Pages - Menu

Kamis, 10 Oktober 2024

KIBLAT KE BAITUL MAQDIS DAN SHALAT PERTAMA YANG BERKIBLAT KE BAITULLAH



KIBLAT KE BAITUL MAQDIS DAN SHALAT PERTAMA YANG BERKIBLAT KE BAITULLAH

Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ أَنْ يُوَجَّهَ إِلَى الْكَعْبَةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ } فَتَوَجَّهَ نَحْوَ الْكَعْبَةِ وَقَالَ السُّفَهَاءُ مِنْ النَّاسِ وَهُمْ الْيَهُودُ { مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمْ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ } فَصَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ مَا صَلَّى فَمَرَّ عَلَى قَوْمٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ هُوَ يَشْهَدُ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ تَوَجَّهَ نَحْوَ الْكَعْبَةِ فَتَحَرَّفَ الْقَوْمُ حَتَّى تَوَجَّهُوا نَحْوَ الْكَعْبَةِ. (رواه البخاري: ٣٨٤)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Raja' berkata, telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Al Bara' bin 'Azib radhiallahu'anhuma berkata, "Rasulullah ﷺ salat menghadap Baitulmaqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, dan Rasulullah ﷺ menginginkan kiblat tersebut dialihkan ke arah Ka'bah. Maka Allah menurunkan ayat: ("Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit) ' (QS. Al-Baqarah: 144). Maka kemudian Nabi ﷺ menghadap ke Ka'bah. Lalu berkatalah orang-orang yang kurang akal, yaitu orang-orang Yahudi: '(Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmaqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus) ' (QS. Al-Baqarah: 144). Kemudian ada seseorang yang ikut salat bersama Nabi ﷺ, orang itu kemudian keluar setelah menyelesikan salatnya. Kemudian orang itu melewati Kaum Anshar yang sedang melaksanakan salat Asar dengan menghadap Baitulmaqdis. Lalu orang itu bersaksi bahwa dia telah salat bersama Rasulullah ﷺ dengan menghadap Ka'bah. Maka orang-orang itu pun berputar dan menghadap Ka'bah." (HR. Al-Bukhari: 384 - sahih dari al-Barra' bin 'Azib bin al-Harits, ia sahabat kuniyah-nya Abu Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)

Demikian juga hadis riwayat imam al-Bukhari: 4132, 6711 (hadis ahlul Kufah); Muslim: 819 - sahih dari al-Barra' bin 'Azib bin al-Harits, ia sahabat kuniyah-nya Abu Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Lafazh berbeda diriwayatkan oleh imam Muslim,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا حَتَّى نَزَلَتْ الْآيَةُ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ { وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ } فَنَزَلَتْ بَعْدَمَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَمَرَّ بِنَاسٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُمْ يُصَلُّونَ فَحَدَّثَهُمْ فَوَلَّوْا وُجُوهَهُمْ قِبَلَ الْبَيْتِ. (رواه مسلم: ٣١٨)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash, dari Abu Ishaq, dari al-Bara' bin 'Azib, ia berkata, "Aku pernah salat bersama Nabi ﷺ menghadap Baitulmaqdis selama enam belas bulan hingga turun ayat yang ada di dalam surah Al-Baqarah, 'Di mana pun engkau sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.' QS. Al-Baqarah 124 Ayat tersebut turun usai Nabi ﷺ salat, kemudian salah seorang dari suatu kaum bertolak pergi, lalu ia menjumpai beberapa orang dari kalangan Anshar yang tengah salat, lantas ia memberikan informasi kepada mereka akan hal itu, sehingga mereka pun segera berpaling menghadap Masjidilharam." (HR. Muslim: 318 - sahih dari al-Barra' bin 'Azib. Hadis ahlul Kufah)

Shalat pertama kali menghadap Ka'bah adalah shalat Asar. Sebagaimana hadis diriwayatkan oleh imam Muslim,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَوَّلَ مَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ نَزَلَ عَلَى أَجْدَادِهِ أَوْ قَالَ أَخْوَالِهِ مِنْ الْأَنْصَارِ وَأَنَّهُ صَلَّى قِبَلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا وَكَانَ يُعْجِبُهُ أَنْ تَكُونَ قِبْلَتُهُ قِبَلَ الْبَيْتِ وَأَنَّهُ صَلَّى أَوَّلَ صَلَاةٍ صَلَّاهَا صَلَاةَ الْعَصْرِ وَصَلَّى مَعَهُ قَوْمٌ فَخَرَجَ رَجُلٌ مِمَّنْ صَلَّى مَعَهُ فَمَرَّ عَلَى أَهْلِ مَسْجِدٍ وَهُمْ رَاكِعُونَ فَقَالَ أَشْهَدُ بِاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ مَكَّةَ فَدَارُوا كَمَا هُمْ قِبَلَ الْبَيْتِ وَكَانَتْ الْيَهُودُ قَدْ أَعْجَبَهُمْ إِذْ كَانَ يُصَلِّي قِبَلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَهْلُ الْكِتَابِ فَلَمَّا وَلَّى وَجْهَهُ قِبَلَ الْبَيْتِ أَنْكَرُوا ذَلِكَ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ فِي حَدِيثِهِ هَذَا أَنَّهُ مَاتَ عَلَى الْقِبْلَةِ قَبْلَ أَنْ تُحَوَّلَ رِجَالٌ وَقُتِلُوا فَلَمْ نَدْرِ مَا نَقُولُ فِيهِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ }. (رواه البخاري: ٣٩)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Khalid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Zuhair, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari al Barra` bin 'Azib, bahwa Nabi ﷺ saat pertama kali datang di Madinah, beliau singgah di rumah kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari Kaum Anshar, dan saat itu beliau ﷺ salat menghadap Baitulmaqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Beliau sangat senang sekali bilamana kiblatnya menghadap Baitullah (Ka'bah). Salat pertama kali yang dilakukan beliau ﷺ (menghadap Ka'bah) adalah salat Asar, sementara orang-orang pun ikut salat bersama beliau. Pada suatu hari sahabat yang ikut salat bersama Nabi ﷺ pergi melewati orang-orang di Masjid lain saat mereka sedang rukuk, maka ia serukan: "Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku telah ikut salat bersama Rasulullah ﷺ menghadap Baitullah, lantas orang-orang yang tengah rukuk itu berputar menghadap Baitullah, hanya saja orang-orang Yahudi dan Ahlul Kitab menjadi heran, sebab sebelumnya Nabi ﷺ salat menghadap Baitulmaqdis. Ketika melihat Nabi ﷺ menghadapkan wajahnya ke Baitullah, mereka mengingkari hal itu. Zuhair berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari al-Barra`, pada hadisnya ini menerangkan tentang (hukum) seseorang yang meninggal dunia pada saat arah kiblat belum dialihkan dan juga banyak orang-orang yang terbunuh pada masa itu, kami tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan mengenai mereka, sehingga akhirnya Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian." (QS. Al-Baqarah: 143). (HR. Al-Bukhari: 39 - sahih dari al-Barra' bin 'Azib)

Selasa, 17 September 2024

SALAT GHAIB: HADIS SALAT JENAZAH EMPAT TAKBIR ATAU LIMA TAKBIR


SALAT GHAIB: HADIS SALAT JENAZAH EMPAT TAKBIR ATAU LIMA TAKBIR

Imam Muslim meriwayatkan,

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ سَلِيمِ بْنِ حَيَّانَ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى أَصْحَمَةَ النَّجَاشِيِّ فَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا. (رواه مسلم: ١٥٨٢)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Salim bin Hayyan ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Mina` dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah ﷺ salat (ghaib) atas kematian raja An Najasyi, maka beliau pun bertakbir atasnya sebanyak empat kali takbir. (HR. Muslim: 1582 - sahih dari Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Dan, 

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاتَ الْيَوْمَ عَبْدٌ لِلَّهِ صَالِحٌ أَصْحَمَةُ فَقَامَ فَأَمَّنَا وَصَلَّى عَلَيْهِ. (رواه مسلم: ١٥٨٣)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Ibnu Juraij dari Atha` dari Jabir bin Abdullah ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada hari ini, seorang hamba Allah yang shalih Ashmahah meninggal dunia." Akhirnya beliau berdiri dan mengimami kami dan salat (ghaib) atasnya. (HR. Muslim: 1583 - sahih dari Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Diriwayatkan juga oleh imam Ahmad: 13911 - sahih dari Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H.

Ketika Raja Najasyi raja negeri Habsyah meninggal dunia, maka Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk melaksanakan salat ghaib. Sebagaimana hadis diriwayatkan oleh imam Muslim,

و حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُمَا حَدَّثَاهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ نَعَى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجَاشِيَ صَاحِبَ الْحَبَشَةِ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَحَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَفَّ بِهِمْ بِالْمُصَلَّى فَصَلَّى فَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ و حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَحَسَنٌ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ كَرِوَايَةِ عُقَيْلٍ بِالْإِسْنَادَيْنِ جَمِيعًا. (رواه مسلم: ١٥٨١)

 Dan telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin Syu'aib bin Laits, telah menceritakan kepadaku bapakku dari kakekku ia berkata, telah menceritakan kepadaku Uqail bin Khalid dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa keduanya telah menceritakan kepadanya dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, Rasulullah ﷺ mengajak kami untuk menunaikan salat (ghaib) untuk kematian An Najasyi, raja negeri Habasyah. Beliau bersabda, "Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian (An Najasyi)." Ibnu Syihab berkata, Dan telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab, bahwa Abu Hurairah telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ mengatur shaf mereka di Mushalla (tanah lapang), lalu beliau salat (ghaib) dan bertakbir atasnya sebanyak empat kali takbir. Dan telah menceritakan kepadaku Amru An Naqid dan Hasan Al Hulwani dan Abdu Humaid mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'd, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab sebagaimana riwayat Uqail dengan kedua isnad itu. (HR. Muslim: 1581 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhtar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H, hadis ini masyhur)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 1241 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhtar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. 

Hadis terkait, juga diriwayatkan oleh imam Bukhari: 1248,  3589, dan 3540; Muslim: 1586; At-Tirmidzi: 943; An-Nasa'i: 1948; Ibnu Majah: 1527; Ahmad: 6850, 7546, 14360, dan 14361 - sahih.

Sementara dari jalur sanad yang lain, juga diriwayatkan oleh imam Ahmad, 

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ زَمْعَةَ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ الْمَكِّيَّ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ عَلَى النَّجَاشِيِّ فَكَبَّرَ أَرْبَعًا. (رواه أحمد: ٩٨١٩)

Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Zam'ah -yaitu Ibnu Shalih Al Makki- dari Az Zuhri dari Sa'id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, dia berkata, "Bahwasanya Nabi ﷺ mensalati raja Najasyi bersama para sahabatnya, dan beliau bertakbir empat kali." (HR. Ahmad: 9819 - sahih, isnad-nya dha'if dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhtar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Demikian juga dalam konteks lain tentang salat jenazah dengan lima kali takbir. Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ وَأَبُو دَاوُدَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ كَانَ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا وَأَنَّهُ كَبَّرَ عَلَى جِنَازَةٍ خَمْسًا فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُهَا. (رواه إبن ماجه: ١٤٩٤)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hakim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adiy dan Abu Daud dari Amru bin Murrah dari 'Abdurrahman bin Abu Laila ia berkata, "Ketika mensalati jenazah Zaid bin Arqam takbir sebanyak empat kali, dan suatu ketika ia pernah mensalati jenazah lalu bertakbir lima kali, maka aku pun menanyakan hal itu kepadanya, ia menjawab, "Rasulullah ﷺ pernah melakukan itu (takbir lima kali)." (HR. Ibnu Majah: 1494 - sahih dari Zaid bin Arqam bin Zaid, ia sahabat kuniyah-nya Abu Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 68 H. Masyhur dikalangan sahabat)

Dan, 

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَلِيٍّ الرَّافِعِيُّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ خَمْسًا. (رواه إبن ماجه: ١٤٩٥)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir Al Hizami berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ali Ar Rafi'I dari Katsir bin Abdullah dari Bapaknya dari Kakeknya berkata, "Rasulullah ﷺ bertakbir sebanyak lima kali." (HR. Ibnu Majah: 1495 - sahih dari Amru bin 'Auf bin Amru, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdullah negeri dan hidup Madinah, hadis ahlul Madinah)

Minggu, 26 Mei 2024

SYAHID PELEBUR DOSA


SYAHID MELEBUR DOSA

Imam Muslim meriwayatkan,

و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي عَيَّاشُ بْنُ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا الدَّيْنَ. (رواه مسلم: ٣٤٩٩)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin harb, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid Al Muqri`i, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Ayyub, telah menceritakan kepadaku 'Ayyasy bin Abbas Al Qitbani dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin 'Amru bin 'Ash, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Syahid di jalan Allah akan melebur setiap dosa kecuali utang." (HR. Muslim: 3499 - sahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al-Ash bin Wa'il, ia sahabat kuniyah-nya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadis riwayat Muslim hadis ke-3498, imam Muslim meriwayatkan dari Zakariya bin Yahya bin Shalih, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyah-nya Abu Yahya negeri hidup Maru dan wafat tahun 242. Sedangkan hadis di atas ia terima dari Zuhair bin Harb bin Syaddad, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyah-nya Abu Khaitsamah negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 234 H. Keduanya periwayat tsiqah.

Sababul wurud-nya diinformasikan dalam hadis riwayat imam at-Tirmidzi: 1564. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ طَلْحَةَ الْيَرْبُوعِيُّ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ خَطِيئَةٍ فَقَالَ جِبْرِيلُ إِلَّا الدَّيْنَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا الدَّيْنَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ وَجَابِرٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي قَتَادَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ هَذَا الشَّيْخِ قَالَ وَسَأَلْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَعِيلَ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَلَمْ يَعْرِفْهُ و قَالَ أَرَى أَنَّهُ أَرَادَ حَدِيثَ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَسُرُّهُ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا إِلَّا الشَّهِيدُ. (رواه الترمذي: ١٥٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Thalhah Al Yarbu'I Al Kufi berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ayyasy dari Humaid dari Anas ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Gugur di jalan Allah dapat menghapuskan setiap dosa." Jibril kemudian berkata, "Kecuali utang." Maka Nabi ﷺ lalu bersabda, "Kecuali utang." Abu Isa berkata, "Dalam bab ini juga ada hadits dari Ka'b bin Ujrah, Jabir, Abu Hurairah dan Qatadah. Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahui hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr kecuali dari jalur syaikh ini. Ia berkata, "Aku bertanya kepada Muhammad bin Isma'il tentang hadits ini, tetapi ia tidak mengetahuinya. Ia (Muhammad bin Isma'il) berkata, "Menurutku yang ia (Yahya bin Thalhah) maksud adalah hadits Humaid, dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Tidak seorang pun dari penduduk surga yang senang untuk kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid." (HR. At-Tirmidzi: 1564 - sahih dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Sementara imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو كَثِيرٍ مَوْلَى اللَّيْثِيِّينَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَحْشٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا لِي إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ الْجَنَّةُ فَلَمَّا وَلَّى قَالَ إِلَّا الدَّيْنُ سَارَّنِي بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام آنِفًا. (رواه أحمد: ١٦٦١٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amru dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Katsir mantan budak Al Laitsiyyin, dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, apakah ganjaran untukku jika aku dibunuh di jalan Allah?" Beliau menjawab, "Surga." Kemudian ketika beliau berpaling, beliau bersabda, "Kecuali utang, tadi Jibril 'alaihissalam telah memberitahukannya kepadaku." (HR. Ahmad: 16616 - shahihlighairi, isnad-nya hasan dari Muhammad bin 'Abdullah bin Jahsyi, ia sahabat kuniyah-nya Abu 'Abdullah dan negeri hidup Madinah)

Hadis-hadis tersebut di atas diriwayatkan secara makna dari sahabat yang berbeda. Sehingga masing-masing hadis saling menguatkan dan melengkapi.

Syahid yang dimaksud oleh hadis-hadis di atas adalah dalam pengertian gugur di medan perang melawan musuh Islam. Sehingga perlu di pilah dan dibedakan, sebab meninggalnya seseorang dikatakan syahid apabila termasuk dalam hadis yang menginformasikan tentang hal dimaksud. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis berikut:

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ عَنْ أَبِي عُمَيْسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَبْرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَادَ جَبْرًا فَلَمَّا دَخَلَ سَمِعَ النِّسَاءَ يَبْكِينَ وَيَقُلْنَ كُنَّا نَحْسَبُ وَفَاتَكَ قَتْلًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ وَمَا تَعُدُّونَ الشَّهَادَةَ إِلَّا مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ شُهَدَاءَكُمْ إِذًا لَقَلِيلٌ الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ شَهَادَةٌ وَالْبَطْنُ شَهَادَةٌ وَالْحَرَقُ شَهَادَةٌ وَالْغَرَقُ شَهَادَةٌ وَالْمَغْمُومُ يَعْنِي الْهَدِمَ شَهَادَةٌ وَالْمَجْنُونُ شَهَادَةٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدَةٌ قَالَ رَجُلٌ أَتَبْكِينَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ قَالَ دَعْهُنَّ فَإِذَا وَجَبَ فَلَا تَبْكِيَنَّ عَلَيْهِ بَاكِيَةٌ. (رواه النسائي: ٣١٤٣)

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin 'Aun dari Abu 'Umais dari Abdullah bin Abdillah bin Jabar dari ayahnya bahwa Rasulullah ﷺ kembali, kemudian tatkala beliau masuk maka beliau mendengar para wanita menangis, dan mereka berkata, kami mengira Anda meninggal karena terbunuh di jalan Allah. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah kalian menganggap syahid kecuali orang yang terbunuh di jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang syahid kalian jika demikian sungguh sedikit. Terbunuh di jalan Allah adalah syahid, meniggal karena sakit perut adalah syahid, terbakar adalah syahid, tenggelam adalah syahid, orang yang tertimpa reruntuhan adalah syahid, orang yang mati karena gila adalah syahid, wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid." Seorang laki-laki berkata, apakah kalian menangis sedangkan Rasulullah ﷺ sedang duduk? Beliau bersabda, "Biarkan mereka, apabila telah meninggal maka tidak boleh ada seorang wanitapun yang menangisinya." (HR. An-Nasa'i: 3143 - sahih dari 'Abdullah bin Jabar bin 'Atik, ia tabi'in dan negeri hidup Madinah - maqbul)

Rabu, 22 Mei 2024

MASJID QUBA DAN ARAH QIBLAT

MASJID QUBA DAN ARAH QIBLAT

Keutamaan Salat di Masjid Quba dan Awal Perubahan Arah Kiblat

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَبْرَدِ مَوْلَى بَنِي خَطْمَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أُسَيْدَ بْنَ ظُهَيْرٍ الْأَنْصَارِيَّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ كَعُمْرَة. (رواه إبن ماجه: ١٤٠١)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Abdul Hamid bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Abrad mantan budak bani Khathmah, ia mendengar Usaid bin Zhuhair Al Anshari -ia termasuk sahabat Nabi ﷺ- ia menceritakan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Salat di masjid Quba seperti melakukan Umrah." (HR. Ibnu Majah: 1401 - sahih dari Usaid bin Zhahir bin Rafi')

Demikian juga hadis riwayat imam at-Tirmidzi: 298 - sahih dari Usaid bin Zhahir dari dua jalur sanad yang sama. Imam an-Nasa'i: 692 dan Ahmad: 15414, mereka meriwayatkan dari Sahal bin Hunaif.

Sementara itu imam Ibnu Majah meriwayatkan dari jalur Sahal bin Hunaif bin Wahib, ia berkata:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَعِيلَ وَعِيسَى بْنُ يُونُسَ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْكَرْمَانِيُّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ بْنَ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ يَقُولَ قَالَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ. (رواه إبن ماجه: ١٤٠٢)

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dan Isa bin Yunus keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al Karmani berkata, aku mendengar Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata, Sahl bin Hunaif berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba dan salat di dalamnya, maka ia akan mendapatkan pahala umrah." (HR. Ibnu Majah: 1402 - sahih dari Sahal bin Hunaif bin Wahib, ia sahabat kuniyah-nya Abu Tsabit negeri hidup Madinah dan wafat tahun 38 H)

Di Masjid Quba juga merupakan awal turunnya perintah untuk merubah arah kiblat dari Baitulmaqdis ke Ka'bah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat imam an-Nasa'i, beliau berkata:

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا النَّاسُ بِقُبَاءَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبِلُوهَا وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّامِ فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ. (رواه النسائي: ٤٨٩)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dia berkata, "Tatkala orang-orang berada di Quba saat salat Subuh, datanglah seseorang, lalu berkata, "Rasulullah ﷺ pada malam ini mendapat wahyu, dan beliau diperintahkan menghadap ke Ka'bah', maka beralihlah kalian menghadap ke Ka'bah. Sebelumnya wajah-wajah mereka menghadap ke Syam (Baitulmaqdis), lalu mereka berputar (menghadap) ke Ka'bah." (HR. An-Nasa'i: 489 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadis semakna diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 4134, an-Nasa'i: 737, dan Ahmad: 5564 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Kebiasaan Rasulullah ﷺ dan para sahabat mendatangi masjid Quba setiap hari Sabtu, namun tidak melarang datang sepanjang waktu kecuali waktu terbit dan terbenamnya matahari. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat imam al-Bukhari dan Muslim. 

Imam al-Bukhari meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ هُوَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ لَا يُصَلِّي مِنْ الضُّحَى إِلَّا فِي يَوْمَيْنِ يَوْمَ يَقْدَمُ بِمَكَّةَ فَإِنَّهُ كَانَ يَقْدَمُهَا ضُحًى فَيَطُوفُ بِالْبَيْتِ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَلْفَ الْمَقَامِ وَيَوْمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَأْتِيهِ كُلَّ سَبْتٍ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَرِهَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ قَالَ وَكَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُهُ رَاكِبًا وَمَاشِيًا قَالَ وَكَانَ يَقُولُ إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ وَلَا أَمْنَعُ أَحَدًا أَنْ يُصَلِّيَ فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ غَيْرَ أَنْ لَا تَتَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا. (رواه البخاري: ١١١٧)

Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim dia adalah Ad-Dawraqiy telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah, telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi' bahwa Ibnu 'Umar radhiallahu'anhuma tidak pernah mengerjakan salat Duha kecuali pada dua kali kesempatan (hari) yaitu hari ketika dia mengunjungi Makkah saat dia memasuki kota Makkah di waktu Dhuha lalu dia melakukan tawaf di Al Bait (Ka'bah) kemudian salat dua rakaat di belakang Maqam (Ibrahim) dan satunya lagi saat dia mengunjungi masjid Quba', yang dia mendatanginya pada hari Sabtu. Bila dia sudah memasukinya, maka dia enggan untuk keluar darinya hingga dia salat terlebih dahulu di dalamnya. Berkata, Nafi', "Dan Ibnu'Umar radhiallahu'anhuma menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi (masjid Quba') baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki." Berkata, Nafi', "Dan Ibnu'Umar radhiallahu'anhuma berkata, "Sesungguhnya aku mengerjakan yang demikian seperti aku melihat para sahabatku melakukannya, namun aku tidak melarang seseorangpun untuk mengerjakan salat pada waktu kapanpun yang dia suka baik di waktu malam maupun siang hari, asalkan tidak bersamaan waktunya saat terbitnya matahari atau saat tenggelam". (HR. Al-Bukhari: 1117 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Dan,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ. (رواه البخاري: ١١١٨)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Muslim dari 'Abdullah bin Dinar dari Ibnu'Umar radhiallahu'anhuma berkata, "Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi masjid Quba' pada setiap hari Sabtu, baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki." Dan Ibnu'Umar radhiallahu'anhuma juga melakukannya seperti itu. (HR. Al-Bukhari: 1118 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Lihat juga hadis riwayat imam al-Bukhari: 1118 dan Muslim: 2484 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Demikian juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 6781, Muslim: 2483, Ahmad: 4952, 5264, dan 6144 - dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Semua hadis ini menjelaskan sebagian matannya, yaitu bahwa Rasulullah ﷺ pergi ke Masjid Quba' dengan berjalan kaki dan terkadang berkendaraan. Sejalan dengan hadis-hadis tersebut juga diriwayatkan oleh imam an-Nasa'i: 691 dan imam Malik: 362.

Oleh: Samsurizal, MA

Senin, 15 April 2024

BERLINDUNGLAH DARI DUA HAL


BERLINDUNGLAH DARI DUA HAL: UMUR DI ATAS 70 TAHUN DAN PEMIMPIN YANG BODOH


Bismillahirrahmanirrahim,

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا كَامِلٌ أَبُو الْعَلَاءِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ رَأْسِ السَّبْعِينَ وَمَنْ إِمَارَةِ الصِّبْيَانِ. (رواه أحمد: ٧٩٦٩)

Telah menceritakan kepada kami Yahya Ibnu Abi Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Kamil Abul 'Ala` berkata, aku mendengar Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Berlindunglah kepada Allah dari umur di atas tujuh puluh tahun dan dari kepemimpinan anak kecil." (HR. Ahmad: 7969 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad; 7968, 8300 dan 9407 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah. Imam Ahmad meriwayatkan dari empat orang gurunya yaitu: Al-Aswad bin 'Amir w. 208 H, Yahya bin. Abi Bukair Nusr w. 208 H, Ismail bin Umar, dan Waki' bin al-Jarrah bin Malih w. 196 H. Mereka menerima dari Kamil bin Al 'Alaa', ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyah-nya Abu Al 'Alaa' dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama kritikus hadis terhadap beliau ini berbeda dari segi jarah wa ta'dil. Para ulama menilai: Yahya bin Ma'in dan Ya'qub bin Sufyan menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya shaduuq Yuthi, dan Ibnu Sa'ad menilainya qaliilul hadits. Sementara imam an-Nasa'i menilainya laisa biqawiy. Karena terdapat hadits pendukung dalam konteks ini maka Nash ini Maqbul, atau dapat diterima, sedangkan terkait dengan kualitas Nash tersebut naik dari dha'if menjadi hasanlighairihi. 

Dijelaskan dalam riwayat imam Ahmad terkait dengan pemimpin yang bodoh, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ وَالصَّلَاةُ قُرْبَانٌ أَوْ قَالَ بُرْهَانٌ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ النَّاسُ غَادِيَانِ فَمُبْتَاعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا وَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُوبِقُهَا. (رواه أحمد: ١٣٩١٩)

Telah bercerita kepada kami Abdurrazaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Ibnu Khutsaim dari Abdurrahman bin Sabith dari Jabir bin Abdillah, Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Ka'ab bin 'Ujrah, "Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang bodoh", (Ka'ab bin 'Ujrah radhiallahu'anhu) bertanya, Apakah yang dimaksud kepemerintahan orang bodoh itu? Rasulullah ﷺ menjawab, "Yaitu para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula mengikuti jejak sunnahku. Maka barang siapa yang membenarkan atas kedustaan yang mereka perbuat serta menolong mereka atas kezalimannya, maka mereka bukanlah golonganku, dan aku pun bukanlah golongan mereka, sehingga mereka tidak akan melintasi telagaku. Dan barang siapa yang tidak membenarkan atas kedustaan yang mereka perbuat serta tidak menolong atas kezalimannya, maka mereka adalah golonganku dan aku adalah golongan mereka, sehingga mereka senantiasa akan melewati telagaku. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, puasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan api neraka dan salat adalah persembahan atau petunjuk. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari hal yang di murkai Allah, dan nerakalah yang paling tepat untuknya. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, seseorang itu akan menempuh di pagi harinya antara dua hal, Yaitu seorang yang mempersembahkan dirinya (untuk ketaatan), sehingga ia dapat terbebas (dari azab neraka), dan seorang yang menjerumuskan dirinya (pada keburukan), sehingga ia akan binasa. (HR. Ahmad: 13919 - isnad-nya qawiy dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Hadis semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad: 14746 - isnad-nya qawiy dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H.

Selanjutnya dijelaskan lagi,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا النَّهَّاسُ بْنُ قَهْمٍ أَبُو الْخَطَّابِ عَنْ شَدَّادٍ أَبِي عَمَّارٍ الشَّامِيِّ قَالَ قَالَ عَوْفُ بْنُ مَالِكٍ يَا طَاعُونُ خُذْنِي إِلَيْكَ قَالَ فَقَالُوا أَلَيْسَ قَدْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا عَمَّرَ الْمُسْلِمُ كَانَ خَيْرًا لَهُ قَالَ بَلَى وَلَكِنِّي أَخَافُ سِتًّا إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ وَبَيْعَ الْحُكْمِ وَكَثْرَةَ الشَّرْطِ وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ وَنَشْئًا يَنْشَئُونَ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ وَسَفْكَ الدَّمِ. (رواه أحمد: ٢٢٨٤٥)

Telah menceritakan kepada kami Waki', ia berkata, telah menceritakan kepada kami An Nahhas bin Qahm Abu Al Khaththab dari Syaddad Abu 'Ammar Asy Syami, ia berkata, Berkata 'Auf bin Malik: Hai Tha'un, seranglah aku. Syaddad berkata: Lantas mereka berkata, Bukankah kau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesuatu yang dimakmurkan oleh seorang muslim itu lebih baik baginya." 'Auf berkata : Benar, tapi aku takut akan enam hal; Kepemimpinan orang-orang bodoh, menjual hukum, banyaknya penjagaan, memutus tali silaturahmi, generasi yang tumbuh dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai seruling dan pertumpahan darah. (HR. Ahmad: 22845 - shahihlighairi, isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Auf bin Malik bin Abi 'Auf, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 73 H)

Konteks di atas tentu berbeda dengan apa yang dilakukan Rasulullah terhadap Usamah bin Zaid yang diangkat oleh beliau menjadi pemimpin. Hal ini diinformasikan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّرَ أُسَامَةَ عَلَى قَوْمٍ فَطَعَنَ النَّاسُ فِي إِمَارَتِهِ فَقَالَ إِنْ تَطْعَنُوا فِي إِمَارَتِهِ فَقَدْ طَعَنْتُمْ فِي إِمَارَةِ أَبِيهِ وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كَانَ لَخَلِيقًا لِلْإِمَارَةِ وَإِنْ كَانَ لَمِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ وَإِنَّ ابْنَهُ هَذَا لَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ بَعْدَهُ. (رواه أحمد: ٤٤٧١)

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menjadikan Usamah sebagai pemimpin kaum, lalu orang-orang ingin mencela kekuasaannya. Maka beliau bersabda, "Jika kalian mencela kekuasaannya berarti kalian juga mencela kekuasaan ayahnya. Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar pantas menjabatnya dan ia adalah orang yang paling aku cintai. Dan sesungguhnya anaknya ini adalah orang yang paling aku cintai setelahnya." (HR. Ahmad: 4471 - isnad-nya sahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Bukhari: 3451 dan 3919 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Secara urut diinformasikan: HR. Al-Bukhari: 4108 (hadis ahlul Madinah), 6137, dan 6650, Muslim: 4452 (hadis masyhur) dan 4453, at-Tirmidzi: 3752, (hadis 'aziz diakhir sanad), dan Ahmad: 5622 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Allah berfirman,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٩٩)

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al-A‘rāf/7: 199)

Inilah yang dilakukan Nabi Yusuf 'alaihisalaam sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ. (قرآن سورة يوسف/١٢: ٣٣)

(Yusuf) berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yūsuf /12: 33)

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.

Kamis, 04 April 2024

BERKAH MENYANTUNI JANDA DAN ANAK YATIM


BERKAH MENYANTUNI PARA JANDA DAN ANAK YATIM

Istilah untuk seorang wanita yang telah bercerai atau ditinggal mati oleh pasangan pernikahannya biasa disebut janda. Status janda atau duda cenderung disertai konotasi negatif di mata masyarakat Timur. Apalagi yang memicu status tersebut adalah perceraian. Namun pada akhir-akhir ini, stigma atas status janda semakin terkikis. Tidak sedikit lelaki mencari pasangan yang janda, dikarenakan sudah berpengalaman dan lebih dewasa. Selain itu bisa jadi seorang pria tersebut berniat untuk menyantuni dengan hati yang tulus. Berikut ini penjelasan hikmah dari menikahi seorang janda.
Islam tidak melarang perihal tersebut. Bahkan dalam menikahi seorang janda terdapat sebuah keutamaan. Sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ
يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ كَالَّذِي يَصُومُ النَّهَارَ وَيَقُومُ اللَّيْلَ
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ مَوْلَى ابْنِ مُطِيعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ. (رواه البخاري: ٥٥٤٧)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abdullah dia berkata; telah menceritakan kepadaku Malik dari Shafwan bin Sulaim yang merafa'kan (menyandarkannya) kepada Nabi ﷺ beliau bersabda: "Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad dijalan Allah atau seperti orang yang selalu berpuasa siang harinya dan selalu shalat malam pada malam harinya." Telah menceritakan kepada kami Isma'il dia berkata; telah menceritakan kepadaku Malik dari Tsaur bin Zaid Ad Daili dari Abu Al Ghaits bekas budak Ibnu Muthi' dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits di atas. (HR. Al Bukhari: 5547 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Lihat juga: al Bukhari: 5548 dan 4934, Muslim: 5295, at Tirmidzi: 1892 dan 2530 - shahih dari Abu Hurairah.

Tafsir kata "al Armalah":

السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِيْنِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَكَالَّذِي يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ. (رواه تلبخاري: ٥٥٤٧ و الترمذي: ١٨٩٢)

“Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari.” (HR. Bukhari: 5547 dan at Tirmidzi: 1892)

Imam Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa yang dimaksud “armalah” dalam hadits tersebut adalah dia yang tidak memiliki suami, baik sudah menikah sebelumnya atau belum menikah sama sekali. Sebagian ulama berpendapat bahwa “armalah ” adalah seseorang yang tidak memiliki bekal (karena kemiskinan) yang disebabkan oleh meninggalnya sang suami.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa perumpamaan seorang yang menikahi janda laksana jihad di jalan Allah. Pahala yang luar biasa dan kesempatan ini berlaku untuk siapa saja yang menginginkan pahala jihad. Ibnu Battal dalam Syarh Shahih Bukhari mengatakan:

من عَجَز عن الجهاد في سبيل الله، وعن قيام الليل، وصيام النهار – فليعملْ بهذا الحديث، ولْيسعَ على الأرامل والمساكين؛ لِيُحشر يومَ القيامة في جملة المجاهدين في سبيل الله، دون أن يَخطو في ذلك خُطوة، أو يُنفق درهمًا، أو يلقى عدوًّا يرتاعُ بلقائه، أو ليحشر في زُمرة الصائمين والقائمين.

Baca Juga:  Kisah Imam Syafi’i Mengaji pada Sayidah Nafisah, Cicit Rasulullah:
Siapa yang tidak mampu berjihad di jalan Allah, tidak mampu rajin tahajud atau puasa di siang hari, hendaknya dia praktikkan hadis ini. Berusaha memenuhi kebutuhan hidup janda dan orang miskin, agar kelak di hari kiamat dikumpulkan bersama para mujahidin fi Sabilillah. Tanpa harus melangkah di medan jihad atau mengeluarkan biaya, atau berhadapan dengan musuh. Atau agar dikumpulkan bersama orang yang rajin puasa dan tahajud”.

Ada keberkahan tersendiri bagi seseorang yang menikahi janda karena ingin menolong anaknya, yang biasa disebut anak yatim. Sebagaimana keutamaan besar dalam menyantuni anak yatim. Dari Sahl Ibnu Sa’ad, dari Nabi Muhammad ﷺ, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَهْلٍ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا. (رواه البخاري: ٤٨٩٢)

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Zurarah Telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Abu Hazim dari bapaknya dari Sahl ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku akan bersama orang-orang yang mengurusi anak Yatim dalam surga." Seperti inilah, beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah lalu beliau membuka sesuatu diantara keduanya. (HR. Al Bukhari: 4892 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H)

Lihat juga: al Bukhari: 5296 dan 5546, at Tirmidzi: 1841 dan Ahmad: 21754, Abu Daud: 4483, - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik.

Lafazh semakna,

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ إِذَا اتَّقَى وَأَشَارَ بِإِصْبُعَيْهِ الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ. (رواه مالك: ١٤٩٢)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Shafwan bin Sulaim Bahwasanya telah sampai kepadanya, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Aku dan orang yang menanggung anak yatim, baginya atau selainnya di surga seperti ini, jika dia bertakwa." Lalu beliau mengisyaratkan jari tengah dan jari telunjuk." (HR. Malik: 1492 - sahih Shafwan bin Sulaim, ia tabi'in kalangan biasa kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 132 H, ia periwayat maqbul)

Lihat juga: Ahmad: 8526 - shahih dari Abu Hurairah,

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَنْبَأَنَا مَالِكٌ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الدِّيلِيِّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا الْغَيْثِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ إِذَا اتَّقَى اللَّهَ
وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى. (رواه أحمد: ٨٥٢٦)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah memberitakan kepada kami Malik dari Tsaur bin Zaid Ad Dili berkata; aku mendengar Abu Al Ghaits menceritakan dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Penanggung anak yatim baik miliknya atau milik orang lain akan berada di surga denganku seperti dua jari ini, selama dia bertakwa kepada Allah." Dan Malik mengisyaratkan dengan jari tulunjuk dan tengah. (HR. Ahmad: 8526 - shahih dari Abu Hurairah)

Lihat juga: Muslim: 5296, Abu Daud: 4483 dan at Tirmidzi: 1841 - shahih dari Abu Hurairah.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ النَّهَّاسِ عَنْ شَدَّادٍ أَبِي عَمَّارٍ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَامْرَأَةٌ سَفْعَاءُ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ امْرَأَةٌ آمَتْ مِنْ زَوْجِهَا فَحَبَسَتْ نَفْسَهَا عَلَى يَتَامَاهَا حَتَّى بَانُوا أَوْ مَاتُوا
حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ فِي تَفْسِيرِ شَيْبَانَ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا صَاحِبٌ لَنَا أَظُنُّهُ أَبَا الْمَلِيحِ الْهُذَلِيَّ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ فَذَكَرَهُ وَقَالَ بَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ آخِرُ مُسْنَدِ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ وَهُوَ تَمَامُ مُسْنَدِ الْأَنْصَارِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. (رواه أحمد: ٢٢٨٨٢)

Telah bercerita kepada kami Waki' dari An Nahhas dari Syaddad Abu 'Ammar dari 'Auf bin Malik berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku dan wanita dengan pipi berwarna di surga seperti dua ini pada hari kiamat -beliau menyatukan diantara dua jari; jari telunjuk dan jari tengah- wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan yang ditinggal mati suaminya, ia menahan dirinya demi anak-anak yatimnya hingga mereka menikah atau meninggal dunia." Telah bercerita kepada kami Husain tentang penafsiran Syaiban dari Qatadah berkata: telah bercerita kepada kami seorang sahabat kami, menurutku Abu Al Malih Al Hudzali dari 'Auf bin Malik lalu ia menyebutnya dan ia berkata dalam riwayatnya: "Antara separuh ummatku masuk surga." Akhir musnad 'Auf bin Malik Al Anshari dan inilah musnad terakhir kaum Anshar. (HR. Ahmad: 22882 - hasan dari 'Auf bin Malik bin Abi 'Auf, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdurrahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 73 H)

Catatan: An Nahas bin Qaham, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu al Khaththab negeri hidup Syam. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya laisa bihi syai', Abu Daud menilainya laisa bi dzaka, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if, al Hakim menilainya layyin dan adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkanya".

Riwayat lain,

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكَلْبِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَالَ ثَلَاثَةً مِنْ الْأَيْتَامِ كَانَ كَمَنْ قَامَ لَيْلَهُ وَصَامَ نَهَارَهُ وَغَدَا وَرَاحَ شَاهِرًا سَيْفَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَكُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ أَخَوَيْنِ كَهَاتَيْنِ أُخْتَانِ وَأَلْصَقَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى. (رواه إبن ماجه: ٣٦٧٠)

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami Hammad bin Abdurrahman Al Kalbi telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim Al Anshari dari 'Atha bin Abu Rabah dari Abdullah bin Abbas dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mengurus tiga anak yatim maka ia ibarat orang yang melakukan qiyamul lail pada malam harinya, berpuasa pada siang harinya, berangkat pagi dan sore hari dengan pedang terhunus di jalan Allah, aku dan dia berada di surga seperti dua saudara sebagaimana dua ini yang bersaudara." Dan beliau menempelkan dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah." (HR. Ibnu Majah: 3670 - dha'if [menurut al Albani] dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Catatan: 1. Isma'il bin Ibrahim bin 'Abdullah, ia tabi'in kalangan biasa negeri hidup Maru. Penilaian ulama: adz Dzahabi, Ibnu Hajar dan Abu Hatim menilainya majhul. 2. Hammad bin 'Abdur Rahman, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kunitahnya Abu 'Abdur Rahman dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya munkarul hadits dan dha'if, adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Begitu juga mengusap kepala anak yatim,

حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الطَّالَقَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحْرٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ عَنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى. (رواه أحمد: ٢١١٣٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Ishak Ath Thalaqani telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Al Mubarok dari Yahya bin Ayyub dari 'Ubaidillah bin Zahr dari 'Ali bin Yazid dari Al Qasim dari Abu Umamah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda; "Barangsiapa mengusap kepala seorang anak yatim, dengan tidak ada dorongan mengusapnya kecuali karena Allah, ia mendapatkan beberapa kebaikan untuk setiap rambut yang dilalui tangannya. Barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau yatim lelaki didekatnya, aku dan dia di surga seperti dua ini." Beliau memisahkan antara jari telunjuk dan jari tengah. (HR. Ahmad: 21132 - dha'if dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86)

Catatan: Periwayat yang paling lemah yaitu Ali bin Yazid bin Abi Hilal, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu 'Abdul Malik negeri hidup Syam. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi, Abu Harim menilainya dha'iful hadits, al Bukhari menilainya munkarul hadits, an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah. Sedangkan al Azdi, ad Daruquthni menilainya matruk, al Hakim menilainya dzhibul hadits serta Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya periwayat maqbul.

Ingatlah bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang pertama yang akan memberi syafaat di Surga. Sebagaimana diceritakan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ الْمُخْتَارِ بْنِ فُلْفُلٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوَّلُ شَفِيعٍ فِي الْجَنَّةِ. (رواه أحمد: ١١٩٦٩)

Telah menceritakan kepada kami Husain bin 'Ali dari Za`idah dari Al Mukhtar bin Fulful dari Anas ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku adalah orang yang pertama kali memberi syafaat di surga." (HR. Ahmad: 11969 - isnad-nya sahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 291 dan ad-Darimi: 51 - sahih dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Pemaparan hadits dan keterangan di atas bisa menjadi motivasi bagi seseorang yang bercita-cita untuk menafkahi atau menyantuni seorang janda. Apalagi dia memiliki anak yatim, maka keberkahan mana lagi yang lebih besar selain Allah kumpulkan di akhirat bersama orang akan pertama kali memberi syafaat di akhirat yakni Rasulullah ﷺ, para syahid, ahli tahajud dan puasa. 

Wallaahu muwaafiq, Wallahu a’lam bish-shawaab.

Rabu, 03 April 2024

BALASAN BAGI KERIDHAAN ORANG TUA ATAS WAFATNYA ANAK KESAYANGAN MEREKA


BALASAN BAGI KERIDHAAN ORANG TUA ATAS WAFATNYA ANAK KESAYANGAN MEREKA

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Jika Allah mengambil "mewafatkan" seorang anak kesayangan (belum baligh) dari orang tua yang ridha dan ikhlas dengan ucapan Alhamdulillah dan istirja' yaitu kalimat 'innaalillaahi wa innaa ilahi raji'un'. Maka Allah akan bangunkan sebuah rumah di Surga dengan diberi nama Baitul Hamdi dan ampunan diakhirat serta keberkahan di dunia.

Sebagaimana diinformasikan oleh imam At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim dalam riwayat mereka.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سِنَانٍ قَالَ دَفَنْتُ ابْنِي سِنَانًا وَأَبُو طَلْحَةَ الْخَوْلَانِيُّ جَالِسٌ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَلَمَّا أَرَدْتُ الْخُرُوجَ أَخَذَ بِيَدِي فَقَالَ أَلَا أُبَشِّرُكَ يَا أَبَا سِنَانٍ قُلْتُ بَلَى فَقَالَ حَدَّثَنِي الضَّحَّاكُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَرْزَبٍ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. (رواه الترمذي: ٩٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Nashr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Mubarak, dari Hammad bin Salamah, dari Abu Sinan, ia berkata, "Aku pernah mengubur anakku, Sinan, sementara Abu Thalhah al-Khaulani duduk di tepi kuburan. Tatkala aku hendak keluar, ia memegang tanganku. Ia berkata: 'Maukah aku beri kabar gembira wahai Abu Sinan? Jawabku: "Tentu." Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku adl-Dlahak bin Abdurrahman bin 'Arzab, dari Abu Musa al-Asy'ari, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: "Kalian telah mencabut anak hamba-Ku." Mereka menjawab, "Ya." (Allah Tabaraka wa Ta'ala) berfirman: "Kalian telah mencabut buah hatinya." Mereka menjawab: "Ya." (Allah Tabaraka wa Ta'ala) bertanya: 'Apa yang dikatakan hamba-Ku?" Mereka menjawab: "Ia memuji-Mu dan mengucapkan kalimat Istirja.'" Allah berfirman: "Bangunkanlah untuk hamba-Ku satu rumah di surga, dan berilah nama dengan Bait al-Hamd."

Abu Isa berkata: Ini merupakan hadis hasan shahih. (HR. At-Tirmidzi: 942 - hasan dari Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia sahabat kuniyah-nya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)

Dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) mayoritas ulama kritikus hadis, ia adalah Isa bin Sinan, ia tabi'in (tidak jumpa sahabat) kuniyah-nya Abu Sinan dan negeri hidup Bashrah. Para ulama kritikus hadis menilainya: Yahya bin Ma'in, an-Nasa'i, dan adz-Dzahabi menilainya dha'if. Ibnu Hajar menilainya layyinul hadits. Al-Uqaili menyebutkan dalam adh-Dhu'afa', sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats-tsiqaat". Kemudian Abu Hatim menilainya laisa biqawiy, Al-'Ajli menilainya la ba'sabih.

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 18893 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abdullah bin Qais. Dalam sanad-nya juga terdapat Isa bin Sinan, hanya saja beliau menerima dari dua orang guru beliau, yaitu: Yahya bin Ishaq w. 210 H dan Ali bin Ishaq w. 213 H.

Demikian juga imam ad-Darimi meriwayatkan dengan redaksi semakna,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ يُونُسَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ صَعْصَعَةَ بْنِ مُعَاوِيَةَ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا ذَرٍّ قُلْتُ مَا بَالُكَ قَالَ لِي عَمَلِي قُلْتُ حَدِّثْنِي قَالَ نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ لَهُمَا ثَلَاثَةٌ مِنْ أَوْلَادِهِمَا لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُمَا قُلْتُ حَدِّثْنِي قَالَ نَعَمْ. (رواه أحمد: ٢٠٣٧٨)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Yunus dari Hasan dari Sha'sha'ah bin Mu'awiyah dia berkata, "Aku datang kepada Abu Dzar kemudian aku bertanya kepadanya, "Ada apa denganmu?" Dia menjawab, "Perbuatanku." Aku berkata, "Ceritakan kepadaku." Dia menjawab, "Ya, Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Tidaklah dua orang muslim yang tiga orang anaknya meninggal sebelum masa baligh kecuali Allah akan mengampuni keduanya." Aku berkata, "Ceritakan kepadaku!" Dia menjawab, "Ya." (HR. Ahmad: 20378 - isnad-nya sahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Jundub bin Junadah, ia sahabat kuniyah-nya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Dalam sanad hadis tersebut terdapat periwayat yang diperselisihkan, ia adalah Ismail bin Ibrahim bin Muqsim w. 193 H. Tetapi penilaian ta'dil-nya lebih banyak.

Kemudian diriwayatkan juga,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلَاثَةٌ مِنْ الْوَلَدِ فَاحْتَسَبَهُمْ دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاثْنَانِ قَالَ وَاثْنَانِ قَالَ مَحْمُودٌ فَقُلْتُ لِجَابِرٍ أَرَاكُمْ لَوْ قُلْتُمْ وَوَاحِدٌ لَقَالَ وَوَاحِدٌ قَالَ وَأَنَا وَاللَّهِ أَظُنُّ ذَاكَ. (رواه أحمد: ١٣٧٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu 'Adi dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibrohim dari Mahmud bin Labid dari Jabir berkata, saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang tiga anaknya meninggal, lalu dia mengharapkan pahala dari Allah 'Azza wa Jalla dengan meninggalnya mereka, dia masuk surga." (Jabir bin Abdullah radhiallahu'anhuma) berkata, kami bertanya, "Bagaimana kalau dua?" beliau menjawab, "Walaupun dua." Mahmud berkata, saya berkata kepada Jabir 'Kalau tadi kalian bertanya bagaimana kalau satu, niscaya nabi menjawab walaupun hanya satu.' (Mahmud radhiallahu'anhu) berkata, saya demi Allah yakin begitu. (HR. Ahmad: 13767 - shahih lighairihi, isnad-nya hasan menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Jalur lain, imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي الطَّحَّانَ أَنَا يَحْيَى التَّيْمِيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ مُعَاذٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يُتَوَفَّى لَهُمَا ثَلَاثَةٌ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمَا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْ اثْنَانِ قَالَ أَوْ اثْنَانِ قَالُوا أَوْ وَاحِدٌ قَالَ أَوْ وَاحِدٌ ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ السِّقْطَ لَيَجُرُّ أُمَّهُ بِسَرَرِهِ إِلَى الْجَنَّةِ إِذَا احْتَسَبَتْهُ: (رواه أحمد: ٢١٠٧٦)

Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. telah bercerita kepada kami 'Affan, telah bercerita kepada kami Kholid Ath Thohhan, telah memberitakan kepada kami Yahya At Taimi dari 'Ubaidillah bin Muslim dari Mu'adz bin Jabal berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah dua orang muslim yang tiga anaknya meninggal dunia melainkan Allah akan memasukkan keduanya ke dalam surga berkat rahmat Allah pada keduanya." Mereka berkata, Wahai Rasulullah! Atau dua. Mereka berkata, Atau satu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Atau satu." Selanjutnya beliau bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya anak keguguran itu menyeret ibunya dengan ari-arinya ke surga bila ia mengharap-harapankan pahalanya." (HR. Ahmad: 21076 - shahih lighairihi, isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H)

Dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh mayoritas ulama kritikus hadis. Ia adalah Yayah bin Abdullah bin Al-Harits, ia tabi'in (tidak jumpa sahabat) kuniyah-nya Abu al-Harits dan negeri hidup Kufah. Abu Hatim dan An-Nasa'i menilainya dha'if. Yahya bin Ma'in menilainya dha'iful hadits. Sementara Al-'Ajli menilainya laisa biqawiy, Ibnul Madini menilainya ma'ruf. Kemudian Ahmad bin Hambal menilainya laisa bihiba's, dan Ibnu Hajar menilainya layyinul hadits, serta adz-Dzahabi berkomentar, "shaduuq, padanya terdapat kelemahan".

Demikianlah riwayat menyebutkan bahwa keridhaan dan keikhlasan orang tua yang diambilnya oleh Allah tiga, dua, atau pun satu buah hatinya yang masih kecil atau belum baligh. Allah akan mengganti dengan surga dan ampunan di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٥٥)

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.(QS. Al-Baqarah/2: 155)

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٥٦)

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). (QS. Al-Baqarah/2: 156)

اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ  ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٥٧)

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah/2: 157)

Sedangkan balasan Allah diakhirat Allah anugerahi keberkahan hidup kepada orang tua yang ridha dan ikhlas atas musibah yang mereka alami.

Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْحَكَمِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ اشْتَكَى ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ قَالَ فَمَاتَ وَأَبُو طَلْحَةَ خَارِجٌ فَلَمَّا رَأَتْ امْرَأَتُهُ أَنَّهُ قَدْ مَاتَ هَيَّأَتْ شَيْئًا وَنَحَّتْهُ فِي جَانِبِ الْبَيْتِ فَلَمَّا جَاءَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ كَيْفَ الْغُلَامُ قَالَتْ قَدْ هَدَأَتْ نَفْسُهُ وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ اسْتَرَاحَ وَظَنَّ أَبُو طَلْحَةَ أَنَّهَا صَادِقَةٌ قَالَ فَبَاتَ فَلَمَّا أَصْبَحَ اغْتَسَلَ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ أَعْلَمَتْهُ أَنَّهُ قَدْ مَاتَ فَصَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ أَخْبَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا كَانَ مِنْهُمَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُبَارِكَ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا قَالَ سُفْيَانُ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَرَأَيْتُ لَهُمَا تِسْعَةَ أَوْلَادٍ كُلُّهُمْ قَدْ قَرَأَ الْقُرْآنَ. (رواه البخاري: ١٢١٨)

Telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Al Hakam, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah, telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik radhiallahu'anhu berkata, Anak dari Abu Thalhah dalam kondisi sakit yang parah. Katanya, "Dan akhirnya dia meninggal dunia." Saat itu Abu Thalhah sedang bepergian. Ketika istrinya melihat bahwa dia (anaknya) sudah meninggal, maka dia mengerjakan sesuatu dan meletakkannya di samping rumah. Ketika Abu Thalhah sudah datang, dia bertanya, "Bagaimana keadaan anak (kita)? Istrinya menjawab, "Dia sudah tenang dan aku berharap dia sudah beristirahat".. Abu Thalhah menganggap bahwa istrinya berkata, benar adanya. Anas bin Malik radhiallahu'anhu; Maka dia tidur pada malam itu. Pada keesokan harinya, dia mandi. Ketika dia hendak pergi keluar, istrinya memberitahu bahwa anaknya sudah meninggal dunia. Kemudian dia salat bersama Nabi ﷺ lalu dia menceritakan apa yang sudah terjadi antara dia berdua (dengan istrinya). Maka Rasulullah ﷺ berkata,: "Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian itu." Sufyan berkata, Ada seorang dari kalangan Anshar berkata,: "Kemudian setelah itu aku melihat keduanya memiliki sembilan anak yang semuanya telah hafal Al-Qur'an". (HR. Al-Bukhari: 1218 - sahih dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Terkait riwayat lengkapnya imam Muslim menceritakan bagaimana peran seorang istri yang sabar dan benar tauhidnya kepada Allah yaitu Ummu Sulaim. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لِأَهْلِهَا لَا تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ قَالَ فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَقَالَ ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لَا قَالَتْ فَاحْتَسِبْ ابْنَكَ قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِي حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِي بِابْنِي فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِي غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا قَالَ فَحَمَلَتْ قَالَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَهِيَ مَعَهُ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرٍ لَا يَطْرُقُهَا طُرُوقًا فَدَنَوْا مِنْ الْمَدِينَةِ فَضَرَبَهَا الْمَخَاضُ فَاحْتُبِسَ عَلَيْهَا أَبُو طَلْحَةَ وَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ أَبُو طَلْحَةَ إِنَّكَ لَتَعْلَمُ يَا رَبِّ إِنَّهُ يُعْجِبُنِي أَنْ أَخْرُجَ مَعَ رَسُولِكَ إِذَا خَرَجَ وَأَدْخُلَ مَعَهُ إِذَا دَخَلَ وَقَدْ احْتَبَسْتُ بِمَا تَرَى قَالَ تَقُولُ أُمُّ سُلَيْمٍ يَا أَبَا طَلْحَةَ مَا أَجِدُ الَّذِي كُنْتُ أَجِدُ انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا قَالَ وَضَرَبَهَا الْمَخَاضُ حِينَ قَدِمَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَقَالَتْ لِي أُمِّي يَا أَنَسُ لَا يُرْضِعُهُ أَحَدٌ حَتَّى تَغْدُوَ بِهِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ احْتَمَلْتُهُ فَانْطَلَقْتُ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَصَادَفْتُهُ وَمَعَهُ مِيسَمٌ فَلَمَّا رَآنِي قَالَ لَعَلَّ أُمَّ سُلَيْمٍ وَلَدَتْ قُلْتُ نَعَمْ فَوَضَعَ الْمِيسَمَ قَالَ وَجِئْتُ بِهِ فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ وَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَجْوَةٍ مِنْ عَجْوَةِ الْمَدِينَةِ فَلَاكَهَا فِي فِيهِ حَتَّى ذَابَتْ ثُمَّ قَذَفَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ فَجَعَلَ الصَّبِيُّ يَتَلَمَّظُهَا قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى حُبِّ الْأَنْصَارِ التَّمْرَ قَالَ فَمَسَحَ وَجْهَهُ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خِرَاشٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ وَاقْتَصَّ الْحَدِيثَ بِمِثْلِهِ. (رواه مسلم: ٤٤٩٦)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim bin Maimun, telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah dari Tsabit dari Anas dia berkata, "Pada suatu ketika seorang putra Abu Thalhah dan istrinya yang bernama Ummu Sulaim, meninggal dunia Kemudian Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, 'Janganlah kalian memberitahukan musibah ini kepada Abu Thalhah sehingga saya sendiri yang akan memberitahukannya." Anas berkata, "Tak lama kemudian Abu Thalhah tiba di rumah. Seperti biasa, Ummu Sulaim menghidangkan makan malam untuk suaminya. Lalu Abu Thalhah makan dan minum dengan senangnya. Kemudian Ummu Sulaim mulai berhias Iebih cantik daripada hari biasanya hingga Abu Thalhah menggaulinya. Setelah mengetahui bahwasanya Abu Thalhah telah merasa puas dan lega, maka Ummu Sulaim berkata, 'Wahai Abu Thalhah, bagaimana menurut pendapat engkau apabila ada sekelompok orang memberikan pinjaman kepada suatu keluarga. Kemudian, ternyata pinjaman tersebut mereka minta kembali. Apakah boleh keluarga itu menolak permintaannya? Dengan mantap Abu Thalhah menjawab, "Tentu saja keluarga itu tidak boleh menolak permintaan kelompok itu." Lalu Ummu Sulaim berkata, "Maka demikian dengan anak kita, ketahuilah bahwasanya anak kita yang tercinta telah diminta oleh Dzat yang telah mencipta dan memilikinya. Oleb karena itu. relakanlah kematian putra kita tersebut." Betapa terkejut dan marahnya Abu Thalhah mendengar informasi yang disampaikan istrinya itu. Lalu ia pun berkata kepada istrinya, "Mengapa kamu tidak memberitahukanku terlebih dahulu berita ini? Tetapi kamu malah memberitahukannya kepadaku setelah aku menggaulimu.' Keesokan harinya Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah ﷺ untuk menceritakan kepada beliau tentang apa yang telah terjadi pada keluarganya. Mendengar cerita sedih tersebut, Rasulullah ﷺ berkata, "Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam menjalani malam kalian." Anas berkata, 'Beberapa bulan kemudian, Ummu Sulaim mulai memperlihatkan tanda-tanda kehamiIan. Suatu ketika. Rasulullah sedang bepergian dan Ummu Sulaim turut serta dalam perjalanan tersebut. Biasanya, apabila Rasulullah datang dari bepergian - setibanya di Madinah- maka beliau tidak langsung masuk ke kampung. Sesampainya di dekat kota Madinah, Ummu Sulaim mulai merasakan saat-saat kelahiran hingga Abu Thalhah berhenti untuk mendampinginya. sementara Rasulullah telah pergi. Abu Thalhah berkata, 'Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Mahatahu bahwasanya saya merasa senang keluar untuk menyertai rasul-Mu ketika beliau keluar. Begitu pula saya merasa senang masuk untuk menyertainya, ketika beliau akan masuk (kota madinah). Tapi sekarang saya terhenti seperti yang Engkau lihat." Anas berkata, 'Ummu Sulaim berkata, Hai Abu Thalhah, saya sudah tidak tahan lagi. Ayolah terus percepat perjalanan!' Anas berkata, 'Akhirnya kami terus melanjutkan perjalanan." Anas berkata, "Ketika tiba di kota Madinah, maka Ummu Sulaim pun melahirkan seorang anak laki-laki dengan selamat. Ibu saya (Ummu Sulaim) berkata kepada saya; Hai Anas, janganlah ada seorang pun yang menyusui bayi ini hingga kamu membawanya ke hadapan Rasulullah.' Esok harinya, saya membawa bayi tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Saya temui beliau yang pada saat itu sedang memegang alat untuk memberi tanda pada hewan. Ketika Rasulullah ﷺ melihat saya, beliau berkata, "Hai Unais, apakah Ummu Sulaim telah melahirkan?" Maka saya dengan senang hati menjawab pertanyaan beliau, "Ya, " ia telah melahirkan, ya Rasulullah." Kemudian beliau letakkan alat untuk memberi tanda pada hewan itu. Lalu saya pun membawa bayi itu ke hadapan Rasulullah dan meletakkannya di atas pangkuan beliau. Kemudian Rasulullah ﷺ minta dibawakan kurma ajwa Madinah. Lalu beliau lumatkan kurma tersebut dengan mulut beliau dan disuapkannya ke dalam mulut bayi itu. Maka bayi itu segera mengunyahnya. Rasulullah ﷺ berkata, "Lihatlah, memang kaum Anshar itu sangat menyukai kurma!" Anas berkata, "Kemudian Rasulullah ﷺ mengusap wajah bayi itu dengan penuh kasih sayang serta memberinya nama Abdullah." Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hasan bin Khirasy, telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Ashim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah, telah menceritakan kepada kami Tsabit, telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik dia berkata, 'Putra Abu Thalhah meninggal……-dan seterusnya dengan Hadits yang serupa.- (HR. Al-Bukhari: 4496 - sahih dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadis 'aziz diakhir sanad)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 11590 (empat jalur periwayatan, jalur pertama tsulatsiyat) dan 12400 - isnad-nya sahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hanya saja pada riwayat imam Ahmad: 12400 terdapat tambahan: Anas bin Malik berkata, "lalu lahir darinya banyak anak laki-laki, dan Abdullah bin Abu Thalhah sendiri menjumpai kesyahidan di negeri Persi".

( ... قَالَ فَخَرَجَ مِنْهُ رَجُلٌ كَثِيرٌ قَالَ وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِفَارِسَ)

Demikian Fadilah dan karunia Allah yang agung bagi hamba-Nya yang ikhlas dan sabar lagi bertakwa.

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.

Selasa, 02 April 2024

MUKMIN YANG UTAMA DAN BIJAK


MUKMIN YANG UTAMA DAN BIJAK

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا الزُّبَيْرُ بْنُ بَكَّارٍ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ فَرْوَةَ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ. (رواه إلن ماجه: ٤٢٤٩)

Telah mengabarkan kepada kami Az Zubair bin Bakkar, telah mengabarkan kepada kami Anas bin 'Iyadl, telah mengabarkan kepada kami Nafi' bin Abdullah dari Farwah bin Qais dari 'Atha` bin Abu Rabah dari Ibnu Umar bahwa dia berkata, Saya bersama dengan Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar kepada beliau, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ dan bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimanakah orang mukmin yang utama?" beliau menjawab, "Orang yang paling baik akhlaknya." Dia bertanya lagi, "Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling bijak?" beliau menjawab, "Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang bijak." (HR. Ibnu Majah: 4249 - hasan dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Dipertegas juga oleh imam Abu Daud,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. (رواه أبوداود: ٤٠٦٢)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Kaum mukminin yang paling baik imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Abu Daud: 4062 - hasan shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lafazh yang sama juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 10397 - sahih, isnad-nya qawiy menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Imam Abu Daud meriwayatkan dari Ahmad bin Hambal ini.

Demikian diriwayatkan oleh imam ad-Darimi: 2672 - isnad-nya hasan menurut Husain Salim Asad ad-Darani dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُهُمْ خِيَارُهُمْ لِنِسَائِهِمْ. (رواه أحمد: ٧٠٩٥)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris berkata, aku mendengar dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara mereka adalah yang terbaik terhadap istri-istrinya."(HR. Ahmad: 7095 - sahih, isnad-nya hasan menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lafazh semakna diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi: 1082 - hasan shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Tetapi, redaksi khusus diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِكُمْ. (رواه أحمد: ٩٧٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Muhammad bin 'Amru, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya." (HR. Ahmad: 9725 - sahih, isnad-nya hasan menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Redaksi semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad melalui jalur sanad 'Aisyah. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الْخَفَّافُ قَالَ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَكْمَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ. (رواه أحمد: ٢٣٥٣٦)

Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Al-Khaffaf, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Khalid, dari Abi Qilabah, dari Aisyah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap keluarganya (istrinya)." (HR. Ahmad: 23536 - shahih lighairihi menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar Ash-Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyah-nya Ummu Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian juga hadis riwayat imam Ahmad: 23073 dan at-Tirmidzi: 2537 - shahih lighairihi dari 'Aisyah. Tetapi, imam at-Tirmidzi menjelaskan dalam riwayatnya,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ.

وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَلَا نَعْرِفُ لِأَبِي قِلَابَةَ سَمَاعًا مِنْ عَائِشَةَ وَقَدْ رَوَى أَبُو قِلَابَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ رَضِيعٍ لِعَائِشَةَ عَنْ عَائِشَةَ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ وَأَبُو قِلَابَةَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الْجَرْمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ ذَكَرَ أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ أَبَا قِلَابَةَ فَقَالَ كَانَ وَاللَّهِ مِنْ الْفُقَهَاءِ ذَوِي الْأَلْبَابِ. (رواه الترمذي: ٢٥٣٧)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' al Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Khalid al Hadzdza' dari Abu Qilabah dari Aisyah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya termasuk orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan paling lembut terhadap keluarganya."

Dan dalam bab tersebut (juga diriwayatkan) dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik. Abu Isa berkata, 'Ini hadits shahih, dan kami tidak mengetahui Abu Qilabah memiliki riwayat mendengar dari Aisyah. Abu Qilabah telah meriwayatkan dari Abdullah bin Yazid, susuan Aisyah, dari Aisyah selain hadits ini. Abu Qilabah Abdullah bin Zaid al Jarmi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dia berkata, Ayyub as Sakhtiyani menyebutkan Abu Qilabah berkata, "Demi Allah, dia termasuk para fuqaha' yang memiliki ilmu." (HR. At-Tirmidzi: 2537 - dha'if dari 'Aisyah)

Dalam sanad hadis ini terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh sebagian para ulama kritikus hadis. Ia adalah Ismail bin Ibrahim bin Muqsim, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyah-nya Abu Bisyir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 193 H. Penilaian para ulama kritikus hadis: Ibnu Hajar dan adz-Dzahabi menilainya dha'if. Syu'bah menilainya sayyidul muhadditsin, Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah ma'mun, an-Nasa'i menilainya tsiqah tsabat, sementara Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah bin tsabat hujjah. Kemudian, Abdurrahman bin Mahdi berkata, "Dia lebih kuat daripada Husyaim", dan Yahya bin Sa'id berkata, "lebih kuat daripada Wuhaib". As-Saji berpendapat "perlu dikoreksi". Imam Abu Daud menjelaskan, "tidak ada seorang muhaddits kecuali melakukan kesalahan, kecuali Ibnu Ulayyah, dan Bisyir al-Mufadhdhal".

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.

Kamis, 28 Maret 2024

MENAKAR KEBOHONGAN (Menelusuri jalur riwayat yang sahih)


MENAKAR KEBOHONGAN
(Menelusuri jalur riwayat yang sahih)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ مَا يَحْمِلُكُمْ عَلَى أَنْ تَتَابَعُوا فِي الْكَذِبِ كَمَا يَتَتَابَعُ الْفَرَاشُ فِي النَّارِ كُلُّ الْكَذِبِ يُكْتَبُ عَلَى ابْنِ آدَمَ إِلَّا ثَلَاثَ خِصَالٍ رَجُلٌ كَذَبَ عَلَى امْرَأَتِهِ لِيُرْضِيَهَا أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ فِي خَدِيعَةِ حَرْبٍ أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ بَيْنَ امْرَأَيْنِ مُسْلِمَيْنِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمَا. (رواه أحمد: ٢٦٢٨٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdii, telah menceritakan kepada kami Daud bin Abdurrahman dari Ibnu Hutsaim dari Syahr bin Hausyab dari Asma' binti Yazid bahwa dia telah mendengar Rasulullah ﷺ berkhotbah, kemudian beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, apa yang mendorong kalian ikut-ikutan berdusta sebagaimana anai-anai berebut ke api, setiap perbuatan dusta akan dicatat atas anak adam kecuali tiga hal; seorang suami yang berbohong kepada istrinya supaya istrinya ridha, atau seseorang yang berdusta dalam rangka strategi perang dan seseorang yang berbohong di antara kedua belah pihak dari kaum muslimin untuk mendamaikan keduanya." (HR. Ahmad: 26289 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah)

Dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruh) oleh para ulama kritikus hadis. Ia adalah Syahar bin Hawsyab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyah-nya Abu Sa'ad negeri hidup Syam dan wafat tahun 100 H. Penilaian para ulama kritikus hadis: Musa bin Harun dan Al-Bayhaqi menilainya dha'if, an-Nasa'i dan Hakim menilainya laisa biqawi, Ibnu Hazm menilainya saqith. Sementara Ahmad bin Hambal menilainya laisa bihiba's, Ibnu 'Adi menilainya dha'if jiddan. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduuq tetapi punya keragu-raguan.

Ummu Kultsum menceritakan sebagaimana hadis riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ أَنَّهَا قَالَتْ رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْكَذِبِ فِي ثَلَاثٍ فِي الْحَرْبِ وَفِي الْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ وَقَوْلِ الرَّجُلِ لِامْرَأَتِهِ. (رواه أحمد: ٢٦٠١٨)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf dari ibunya Ummu Kultsum binti 'Uqbah bahwa dia berkata, "Nabi ﷺ memberikan keringanan untuk berbohong pada tiga tempat; pada saat perang, pada saat mendamaikan antara manusia dan perkataan seseorang kepada istrinya (untuk menumbuhkan kecintaan)." (HR. Ahmad: 26018 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Ummu Kultsum binti 'Uqbah bin Abi Mu'aith, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Kultsum dan negeri hidup Madinah - pen, dilihat para periwayatnya tidak ada yang dinilai buruk)

Imam Malik menceritakan,

حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْذِبُ امْرَأَتِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا خَيْرَ فِي الْكَذِبِ فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعِدُهَا وَأَقُولُ لَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا جُنَاحَ عَلَيْكَ. (رواه مالك: ١٥٧٠)

Telah menceritakan kepadaku Malik dari Shafwan bin Sulaim berkata, "Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Aku akan berbohong kepada istriku, Wahai Rasulullah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada kebaikan dalam berbohong" Orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku berjanji kepadanya dan aku akan mengutarakannya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada dosa bagimu." (HR. Malik: 1570 - dha'if menurut Salim bin 'Ied al-Hilaly dari Syafwan bin Sulaim, ia tabi'in kalangan biasa kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 132 H. Menurut Ibnu Hajar, "tsiqah ahli ibadah, tertuduh beraliran Qadiriyah")

Sementara itu imam at-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ ح و حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ وَأَبُو أَحْمَدَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ و قَالَ مَحْمُودٌ فِي حَدِيثِهِ لَا يَصْلُحُ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَسْمَاءَ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ خُثَيْمٍ وَرَوَى دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ أَسْمَاءَ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ دَاوُدَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَكْرٍ. (رواه الترمذي: ١٨٦٢)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad az-Zubairi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata -Dalam jalur lain diriwayatkan- Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr as-Sariy dan Abu Ahmad, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Syahr bin Hausyab, dari Asma` binti Yazid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Berdusta tidak dihalalkan kecuali dalam tiga situasi; seorang suami yang membuat istrinya rida saat berbincang dengannya, dusta (tipu daya) dalam peperangan, dan dusta yang dilakukan dalam rangka untuk mendamaikan (sesama) manusia." Mahmud berkata dalam hadisnya: "Tidak diperkenankan dusta kecuali pada tiga perkara." Ini adalah hadis hasan. Kami tidak mengetahuinya dari hadis Asma` kecuali dari hadis Ibnu Khutsaim. Dan Dawud bin Abi Hind meriwayatkan hadis ini dari Syahr bin Hausyab, dari Nabi ﷺ, sementara di dalamnya ia tidak menyebutkan dari Asma` sebagaimana yang telah diceritakan Muhammad bin al-Ala` kepada kami, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Za`idah, dari Dawud. Terdapat juga hadis semakna yang diriwayatkan dari Abu Bakr. (HR. At-Tirmidzi: 1862 - sahih tanpa kalimat 'liyurdhiiha (supaya dia ridha kepadanya)' menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah)

Dalam sanadnya juga terdapat Syahar bin Hawsyab sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad: 26289. Demikian juga hadis riwayat imam Ahmad: 26315 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Asma' bin Yazid dengan kalimat "كَذِبُ الرَّجُلِ مَعَ امْرَأَتِهِ لِتَرْضَى" (seorang suami yang berdusta terhadap istrinya untuk mendapatkan keridhaan darinya). Sedangkan hadis riwayat imam Ahmad: 26326 dengan kalimat "كَذِبِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا" (seorang suami yang berdusta terhadap istrinya untuk mendapatkan keridhaan darinya).

Dalam redaksi yang berbeda diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا لَيْثٌ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ يُرِيدُ بِهِ الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلِ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةِ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا. (رواه أحمد: ٢٦٠١٥)

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Laits -yakni Ibnu Sa'd- dari Yazid -yakni Ibnu Al Hadi- dari Abdul Wahab dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bin 'Auf dari ibunya Ummu Kultsum binti 'Uqbah dia berkata, "Aku belum pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberikan keringanan sedikitpun dari kedustaan kecuali dalam tiga perkara; seseorang yang mengatakan suatu perkataan dengan maksud untuk mendamaikan, seseorang yang mengatakan perkataan dalam peperangan dan seorang (suami) yang mengatakan kepada istrinya, atau istri mengatakan kepada suaminya." (HR. Ahmad: 26015 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Ummu Kultsum. Dalam sanadnya tidak menyebutkan Syahar bin Hawsyab dan semua periwatnya maqbul)

Demikian juga hadis riwayat imam Ahmad: 26017. Kemudian imam Abu Daud meriwayatkan hadis yang sahih, beliau berkata,

حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْجِيزِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ عَنْ نَافِعٍ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ الْهَادِي أَنَّ عَبْدَ الْوَهَّابِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ حَدَّثَهُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا. (رواه أبوداود: ٤٢٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Sulaiman Al Jizi berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad dari nafi' -maksudnya Nafi' bin Yazid- dari Ibnul Hadi bahwa Abdul Wahhab bin Abu Bakr menceritakan kepadanya, dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdurrahman dari ibunya Ummu Kultsum binti Uqbah ia berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberi keringanan untuk berbohong kecuali pada tiga tempat. Rasulullah ﷺ mengatakan, "Aku tidak menganggapnya sebagai seorang pembohong; seorang laki-laki yang memperbaiki hubungan antara manusia. Ia mengatakan suatu perkataan (bohong), namun ia tidak bermaksud dengan perkataan itu kecuali untuk mendamaikan. Seorang laki-laki yang berbohong dalam peperangan. Dan seorang laki-laki yang berbohong kepada istri atau istri yang berbohong kepada suami (untuk kebaikan)." (HR. Abu Daud: 4275 - sahih dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah. Tanpa menyebut nama Syahar bin Hawsyab)

Lafazh,

" ... وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا ... "

" ... Dan seorang laki-laki yang berbohong kepada istri atau istri yang berbohong kepada suami ..."

Hanya diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 4275 dan Ahmad: 26015 yang dalam sanadnya tidak terdapat Syahar bin Hawsyab. Oleh sebab itu keduanya adalah hadis sahih -pen. Perlu penulis tegaskan bahwa hadis yang dha'if terkait dengan konteks ini terdapat periwayat yang bernama Syahar bin Hawsyab, para ulama kritikus hadis menilainya jarah (buruk). Imam Ahmad meriwayatkan 205 hadis dari jalur Syahar bin Hawsyab.

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.