Pages - Menu

Sabtu, 31 Desember 2022

ISTIQAMAH IMAN, TAQWA, DAN MENJAGA LISAN


ISTIQAMAH IMAN, TAQWA, DAN MENJAGA LISAN
Oleh: Samsurizal, MA

Istiqamah berasal dari fi'il madhi istaqama yang bearti berusaha berdiri secara tegap. Secara bahasa (lughah) bearti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Sedangkan secara istilah adalah berpendirian kuat atau kukuh, berketetapan hati, tekun dan terus-menerus dalam usaha mencapai cita-cita. Hal ini terimplikasi dalam pikiran, perbuatan, dan spritual.

Terkait dengan pentingnya sikap istiqamah dalam semua amalan dihubungkan dengan beriman dan meyakini Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang wajib disembah, bertaqwa serta menjaga lisan. Dalam hal ini diungkapkan dalam Al-Qur'an dengan kalimat kiasan dan diinformasikan dalam banyak riwayat dengan redaksi beragam. Terdapat dalam kitab hadits imam al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ تَتَّخِذُوْنَ اَيْمَانَكُمْ دَخَلًا ۢ بَيْنَكُمْ اَنْ تَكُوْنَ اُمَّةٌ هِيَ اَرْبٰى مِنْ اُمَّةٍ ۗاِنَّمَا يَبْلُوْكُمُ اللّٰهُ بِهٖۗ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ مَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ. (قرآن سورة النحل/١٦: ٩٢)

Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu karena ada (kecenderungan memihak kepada) satu golongan yang lebih banyak kelebihannya (jumlah, harta, kekuatan, pengaruh, dan sebagainya) daripada golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu dan pasti pada hari Kiamat Allah akan menjelaskan kepadamu apa yang selalu kamu perselisihkan. (QS. An-Naḥl/16: 92)

Dalam bebarapa riwayat disebutkan:

Imam Ad-Darimi meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَارِبُوا وَسَدِّدُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ لَنْ يُنْجِيَهُ عَمَلُهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْتَ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ. (رواه الدارمي: ٢٦١٧)

Telah mengabarkan kepada kami Al Hasan bin Ar Rabi', telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersikaplah pertengahan, istiqamahlah dalam perbuatan dan ucapan, ketahuilah bahwa tak ada seorang pun dari kalian yang akan diselamatkan oleh perbuatannya." Mereka berkata, Wahai Rasulullah, tidak juga engkau? Beliau menjawab, "Tidak juga aku, hanya saja Allah menganugerahiku rahmat dan karunia-Nya." (HR. Ad-Darimi: 2617 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 5041 (dari Abu Hurairah dan Jabir - masyhur diakhir sanad), Ahmad: 9629 (dari Abu Hurairah), 10022 (dari Abu Hurairah dan Jabir), dan 14100 (dari Jabir). Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H dan Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H.

Dengan bahasa yang tegas imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ اسْتَقِيمُوا فَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا. (رواه البخاري: ٦٧٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Ibrahim dari Hammam dari Khudzaifah berkata, "Wahai ahli Al-Qur'an, bersikap istiqamahlah kalian, dengan demikian kalian telah menjadi pemenang yang jauh, sebaliknya jika kalian oleng kanan kiri, kalian telah sesat sesesat-sesatnya." (HR. Al-Bukhari: 6739 - shahih dari Hudzaifah bin al-Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H. Hadits ahlul Kufah)

Sufyan bin 'Abdullah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hal yang penting dari agama Islam. Sebagaimana diinformasikan oleh imam ad-Darimi,

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سُفْيَانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ فِي الْإِسْلَامِ لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا قَالَ اتَّقِ اللَّهَ ثُمَّ اسْتَقِمْ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ شَيْءٍ قَالَ فَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ. (رواه الدارمي: ٢٥٩٤)

Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin Ar Rabi', telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ya'la bin 'Atha` ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin Sufyan dari ayahnya ia berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku amalan dalam Islam yang tidak akan aku tanyakan kepada seorang pun. Beliau bersabda, "Bertaqwalah kepada Allah kemudian istiqamahlah." Ia mengatakan; Aku berkata lagi; Kemudian apa? Ia mengatakan; Lalu beliau menujuk ke arah lidahnya. (HR. Ad-Darimi: 2595 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sufyan bin 'Abdullah bin Rabi'ah bin al-Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru dan negeri hidup Thaif)

Atau, kalimat taqwa diganti dengan kalimat "qul aamantu billaah", sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُفْيَانَ الثَّقَفِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ قَالَ هُشَيْمٌ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي فِي الْإِسْلَامِ بِأَمْرٍ لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ قَالَ قُلْتُ فَمَا أَتَّقِي فَأَوْمَأَ إِلَى لِسَانِهِ. (رواه أحمد: ١٨٦١٤)

Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ya'la bin Atha` dari Abdullah bin Sufyan Ats Tsaqafi dari bapaknya bahwa seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah.." dan Husyaim berkata, Saya berkata, "Wahai Rasulullah, perintahkanlah padaku suatu syariat dalam Islam ini, yang tidak akan aku tanyakan kepada seorang pun setelah Anda." Beliau bersabda, "Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah' lalu istiqamahlah (dalam ucapanmu)." Saya bertanya lagi, "Lalu apakah yang harus aku waspadai?" Maka beliau pun memberi isyarat dengan menunjuk ke arah lidahnya. (HR. Ahmad: 18614 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sufyan bin 'Abdullah bin Rabi'ah bin al-Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru dan negeri hidup Thaif)

Sedangkan hadits riwayat imam Ad-Darimi: 2595,

أَخْبَرَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ إِسْمَعِيلَ بْنِ مُجَمِّعٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قَالَ قُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا أَكْثَرُ مَا تَخَوَّفُ عَلَيَّ قَالَ فَأَخَذَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِسَانِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا. (رواه الدارمي: ٢٥٩٥)

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu'aim, telah menceritakan kepada kami Ibrahim yakni Ibnu Isma'il bin Mujammi', ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Syihab dari Abdurrahman bin Mu'adz dari Sufyan bin Abdullah ia berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu urusan yang akan aku pegang teguh. Beliau bersabda, "Katakanlah; Rabb-ku adalah Allah, kemudian istiqamahlah." Ia mengatakan; Aku bertanya; Wahai Nabiyullah, apa yang harus lebih banyak aku takuti? Maka beliau memegang lidahnya kemudian mengatakan, "Ini." (HR. Ad-Darimi: 2595 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sufyan bin 'Abdullah bin Rabi'ah bin al-Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru dan negeri hidup Thaif)

Dalam sanad hadits riwayat imam ad-Darimi: 2595 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits. Ia adalah Ibrahim bin Isma'il bin Mujammi' bin Yazid, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Ishaq dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ibnu Hajar dan An-Nasa'i menilainya dha'if. Abu Daud menilainya matrukul hadits. Al-Bukhari mengatakan, "katsirun wahm". Sedangkan Yahya bin Ma'in menilainya laa syai'. Adz-Dzhabi berkata, "mereka men-dha'if-kannya”.

Selanjutnya dikuatkan juga oleh riwayat imam At-Tirmidzi: 2334, Ibnu Majah: 3962, Ahmad: 14869, 14871, dan 14872 - shahih dari Sufyan bin 'Abdullah bin Rabi'ah bin al-Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru dan negeri hidup Thaif.

Kemudian dalam redaksi semakna diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ أَسِيدٍ عَنْ أَبِي حَفْصٍ الدِّمَشْقِيِّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ يَرْفَعُ الْحَدِيثَ قَالَ اسْتَقِيمُوا وَنِعِمَّا إِنْ اسْتَقَمْتُمْ وَخَيْرُ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ. (رواه إبن ماجه: ٢٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub berkata, telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Usaid dari Abu Hafsh Ad Dimasqi dari Abu Umamah -dan ia memarfu'kan hadits ini-, ia berkata, "Istiqamahlah kalian, sebaik-baik perkara adalah jika kalian beristiqamah. Sebaik-baik amalan kalian adalah salat, dan tidak ada yang menjaga wudu kecuali orang mukmin." (HR. Ibnu Majah: 275 - shahih dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)

Matan semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan tambahan kalimat, "وَلَنْ تُحْصُوا" kalian tak bisa menghitunya. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَيَعْلَى قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ. (رواه أحمد: ٢١٤٠٠)

Telah menceritakan kepada kami Waki' dan Ya'la keduanya berkata, telah bercerita kepada kami Al A'masy dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Tsauban berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Beristiqamahlah dan kalian tidak bisa menghitungnya. Ketahuilah bahwa amalan-amalan kalian yang terbaik adalah shalat dan tidak akan ada yang memelihara wudhuk kecuali mukmin." (HR. Ahmad: 21400 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H. Hadits 'aziz diakhir sanad)

Senin, 26 Desember 2022

SYA'IR RASULULLAH ﷺ DAN PARA SHAHABAT


TEMA KE-800

SYA'IR RASULULLAH ﷺ DAN PARA SHAHABAT
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Sya'ir adalah salah satu jenis puisi klasik yang memperoleh pengaruh kebudayaan Arab. Syair termasuk salah satu puisi lama yang berasal dari Persia dan dibawa ke dalam sastra Indonesia bersama dengan masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Dalam makna lain, Sya'ir adalah puisi yang berasal dari Persia dan digubah melalui suatu bahasa yang ditata secara apik. Sya'ir merupakan ungkapan dari kejujuran dan kedalaman perasaan seorang penyair.

Terbentuknya bait-bait sya'ir dipengaruhi oleh imajinasi seseorang memandang dan memahami objek dan diungkapkan dalam bentu kalimat-kalimat yang indah dan menggetarkan pendengarnya. Sehingga memberikan kesan dan pengaruh pada mereka. Hal tersebut dapat berupa metafora dan ungkapan sindiran serta pujian.

Melirik beberapa riwayat tentang sya'ir, maka akan ditemukan pengetahuan yang sesuai dan pernah diungkapkan dan diizinkan dan bahkan dilarang atau dibenci oleh Rasullah ﷺ. Begitu juga dapat juga dikaitkan dengan kehidupan yang menyenangkan dan abstraksi kekaguman pada seseorang dan lain sebagainya. Berikut penulis paparkan riwayat-riwayat dimaksud.

Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ التُّرَابَ وَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ وَهُوَ يَقُولُ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا
وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا
وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا
إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا
إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا. (رواه البخاري: ٢٦٢٥)

Telah bercerita kepada kami Hafsh bin 'Amru, telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq dari Al Bara' radhiallahu'anhu berkata, Aku melihat Rasulullah ﷺ pada perang al-Ahzab mengangkut tanah bebatuan dimana tanah-tanah itu telah menutup perut Beliau yang putih sambil bersyair, "Kalaulah bukan karena Engkau ya Allah, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak pula menunaikan zakat dan mendirikan salat. Untuk itu turunkanlah sakinah (ketenangan) kepada kami, dan kuatkanlah kaki-kaki kami bila bertemu (musuh). Sesungguhnya orang-orang (itu) telah berbuat aniaya terhadap kami, jika mereka menghendaki fitnah, kami tidak pernah peduli (menyerah)." (HR. Al-Bukhari: 2625 - shahih dari al-Barra' bin 'Azib bin al-Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H)

Pada kesempatan lain juga pernah terjadi bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan para shahabat bersya'ir. Sebagaimana diinformasikan oleh imam al-Bukhari,

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَانَ عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ يَوْمَ بَدْرٍ حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ. (رواه البخاري: ٣٧٠٠)

Telah menceritakan kepada kami 'Ali, telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Al Mufadldlal, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan dari ar-Rabi' binti Mu'awwidz berkata, Nabi ﷺ datang menemuiku pada pagi hari dimana aku diserahkan kepada suamiku. Lalu beliau duduk di atas tikarku seperti posisi dudukmu di hadapanku ini, dan gadis-gadis kecil menabuh rebana sembari menyenandungkan syair-syair yang berisi pujian-pujian terhadap bapak-bapak mereka yang meninggal pada waktu perang Badar hingga ada salah seorang anak yang berkata, "Bersama kami ada Nabi yang mengetahui apa yang bakal terjadi besok." Maka Nabi ﷺ segera berkata, "Janganlah kamu mengatakan begitu, ucapkan saja syair yang tadi kalian lantunkan". (HR. Al-Bukhari: 3700 - shahih dari ar-Rabi' binti Mu'awwidz bin 'Afra', ia shahabiyah dan negeri hidup Madinah)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ
كُنَّا نَجْلِسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوا يَتَنَاشَدُونَ الْأَشْعَارَ وَيَتَذَاكَرُونَ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاكِتٌ فَرُبَّمَا تَبَسَّمَ أَوْ قَالَ كُنَّا نَتَنَاشَدُ الْأَشْعَارَ وَنَذْكُرُ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَرُبَّمَا تَبَسَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ٢٠١٠٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza'i, telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Simak dari Jabir ia berkata, "Kami sedang duduk-duduk di sekeliling Rasulullah ﷺ saat para sahabat melantunkan syair dan menyebut-nyebut perkara jahiliah. Dan Rasulullah ﷺ tetap diam, atau barangkali beliau tersenyum. Atau Jabir menyebutkan, "Kami bersenandung syair dan menyebut-nyebut sesuatu dari perkara jahiliah sedang Rasulullah ﷺ tersenyum." (HR. Ahmad: 20102 - hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah 54 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi: 2777 (shahih dan 'aziz diakhir sanad), Ahmad: 19973 (hasan) - dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah 54 H. Kedua hadits ini ditambahkan kalimat "ma'ahum", artinya Rasulullah ﷺ ikut tersenyum bersama mereka. Sebagaimana imam At-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ
جَالَسْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ مَرَّةٍ فَكَانَ أَصْحَابُهُ يَتَنَاشَدُونَ الشِّعْرَ وَيَتَذَاكَرُونَ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَهُوَ سَاكِتٌ فَرُبَّمَا تَبَسَّمَ مَعَهُمْ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَاهُ زُهَيْرٌ عَنْ سِمَاكٍ أَيْضًا. (رواه الترمذي: ٢٧٧٧)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Simak dari Jabir bin Samurah ia berkata, Aku menemani Nabi ﷺ lebih dari seratus kali, para sahabat beliau menyenandungkan syair, mereka menyebut-nyebut perkara jahiliah, sementara beliau diam, kadang beliau tersenyum bersama mereka." Abu Isa berkata, Hadits ini hasan shahih. Zuhair juga meriwayatkannya dari Simak. (HR. At-Tirmidzi: 2777 - shahih dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah 54 H)

Sebagaimana halnya hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شَرِيكٍ عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ قُلْتُ لَهَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْوِي شَيْئًا مِنْ الشِّعْرِ قَالَتْ نَعَمْ شِعْرَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ كَانَ يَرْوِي هَذَا الْبَيْتَ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ. (رواه أحمد: ٢٣٩٢٠)

Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Syarik dari Al Miqdam bin Syuraih dari ayahnya dari Aisyah, (ayahnya Syuraih) Berkata, saya berkata kepada (Aisyah), "(benarkah) Rasulullah ﷺ pernah membawakan syair?" (Aisyah) Berkata, "Ya, tepatnya syair Abdullah bin Rawahah, dia membawakan bait berikut ini: 'Akan datang hari kepadamu membawa kabar seseorang yang kamu tidak membekalinya.'" (HR. Ahmad: 23920 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Syarik bin 'Abdullah bin Abi Syarik, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 177 H, dinilai oleh Ibnu Hajar "shaduq, terdapat kesalan". Sedangkan Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim menilainya shaduq, begitu halnya Yahya bin Ma'in menilainya shaduq tsiqah. Abu Daud menilainya tsiqah. Sementara Adz-Dzahabi berkata, "seorang tokoh".

Syair Rasulullah ﷺ waktu perang Khandaq.

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَدَاةٍ بَارِدَةٍ وَالْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ يَحْفِرُونَ الْخَنْدَقَ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّ الْخَيْرَ خَيْرُ الْآخِرَهْ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ فَأَجَابُوا نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا عَلَى الْجِهَادِ مَا بَقِينَا أَبَدَا. (رواه البخاري: ٦٦٦١)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Ali, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits, telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas radhiallahu'anhu; Nabi ﷺ berangkat di suatu pagi yang dingin sedang kaum Muhajirin dan Anshar sedang menggali Khandaq (parit), lantas Nabi melantunkan sebuah bait syair, "Ya Allah, sesungguhnya kebaikan sejati adalah kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan muhajir." Serta merta para sahabat menyahut dengan bait syair, "Kita adalah yang berbaiat kepada Muhammad untuk jihad sepanjang hayat." (HR. Al-Bukhari: 6661 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh:

HR. at-Tirmidzi: 3791 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H.

HR. Muslim: 3367 (hadits 'aziz diakhir sanad), 3370, Ibnu Majah: 734, Ahmad: 12271, 12385, 12483, 12653, 13072, 13154, 13445, dan 13554 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

HR. Ahmad: 25277 dan 25458 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H.

BERSYA'IR DI MASJID

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَعْلَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ
مَرَّ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى حَسَّانَ وَهُوَ يُنْشِدُ الشِّعْرَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُنْشِدُ الشِّعْرَ قَالَ كُنْتُ أُنْشِدُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ أَوْ كُنْتُ أُنْشِدُ فِيهِ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ. (رواه أحمد: ٢٠٩٢٧)

Telah menceritakan kepada kami Ya'la, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amr dari Yahya bin 'Abdur Rahman, ia berkata, 'Umar radhiallahu'anhu melawati Hassan saat tengah bersyair di masjid kemudian 'Umar berkata, di masjid Rasulullah ﷺ syair disenandungkan? Hassan berkata, 'Saya pernah bersyair dan di dalam masjid ada orang yang lebih baik darimu (yaitu Nabi ﷺ).' (HR. Ahmad: 20927 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hassan bin Tsabit bin al-Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)

Demikian juga hadits riwayat imam An-Nasa'i, beliau berkata:

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ. (رواه النسائي: ٧٠٩)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa'id bin Al Musayyab dia berkata, "Umar pernah melewati Hasan bin Tsabit yang sedang membaca syair di dalam masjid, maka Umar memperingatkannya. Hassan berkata, Aku pernah pernah membaca syair dalam masjid padahal orang yang lebih baik daripada kamu (maksudnya Nabi ﷺ) berada di dalam masjid tersebut. Kemudian dia menoleh kepada Abu Hurairah sambil berkata, 'Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ memohon Ya Allah, kabulkanlah untukku, kuatkanlah ia dengan Ruhul Qudus (Jibril)?' Maka (Abu Hurairah) menjawab, 'Ya Allah, benar'. (HR. An-Nasa'i: - shahih dari Hassan bin Tsabit bin al-Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H dan Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 434, 2973, dan 5686, Muslim: 4539 (dengan 12 jalur sanad), Ahmad: 7324, dan 20926 - shahih dari Hasan bin Tsabit dan Abu Hurairah.

Imam Muslim meriwayatkan tentang Hasaan bin Tsabit pernah bersya'ir dihadapan 'Aisyah. Beliau berkata,

حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ
دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَعِنْدَهَا حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ يُنْشِدُهَا شِعْرًا يُشَبِّبُ بِأَبْيَاتٍ لَهُ وَقَالَ حَصَانٌ رَزَانٌ مَا تُزَنُّ بِرِيبَةٍ
وَتُصْبِحُ غَرْثَى مِنْ لُحُومِ الْغَوَافِلِ
فَقَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ لَكِنَّكَ لَسْتَ كَذَلِكَ قَالَ مَسْرُوقٌ فَقُلْتُ لَهَا لِمَ تَأْذَنِينَ لَهُ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْكِ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى
{ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ }
فَقَالَتْ وَأَيُّ عَذَابٍ أَشَدُّ مِنْ الْعَمَى قَالَتْ لَهُ إِنَّهُ كَانَ يُنَافِحُ أَوْ يُهَاجِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري: ٣٨٣١)

Telah menceritakan kepadaku Bisyir bin Khalid, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah dari Sulaiman dari Abu Adl Dhuha dari Masruq ia berkata, "Aku menemui 'Aisyah sementara Hassan bin Tsabit di sampingnya tengah melantunkan bait-bait syair untuk memujinya. Hassan bersyair, "Yang memelihara dirinya, teguh dan tidak mudah terperdaya, Jadilah ia sasaran orang-orang yang lalai." 'Aisyah berkata kepadanya, "Tetapi kamu tidak termasuk seperti itu." Masruq berkata, aku bertanya kepada 'Aisyah, "Mengapa Anda mengizinkan dia menemuimu, padahal Allah telah berfirman, "Dan orang yang berperan besar diantara mereka baginya akan mendapatkan siksa yang besar." (QS. An-Nur/24: 11). 'Aisyah berkata, "Siksa apakah yang lebih berat dari kebutaan?" 'Aisyah melanjutkan, "Sungguh dia pernah membela Rasulullah ﷺ untuk mencaci musuh." (HR. Al-Bukhari: 3831 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Selaras dengan hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اهْجُوا بِالشِّعْرِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ كَأَنَّمَا يَنْضَحُوهُمْ بِالنَّبْلِ. (رواه أحمد: ١٥٢٣٥)

Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Bahr, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi dari Muhammad bin Abdullah bin saudara Ibnu Syihab dari Ibnu Syihab dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik dari Ka'ab bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Cacilah musuh dengan syair, karena seorang mukmin berjihad dengan jiwa dan hartanya. Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, syair yang kalian lontarkan kepada musuh, adalah ibarat panah yang kalian lemparkan kepada mereka.' (HR. Ahmad: 15235 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ka'ab bin Malik bin Abi Ka'ab 'Amru, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H)

Ka'ab bin Malik juga pernah meminta pendapat Rasulullah ﷺ tentang sya'ir, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الشِّعْرِ مَا أَنْزَلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أَنْزَلَ فِي الشِّعْرِ مَا قَدْ عَلِمْتَ وَكَيْفَ تَرَى فِيهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُجَاهِدُ بِسَيْفِهِ وَلِسَانِهِ. (رواه أحمد: ١٥٢٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri berkata, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik, ketika Allah Tabaraka Wa Ta'ala menurunkan ayat tentang syair, Ka'ab bin Malik selalu mendatangi Nabi ﷺ dan berkata, Allah Tabaraka Wa Ta'ala telah menurunkan tentang syair seperti yang telah Anda ketahui, bagaimana pendapatmu? Nabi ﷺ bersabda, "Seorang mukmin akan berjihad dengan pedangnya dan lisannnya". (HR. Ahmad: 15225 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ka'ab bin Malik bin Abi Ka'ab 'Amru, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H)

Rasulullah ﷺ membenarkan sya'ir Labib, sebagaimana hadits riwayat imam Muslim,

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا شَاعِرٌ كَلِمَةُ لَبِيدٍ أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ
وَكَادَ أُمَيَّةُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ أَنْ يُسْلِمَ. (رواه مسلم: ٤١٨٧)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim bin Maimun, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi dari Sufyan dari 'Abdul Malik bin 'Umair, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sya'ir paling benar yang pernah diucapkan oleh penyair adalah syairnya Labid. Labid bersyair: Alaa, kullu syaiin maa khalallaha bathil (Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah itu pasti binasa). Dan hampir saja Umayyah bin Abu Shalt masuk Islam. (HR. Muslim: 4187 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam al-Bukhari: 3553, 5681, 6008, Muslim: 4188, 4190, At-Tirmidzi: 2776, Ibnu Majah: 3747, Ahmad: 7079, 8747, 9525, 9694, dan 9840 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja terdapat perbedaan matan dengan riwayat lainnya pada riwayat imam Ahmad: 9840, imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ أَبِي حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْعَرُ كَلِمَةٍ قَالَتْهَا الْعَرَبُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلُ. (رواه أحمد: ٩٨٤٠)

Telah menceritakan kepada kami Waki', bapakku berkata, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abdul Malik bin 'Umair dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalimat syair yang paling bagus diucapkan oleh bangsa Arab adalah kalimat syair milik Labid, 'ketahuilah bahwa segala sesuatu selain Allah adalah batil.'" (HR. Ahmad: 9840 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Semua hadits di atas diriwayatkan melalui dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Demikian halnya hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْلَى بْنِ كَعْبٍ الطَّائِفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنْشَدَهُ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ قَالَ فَأَنْشَدَهُ مِائَةَ قَافِيَةٍ فَلَمْ أُنْشِدْهُ شَيْئًا إِلَّا قَالَ إِيهِ إِيهِ حَتَّى إِذَا اسْتَفْرَغْتُ مِنْ مِائَةِ قَافِيَةٍ قَالَ كَادَ أَنْ يُسْلِمَ. (رواه أحمد: ١٨٦٤٥)

Telah menceritakan kepada kami Azhar bin Qasim, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman bin Ya'la bin Ka'ab Ath Tha`ifi dari Amru bin Syarid dari bapaknya bahwa Rasulullah ﷺ meminta kepadanya untuk membalas syair Umayyah bin Ash Shalt, maka ia pun membacakan seratus bait. Ia berkata, "Tidaklah saya membacakan syair padanya, kecuali berkata, 'Itu benar,. memang.' Hingga jika saya selesai membacakan seratus bait, beliau bersabda; Nyaris dia masuk Islam." (HR. Ahmad: 18645 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari asy-Syarid bin Suwaid, ia shahabat)

Abu Thalib pernah bersya'ir untuk menggambarkan barakahnya kehadiran Rasulullah ﷺ. Sebagaimana diinformasikan oleh imam Ibnu Majah dalam riwayatnya:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ حَمْزَةَ حَدَّثَنَا سَالِمٌ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رُبَّمَا ذَكَرْتُ قَوْلَ الشَّاعِرِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَمَا نَزَلَ حَتَّى جَيَّشَ كُلُّ مِيزَابٍ بِالْمَدِينَةِ فَأَذْكُرُ قَوْلَ الشَّاعِرِ وَأَبْيَضَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ ثِمَالُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلْأَرَامِلِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي طَالِبٍ. (رواه إبن ماجه: ١٢٦٢)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnul Azhar berkata, telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil dari Umar bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada kami Salim dari Bapaknya ia berkata, "Aku ingat perkataan syair ketika memperhatikan wajah Rasulullah ﷺ di atas mimbar, dan beliau tidak turun dari atas mimbar kecuali semua saluran air di Madinah penuh dengan air. Aku mengingat perkataan syair, "Orang yang berkulit putih (Rasulullah), dengan wajahnya hujan di minta, penyantun anak yatim dan pelindung kaum janda. " Itu adalah ucapan Abu Thalib. (HR. Ibnu Majah: 1262 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Dalam suatu perjalanan, sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan, 


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ وَحَادٍ يَحْدُو بِنِسَائِهِ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ قَدْ تَنَحَّى بِهِنَّ قَالَ فَقَالَ يَا أَنْجَشَةُ وَيْحَكَ ارْفُقْ بِالْقَوَارِيرِ. (رواه أحمد: ١٢٣٠٠)


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, ia berkata, telah bercerita kepadaku Syu'bah dari Tsabit, ia berkata, Aku mendengar Anas bin Malik berkata, "Tatkala Rasulullah ﷺ melakukan suatu perjalanan, orang yang mengemudikan istri-istri beliau sedang melantunkan syair, maka Rasulullah ﷺ pun tertawa, padahal sebelumnya beliau menjauh dari istri-istrinya." Anas melanjutkan, "Kemudian beliau bersabda, "Wahai Anjasyah, hati-hatilah terhadap kaca. (HR. Ahmad: 12300 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

LARANGAN DAN SANGGAHAN TERHADAP SYA'IR

Sementara itu istri Rasulullah ﷺ ('Aisyah) memberikan pernyataan bahwa syair adalah perkataan yang beliau benci. Sebagaimana

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ شَيْبَانَ عَنْ أَبِي نَوْفَلٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتَسَامَعُ عِنْدَهُ الشِّعْرُ فَقَالَتْ كَانَ أَبْغَضَ الْحَدِيثِ إِلَيْهِ. (رواه أحمد: ٢٣٩٩٥)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Al Aswad bin Syaiban dari Abi Naufal berkata, saya telah bertanya kepada Aisyah, "Apakah Rasulullah ﷺ memperdengarkan syair?" (Aisyah) Berkata, "Syair adalah perkataan yang paling beliau benci." (HR. Ahmad: 23995 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Dan diulang lagi pada riwayat imam Ahmad: 24378 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.

Sanad dan matan yang sama,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نَوْفَلِ بْنُ أَبِي عَقْرَبٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتَسَامَعُ عِنْدَهُ الشِّعْرُ قَالَتْ كَانَ أَبْغَضَ الْحَدِيثِ إِلَيْهِ. (رواه أحمد: ٢٣٨٧١)

Telah menceritakan kepada kami Affan, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Aswad bin Syaiban, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Naufal bin Abi `Aqrab berkata, saya bertanya kepada Aisyah, "Apakah pernah dilantunkan syair di depan Rasulullah ﷺ.?" Aisyah menjawab: "(syair) adalah perkataan yang paling beliau benci." (HR. Ahmad: 23871 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Hadits dha'if tentang sya'ir, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا الشُّعَيْثِيُّ عَنْ زُفَرَ بْنِ وَثِيمَةَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ الْمَسَاجِدُ لَا يُنْشَدُ فِيهَا الْأَشْعَارُ وَلَا تُقَامُ فِيهَا الْحُدُودُ وَلَا يُسْتَقَادُ فِيهَا قَالَ أَبِي لَمْ يَرْفَعْهُ يَعْنِي حَجَّاجًا. (رواه أحمد: ١٥٠٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Asy-Syu'aisyi dari Zufar bin Watsimah dari Hakim bin Hizam berkata, Masjid itu tidak boleh di lantunkan di dalamnya syair-syair, tidak boleh digunakan untuk melaksanakan hukuman (had), juga tidak boleh untuk meminta balasan (qishas) di dalamnya. Bapakku berkata, Hajjaj tidak memarfu'kannya. (HR. Ahmad: 15028 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hakim bin Hizam bin Khuwailid, ia shahabat kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 54 H)

Hadits ini terkait dengan sya'ir, ia bertentangan dengan HR. Ahmad: 20927 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hassan bin Tsabit bin al-Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H.

Catatan: dalam riwayat imam Ahmad: 15028 terdapat dua periwayat yang dinilai jarah oleh ulama kritikus hadits. Pertama, Zufar bin Watsimah bin Malik, ia tabi'in kalangan pertengahan dan negeri hidup Syam. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam Ats tsiqat". Adz-Dzhabi berkata, "mereka men-tsiqah-kannya". Sedangkan Ibnu Hajar menilainya maqbul. Sementara Ibnul Qaththan berkata, "tidak dikenal". Kedua, Muhammad bin 'Abdullah bin al-Muhajir, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa dan negeri hidup Syam. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam Ats tsiqat". Dahim menilainya tsiqah, dan An-Nasa'i menilainya laisa bihi ba'sa. Sedangkan Abu Hatim menilainya dha'if. Ibnu Hajar menilainya shaduq.

LEBIH lanjut,

حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ يُحَنَّسَ مَوْلَى مُصْعَبِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نَسِيرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ إِذْ عَرَضَ شَاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا الشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُوا الشَّيْطَانَ لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ الرَّجُلِ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا. (رواه أحمد: ١٠٩٤١)

Telah menceritakan kepada kami Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid -yaitu Ibnul Had- dari Yuhannas mantan budak Mush'ab Ibnu Az Zubair dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, "Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ di suatu tempat, tiba-tiba seorang penyair melantunkan syair, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tangkaplah setan itu, -atau beliau mengatakan, - "Tahanlah setan itu. Sungguh, sekiranya perut salah seorang dari kalian dipenuhi oleh muntahan, adalah lebih baik daripada mulutnya penuh dengan syair." (HR. Ahmad: 10941 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Diulang lagi pada riwayat imam Ahmad: 10635 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Terkait dengan firman Allah dalam QS. Yāsīn/36 ayat 69,

وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ. (قرآن سورة يس/٣٦)

Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Nabi Muhammad) dan (bersyair) itu tidaklah pantas baginya. (Wahyu yang Kami turunkan kepadanya) itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Al-Qur’an yang jelas. (QS. Yāsīn/36: 69)

Pada ayat ini, Allah membantah tuduhan kaum kafir yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah syair yang diciptakan oleh Nabi Muhammad ﷺ sendiri. Dengan demikian, menurut tuduhan mereka, Muhammad adalah seorang penyair. Hal ini dibantah keras pada ayat ini, karena Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang membawa kebenaran. Sedang Nabi Muhammad ﷺ bertugas menyampaikannya kepada umat manusia semua kebenaran yang diterima dari Allah. Nabi Muhammad bukan penyair yang hanya mengkhayal, tetapi rasul Allah yang membawa kebenaran untuk memperbaiki orang-orang jahiliah.

Al-Qur’an jauh berbeda dengan syair yang berkembang di tanah Arab ketika itu. perbedaan itu dapat dilihat dalam hal:

1. Syair Arab waktu itu merupakan rangkaian kalimat-kalimat yang terikat pada wazan (timbangan kalimat) atau pola tertentu, bahr-bahr (irama dan notasi dalam syair Arab) tertentu, seperti bahr kamil, bahr rajaz, dan lain-lain.
Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an susunan kalimatnya begitu indah, pilihan diksi kata-katanya begitu tepat, tetapi tidak terikat pada wazan dan bahr syair Arab.

2. Syair Arab juga terikat pada qafiyah, yaitu huruf akhir tertentu. Jika hal itu tidak dipenuhi, maka rusaklah syair tersebut, sehingga ada unsur pemaksaan atau takalluf. Pada ayat-ayat Al-Qur’an memang ada beberapa huruf akhir yang sama sehingga bersajak (masju‘), tetapi menjadi lebih indah karena tidak kaku dan tidak ada unsur pemaksaan (takalluf).

3. Isi syair Arab biasanya berupa khayalan penyair dengan imajinasi yang tinggi sehingga melupakan banyak hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an semuanya sesuai dengan kenyataan, baik alam gaib maupun alam nyata, sehingga memberi informasi yang benar.

4. Syair-syair Arab biasanya berupa puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap raja atau kepala suku sehingga menjadikan para raja bertambah sombong. Syair bisa juga berisi celaan atau ejekan terhadap musuh sehingga meningkatkan permusuhan yang ada.
Sedangkan Al-Qur’an selalu berbicara masalah kebenaran tanpa membuat orang menjadi sombong, bahkan ayat Al-Qur’an melarang kesombongan dan rasa kebencian maupun permusuhan.

5. Syair-syiar Arab seringkali disusun dan dirangkai oleh penyair dan digunakan untuk mendapat hadiah sebagai mata pencaharian penyair. Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an semata-mata memberi informasi, petunjuk, dan pelajaran yang baik. Bahkan ayat Al-Qur’an tidak boleh diperjualbelikan dengan harga murah untuk memperoleh penghasilan tertentu.

Dari hal-hal di atas terbukti bahwa bahasa Al-Qur’an lebih indah dari syair dan kandungan isinya lebih baik dan memberi manfaat yang lebih besar bagi kehidupan manusia secara keseluruhan.
Allah menegaskan bahwa Dia tidak mengajarkan syair kepada Muhammad saw. Ia hanyalah mewahyukan Al-Qur’an kepadanya, untuk disampaikan kepada umat manusia. Tuduhan kaum musyrik dan kaum kafir bahwa Muhammad saw adalah penyair adalah tuduhan yang tidak patut dan tidak dapat diterima akal yang sehat.

Kemudian Allah menegaskan lagi bahwa Al-Qur’an yang disampaikan oleh Muhammad saw adalah pelajaran dan kitab suci yang memberikan penerangan kepada umat manusia untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Kaum musyrik mengatakan Al-Qur’an itu syair, karena kata-kata dan kalimat-kalimat yang terdapat di dalamnya demikian indah dan tepat. Bahkan kadang-kadang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah sihir, karena kata-kata dan susunan kalimatnya memang memesona siapa saja yang mendengarnya. Akan tetapi, tuduhan mereka ini sama sekali tidak benar. Al-Qur’an bukanlah sihir ataupun syair, karena syair merupakan susunan yang terikat kepada pola-pola tertentu, sedang Al-Qur’an tidaklah demikian.

........

Jumat, 16 Desember 2022

KENABIAN MUHAMMAD (NUR)


KENABIAN MUHAMMAD (NUR) DALAM PERSPEKTIF AL QUR'AN DAN AS-SUNNAH 

Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Bismillaahir rahmaanir rahiem

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Nabi Muhammad adalah nabi terakhir, namun penobatan sebagai nabi oleh Allah sudah ada sebelum Nabi Adam 'alaihi salam dalam proses masih terpisah jasad dan ruhnya. Oleh karena itu, penyebutan Nabi Muhammad sebagai "Nur" dipahami bahwa ia sebagai awal mula segala sesuatu sesudah Allah. Sehingga pembentukan dari nur inilah senantiasa bergulir pada makhluk setelahnya. Hanya saja ia terhijab oleh kegelapan "kezhaliman" yang dibuat sendiri oleh makhluk Allah yang lain yaitu manusia dan jin.

Selanjutnya, istilah tersebut digunakan untuk menyebut cahaya hidayah dan syafaat. Dikalangan para sufi dan tarekat inilah yang menjadi incaran untuk pemurnian diri yang suci. Penemuan itu sudah dibahas dan diperdebatkan dikalangan mereka.

Pengertian Umum tentang Nur Muhammad:

Secara umum dipahami Nur Muhammad sebagai makhluk Allah yang paling awal, paling tinggi, paling mulia, dan paling utama.

1. Nur Muhammad adalah Nur Tuhan, tetapi bukan diri Tuhan. Nur adalah makhluk yang diciptakan Tuhan sejak zaman azali.

2. Untuk menegaskan bahwa nur adalah makhluk maka dikaitkan kepada nama Muhammad SAW. Nama Muhammad dipilih karena tidak ada nama makhluk Tuhan di dunia yang menampilkan Nur-Nya secara sempurna selain kekasih-Nya yang bernama Muhammad.

3. Sering pula (dikenal) dengan beberapa istilah seperti al-Qalam al-A'laa (pena tertinggi), al-Aql al-Awwal (akal utama), Amr Allah (urusan Allah), al-Ruh, al-Malak, al-Ruh al-Ilahi, al-Ruh al-Quddus, al-Haq al-Makhluk Bih atau al-Syajarah al-Baidha' karena seluruh makhluk memancar darinya, bagai pohon yang daripadanya muncul berbagai cabang dengan segala kompleksitasnya.*)

*) Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat 368 ”Nur Muhammad”, edisi: Kenabian, (Masjid Jendral Sudirman: Yogyakarta, 19 Oktober 2022); link: https://youtu.be/QgYtldAGzfU

Genealogi (asal-usul) tentang gagasan ini muncul dari Syaikh Muqatil bin Sulaiman ketika menafsirkan Al-Quran surat an-Nur ayat 35, dilanjutkan oleh Syaikh Sahal al-Tusturi (w. 283 H), kemudian dikembangkan lagi oleh Abu Mansur al-Hallaj (244 - 309 H), Ibnu 'Arabi. Kemudian dilanjutkan oleh murid beliau Syaikh Abdul Karim al-Jilli (penggagas: al-Insan al-Kamil). Mereka adalah para sufi dan memiliki kitab tafsir yang bercorak al-Syariy (sufistik). Berikut dalil-dalil naqli yang menjadi rujukan mereka.

Yang menjadi dasar pemahaman tentang Nur Muhammad dimaksud adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍەۗ قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ. (قرآن سورة المائدة/٥: ١٥)

Wahai Ahlulkitab, sungguh rasul Kami telah datang kepadamu untuk menjelaskan banyak hal dari (isi) kitab suci yang kamu sembunyikan dan membiarkan (tidak menjelaskan) banyak hal (pula). Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab suci*) yang jelas. (QS. Al-Mā'idah/5: 15)

*) Cahaya dari Allah SWT maksudnya adalah Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan kitab suci maksudnya adalah Al-Qur'an.

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad telah datang menerangkan sebagian dari apa yang mereka sembunyikan tentang syariat Allah yang tersebut dalam Taurat. Di antaranya apa yang diterangkan oleh Nabi seperti perhitungan amal dan balasannya di hari akhirat dan hukum rajam, tetapi banyak pula yang dibiarkan karena dianggapnya tidak begitu penting, seperti yang berkenaan dengan datangnya Muhammad ﷺ sebagai Nabi yang terakhir dan sifat-sifatnya.

Yang mendorong mereka untuk menyembunyikan apa yang mereka ketahui dari Taurat ialah disebabkan takut akan kehilangan kedudukan, pengaruh dan lain-lain yang berhubungan dengan keduniaan, termasuk perasaan yang tidak pernah lepas dari mereka, yaitu bahwa mereka adalah keturunan atau umat dari Nabi yang terbaik yakni keturunan dari Nabi Ishak, sedang Nabi Muhammad ﷺ adalah keturunan Nabi Ismail.

Keadaan Nabi Muhammad yang ummi (tidak pandai menulis dan membaca) menambah keberanian mereka untuk menyembunyikan apa yang ingin mereka sembunyikan, karena mereka mengira Nabi Muhammad tidak akan mengetahuinya, tetapi persangkaan mereka meleset dengan turunnya wahyu (Al-Qur’an) kepada Nabi yang mengungkapkan sebagian dari yang mereka sembunyikan itu yang menyebabkan banyak pendeta Yahudi masuk Islam. Hukum rajam yang disembunyikan oleh Yahudi kepada Nabi Muhammad saw masih terdapat sekarang dalam kitab Ulangan xxii.22-24: Perempuan bersuami atau laki-laki beristri kedapatan tidur bersama, “haruslah keduanya dibunuh mati.” Dan jika yang melakukan itu “seorang gadis yang masih perawan, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa keluar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati.”

Selanjutnya diterangkan arti telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan. Yang dimaksud dengan cahaya di sini ialah Nabi Muhammad ﷺ karena ia telah menerangi umat manusia dari alam kejahilan ke alam keimanan dan pengetahuan. Sedang yang dimaksud dengan “Kitab yang menjelaskan” di sini ialah Al-Qur’an yang menjelaskan syariat Allah yang diturunkan kepada Muhammad dan menjelaskan pula rahasia Ahli Kitab yang suka mengubah dan menyembunyikan sebagian isi Taurat dan Injil.

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ رَجُلٍ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى جُعِلْتَ نَبِيًّا قَالَ وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ. (رواه أحمد: ٢٢١٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu'man, telah bercerita kepada kami Hammad dari Khalid Al Hadzdza` dari 'Abdullah bin Syaqiq dari seseorang berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah! Kapan baginda dijadikan nabi? Rasulullah ﷺ bersabda, "Saat Adam berada diantara ruh dan jasad (sebelum Adam diciptakan Allah)." (HR. Ahmad: 22128 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari dari seorang shahabat. Hadits mubhamat)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 16028 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari dari seorang shahabat bernama Maysarah Al Fajri ('Abdullah bin Abi Al Jadz'aa'). Atau dengan kalimat "kutibta". Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ بُدَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ مَيْسَرَةَ الْفَجْرِ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى كُتِبْتَ نَبِيًّا قَالَ وآدَمُ عَلَيْهِ السَّلَام بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ. (رواه أحمد: ١٩٦٨٦)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Manshur bin Sa'd dari Budail dari Abdullah bin Syaqiq dari Maysarah Al Fajri dia berkata, aku bertanya, "Wahai Rasulullah, kapankah engkau dicatat sebagai seorang Nabi?" Beliau bersabda, "Ketika Adam 'alaihissalam antara Ruh dan Jasad." (HR. Ahmad: 19686 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Abi Al Jadz'aa', ia shahabat dan negeri hidup Bashrah. Hadits ahlul Bashrah)

Selanjutnya pada jalur lain (Abu Hurairah) diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi dengan lafazh semakna, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو هَمَّامٍ الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعِ بْنِ الْوَلِيدِ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى وَجَبَتْ لَكَ النُّبُوَّةُ قَالَ وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَفِي الْبَاب عَنْ مَيْسَرَةَ الْفَجْرِ. (رواه الترمذي: ٣٥٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Hammam Al Walid bin Syuja' bin Al Walid Al Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Al Auza'i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, sejak kapankah kenabian di nobatkan kepada Anda?" Beliau menjawab, "Ketika Adam masih berada antara ruh dan jasad."

Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib dari hadits Abu Hurairah, kami tidak mengetahui kecuali dari jalur ini, dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Maisarah Al Fajri (lihat hadits riwayat imam Ahmad: 19686)." (HR. At Tirmidzi: 3542 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian uraian singkat tentang Nabi Muhammad sebagai makhluk pertama yang dinobatkan sebagai nabi sebelum Nabi Adam 'alaihissalaam. Pemahaman tersebut menginspirasi bahwa penyingkapan Nur Muhammad dalam diri manusia akan senantiasa ada, sehingga dia akan terlahir secara simultan. Oleh karena itu penentuan keturunan disebabkan adanya cahaya yang kemudian ia dapat dikotori dan dibersihkan dengan mengingat kembali asal muasal kejadian dan rahmat Allah kepada manusia sebagai manifestasi sempurna dari semua makhluk yang diciptakan oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُزَكُّوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ بَلِ اللّٰهُ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُ وَلَا يُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٤٩)

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. (QS. An-Nisā'/4: 49)

Tugas Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul hanya menyampaikan risalah yang diwahyukan kepadanya dan memberi peringatan kepada manusia atas kekeliruan yang mereka kerjakan semoga kembali kepada jalan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ. (قرآن سورة فاطر/٣٥: ١٨)

Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Jika seseorang yang (dibebani dengan) dosa yang berat (lalu) memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada Tuhannya (sekalipun) tidak melihat-Nya dan mereka yang menegakkan salat. Siapa yang menyucikan dirinya sesungguhnya menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Hanya kepada Allah tempat kembali. (QS. Fāṭir/35: 18)

Selanjutnya, ingatlah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ. (قرآن سورة الشمس/٩١: ٩)

sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). (QS. Asy-Syamsu/91: 9)

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ. (قرآن سورة الشمس/٩١: ١٠)

dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syamsu/91: 10)

Oleh karena itu beraihkanlah diri dengan amalan baik seperti banyak sedekah, mengeluarkan zakat, 'Abdullah bin Arqam berkata,

" ... إِنَّمَا الصَّدَقَةُ أَوْسَاخُ النَّاسِ يَغْسِلُونَهَا عَنْهُمْ. (رواه مالك: ١٧٨٤)

"Sesungguhnya zakat adalah kotoran manusia yang mereka bersihkan dari diri mereka." (Lihat HR. Malik: 1784 - mauquf shahih menurut Salim bin 'Ied al-Hilaly dari 'Adullah bin al-Arqam bin 'Abdu Yaghuts, ia shahabat dan negeri hidup Madinah. Hadits tsulatsiyat, dan ahlul Madinah)

Atau sabda Rasulullah ﷺ,

"...  إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَةَ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه النسائي: ٢٥٦٢)

"Sesungguhnya sedekah ini merupakan kotoran-kotoran manusia, dan sedekah tersebut tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad ﷺ." (HR. An-Nasa'i: 2562 - shahih dari 'Abdul Muthallib bin Rabi'ah al-Harits, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 62 H dan 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Hadits 'aziz awal dan akhir sanad)

Lihat juga hadits riwayat imam Muslim: 1784, Abu Daud: 2592, Ahmad: 16863 - shahih dari Abdul Muthalib bin Rabi'ah, Ahmad: 9785 - shahih dari Abu Hurairah, dan Malik: 1592 - mauquf shahih dari 'Abdullah bin al-Arqam.

Dan banyak lagi cara-cara untuk menyucikan diri, sehingga benar-benar "Nur Muhammad" terpelihara dan terjaga kesuciannya. Sehingga memunculkan nilai-nilai nubuwah dalam hidup dan kehidupan. Nah, inilah yang dilakukan oleh kaum sufistik Islam.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Rabu, 14 Desember 2022

DELAPAN GOLONGAN YANG MENDAPAT NAUNGAN ALLAH PADA HARI KIAMAT


DELAPAN GOLONGAN YANG MENDAPAT NAUNGAN ALLAH PADA HARI KIAMAT DAN KELEMBUTAN HATI PARA SAHABAT RASULULLAH ﷺ

Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيَهُمُ اللّٰهُ فِيْ ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَقُضِيَ الْاَمْرُ ۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢١٠)

Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu (pada hari Kiamat), kecuali kedatangan Allah dalam naungan awan bersama malaikat (untuk melakukan perhitungan), sedangkan perkara (mereka) telah diputuskan. Kepada Allahlah segala perkara dikembalikan. (QS. Al-Baqarah/2: 210)

Imam Malik meriwayatkan,

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَوْ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُودَ إِلَيْهِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَى ذَلِكَ وَتَفَرَّقَا وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ ذَاتُ حَسَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ. (رواه مالك: ١٥٠١)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Khubaib bin Abdurrahman Al-Anshari dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Sa'id Al Khudri, atau dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Tujuh golongan orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; Seorang imam yang adil. Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Seorang pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid. Dua orang pemuda yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya. Seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu mengucur air matanya. Seorang pemuda yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu dia berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah.' Dan seorang laki-laki yang bersedekah, lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya." (HR. Malik: 1501 - shahih menurut Salim bin 'Ied al-Hilaly dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 620, 1334, 6308, at-Tirmidzi: 2313, An-Nasa'i: 5285, Ahmad: 9288 - dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja imam Muslim meriwayatkan kalimat yang terbalik (maqlub) sehingga hadits riwayat imam Muslim muslim dihukumi hadits syadz dan yang lainnya mahfuzh (terjaga). Hadits syadz tergolongan hadits dha'if.

Dalam riwayat syadz, seorang perawi menyelisihi yang lebih utama darinya, bisa jadi menyelisihi perawi yang lebih bagus hafalannya atau menyelisihi jumlah perawi yang lebih banyak. Sedangkan mahfuzh adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih maqbul (diterima) menyelisihi yang maqbul. Dalam hal ini imam Muslim menyelisihi riwayat orang yang lebih tsiqah dari dia yaitu imam al-Bukhari. Begitu juga periwayat yang lainnya.

Kalimat dimaksud adalah:

" ... لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ ...".

" ... sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya ...".

Sebagaimana hadits lengkapnya diriwayatkan oleh imam Muslim,

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى الْقَطَّانِ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَوْ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ وَقَالَ وَرَجُلٌ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُودَ إِلَيْهِ. (رواه مسلم: ١٧١٢)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna semuanya dari Yahya Al Qaththan - Zuhair berkata- Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Ubaidullah, telah mengabarkan kepadaku Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Yaitu; Seorang imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu ia menolak seraya berkata, 'Aku takut kepada Allah.' Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. Dan yang terakhir adalah seorang yang menetes air matanya saat berzikir, mengingat dan menyebut nama Allah dalam kesunyian."

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Sa'id Al Khudri atau dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda; yakni serupa dengan hadits Ubaidullah, dan ia juga mengatakan, "Dan seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, bila ia keluar darinya hingga ia kembali." (HR. Muslim: 1712 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Pada riwayat lain, selain tujuh golongan di atas terdapat satu golongan lagi orang yang dinaungi oleh Allah di hari kiamat kelak, yaitu orang yang membebaskan seseorang dari utang. Sebagaimana Imam At-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّازِيُّ عَنْ دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِي صَالِحِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي الْيَسَرِ وَأَبِي قَتَادَةَ وَحُذَيْفَةَ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَعُبَادَةَ وَجَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ١٢٢٧)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman Ar Razi dari Daud bin Qais dari Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa memberi tempo kepada orang yang kesulitan membayar utang atau menggugurkan (membebaskan) nya, niscaya Allah akan memberi naungan kepadanya pada hari di bawah naungan 'Arsy-Nya, pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya." Ia mengatakan; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abul Yasar, Abu Qatadah, Hudzaifah, Ibnu Mas'ud, Ubadah dan Jabir. Abu Isa berkata, Hadits Abu Hurairah adalah hadits shahih gharib dari jalur ini. (HR. At-Tirmidzi: 1227 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 8354 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Sedangkan imam Ad-Darimi meriwayatkan bahwa hal tersebut dilakukan oleh Abu Yasar dengan menghapus utang seseorang dari catatannya. Imam Ad-Darimi berkata,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ رِبْعِيٍّ عَنْ أَبِي الْيَسَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ قَالَ فَبَزَقَ فِي صَحِيفَتِهِ فَقَالَ اذْهَبْ فَهِيَ لَكَ لِغَرِيمِهِ وَذَكَرَ أَنَّهُ كَانَ مُعْسِرًا. (رواه الدارمي: ٢٤٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Zaidah dari Abdul Malik bin 'Umair dari Rib'i dari Abu Al Yasar, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa memberikan tangguh kepada orang yang mengalami kesulitan atau menggugurkan sebagian (utang) darinya, maka Allah akan menaunginya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya." Kemudian Abu Yasar meludah di kertasnya dan berkata kepada orang yang berutang kepadanya, "Pergilah, itu untukmu." Dan Abdul Malik menyebutkan bahwa orang tersebut tengah mengalami kesulitan. (HR. Ad-Darimi: 2475 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Ka'ab bin 'Amru bin 'Abbad, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Yasar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 55 H)

Demikian hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 14973 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ka'ab bin 'Amru bin 'Abbad, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Yasar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 55 H. Hadits 'aziz diakhir sanad.

Terdapat hadits yang dha'if yang matannya terbalik, namun maknanya sama diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبُو يَحْيَى الْبَزَّازُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ بِشْرِ بْنِ سَلْمٍ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْفَضْلِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ هِشَامِ بْنِ زِيَادٍ الْقُرَشِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مِحْجَنٍ مَوْلَى عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَظَلَّ اللَّهُ عَبْدًا فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ تَرَكَ لِغَارِمٍ. (رواه أحمد: ٥٠١)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Yahya Al Bazzaz Muhammad bin Abdurrahim, telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Bisyr bin Salm Al Kufi, telah menceritakan kepada kami Al Abbas bin Al Fadlal Al Anshari dari Hisyam bin Ziyad Al Qurasyi dari bapaknya dari Mihjan mantan budak Utsman, dari Utsman dia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah akan menaungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya seorang hamba yang menangguhkan kepada orang yang kesusahan atau meninggalkan orang yang berutang." (HR. Ahmad: 501 - isnadnya dha'if jiddan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al-'Ash bin Abi Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 35 H)

Catatan: dalam hadits riwayat imam Ahmad: 501 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Para periwayatnya adalah:

1. 'Utsman bin 'Affan bin Abi al-'Ash bin Abi Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 35 H.

2. Mihjan al-Umawwiy, ia tabi'in kalangan pertengahan. Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Al-Bukhari dan Ibnu 'Adi menilainya lam yashih haditsuhu. Ia hanya meriwayatkan satu hadits dari jalur sanad Ahmad bin Hanbal.

3. Ziad, ia tabi'in kalangan biasa. Penilaian ulama: Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Ia hanya meriwayatkan satu hadits dari jalur sanad Ahmad bin Hanbal.

4. Hisyam bin Ziad bin Abi Zaid, ia tabi'ul atba'kalangan tua kuniyahnya Abu al-Miqdam dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Zur'ah, dan Abu Hatim menilainya dha'iful hadits. Yahya bin Ma'in dan Abu Daud menilainya laisa bi tsiqah. At-Tirmidzi, An-Nasa'i, al-'Ajli, Ad-Daruquthni, Ya'kub bin Sufyan menilainya dha'if. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya matruk. Adz-Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkannya".

5. 'Abbas bin al-Fadhal, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Fadhal negeri hidup Maushul dan wafat tahun 186 H. Penilaian ulama: Abu Hatim dan Al-Bukhari menilainya munkarul hadits. Ibnul Madini menilainya dzahibul hadits. An-Nasa'i dan Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi tsiqah. Ad-Daruquthni menilainya dha'if. Sedangkan al-'Ajli menilainya matrukul hadits. Ibnu Hajar menilainya matruk dan adz-Dzahabi menilainya lemah.

6. Al-Hasan bin Bisyir bin Salmi, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Ali negeri hidup Kufah dan wafat tahun 221 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya shaduq.

7. Muhammad bin 'Abdur Rahim bin Abi Zuhair, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Yahya negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 255 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal dan An-Nasa'i menilainya tsiqah. Abu Bakar al-Kathib menilainya mutqin dhabith 'alim hafizh. Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh. Sedangkan Adz-Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats-Tsiqat".

Dalam hadits yang sangat panjang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abu Yasar, beliau berkata:

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ - وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ، وَالسِّيَاقُ لِهَارُونَ - قَالَا: حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ مُجَاهِدٍ أَبِي حَزْرَةَ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ: خَرَجْتُ أَنَا وَأَبِي نَطْلُبُ الْعِلْمَ فِي هَذَا الْحَيِّ مِنَ الْأَنْصَارِ، قَبْلَ أَنْ يَهْلِكُوا، فَكَانَ أَوَّلُ مَنْ لَقِينَا أَبَا الْيَسَرِ، صَاحِبَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَعَهُ غُلَامٌ لَهُ، مَعَهُ ضِمَامَةٌ مِنْ صُحُفٍ، وَعَلَى أَبِي الْيَسَرِ بُرْدَةٌ وَمَعَافِرِيَّ، وَعَلَى غُلَامِهِ بُرْدَةٌ وَمَعَافِرِيَّ، فَقَالَ لَهُ أَبِي: يَا عَمِّ إِنِّي أَرَى فِي وَجْهِكَ سَفْعَةً مِنْ غَضَبٍ، قَالَ: أَجَلْ، كَانَ لِي عَلَى فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ الْحَرَامِيِّ مَالٌ، فَأَتَيْتُ أَهْلَهُ، فَسَلَّمْتُ، فَقُلْتُ: ثَمَّ هُوَ؟ قَالُوا: لَا، فَخَرَجَ عَلَيَّ ابْنٌ لَهُ جَفْرٌ، فَقُلْتُ لَهُ: أَيْنَ أَبُوكَ؟ قَالَ: سَمِعَ صَوْتَكَ فَدَخَلَ أَرِيكَةَ أُمِّي، فَقُلْتُ: اخْرُجْ إِلَيَّ، فَقَدْ عَلِمْتُ أَيْنَ أَنْتَ، فَخَرَجَ، فَقُلْتُ: مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنِ اخْتَبَأْتَ مِنِّي؟ قَالَ: أَنَا، وَاللهِ أُحَدِّثُكَ، ثُمَّ لَا أَكْذِبُكَ، خَشِيتُ وَاللهِ أَنْ أُحَدِّثَكَ فَأَكْذِبَكَ، وَأَنْ أَعِدَكَ فَأُخْلِفَكَ، وَكُنْتَ صَاحِبَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكُنْتُ وَاللهِ مُعْسِرًا قَالَ: قُلْتُ: آللَّهِ قَالَ: اللهِ قُلْتُ: آللَّهِ قَالَ: اللهِ قُلْتُ: آللَّهِ قَالَ: اللهِ قَالَ: فَأَتَى بِصَحِيفَتِهِ فَمَحَاهَا بِيَدِهِ، فَقَالَ: إِنْ وَجَدْتَ قَضَاءً فَاقْضِنِي، وَإِلَّا، أَنْتَ فِي حِلٍّ، فَأَشْهَدُ بَصَرُ عَيْنَيَّ هَاتَيْنِ - وَوَضَعَ إِصْبَعَيْهِ عَلَى عَيْنَيْهِ - وَسَمْعُ أُذُنَيَّ هَاتَيْنِ، وَوَعَاهُ قَلْبِي هَذَا - وَأَشَارَ إِلَى مَنَاطِ قَلْبِهِ - رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ، أَظَلَّهُ اللهُ فِي ظِلِّهِ»

(3007) قَالَ: فَقُلْتُ لَهُ أَنَا: يَا عَمِّ لَوْ أَنَّكَ أَخَذْتَ بُرْدَةَ غُلَامِكَ، وَأَعْطَيْتَهُ مَعَافِرِيَّكَ، وَأَخَذْتَ مَعَافِرِيَّهُ وَأَعْطَيْتَهُ بُرْدَتَكَ، فَكَانَتْ عَلَيْكَ حُلَّةٌ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ، فَمَسَحَ رَأْسِي، وَقَالَ: اللهُمَّ بَارِكْ فِيهِ، يَا ابْنَ أَخِي بَصَرُ عَيْنَيَّ هَاتَيْنِ، وَسَمْعُ أُذُنَيَّ هَاتَيْنِ، وَوَعَاهُ قَلْبِي هَذَا - وَأَشَارَ إِلَى مَنَاطِ قَلْبِهِ - رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «أَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ، وَأَلْبِسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ» وَكَانَ أَنْ أَعْطَيْتُهُ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا أَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(3008) ثُمَّ مَضَيْنَا حَتَّى أَتَيْنَا جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ فِي مَسْجِدِهِ، وَهُوَ يُصَلِّي فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ مُشْتَمِلًا بِهِ، فَتَخَطَّيْتُ الْقَوْمَ حَتَّى جَلَسْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ، فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللهُ أَتُصَلِّي فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَرِدَاؤُكَ إِلَى جَنْبِكَ؟ قَالَ: فَقَالَ بِيَدِهِ فِي صَدْرِي هَكَذَا، وَفَرَّقَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَقَوَّسَهَا: أَرَدْتُ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيَّ الْأَحْمَقُ مِثْلُكَ، فَيَرَانِي كَيْفَ أَصْنَعُ، فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ، أَتَانَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسْجِدِنَا هَذَا، وَفِي يَدِهِ عُرْجُونُ ابْنِ طَابٍ، فَرَأَى فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ نُخَامَةً فَحَكَّهَا بِالْعُرْجُونِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ: «أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يُعْرِضَ اللهُ عَنْهُ؟» قَالَ فَخَشَعْنَا، ثُمَّ قَالَ: «أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يُعْرِضَ اللهُ عَنْهُ؟» قَالَ: فَخَشَعْنَا، ثُمَّ قَالَ: «أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يُعْرِضَ اللهُ عَنْهُ؟» قُلْنَا: لَا أَيُّنَا، يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلَا يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ، وَلَا عَنْ يَمِينِهِ، وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ، تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هَكَذَا» ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ، فَقَالَ: «أَرُونِي عَبِيرًا» فَقَامَ فَتًى مِنَ الْحَيِّ يَشْتَدُّ إِلَى أَهْلِهِ، فَجَاءَ بِخَلُوقٍ فِي رَاحَتِهِ، فَأَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَهُ عَلَى رَأْسِ الْعُرْجُونِ، ثُمَّ لَطَخَ بِهِ عَلَى أَثَرِ النُّخَامَةِ، فَقَالَ جَابِرٌ: فَمِنْ هُنَاكَ جَعَلْتُمُ الْخَلُوقَ فِي مَسَاجِدِكُمْ
(3009) سِرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ بَطْنِ بُوَاطٍ، وَهُوَ يَطْلُبُ الْمَجْدِيَّ بْنَ عَمْرٍو الْجُهَنِيَّ، وَكَانَ النَّاضِحُ يَعْتَقِبُهُ مِنَّا الْخَمْسَةُ وَالسِّتَّةُ وَالسَّبْعَةُ، فَدَارَتْ عُقْبَةُ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ عَلَى نَاضِحٍ لَهُ، فَأَنَاخَهُ فَرَكِبَهُ، ثُمَّ بَعَثَهُ فَتَلَدَّنَ عَلَيْهِ بَعْضَ التَّلَدُّنِ، فَقَالَ لَهُ: شَأْ، لَعَنَكَ اللهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ هَذَا اللَّاعِنُ بَعِيرَهُ؟» قَالَ: أَنَا، يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «انْزِلْ عَنْهُ، فَلَا تَصْحَبْنَا بِمَلْعُونٍ، لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ»
(3010) سِرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَتَّى إِذَا كَانَتْ عُشَيْشِيَةٌ وَدَنَوْنَا مَاءً مِنْ مِيَاهِ الْعَرَبِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ رَجُلٌ يَتَقَدَّمُنَا فَيَمْدُرُ الْحَوْضَ فَيَشْرَبُ وَيَسْقِينَا؟» قَالَ جَابِرٌ: فَقُمْتُ فَقُلْتُ: هَذَا رَجُلٌ، يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّ رَجُلٍ مَعَ جَابِرٍ؟» فَقَامَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ، فَانْطَلَقْنَا إِلَى الْبِئْرِ، فَنَزَعْنَا فِي الْحَوْضِ سَجْلًا أَوْ سَجْلَيْنِ، ثُمَّ مَدَرْنَاهُ، ثُمَّ نَزَعْنَا فِيهِ حَتَّى أَفْهَقْنَاهُ، فَكَانَ أَوَّلَ طَالِعٍ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَتَأْذَنَانِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، يَا رَسُولَ اللهِ فَأَشْرَعَ نَاقَتَهُ فَشَرِبَتْ، شَنَقَ لَهَا فَشَجَتْ فَبَالَتْ، ثُمَّ عَدَلَ بِهَا فَأَنَاخَهَا، ثُمَّ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحَوْضِ فَتَوَضَّأَ مِنْهُ، ثُمَّ قُمْتُ فَتَوَضَّأْتُ مِنْ مُتَوَضَّإِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَهَبَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ يَقْضِي حَاجَتَهُ، فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ، وَكَانَتْ عَلَيَّ بُرْدَةٌ ذَهَبْتُ أَنْ أُخَالِفَ بَيْنَ طَرَفَيْهَا فَلَمْ تَبْلُغْ لِي، وَكَانَتْ لَهَا ذَبَاذِبُ فَنَكَّسْتُهَا، ثُمَّ خَالَفْتُ بَيْنَ طَرَفَيْهَا، ثُمَّ تَوَاقَصْتُ عَلَيْهَا، ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ، ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيْنَا جَمِيعًا، فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمُقُنِي وَأَنَا لَا أَشْعُرُ، ثُمَّ فَطِنْتُ بِهِ، فَقَالَ هَكَذَا، بِيَدِهِ - يَعْنِي شُدَّ وَسَطَكَ - فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «يَا جَابِرُ» قُلْتُ: لَبَّيْكَ، يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِذَا كَانَ وَاسِعًا فَخَالِفْ بَيْنَ طَرَفَيْهِ، وَإِذَا كَانَ ضَيِّقًا فَاشْدُدْهُ عَلَى حَقْوِكَ»
(3011) «سِرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ قُوتُ كُلِّ رَجُلٍ مِنَّا فِي كُلِّ يَوْمٍ تَمْرَةً، فَكَانَ يَمَصُّهَا ثُمَّ يَصُرُّهَا فِي ثَوْبِهِ، وَكُنَّا نَخْتَبِطُ بِقِسِيِّنَا وَنَأْكُلُ، حَتَّى قَرِحَتْ أَشْدَاقُنَا، فَأُقْسِمُ أُخْطِئَهَا رَجُلٌ مِنَّا يَوْمًا، فَانْطَلَقْنَا بِهِ نَنْعَشُهُ، فَشَهِدْنَا أَنَّهُ لَمْ يُعْطَهَا، فَأُعْطِيَهَا فَقَامَ فَأَخَذَهَا»
(3012) سِرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى نَزَلْنَا وَادِيًا أَفْيَحَ، فَذَهَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ، فَاتَّبَعْتُهُ بِإِدَاوَةٍ مِنْ مَاءٍ، فَنَظَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا يَسْتَتِرُ بِهِ، فَإِذَا شَجَرَتَانِ بِشَاطِئِ الْوَادِي، فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى إِحْدَاهُمَا، فَأَخَذَ بِغُصْنٍ مِنْ أَغْصَانِهَا، فَقَالَ: «انْقَادِي عَلَيَّ بِإِذْنِ اللهِ» فَانْقَادَتْ مَعَهُ كَالْبَعِيرِ الْمَخْشُوشِ، الَّذِي يُصَانِعُ قَائِدَهُ، حَتَّى أَتَى الشَّجَرَةَ الْأُخْرَى، فَأَخَذَ بِغُصْنٍ مِنْ أَغْصَانِهَا، فَقَالَ: «انْقَادِي عَلَيَّ بِإِذْنِ اللهِ» فَانْقَادَتْ مَعَهُ كَذَلِكَ، حَتَّى إِذَا كَانَ بِالْمَنْصَفِ مِمَّا بَيْنَهُمَا، لَأَمَ بَيْنَهُمَا - يَعْنِي جَمَعَهُمَا - فَقَالَ: «الْتَئِمَا عَلَيَّ بِإِذْنِ اللهِ» فَالْتَأَمَتَا، قَالَ جَابِرٌ: فَخَرَجْتُ أُحْضِرُ مَخَافَةَ أَنْ يُحِسَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُرْبِي فَيَبْتَعِدَ - وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ - فَيَتَبَعَّدَ فَجَلَسْتُ أُحَدِّثُ نَفْسِي، فَحَانَتْ مِنِّي لَفْتَةٌ، فَإِذَا أَنَا بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْبِلًا، وَإِذَا الشَّجَرَتَانِ قَدِ افْتَرَقَتَا، فَقَامَتْ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا عَلَى سَاقٍ، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ وَقْفَةً، فَقَالَ بِرَأْسِهِ هَكَذَا - وَأَشَارَ أَبُو إِسْمَاعِيلَ بِرَأْسِهِ يَمِينًا وَشِمَالًا - ثُمَّ أَقْبَلَ، فَلَمَّا انْتَهَى إِلَيَّ قَالَ: «يَا جَابِرُ هَلْ رَأَيْتَ مَقَامِي؟» قُلْتُ: نَعَمْ، يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «فَانْطَلِقْ إِلَى الشَّجَرَتَيْنِ فَاقْطَعْ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا غُصْنًا، فَأَقْبِلْ بِهِمَا، حَتَّى إِذَا قُمْتَ مَقَامِي فَأَرْسِلْ غُصْنًا عَنْ يَمِينِكَ وَغُصْنًا عَنْ يَسَارِكَ»، قَالَ جَابِرٌ: فَقُمْتُ فَأَخَذْتُ حَجَرًا فَكَسَرْتُهُ وَحَسَرْتُهُ، فَانْذَلَقَ لِي، فَأَتَيْتُ الشَّجَرَتَيْنِ فَقَطَعْتُ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا غُصْنًا، ثُمَّ أَقْبَلْتُ أَجُرُّهُمَا حَتَّى قُمْتُ مَقَامَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرْسَلْتُ غُصْنًا عَنْ يَمِينِي وَغُصْنًا عَنْ يَسَارِي، ثُمَّ لَحِقْتُهُ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ، يَا رَسُولَ اللهِ فَعَمَّ ذَاكَ؟ قَالَ: «إِنِّي مَرَرْتُ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ، فَأَحْبَبْتُ، بِشَفَاعَتِي، أَنْ يُرَفَّهَ عَنْهُمَا، مَا دَامَ الْغُصْنَانِ رَطْبَيْنِ»
(3013) قَالَ: فَأَتَيْنَا الْعَسْكَرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا جَابِرُ نَادِ بِوَضُوءٍ» فَقُلْتُ: أَلَا وَضُوءَ؟ أَلَا وَضُوءَ؟ أَلَا وَضُوءَ؟ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا وَجَدْتُ فِي الرَّكْبِ مِنْ قَطْرَةٍ، وَكَانَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يُبَرِّدُ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءَ فِي أَشْجَابٍ لَهُ، عَلَى حِمَارَةٍ مِنْ جَرِيدٍ، قَالَ: فَقَالَ لِيَ: «انْطَلِقْ إِلَى فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ الْأَنْصَارِيِّ، فَانْظُرْ هَلْ فِي أَشْجَابِهِ مِنْ شَيْءٍ؟» قَالَ: فَانْطَلَقْتُ إِلَيْهِ فَنَظَرْتُ فِيهَا فَلَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلَّا قَطْرَةً فِي عَزْلَاءِ شَجْبٍ مِنْهَا، لَوْ أَنِّي أُفْرِغُهُ لَشَرِبَهُ يَابِسُهُ، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلَّا قَطْرَةً فِي عَزْلَاءِ شَجْبٍ مِنْهَا، لَوْ أَنِّي أُفْرِغُهُ لَشَرِبَهُ يَابِسُهُ، قَالَ: «اذْهَبْ فَأْتِنِي بِهِ» فَأَتَيْتُهُ بِهِ، فَأَخَذَهُ بِيَدِهِ فَجَعَلَ يَتَكَلَّمُ بِشَيْءٍ لَا أَدْرِي مَا هُوَ، وَيَغْمِزُهُ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ أَعْطَانِيهِ، فَقَالَ: «يَا جَابِرُ نَادِ بِجَفْنَةٍ» فَقُلْتُ: يَا جَفْنَةَ الرَّكْبِ فَأُتِيتُ بِهَا تُحْمَلُ، فَوَضَعْتُهَا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بِيَدِهِ فِي الْجَفْنَةِ هَكَذَا، فَبَسَطَهَا وَفَرَّقَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، ثُمَّ وَضَعَهَا فِي قَعْرِ الْجَفْنَةِ، وَقَالَ: «خُذْ يَا جَابِرُ فَصُبَّ عَلَيَّ، وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ» فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ وَقُلْتُ: بِاسْمِ اللهِ، فَرَأَيْتُ الْمَاءَ يَتَفُوَّرُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ فَارَتْ الْجَفْنَةُ وَدَارَتْ حَتَّى امْتَلَأَتْ، فَقَالَ: «يَا جَابِرُ نَادِ مَنْ كَانَ لَهُ حَاجَةٌ بِمَاءٍ» قَالَ فَأَتَى النَّاسُ فَاسْتَقَوْا حَتَّى رَوُوا، قَالَ: فَقُلْتُ: هَلْ بَقِيَ أَحَدٌ لَهُ حَاجَةٌ؟ فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ مِنَ الْجَفْنَةِ وَهِيَ مَلْأَى
(3014) وَشَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُوعَ، فَقَالَ: «عَسَى اللهُ أَنْ يُطْعِمَكُمْ» فَأَتَيْنَا سِيفَ الْبَحْرِ فَزَخَرَ الْبَحْرُ زَخْرَةً، فَأَلْقَى دَابَّةً، فَأَوْرَيْنَا عَلَى شِقِّهَا النَّارَ، فَاطَّبَخْنَا وَاشْتَوَيْنَا، وَأَكَلْنَا حَتَّى شَبِعْنَا، قَالَ جَابِرٌ: فَدَخَلْتُ أَنَا وَفُلَانٌ وَفُلَانٌ، حَتَّى عَدَّ خَمْسَةً، فِي حِجَاجِ عَيْنِهَا مَا يَرَانَا أَحَدٌ، حَتَّى خَرَجْنَا، فَأَخَذْنَا ضِلَعًا مِنْ أَضْلَاعِهِ فَقَوَّسْنَاهُ، ثُمَّ دَعَوْنَا بِأَعْظَمِ رَجُلٍ فِي الرَّكْبِ، وَأَعْظَمِ جَمَلٍ فِي الرَّكْبِ، وَأَعْظَمِ كِفْلٍ فِي الرَّكْبِ، فَدَخَلَ تَحْتَهُ مَا يُطَأْطِئُ رَأْسَهُ. (رواه مسلم: ٥٣٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma'ruf dan Muhammad bin Abbad, matan hadits keduanya hampir sama dan pemaparan matan berikut milik Harun, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dari Ya'qub bin Mujahid Abu Hazrah dari Ubadah bin Al Walid bin Ubadah bin Ash Shamit berkata, Aku dan ayahku pergi menuntut ilmu di perkampungan Anshar ini sebelum mereka meninggal. Orang yang pertama kali kami temui adalah Abu Al Yasar, sahabat Rasulullah ﷺ, ia bersama seorang budak miliknya, ia membawa sekumpulan lembaran, Abu Al Yasar mengenakan selimut Ma'afiri dan budaknya juga mengenakan selimut Ma'afiri. Ayahku berkata padanya: Hai pamanku, sesungguhnya aku melihat tanda bekas marah di wajahmu. Ia berkata, Benar. Fulan bin fulan memiliki utang padaku, aku mendatangi keluarganya, aku mengucapkan salam lalu aku mengucapkan kata-kata lalu ia mereka berkata, Tidak. Kemudian seorang anak berperut buncit keluar, aku bertanya: Mana ayahmu? Ia berkata, Ia mendengar suaramu. Selanjutnya ibuku, Arikah, masuk lalu aku berkata, Keluarlah kemari, aku sudah tahu dimana kamu berada. Aku bertanya: Kenapa kau bersembunyi dariku? Ia menjawab: Aku, demi Allah, akan menceritakan padamu, aku tidak bohong, demi Allah, aku takut bercerita kepadamu lalu aku berdusta dan aku berjanji padamu lalu aku pungkiri. Kau adalah sahabat Rasulullah ﷺ dan aku, demi Allah, sedang susah. Aku mengucapkan: Allah. Ia menyahut: Allah. Aku mengucapkan: Allah. Ia menyahut: Allah. Aku mengucapkan: Allah. Ia menyahut: Allah. Lalu ia mengambil lembaran kemudian dihapus dengan tangannya, ia berkata, Bila kau punya uang, lunasilah dan bila tidak punya kau bebas. Penglihatan kedua mataku ini -ia meletakkan jari-jarinya ke kedua matanya- pendengaran kedua telingaku ini dan difahami oleh hatiku ini -ia menunjuk ke tempat hatinya- menyaksikan Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa menangguhkan orang susah atau membebaskannya dari (utang) nya, Allah akan menaunginya dalam naungan-Nya." Ia berkata, Laku aku berkata padanya: Wahai paman, andai kau mengambil selimut budakmu, kau mengambil budak ma'afirimu, kau mengambil selimut ma'firinya dan kau berukan selimutmu padanya, tentu kau mengenakan perhiasan dan ia juga mengenakan perhiasan. Ia mengusap kepalaku lalu berdoa: Ya Allah, berkahilah ia. Wahai keponakanku, penglihatan kedua mataku ini -ia meletakkan jari-jarinya ke kedua matanya- pendengaran kedua telingaku ini dan difahami oleh hatiku ini -ia menunjuk ke tempat hatinya- menyaksikan Rasulullah ﷺ bersabda, "Berilah mereka makan dari yang kalian makan dan berilah mereka pakaian dari yang kalian kenakan, " aku memberinya barang-barang dunia itu lebih ringan bagiku daripada ia mengambil kebaikan-kebaikanku pada hari kiamat. Kami pun pergi hingga mendatangi Jabir bin Abdullah dimasjidnya, ia tengah salat mengenakan satu baju yang ia selimutkan. Aku melangkahi orang-orang hingga aku duduk diantara Jabir dan kiblat. Aku berkata padanya: Semoga Allah merahmatimu, kenapa kau salat dengan satu baju dan selendangmu ke samping? Ia berisyarat dengan tangannya ke dadaku seperti ini -ia membentangkan jari-jarinya dan melengkungkannya, ia berkata, Aku ingin orang bodoh sepertimu menemuiku lalu melihat apa yang aku lakukan sehingga ia menyontohnya. Rasulullah ﷺ pernah mendatangi kami di masjid kami ini sementara beliau membawa dahan milik Ibnu Thab, beliau melihat dikiblat masjid ada dahak lalu beliau mengeriknya dengan dahan tersebut, setelah itu beliau menghadap ke arah kami lalu bertanya, "Siapa diantara kalian yang mau Allah berpaling darinya?" ia berkata, Kami tertunduk. Beliau bertanya lagi, "Siapa diantara kalian yang mau Allah berpaling darinya?" kami menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, "Sesungguhnya salah seorang dari kalian bila salat, Allah Tabaraka wa Ta'ala ada di hadapannya, karena itu jangan meludah ke arah wajah-Nya atau ke kanannya, hendaklah meludah ke kiri, di bawah kaki kirinya. Dan bila ia tidak bisa mengusai diri hingga didahului oleh ludah atau ingus, hendaklah melakukan dengan bajunya seperti ini" beliau melipat baju beliau satu sama lain lalu bersabda, "Perlihatkan minyak za'faran padaku." Lalu seorang pemuda kabilah bergegas ke keluarganya dengan cepat lalu datang membawa campuran minyak ditangannya, lalu Rasulullah ﷺ mengambilnya kemudian dioleskan di ujung pelepah kemudian digosokkan di sisa dahak. Jabir berkata, Dari situlah kalian memberi masjid kalian minyak wangi. Kami pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ dalam peperangan Buwath, beliau mencari Al Majdi bin Amru al Juhadi. Unta yang diberi minum dijaga oleh lima, enam dan tujuh orang, kemudian salah seorang penunggu unta dari Anshar mengelilingi unta miliknya, setelah itu unta diderumkan kemudian ia naik. Ia menggusah untanya tapi tetap saja diam, lalu ia berkata pada untanya: Hus, semoga Allah melaknatmu. Lalu Rasulullah ﷺ bertanya, "Siapa yang melaknat untanya itu?" ia menjawab: Saya, wahai Rasulullah. Rasulullah ﷺ bersabda, "Turunlah, jangan menyertai sesuatu yang terlaknat. Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian, janganlah kalian menepati saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Ia akan mengabulkan untuk kalian." Kami berjalan bersama Rasulullah ﷺ hingga sore hari. Kami mendekati salah satu perairan Arab lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mau mendahului kami lalu memperbaiki sumur, setelah itu ia minum kemudian memberi kami minum" Jabir berkata, Aku berdiri lalu berkata, Saya wahai Rasulullah. Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa lagi bersama Jabir?" Jabbar bin Shakhr berdiri. Kami pergi ke sumur lalu kami menarik satu atau dua timba dari sumur. Kami turunkan lalu kami tarik hingga penuh air. Orang pertama yang menemui kami adalah Rasulullah ﷺ, beliau bertanya, "Apa kalian berdua mengizinkan?" kami menjawab: Ya, wahai Rasulullah. beliau menundukkan kepala unta beliau, unta beliau lalu minum, beliau memegangi tali kekangnya lalu unta beliau merenggangkan kaki kemudian kencing. Setelah itu beliau mengalihkannya dan menderumkannya. Kemudian Rasulullah ﷺ mendatangi sumur dan berwudu. Aku pun berdiri lalu wudu memakai sisa air wudu Rasulullah ﷺ. Jabbar bin Shakhr kemudian pergi membuang hajat lalu Rasulullah ﷺ berdiri untuk salat. Aku mengenakan selimut, aku hendak membentangkannya tapi tidak sampai. Selimut itu memiliki ujung lalu balik, setelah itu aku bentangkan diantara kedua ujungnya lalu aku himpit dengan leherku. Kemudian aku datang lalu berdiri disebelah kiri Rasulullah ﷺ. Beliau meraih tanganku lalu memutarku hingga menempatkanku disebelah kanan beliau. Setelah itu Jabbar bin Shakhr tiba. Ia wudu lalu datang kemudian berdiri disebelah kiri Rasulullah ﷺ, lalu beliau meraih tangan kami lalu kami ditempatkan di belakang beliau. Rasulullah ﷺ melihatku tapi aku tidak merasa, setelah itu baru aku mengerti lalu beliau berisyarat dengan tangan, maksud beliau ikatlah bagian tengahmu. Seusai salat, Rasulullah ﷺ bersabda, "Hai Jabir!" aku menyahut: Baik, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, "Bila (bajunya) lebar, bentangkan diantara dua ujungnya dan bila sempit, ikatlah di atas pinggangmu." Kami pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ dan makanan masing-masing orang dari kami setiap harinya adalah satu kurma. Beliau menghisap kemudian meletakkan dibaju beliau, dan kami menggerak-gerakkan pohon agar dedaunannya berguguran lalu kami memakannya hingga sudut mulut kami terluka. Aku bersumpah, ada seseorang diantara kami yang hilang pada suatu hari. Lalu kami pergi mencarinya kemudian kami mengangkatnya. Kami bersaksi untuknya bahwa ia belum diberi (jatah kurma) lalu ia diberi. Ia berdiri lalu mengambilnya. Kami pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ hingga kami singgah disuatu lembah yang luas. Rasulullah ﷺ pergi menuntaskan hajat, aku mengikuti beliau dari belakang dengan membawa seember air. Rasulullah ﷺ melihat-lihat, beliau tidak melihat apa pun untuk dijadikan penutup. Ternyata ada dua pohon ditepi lembah. Rasulullah ﷺ pergi mendekati salah satunya kemudian meraih sebagian dahannya, beliau bersabda, "Menunduklah untukku, dengan izin Allah." Dahan itu merunduk bersama beliau laksana unta bercocok hidung yang dibuat oleh pengendalinya, hingga beliau mendatangi pohon lain lalu meraih salah satu dahannya, beliau bersabda, "Menunduklah untukku, dengan izin Allah." Dahan itu juga merunduk. Setelah beliau berada dipertengahan diantara keduanya, beliau menyatukan keduanya, beliau bersabda, "Menyatulah untukku, dengan izin Allah." Keduanya pun menyatu. Jabir berkata, Aku pergi berlari dengan cepat karena khawatir Rasulullah ﷺ merasakan keberadaanku di dekat beliau sehingga beliau akan menjauh. Muhammad bin Abbad berkata dalam riwayatnya: Beliau menjauh lalu aku duduk berbicara dengan diriku sendiri. Aku melirik kesamping ternyata Rasulullah ﷺ datang menghampiri dan ternyata kedua pohon itu telah memancar. Masing-masingnya berdiri di atas tonggaknya. Aku melihat Rasulullah ﷺ berdiri dan beliau berisyarat dengan kepala seperti ini -Abu Isma'il mengisyaratkan dengan kepalanya ke kanan dan ke kiri- setelah itu beliau datang. Sesampai di hadapanku, beliau bertanya, "Hai Jabir, apa kau melihat tempatku berdiri?" aku menjawab: Ya, wahai Rasulullah." beliau bersabda, "Pergilah kekedua pohon itu lalu potonglah dahan masing-masingnya lalu bawalah kemari. Bila kau telah berada ditempatku berdiri, lepaskan satu dahan dari sebelah kananmu dan dahan lain dari sebelah kirimu." Jabir berkata, Aku berdiri lalu aku mengambil batu, aku memecahnya lalu aku menajamkannya hingga tajam, setelah aku aku mendatangi kedua pohon itu, aku potong dahan masing-masing dari kedua pohon itu. Aku kembali dengan menyeretnya hingga aku berdiri ditempat Rasulullah ﷺ berdiri. Aku melepas satu dahan dari sebelah kananku dan satu dahan lain dari sebelah kirimu, setelah itu aku menemui Rasulullah ﷺ, aku berkata, Aku sudah melakukannya wahai Rasulullah, lalu untuk apa itu? Beliau menjawab, "Aku melintasi dua kuburan yang (penghuninya) tengah diazab, dengan syafaatku, aku ingin meringankan keduanya selama kedua dahan itu masih basah." Lalu kami mendatangi tentara kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Hai Jabir, serukan air wudu!" aku berkata, "Air wudu, air wudu, air wudu." Aku berkata, Wahai Rasulullah, aku tidak menemukan setetes air pun di kafilah. Ada seorang Anshar mendinginkan air untuk Rasulullah ﷺ dalam wadah miliknya yang telah kering di atas kayu-kayu gantungan wadah lalu beliau bersabda kepadaku, "Pergilah ke fulan bin fulan Al Anshari lalu lihatlah apakah di wadahnya ada sedikit (air)." Aku pergi menghampirinya lalu aku melihat wadahnya, aku tidak menemukan apa pun selain setetes air di ujung wadahnya, andai aku menuangnya tentu akan mengering. Setelah itu aku mendatangi Rasulullah ﷺ, aku berkata, Wahai Rasulullah, tidak menemuan kecuali hanya setetes air yang ada di ujung wadah, andai aku menuangnya tentu akan mengering. Beliau bersabda, "Pergilah lalu bawalah kemari." Aku membawanya lalu beliau mengambilnya dengan tangan beliau. Beliau mengucapkan kata-kata yang tidak aku ketahui apa itu lalu beliau meraba dengan kedua tangan beliau, setelah itu beliau memberikannya padaku, beliau bersabda, "Hai Jabir, serukan bejana besar." Aku menyerukan: Bejana besar, wahai kafilah. Lalu aku membawanya lalu aku letakkan di hadapan Rasulullah ﷺ, beliau mengisyaratkan ke bejana dengan tangan beliau seperti ini -Jabir membentangkan tangan lalu merentangkan jari-jarinya lalu diletakkan di dasar bejana. Beliau bersabda, "Ambillah, hai Jabir lalu tuangankan padaku dan ucapkan: 'Bismillaah." Aku menuangkannya untuk beliau dan aku ucapkan: Bismillaah. Aku melihat air memancar diantara jari-jari Rasulullah ﷺ lalu bejana besar itu memancarkan air dan memutar hingga penuh, setelah itu beliau bersabda, "Hai Jabir, serukan siapa yang butuh air." Jabir berkata, Orang-orang datang lalu minum hingga puas. Lalu aku berkata, Masih adakah yang memerlukan air? Lalu Rasulullah ﷺ mengangkat tangan beliau dari bejana besar itu dalam keadaan penuh air. Orang-orang mengeluh lapar kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau bersabda, "Semoga Allah memberi kalian makan." lalu kami pergi ke tepi pantai, air laut pasang lalu mementalkan seekor ikan lalu kami nyalakan api di sebelahnya, kami memasaknya dan memanggangnya lalu kami makan hingga kenyang. Jabir berkata, Aku, fulan dan fulan -ia menghitung hingga lima orang- memasuki tulang matanya, tidak seorang pun melihat kami hingga kami keluar. Kami mengambil salah satu alisnya kemudian kami melengkungkannya, setelah itu kami memanggil orang terbesar dalam kafilah, unta terbesar dalam kafilah dan pembonceng terbesar dalam kafilah, ia masuk dibawahnya tanpa menundukkan kepala. (HR. Muslim: 5328 - shahih dari dari Ka'ab bin 'Amru bin 'Abbad, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Yasar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 55 H dan Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. Hadits 'aziz di awal dan diakhir sanad)