Pages - Menu

Sabtu, 20 Desember 2025

MENAGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH

MENANGIS KARENA ALLAH

Rasulullah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh imam An-Nasa'i,

أَخْبَرَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ الْمَسْعُودِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عِيسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ تَعَالَى حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ نَارِ جَهَنَّمَ. (رواه النسائي: ٣٠٥٧)

Telah mengabarkan kepada kami Hannad bin As Sari dari Ibnu Al Mubarak dari Al Mas'udi dari Muhammad bin Abdur Rahman dari Isa bin Thalhah dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Tidak akan masuk neraka seorang laki-laki yang menangis karena takut kepada Allah Ta'ala hingga air susu kembali ke putting, dan tidak berkumpul debu di jalan Allah dan asap api jahanam. (HR. An-Nasa'i: 3057 - sahih dari Abu Hurairah)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi: 1557 dan diulang penulisannya pada hadis ke-2233, begitu juga riwayat imam Ahmad: 10156 - sahih dari Abu Hurairah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ مِنْ ذُرِّيَّةِ اٰدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۖ وَّمِنْ ذُرِّيَّةِ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْرَاۤءِيْلَ ۖوَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَاۗ اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُ الرَّحْمٰنِ خَرُّوْا سُجَّدًا وَّبُكِيًّا ۩. (قرآن صورة مريم/١٩: ٥٨)

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yakni para nabi keturunan Adam, orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, keturunan Ibrahim dan Israil (Ya‘qub), serta orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka tunduk, sujud, dan menangis (Maryam [19]:58).

Minggu, 28 September 2025

SUSUNAN AYAT DAN SURAT DALAM AL-QUR'AN


SUSUNAN AYAT DAN SURAT DALAM AL-QUR'AN 
Tauqifiy dan Ijtihadiy 
Oleh: Samsurizal, MA 

Bismillaahir rahmaanir rahiem, Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Allah menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad secara bertahap atau berangsur-angsur. Keterangan mengenai ini bisa dibaca pada QS. Al-Isra'/2: 106, "Dan Al-Qur'an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap"; dan QS. Al-Furqaan/25: 32, "Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)".

Dalam kajian ulumul Qur’an diterangkan bahwa surah pertama yang turun kepada Nabi adalah QS. Al-‘Alaq/96: 1-5, wahyu berikutnya adalah QS. Al-Mudatsir/74: 1-7 dan ayat terakhir, menurut sebagian ulama sesuai dengan keterangan hadis Rasulullah adalah QS. Al-Ma’idah/5: 3. Dengan demikian, wahyu yang sampai kepada Rasulullah tidak seperti susunan mushaf yang dijumpai pada saat ini. Mengenai urutan ayat, para ulama bersepakat, bahwa urutan tersebut bersifat tauqifi, bersumber dari keterangan Rasulullah, namun berkaitan dengan urutan surat, para ulama tidak satu pendapat. 

Keragaman ini berdasarkan fakta bahwa mushaf para sahabat ternyata berbeda urutannya. Mushaf Ibnu Abbas, misalnya, urutannya terdiri atas al-Baqarah, an-Nisa, lalu Ali Imran, sementara mushaf yang disusun Ubay bin Ka'ab diawali dengan al-Fatihah, al-Baqarah, an-Nisa, lalu Ali Imran. Inilah di antara yang mendasari para ulama mengatakan bahwa urutan surat masuk pada ranah ijtihad, dan bukan tauqifi. Syekh Manna' al Khaththan dalam bukunya Mabahis fi Ulumil Quran dalam kaitan ini membagi pendapat para ulama menjadi tiga pendapat besar, yaitu: 

1. Pendapat pertama mengatakan, bahwa urutan surat itu tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi Muhammad sebagaimana diberitahukan Malaikat Jibril atas perintah Allah. Pendapat ini didasarkan atas riwayat hadis dan qaul para sahabat. 
 2. Pendapat kedua mengatakan, bahwa urutan surat itu merupakan ijtihad dari sahabat, karena masing-masing sahabat ternyata memiliki urutan surat berbeda satu sama lain. 
3. Pendapat ketiga mengatakan, bahwa urutan sebagian surat itu merupakan tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat. 

Pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa urutan surat adalah tauqifi, ketentuan dari Allah dalam Lauh Mahfudz. Pendapat ini misalnya dikemukakan oleh Ibnu Hajar. Salah satu argementasi yang disampaikan Ibnu Hajar adalah hadits Hudzaifah as-Saqafi yang mengatakan, Rasulullah berkata kepada kami, "Telah datang kepadaku waktu untuk hizb (bagian) dari Al-Qur’an, maka aku tidak ingin keluar sebelum menyelesaikannya. Lalu kami tanyakan kepada sahabat-sahabat Rasulullah; bagaimana kalian membagi Qur’an? Mereka menjawab, 'Kami membaginya menjadi tiga surah, lima surah, tujuh surah, sembilan surah, sebelas surah, tiga belas surah, dan bagian al-muassal dari Qaf sampai khatam." 

Argumentasi lain yang disampaikan adalah riwayat bahwa pada masa kodifikasi kedua kekhalifahan 'Utsman, Al-Qur’an dikumpulkan, ditertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya pada satu dialek, kemudian disepakati bersama, dan mushaf yang ada pada masing-masing sahabat yang berbeda ditinggalkan. Pendapat terakhir ini didukung oleh al-Anbari, al-Kirmani, al-Baihaqi, as-Suyuti, dan lain-lain. 

Argumentasi tauqifi yang dibangun oleh pendukung pendapat ketiga ini, dengan demikian tidak hanya didasarkan pada hadits Rasulullah, tapi juga dibangun dengan bukti berupa mushaf 'Utsmaniy yang disepakati oleh para sahabat, beberapa hal di dalamnya, termasuk urutan surat. 

Wallaahu a'lam bish Shawaab, 
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Sabtu, 29 Maret 2025

HARI RAYA BERSAMA AKAN LEBIH BAIK


HARI RAYA BERSAMA AKAN LEBIH BAIK

IMAM AT-TIRMIDZI MERIWAYATKAN DARI IMAM AL-BUKHARI 

Beliau meriwayatkan,

أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَخْنَسِيِّ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ. (رواه الترمذي: ٦٣٣)

Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Isma'il, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Mundzir, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ja'far bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ja'far, dari 'Utsman bin Muhammad al-Akhnasi, dari Sa'id al-Maqburi, dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Hari puasa itu di saat kalian puasa bersama dan Idulfitri itu di saat kalian berbuka bersama. Demikian halnya Iduladha, di saat kalian berkurban bersama." 

Abu 'Isa berkata, "Hadis ini hasan gharib. Sebagian Ulama menafsirkan hadis ini, 'Sesungguhnya puasa dan berbuka itu bersama massa dan mayoritas orang'" (HR. At-Tirmidzi: 633 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari imam al-Bukhari, nama beliau Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim, ia tabi'ul atba' kalangan pertengahan kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Bukhara dan wafat tahun 256 H. Para ulama kritikus hadis berkomentar, "hapalannya membubung, dan imam dunia".

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah: 1650 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Sementara, imam Abu Daud meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ فِي حَدِيثِ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ قَالَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ وَكُلُّ عَرَفَةَ مَوْقِفٌ وَكُلُّ مِنًى مَنْحَرٌ وَكُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ مَنْحَرٌ وَكُلُّ جَمْعٍ مَوْقِفٌ. (رواه أبوداود: ١٩٧٩)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid, telah menceritakan kepada kami Hammad dalam hadits Ayyub dari Muhammad bin Al Munkadir dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ menyebutkan padanya, beliau berkata, "Dan fitri kalian adalah hari kalian berbuka, adha kalian adalah hari kalian menyembelih, dan seluruh 'Arafah adalah tempat berwukuf, seluruh Mina adalah tempat menyembelih, dan seluruh jalan Makkah adalah tempat untuk menyembelih dan seluruh Muzdalifah adalah tempat wukuf." (HR. Abu Daud: 1979 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Oleh: Samsurizal, MA. C.I.P

https://scholar.google.com/citations?
user=atf2k3IAAAAJ&hl=id