Pages - Menu

Rabu, 25 Februari 2026

MANFAAT MEMADUKAN DUA MAKANAN YANG BERBEDA KARAKTER SEKALIGUS


MANFAAT MEMADUKAN DUA MAKANAN YANG BERBEDA KARAKTER SEKALIGUS
(KURMA MUDA DENGAN SEMANGKA)

Makanan yang sehat dan berkualitas bukan hanya ditentukan oleh jenisnya tetapi juga bagaimana makanan yang dikonsumsi tersebut mampu saling menetralisir efek buruknya, sehingga lebih bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Nabi Muhammad mencontohkan melalui tindakan beliau. Sebagaimana terekam dalam hadis riwayat imam Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad berikut.

Riwayat imam Ibnu Majah: 3317 dari Sahal bin Sa'id bin Malik (w. 88 H) bahwa,

"كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكل الرطب بالبطيخ" 

(Rasullullah SAW pernah makan kurma basah dengan semangka). 

Hadis senada dengan sanad berbeda, yaitu dari Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh imam Ahmad: 11996 dan diulang penulisannya pada hadis ke-12005.

Sementara, imam Abu Daud: 3339 meriwayatkan ... 'Aisyah berkata, "Dahulu Rasulullah SAW pernah memakan buah semangka dengan ruthab (kurma muda). Beliau lalu bersabda, "Kita redakan unsur panas ini (dari ruthab) dengan unsur dingin (semangka) ini, sehingga terpadulah unsur dinginnya dengan unsur panas ini." Lafazh hadis dimaksud,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكل البطيخ بالرط فيقول نكسر حر هذا ببرد هذا وبرد هذا بحر هذا. (رواه أبوداد: ٣٣٣٩- حسن)

Hadis ini mengajarkan bahwa menggabungkan dua makanan yang berbeda karakter dapat saling menetralisir dan sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

By. Samsurizal

Jumat, 06 Februari 2026

Hadis Tsulatsiyat 2: Kontribusi Studi Sanad Pendek dalam Muwaththa’ Imam Malik


Hadis Tsulatsiyat 2: Kontribusi Studi Sanad Pendek dalam Muwaththa’ Imam Malik 
Oleh: Samsurizal 

Buku Hadis Tsulatsiyat 2 karya Samsurizal (Bintang Pustaka, 2025) merupakan kontribusi penting dalam kajian hadis kontemporer, khususnya pada studi sanad pendek (tsulātsiyyāt) dalam kitab Muwaththa’ Imam Malik. Karya ini menghimpun 336 hadis yang diriwayatkan melalui jalur tiga periwayat antara Imam Malik dan Rasulullah ﷺ, bersumber dari 68 sahabat dan tersebar dalam 226 tema. 

Struktur sanad yang ringkas tersebut menempati posisi strategis dalam ilmu hadis karena dinilai memiliki tingkat otentisitas tinggi dan risiko kelemahan periwayat yang relatif lebih kecil. Secara metodologis, buku ini tidak hanya menyajikan teks dan terjemahan hadis, tetapi juga analisis sanad, syawāhid, serta penilaian kualitas periwayatan berdasarkan kaidah ulumul hadis klasik dan pendekatan akademik modern. Fokus pada tradisi Muwaththa’ menunjukkan relevansi pemikiran Imam Malik yang menjadikan amal Ahlul Madinah sebagai otoritas epistemologis dalam penetapan hukum. Dengan demikian, karya ini menjembatani khazanah klasik dengan kebutuhan studi Islam global yang menuntut pembacaan kontekstual dan kritis. 

Kehadiran buku ini memperkaya literatur berbahasa Indonesia yang masih terbatas dalam kajian tsulātsiyyāt. Bagi akademisi, mahasiswa pascasarjana, dan peneliti hadis, karya ini menjadi referensi strategis untuk memahami dinamika transmisi hadis, validitas sanad, serta relevansinya terhadap isu-isu keagamaan kontemporer. Pendekatan sistematis yang digunakan juga memudahkan pembaca menelusuri keterkaitan tema ibadah, muamalah, dan etika sosial dalam perspektif sunnah. 

Penulisnya, Samsurizal, adalah akademisi STAI Balaiselasa yang menekuni tafsir, hadis, dan peradaban Islam secara interdisipliner. Sejak 2007 ia aktif mengembangkan wacana keislaman melalui riset dan publikasi bereputasi. Lulusan Magister Tafsir Hadis IAIN Imam Bonjol dan pemegang Certificate of Islamic Philosophy ESFIMA ini juga dikenal sebagai editor jurnal dan penulis produktif, sehingga karyanya merefleksikan integrasi antara ketelitian ilmiah dan visi keislaman global. 

Afiliasi Institusi : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Balaiselasa, Indonesia 
Sinta ID : 6869635