Pages - Menu

Sabtu, 23 Juli 2022

ETIKA ISLAM (ISLAMIC ETHICS) DAN SOCIETY 5.0


ETIKA ISLAM (ISLAMIC ETHICS) DAN SOCIETY 5.0‎ 
Oleh: Samsurizal, MA 

REVOLUSI PERADABAN MANUSIA

1.‎ Society 1.0 → era berburu (hunting society); manusia hidup harmonis dengan alam. ‎SEPERTI AVATAR, pemikiran manusia dipindahkan.‎ 
‎2.‎ Society 2.0 → era pertanian (agricultural society); manusia sudah mengenal bercocok-‎tanam Society. Sudah memakai waktu yang panjang mereka belum banyak mengenal ‎mesin. Produksi tidak dengan masal.‎ ‎
3.‎ ‎3.0 → era industri (industrial society); manusia mulai menggunakan mesin untuk ‎membantu aktivitas sehari-hari; mass production. Bercocok tanam dengan mesisn dan ‎diproduksi secara masal.‎ ‎
4.‎ Society 4.0 → era informasi (information society); manusia sudah mengenal komputer dan ‎internet. Kelanjutan dari sebelumnya, industri melibatkan informasi dengan komputer dan ‎internet tahun 1900 M.‎ ‎
5.‎ Society 5.0 → (super smart society) abad 21, teknologi menjadi bagian dari aktivitas dan ‎eksistensi manusia. 
Teknologi menjadi penentu bagi kehidupan manusia, eksistensi ‎mereka menjadi hal yang utama dengan teknologi.‎ 

Revolusi Industri 

Bagian dari industrial industri (revolusi besar peradaban manusia). Ada empat periode ‎terkait dengan ini menurut para ahli:‎ 

1.‎ Industri 1.0 → mekanisasi → penggunaan mesin uap dalam proses produksi. ‎ ‎
2.‎ Industri 2.0 → elektrifikasi → mesin uap digantikan dengan tenaga listrik, assembly line, ‎divisionisasi, menjadi spesialis pada masingmasing lini. ‎ ‎
3.‎ Industri 3.0 → otomatisasi dan globalisasi → komputerisasi, robot, internet, ruang dan ‎waktu menjadi semakin terkompresi dan mampat. ‎ ‎
4.‎ Industri 4.0 → digitalisasi → penggunaan perangkat yang saling terhubung, AI, IoT, cloud, ‎big data, penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. ‎ Abad 20-an, Era globalisasi cepat dan pendeknya ruang dan waktu untuk melakukan ‎beberapa kegiatan bahkan banyak kegiatan. Dikenal juga dengan “Memanusiakan manusia ‎dengan teknologi”.‎ ‎
5.‎ Industri 5.0 → teknologi menjadi bagian dari aktivitas dan eksistensi manusia, ‎memanusiakan manusia dengan teknologi.‎ 

Hal tersebut di atas dikenal dengan S (society) 5.0 and IR (information) 4.0.‎ 

Society 5.0 (five point zero)‎ 

Maret 2017, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengenalkan konsep Society 5.0 di ‎pameran CeBIT, Hannover, Jerman. Kehebatan Jepang, bahkan Indonesian Open saat ini juga ‎dikuasai oleh Jepang.‎ ‎

“A human-centered society that balances economic advancement with the resolution of ‎social problems by a system that highly integrates cyberspace and physical space”. Maksudnya ‎adalah semua kegiatan berpusat pada manusia. Society 5.0 bertujuan menyeimbangan antara ‎unsur manusia dan ekonomi. Suatu saat maka manusia digantikan dengan robot, sehingga ‎menghilangkan aspek kemanusiaannya. Begitu juga untuk menyeimbangkan ruang maya dan ‎ruang pisik.‎ 

Tujuan Society 5.0 (five point zero)‎

‎◦ menangani segala aspek masyarakat, seperti ekonomi, politik, pemerintahan, industri, kesehatan, ‎mobilitas, infrastruktur dst.‎ ‎ 
◦ menciptakan masyarakat di mana tantangan sosial diselesaikan dengan memasukkan inovasi ‎revolusi industri keempat (misalnya IoT, Big Data, AI) ke dalam industri dan kehidupan sosial.‎ 

ETIKA ISLAM (ISLAMIC ETHIK)‎ ETIKA Etika: ‎ ‎

◦ Yunani: ethos → berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat ‎kebiasaan. Etika ini menjadi bagian kajian filsafat.‎ 

Keyword on ethics : ‎ ‎
1.‎ Nilai dan norma ‎
2.‎ Baik-buruk ‎ ‎
3.‎ Hak dan kewajiban moral ‎ ‎
4.‎ Kebebasan dan tanggung jawab.‎ 

Apa yang dianggap baik atau buruk bagi masyarakat?‎ 

Tiga Pemaknaan Etika  ‎

1.‎ Etika sebagai sistem nilai → nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi asas, ‎pegangan, atau pedoman bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah ‎lakunya secara individual maupun sosial → bercorak normatif. Bukan masyarakat saja, ‎tetapi digunakan oleh sistem nilai agama. Karena sifatnya normatif, maka ia tidak tertulis ‎hanya sebagai hal yang diingat oleh masyarakat untuk ditaati.‎ 

‎2.‎ Etika sebagai kode etik → kumpulan asas atau nilai moral yang bersifat teknis dan praktis. ‎Kumpulan itu lebih tepat disebut sebagai kode etik. ‎ ‎

3.‎ Etika sebagai ilmu → kajian tentang yang baik atau buruk dan tentang hak dan kewajiban ‎moral → bercorak sistematis-ilmiah. Hal ini merupakan hasil kajian dan analisis ilmiah, ‎dipakai dikalangan akademik sebagai ilmu.‎ 


ETIKA ISLAM Akhlāq (pl.) → khuluq (sing.) → khalaqa: menciptakan sesuatu dari tiada menjadi ada. ‎ 
‎1.‎ Akhlāq sebagai bagian dari fiqh (mu’āmalah) 
‎2.‎ Falsafah al-akhlāq sebagai bagian dari filsafat praktis – orientasinya pada amaliah yang ‎penekanannya pada aspek individu. ‎ 
‎3.‎ Akhlāq sebagai tujuan dalam Tasawuf. Orientasinya pada penyempurnaan akhlak.‎ 

Etika menjadi cabang filsafat yang paling sedikit menarik atensi peneliti kebudayaan Islam.‎ 

PERSPEKTIF DALAM ETIKA ISLAM 

Majid Fakhry ‎
1. Scriptural Morality
2. Theological Ethics
3. Philosophical Ethics
4. Religious Ethics

Muhammad Abid al-Jabiri (Nalar Etik Islam)‎  ‎ 1. Etika Arab: al-akhlāq al-muru’ah (Etika Harga Diri)‎  ‎
2. Etika Persia: al-akhlāq aṭ-ṭā’ah (Etika Kepatuhan) ‎  
3.‎ Etika Yunani: al-akhlāq as-sa’ādah (Etika Kebahagiaan) ‎  ‎
4. Etika Sufistik: al-akhlāq al-fanā ‎ 
5. Etika Keagamaan: al-akhlāq ad-Dīnī; al-akhlāq al-’amal aṣ-‎ṣaliḥ; prinsip kemaslahatan 

Majid Fakhriy : Etika Islam ditentukan oleh al Qur’an dan hadits secara leterleks. Baik buruk, ‎dikembangkan oleh agama. Tindakan manusia, apakah manusia mempunyai kehendak bebas. ‎Seperti Raja Yogyakarta awalnya mengaku sebagai khalifatullah. Artinya seluruh tindakannya ‎adalah tindakan Tuhan. Oleh karenya pertanggungjawabanya kepada Tuhan. Kemudian ‎Philosophical Ethics yang dibahas oleh pada filosof. Begitu juga religius ethics yang ada dalam al ‎Qur’an dan al hadits. Oleh karena fakta di atas kajian dan sudut pandang filsafat etik sangat ‎fleksibel, sehingga dapat dimasukkan dalam berbagai perspektif keilmuan.‎ 

Muhammad Abid al-Jabiri, menekankan pada mengelompokkan dalam berbagai pola pikir ‎dengan menerjemahkan dalam berbagai pandangan tentang akhlak.‎ 

ISLAMIC ETHICS in SOCIETY 5.0 (five point zero)‎ 

Islamich ethics in society 5.0 menitik beratkan pada manusia.‎ 

Prinsip-prinsip yang tidak berubah:‎ 

1.‎ Relasi dengan Allah → ‘ibadah, ketaatan, bersyukur, ridha, tawakkal, dzikir. ‎ 
‎2.‎ Relasi dengan alam → kewajiban terhadap alam, menjaga dan melestarikan alam. Muncul ‎teologi alamiah atau lingkungan, merupakan hal yang sama dengan etika lingkungan. ‎ ‎
3.‎ Relasi dengan manusia : ‎ 
 Relasi dengan diri sendiri → fitrah, sikap diri yang baik. ‎ 
 Relasi orang lain → keadilan, amar ma’ruf nahi munkar, saling membantu, musyawarah. ‎ 
 Membangun sistem sosial yang bermoral (keadilan ekonomi-sosial, equality, hukum).‎ 

Perlunya merubah paradigma etik:‎ ‎

1.‎ Dari pra-industrial-scientific era ke post-industrial-scientific era. ‎ 
‎2.‎ Dari norma-norma yang “siap pakai” menjadi studi kritis terhadap praktik-praktik normatif ‎‎(fakta-fakta moral keagamaan). Mengkaji fakta-fakta moral, kenapa norma moral tertentu ‎dianggap baik oleh kelompok masyarakat tertentu dan dianggap buruk bagi kelompok yang ‎lain?.‎ ‎
3.‎ Dari pengaruh-utamaan etika normatif (tanpa perlu data) ke menekankan etika deskriptif ‎‎(berdasarkan data). ‎ ‎
4.‎ Dari penanaman moral yang doktrinal ke internalisasi nilai-nilai moral yang dialogis. Mereka ‎diajak dialog dengan anak, kenapa hal tertentu dianggap baik atau buruk.‎ ‎
5.‎ Membedakan moral dengan fakta-fakta moral (historis). Moral di semua agama diajarkan, ‎tetapi fakta-fakta moral akan berbeda-beda.‎ 
‎6.‎ Menerjemahkan nilai-nilai moral yang normatif-universal ke praktik-praktik sosial-‎keagamaan yang partikular. Dalam ruang kerja yang partikular tersebut mesti punya etika ‎moral tersendiri.‎ 

Augus de Comte, membagi kemajuan peradaban pemikiran manusia: Teologis – Metafisik – ‎logis (puncaknya peradaban). Contoh pemikiran dengan mitologis: adanya petir karena palu TOR ‎digerakkan, kenapa tidak muncul hujan karena palunya dicuri.‎ 

Etika normatif dan etika deskriptif. Etika normatif selalu berkenaan dengan norma baik atau ‎buruk, sementara yang deskriptif terkait dengan fakta-fakta moral, tidak ada kliem moral. Sehingga ‎seorang peneliti kaya dengan data. Sebaliknya, etika normatif seorang peneliti minim dengan data.‎ Sebagai contoh: menemukan kliem moral secara deskriptif dengan menelusuri apakah norma ‎tersebut dikarenakan dari hirarki sosial, kondisi alam, dan yang lain.‎

Sumber:
Kuliah Filsafat bersama: Imam Iqbal, eSfima bacth 3 tanggal 19 Juni 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏