Pages - Menu

Rabu, 22 Februari 2023

STOICISM (Toxic Positivity)


STOICISM (Toxic Positivity)
 Hidup: Menghadapi Patah Hati
(Nasehat Epictetus dan Marcus Aurelius)

"Proses dalam kontrolku, namun hasil diluar kontrolku. Buat apa responsif terhadap hal yang diluar kontrol. Yang penting usahanya maksimal, agar lebih siap."

"Sumbernya kebaikan itu adalah kebajikan: empat kebajikan utama - Wisdom (kebijaksanaan), tahu mana baik dan yang buruk. Temperance (kesederhanaan) - menyadari diri, justice (keadilan) - tidak memihak, and courage (berani).

Toxic Positivity: gagasan bahwa kita seharusnya hanya memikirkan hal-hal yang positif dan tidak membiarkan diri memiliki pikiran atau emosi yang negatif. Sering kali kita melakukan ini dan memproteksikan citra positif, bahkan saat kita tidak merasa positif. Pada dasarnya ini adalah represi emosional, yakni tidak membiarkan diri kita merasakan apa yang seharusnya dirasakan, dan kadang juga mengabaikan apa yang orang lain rasakan. Secara umum hal semacam ini adalah palsu dan pura-pura.

Menjadi Stoik, sama halnya belajar menerima. Menyarankan kepada kita bahwa agar dikelola secara positif. ketabahan menerima, bukan kepura-puraan tidak menerima.

Stoicism tentang hidup: paham dan sadar - menerima rasa dan pengalaman - mengendalikan diri - memberi yang terbaik - belajar untuk lebih baik.

Segala sesuatu ada pola-nya, hukum/sunnatullah-Nya. Misalnya: ada pertemuan-ada perpisahan, ada suka-ada duka, siapa mencintai-ia dicintai, dll.

1. Menyiapkan diri/mental untuk menghadapi.
2. Menyadari nilai segala sesuatu di sekeliling kita dan menyukurinya.
3. Manfaatkanlah segala anugerah itu sebagai dasar kebajikan.
4. Membangun monumen dan kenangan kebajikan sebanyak mungkin agar tetap dikenang dan menjadi sejarah yang tetap hidup di hati mereka.
5. Meningkatkan kualitas diri, sehingga bisa memberi lebih banyak kepada orang yang dicintai. Kemampuan kita bertambah maka manfaat kita juga akan bertambah.
6. Pada akhirnya saat keniscayaan itu tiba, apa pun yang terjadi, kita tetap menjadi manusia yang selalu lebih baik.

"Ayo sadar diri, bersyukur, manfaatkan anugerah, bangun momen terbaik, tingkatkan kualitas diri, tetap jadi yang terbaik".

Menghadapi Patah Hati dari sudut pandang Stoikisme

Sadari Kenyataan Hidup

Ada yang hadir, ada yang keluar dari keberadaan. Beberapa dari apa yang pernah ada, sekarang sudah hilang. Perubahan dan perubahan terus menerus mengubah dunia, seperti perkembangan waktu yang tak henti-hentinya mengubah keabadian." (Marcua Aurelius)

Sadarilah hidup ini senantiasa berubah, itulah hidup. Jangan mengungkit-ungkit yang dahulu, dimana kamu rasa sesuai dengan harapanmu. Hal ini harus diakhui agar meringankan hidupmu. Perubahan seperti bukan sesuatu yang aneh, hanya saja tidak bisa kamu kontrol.

Ingat kalimat ini, "Tanamkan dalam dirimu bahwa yang lain durasinya panjang, sedang bagi kita durasinya pendek". Oleh karena itu, kepahitan tersebut tidak membebankan pikiranmu.

Sadari Kenyataan Hidup

"Saat engkau mencintai sesuatu, tempatkan di hadapan dirimu posisi yang berlawanan. Apa salahnya saat engkau mencium anakmu engkau bisikkan dengan suara lirih, "Besok kamu pun akan mati", dan kepada seorang teman, "Besok kamu yang akan pergi atau aku yang akan pergi, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi". (Epictetus - sang Budak)

عندما تحب شيئًا ما ، ضع أمامك الموقف المعاكس. ما الخطأ عندما تقبل طفلك ، فأنت تهمس بصوت منخفض ، "غدًا ستموت أيضًا" ، ولصديق ، "غدًا سترحل أو سأرحل ، ولن نلتقي مرة أخرى أبدًا". (أبكتيتوس - العبد)

"Jangan berharap segalanya terjadi seperti yang engakau inginkan, namun terimalah segalanya yang terjadi, maka hidupmu akan tenang". (Epictetus - seorang budak)

"لا تتوقع أن يحدث كل شيء كما يحلو لك ، ولكن تقبل كل ما يحدث ، فعندئذ ستكون حياتك هادئة." (ابكتيتوس)

"Jangan biarkan pikiranmu tentang keseluruhan hidupmu menghancurkanmu. Jangan isi pikiranmu dengan segala hal buruk yang mungkin masih akan terjadi. Tetap fokus pada situasi saat ini dan tanyakan pada diri sendiri mengapa begitu tak tertahankan dan rasanya tidak dapat bertahan." (Marcus Aurelius - Seorang Kaisar)

"Kebahagiaan hidupmu tergantung pada kualitas pikiranmu: oleh karena itu, jagalah sebagaimana mestinya, dan berhati-hatilah agar engkau tidak memiliki pikiran yang tidak sesuai dengan kebajikan dan kewajaran." (Marcus Aurelius - Kaisar)

"Apapun yang dilakukan atau dikatakan orang, aku harus tetap menjadi zamrud dan mempertahankan warnaku". (Marcus Aurelius)

Rintangan Hakekatnya Adalah Jalan
"Meskipun benar bahwa seseorang dapat menghalangi tindakan kita, mereka tidak dapat menghalangi niat dan sikap kita, yang memiliki kekuatan untuk berubah dan dapat beradaptasi. Karena pikiran menyesuaikan dan mengubah hambatan apa pun menjadi penghalang tindakan diubah menjadi jembatan bagi tindakan. Hambatan menjadi petunjuk jalan." (Markus Aurelius)

Jangan Memperparah Keadaan:
"Betapa jauh lebih berbahaya konsekuensi dari kemarahan dan kesedihan daripada keadaan yang membangkitkan ya dalam diri kita!." (Markus Aurelius)

Jangan Cengeng,
"Kami menangis kepada Tuhan, bagaimana kami bisa lolos dari penderitaan ini? Bodoh, kau tidak punya tangan? Atau mungkin Tuhan lupa memberimu sepasang?". (Epictetus)

Jangan Malu Minta Bantuan,
"Jangan malu saat membutuhkan bantuan. Engkau memiliki kewajiban untuk dipenuhi seperti seorang prajurit di tembok pertempuran. Jadi bagaimana jika engkau terluka dan tidak bisa memanjat tanpa bantuan prajurit lain?". (Marcus Aurelius)

Mengapa Sakit Sekali:
"Saat engkau tersiksa oleh sesuatu dari luar dirimu, rasa sakit itu sebenarnya bukan dari sesuatu itu sendiri, dan engkau memiliki kekuatan terhadapnya, dan engkau memiliki kekuatan untuk mencabutnya kapan pun kau mau. Tolaklah rasa sakitmu dan rasa sakit itu akan lenyap." (Marcus Aurelius)

Dan,
"Saat engkau sedang melawan orang yang tidak tahu malu, tanyakan kepada dirimu hal ini: apakah mungkin di dunia ini bersih dari tindakan tidak tahu malu? Tidak. Maka jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Selalu ada orang yang tidak punya malu di dunia, dan ini adalah salah satunya. Hal yang sama lakukanlah untuk seseorang yang jahat, tidak dapat dipercaya atau kerendahan moral lainnya. Mengingat bahwa di seluruh dunia ini pasti ada beda-beda kelas moral akan lebih membuatmu toleran terhadap penghuninya." (Marcus Aurelius)

Aku Harus Bagaimana Kepadanya?
"Merasa sayang kepada orang lain, meskipun mereka melakukan banyak kesalahan adalah sifat unik manusia. Engkau dapat melakukannya, cukup dengan mengakui: bahwa mereka juga manusia. Mereka melakukan itu karena tidak sadar, berlawanan dengan kata hati mereka, dan kita semua akhirnya akan sama-sama mati tidak lama lagi. Di di atas semuanya, mereka tidak benar-benar menyakitimu, mereka tidak melenyapkan kemampuanmu untuk memilih." (Marcus Aurelius)

Bagaimana aku melanjutkan hidup tanpa dia?
"Jangan biarkan masa depan mengganggumu. Engkau pasti menghadapinya, jika perlu, dengan senjata yang sama yang hari ini menjadi senjatamu melawan masa kini." (Marcus Aurelius)

Artinya: menjalaninya dengan gaya hidup dan pikiran yang sama.

Apa Yang Aku Dapat Dari Semua Ini?
"Jika ada yang mengahalangimu untuk mencapai tujuan tepat waktu, itu adalah kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika seseorang menyakitimu, itu adalah kesempatan untuk berlatih memaafkan. Jika ada sesuatu yang sulit merintangimu, itu adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat." (Marcus Aurelius)

Pintar-pintarlah mengambil hikmah dari kepahitan hidup karena ini akan lebih menguatkan dan menjadikanmu lebih tangguh. Secara kepribadian yang terbaik adalah jika mampu menjadikan momen ini sebagai pelajaran.

Disarikan dari: https://youtu.be/W-Ar_ceGIng

Sabtu, 04 Februari 2023

TIGA KESIALAN MENURUT RASULULLAH

TIGA KESIALAN MENURUT RASULULLAH
Oleh: SAMSURIZAL, MA., C.I.P

KESIALAN (asy-Syu'mu) ada pada tiga hal, yaitu pada wanita, kuda (kendaraan), dan tempat tinggal. Masing-masing riwayat menyebutkan terkadang mendahulukan yang pertama dan atau yang kedua atau yang ke-3. Sebagian lagi digabungkan dengan kalimat, seperti tidak ada kesialan pada 'adwaa, thiyara, dan lain-lain. Sehingga riwayat dimaksud diriwayatkan secara makna baik dari shahabat yang sama atau pun berbeda. Dalam hal ini, diriwayatkan dari Sahal bin Sa`ad, `Abdullah bin `Umar, Abu Hurairah, dan Anas bin Malik.

Riwayat-riwayat tersebut penulis paparkan sebagai berikut:

Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي حَازِمِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ فَفِي الْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ وَالْمَسْكَنِ. (رواه البخاري: ٢٦٤٧)

Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abu Hazim bin Dinar dari Sahal bin Sa'ad as-Sa'idiy radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalau ada kesialan pada sesuatu, maka ada pada wanita, kuda dan tempat tinggal". (HR. Al-Bukhari: 2647 - shahih dari Sahal bin Sa`ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al-`Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H. Hadits ahlul Madinah)

Hadits semakna diriwayatkan juga oleh imam al-Bukhari: 4703, 4704, dan 4705, Muslim: 4127 - shahih dari Sahal bin Sa`ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al-`Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H.

Sedangkan pada riwayat lain, imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَالشُّؤْمُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَرْأَةِ وَالدَّارِ وَالدَّابَّةِ. (رواه البخاري: ٥٣١٢)

Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar radhiallahu'anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada 'adwa (keyakinan adanya penularan penyakit) tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), dan adakalanya kesialan itu terdapat pada tiga hal, yaitu: istri, tempat tinggal dan kendaraan." (HR. Al-Bukhari: 5312 - shahih dari `Abdullah bin `Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits riwayat imam al-Bukhari: 5329 (hadits `aziz dipertengahan sanad) - shahih dari `Abdullah bin `Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.  

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ. (رواه البخاري: ٥٣١٥)

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Tidak ada 'adwa (keyakinan adanya penyakit menular tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), dan aku menyukai Al-Fa'l (optimis) yang baik yaitu perkataan yang baik." (HR. Al-Bukhari: 5315 - shahih dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 4125 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. 

Sedangkan hadits riwayat Bukhari: 5316 beliau berkata: 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَكَمِ حَدَّثَنَا النَّضْرُ أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ أَخْبَرَنَا أَبُو حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ. (رواه البخاري: ٥٣١٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Hakam, telah menceritakan kepada kami An Nadlr, telah mengabarkan kepada kami Isra`il, telah mengabarkan kepada kami Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak benar adanya tiyarah (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar), tidak benar adanya burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati, dan tidak benar beranggapan adanya nasib sial di bulan safar". (HR. Al-Bukhari: 5316 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Begitu pun dengan "masa", sebagaimana hadits riwayat imam Muslim,

و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَلَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَإِنِّي أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا. (رواه مسلم: ٤١٦٧)

Dan telah menceritakan kepada kami 'Abdu bin Humaid, telah mengabarkan kepada kami 'Abdur Razzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Abu Al Musayyab dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Anak Adam suka mencela-Ku. Ia berkata, 'Alangkah sialnya masa.' Karena itu janganlah kamu berkata demikian. Karena sesungguhnya Akulah pencipta masa. Akulah yang menggilir siang dan malamnya. Jika Aku mau, Aku kuasa menghentikan pergantian keduanya." (HR. Muslim: 4167 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Hadits semakna diriwayatkan oleh imam Muslim: 4168, Ahmad: 7358 dan 7884 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H).