar Laits menceritakan dari 'Isa bin Qais dari Sa'id bin Musayyib firman Allah: '(Istri-istri kalian bagaikan sawah ladang kalian, maka datangilah sawah ladang kalian sesuai kehendak kalian)', (QS. Al-Baqarah/2: 223), ia berkata, "Jika kamu berkehendak, maka jauhilah dia, dan jika kamu kehendaki, maka jangan kamu jauhi dia." (HR. Ad-Darimi: 1110 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sa'id bin al-Musayyab bin Hazan bin Abi Wahab bin 'Amru, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H)

Catatan: dalam hadits riwayat imam Ad-Darimi: 1110 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) yaitu majhul (tidak dikenal). Ia adalah Isa bin Qais dan riwayatnya hanya hadits ini. Sedangkan Laits bin Abi Sulaim bin Nu'aim, ia tabi'in (tidak jumpa shahabat) kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits. Sedangkan Al-Bukhari menilainya shaduuq yuham.

Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud terkait dengan sababun nuzul QS. Al-Baqarah ayat 223 tersebut, beliau berkata:

حَدَّثَنَا ابْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُ إِنَّ الْيَهُودَ يَقُولُونَ إِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ فِي فَرْجِهَا مِنْ وَرَائِهَا كَانَ وَلَدُهُ أَحْوَلَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ }. (رواه أبوداود: ١٨٤٨)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Muhammad Al Munkadir, ia berkata, saya mendengar Jabir berkata, sesungguhnya orang-orang Yahudi berkata, apabila seorang laki-laki menggauli istrinya pada kemaluannya dari arah belakang maka anaknya juling. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat, "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." (HR. Abu Daud: 1848 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Menurut Ibnu 'Abbas bukan orang-orang Yahudi, tetapi sekelompok Kaum Anshar yang melakukan hal dimaksud. Hadits ini merupakan kritikan terhadap riwayat Ibnu Umar. Sebagaimana hadits riwayat imam Abu Daud dari Ibnu 'Abbas. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ يَحْيَى أَبُو الْأَصْبَغِ حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ أَبَانَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِنَّ ابْنَ عُمَرَ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ أَوْهَمَ إِنَّمَا كَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُمْ أَهْلُ وَثَنٍ مَعَ هَذَا الْحَيِّ مِنْ يَهُودَ وَهُمْ أَهْلُ كِتَابٍ وَكَانُوا يَرَوْنَ لَهُمْ فَضْلًا عَلَيْهِمْ فِي الْعِلْمِ فَكَانُوا يَقْتَدُونَ بِكَثِيرٍ مِنْ فِعْلِهِمْ وَكَانَ مِنْ أَمْرِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَأْتُوا النِّسَاءَ إِلَّا عَلَى حَرْفٍ وَذَلِكَ أَسْتَرُ مَا تَكُونُ الْمَرْأَةُ فَكَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ الْأَنْصَارِ قَدْ أَخَذُوا بِذَلِكَ مِنْ فِعْلِهِمْ وَكَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ قُرَيْشٍ يَشْرَحُونَ النِّسَاءَ شَرْحًا مُنْكَرًا وَيَتَلَذَّذُونَ مِنْهُنَّ مُقْبِلَاتٍ وَمُدْبِرَاتٍ وَمُسْتَلْقِيَاتٍ فَلَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْمَدِينَةَ تَزَوَّجَ رَجُلٌ مِنْهُمْ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ فَذَهَبَ يَصْنَعُ بِهَا ذَلِكَ فَأَنْكَرَتْهُ عَلَيْهِ وَقَالَتْ إِنَّمَا كُنَّا نُؤْتَى عَلَى حَرْفٍ فَاصْنَعْ ذَلِكَ وَإِلَّا فَاجْتَنِبْنِي حَتَّى شَرِيَ أَمْرُهُمَا فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } أَيْ مُقْبِلَاتٍ وَمُدْبِرَاتٍ وَمُسْتَلْقِيَاتٍ يَعْنِي بِذَلِكَ مَوْضِعَ الْوَلَدِ. (رواه أبوداود: ١٨٤٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Yahya Abu Al Ashbagh, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Salamah, dari Muhammad bin Ishaq dari Aban bin Shalih dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata, sesungguhnya Ibnu Umar semoga Allah mengampuninya, ia telah melakukan suatu kesalahan. Sesungguhnya terdapat sebuah kampung Anshar yang merupakan para penyembah berhala, hidup bersama kampung Yahudi yang merupakan ahli kitab. Dan mereka memandang bahwa orang-orang Yahudi memeliki keutamaan atas mereka dalam hal ilmu. Dan mereka mengikuti kebanyakan perbuatan orang-orang Yahudi. Diantara keadaan ahli kitab adalah bahwa mereka tidak menggauli istri mereka kecuali dengan satu cara, dan hal tersebut lebih menjaga rasa malu seorang wanita. Dan orang-orang Anshar ini mengikuti perbuatan mereka dalam hal tersebut. Sementara orang-orang Quraisy menggauli istri-istri mereka dengan cara yang mereka ingkari, orang-orang Quraisy menggauli mereka dalam keadaan menghadap dan membelakangi serta dalam keadaan terlentang. Kemudian tatkala orang-orang Muhajirin datang ke Madinah, salah seorang diantara mereka menikahi seorang wanita Anshar. Kemudian ia melakukan hal tersebut. Kemudian wanita Anshar tersebut mengingkarinya dan berkata, sesungguhnya kami didatangi dengan satu cara, maka lakukan hal tersebut, jika tidak maka jauhilah aku! Hingga tersebar permasalahan mereka, dan hal tersebut sampai kepada Rasulullah ﷺ. kemudian Allah 'Azza wa Jalla menurunkan ayat (QS. Al-Baqarah/2: 223), "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." Yakni dalam keadaan menghadap (saling berhadapan), membelakangi dan terlentang, yaitu pada tempat diperolehnya anak (farj). (HR. Abu Daud: 1849 - hasan dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)