Pages - Menu

Minggu, 07 November 2021

REALITAS OTENTIK AGAMA

REALITAS OTENTIK AGAMA 
Oleh: Samsurizal, MA 
Mingu, Tanggal 31 Oktober 2021‎ 

I.‎ Pendahuluan 

Relitas otentik Agama, merupakan pola berpikir keimanan (tauhid), sementara filsafat ‎memperkuat keimanan dengan menggali makna berpikir keagamaan seluas-luasnya. Kemudian ‎dapat juga ditempuh pola sekuler, artinya menolerir pemikiran tentang agama sebagai jalur ‎keimanan dan filsafat jalur akal. Disisi lain dapat dilihat dari berbagai perspektif seperti sosial, ‎budaya, psikologi dan lain sebagainya. Sehingga realitas otentik agama berdiri sebagaimana ‎mestinya salah satunya kritik terhadap realitas artifisial. Apabila sudah merusak subtansi hidup ‎maka mesti dikembalikan keasalnya. Sehingga kesadaran refleksional, imitasi dan experion individu ‎terlayani. Pada akhirnya prilaku kebertuhanan seseorang terkontrol. Inilah makna yang dipahami ‎dari dua realitas yang berbeda dengan perannya sendiri-sendiri. Hal tersebut dapat diselesaikan ‎dengan mempelajari aspek-aspek filosofisnya secara bersamaan.‎ 

Berdasarkan asumsi di atas perlu diuraikan agar memberikan makna filosofis. Sehingga dapat ‎dicerna dan dikembangkan bagaimana menyerap pelajaran dari realitas otentik agama dimaksud.‎ 

II.‎ Pembahasan 

A.‎ Realitas otentik sebagai kritik terhadap realitas buatan 

Realitas otentik meliputi lima aspek yaitu alam semesta, harmoni keseimbangan, ‎kekuasaan, kematian dan kebenaran. Sementara realitas buatan sebagai efek yang muncul dari ‎aspek otentik, yaitu kebudayaan, konflik penghancuran, birokrasi kekuasaan, pembunuhan ‎dan pembenaran.‎ 

B.‎ Hirarki realitas otentik 

Hirarki realitas otentik secara bertingkat dimulai dari teos, kosmos, antropos dan ‎kebudayaan. Dalam setiap kebudayaan ada antropos, ada kosmos dan ada teos. Subtansi ‎paling dasar adalah teos, karena cosmos dan antropos ada karena adanya teos (Tuhan). Tetapi, ‎kebudayaan dapat bergerak menghancurkan antropos dan kosmos dan akhirnya menjadi anti-‎teos. Hal ini dapat diambil pelajaran terhadap produksi hasil karya manusia modern, seperti ‎Hand Pone (HP). HP ini di dalamnya terdapat cosmos berupa bahan-bahan logam sekaligus ‎antropos berupa elemen-elemen lainnya dan juga merupakan hasil kebiudayaan yang ‎bersumber dari Teos (Tuhan). Semuanya saling terkait, yang pada akhirnya keberadaan ‎semuanya itu atas adanya Tuhan.

C.‎ Realitas otentik agama Realitas otentik agama adalah asli dan tunggal seperti kitab suci, firman dan kedamaian. ‎Sedangkan realitas buatan adalah dibuat dan bersifat plural, seperti penafsiran, pengajaran dan ‎kekerasan. Kedua realitas ini sering terjadi tarik-menarik, yang mesti dimenangkan adalah ‎realitas otentik. 

Apabila telah mendatangkan mudharat pada prikehidupan dan ‎prikemakhlukan, maka mesti dikembalikan kepada kenaran realitas otentik.‎ ‎

D.‎ Kitab suci otentik, penafsiran artifisial 

Kitab suci adalah realitas otentik, namun dari inilah muncul aliran pemikiran ideologi, ‎mazhab atau golongan, dan perubahan atau keanekaragaman. Seseorang berhak menolak hasil ‎dari pemahaman terhadap kitab suci, namun tidak boleh memutlakkan hasil pemahaman atau ‎penafsiran terhadap kitab suci tersebut. Hal ini bukan bearti menolak kitab suci. Nah, untuk ‎menguraikan hal dimaksud perlu pemahaman yang mumpuni.‎ 

E.‎ Kemutlakan agama dan kenisbian penafsiran 

Al-Qurán sebagai realitas otentik melahirkan berbagai penafsiran seperti yang dilakukan ‎oleh Ibu Katsir, Hamka, Quraish Shihab dan lain-lain. Bagi seorang Muslim tidak boleh menolak ‎al-Qur’an, tetapi boleh menolak atau berbeda pendapat terhadap penafsiran, begitu juga ‎terhadap penerjemahan al-Qur’an. Karena hal tersebut hasil interpretasi manusia, mungkin ‎keliru dan berkemungkinan juga benar.‎ 

F.‎ Islam dan Muslim 

Islam pada dasarnya adalah satu, namun dari Islam sebagai agama menjadikan pengikut ‎yang dikenal dengan Muslim dan ORMAS. Kemudian muncul kebudayaan dan pemahaman, ‎institusi birokrasi. Pada akhirnya menyebabkan peperangan dan kebaruan.

Kebertuhanan, keberagamaan, dan kebenaran ibaratnya sebuah perjalanan pendakian ke ‎puncak Gunung. Pendakian tersebut dapat ditempuh dari segala penjuru yang bergerak naik ‎menuju puncaknya. Sementara itu, perbedaan ada pada titik awal perjalanan, yaitu dalam ‎menempuh perjalanannya ke puncak. Akan tetapi, setelah sampai di puncak Gunung semua ‎perbedaan dan perjalanan pada hakekatnya sama-sama menuju puncak. Cakrawala kesatuan ‎dicapai dalam realitas di puncak.

Demikian juga halnya dari Tuhan yang satu, banyak nabi dari Tuhan yang satu, banyak kitab ‎suci dari Tuhan yang satu, banyak nama atau sebutan. Kemudian dari nabi dan kitab yang satu ‎banyak penafsiran aliran dan mazhab. Kenapa kita berkelahi dalam perbedaan dan tidak bisa ‎memahami kesatuan dalam perbedaa?. Sedangkan Tuhan itu Mahapengasih dan ‎Mahapemurah bagi semua hamba-Nya. Kita dari Tuhan yang satu dan akan kembali kepada-‎Nya.‎ 

Pengembangan lain juga dapat diambil contoh dalam Injil. Baru-baru ini, terdapat Alkitab ‎Edisi terbaru dalam 4 Bahasa ( Inggris, Ibrani Modern, Ibrani Paleo & Ibrani Pictographic ). ‎Hebatnya lagi nama TUHAN ( ‎יהוה‎ ) ditulis konsisten dalam bentuk Paleo Hebrew kecuali ‎bahasa Pictographic Hebrew ( Pictograf Proto Kanaan sebagai sistem penulisan awal alfabet ‎Hebrew (Ibrani). Pembuktian Alkitab edisi terbaru ini (salah satunya ) dapat di dilihat di ‎Dokumen Gua Qumran (Dead Sea Scroll). Penyingkapan Firman-Nya mulai dibukakan dalam ‎aslinya. Penyebutan nama-nama Tuhan, kadang para teolog mengungkapkan seperti Elohim, ‎Eloakh dan Elsaday dan seterusnya. Simak pengalaman sahabat saya dari Kristen (Marten ‎Tendean):‎ ‎ 

“Saya punya cerita singkat tentang pengalaman saya mencoba menerjemahkan Alkitab ‎dari bahasa Ibrani ke Indonesia bersama sahabat saya pengikut Yudaisme. Setelah ‎beberapa lembar dibuat, tanpa sepengetahuannya saya print out hasilnya, ternyata ada ‎kesalahan penulisan dalam bahasa Ibrani. Dalam lembar tsb ternyata ada nama TUHAN ‎‎(dlm huruf Ibrani). Waktu itu saya belum tahu jika ada kesalahan penulisan, maka lembar ‎tersebut harus di musnahkan. Brother tahu cara memusnahkan lembar yang ada nama ‎TUHAN tidak boleh di sobek, di bakar atau dibuang ke tempat sampah, dan lain-lain... ‎selain harus di kubur. Hebat tidak cara memperlakukan/menghormati nama TUHAN dari ‎sudut pandang penulisan...dan masih banyak lagi cerita lainnya... bersambung ya bro.”‎ 

Terdapat satu komentar lagi dari Marten Tendean kepada Elius Gea, bahwa:‎ ‎“Jika suatu waktu bro Elius Gea melihat atau membaca atau mendengar nama TUHAN ‎dalam huruf Ibrani ... tapi di sebut HASHEM ... itu ada ceritanya tersendiri. Pasti juga ‎mungkin bro bertanya tanya, kenapa dalam Alkitab tertulis nama ALLAH dan TUHAN ... ‎apa hubungannya dengan El, Eloah, Elohim, adonai, kurios, El shadday, El Olam, dan ‎masih banyak lagi seperti nama-nama malaikat atau nabi yang berakhiran EL ... benar ‎tidak...he..he.” Alius Gea menjawab, “Iya Sir memang saya sangat ingin tau apalagi kalau ‎diperhatikan dalam Kejadian pasal 1 s/d 2: 3 disitu hanya disebut Allah nanti setelah di ‎ciptakan manusia pertama Kej .2: 4 baru disebut Tuhan Allah”. ‎ 

G.‎ Realitas buatan keagamaan mengurung kreatifitas 

Realitas keagamaan buatan itu tidak bisa dihindari dan akan selalu ada baik ideologi, ‎mazhab, aliran, dan institusi sosial kegamaan. Tetapi, realitas buatan tersebut tidak mutlak dan ‎tidak boleh dimutlakan. Fanatik boleh, tetapi untuk internal saja, bukan untuk orang lain ‎‎(eksternal). Solidaritas kemanusiaan perlu dibangun di atas solidaritas agama.‎ 

H.‎ Agama untuk kedamaian bukan untuk kekerasan 

Solidaritas kemanusiaan dan solidaritas kegamaan sering bentrok atau malah dapat ‎digabungkan. Agama pada hakekatnya untuk manusia, tetapi manusia tidak boleh terkurung ‎dalam institusi keagamaan buatan. Solidaritas agama untuk kemanusiaan. Bukan solidaritas ‎kemanusiaan untuk institusi keagamaan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi paradoks ‎fundamental agama, yang semula untuk kedamaian. Tetapi jatuh pada kekerasan dan ‎sektarianisme agama untuk manusia bukan untuk Tuhan.‎ 

III.‎ Kesimpulan 

Menelaah secara filosofis realitas otentik agama menjadi sangat urgen agar pemahaman ‎terhadap agama dan segala terkait dengan tern ini yang bersifat tunggal melahirkan ‎sesuatu yang plural. Akibat dari hirarki ini dapat dikontrol dengan pemahaman ini. Sehingga ‎berdampak positif pada perkembangan persepsi, konseptual dan mendapatkan pengalaman yang ‎bermakna. ‎ 

Tujuan memahami realitas otentik agama ini adalah untuk meletakkan agama pada posisi yang benar ‎dan tepat agar tercipta keharmonisan dengan realitas artifisial (buatan). Karena, dengan ‎melakukan ini maksud dan tujuan dimaksud membuahkan hasil keselamatan dan kedamaian. ‎Karena sesungguhnya kekuatan otentik itu hanya dapat diluluhkan dengan ketaatan agar ‎senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang kita peroleh karena kasih sayang-Nya.‎ 

Referensi 

Marten Tendean, Dialog di Facebook tentang Alkitab, (Rabu, tanggal 3 November 2021)‎

Musa Asy`arie, Realitas Otentik Agama pertemuan kelima, (Yogyakarta: eSfima, 31 Oktober 2021)‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏