Pages - Menu

Selasa, 30 November 2021

Mencapai Makna dalam Ilmu


Mencapai Makna dalam Ilmu
Oleh: Samsurizal, MA


Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Dari sinilah (dunia) aku mendapatkan ilmu lebih daripada yang telah ku gali dari berbagai sumber. Alhamdulillah, kebenaran dari pengalaman hidup tak ada orang-orang besar tanpa melewati ujian-ujian tersulit dalam hidupnya. Berbagai hal dapat diambil dan diamalkan dalam ruang dan waktu berbeda Allah timpakan agar tetap dalam kebenaran. Disinilah kusadari dalam berbagai kesulitan lahir banyak karya. Pengorbanan yang mungkin sebagian orang menganggap suatu kehinaan, padahal bukan begitu. Tetapi Allah sekali lagi memperlihatkan kekuasaan-Nya bahwa, "Kamu harus lewati ini dan ini". Kenapa tidak menjadi keniscayaan, apa salahnya orang hidupnya serba berkecukupan bahagia, ternyata bukan itu menjadi tujuan Allah ciptakan manusia. Akan tetapi agar kita diuji dan menjadikan pelajaran bermakna satu, yaitu ilaihi raaji'uun. Baik atau pun buruk, semunya saling berintegrasi. Tak ada satu pun Allah ciptakan sia-sia, Rabbana aatina fid Dunya Hasanah wa fil aakhirati hasanah, waqinaa 'adzaaban naar.

Memang benar, bertemu ilmuan sesama ilmuan tak banyak yang dibicarakan hanya diam dengan menyadari diri. Sehingga diluar diri lebur dalam keheningan. Sepi tanpa suara apalagi hiruk pikuk protes dan tepuk tangan.

Apa yang dijelaskan sungguh menggetarkan hati, "bisa begitu?". Subhaanallaah, Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathila fa qinaa 'adzaaban naar.

Manusia adalah makhluk yang dimuliakan, juga mukallaf, mukhayyar, dan majziy. Keistimewaannya adalah tujuan akhir penciptaan yang makrokosmos dan mikrokosmos, ia juga cerminan Tuhan. Selanjutnya ia mesti menjalankan fungsinya secara baik dan benar. Jika sebaliknya maka akan terjadi ketimpangan. Oleh karena itu, semua yang terjadi sebagai sunnatullah harusnya dijalani dengan baik, bukan keluar apalagi ingin membuangnya. 

Selanjutnya, perlu diingat bahwa menerima dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab adalah suatu keniscayaan. Hal ini bukan bearti mandek, tetapi senantiasa bergerak pada satu titik kesempurnaan yaitu apabila sudah berakhir kehidupannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۙ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِيْ وَلِاُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٥٠)

Dari mana pun engkau (Nabi Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah/2: 150)

Menjalankan hidup dengan segala fungsi dan kepentingannya yang positif akan mengundang kesempurnaan nikmat dari Allah. Sebaliknya, apabila hal tersebut bertentangan maka justru akan terjadi penghinaan atau kecacatan hidup dan kehidupan pada diri dan makhluk Allah yang lain.

Gambaran yang lain, diingatkan dalam hadits berikut, yaitu dalam doa Rasulullah ﷺ. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim beliau berkata:

حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنِي ابْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ. (رواه مسلم: ٤٨٩٤)

Telah menceritakan kepadaku Hajjaj bin Asy Sya'ir telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin 'Amr Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain telah menceritakan kepadaku Ibnu Buraidah dari Yahya bin Ya'mar dari Ibnu 'Abbas bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah berdoa, "ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WABIKA AAMANTU, WA'ALAIKA TAWAKKALTU WAILAIKA ANABTU WABIKA KHASHAMTU, INNII A'UUDZU BI'IZZATIKA LAA-ILAAHA-ILLAA ANTA ANTUDHILLANII, ANTAL HAYYUL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUNNA "Ya Allah, sesungguhnya hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakal, hanya kepada-Mu lah aku kembali, dan hanya karena-Mu lah aku memusuhi musuh-musuh-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada keagungan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau- dari Engkau menyesatkanku. Engkaulah yang hidup dan tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati." (HR. Muslim: 4894 - shahih dari 'Abdullah bin Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyah Abu 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 2612 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyah Abu 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Kamis, 25 November 2021

LIMA KAIDAH RITUALITAS BUMINTARA


LIMA KAIDAH RITUALITAS BUMINTARA

1. PELEBURAN DIRI, ALAM DAN TAK TERUNGKAP

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٣٠)

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah* di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah/2: 30)

Dalam Al-Qur'an, kata khaliifah memiliki makna 'pengganti', 'pemimpin', 'penguasa' atau 'pengelola alam semesta'.

Mereka merindukan informasi langsung dari yang tak terlihat.

2. MENILAI REALITAS DENGAN RASA

اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاۤئِ رَبِّهِمْ لَكٰفِرُوْنَ. (قرآن سورة الروم/٣٠: ٨)

Apakah mereka tidak berpikir tentang (kejadian) dirinya? Allah tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, kecuali dengan benar dan waktu yang ditentukan. Sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar-Rūm/30: 8)

Mencari jalan untuk mengundang kebenaran dengan rasa instuisi dan empiris.

3. BERTAHAN HIDUP DENGAN POTENSI ADAPTASI

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ  لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ  ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٧٩)

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (QS. Al-A‘rāf/7: 179)

Mereka berusaha menggunakan hati untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang tak terlihat, pancaindra untuk melihat kebesaran dan mendengarkan pesan ayat-ayat kauniyah.

4. MENGUTAMAKAN RITUS DARIPADA DOKTRIN

۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ. (قرآن سورة الأنغام/٦: ٥٩)

Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (QS. Al-An‘ām/6: :59)

Membuka pengetahuan kegaiban dengan ritus, bukan dengan doktrin. Karena RITUS tertentu akan meluluhkan sang Penguasaalam.

5. KEBENARAN MELALUI LISAN UNTUK MENGUNGKAP YANG SAKRAL

قُلْ مَنْ يُّنَجِّيْكُمْ مِّنْ ظُلُمٰتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُوْنَهٗ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۚ لَىِٕنْ اَنْجٰىنَا مِنْ هٰذِهٖ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ. (قرآن سورة الأنغام/٦: ٦٣)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari berbagai kegelapan (bencana) di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut (dengan berkata), ‘Sungguh, jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.’” (QS. Al-An‘ām/6: :63)

قُلِ اللّٰهُ يُنَجِّيْكُمْ مِّنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ اَنْتُمْ تُشْرِكُوْنَ. (قرآن سورة الأنغام/٦: ٦٤)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Allah yang menyelamatkanmu darinya (bencana itu) dan dari segala macam kesusahan. Kemudian, kamu (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-An‘ām/6: 64)

Seorang juru pencerah harus hadir disaat manusia terlupa dan terlelap dari kebenaran.

LIMA KAIDAH RITUALITAS BUMINTARA

Munculnya lima kaidah ritualitas Bumintara disebab karena mereka merindukan informasi langsung dari yang tak terlihat. Mencari jalan untuk mengundang kebenaran dengan rasa (instuisi). Mereka berusaha menggunakan hati untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang tak terlihat, pancaindra untuk melihat kebesaran dan mendengarkan pesan ayat-ayat kauniyah. Membuka pengetahuan kegaiban dengan ritus, bukan dengan doktrin. Karena RITUS tertentu akan meluluhkan sang Penguasaalam. Seorang juru pencerah harus hadir disaat manusia terlupa dan terlelap dari kebenaran. Melihat kaidah tersebut menggambarkan kehendak yang didambakan, penyatuan dengan Alam dan Tuhan.

Oleh: SAMSURIZAL, MA

Kamis, 18 November 2021

PAHAMILAH ARAHMU


PAHAMILAH ARAHMU
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ  قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢٥٦)

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah/2: 256)

Kata taghut disebutkan untuk semua orang yang melampaui batas dalam keburukan. Oleh karena itu, setan, dajal, penyihir, penetap hukum yang bertentangan dengan hukum Allah Swt., dan penguasa yang tirani dinamakan taghut.

Janganlah seperti orang-orang Yahudi, sebagaimana disinggung oleh Allah dalam firman-Nya:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُدْعَوْنَ اِلٰى كِتٰبِ اللّٰهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ وَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ٢٣)

Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memerhatikan orang-orang (Yahudi) yang telah diberi bagian (pengetahuan) kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada kitab Allah untuk memutuskan (perkara) di antara mereka, kemudian segolongan dari mereka berpaling dan menolak (kebenaran). (QS. Āli ‘Imrān/3: 23)

Oleh karena itu, Allah mengingatkan kepada kaum Mukmin,

وَكَيْفَ تَكْفُرُوْنَ وَاَنْتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ اٰيٰتُ اللّٰهِ وَفِيْكُمْ رَسُوْلُهٗ ۗ وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٠١)

Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Siapa yang berpegang teguh pada (agama) Allah, sungguh dia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus. (QS. Āli ‘Imrān/3: 101)

Dan, Allah mengancam orang-orang yang tidak menetapi janjinya baik kepada Allah maupun kepada manusia.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ  ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٠٢)

Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.(QS. Āli ‘Imrān/3: 112)

Dengan kekafiran dan keingkaran para Ahli Kitab (Yahudi), serta tindak tanduk mereka yang keterlaluan memusuhi umat Islam dengan berbagai cara dan usaha, Allah menimpakan kehinaan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali bila mereka tunduk dan patuh kepada peraturan dan hukum Allah dengan membayar jizyah, yaitu pajak untuk memperoleh jaminan keamanan (ḥabl min Allāh) dan mereka memperoleh keamanan dari kaum muslimin (ḥabl min al-nās).

Tetapi hal ini tidak dapat mereka laksanakan dalam pergaulan mereka dengan Nabi dan para sahabatnya di Medinah, bahkan mereka selalu menentang dan berusaha melemahkan posisi kaum Muslimin dan tetap memusuhi Islam. Karena itu mereka mendapat kemurkaan Allah, ditimpa kehinaan dan terusir dari Medinah.

Kemudian Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam hadits riwayat Imam Al Bukhari, ia berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ هَمَّامٍ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُشِيرُ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ. (رواه البخاري: ٦٥٤٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad Telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq dai Ma'mar dari Hammam, aku mendengar Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah salah seorang diantara kalian mengarahkan pedangnya kepada kawannya, sebab siapa tahu setan menariknya dari tangannya lantas ia terjerumus dalam lubang neraka." (HR. Al Bukhari: 6545 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 4742 dan Ahmad: 7865 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

بناء الجدية والعاطفية والحيوية في العلم أمر لا بد منه للذكاء.
Membangun keseriusan, emosional dan energik dalam keilmuan adalah suatu keharusan bagi yang berakal.

Selanjutnya, ingatlah firman Allah berikut:

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا. (قرآن سورة النساء/٤: ١٤٦)

Kecuali, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri,* berpegang teguh pada (agama) Allah, dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah, mereka itu bersama orang-orang mukmin. Kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang mukmin. (QS. An-Nisā'/4: 146)

Demikian juga firman Allah dalam QS. An Nisa'/4 ayat 175. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَاعْتَصَمُوْا بِهٖ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِيْ رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍۙ وَّيَهْدِيْهِمْ اِلَيْهِ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۗ. (قرآن سورة النساء/٤: ١٧٥)

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya (surga) serta menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya. (QS. An-Nisā'/4: 175)

Banyak lagi firman Allah yang berbicara tentang perioritas bagi orang-orang yang istiqamah dalam mempertahankan iman dan keikhlasannya kepada ketetapan Allah terhadap mereka. Namun, kebanyakkan mereka lalai dari peringatan tersebut.

Seperti Allah abadikan dalam firman-Nya tentang berpalingnya para ahlulkitab,

مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌ  ۗ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٢: ٧٥)

Almasih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya makan (seperti halnya manusia biasa). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahlulkitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran). (QS. Al-Mā'idah/5: 75)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ اَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ۗوَاللّٰهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. (قرآن سورة المائدة/٢: ٧٦)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kepadamu mudarat dan tidak (pula) manfaat?” Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Mā'idah/5: 76)

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوْٓا اَهْوَاۤءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ. (قرآن سورة المائدة/٢: ٧٧)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (urusan) agamamu tanpa hak. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kaum yang benar-benar tersesat sebelum kamu dan telah menyesatkan banyak (manusia) serta mereka sendiri pun tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mā'idah/5: 77)

Begitulah selanjutnya dalam realitas kehidupan manusia dengan karya dan budaya yang mereka ciptakan sendiri. Terkadang membuat mereka lupa pada kebenaran yang otentik dari Allah. Sehingga pengembalian kepada kekuasaan dan kehendak Allah adalah suatu keniscayaan.

Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Minggu, 14 November 2021

AKAL DAN AGAMA

AKAL DAN AGAMA
Oleh: Samsurizal, MA
Minggu, tanggal 7 November 2021‎


I.‎ Pendahuluan

Sedikitnya ada tiga manfaat filsafat. Pertama, filsafat bisa membekali kita untuk memajukan ‎sikap kritis. Kedua, filsafat bisa mendorong kaum Muslim agar benar-benar memahami ‎kompleksitas persoalan dalam upayanya membangun sistem-sistem kehidupan Islami. Ketiga, ‎hanya dengan penguasaan akan isu-isu filosofis mendasar seperti ini kaum Muslim ... dapat ‎berpartisipasi dalam upaya mencari sistem-sistem terbaik bagi kepentingan semua orang.‎ ‎ Ciri yang ‎membedakan filsafat Islam dari pendekatan tradisional (ta‘abbudî) dan teologis adalah pada ‎metode yang digunakannya. Kalau dalam yang disebut belakangan metode yang digunakannya ‎bersifat dialektik (jadalî), maka dalam filsafat Islam—meski sama-sama rasional logis—metode yang ‎diterapkan adalah demonstrasional (burhânî).‎ 
Selanjunya sedikitnya lima aliran dalam filsafat Islam: Pertama, Teologi Dialektik (‘Ilm Al-Kalâm); ‎kedua, Peripatetisme (Masysyâ’iyyah); ketiga, Iluminisme (Isyrâqiyyah); keempat, ‎Sufisme/Teosofi (Tashaw wuf atau ‘Irfân), khususnya yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabî; kelima, ‎Filsafat Hikmah (Al-Hikmah Al-Muta‘âliyah).‎ ‎ Demikian juga dalam hal agama sebagai wujud ‎Ilahiyah yang bergerak bersamaan dengan akal manusia. Selanjutnya menjelma sebagai wujud ‎yang suci, sehingga menghendaki pemberian dan penerimaan yang niscaya.‎
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas perlu dijelaskan bagaimana memahami akan dan ‎agama sekaligus sebagai dua sisi dan karakter yang berbeda menjadi satu wujud yang satu yang ‎dapat membawa kedamaian dan kebahagian bagi individu dan masyarakat bahkan seluruh alam. ‎Berikut penulis uraikan berdasarkan informasi dan pemahaman penulis.‎

II.‎ Pembahasan

Harun Nasution menguraikan akal yang sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab ‎al-`aqal ‎‏(العقل)‏‎, yang dalam bentuk kata benda, berlainan dengan kata al-wahy ‎‏(الوحى)‏‎, tidak ‎terdapat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya `aqaluh ‎‏(عقلوه)‏‎, dalam 1 ‎ayat, ta`lim ‎‏(تعقلون)‏‎ 24 ayat, na`qil ‎‏(نعقل)‏‎ 1 ayat, ya`qiluha ‎‏(يعقلها)‏‎ 1 ayat dan ya`qilun ‎‏(يعقلون)‏‎ 22 ayat. ‎Kata-kata itu datang dalam arti paham dan mengerti.‎ ‎ Dalam kitab Lisan al-`Arab sebagaimana ‎dikutib Harun Nasution, arti dari kata al-`aqal bearti al-hijr ‎‏(الحجر)‏‎ menahan dan al-`aqil ‎‏(العاقل)‏‎ iyalah ‎orang yang menahan ‎‏(يحبس)‏‎ diri dan mengekang hawa nafsu. Seterusnya diterangkan pula bahwa ‎al-`aql mengandung arti kebijaksanaan al-nuha ‎‏(النحى)‏‎, lawan dari lemah pikiran ‎‏(الحمق)‏‎. Selanjutnya ‎disebut bahwa al-`aql juga mengandung arti kalbu (al-qalbu - ‎القلب‎). Lebih lanjut lagi dijelaskan ‎bahwa kata `aqala mengandung arti memahami.‎ ‎ ‎
Akal, sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada ‎diri Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan ‎keterangan-keterangan tentang Tuhan dengan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.‎ ‎ ‎Sehingga kebutuhan terhadap akal sangat penting dipadukan dengan wahyu.‎
Ia menyimpulkan ‎ bahwa kata `aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berpikir. ‎Tetapi timbul pertanyaan apakah penertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui akal ‎yang berpusat di kepada? Dalam al-Qur’an, dijelaskan pada ayat 46 dari surat al-Hajj/22 bahwa ‎pengertian, pemahaman, dan pemikiran dilakukan melalui kalbu yang berpusat di dada. Demikian ‎juga pada ayat 179 dari surat al-A`raf/7, “Sesungguhnya Kami neraka banyak jin dan manusia; ‎mereka mempunyai kalbu yang dengannya mereka tidak dapat memahami,..” yang menjadi ‎sentral kata dalam ayat ini adalah qulub ‎‏" قلوب"‏‎.‎
Akal sejak awal sejarah filsafat Islam selalu terkait dengan Nous. Dan Nous pasti bukan sekadar ‎rasio. Bahkan Tuhan, dalam Neoplatonisme identik dengan Nous.‎ ‎ Bahkan dalam alirannya yang ‎lebih peripatetik, tak pernah dipahami sebagai semata-mata rasio (ratio atau reason) yang bersifat ‎cerebral (terkait dengan otak) belaka. ... menerjemahkannya dengan intelek (intellect) jauh lebih ‎tepat. Tercakup di dalam konsep intelek ini, bahkan lebih utama dari rasio, adalah apa yang disebut ‎dengan intuisi atau “ilham”(pencerahan, iluminasi, atau isyrâq), atau terkadang disebut sebagai ‎‎“kesadaran poetik”.‎ ‎ Oleh karena itu menurut penulis membangun keseriusan, emosional dan ‎energik adalah suatu keharusan bagi manusia yang berakal. Sehingga akal dapat berfungsi ‎sebagaimana mestinya. Karena sebagaimana dasar dari anggapan bahwa akal mempunyai ‎kedudukan yang tinggi, bahkan dapat diposisikan bergandengan dengan agama.‎
Perdebatan tentang akal dikalangan para ahli dan filsuf klasik maupun modernis, mereka ‎mempertanyakan hakekat akal.  Akal dalam bahasa Arab diartikan kecerdasan lawan kebodohan, ‎dan diartikan pula dengan hati (qalb): suatu kekuatan yang membedakan manusia dari semua jenis ‎hewan. ‎ ‎ Selain itu, penamaan akal sebagai kekuatan yang tersembunyi sebagaimana anggapan ‎sebagian ahli ditolak oleh Abu Bakar Ibnu `Arabi dengan mengemukakan argumen Al-Qur’an ayat ‎‎52 dari surat al-Namal/27, tentang tanda kekuasaan Allah bagi orang yang mengetahui bahwa ‎makar yang terbaik itu adalah dari Allah bukan dari mansuia. Begitu juga al-Qur’an ayat 4 surat al-‎Ra`d/13 tentang keberadaan ciptaan Allah sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir. ‎Selanjutnya, pembahasan tentang akal ini terus berlanjut dibicarakan yang ujungnya menyerah ‎pada tatanannya masing-masing menurut kemampuan menalar hakekatnya.‎
Berbicara tetang agama dari sudut pandang mana saja dipahami sebagai tolak ukur kebenaran ‎absolut satu-satunya dari Tuhan. Hal ini memberikan pengetahuan yang banyak terhadap kontrol ‎untuk akal agar terarah dari kebebasannya. Sehingga agama didefinisikan seperti dari sudut ‎pandang sosial; Emile Durkheim mendefinisikan: ‎

‎“Suatu sistem kepercayaan dan praktek tindakan yang terpadu yang berhubungan dengan ‎hal-hal yang suci. Kepercayaan dan praktek-praktek menyatu dalam komunitas moral ‎sebagai dikenal sebagai gereja (jemaah, umat)”.‎ ‎ Lebih lanju, ia mengatakan “agama adalah ‎sumber kehidupan sosial, agama adalah kekuatan kolektif masyarakat atas individu, agama ‎itu sebagian besar bukan masalah pilihan individu tetapi sesuatu yang ditanamkan kedalam ‎diri masyarakat, dalam kenyataannya tidak ada agama yang salah, semuanya benar dengan ‎caranya sendiri. ‎

Kemudian dilihat dari sisi Psikologi, William James berpendapat bahwa agama adalah, “Segala ‎perasaan, tindakan dan pengalaman individual manusia dalam kesendirian mereka, sepanjang ‎mereka memahami bahwa mereka berada dalam hubungan dengan apa pun yang mereka ‎anggap sebagai yang-Ilahi”.‎ ‎ ‎
Pernyataan dua ahli yang berbeda di atas bahwa, Emile Durkheim beranggapan bahwa agama ‎itu lebih penting fakta sosialnya. Sedangkan William James lebih menarik dilihat aspek individual, ‎rasa atau pengalaman individu dalam beragama. Oleh karena itu, dalam pengalaman individu dalam ‎beragama mesti memiliki tiga aspek, yaitu passionate (penuh penghayatan), emotional, dan ‎energetic (sangat bergairah/semangat).‎
Selanjutnya dasar keterkaitan akal dan agama dijelaskan dalam firman Allah:‎

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ. (سورة النحل/16: 5). وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا ‏تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ. (سورة النحل/16: 18). بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِوَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ ‏مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. (سورة النحل/16: 44)‏

Masing-masing arti ayat di atas adalah: “Dan dia Telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; ‎padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya ‎kamu makan.” (QS. Al-Nahl/16: 5). “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya ‎kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun ‎lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Nahl/16: 18). “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab, ‎dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang ‎telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. Al-Nahl/16: 44)‎

Maksud dari kalimat “apa yang telah diturunkan kepada mereka” adalah perintah-perintah, ‎larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.‎‏ ‏Semuanya ini hanya dapat ‎diemban dan cerna oleh akal atau orang-orang yang mempergunakan pikiran. Sehingga dalam ‎mengaplikasikannya menjadi cermat dan tepat sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah.‎
Pengungkapan terhadap akal dalam al-Qur’an dan terhadap penggunaan pikiran tersebut ‎terdapat berbagai penyebutan. Dengan kata lain perbuatan berpikir dalam al-Qur’an bukan hanya ‎digambarkan dengan kata ` aqala (45 ayat), tetapi juga nadzara (30 ayat), tadzakkara (40 ayat), ‎tafakkara (16 ayat), tadabbara (2 ayat) dan fahima atau faqih (9 ayat). Ayat-ayat tersebut ‎berbicara tentang betapa istimewanya akal yang sehat Allah anugerahkan kepada manusia agar ‎mereka mau menggunakannya untuk mengetahui kebesaran Allah. Baik merenungkan ciptaan-‎Nya, baik dan buruk, antara kekufuran dan iman, tipu daya dan kejujuran, al-haqq dengan yang ‎bathil, halal-haram dan lain sebagainya. Hal tersebut bertujuan untuk persiapan kembali kepada-‎Nya dengan jiwa yang tenang dan bahagia (lihat QS. Al-Fajr/89 ayat 27-30).‎

Demikian juga dalam hadits,‎

‏"قوام المرء عقله و لا دين لمن لا عقل له".‏ 

‎“Kekuatan seseorang adalah kecerdasannya, dan tidak ada agama bagi yang tidak memiliki ‎akal”. Menurut al-Albaniy hadits ini palsu, demikian juga dalam kitab al-Silsilah al-Dha`ifah-nya ‎. ‎Sementara itu Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Raudhah al-Muhadditsin, ia menjelaskan hadits ini ‎disandar kepada sahabat Jabir, bahwanya Nabi SAW bersabda, “riwayat itu ...”.‎ ‎ Sedangkan dalam  ‎kitab al-Maudhu` fi Ma`rifatil Hadits al-Maudhu`, bahwa imam al-Nasa’iy menilai hadits ini bathil ‎munkar.‎ ‎ Dengan kualitas seperti yang dijelaskan di atas dapat dipahami bahwa hadits ini ‎merupakan ungkapan para ahli kalam, berkemungkinan merupakan hasil ijtihad dari pemahaman ‎ayat-ayat al-Qurán yang berbicara tentang keistimewaan akal. Karena keterkaitan antara ‎kecerdasan, agama dan akal merupakan sumber keistimewaan manusia dibanding makhluk lain ‎yang diciptakan Allah. Dilain sisi mereka juga mengungkapkan hadits Qudsi terkait keistimewaan ‎akal diciptakan oleh Allah. Hadits dimaksud adalah,‎

‏(أول ما خلق الله العقل فقال له أقبل فأقبل ثم قال وعزتي وجلالي ما خلقت أشرف منك فبك آخذ وبك ‏أعطي وبك أثيب وبك أُعاقِبُ) قال الصغاني موضوع باتفاق ، وتقدم بأبسط في " إن الله لما خلق العقل ‏‏". (كشف الخفاء/1: 263)‏ 

‎(Hal pertama yang Tuhan ciptakan adalah pikiran, dan dia berkata kepadanya, “Silakan.” Kemudian ‎dia berkata, “Demi kehormatan dan keagungan-Ku, apa yang aku ciptakan lebih mulia darimu, ‎karena denganmu aku ambil, olehmu aku memberi, dan dengan Anda saya dihargai.”) Al-Saghani ‎mengatakan itu ditetapkan dengan kesepakatan, dan maju dalam istilah yang lebih sederhana: ‎‎“Sungguh, Tuhan menciptakan pikiran.” (Kasf al-Khafa’(Mengungkap Gaib)/1: 263)‎

Imam Al-Tabraniy memasukkannya dalam al-Awsath dari hadits Abu Umamah dan Abu Naim ‎dari hadits `Aisyah dengan dua rantai sanad yang lemah. (Takhrij Ahadits Ihya’ Juz I, halaman 191). ‎Lebih lanjut hadits semakna juga dikutib oleh Harun Nasution,‎

اَلدِّيْنُ عَقْلٌ لاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ.‏

‎“Agama adalah penggunaan akal, tiada agama bagi orang yang tak berakal”‎

Dan hadits qudsi yang artinya, “Demi kekuasaan dan keagungan-Ku tidaklah Kuciptakan makhluk ‎lebih mulia dari engkau. Karena engkaulah Aku menurunkan pahala dan menjatuhkan hukuman”. ‎Ia memahami bahwa akallah makhluk Tuhan yang tertinggi dan akallah yang memperbedakan ‎manusia dari binatang dan makhluk Tuhan yang lainnya.‎ 
Akal membuat manusia bertanggungjawab atas perbuatannya. Tangggung jawab seseorang ‎dalam agama tergantung akalnya, anak yang belum baligh atau orang gila tidak bertanggungjawab ‎atas perbuatannya. Agama sering diartikan dengan sebuah sistem kepercayaan. Pernyataan ini ‎terlepas dari apakah sistem kepercayaan itu benar atau salah. Sehingga agama terbagi kepada dua ‎jenis yaitu agama samawi dan agama ardhi. Agama samawi adalah agama yang berdasarkan wahyu ‎dan agama ardhi adalah agama yang merupakan hasil daya cipta akal manusia yang rindu akan ‎adanya Tuhan.‎
Terlepas dari kedua hadits di atas dalam sejarah terbukti bahwa Nabi Muhammad adalah sosok ‎pemikir. Hal ini terlihat pada sikap dan praktek hidup beliau. Beliau sejak masa kanak-kananya ‎terkenal sangat cerdas, banyak bertanya tentang segala hal. Ia memiliki sifat siddiq, amanah, ‎tabligh, dan fathanah. Kisah Nabi Muhammad menurut Musa Asy`arie, “Merupakan penjelmaan ‎dari tugas filosof yang sebenarnya, paling tidak sebelum ia diangkat menjadi Rasulullah. Seorang ‎filosof sejati bukan hanya mereka yang berpikir tentang sesuatu yang besar, tetapi yang ‎melibatkan diri dalam perubahan masyarakatnya.‎ 
Poedjawijatna memberikan sedikit stressing bahwa agama adalah keseluruhan pendapat ‎tentang Tuhan, dunia, hidup dan mati, tingkah laku serta baik buruknya yang berlandaskan ‎wahyu.‎ ‎21 Dengan demikian pemahaman tersebut berkumpul pada manusia. Karena padanyalah ‎akal dianugerahkan. Sehingga peran para nabi dan rasul sebagai utusan Allah menjadi sangat ‎penting untuk membantu memberikan informasi Ilahiyah. Salah satu firman Allah yang dapat ‎menjadi landasannya adalah:‎‏ ‏

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. (قرآن سورة ‏التوبة/9: 33)‏

‎“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia ‎mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. Al-‎Taubah/9: 33)‎

Ayat ini diulang dalam QS. Al-Shaff ayat 9, ayat semakna terdapat dalam QS. Al-Fath/48 ayat 28 ‎sebagai berikut:‎

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ، وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا. (قرآن سورة ‏الفتح/48: 28)‏

‎“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia ‎mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-‎Fatḥ/48: 28)‎

Demikian penjelasan Allah menjelaskan kepada manusia agar orang-orang yang mempunyai ‎akal sehat senantiasa menggerakkan keunggulannya (akal) untuk mempertahankan keyakinannya ‎terhadap agama. ‎

III.‎ Penutup

Akal dan Wahyu (Agama) adalah dua sisi mata uang yang menjaga nilai kemanusian. Hal yang ‎sama dengan melestarikan dua realitas penting dalam kehidupan. Membuka diri pada realitas ini, ‎bertujuan memupuk toleransi dan wawasan. Karena jika ini tertutup sama artinya memperbanyak ‎simpanan pikiran negatif.‎

‎ ‎
REFERENSI


Abdul al Salim Mukrim, Pemikiran Islam antara Akal dan Wahyu, (Jakarta: Mediyatama Sarana, ‎‎1987), Ed. 1, Cet. 1‎
Abu Bakar Ahmad bin al Husain al-Baihaqiy, Syi`b al-Iman, tahqiq: Muhammad al-Sa`id Basyuniy ‎Zughlul, (Bairut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1410 H), Juz IV‎
Al-`Ajluniy, Isma`il bin Muhammad al-Jarahiy, Kasyf al-Khafa’ wa Mazilul al-Albas `Amma Isytahru ‎min al-Ahadits `ala al-Sunat al-Nas, (tp: Dar al-Turats al-`Arabiy, tth), Juz I‎
Al-Qariy, `Aliy bin Sulthan al-Haruy, al-Maudhu` fi Ma`rifatil Hadits al-Maudhu`, ditahqiq oleh: ‎‎`Abdul Fatah Abu Ghuddah, (tt: Maktub al-Mathbu`at al-Islamiyah, tth), Juz I
Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat 326; Emile Durkheim-Agama, (MJS Channel, 3 November 2021), ‎https://www.youtube.com/playlist?list ..‎
Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat 327; William James - Agama, (MJS Channel, 10 November 2021), ‎https://www.youtube.com/playlist?list ‎
Fatimah, Kuliah Filsafat: Akal dan Agama, (Yogyakarta, 7 Novemver 2021)‎
Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2006), Cet. II‎
Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986), Ed. ‎‎1, Cet. 2‎
Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: Universitas ‎‎(UI-Press), 2002), Ed. 2, Cet. I
Ibnu Hajar, Raudhah al-Muhadditsin, Juz XII
Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, Shahih wa Dha`if al-Jami` al-Shaghir, (Ttp: tp, tth), Juz XVII‎
Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, al-Silsilah al-Dha`ifah, Juz I
Poedjawijatna. Tahu dan Pengetahuan Pengantar Keilmuan dan Filsafat, (Jakarta: Rineka Cipta, ‎‎1991)‎

Minggu, 07 November 2021

REALITAS OTENTIK AGAMA

REALITAS OTENTIK AGAMA 
Oleh: Samsurizal, MA 
Mingu, Tanggal 31 Oktober 2021‎ 

I.‎ Pendahuluan 

Relitas otentik Agama, merupakan pola berpikir keimanan (tauhid), sementara filsafat ‎memperkuat keimanan dengan menggali makna berpikir keagamaan seluas-luasnya. Kemudian ‎dapat juga ditempuh pola sekuler, artinya menolerir pemikiran tentang agama sebagai jalur ‎keimanan dan filsafat jalur akal. Disisi lain dapat dilihat dari berbagai perspektif seperti sosial, ‎budaya, psikologi dan lain sebagainya. Sehingga realitas otentik agama berdiri sebagaimana ‎mestinya salah satunya kritik terhadap realitas artifisial. Apabila sudah merusak subtansi hidup ‎maka mesti dikembalikan keasalnya. Sehingga kesadaran refleksional, imitasi dan experion individu ‎terlayani. Pada akhirnya prilaku kebertuhanan seseorang terkontrol. Inilah makna yang dipahami ‎dari dua realitas yang berbeda dengan perannya sendiri-sendiri. Hal tersebut dapat diselesaikan ‎dengan mempelajari aspek-aspek filosofisnya secara bersamaan.‎ 

Berdasarkan asumsi di atas perlu diuraikan agar memberikan makna filosofis. Sehingga dapat ‎dicerna dan dikembangkan bagaimana menyerap pelajaran dari realitas otentik agama dimaksud.‎ 

II.‎ Pembahasan 

A.‎ Realitas otentik sebagai kritik terhadap realitas buatan 

Realitas otentik meliputi lima aspek yaitu alam semesta, harmoni keseimbangan, ‎kekuasaan, kematian dan kebenaran. Sementara realitas buatan sebagai efek yang muncul dari ‎aspek otentik, yaitu kebudayaan, konflik penghancuran, birokrasi kekuasaan, pembunuhan ‎dan pembenaran.‎ 

B.‎ Hirarki realitas otentik 

Hirarki realitas otentik secara bertingkat dimulai dari teos, kosmos, antropos dan ‎kebudayaan. Dalam setiap kebudayaan ada antropos, ada kosmos dan ada teos. Subtansi ‎paling dasar adalah teos, karena cosmos dan antropos ada karena adanya teos (Tuhan). Tetapi, ‎kebudayaan dapat bergerak menghancurkan antropos dan kosmos dan akhirnya menjadi anti-‎teos. Hal ini dapat diambil pelajaran terhadap produksi hasil karya manusia modern, seperti ‎Hand Pone (HP). HP ini di dalamnya terdapat cosmos berupa bahan-bahan logam sekaligus ‎antropos berupa elemen-elemen lainnya dan juga merupakan hasil kebiudayaan yang ‎bersumber dari Teos (Tuhan). Semuanya saling terkait, yang pada akhirnya keberadaan ‎semuanya itu atas adanya Tuhan.

C.‎ Realitas otentik agama Realitas otentik agama adalah asli dan tunggal seperti kitab suci, firman dan kedamaian. ‎Sedangkan realitas buatan adalah dibuat dan bersifat plural, seperti penafsiran, pengajaran dan ‎kekerasan. Kedua realitas ini sering terjadi tarik-menarik, yang mesti dimenangkan adalah ‎realitas otentik. 

Apabila telah mendatangkan mudharat pada prikehidupan dan ‎prikemakhlukan, maka mesti dikembalikan kepada kenaran realitas otentik.‎ ‎

D.‎ Kitab suci otentik, penafsiran artifisial 

Kitab suci adalah realitas otentik, namun dari inilah muncul aliran pemikiran ideologi, ‎mazhab atau golongan, dan perubahan atau keanekaragaman. Seseorang berhak menolak hasil ‎dari pemahaman terhadap kitab suci, namun tidak boleh memutlakkan hasil pemahaman atau ‎penafsiran terhadap kitab suci tersebut. Hal ini bukan bearti menolak kitab suci. Nah, untuk ‎menguraikan hal dimaksud perlu pemahaman yang mumpuni.‎ 

E.‎ Kemutlakan agama dan kenisbian penafsiran 

Al-Qurán sebagai realitas otentik melahirkan berbagai penafsiran seperti yang dilakukan ‎oleh Ibu Katsir, Hamka, Quraish Shihab dan lain-lain. Bagi seorang Muslim tidak boleh menolak ‎al-Qur’an, tetapi boleh menolak atau berbeda pendapat terhadap penafsiran, begitu juga ‎terhadap penerjemahan al-Qur’an. Karena hal tersebut hasil interpretasi manusia, mungkin ‎keliru dan berkemungkinan juga benar.‎ 

F.‎ Islam dan Muslim 

Islam pada dasarnya adalah satu, namun dari Islam sebagai agama menjadikan pengikut ‎yang dikenal dengan Muslim dan ORMAS. Kemudian muncul kebudayaan dan pemahaman, ‎institusi birokrasi. Pada akhirnya menyebabkan peperangan dan kebaruan.

Kebertuhanan, keberagamaan, dan kebenaran ibaratnya sebuah perjalanan pendakian ke ‎puncak Gunung. Pendakian tersebut dapat ditempuh dari segala penjuru yang bergerak naik ‎menuju puncaknya. Sementara itu, perbedaan ada pada titik awal perjalanan, yaitu dalam ‎menempuh perjalanannya ke puncak. Akan tetapi, setelah sampai di puncak Gunung semua ‎perbedaan dan perjalanan pada hakekatnya sama-sama menuju puncak. Cakrawala kesatuan ‎dicapai dalam realitas di puncak.

Demikian juga halnya dari Tuhan yang satu, banyak nabi dari Tuhan yang satu, banyak kitab ‎suci dari Tuhan yang satu, banyak nama atau sebutan. Kemudian dari nabi dan kitab yang satu ‎banyak penafsiran aliran dan mazhab. Kenapa kita berkelahi dalam perbedaan dan tidak bisa ‎memahami kesatuan dalam perbedaa?. Sedangkan Tuhan itu Mahapengasih dan ‎Mahapemurah bagi semua hamba-Nya. Kita dari Tuhan yang satu dan akan kembali kepada-‎Nya.‎ 

Pengembangan lain juga dapat diambil contoh dalam Injil. Baru-baru ini, terdapat Alkitab ‎Edisi terbaru dalam 4 Bahasa ( Inggris, Ibrani Modern, Ibrani Paleo & Ibrani Pictographic ). ‎Hebatnya lagi nama TUHAN ( ‎יהוה‎ ) ditulis konsisten dalam bentuk Paleo Hebrew kecuali ‎bahasa Pictographic Hebrew ( Pictograf Proto Kanaan sebagai sistem penulisan awal alfabet ‎Hebrew (Ibrani). Pembuktian Alkitab edisi terbaru ini (salah satunya ) dapat di dilihat di ‎Dokumen Gua Qumran (Dead Sea Scroll). Penyingkapan Firman-Nya mulai dibukakan dalam ‎aslinya. Penyebutan nama-nama Tuhan, kadang para teolog mengungkapkan seperti Elohim, ‎Eloakh dan Elsaday dan seterusnya. Simak pengalaman sahabat saya dari Kristen (Marten ‎Tendean):‎ ‎ 

“Saya punya cerita singkat tentang pengalaman saya mencoba menerjemahkan Alkitab ‎dari bahasa Ibrani ke Indonesia bersama sahabat saya pengikut Yudaisme. Setelah ‎beberapa lembar dibuat, tanpa sepengetahuannya saya print out hasilnya, ternyata ada ‎kesalahan penulisan dalam bahasa Ibrani. Dalam lembar tsb ternyata ada nama TUHAN ‎‎(dlm huruf Ibrani). Waktu itu saya belum tahu jika ada kesalahan penulisan, maka lembar ‎tersebut harus di musnahkan. Brother tahu cara memusnahkan lembar yang ada nama ‎TUHAN tidak boleh di sobek, di bakar atau dibuang ke tempat sampah, dan lain-lain... ‎selain harus di kubur. Hebat tidak cara memperlakukan/menghormati nama TUHAN dari ‎sudut pandang penulisan...dan masih banyak lagi cerita lainnya... bersambung ya bro.”‎ 

Terdapat satu komentar lagi dari Marten Tendean kepada Elius Gea, bahwa:‎ ‎“Jika suatu waktu bro Elius Gea melihat atau membaca atau mendengar nama TUHAN ‎dalam huruf Ibrani ... tapi di sebut HASHEM ... itu ada ceritanya tersendiri. Pasti juga ‎mungkin bro bertanya tanya, kenapa dalam Alkitab tertulis nama ALLAH dan TUHAN ... ‎apa hubungannya dengan El, Eloah, Elohim, adonai, kurios, El shadday, El Olam, dan ‎masih banyak lagi seperti nama-nama malaikat atau nabi yang berakhiran EL ... benar ‎tidak...he..he.” Alius Gea menjawab, “Iya Sir memang saya sangat ingin tau apalagi kalau ‎diperhatikan dalam Kejadian pasal 1 s/d 2: 3 disitu hanya disebut Allah nanti setelah di ‎ciptakan manusia pertama Kej .2: 4 baru disebut Tuhan Allah”. ‎ 

G.‎ Realitas buatan keagamaan mengurung kreatifitas 

Realitas keagamaan buatan itu tidak bisa dihindari dan akan selalu ada baik ideologi, ‎mazhab, aliran, dan institusi sosial kegamaan. Tetapi, realitas buatan tersebut tidak mutlak dan ‎tidak boleh dimutlakan. Fanatik boleh, tetapi untuk internal saja, bukan untuk orang lain ‎‎(eksternal). Solidaritas kemanusiaan perlu dibangun di atas solidaritas agama.‎ 

H.‎ Agama untuk kedamaian bukan untuk kekerasan 

Solidaritas kemanusiaan dan solidaritas kegamaan sering bentrok atau malah dapat ‎digabungkan. Agama pada hakekatnya untuk manusia, tetapi manusia tidak boleh terkurung ‎dalam institusi keagamaan buatan. Solidaritas agama untuk kemanusiaan. Bukan solidaritas ‎kemanusiaan untuk institusi keagamaan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi paradoks ‎fundamental agama, yang semula untuk kedamaian. Tetapi jatuh pada kekerasan dan ‎sektarianisme agama untuk manusia bukan untuk Tuhan.‎ 

III.‎ Kesimpulan 

Menelaah secara filosofis realitas otentik agama menjadi sangat urgen agar pemahaman ‎terhadap agama dan segala terkait dengan tern ini yang bersifat tunggal melahirkan ‎sesuatu yang plural. Akibat dari hirarki ini dapat dikontrol dengan pemahaman ini. Sehingga ‎berdampak positif pada perkembangan persepsi, konseptual dan mendapatkan pengalaman yang ‎bermakna. ‎ 

Tujuan memahami realitas otentik agama ini adalah untuk meletakkan agama pada posisi yang benar ‎dan tepat agar tercipta keharmonisan dengan realitas artifisial (buatan). Karena, dengan ‎melakukan ini maksud dan tujuan dimaksud membuahkan hasil keselamatan dan kedamaian. ‎Karena sesungguhnya kekuatan otentik itu hanya dapat diluluhkan dengan ketaatan agar ‎senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang kita peroleh karena kasih sayang-Nya.‎ 

Referensi 

Marten Tendean, Dialog di Facebook tentang Alkitab, (Rabu, tanggal 3 November 2021)‎

Musa Asy`arie, Realitas Otentik Agama pertemuan kelima, (Yogyakarta: eSfima, 31 Oktober 2021)‎

Kamis, 04 November 2021

Kisah Para Istri yang Diabadikan Allah dalam Al Qur'an


Kisah Para Istri yang Diabadikan Allah dalam Al Qur'an

Allah mengabadikan kisah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth terhadap pengkhianatan mereka terhadap suami-suaminya. Dilain sisi Allah juga menginformasikan istri Fir'aun dan Maryam sebagai perbandingan ketaatan mereka kepada Allah dan keistiqamahan mereka menjaga iman dan kehormatannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ. (قرآن سورة التحريم/٦٦: ١٠)

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS. At-taḥrīm/66: 10)

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ. (قرآن سورة التحريم/٦٦: ١١)

Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-taḥrīm/66: 11)

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ. (قرآن سورة التحريم/٦٦: ١٢)

Demikian pula Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan yang membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, serta yang termasuk orang-orang taat. (QS  At-taḥrīm/66: 12)

Seperti itu juga Allah menegaskan tentang Maryam ibunya Nabi Isa 'alaihi salam yang diabadikan dalam firman-Nya,

مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌ  ۗ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٢: ٧٥)

Almasih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya makan (seperti halnya manusia biasa). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahlulkitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran). (QS. Al-Mā'idah/5: 75)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ أَنَّ ابْنَ قَارِظٍ أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ. (رواه أحمد: ١٥٧٣)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari 'Ubaidullah bin Abu Ja'far bahwa Ibnu Qarizh mengabarinya dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; 'Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu inginkan'." (HR. Ahmad: 1573 - hasan lighairihi, namun sanadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin Al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Catatan: pada sanad hadits riwayat imam Ahmad: 1573, ulama berbeda pendapat memberikan penilaian terhadap 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi' tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth, Muhammad bin Sa'id dan ad Dzahabi menilainya dha'if, sementara Hakim menilai dzahibul hadits dan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Selebihnya adalah periwayat Maqbul.

Rasulullah memuji kepada wanita kaum Quraisy, sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ يَعْنِي نِسَاءَ قُرَيْشٍ. (رواه أحمد: ٩٦٧٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Hammad dari Muhammad bin Ziyad berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Aku mendengar Abul Qasim ﷺ bersabda, "Sebaik-baik wanita pengendara unta, sangat sayang terhadap anak dan taat (amanah) kepada suaminya dalam menjaga hartanya adalah wanita Quraisy." (HR. Ahmad: 9679 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Istri bagaimana yang paling baik? Maka Rasulullah menjawab, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ. (رواه أحمد: ٩٢٨١)

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu 'Ajlan aku mendengar bapakku dari Abu Hurairah berkata; (suatu ketika) ditanyakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah, wanita yang bagaimana yang paling baik?" maka beliau menjawab, "Wanita yang menyenangkan hati jika dilihat, taat jika diperintah dan tidak menyelisihi pada sesuatu yang ia benci terjadi pada dirinya (istri) dan harta suaminya." (HR. Ahmad: 9281 - isnadnya qawi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Satu hal yang perlu diingat dalam setiap kewajiban adalah menaati selagi dalam syari'at bukan maksiat. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Al Bukhari berikut:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ. (رواه البخاري: ٦٦١١)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari 'Ubaidullah Telah menceritakan kepadaku Nafi' dari Abdullah radhiallahu'anhu, dari Nabi ﷺ bersabda, "Mendengar dan taat adalah wajib bagi setiap muslim, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai, selama ia tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan, adapun jika ia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak ada hak mendengar dan menaati." (HR. Al Bukhari: 6611 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 3423 (hadits Masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari empat jalur periwayatan dan dari empat orang gurunya), at Tirmidzi: 1629, an Nasa'i: 4135, Abu Daud: 2257. Semuanya dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ الْمَكِّيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ الطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ أَوْ كَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ. (رواه إبن ماجه: ٢٨٥٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh; telah memberitakan kepada kami Al Laits bin Sa'ad dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar; demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lainnya, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah dan Suwaid bin Sa'id, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Raja` Al Makki dari Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah seorang muslim senantiasa taat, baik yang ia sukai atau ia benci, kecuali apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kata mendengar dan taat lagi." (HR. Ibnu Majah: 2855 - shahihul isnad menurut Nashiruddin al Albani dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits masyhur, Karena imam Ibnu Majah meriwayatkan dari tiga jalur periwayatan dan dari tiga orang gurunya)

Demikian hadits riwayat imam Ahmad: 4439 dan 5996 (hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya) - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Sementara itu dalam lafazh lain diriwayatkan oleh imam Ahmad:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَتَّابٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ
بَايَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِيمَا اسْتَطَعْتُ. (رواه أحمد: ١٢٤٥٤)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Attab berkata, saya telah mendengar Anas bin Malik berkata, aku berbaiat pada Nabi ﷺ untuk mendengar dan taat semaksimal kemampuanku. (HR. Ahmad: 12454 - shahih lighairihi, isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

AKIBAT BAKHIL DAN HIJRAH PALING BERAT

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ وَيَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُكْتِبِ عَنْ أَبِي كَثِيرٍ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَمَرَهُمْ بِالظُّلْمِ فَظَلَمُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا وَإِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُحْشَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَلَا التَّفَحُّشَ قَالَ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ قَالَ فَقَامَ هُوَ أَوْ آخَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ
قَالَ أَبِي و قَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ فِي حَدِيثِهِ ثُمَّ نَادَاهُ هَذَا أَوْ غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَهْجُرَ مَا كَرِهَ رَبُّكَ وَهُمَا هِجْرَتَانِ هِجْرَةٌ لِلْبَادِي وَهِجْرَةٌ لِلْحَاضِرِ فَأَمَّا هِجْرَةُ الْبَادِي فَيُطِيعُ إِذَا أُمِرَ وَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ وَأَمَّا هِجْرَةُ الْحَاضِرِ فَهِيَ أَشَدُّهُمَا بَلِيَّةً وَأَعْظَمُهُمَا أَجْرًا. (رواه أحمد: ٦٥٠٢)

Telah menceritakan kepada kami Waqi' telah menceritakan kepada kami Al Mas'udi. Dan Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Mas'udi dari 'Amru bin Murroh dari Abdullah bin Al Harits Al Muktibi dari Abu Katsir Az Zubaidi dari Abdullah bin 'Amru, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Berhati-hatilah kalian dari sifat bakhil, sesungguhnya sifat bakhil telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, jika sifat itu menyuruh mereka berbuat zalim, mereka pun berbuat zalim, jika menyuruh mereka untuk memutuskan hubungan kekerabatan mereka pun memutuskannya, jika menyuruh berbuat dosa mereka pun berbuat dosa. maka berhati-hatilah kalian dari berbuat zalim, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan berhati-hatilah kalian dari sifat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka dengan kekejian dan perkataan keji." Dia berkata; maka berdirilah seorang laki-laki seraya berkata, "Wahai Rasulullah, muslim yang bagaimanakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Yaitu seorang muslim yang kaum muslimin selamat dari bahaya lisan dan tangannya." Dia berkata, maka berdirilah laki-laki tersebut, atau laki-laki lainnya seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, jihad yang bagaimanakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang kudanya terluka dan darahnya bersimbah." Bapakku berkata; dan Yazid bin Harun berkata dalam haditsnya, kemudian ini atau yang lainnya berseru dan berkata, "Wahai Rasulullah, hijrah yang bagaimana yang paling utama?" Beliau menjawab, "Engkau jauhi sesuatu yang telah dibenci oleh Rabb-mu, sedangkan hijrah itu sendiri ada dua; Hijrah Al Hadhir dan Hijrah Al Badiy. Hijrah Al Badiy adalah taat apabila diperintah, dan selalu siap jika diseru. Adapun Hijrah Al Hadhir adalah hijrah yang lebih berat ujian dan pahalanya di antara kedua hijrah tersebut." (HR. Ahmad: 6502 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hadits 'aziz, Karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya)

Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud: 1447 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Namun hanya sampai lafazh "وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا" ( ...  dan mereka diperintahkan untuk berbuat dosa maka merekapun berbuat dosa).

Secara terpisah juga diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُكْتِبِ عَنْ أَبِي كَثِيرٍ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَهْجُرَ مَا كَرِهَ رَبُّكَ وَهُمَا هِجْرَتَانِ هِجْرَةُ الْحَاضِرِ وَهِجْرَةُ الْبَادِي فَأَمَّا هِجْرَةُ الْبَادِي فَيُطِيعُ إِذَا أُمِرَ وَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ وَأَمَّا هِجْرَةُ الْحَاضِرِ فَهِيَ أَشَدُّهُمَا بَلِيَّةً وَأَعْظَمُهُمَا أَجْرًا. (رواه أحمد: ٦٥٢١)

Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Al Mas'udiy dari Amru bin Murrah dari Abdullah bin Al Harits Al Maktab, dari Abu Katsir Az Zubaidiy dari Abdullah bin 'Amru, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, dia berkata, "Hijrah yang bagaimana yang paling utama?" beliau menjawab, "Yaitu engkau jauhi apa yang telah dibenci oleh Rabb-mu, dan itu ada dua hijrah; Hijrah Al Hadhir dan Hijrah Al Badiy. Hijrah Al Badiy adalah engkau selalu taat jika diperintah, dan selalu siap jika diseru. Adapun Hijrah Al Hadhir adalah hijrah yang lebih berat ujian dan pahalanya di antara kedua hijrah tersebut." (HR. Ahmad: 6521 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Lihat juga hadits riwayat Ahmad: 1642 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H.

Wallaahu a'lam bish shawab.