Pages - Menu

Kamis, 28 Maret 2024

MENAKAR KEBOHONGAN (Menelusuri jalur riwayat yang sahih)


MENAKAR KEBOHONGAN
(Menelusuri jalur riwayat yang sahih)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ مَا يَحْمِلُكُمْ عَلَى أَنْ تَتَابَعُوا فِي الْكَذِبِ كَمَا يَتَتَابَعُ الْفَرَاشُ فِي النَّارِ كُلُّ الْكَذِبِ يُكْتَبُ عَلَى ابْنِ آدَمَ إِلَّا ثَلَاثَ خِصَالٍ رَجُلٌ كَذَبَ عَلَى امْرَأَتِهِ لِيُرْضِيَهَا أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ فِي خَدِيعَةِ حَرْبٍ أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ بَيْنَ امْرَأَيْنِ مُسْلِمَيْنِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمَا. (رواه أحمد: ٢٦٢٨٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdii, telah menceritakan kepada kami Daud bin Abdurrahman dari Ibnu Hutsaim dari Syahr bin Hausyab dari Asma' binti Yazid bahwa dia telah mendengar Rasulullah ﷺ berkhotbah, kemudian beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, apa yang mendorong kalian ikut-ikutan berdusta sebagaimana anai-anai berebut ke api, setiap perbuatan dusta akan dicatat atas anak adam kecuali tiga hal; seorang suami yang berbohong kepada istrinya supaya istrinya ridha, atau seseorang yang berdusta dalam rangka strategi perang dan seseorang yang berbohong di antara kedua belah pihak dari kaum muslimin untuk mendamaikan keduanya." (HR. Ahmad: 26289 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah)

Dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruh) oleh para ulama kritikus hadis. Ia adalah Syahar bin Hawsyab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyah-nya Abu Sa'ad negeri hidup Syam dan wafat tahun 100 H. Penilaian para ulama kritikus hadis: Musa bin Harun dan Al-Bayhaqi menilainya dha'if, an-Nasa'i dan Hakim menilainya laisa biqawi, Ibnu Hazm menilainya saqith. Sementara Ahmad bin Hambal menilainya laisa bihiba's, Ibnu 'Adi menilainya dha'if jiddan. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduuq tetapi punya keragu-raguan.

Ummu Kultsum menceritakan sebagaimana hadis riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ أَنَّهَا قَالَتْ رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْكَذِبِ فِي ثَلَاثٍ فِي الْحَرْبِ وَفِي الْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ وَقَوْلِ الرَّجُلِ لِامْرَأَتِهِ. (رواه أحمد: ٢٦٠١٨)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf dari ibunya Ummu Kultsum binti 'Uqbah bahwa dia berkata, "Nabi ﷺ memberikan keringanan untuk berbohong pada tiga tempat; pada saat perang, pada saat mendamaikan antara manusia dan perkataan seseorang kepada istrinya (untuk menumbuhkan kecintaan)." (HR. Ahmad: 26018 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Ummu Kultsum binti 'Uqbah bin Abi Mu'aith, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Kultsum dan negeri hidup Madinah - pen, dilihat para periwayatnya tidak ada yang dinilai buruk)

Imam Malik menceritakan,

حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْذِبُ امْرَأَتِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا خَيْرَ فِي الْكَذِبِ فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعِدُهَا وَأَقُولُ لَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا جُنَاحَ عَلَيْكَ. (رواه مالك: ١٥٧٠)

Telah menceritakan kepadaku Malik dari Shafwan bin Sulaim berkata, "Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Aku akan berbohong kepada istriku, Wahai Rasulullah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada kebaikan dalam berbohong" Orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku berjanji kepadanya dan aku akan mengutarakannya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada dosa bagimu." (HR. Malik: 1570 - dha'if menurut Salim bin 'Ied al-Hilaly dari Syafwan bin Sulaim, ia tabi'in kalangan biasa kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 132 H. Menurut Ibnu Hajar, "tsiqah ahli ibadah, tertuduh beraliran Qadiriyah")

Sementara itu imam at-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ ح و حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ وَأَبُو أَحْمَدَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ و قَالَ مَحْمُودٌ فِي حَدِيثِهِ لَا يَصْلُحُ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَسْمَاءَ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ خُثَيْمٍ وَرَوَى دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ أَسْمَاءَ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ دَاوُدَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَكْرٍ. (رواه الترمذي: ١٨٦٢)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad az-Zubairi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata -Dalam jalur lain diriwayatkan- Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr as-Sariy dan Abu Ahmad, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Syahr bin Hausyab, dari Asma` binti Yazid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Berdusta tidak dihalalkan kecuali dalam tiga situasi; seorang suami yang membuat istrinya rida saat berbincang dengannya, dusta (tipu daya) dalam peperangan, dan dusta yang dilakukan dalam rangka untuk mendamaikan (sesama) manusia." Mahmud berkata dalam hadisnya: "Tidak diperkenankan dusta kecuali pada tiga perkara." Ini adalah hadis hasan. Kami tidak mengetahuinya dari hadis Asma` kecuali dari hadis Ibnu Khutsaim. Dan Dawud bin Abi Hind meriwayatkan hadis ini dari Syahr bin Hausyab, dari Nabi ﷺ, sementara di dalamnya ia tidak menyebutkan dari Asma` sebagaimana yang telah diceritakan Muhammad bin al-Ala` kepada kami, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Za`idah, dari Dawud. Terdapat juga hadis semakna yang diriwayatkan dari Abu Bakr. (HR. At-Tirmidzi: 1862 - sahih tanpa kalimat 'liyurdhiiha (supaya dia ridha kepadanya)' menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah)

Dalam sanadnya juga terdapat Syahar bin Hawsyab sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad: 26289. Demikian juga hadis riwayat imam Ahmad: 26315 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Asma' bin Yazid dengan kalimat "كَذِبُ الرَّجُلِ مَعَ امْرَأَتِهِ لِتَرْضَى" (seorang suami yang berdusta terhadap istrinya untuk mendapatkan keridhaan darinya). Sedangkan hadis riwayat imam Ahmad: 26326 dengan kalimat "كَذِبِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا" (seorang suami yang berdusta terhadap istrinya untuk mendapatkan keridhaan darinya).

Dalam redaksi yang berbeda diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا لَيْثٌ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ يُرِيدُ بِهِ الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلِ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةِ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا. (رواه أحمد: ٢٦٠١٥)

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Laits -yakni Ibnu Sa'd- dari Yazid -yakni Ibnu Al Hadi- dari Abdul Wahab dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bin 'Auf dari ibunya Ummu Kultsum binti 'Uqbah dia berkata, "Aku belum pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberikan keringanan sedikitpun dari kedustaan kecuali dalam tiga perkara; seseorang yang mengatakan suatu perkataan dengan maksud untuk mendamaikan, seseorang yang mengatakan perkataan dalam peperangan dan seorang (suami) yang mengatakan kepada istrinya, atau istri mengatakan kepada suaminya." (HR. Ahmad: 26015 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Ummu Kultsum. Dalam sanadnya tidak menyebutkan Syahar bin Hawsyab dan semua periwatnya maqbul)

Demikian juga hadis riwayat imam Ahmad: 26017. Kemudian imam Abu Daud meriwayatkan hadis yang sahih, beliau berkata,

حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْجِيزِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ عَنْ نَافِعٍ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ الْهَادِي أَنَّ عَبْدَ الْوَهَّابِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ حَدَّثَهُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا. (رواه أبوداود: ٤٢٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Sulaiman Al Jizi berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad dari nafi' -maksudnya Nafi' bin Yazid- dari Ibnul Hadi bahwa Abdul Wahhab bin Abu Bakr menceritakan kepadanya, dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdurrahman dari ibunya Ummu Kultsum binti Uqbah ia berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberi keringanan untuk berbohong kecuali pada tiga tempat. Rasulullah ﷺ mengatakan, "Aku tidak menganggapnya sebagai seorang pembohong; seorang laki-laki yang memperbaiki hubungan antara manusia. Ia mengatakan suatu perkataan (bohong), namun ia tidak bermaksud dengan perkataan itu kecuali untuk mendamaikan. Seorang laki-laki yang berbohong dalam peperangan. Dan seorang laki-laki yang berbohong kepada istri atau istri yang berbohong kepada suami (untuk kebaikan)." (HR. Abu Daud: 4275 - sahih dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah. Tanpa menyebut nama Syahar bin Hawsyab)

Lafazh,

" ... وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا ... "

" ... Dan seorang laki-laki yang berbohong kepada istri atau istri yang berbohong kepada suami ..."

Hanya diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 4275 dan Ahmad: 26015 yang dalam sanadnya tidak terdapat Syahar bin Hawsyab. Oleh sebab itu keduanya adalah hadis sahih -pen. Perlu penulis tegaskan bahwa hadis yang dha'if terkait dengan konteks ini terdapat periwayat yang bernama Syahar bin Hawsyab, para ulama kritikus hadis menilainya jarah (buruk). Imam Ahmad meriwayatkan 205 hadis dari jalur Syahar bin Hawsyab.

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.

KEUNGGULAN NEGERI YAMAN DAN KEHADIRAN KHALID BIN AL-WALID


KEUNGGULAN NEGERI YAMAN DAN KEHADIRAN KHALID BIN AL-WALID
Oleh: Samsurizal

Imam Muslim meriwayatkan,

و حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ قَالَ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْكُفْرُ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ وَالْفَخْرُ وَالرِّيَاءُ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْوَبَرِ. (رواه مسلم: ٧٦)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah serta Ibnu Hujr dari Ismail bin Ja'far berkata Ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ismail dia berkata, telah mengabarkan kepadaku al-Ala' dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Iman itu ada pada Yaman, kekufuran itu ada pada arah timur (maksudnya kaum Majusi), ketenangan ada pada penggembala kambing (maksudnya penduduk Yaman), dan kesombongan dan riya' itu ada pada orang-orang yang bersuara keras; pengembala kuda dan unta (orang Badui)." (HR. Muslim: 76 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadis semakna diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi: 2169, Ahmad: 8491, 8918, 9135, 9516, dan 9893 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja pada hadis riwayat Ahmad: 9135 disebutkan kalimat "الْإِيمَانُ يَمَانٍ الْإِيمَانُ يَمَانٍ الْإِيمَانُ يَمَانٍ" diucapkan tiga kali sambil Rasulullah menunjuk ke Yaman. Sementara itu perlu diketahui pada riwayat imam Ahmad; beliau meriwayatkan dari guru yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan hadis ini sangat kuat atau sahih lagi masyhur dikalangan ulama hadis.

Bahkan Khalid bin al-Walid pernah diutus oleh Rasulullah ke Yaman, sebagaimana hadis riwayat imam al-Bukhari,

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا شُرَيْحُ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ أَبِي إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ ثُمَّ بَعَثَ عَلِيًّا بَعْدَ ذَلِكَ مَكَانَهُ فَقَالَ مُرْ أَصْحَابَ خَالِدٍ مَنْ شَاءَ مِنْهُمْ أَنْ يُعَقِّبَ مَعَكَ فَلْيُعَقِّبْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُقْبِلْ فَكُنْتُ فِيمَنْ عَقَّبَ مَعَهُ قَالَ فَغَنِمْتُ أَوَاقٍ ذَوَاتِ عَدَدٍ. (رواه أالبخاري: ٤٠٠٢)

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin 'Utsman, telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Maslamah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Yusuf bin Ishaq bin Abu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Abu Ishaq Aku mendengar Al Bara' berkata, Rasulullah ﷺ mengutus kami bersama Khalid bin Walid ke Yaman, Al Bara berkata, kemudian Nabi ﷺ mengutus Ali untuk mengganti kepemimpinanya. Beliau berkata kepada Ali, 'Suruhlah tentara Khalid untuk ikut bersama kamu ke Yaman, bagi siapa saja yang mau, dan siapa yang ingin pulang, silakan!' Dan aku termasuk orang yang ikut bersama Ali. Al Bara berkata, 'lalu aku mendapatkan ghanimah yang begitu banyak.' (HR. Al-Bukhari: 4002 - sahih dari al-Bara' bin 'Azib bin al-Harits, ia sahabat kuniyah-nya Abu Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H. Hadis ahlul Kufah)

Bahkan imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنِي قَيْسٌ قَالَ سَمِعْتُ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ يَقُولُ لَقَدْ دُقَّ فِي يَدِي يَوْمَ مُؤْتَةَ تِسْعَةُ أَسْيَافٍ وَصَبَرَتْ فِي يَدِي صَفِيحَةٌ لِي يَمَانِيَةٌ. (رواه ألبخاري: ٣٩٣٣)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ismail katanya, telah menceritakan kepadaku Qais, katanya, aku mendengar Khalid bin Walid mengatakan, "Pada perang Mu'tah ada Sembilan pedang putus di tanganku, namun yang tertinggal di tanganku hanya sebilah pedang buatan Yaman." (HR. Al-Bukhari: 3933 - sahih dari Khalid bin al-Walid bin al-Mughirah, ia sahabat kuniyah-nya Abu Sulaiman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 21 H)

Hadis semakna juga diriwayatkan oleh Khalid bin al-Walid, yaitu hadis riwayat imam al-Bukhari: 3932.

KEUTAMAAN KHALID BIN WALID

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَزَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْزِلًا فَجَعَلَ النَّاسُ يَمُرُّونَ فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ هَذَا يَا أَبَا هُرَيْرَةَ فَأَقُولُ فُلَانٌ فَيَقُولُ نِعْمَ عَبْدُ اللَّهِ هَذَا وَيَقُولُ مَنْ هَذَا فَأَقُولُ فُلَانٌ فَيَقُولُ بِئْسَ عَبْدُ اللَّهِ هَذَا حَتَّى مَرَّ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَقَالَ مَنْ هَذَا فَقُلْتُ هَذَا خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَقَالَ نِعْمَ عَبْدُ اللَّهِ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَلَا نَعْرِفُ لِزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ سَمَاعًا مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهُوَ عِنْدِي حَدِيثٌ مُرْسَلٌ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ. (رواه الترمذي: ٣٧٨١)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Hisyam bin Sa'd dari Zaid bin Aslam dari Abu Hurairah dia berkata, Kami singgah bersama Rasulullah ﷺ di suatu tempat, lalu ada orang-orang yang lewat di depan beliau, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapakah ini wahai Abu Hurairah?" jawabku, "Fulan." Beliau bersabda, "Alangkah baiknya hamba Allah ini." beliau bersabda lagi, "Lalu siapakah orang ini?" jawabku, "Dia adalah fulan." Beliau bersabda, "Alangkah buruknya hamba Allah ini." hingga Khalid bin Walid lewat, maka beliau bertanya, "Siapakah ini?" jawabku, "Dia adalah Khalid bin Walid." beliau bersabda, "Alangkah baiknya hamba Allah Khalid bin Walid, salah satu pedang dari pedang-pedang Allah." Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak pernah mengetahui Zaid bin Aslam mendengar dari Abu Hurairah, dan menurutku hadits ini adalah hadits mursal. Abu Isa berkata, "Dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Abu Bakar As Shiddiq." (HR. At-Tirmidzi: 3781 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِي وَحْشِيُّ بْنُ حَرْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ وَحْشِيِّ بْنِ حَرْبٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَقَدَ لِخَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ عَلَى قِتَالِ أَهْلِ الرِّدَّةِ وَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ نِعْمَ عَبْدُ اللَّهِ وَأَخُو الْعَشِيرَةِ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَسَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ سَلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِينَ. (رواه أحمد: ٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin 'Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim, telah menceritakan kepadaku Wahsyi bin Harb dari bapaknya dari kakeknya Wahsyi bin Harb, bahwa Abu Bakar menunjuk Khalid bin Walid untuk memerangi orang-orang yang murtad, kemudian berkata, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik baik hamba Allah dan saudara untuk bergaul adalah Khalid bin Al Walid dan salah satu dari pedang-pedang Allah, yang Allah hunuskan kepada orang-orang kafir dan munafik." (HR. Ahmad: 42 - sahih, isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Utsman bin 'Amir bin 'Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taymi bin Murrah, ia sahabat kuniyah-nya Abu Bakar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 13 H)

Dan,

حَدَّثَنَا مَكِّيٌّ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ هَاشِمٍ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ كِنَانَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا كُنَّا تَحْتَ ثَنِيَّةِ لِفْتٍ طَلَعَ عَلَيْنَا خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ مِنْ الثَّنِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ انْظُرْ مَنْ هَذَا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَ عَبْدُ اللَّهِ هَذَا. (رواه أحمد: ٨٣٦٣)

Telah menceritakan kepada kami Makki berkata, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Hasyim dari Ishaq bin Abdullah bin Al Harits bin Kinanah dari Abu Hurairah ia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ hingga ketika kami berada di tsaniyyah liftin, Khalid bin Walid muncul dari tsaniyah, maka Rasulullah ﷺ bersabda pada Abu Hurairah, "Lihatlah siapa ini?" Abu Hurairah berkata, "Khalid bin Walid." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik hamba Allah adalah orang ini." (HR. Ahmad: 8363 - hasan, isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Dalam riwayat lain,

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ اسْتَعْمَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ عَلَى الشَّامِ وَعَزَلَ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ قَالَ فَقَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بُعِثَ عَلَيْكُمْ أَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدةَ بْنُ الْجَرَّاحِ قَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خَالِدٌ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنِعْمَ فَتَى الْعَشِيرَةِ. (رواه أحمد: ١٦٢٢٠)

Telah menceritakan kepada kami Husain bin 'Ali Al Ja'fi dari Za`idah dari Abdul Malik bin 'Umair berkata, 'Umar bin Khattab pernah mengangkat Abu 'Ubaidah Ibnu Jarah untuk menjadi pejabat di Syam dan menghentikan Khalid bin Al Walid. (Abdul Malik bin 'Umair radhiallahu'anhu) berkata, lalu Khalid bin Al Walid berkata, "Telah diutus kepada kalian orang kepercayaan umat ini. Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Orang kepercayaan umat ini adalah Abu 'Ubaidah Ibnu Jarrah.'" Abu 'Ubaidah berkata, "Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Khalid adalah salah satu pedang daripada pedang-pedang Allah 'Azza wa Jalla dan sebaik-baik pemuda sebuah kaum." (HR. Ahmad: 16220 - sahih lighairihi menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Khalid bin al-Walid bin al-Mughirah, ia sahabat kuniyah-nya Abu Sulaiman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 21 H)

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.

Rabu, 27 Maret 2024

PUASALAH DENGAN HIKMAH


PUASALAH DENGAN HIKMAH DAN BANGUN MALAMLAH DENGAN KETENANGAN

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ. (رواه إبن ماجه: ١٦٨٠)

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Rafi' berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Mubarak dari Usamah bin Zaid dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala melainkan hanya rasa lapar dan berapa banyak orang yang salat malam tidak mendapatkan apa-apa selain begadang." (HR. Ibnu Majah: 1680 - hasan sahih menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 9308 - isnad-nya hasan dan 8501 - isnad-nya jayyid menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Demikian juga diriwayatkan oleh imam ad-Darimi: 2604 - isnad-nya hasan menurut Husain Salim Asad ad-Darani dari Abu Hurairah. Ketiga hadis tersebut dari sahabat yang sama dan jalur sanad berbeda.

Ingatlah bahwa begadang dapat menghindarkan kita dari neraka, sebagaimana diinformasikan oleh imam  an-Nasa'i,

أَخْبَرَنَا عِصْمَةُ بْنُ الْفَضْلِ قَالَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شُرَيْحٍ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ شُمَيْرٍ الرُّعَيْنِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا عَلِيٍّ التُّجِيبِيَّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا رَيْحَانَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حُرِّمَتْ عَيْنٌ عَلَى النَّارِ سَهِرَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. (رواه النسائي: ٣٠٦٦)

Telah mengabarkan kepada kami 'Ishmah bin Al Fadhl, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab dari Abdur Rahman bin Syuraih, ia berkata, saya pernah mendengar Muhammad bin Syumair Ar Ru'aini berkata, saya pernah mendengar Abu Ali At Tujibi bahwa ia mendengar Abu Raihanah berkata, saya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Mata yang begadang di jalan Allah diharamkan bagi neraka." (HR. An-Nasa'i: 3066 - sahih dari Syam'un bin Zaid bin Khunafah, ia sahabat kuniyah-nya Abu Raihanah dan negeri hidup Syam)

Demikian juga hadis semakna diriwayat oleh imam ad-Darimi. Hanya saja disebutkan tiga hal begadang yang diharamkan dari neraka. Imam ad-Darimi meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا الْقَاسِمُ بْنُ كَثِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ شُرَيْحٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي الصَّبَّاحِ مُحَمَّدِ بْنِ سُمَيْرٍ عَنْ أَبِي عَلِيٍّ الْهَمْدَانِيِّ عَنْ أَبِي رَيْحَانَةَ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ فَسَمِعَهُ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهُوَ يَقُولُ حُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ سَهِرَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَحُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ دَمَعَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ قَالَ وَقَالَ الثَّالِثَةَ فَنَسِيتُهَا قَالَ أَبُو شُرَيْحٍ سَمِعْتُ مَنْ يَقُولُ ذَاكَ حُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ أَوْ عَيْنٍ فُقِئَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه الدارمي: ٢٢٩٣)

Telah mengabarkan Al Qasim bin Katsir ia berkata, aku mendengar Abdurrahman bin Syuraih, telah menceritakan kepada kami dari Abu Ash Shabbah Muhammad bin Sumair dari Abu Ali Al Hamdani dari Abu Raihanah bahwa ia pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu ekspedisi, suatu malam, dia mendengar beliau bersabda, "Telah diharamkan Neraka bagi mata yang begadang (untuk berjaga-jaga) di jalan Allah, dan telah diharamkan Neraka bagi mata yang menangis karena takut kepada Allah." Lalu beliau menyebutkan yang ketiga, namun aku lupa. Abu Syuraih berkata, Ku mendengar orang yang mengatakan hal itu, yaitu, "Telah diharamkan Neraka bagi mata yang menahan dari melihat perkara-perkara yang diharamkan Allah, atau mata yang dicongkel di jalan Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ad-Darimi: 2293 - isnad-nya jayyid menurut Husain Salim Asad ad-Darani dari Syam'un bin Zaid)

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sabab al-wurud-nya,

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ شُرَيْحٍ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ سُمَيْرٍ الرُّعَيْنِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا عَامِرٍ التُّجِيبِيَّ قَالَ أَبِي وَقَالَ غَيْرُهُ الْجَنَبِيَّ يَعْنِي غَيْرَ زَيْدٍ أَبُو عَلِيٍّ الْجَنَبِيُّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا رَيْحَانَةَ يَقُولُ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ فَأَتَيْنَا ذَاتَ لَيْلَةٍ إِلَى شَرَفٍ فَبِتْنَا عَلَيْهِ فَأَصَابَنَا بَرْدٌ شَدِيدٌ حَتَّى رَأَيْتُ مَنْ يَحْفِرُ فِي الْأَرْضِ حُفْرَةً يَدْخُلُ فِيهَا يُلْقِي عَلَيْهِ الْحَجَفَةَ يَعْنِي التُّرْسَ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ النَّاسِ نَادَى مَنْ يَحْرُسُنَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَأَدْعُو لَهُ بِدُعَاءٍ يَكُونُ فِيهِ فَضْلٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا فَقَالَ مَنْ أَنْتَ فَتَسَمَّى لَهُ الْأَنْصَارِيُّ فَفَتَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالدُّعَاءِ فَأَكْثَرَ مِنْهُ قَالَ أَبُو رَيْحَانَةَ فَلَمَّا سَمِعْتُ مَا دَعَا بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ أَنَا رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَوْتُ فَقَالَ مَنْ أَنْتَ قَالَ فَقُلْتُ أَنَا أَبُو رَيْحَانَةَ فَدَعَا بِدُعَاءٍ هُوَ دُونَ مَا دَعَا لِلْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ قَالَ حُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ دَمَعَتْ أَوْ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَحُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ سَهِرَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ قَالَ حُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ أُخْرَى ثَالِثَةٍ لَمْ يَسْمَعْهَا مُحَمَّدُ بْنُ سُمَيْرٍ وَقَالَ غَيْرُهُ يَعْنِي غَيْرَ زَيْدٍ أَبُو عَلِيٍّ الْجَنَبِيُّ. (رواه أحمد: ١٦٥٨١)

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Habhab berkata, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Syuraikh berkata, saya telah mendengar Muhammad bin Sumair Ar-Ru'aini berkata, saya telah mendengar Abu 'Amir At-Tujibi bapakku berkata, dan yang lainnya berkata, Al Janabi yaitu selain Zaid Abu Ali yaitu Al Janabi berkata, saya telah mendengar Abu Raihanah berkata, "Kami bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan, pada suatu malam kami mendatangi ke suatu tempat yang agak tinggi, lalu kami bermalam disitu. Kami merasakan kedinginan yang sangat, sampai saya melihat ada orang yang menggali lubang pada tanah lalu dia jadikan untuk berdiam diri, dan dia letakkan hajfah atau tamengnya di atas lubang itu." Tatkala Rasulullah ﷺ melihat hal itu, beliau memanggil, "Siapa yang hendak menjaga kami pada malam itu, dan saya akan mendoakannya dengan doa yang berisikan keutamaan!, lalu ada seorang laki-laki Anshar berkata, "Saya Wahai Rasulullah." lalu beliau bersabda, "Siapakah kamu", lalu orang Anshar itu menyebutkan namanya, Rasulullah ﷺ membuka dengan doa, dengan banyak doa. Abu Raihanah berkata, "Tatkala saya mendengar doa yang dipanjatkan Rasulullah ﷺ, saya berkata, 'Saya akan ikut." Beliau bersabda, "Mendekatlan, " Saya pun mendekat, beliau bertanya, "Siapakah kamu?" Dia berkata, "Saya Abu Raihanah, " lalu beliau berdoa dengan doa yang lain dengan doa kepada orang Anshar. Beliau bersabda, "Diharamkan neraka atas mata yang menetes atau menangis karena takut kepada takut Allah dan diharamkan neraka atas mata yang berjaga di jalan Allah, " atau berkata, "Atau diharamkan pada neraka atas mata lain (yang disebut nabi pada kali ketiga) yang tidak didengar Muhammad bin Sumair dan yang lainnya berkata, yaitu selain Zaid Abu Ali Al Janabi. (HR. Ahmad: 16581 - hasan lighairihi dari Syam'un bin Zaid)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ. (قرآن سورة هود/١١: ١١٤)

Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (QS. Hūd/11: 114)

وَاصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ. (قرآن سورة هود/١١: ١١٥)

Bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan. (QS. Hūd [11]:115)

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.

Selasa, 19 Maret 2024

PROPAGANDA "PROPAGARE" SETAN


PROPAGANDA "PROPAGARE" SETAN
Oleh: Samsurizal


Propaganda "propagare" diartikan "mengembangkan" atau "memekarkan". Menyebarkan serangkaian pesan dengan tujuan agar dapat memengaruhi pendapat seseorang, tindakan masyarakat, atau sekelompok orang. Efeknya memengaruhi persepsi, memanipulasi alam bawah sadar atau koqnisi sehingga berpengaruh langsung kepada perilaku mereka. Kemudian respon yang ditimbulkan sesuai dengan kehendak pelaku propaganda secara disengaja dan sistematis.

Setan dengan cara ini telah berhasil menggelincirkan Nabi Adam dan Hawa. Begitu juga menyesatkan begitu banyak manusia dengan bentuk-bentuk pesan propaganda.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ. (قرآن سورة ألأعراف/٧: ٢٧)

Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh setan sebagaimana ia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua. Sesungguhnya ia (setan) dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak (bisa) melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu (sebagai) penolong bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-A‘rāf/7: 27)

وَاِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً قَالُوْا وَجَدْنَا عَلَيْهَآ اٰبَاۤءَنَا وَاللّٰهُ اَمَرَنَا بِهَاۗ قُلْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِۗ اَتَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ. (قرآن سورة ألأعراف/٧: ٢٨)

Apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kekejian. Pantaskah kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (QS. Al-A‘rāf/7: 28)

Setelah Rasulullah ﷺ di utus hal tersebut mestinya dapat ditangkal sampai sekarang. Tetapi, sebagian besar mereka tetap mengikuti para propagandis. Program mereka jelas saling bekerja sama untuk mengaburkan bahkan menawan kebenaran dan kejujuran dengan berbagai cara.

Sebuah ilustrasi yang disampaikan oleh Rasulullah melalui hadis-nya yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ بَعْجَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْجُهَنِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ أَفْضَلُ النَّاسِ فِيهِ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ أَخَذَ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كُلَّمَا سَمِعَ بِهَيْعَةٍ اسْتَوَى عَلَى مَتْنِهِ ثُمَّ طَلَبَ الْمَوْتَ مَظَانَّهُ وَرَجُلٌ فِي شِعْبٍ مِنْ هَذِهِ الشِّعَابِ يُقِيمُ الصَّلَاةَ وَيُؤْتِي الزَّكَاةَ وَيَدَعُ النَّاسَ إِلَّا مِنْ خَيْرٍ. (رواه إبن ماجه: ٩٣٤٦)

Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid dari Ba'jah bin Abdullah Al Juhani dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, akan datang suatu zaman kepada manusia, sebaik-baik manusia pada masa itu sejajar dengan seorang laki-laki yang mengambil tali kekang kudanya di jalan Allah, setiap kali mendengar musuh ia duduk dengan gagah di atas kudanya seraya menghadang mengharap kematian. Dan seorang laki-laki yang berada pada salah satu lembah ini, ia menegakkan salat dan menunaikan zakat dan meninggalkan manusia kecuali dari kebaikan." (HR. Ibnu Majah: 9346 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Semoga kita dapat mengatasi dan mampu meningkatkan kewaspadaan diri, memperkokoh pengetahuan atas kebenaran ajaran Islam. Sehingga ajaran Nabi Muhammad ﷺ dapat diikuti secara bersih dan istiqamah, serta tetap dalam kebajikan.

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Senin, 11 Maret 2024

HADIS TENTANG WANITA PERGI SHALAT JEMAAH KE MASJID


HADIS TENTANG WANITA PERGI SHALAT JEMAAH KE MASJID
(Historisasi hadis)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ حَدَّثَنِي عَمْرٌو عَنْ أَبِي السَّمْحِ عَنِ السَّائِبِ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ. (رواه أحمد: ٢٥٣٣١)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dia berkata, telah menceritakan kepada kami Risydin, telah menceritakan kepadaku Amru dari Abu Assamh dari Assaib, pembantu Ummu Salamah dari Ummu Salamah dari Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka." (HR. Ahmad: 25331 - hasan menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)

Dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadis. Ia adalah Risydin bin Sa'ad Muflih, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyah-nya Abu Al Hajjaj negeri hidup Maru dan wafat tahun 188 H. Penilaian para ulama: Abu Hatim, Abu Zur'ah, an-Nasa'i, Abu Daud, dan Ad-Daruquthni menilainya dha'iful hadits. Sementara Ibnu Hajar dan Ibnu Sa'ad menilainya dha'if. Sedangkan Yahya bin Ma'in berkomentar bahwa hadisnya tidak ditulis.

Akan tetapi dalam kesempatan lain, imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar. Beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَابْنُ إِدْرِيسَ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ. (رواه مسلم: ٦٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair, telah menceritakan kepada kami Bapakku dan Ibnu Idris keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian menghalangi kaum wanita pergi ke masjid Allah". (HR. Muslim: 668 - sahih dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Hadis semakna juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari,

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَتْ امْرَأَةٌ لِعُمَرَ تَشْهَدُ صَلَاةَ الصُّبْحِ وَالْعِشَاءِ فِي الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَقِيلَ لَهَا لِمَ تَخْرُجِينَ وَقَدْ تَعْلَمِينَ أَنَّ عُمَرَ يَكْرَهُ ذَلِكَ وَيَغَارُ قَالَتْ وَمَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْهَانِي قَالَ يَمْنَعُهُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ. (رواه البخاري: ٨٤٩)

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin 'Umar dari Nafi' dari Ibnu 'Umar: "Istri Umar ikut menghadiri salat Subuh dan Isya berjamaah di masjid."

Lalu dikatakan kepadanya, "Kenapa kamu pergi ke masjid padahal kamu telah mengetahui bahwa 'Umar tidak menyukainya?"

Wanita itu berkata, "Apa yang menghalangi dia untuk melarangku?"

Penanya itu berkata, "Yang mencegahnya adalah sabda Rasulullah ﷺ: 'Janganlah kalian larang para wanita mendatangi masjid-masjid Allah." (HR. Al-Bukhari: 849 - sahih dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 479, Ibnu Majah: 16, Ahmad: 4695, 6098 - sahih dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Hanya saja imam Ad-Darimi meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلْيَخْرُجْنَ إِذَا خَرَجْنَ تَفِلَاتٍ أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو بِإِسْنَادِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ قَالَ سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ التَّفِلَةُ الَّتِي لَا طِيبَ لَهَا. (رواه الدارمي: ١٢٤٨)

Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian melarang para wanita untuk menuju ke masjid, hendaklah mereka keluar jika tidak memakai minyak wangi."

Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin 'Amir dari Muhammad bin 'Amru dengan sanad hadits ini.

Ia berkata, Sa'id bin 'Amir berkata, "At tafilah adalah wanita yang tidak memakai minyak wangi." (HR. Ad-Darimi: 1248 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadis riwayat imam Ahmad: 478, 9270, dan 9760, dan 10415 - sahih dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Tegasnya, pada hadis ke-20685 dan 20693 imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا رِبْعِيٌّ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ هِشَامٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ الْمَسَاجِدَ وَلْيَخْرُجْنَ تَفِلَاتٍ. (رواه أحمد: ٢٠٦٩٣)

Telah menceritakan kepada kami Rib'i bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ishaq dari Muhammad bin Abdullah bin Amru bin Hisyam dari Busr bin Sa'id dari Zaid bin Khalid Al Juhanni berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian menghalangi para wanita pergi ke masjid, dan suruhlah mereka menghilangkan wewangian yang mereka kenakan." (HR. Ahmad: 20693 - shahih lighairihi menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Zaid bin Khalid, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 68 H)

Indikasi adanya perkembangan sosial terlihat pada hadis riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الرِّجَالِ فَقَالَ أَبِي يَذْكُرُهُ عَنْ أُمِّهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلْيَخْرُجْنَ تَفِلَاتٍ قَالَتْ عَائِشَةُ وَلَوْ رَأَى حَالَهُنَّ الْيَوْمَ مَنَعَهُنَّ. (رواه أحمد: ٢٣٢٧٠)

Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Ar-Rijal berkata, Ayahku menceritakannya dari ibunya dari Aisyah dari Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian melarang wanita pergi ke masjid, dan hendaklah mereka keluar dengan tidak menggunakan wangi-wangian."

Aisyah berkata, "Kalau Nabi melihat keadaan wanita sekarang ini maka beliau tentu melarangnya." (HR. Ahmad: 23270 - shahih lighairihi menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Aisyah binti Abi Bakar Ash-Shiddiq, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Sedangkan hadis riwayat imam Abu Daud: 1834 dari Iyas bin Abdullah adalah tentang pembangkangan para perempuan terhadap suaminya. Redaksinya sebagaimana diriwayatkan oleh imam Abu Daud,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي خَلَفٍ وَأَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السَّرْحِ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ابْنُ السَّرْحِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي ذُبَابٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَضْرِبُوا إِمَاءَ اللَّهِ فَجَاءَ عُمَرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ذَئِرْنَ النِّسَاءُ عَلَى أَزْوَاجِهِنَّ فَرَخَّصَ فِي ضَرْبِهِنَّ فَأَطَافَ بِآلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءٌ كَثِيرٌ يَشْكُونَ أَزْوَاجَهُنَّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ طَافَ بِآلِ مُحَمَّدٍ نِسَاءٌ كَثِيرٌ يَشْكُونَ أَزْوَاجَهُنَّ لَيْسَ أُولَئِكَ بِخِيَارِكُمْ. (رواه أبوداود: ١٨٣٤)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Khalaf, serta Ahmad bin 'Amr bin As Sarh, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abdullah bin Abdullah, Ibnu As Sarh 'Ubaidullah bin Abdullah berkata, dari Iyas bin Abdullah bin Abu Dzubab, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian memukul hamba-hamba wanita Allah (yakni, istri-istri kalian)!"

Kemudian Umar datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, para wanita berani kepada suami-suami mereka.

Kemudian beliau memberikan keringanan untuk memukul meraka.

Kemudian terdapat banyak wanita yang mengelilingi keluarga Rasulullah ﷺ, mereka mengeluhkan para suami mereka.

Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh telah terdapat wanita banyak yang mengelilingi keluarga Muhammad dan mengeluhkan para suami mereka. Mereka bukanlah orang pilihan (terbaik) diantara kalian." (HR. Abu Daud: 1834 - sahih dari Iyas bin Abdullah bin Abi Dzuhab, ia sahabat)

Iyas bin Abdullah menurut Ibnu Hajar diperselisihkan statusnya sebagai sahabat. Ahmad bin Hambal dan Al-Bukhari menyebutkan bahwa ia bukan sahabat. Ibnu Hibban menyebutkan dalam tsiqah tabi'in.

Demikian semoga dapat dipahami. Wallaahu muwafiq, wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.