Pages - Menu

Minggu, 26 Mei 2024

SYAHID PELEBUR DOSA


SYAHID MELEBUR DOSA

Imam Muslim meriwayatkan,

و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي عَيَّاشُ بْنُ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا الدَّيْنَ. (رواه مسلم: ٣٤٩٩)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin harb, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid Al Muqri`i, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Ayyub, telah menceritakan kepadaku 'Ayyasy bin Abbas Al Qitbani dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin 'Amru bin 'Ash, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Syahid di jalan Allah akan melebur setiap dosa kecuali utang." (HR. Muslim: 3499 - sahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al-Ash bin Wa'il, ia sahabat kuniyah-nya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadis riwayat Muslim hadis ke-3498, imam Muslim meriwayatkan dari Zakariya bin Yahya bin Shalih, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyah-nya Abu Yahya negeri hidup Maru dan wafat tahun 242. Sedangkan hadis di atas ia terima dari Zuhair bin Harb bin Syaddad, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyah-nya Abu Khaitsamah negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 234 H. Keduanya periwayat tsiqah.

Sababul wurud-nya diinformasikan dalam hadis riwayat imam at-Tirmidzi: 1564. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ طَلْحَةَ الْيَرْبُوعِيُّ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ خَطِيئَةٍ فَقَالَ جِبْرِيلُ إِلَّا الدَّيْنَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا الدَّيْنَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ وَجَابِرٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي قَتَادَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ هَذَا الشَّيْخِ قَالَ وَسَأَلْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَعِيلَ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَلَمْ يَعْرِفْهُ و قَالَ أَرَى أَنَّهُ أَرَادَ حَدِيثَ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَسُرُّهُ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا إِلَّا الشَّهِيدُ. (رواه الترمذي: ١٥٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Thalhah Al Yarbu'I Al Kufi berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ayyasy dari Humaid dari Anas ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Gugur di jalan Allah dapat menghapuskan setiap dosa." Jibril kemudian berkata, "Kecuali utang." Maka Nabi ﷺ lalu bersabda, "Kecuali utang." Abu Isa berkata, "Dalam bab ini juga ada hadits dari Ka'b bin Ujrah, Jabir, Abu Hurairah dan Qatadah. Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahui hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr kecuali dari jalur syaikh ini. Ia berkata, "Aku bertanya kepada Muhammad bin Isma'il tentang hadits ini, tetapi ia tidak mengetahuinya. Ia (Muhammad bin Isma'il) berkata, "Menurutku yang ia (Yahya bin Thalhah) maksud adalah hadits Humaid, dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Tidak seorang pun dari penduduk surga yang senang untuk kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid." (HR. At-Tirmidzi: 1564 - sahih dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Sementara imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو كَثِيرٍ مَوْلَى اللَّيْثِيِّينَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَحْشٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا لِي إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ الْجَنَّةُ فَلَمَّا وَلَّى قَالَ إِلَّا الدَّيْنُ سَارَّنِي بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام آنِفًا. (رواه أحمد: ١٦٦١٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amru dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Katsir mantan budak Al Laitsiyyin, dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, apakah ganjaran untukku jika aku dibunuh di jalan Allah?" Beliau menjawab, "Surga." Kemudian ketika beliau berpaling, beliau bersabda, "Kecuali utang, tadi Jibril 'alaihissalam telah memberitahukannya kepadaku." (HR. Ahmad: 16616 - shahihlighairi, isnad-nya hasan dari Muhammad bin 'Abdullah bin Jahsyi, ia sahabat kuniyah-nya Abu 'Abdullah dan negeri hidup Madinah)

Hadis-hadis tersebut di atas diriwayatkan secara makna dari sahabat yang berbeda. Sehingga masing-masing hadis saling menguatkan dan melengkapi.

Syahid yang dimaksud oleh hadis-hadis di atas adalah dalam pengertian gugur di medan perang melawan musuh Islam. Sehingga perlu di pilah dan dibedakan, sebab meninggalnya seseorang dikatakan syahid apabila termasuk dalam hadis yang menginformasikan tentang hal dimaksud. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis berikut:

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ عَنْ أَبِي عُمَيْسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَبْرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَادَ جَبْرًا فَلَمَّا دَخَلَ سَمِعَ النِّسَاءَ يَبْكِينَ وَيَقُلْنَ كُنَّا نَحْسَبُ وَفَاتَكَ قَتْلًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ وَمَا تَعُدُّونَ الشَّهَادَةَ إِلَّا مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ شُهَدَاءَكُمْ إِذًا لَقَلِيلٌ الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ شَهَادَةٌ وَالْبَطْنُ شَهَادَةٌ وَالْحَرَقُ شَهَادَةٌ وَالْغَرَقُ شَهَادَةٌ وَالْمَغْمُومُ يَعْنِي الْهَدِمَ شَهَادَةٌ وَالْمَجْنُونُ شَهَادَةٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدَةٌ قَالَ رَجُلٌ أَتَبْكِينَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ قَالَ دَعْهُنَّ فَإِذَا وَجَبَ فَلَا تَبْكِيَنَّ عَلَيْهِ بَاكِيَةٌ. (رواه النسائي: ٣١٤٣)

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin 'Aun dari Abu 'Umais dari Abdullah bin Abdillah bin Jabar dari ayahnya bahwa Rasulullah ﷺ kembali, kemudian tatkala beliau masuk maka beliau mendengar para wanita menangis, dan mereka berkata, kami mengira Anda meninggal karena terbunuh di jalan Allah. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah kalian menganggap syahid kecuali orang yang terbunuh di jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang syahid kalian jika demikian sungguh sedikit. Terbunuh di jalan Allah adalah syahid, meniggal karena sakit perut adalah syahid, terbakar adalah syahid, tenggelam adalah syahid, orang yang tertimpa reruntuhan adalah syahid, orang yang mati karena gila adalah syahid, wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid." Seorang laki-laki berkata, apakah kalian menangis sedangkan Rasulullah ﷺ sedang duduk? Beliau bersabda, "Biarkan mereka, apabila telah meninggal maka tidak boleh ada seorang wanitapun yang menangisinya." (HR. An-Nasa'i: 3143 - sahih dari 'Abdullah bin Jabar bin 'Atik, ia tabi'in dan negeri hidup Madinah - maqbul)

Rabu, 22 Mei 2024

MASJID QUBA DAN ARAH QIBLAT

MASJID QUBA DAN ARAH QIBLAT

Keutamaan Salat di Masjid Quba dan Awal Perubahan Arah Kiblat

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَبْرَدِ مَوْلَى بَنِي خَطْمَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أُسَيْدَ بْنَ ظُهَيْرٍ الْأَنْصَارِيَّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ كَعُمْرَة. (رواه إبن ماجه: ١٤٠١)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Abdul Hamid bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Abrad mantan budak bani Khathmah, ia mendengar Usaid bin Zhuhair Al Anshari -ia termasuk sahabat Nabi ﷺ- ia menceritakan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Salat di masjid Quba seperti melakukan Umrah." (HR. Ibnu Majah: 1401 - sahih dari Usaid bin Zhahir bin Rafi')

Demikian juga hadis riwayat imam at-Tirmidzi: 298 - sahih dari Usaid bin Zhahir dari dua jalur sanad yang sama. Imam an-Nasa'i: 692 dan Ahmad: 15414, mereka meriwayatkan dari Sahal bin Hunaif.

Sementara itu imam Ibnu Majah meriwayatkan dari jalur Sahal bin Hunaif bin Wahib, ia berkata:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَعِيلَ وَعِيسَى بْنُ يُونُسَ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْكَرْمَانِيُّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ بْنَ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ يَقُولَ قَالَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ. (رواه إبن ماجه: ١٤٠٢)

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dan Isa bin Yunus keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al Karmani berkata, aku mendengar Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata, Sahl bin Hunaif berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba dan salat di dalamnya, maka ia akan mendapatkan pahala umrah." (HR. Ibnu Majah: 1402 - sahih dari Sahal bin Hunaif bin Wahib, ia sahabat kuniyah-nya Abu Tsabit negeri hidup Madinah dan wafat tahun 38 H)

Di Masjid Quba juga merupakan awal turunnya perintah untuk merubah arah kiblat dari Baitulmaqdis ke Ka'bah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat imam an-Nasa'i, beliau berkata:

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا النَّاسُ بِقُبَاءَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبِلُوهَا وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّامِ فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ. (رواه النسائي: ٤٨٩)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dia berkata, "Tatkala orang-orang berada di Quba saat salat Subuh, datanglah seseorang, lalu berkata, "Rasulullah ﷺ pada malam ini mendapat wahyu, dan beliau diperintahkan menghadap ke Ka'bah', maka beralihlah kalian menghadap ke Ka'bah. Sebelumnya wajah-wajah mereka menghadap ke Syam (Baitulmaqdis), lalu mereka berputar (menghadap) ke Ka'bah." (HR. An-Nasa'i: 489 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadis semakna diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 4134, an-Nasa'i: 737, dan Ahmad: 5564 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Kebiasaan Rasulullah ﷺ dan para sahabat mendatangi masjid Quba setiap hari Sabtu, namun tidak melarang datang sepanjang waktu kecuali waktu terbit dan terbenamnya matahari. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat imam al-Bukhari dan Muslim. 

Imam al-Bukhari meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ هُوَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ لَا يُصَلِّي مِنْ الضُّحَى إِلَّا فِي يَوْمَيْنِ يَوْمَ يَقْدَمُ بِمَكَّةَ فَإِنَّهُ كَانَ يَقْدَمُهَا ضُحًى فَيَطُوفُ بِالْبَيْتِ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَلْفَ الْمَقَامِ وَيَوْمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَأْتِيهِ كُلَّ سَبْتٍ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَرِهَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ قَالَ وَكَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُهُ رَاكِبًا وَمَاشِيًا قَالَ وَكَانَ يَقُولُ إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ وَلَا أَمْنَعُ أَحَدًا أَنْ يُصَلِّيَ فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ غَيْرَ أَنْ لَا تَتَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا. (رواه البخاري: ١١١٧)

Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim dia adalah Ad-Dawraqiy telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah, telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi' bahwa Ibnu 'Umar radhiallahu'anhuma tidak pernah mengerjakan salat Duha kecuali pada dua kali kesempatan (hari) yaitu hari ketika dia mengunjungi Makkah saat dia memasuki kota Makkah di waktu Dhuha lalu dia melakukan tawaf di Al Bait (Ka'bah) kemudian salat dua rakaat di belakang Maqam (Ibrahim) dan satunya lagi saat dia mengunjungi masjid Quba', yang dia mendatanginya pada hari Sabtu. Bila dia sudah memasukinya, maka dia enggan untuk keluar darinya hingga dia salat terlebih dahulu di dalamnya. Berkata, Nafi', "Dan Ibnu'Umar radhiallahu'anhuma menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi (masjid Quba') baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki." Berkata, Nafi', "Dan Ibnu'Umar radhiallahu'anhuma berkata, "Sesungguhnya aku mengerjakan yang demikian seperti aku melihat para sahabatku melakukannya, namun aku tidak melarang seseorangpun untuk mengerjakan salat pada waktu kapanpun yang dia suka baik di waktu malam maupun siang hari, asalkan tidak bersamaan waktunya saat terbitnya matahari atau saat tenggelam". (HR. Al-Bukhari: 1117 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Dan,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ. (رواه البخاري: ١١١٨)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Muslim dari 'Abdullah bin Dinar dari Ibnu'Umar radhiallahu'anhuma berkata, "Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi masjid Quba' pada setiap hari Sabtu, baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki." Dan Ibnu'Umar radhiallahu'anhuma juga melakukannya seperti itu. (HR. Al-Bukhari: 1118 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Lihat juga hadis riwayat imam al-Bukhari: 1118 dan Muslim: 2484 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Demikian juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 6781, Muslim: 2483, Ahmad: 4952, 5264, dan 6144 - dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Semua hadis ini menjelaskan sebagian matannya, yaitu bahwa Rasulullah ﷺ pergi ke Masjid Quba' dengan berjalan kaki dan terkadang berkendaraan. Sejalan dengan hadis-hadis tersebut juga diriwayatkan oleh imam an-Nasa'i: 691 dan imam Malik: 362.

Oleh: Samsurizal, MA