Pages - Menu

Senin, 28 November 2022

KISAH TENTANG JURAIJ SANG AHLI IBADAH YANG DIFITNAH (Kehidupan ahlul kitab dan ahli ibadah masa sebelum Nabi Muhammad)


KISAH TENTANG JURAIJ SANG AHLI IBADAH YANG DIFITNAH
(Kehidupan ahlul kitab dan ahli ibadah masa sebelum Nabi Muhammad)

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَنْبَأَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ جُرَيْجٌ كَانَ يَتَعَبَّدُ فِي صَوْمَعَتِهِ فَأَتَتْهُ أُمُّهُ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَادَتْهُ فَقَالَتْ أَيْ جُرَيْجُ أَيْ بُنَيَّ أَشْرِفْ عَلَيَّ أُكَلِّمْكَ أَنَا أُمُّكَ أَشْرِفْ عَلَيَّ قَالَ أَيْ رَبِّ صَلَاتِي وَأُمِّي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ ثُمَّ عَادَتْ فَنَادَتْهُ مِرَارًا فَقَالَتْ أَيْ جُرَيْجُ أَيْ بُنَيَّ أَشْرِفْ عَلَيَّ فَقَالَ أَيْ رَبِّ صَلَاتِي وَأُمِّي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ الْمُومِسَةَ وَكَانَتْ رَاعِيَةً تَرْعَى غَنَمًا لِأَهْلِهَا ثُمَّ تَأْوِي إِلَى ظِلِّ صَوْمَعَتِهِ فَأَصَابَتْ فَاحِشَةً فَأُخِذَتْ فَحَمَلَتْ وَكَانَ مَنْ زَنَى مِنْهُمْ قُتِلَ قَالُوا مِمَّنْ قَالَتْ مِنْ جُرَيْجٍ صَاحِبِ الصَّوْمَعَةِ فَجَاءُوا بِالْفُؤُوسِ وَالْمُرُورِ فَقَالُوا أَيْ جُرَيْجُ أَيْ مُرَاءٍ ثُمَّ قَالُوا انْزِلْ فَأَبَى وَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ يُصَلِّي فَأَخَذُوا فِي هَدْمِ صَوْمَعَتِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ نَزَلَ فَجَعَلُوا فِي عُنُقِهِ وَعُنُقِهَا حَبْلًا وَجَعَلُوا يَطُوفُونَ بِهِمَا فِي النَّاسِ فَوَضَعَ أُصْبُعَهُ عَلَى بَطْنِهَا فَقَالَ أَيْ غُلَامُ مَنْ أَبُوكَ قَالَ أَبِي فُلَانٌ رَاعِي الضَّأْنِ فَقَبَّلُوهُ وَقَالُوا إِنْ شِئْتَ بَنَيْنَا لَكَ الصَّوْمَعَةَ مِنْ ذَهَبٍ وَفِضَّةٍ قَالَ أَعِيدُوهَا كَمَا كَانَتْ. (رواه أحمد: ٨٦٣٣)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad berkata, telah memberitakan kepada kami Tsabit dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada masa bani Isra`il terdapat seorang laki-laki yang bernama Juraij, ia adalah seorang hamba yang tekun beribadah di tempat peribadatannya, maka pada suatu hari ibunya datang kepadanya dan memanggilanya seraya berkata, 'Wahai Juraij, wahai anakku, mendekatlah kepadaku, aku ingin berbicara kepadamu, ini aku ibumu, mendekatlah kepadaku, ' maka Juraij berkata, 'Wahai Tuhanku, apakah aku harus meneruskan salatku atau aku menemui ibuku, ' akhirnya Juraij meneruskan salatnya. Kemudian ibunya kembali kepadanya dan memanggilnya berulang kali seraya berkata, 'Wahai Juraij, wahai anakku, mendekatlah kepadaku, ' tetapi Juraij berkata, 'Wahai Tuhanku, apakah aku harus meneruskan salatku atau aku menemui ibuku, ' akhirnya ia meneruskan salatnya, hingga ibunya berkata, 'Ya Allah jangan Engkau wafatkan dia hingga ia mendapatkan fitnah dari seorang pezina.' maka ada seorang wanita yang menggembala kambing keluarganya lalu dia berteduh di tempat peribadatan Juraij, kemudian wanita tersebut melakukan perbuatan keji, lalu ia di tangkap dan ia hamil, hukum yang berlaku diantara mereka adalah siapa yang saja berzina akan dibunuh. Maka dikatakan kepada wanita tersebut, 'Dengan siapa kamu berzina?' ia berkata, 'Dengan Juraij sang penghuni tempat peribadatan, ' maka orang-orang datang kepada Juraij dengan membawa kapak dan tali, mereka berkata, 'hai Juraij, wahai orang yang banyak bicara, 'kemudian mereka berkata lagi, 'Turunlah kamu, ' tetapi Juraij enggan dan ia masih terus melanjutkan salatnya, hingga orang-orang mengahancurkan tempat peribadatannya, tatkala Juraij melihat itu iapun turun, lalu orang-orang mengikat lehernya dan leher wanita yang berzina kemudian mengarak keduanya di depan orang banyak, lalu Juraij meletakkan jarinya pada perut wanita yang berzina tersebut seraya berkata, 'Wahai bayi, siapa ayahmu?' bayi itu berkata, 'Ayahku adalah seorang pengembala kambing, ' akhirnya orang-orang mencium Juraij dan mereka berkata, 'Jika kamu berkehendak kami akan membangun lagi tempat peribadatanmu dari emas dan perak, ' tetapi Juraij menjawab, 'Kembalikan tempat beribadahku seperti sedia kala." (HR. Ahmad: 8633 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Hadits semakna diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَجُلٌ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُ جُرَيْجٌ يُصَلِّي فَجَاءَتْهُ أُمُّهُ فَدَعَتْهُ فَأَبَى أَنْ يُجِيبَهَا فَقَالَ أُجِيبُهَا أَوْ أُصَلِّي ثُمَّ أَتَتْهُ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ وُجُوهَ الْمُومِسَاتِ وَكَانَ جُرَيْجٌ فِي صَوْمَعَتِهِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ لَأَفْتِنَنَّ جُرَيْجًا فَتَعَرَّضَتْ لَهُ فَكَلَّمَتْهُ فَأَبَى فَأَتَتْ رَاعِيًا فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَقَالَتْ هُوَ مِنْ جُرَيْجٍ فَأَتَوْهُ وَكَسَرُوا صَوْمَعَتَهُ فَأَنْزَلُوهُ وَسَبُّوهُ فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى ثُمَّ أَتَى الْغُلَامَ فَقَالَ مَنْ أَبُوكَ يَا غُلَامُ قَالَ الرَّاعِي قَالُوا نَبْنِي صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ لَا إِلَّا مِنْ طِينٍ. (رواه البخاري: ٢٣٠٢)

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada seorang laki-laki Bani Israil, yang dipanggil dengan nama Juraij, sedang melaksanakan salat lalu ibunya datang memanggilnya, namun laki-laki itu enggan menjawabnya. Dia berkata, "Apakah aku penuhi panggilannya atau aku teruskan salat?" Akhirnya ibunya itu mendekatinya seraya berkata, "Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia kecuali setelah dia memperoleh ujian." Suatu hari Juraij sedang berada di biaranya lalu ada seorang wanita berkata,: "Aku akan goda si Juraij." Lalu wanita ini menawarkan dirinya tapi Juraij menolakmya. Kemudian wanita ini mendatangi seorang pengembala lalu wanita ini tinggal bersamanya hingga melahirkan seorang bayi. Lalu wanita itu berkata, "Ini anaknya Juraij." Maka orang-orang mendatangi Juraij dan menghancurkan biaranya dan memaksanya keluar lalu memaki-makinya. Juraij berwuduk lalu salat. Kemudian dia mendatangi bayi lalu bertanya, "Siapakah bapakmu wahai anak?" Bayi itu menjawab, "Seorang pengembala." Orang-orang berkata, "Kami akan bangun biaramu terbuat dari emas." Juraij berkata, "Tidak, dari tanah saja". (HR. al-Bukhari: 2302 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Hikmah dari kisah di atas adalah ketaatan kepada Allah adalah lebih utama daripada yang lain. Sekalipun ta'at kepada orang tua, namun kegelisahan dan doanya diijabah oleh Allah dengan mendatangkan hikmah yang lebih besar dan mulia. Kebohongan yang dimaksudkan untuk melepas sakit hati seolah-olah menjadi nyata, namun dapat dikalahkan dengan kebenaran seorang ahli ibadah yang berilmu tinggi. Sehingga semua geraknya menjadi jawaban semua kehendak Allah.

Terkait dengan kehendak, doa dan karamah Juraij terbukti sebagai layaknya cahaya (ilmu) yang datang dari Allah dari setiap penyerahan diri dalam shalatnya. Oleh karena itu, ia menjadi hakim (pemutus perkara) yang adil. Sejarah mencatat bahwa anak yang dapat bicara dengan fasih sewaktu masih bayi salah satunya adalah anak dari perempuan yang menuduh Juraij sebagai ayah dari bayinya. Buktinya, Juraij diberi kesempatan untuk shalat dan meminta petunjuk kepada Allah. Sehingga hukum "bunuh" bagi siapa saja yang  berzina dimasa itu diberlakukan dengan petunjuk Allah bukan atas dasar kebencian.

Akhirnya kebenaran terungkap dan sebagai balasannya kehormatan lebih tinggi dan kebajikan tersebarkan dengan lebih luas.

Hukum rajam, terdapat sekarang dalam kitab Ulangan xxii.22-24: Perempuan bersuami atau laki-laki beristri kedapatan tidur bersama, “haruslah keduanya dibunuh mati.” Dan jika yang melakukan itu “seorang gadis yang masih perawan, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa keluar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati.”

Orang-orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, dikarenakan oleh tiga sebab: Pertama, karena benci dan ingkar pada hukum Allah. Orang semacam ini kafir (QS. Al-Maidah/5: 44). Kedua, karena menuruti hawa nafsu dan merugikan orang lain, dinamakan zalim (QS. Al-Maidah/5: 55). Ketiga, karena fasik "dungu", orang yan mengetahui hukum Allah tetapi gagal paham (QS. Al-Maidah/5: 47). Hal ini terjadi pada Bani Isra'il dan ahlulkitab sebelum masa Rasulullah ﷺ.

Ingatlah selalu firman Allah,

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُزَكُّوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ بَلِ اللّٰهُ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُ وَلَا يُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا. (القرآن سورة النساء/٤: ٤٩)

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. (QS. An-Nisā'/4: 49)

Ayat ini terkait dengan sikap orang musyrik dan Yahudi yang memercayai al-Jibt, yaitu setan atau apa saja yang disembah selain Allah. Dan, al-Thaghut yaitu orang yang keburukannya melampaui batas (lihat QS. An-Nisā'/4: 48-51).

Sabtu, 26 November 2022

PERLINDUNGAN DAN KERIDHAAN SEHINGGA MASUK SURGA DENGAN DIRANTAI


PERLINDUNGAN DAN KERIDHAAN SEHINGGA MASUK SURGA DENGAN DIRANTAI
(Hadits-hadits Qudsi)
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Sebesar apa pun keinginan kita pasti dibatasi oleh kehendak yang lebih berkuasa. Tetapi kekuasaan makhluk dapat ditipu, kecuali kekuasaan Allah. Apa yang dilaknat tidak akan pernah selamat, dan siapa yang diridhai akan dilindungi. Baik dari bahaya, maupun dari krisisnya kezhaliman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة النحل/١٦: ١٠٦)

Siapa yang kufur kepada Allah setelah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa (mengucapkan kalimat kekufuran), sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanannya (dia tidak berdosa). Akan tetapi, siapa yang berlapang dada untuk (menerima) kekufuran, niscaya kemurkaan Allah menimpanya dan bagi mereka ada azab yang besar. (QS. An-Naḥl/16: 106)

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan tentang ancaman keras terhadap riddah (murtad) yakni kufur kembali sesudah beriman, mengutama-kan kesesatan dari petunjuk (hidayah)-Nya. Mereka mendapat kemurkaan dan azab Allah, kecuali dalam kondisi terpaksa. Misalnya, mereka menyatakan murtad dengan lidah karena jiwanya terancam, namun hati mereka tetap penuh dengan keimanan. Tidak ada dosa dan tuntutan hukum kepadanya, selama ia tetap beriman.
Rasulullah bersabda:

رُفِعَ عَنْ اُمَّتِي الْخَطَأُ وَ النِّسْيَانُ وَمَا اُسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ. (رواه الطبراني عن ثوبان)

Tidak dicatat amal umatku (karena) kekeliruan, lupa, dan mereka terpaksa. (Riwayat aṭ-Ṭabrānī dari Ṡaubān)

Allah mengancam orang yang murtad dengan suka-rela, sementara Allah tetap meridhai sikap kufur karena terpaksa untuk menjaga jiwa dan keimanan sesungguhnya. Dengan konteks yang sama, mereka tetap masuk surga dengan kehirmatan dan kemuliaan dari-Nya. Oleh karena itu, walaupun mereka tertawan dalam keterpaksaan. Rasulullah ﷺ mengisyarakat bahwa Allah kagum kepada mereka. Sebagaimana diceritakan dalam riwayat-riwayat di bawah ini.

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَيْخٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ
ضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ عَجِبْتُ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ فِي السَّلَاسِلِ إِلَى الْجَنَّةِ. (رواه أحمد: ٢١١٢٧)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid, telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari seorang guru dari Abu Umamah berkata, Rasulullah ﷺ tertawa, kami bertanya; Apa gerangan yang membuat baginda tertawa wahai Rasulullah? Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya heran pada suatu kaum yang digiring ke surga dengan dirantai." (HR. Ahmad: 21127 - shahih lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)

Sementara itu matan hadits yang lebih kuat adalah tergolong hadits qudsi. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ ". (رواه أحمد: ٩٤٠٦)

Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Kamil Abul 'Ala` berkata, aku mendengar Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Rabb kita 'Azza wa Jalla merasa ta'ajub terhadap suatu kaum yang digiring masuk ke dalam surga dengan dirantai." (HR. Ahmad: 9406 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Beberapa catatan: pertama: Mina', ia adalah shahabiyah hanya periwayat dalam sanad imam Ahmad. Terhitung hadits jalurnya berjumlah 9 buah. Kedua: Kamil bin Al A'laa, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Al A'laa dan negeri hidup Kufah. Ibnu Sa'ad menilainya, "qalilul hadits". An-Nasa'i menilainya, "laisa bi qawi". Sedangkan Yahya bin Ma'in dan Ya'qub bin Sufyan menilainya, "tsiqah". Dan, Ibnu Hajar menilainya, "shafuq yuhti".

Demikian juga matan yang sama diriwayatkan oleh imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ. (رواه أبوداود: ٢٣٠٢)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ziyad, ia berkata, saya mendengar Abu Hurairah berkata, saya mendengar Rasulullah ﷺ berkata, Tuhan kita 'Azza wa Jalla kagum kepada sebuah kaum yang digiring menuju Surga dalam rantai. (HR. Abu Daud: 2302 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَجِبَ اللَّهُ مِنْ قَوْمٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فِي السَّلَاسِلِ. (رواه البخاري: ٢٧٨٨)

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah bercerita kepada kami Ghundar, telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ bersabda, "Allah heran terhadap suatu kaum yang masuk surga dalam keadaan terbelenggu". (HR. Al-Bukhari: 2788 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Imam Ahmad juga meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ حَمَّادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ وَعَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَجِبَ رَبُّنَا مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ. (رواه أحمد: ٧٦٧١)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Hammad dari Muhammad bin Ziyad dan 'Affan berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ziyad berkata, aku mendengar Abu Hurairah berkata, aku mendengar Abul Qasim ﷺ bersabda, "Tuhan kita ta'jub kepada suatu kaum yang digiring ke surga dalam keadaan terantai (orang yang meninggal dalam keadaan Islam dan masih tertawan)." (HR. Ahmad: 7671 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lafazh semakna,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رِجَالٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ. (رواه أحمد: ٨٩٠٣)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ziyad berkata, aku mendengar Abu Hurairah berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Rabb kita 'Azza wa Jalla terkagum kagum dengan para laki-laki yang digiring menuju surga dalam keadaan terantai." (HR. Ahmad: 8903 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Hadits-hadits di atas diriwayatkan secara makna. Namun, mempunyai makna yang sama, yaitu Allah kagum terhadap seseorang yang masuk surga dalam keadaan terantai. Karena, ketika di dunia sebagai musuh yang kafir lalu menjadi tawanan dan dibelenggu lalu masuk Islam. Dengan makna lain, orang yang meninggal dalam keadaan Islam dan masih tertawan. Hadits-hadits diriwayatkan dari Shadiy bin 'Ajlan dan Abu Hurairah. Termaktub dalam kitab hadits imam al-Bukhari, Abu Daud, dan Ahmad.

Rabu, 23 November 2022

IBRAHIM AKAN MENJADI NABI JIKA TAK MENINGGAL DUNIA WAKTU KECIL


IBRAHIM AKAN MENJADI NABI JIKA TAK MENINGGAL DUNIA WAKTU KECIL
(Sebab dan Batasan Masa Kenabian - hadits tarhamiyah)
Oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Nabi dan Rasul adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada manusia agar senantiasa berada dalam tuntunan kebenaran dan petunjuk untuk mendekat diri serta mengetahui arah tempat kembali kepada Allah sang Pencipta. Sehingga, petunjuk-petunjuk-Nya terdapat pada berbagai sisi ciptaan-Nya yang unik dan indah lagi sempurna.

Terkait dengan pernyataan terkait kenabian dimaksud perlu dijelaskan dan memaparkan alasan-alasan syar'iy dan logis agar mendapatkan makna yang meyakinkan. Oleh karena itu penulis paparkan informasi tentang hal dimaksud sebagai berikut:

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْقُدُّوسِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ شَبِيبٍ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ عُتَيْبَةَ عَنْ مِقْسَمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
لَمَّا مَاتَ إِبْرَاهِيمُ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ إِنَّ لَهُ مُرْضِعًا فِي الْجَنَّةِ وَلَوْ عَاشَ لَكَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا وَلَوْ عَاشَ لَعَتَقَتْ أَخْوَالُهُ الْقِبْطُ وَمَا اسْتُرِقَّ قِبْطِيٌّ. (رواه إبن ماجه: ١٥٠٠)

Telah menceritakan kepada kami Abdul Qudus bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Daud bin Syabib Al Bahili berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Utaibah dari Miqsam dari Ibnu Abbas ia berkata, "Tatkala Ibrahim putra Rasulullah ﷺ meninggal, Rasulullah ﷺ mensalatkannya, beliau berkata, "Sesungguhnya dia memiliki orang yang menyusuinya di surga. Kalau saja ia hidup, niscaya akan menjadi seorang yang jujur dan seorang nabi. Kalau saja ia hidup niscaya paman-pamannya dari kalangan Qibti akan merdeka, tetapi Qibti bukanlah seorang budak." (HR. Ibnu Majah: 1500 - shahih sebelum kalimat "al 'itq" (merdeka) menurut Muhammad Nashiruddin al Albani dari 'Badullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Sementara imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّهُ سَمِعَ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
لَمَّا تُوُفِّيَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لَهُ مُرْضِعًا فِي الْجَنَّةِ. (رواه البخاري: ١٢٩٣)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Adiy bin Tsabit bahwa dia mendengar Al Bara' radhiallahu'anhu berkata, Ketika Ibrahim (putra Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ bersabda, "Baginya akan ada yang menyusuinya di surga". (HR. Al-Bukhari: 1293 - shahih dari al-Barra bin 'Azib bin al-Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H)

Demikian juga hadits semakna riwayat imam al-Bukhari: 3015 dan 5727 - shahih dari al-Barra bin 'Azib bin al-Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H.

Lebih lanjut diriwayatkan oleh imam Muslim,

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عَمْرِو بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيُدَّخَنُ وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ ثُمَّ يَرْجِعُ قَالَ عَمْرٌو فَلَمَّا تُوُفِّيَ إِبْرَاهِيمُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ ابْنِي وَإِنَّهُ مَاتَ فِي الثَّدْيِ وَإِنَّ لَهُ لَظِئْرَيْنِ تُكَمِّلَانِ رَضَاعَهُ فِي الْجَنَّةِ. (رواه مسلم: ٤٢٨٠

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Abdullah bin Numair lafazh ini milik Zuhair keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu 'Ulayyah dari Ayyub dari Amru bin Sa'id dari Anas bin Malik dia berkata, "Tidak pernah kulihat orang yang lebih penyayang terhadap keluarganya melebihi Rasulullah ﷺ. Anas berkata, Ibrahim (anak beliau) disusukan pada suatu keluarga di sebuah kampung di perbukitan Madinah. Pada suatu hari beliau pergi menengoknya, dan kami ikut bersama beliau. Beliau masuk ke rumah yang kala itu penuh dengan asap, karena orang tua pengasuh Ibrahim adalah seorang tukang pandai besi. Kemudian Nabi ﷺ menggendong Ibrahim seraya menciumnya, setelah itu beliau pun pulang. Kata 'Amru, "Tatkala Ibrahim wafat, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Ibrahim adalah anakku. Dia meninggal dalam usia menyusu. Kedua orang tua pengasuhnya akan menyempurnakan susuannya nanti di surga." (HR. Muslim: 4280 - shahih dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits masyhur diakhir sanad)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 11659 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an-Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Pernyataan Rasulullah ﷺ, "Kalau saja ia hidup, niscaya akan menjadi seorang yang jujur dan seorang nabi" adalah kalimat yang menunjukkan kasih sayangnya yang mendalam kepada anak beliau "Ibrahim". Hal tersebut wujud dari harapan seorang bapak kepada anaknya agar menjadi sama atau lebih baik darinya.

Sementara itu, takdir kenabian telah dibatasi hanya sampai Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana pernyataan beliau sendiri, yang diriwayatkan oleh imam Ahmad. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ ابْتَنَى دَارًا فَأَكْمَلَهَا وَأَحْسَنَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَعْجَبُونَ وَيَقُولُونَ لَوْلَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ جِئْتُ فَخَتَمْتُ الْأَنْبِيَاءَ. (رواه أحمد: ١٤٣٥٩)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Mina' dari Jabir bin Abdullah dari Nabi ﷺ bersabda, "Permisalanku dengan permisalan para nabi seperti seorang laki-laki yang membuat rumah lalu dia melengkapinya dan memperbagusnya kecuali ada kekurangan satu bata, lalu orang-orang memasukinya dan sangat kagum dengannya dan berkata, 'Oh, kalau saja kekurangan satu bata ini telah dilengkapi." Rasulullah ﷺ bersabda, "Sayalah satu bata yang kurang tersebut, saya datang dan saya penutup para nabi". (HR. Ahmad: 14359 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Dan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ الْكَلْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هِلَالٍ السُّلَمِيِّ عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ وَسَأُنَبِّئُكُمْ بِأَوَّلِ ذَلِكَ دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبِشَارَةُ عِيسَى بِي وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ وَكَذَلِكَ أُمَّهَاتُ النَّبِيِّينَ تَرَيْنَ
حَدَّثَنَا أَبُو الْعَلَاءِ وَهُوَ الْحَسَنُ بْنُ سَوَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ مُعَاوِيَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى بْنِ هِلَالٍ السُّلَمِيِّ عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ فَذَكَرَ مِثْلَهُ وَزَادَ فِيهِ إِنَّ أُمَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَتْ حِينَ وَضَعَتْهُ نُورًا أَضَاءَتْ مِنْهُ قُصُورُ الشَّامِ. (رواه أحمد: ١٦٥٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah yaitu Ibnu Shalih, dari Sa'id bin Suwaid Al Kalbi dari Abdullah bin Hilal As-Sulami dari 'Irbadl bin Sariyah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya adalah hamba Allah, penutup para nabi. Sesungguhnya Adam 'alaihissalam dahulu tergeletak di atas bumi pada penciptaannya, dan akan saya beritahukan kepada kalian takwil hal itu, yaitu perihal seruan bapakku Ibrahim, pengabaran gembira Isa tentang kedatanganku, mimpi ibuku yang dilihatnya, dan juga mimpi ibu para nabi. Telah menceritakan kepada kami Abu Al 'Ala` yaitu Al Hasan bin Siwar berkata, telah menceritakan kepada kami Laits dari Mu'awiyah dari Sa'id bin Suwaid dari Abdul A'la bin Hilal As-Sulami dari 'Irbadl bin Sariyah berkata, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya adalah hamba Allah dan penutup para nabi." Lalu menyebutkan semisalnya. Dengan menambahkan redaksi, "Ibu Rasulullah ﷺ bermimpi ketika melahirkannya, terlihat istana-istana Syam dari bayinya." (HR. Ahmad: 16525 - shahih lighairihi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Irbadh bin Syariah, ia shahabat kuniyahnya Abu Najih negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H. Hadits 'aziz diakhir sanad)

Imam ad-Darimi meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ الْمِصْرِيُّ ، حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ مُضَرَ ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ ، عَنْ صَالِحٍ - هُوَ ابْنُ عَطَاءِ بْنِ خَبَّابٍ مَوْلَى بَنِي الدُّئِلِ - عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " أَنَا قَائِدُ الْمُرْسَلِينَ وَلَا فَخْرَ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَلَا فَخْرَ، وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ وَلَا فَخْرَ ". (رواه الدارمي: ٤٩)

Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Abdul Hakam Al Mishri, telah menceritakan kepada kami Bakar bin Mudhar dari Ja'far bin Rabi'ah dari Shalih Ibnu 'Atha bin Khabbab bekas budak dari bani Al Duil dari 'Atha bin Abi Rabbah dari Jabir bin Abdullah radhiallahu'anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Aku adalah pemimpin para Rasul, dan tidak ada kesombongan, aku adalah penutup para nabi dan tidak ada kesombongan, aku adalah orang pertama yang akan memberi syafaat dan orang pertama yang diberi syafaat dan tidak ada kesombongan". (HR. Ad-Darimi: 59 - isnadnya jayyid menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Lebih tegas lagi Rasulullah ﷺ menyatakan, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا عَلَيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ يَعْنِي ابْنَ هِشَامٍ قَالَ وَجَدْتُ فِي كِتَابِ أَبِي بِخَطِّ يَدِهِ وَلَمْ أَسْمَعْهُ مِنْهُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ حُذَيْفَةَ
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ وَدَجَّالُونَ سَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ مِنْهُمْ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ وَإِنِّي خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي. (رواه أحمد: ٢٢٢٦٩)

Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah, telah bercerita kepada kami Mu'adz bin Hisyam berkata, Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya tapi aku tidak pernah mendengarnya darinya: Dari Qotadah dari Abu Ma'syar dari Ibrahim An Nakha'i dari Hammam dari Hudzaifah bin Al Yaman bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Dalam umatku ada para pendusta dan Dajjal. Dajjal sebanyak dua puluh tujuh, diantara mereka ada empat orang wanita, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku." (HR. Ahmad: 22269 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hudzaifah bin al-Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H)

Ditegaskan lagi oleh Allah dalam firman-Nya,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا. (قرآن سورة ألأحزاب/٣٣: ٤٠)

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Aḥzāb/33: 40)

Begitu juga beberapa riwayat menunjukkan tentang surah al-Qur'an secara keseluruhan dan terakhir turun adalah QS. At-Taubah dan ayat terakhir turun adalah ayat terakhir QS. An-Nisā'/4. Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا حُجَيْنٌ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَن أَبِي إِسْحَاقَ عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ
آخِرُ سُورَةٍ نَزَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَامِلَةً بَرَاءَةُ وَآخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ خَاتِمَةُ سُورَةِ النِّسَاءِ
{ يَسْتَفْتُونَكَ }
إِلَى آخِرِ السُّورَةِ. (رواه أحمد: ١٧٨٩٤)

Telah menceritakan kepada kami Hujain, telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Abu Ishaq dari Al Baraa` ia berkata, Surat yang terakhir kali turun kepada Nabi ﷺ secara keseluruhan adalah surah At-Taubah. sedangkan ayat yang terakhir kali turun adalah akhir dari surah An Nisa'. (HR. Ahmad: 17894 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Al Barra' bin 'Azib bin Al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H)

Selanjutnya, sebuah atsar disampaikan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ يُوسُفَ الْمَكِّيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أُبِيٍّ قَالَ
آخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ
{ لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ }
الْآيَةَ. (رواه أحمد: ٢٠١٩٦)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Umar, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ali bin zaid dari Yusuf Al Makki dari Ibnu Abbas dari Ubay dia berkata, "Ayat yang terakhir kali turun adalah '(Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri) ' (QS. At-Taubah: 128). (HR. Ahmad: 20196 - atsar Hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ubay bin Ka'ab bin Qais, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Mundzir negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 20196 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruh) oleh ulama kritikus hadits. Ia adalah Ali bin Zaid bin 'Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, An-Nasa'i, dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan Ahmad bin Hanbal, Al 'Ajli, dan Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi.

Rabu, 16 November 2022

GENEOLOGI Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI)


GENEOLOGI
Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI)

Silsilah, genealogi, atau nasab adalah kajian tentang keluarga dan penelusuran jalur keturunan serta sejarahnya. Genealogi merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari asal usul sejarah dan warisan budaya suatu bangsa.

URGENSI prinsip Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (kemudian disebut JPRMI). Organisasi ini mesti mendalami alur pikir Al-Qur'an dan al-Hadits. Karena alur pikir syar'iyah akan mengantarkan mereka pada sikap logis dan kritis dalam mengambil dan mengamalkan syari'at secara menyeluruh dan istiqamah. Sebagaimana dikenal dikalangan pemikir Islam bahwa "berpikir adalah induk segala amal". Sehingga dapat dipilah dan dijalankan dalam bentuk amanah-amanah ilahiyah yang mengurat dan mengakar pada aktifitas para kaum muda yang didambakan oleh kaum tua, terutama para orang tua yang cerdas dan shalih.

Dasar Naqliy

A. Al-Qur'an surah At-Taubah/9 ayat 18

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ. (قرآن سورة التوبة/٩: ١٨)

Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah/9: 18)

Ayat ini menerangkan bahwa yang patut memakmurkan mesjid-mesjid Allah hanyalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya serta percaya akan datangnya hari akhir tempat pembalasan segala amal perbuatan, melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Orang-orang inilah yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk untuk memakmurkan mesjid-mesjid-Nya. Banyak hadis yang menjelaskan tentang keutamaan memakmurkan mesjid, antara lain sabda Rasulullah saw:

مَنْ بَنَى لِلّٰهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِيْ بِهِ وَجْهَ اللّٰهِ بَنىَ اللّٰهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ (رواه البخاري ومسلم والترمذي عن عثمان بن عفّان)

Barang siapa membangun mesjid bagi Allah untuk mengharapkan keridaan-Nya, niscaya Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah dalam surga. (Riwayat al-Bukhārī, Muslim dan at-Tirmiżī dari ‘Uṡmān bin ‘Affān)

Sabda Rasulullah saw:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ بِاْلإِيْمَانِ (رواه أحمد والترمذي وابن ماجه والحاكم عن أبي سعيد الخدري)

Apabila kamu melihat seseorang membiasakan diri (beribadah) di mesjid, maka bersaksilah bahwa ia orang yang beriman. (Riwayat Aḥmad,                    at-Tirmiżī, Ibnu Mājah dan al-Ḥākim dari Abi Sa’id al-Khudrī)

Dan sabdanya yang lain:

أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ -أَيْ تَكْنُسُهُ- فَمَاتَتْ فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيْلَ لَهُ مَاتَتْ “أَفَلاَ كُنْتُمْ اٰذَنْتُمُوْنِيْ بِهَا لِأصَلِّيَ عَلَيْهَا؟ دُلُّوْنِيْ عَلَى قَبْرِهَا” فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا (رواه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجه)

Sesungguhnya ada seorang perempuan yang biasa menyapu mesjid lalu meninggal dunia, Rasulullah saw menanyakannya, dan ketika dikatakan kepadanya bahwa perempuan itu sudah meninggal, Rasulullah berkata, “Mengapa kamu tidak memberitahukan kepada saya, agar saya salatkan ia. Tunjukkanlah kepadaku di mana kuburnya.” Maka Rasulullah mendatangi kuburan itu, lalu ia salat di atasnya (shalat jenazah-pen). (Riwayat al-Bukhārī, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Mājah)

Dalam hadis lain:

مَنْ أَسْرَجَ سِرَاجًا فِيْ مَسْجِدٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ مَا دَامَ فِيْ ذٰلِكَ الْمَسْجِدِ ضَوْءُهُ (رواه سالم الرازي عن أنس)

Barang siapa menyalakan penerangan lampu dalam mesjid, niscaya para malaikat dan para pembawa arasy senantiasa memohon ampun kepada Allah agar diampuni dosanya selama lampu itu bercahaya dalam mesjid. (Riwayat Salim ar-Rāzī dari Anas r.a.)

ALLAH MENUNGGU ORANG YANG AKAN DINAUNGI DI AKHIRAT

Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. (رواه البخاري: ٦٢٠)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Bundar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepadaku Khubaib bin 'Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda, "Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabb-nya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, 'Aku takut kepada Allah', dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis." (HR. Al-Bukhari: 620 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam  al-Bukhari: 1334, 6308 (semakna), At-Tirmidzi: 2313, an-Nasa'i: 5285, Ahmad: 9288, Malik: 1501 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Sedangkan imam Muslim meriwayatkan lafazh yang terbalik, yaitu kalimat,

" ... وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ ...". (رواه مسلم: ١٧١٢)

" ... Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya ...". (HR. Muslim: 1712 - shahih dari Abu Hurairah)

Catatan: hadits riwayat imam Muslim: 1712 sanadnya shahih, namun terdapat keterbalikan teks matan (maqlub). Sehingga lafazh dan maknanya bertentangan dengan matan riwayat orang yang lebih tsiqah dari imam Muslim yaitu imam al-Bukhari. Begitu juga bertentangan matannya dengan riwayat shahih lain yaitu hadits riwayat imam At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ahmad, dan Malik. Sehingga haditsnya dha'if. Dalam istilah ilmu hadits dari segi kecacatannya dikenal dengan istilah hadits syadz. 

Imam Ahmad meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي الْحُبَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي. (رواه أحمد: ١٠٤٨٩)

Telah menceritakan kepada kami Rauh berkata, telah menceritakan kepada kami Malik dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar dari Abu Al Hubab dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat, 'Dimanakah hari ini orang-orang yang saling mencinta karena keagungan-Ku? Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku.'" (HR. Ahmad: 10489 - isnadnya shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ad-Darimi: 2638 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad Ad-Darimi dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Begitu juga hadits riwayat Muslim: 4655, Ahmad: 6933, 8101, 8476, 10362 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Kemudian,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ قَيْسٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي الْيَسَرِ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرْ الْمُعْسِرَ أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ. (رواه أحمد: ١٤٩٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ishaq dari Abdurrahman bin Mu'awiyah dari Hanzhalah bin Qais Az-Zurraqi dari Abu Al Yasar salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang senang berada dalam naungan Allah 'Azza wa Jalla (pada hari tiada naungan selain naungan-Nya) maka lihatlah orang yang berada dalam kesulitan atau dia melapaskannya dari (kesulitan) tersebut." (HR. Ahmad: 14972 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ka'ab bin 'Amru bin 'Abbad, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Yusur negeri hidup Madinah dan wafat tahun 55 H)

Hadits yang dha'if tentang informasikan naungan Allah, dalam riwayat imam Ahmad. Beliau berkata,

قَالَ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ عَدِيٍّ قَالَ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَعَانَ مُجَاهِدًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ غَارِمًا فِي عُسْرَتِهِ أَوْ مُكَاتَبًا فِي رَقَبَتِهِ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ. (رواه أحمد: ١٥٤٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Zakariya bin 'Adi berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Ubaidullah bin 'Amr dari Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil dari Abdullah bin Suhail bin Hunaif dari bapaknya berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa menolong seorang mujahid di jalan Allah atau orang yang terlilit utang dalam kesulitan yang dia hadapi atau budak (yang telah dijanjikan merdeka oleh tuannya) dalam tanggungannya, Allah menaunginya dalam naungAn Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungAn Nya". (HR. Ahmad: 15417 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sahal bin Hunaif bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu Tsabit negeri hidup Madinah dan wafat tahun 38 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 15418 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sahal bin Hunaif bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu Tsabit negeri hidup Madinah dan wafat tahun 38 H.

Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 15417 dan 15418 terdapat periwayat yang nilai jarah oleh ulama hadits, yaitu 'Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil bin Abi Thalib, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 142 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad menilainya munkarul hadits, Yahya bin Muhammad menegaskan, "tidak boleh berhujah dengan haditsnya". Sedangkan Abu Hatim menilainya layyinul hadits. Ibnu Hajar menilainya, "shaduq, tetapi terdapat kesalahan".

B. Al-Qur'an surah Al-Kahf/18 ayat 13

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ. (قرآن سورة الكهفي/١٨: ١٣)

Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka. (QS. Al-Kahfi/18: 13)

Dalam ayat ini, Allah mulai menguraikan kisah Aṣḥābul Kahf, yang pada ayat-ayat sebelumnya telah disampaikan secara global. Allah mengata-kan kepada Rasul saw bahwa kisah yang disampaikan ini mengandung kebenaran. Maksudnya diceritakan menurut kejadian, tidak seperti yang dikenal oleh bangsa Arab. Mereka telah mengenal kisah pemuda-pemuda penghuni gua ini, akan tetapi dalam bentuk yang berbeda. Umayyah bin Abi Salt, seorang penyair Arab zaman permulaan Islam dari Bani Umayyah (w. 9 H), pernah dalam sebuah baitnya menyebut gua ini, yang menunjukkan bahwa bangsa Arab telah mengenal kisah ini. Baitnya berbunyi:

وَلَيْسَ بِهَا إِلاَّ الرَّقِيْمُ مُجَاوِرًاوَصَيْدُهُمُوْ وَالْقَوْمُ هُجَّدًا.

Tidak ada di situ kecuali ar-Raqim (batu bertulis) yang berada di dekatnya serta anjingnya. Sedang kaum itu tidur dalam gua.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya para penghuni gua itu adalah para pemuda yang beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh keyakinan. Meskipun masyarakat mereka menganut agama syirik, tetapi mereka dapat mempertahankan keimanan mereka dari pengaruh kemusyrikan. Memang para pemuda pada umumnya mempunyai sifat mudah menerima kebenaran, mereka lebih cepat menerima petunjuk ke jalan yang benar dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah tenggelam dalam ajaran-ajaran yang batil. Oleh karena itu, dalam sejarah, terutama sejarah perkembangan Islam, para pemuda yang lebih banyak pertama kali menerima ajaran Allah dan Rasul-Nya. Adapun orang tua, seperti tokoh-tokoh Quraisy, tetap mempertahankan ajaran agama yang salah, sedikit sekali di antara mereka yang menerima ajaran Islam.

Dasar 'Aqliy

Masjid pada zaman Rasulullah SAW merupakan pusat kegiatan ummat Islam activity center yang di dalamnya dibahas dan dibangun masyarakat madani, tempat dimana sebuah perubahan dimulai. Remaja Masjid, adalah sebuah fenomena yang menarik yang berkembang akhir-akhir ini, disaat hedonisme (tabiat bersenang-senang) menjadi kiblat banyak golongan muda dengan berlandaskan kebebasan anak muda berekspresi, namun para remaja yang sering berhimpun di masjid mereformasi diri mereka sendiri dan mengorganisasikan diri untuk memperbaiki diri dan lingkungan mereka dari masjid-masjid disekitar mereka.

Pemuda, dari zaman ke zaman, memegang peranan penting dalam mengawal perubahan sebuah bangsa. Sejak dulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan sebuah bangsa, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dan dalam setiap perubahan, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Pemuda dan Remaja Masjid merupakan pilar-pilar kebangkitan bangsa yang harus dikelola dengan baik, diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri mereka sendiri, mengorganisasikan setiap potensi yang mereka miliki, hingga akhirnya menyumbangkan perubahan besar sebuah bangsa, menuju bangsa dengan harkat dan martabat yang ditopang oleh generasi muda pemuda dan remaja masjid yang memiliki komitmen moral yang tinggi dan semangat pantang menyerah. Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia atau JPRMI, bermula dari keinginan aktivis pemuda atau remaja masjid untuk bekerja sama diantara mereka serta bentuk keprihatinan atas kondisi perkembangan institusi pemuda atau remaja masjid dewasa ini. Banyak fakta ditemukan, ada Organisasi Pemuda dan Remaja Masjid OPRM namun tidak ada pengurusnya, ada OPRM punya pengurus tapi tidak mempunyai agenda kegiatan yang jelas, atau ada OPRM namun terjebak pada kegiatan rutin tahunan saja, tanpa tahu kemana akan diarahkan anggotanya. Dengan latar belakang tersebut, maka pada tanggal 7 Sya’ban 1426 H atau bertepatan dengan tanggal 11 September 2005 M bertempat di Masjid Agung Sunda Kelapa, sekumpulan OPRM melakukan Musyawarah Besar I dan mendeklarasikan pendirian JPRMI, yang dilakukan oleh 36 utusan dari 27 OPRM.

Diantara OPRM yang sudah bergabung saat itu adalah RISKA-Menteng Jakarta Pusat, YISC Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan, PRISMA At-Tin Jakarta Timur, MADARIS Islamic Center Jakarta Utara, RISMATA At-Taqwa Kemanggisan Jakarta Barat. Informasi pendirian JPRMI ini menyebar baik melalui media massa karena kiprah pada penolakan Aksi Pornografi dan Pornoaksi yang diselenggarakan oleh JPRMI dan dihadiri oleh sekitar 5000 orang anggota remaja masjid se-DKI Jakarta, dan sebaran melalui milis-milis di internet.

Berdasarkan desakan dari daerah-daerah untuk bergabung dengan JPRMI yang sangat tinggi, maka pada tanggal 19 Mei 2006 dideklarasikanlah JPRMI Nasional yang dihadiri oleh utusan dari 30 Propinsi seluruh Indonesia. Organisasi ini bersifat independent dengan tetap menjunjung tinggi ukhuwah islamiyah dan akhlakul kharimah.

Tujuan dari terbentuknya JPRMI ini adalah mensinergikan potensi-potensi pemuda dan remaja masjid untuk memperkuat dakwah Islamiyah, dan menambah pemuda dan remaja masjid yang mampu memakmurkan masjid dan melahirkan pemimpin-pemimpin masyarakat dan bangsa yang berbasis kemasjidan.

Moekijat. Pengantar Sistem Informasi Manajemen. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1994, hal. 8-9.

Dokumentasi JPRMI Pengurus Wilayah DKI Jakarta.

Departemen Agama RI, Al- Qur’an dan terjemahnya.

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag

Lidwa, 2010 - 2022, Aplikasi Ensiklopedi Hadis - Kitab 9 Imam, v11.1.9

Senin, 14 November 2022

NABI PALSU DI MASA RASULULLAH ﷺ SAMPAI HARI KIAMAT


NABI PALSU DI MASA RASULULLAH ﷺ SAMPAI HARI KIAMAT
(Hadits riwayat Ibnu 'Abbas, Abu Hurairah, dan 'Abdullah bin Mas'ud)

Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Berita tentang akan munculnya Nabi Palsu sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ dan mereka mempunyai pengikut masing-masing. Seperti Musailamah dan pengikutnya pernah bertemu dengan beliau. Hal tersebut diketahui dari mimpi beliau sebelumnya sebagaimana diceritakan kepada Ibnu 'Abbas, Abu Hurairah, dan Ibnu Mas'ud dalam riwayat Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi. Hanya saja, dalam beberapa riwayat tersebut diceritakan pertemuan beliau dengan para utusan Musailamah al-Kadzdzab yang mengakui bahwa Musailamah adalah Rasul Allah. Selanjutnya dalam riwayat dimaksud, Rasulullah ﷺ menyebut dua nama, yaitu Musailamah al-Kadzdzab pemimpin Yamamah dan Al-Aswad al-'Ansi pemimpin Shan'a yang dibunuh oleh Fairuz ad Dailami di Yaman. Pengikut-pengikut mereka ini mengakui mereka sebagai nabi, dan memiliki tempat ibadah. Bahkan Ibnu Mas'ud membunuh salah seorang pengikut nabi palsu (Musailamah) dan membakar masjid mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh imam ad-Darimi.

Kemudian dalam redaksi semakna disebut dengan "Para Dajjal" pembong. Hal ini berdasarkan informasi dari beberapa pernyataan beliau tentang para Dajjal (pembohong), seperti riwayat imam Ad-Darimi meriwayatkan ... Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul tiga puluh lelaki pendusta, mereka semuanya mengaku sebagai utusan Allah, harta akan melimpah ruah, fitnah akan merajalela dan akan menyebar al harj, " Abu Hurairah berkata, maka ditanyakanlah kepada beliau, "Apa itu al harj?" beliau bersabda, "Pembunuhan, pembunuhan, " beliau ucapkan hingga tiga kali.

Riwayat-riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

IMAM AL-BUKHARI meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
قَدِمَ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَقُولُ إِنْ جَعَلَ لِي مُحَمَّدٌ الْأَمْرَ مِنْ بَعْدِهِ تَبِعْتُهُ وَقَدِمَهَا فِي بَشَرٍ كَثِيرٍ مِنْ قَوْمِهِ فَأَقْبَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَفِي يَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِطْعَةُ جَرِيدٍ حَتَّى وَقَفَ عَلَى مُسَيْلِمَةَ فِي أَصْحَابِهِ فَقَالَ لَوْ سَأَلْتَنِي هَذِهِ الْقِطْعَةَ مَا أَعْطَيْتُكَهَا وَلَنْ تَعْدُوَ أَمْرَ اللَّهِ فِيكَ وَلَئِنْ أَدْبَرْتَ لَيَعْقِرَنَّكَ اللَّهُ وَإِنِّي لَأَرَاكَ الَّذِي أُرِيتُ فِيهِ مَا رَأَيْتُ وَهَذَا ثَابِتٌ يُجِيبُكَ عَنِّي ثُمَّ انْصَرَفَ عَنْهُ
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ
فَسَأَلْتُ عَنْ قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ أُرَى الَّذِي أُرِيتُ فِيهِ مَا أَرَيْتُ فَأَخْبَرَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ فِي يَدَيَّ سِوَارَيْنِ مِنْ ذَهَبٍ فَأَهَمَّنِي شَأْنُهُمَا فَأُوحِيَ إِلَيَّ فِي الْمَنَامِ أَنْ انْفُخْهُمَا فَنَفَخْتُهُمَا فَطَارَا فَأَوَّلْتُهُمَا كَذَّابَيْنِ يَخْرُجَانِ بَعْدِي أَحَدُهُمَا الْعَنْسِيُّ وَالْآخَرُ مُسَيْلِمَةُ. (رواه البخاري: ٤٠٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Abdullah bin Abu Husain, telah menceritakan kepada kami Nafi' bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma dia berkata, Pada masa Nabi ﷺ, Musailamah Al Kadzab pernah datang ke Madinah. Sesampainya di sana, dia berkata, 'Kalau Muhammad mau mewariskan urusan kenabiannya kepadaku, niscaya aku akan mengikuti ajarannya.' Musailamah datang ke Madinah bersama dengan beberapa orang dari kaumnya. Kemudian Rasulullah ﷺ dan Tsabit bin Qais bin Syammas menyambut kedatangannya, dan pada saat itu beliau sedang memegang sebilah pelepah kurma. Setelah berhadapan dengan Musailamah dan para pengikutnya, Rasulullah ﷺ berkata, "Hai Musailamah, seandainya kamu meminta agar aku memberikan sepotong pelepah kurma ini kepadamu, tentu aku tidak akan pernah memberikannya. Dan jika kamu meminta urusan Allah ini kepadaku, tentu aku lebih tidak akan pernah memberikannya kepadamu. Jika kamu tidak akan mematuhi perintah dan ajaran Allah, niscaya Dia pasti akan membinasakanmu. Hai Musailamah, sungguh aku telah melihat tentang kebinasaanmu, sebagaimana yang aku saksikan dalam mimpiku itu. inilah Tsabit yang akan menggantikanku untuk menjawab tantanganmu. Kemudian Rasulullah ﷺ meninggalkan Musailamah Al Kadzdzab. Ibnu Abbas berkata, 'Saya pernah bertanya tentang ucapan Nabi ﷺ tersebut, yaitu tentang mimpi beliau yang berhubungan dengan Musailamah Al Kadzdzab, maka Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ telah bersabda, 'Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi bahwa di kedua tanganku ada dua buah gelang emas, hingga aku merasa cemas dengan keberadaan dua buah gelang itu. Kemudian aku diberi wahyu dalam tidurku itu agar aku meniup kedua gelang tersebut, lalu aku pun meniupnya hingga kedua gelang itu hilang. Maka dari mimpi itu aku menafsirkan bahwa dua buah gelang tersebut adalah dua orang pembohong (nabi palsu) yang akan muncul sepeninggalku kelak, yang satu adalah Al Ansi, seorang pemimpin dari Shan'a dan yang satunya adalah Musailamah, seorang pemimpin dari Yamamah. (HR. Al-Bukhari: 4025 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 4218 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.

Semakna dengan hadits di atas, diceritakan oleh imam al-Bukhari bahwa,

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَرْمِيُّ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ عُبَيْدَةَ بْنِ نَشِيطٍ وَكَانَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ اسْمُهُ عَبْدُ اللَّهِ أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ قَالَ
بَلَغَنَا أَنَّ مُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَنَزَلَ فِي دَارِ بِنْتِ الْحَارِثِ وَكَانَ تَحْتَهُ بِنْتُ الْحَارِثِ بْنِ كُرَيْزٍ وَهِيَ أُمُّ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ فَأَتَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَهُوَ الَّذِي يُقَالُ لَهُ خَطِيبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي يَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضِيبٌ فَوَقَفَ عَلَيْهِ فَكَلَّمَهُ فَقَالَ لَهُ مُسَيْلِمَةُ إِنْ شِئْتَ خَلَّيْتَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْأَمْرِ ثُمَّ جَعَلْتَهُ لَنَا بَعْدَكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ سَأَلْتَنِي هَذَا الْقَضِيبَ مَا أَعْطَيْتُكَهُ وَإِنِّي لَأَرَاكَ الَّذِي أُرِيتُ فِيهِ مَا أُرِيتُ وَهَذَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ وَسَيُجِيبُكَ عَنِّي فَانْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ عَنْ رُؤْيَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي ذَكَرَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ ذُكِرَ لِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُرِيتُ أَنَّهُ وُضِعَ فِي يَدَيَّ سِوَارَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَفُظِعْتُهُمَا وَكَرِهْتُهُمَا فَأُذِنَ لِي فَنَفَخْتُهُمَا فَطَارَا فَأَوَّلْتُهُمَا كَذَّابَيْنِ يَخْرُجَانِ فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ أَحَدُهُمَا الْعَنْسِيُّ الَّذِي قَتَلَهُ فَيْرُوزُ بِالْيَمَنِ وَالْآخَرُ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ. (رواه البخاري: ٤٠٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Muhammad Al Jarmi, telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Shalih dari Ibnu 'Ubaidah bin Nasyith di dalam riwayat lain ia bernama 'Abdullah. 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah berkata, kami mendengar bahwa Musailamah Al Kadzdzab sudah sampai di Madinah, lalu ia singgah di rumah Binti Al Harits bin Kuraiz yaitu Ibnu Abdullah bin 'Amir. Lalu Rasulullah ﷺ bersama Tsabit bin Qais bin Syammas -juru bicara Rasulullah ﷺ- menemuinya. Pada waktu itu beliau membawa sebatang tongkat. Lalu beliau berdiri di hadapannya dan berdialog dengannya. Musailamah berkata kepada beliau; Jika Anda mau, kita selesaikan urusan kita. Lalu Nabi ﷺ berkata, 'seandainya kamu meminta tongkat ini, maka aku tidak akan memberikannya kepadamu. Dan sungguh aku melihatmu seperti apa yang telah aku lihat dalam mimpiku. Inilah Tsabit bin Qais akan menjawab tantanganmu.' Lalu beliau ﷺ pergi. Ubaidullah bin Abdullah berkata, Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang mimpi Rasulullah ﷺ yang telah beliau sebutkan. Ibnu Abbas menjawab, Rasulullah ﷺ menyebutkan kepadaku, beliau bersabda, 'Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi bahwa di kedua tanganku ada dua buah gelang emas, hingga aku merasa cemas dengan keberadaan dua buah gelang itu. Kemudian aku diberi wahyu dalam tidurku itu agar aku meniup kedua gelang tersebut, lalu akupun meniupnya hingga kedua gelang itu hilang. Maka dari mimpi itu aku menafsirkan bahwa dua buah gelang tersebut adalah dua orang pembohong (nabi palsu) yang akan muncul sepeninggalku kelak. Ubaidullah berkata, yang satu adalah Al Ansi, yang dibunuh oleh Fairuz di Yaman, dan yang satunya adalah Musailamah Al Kadzab. (HR. Al-Bukhari: 4028 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Ditambahkan oleh imam al-Bukhari bahwa,

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
وَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُسَيْلِمَةَ فِي أَصْحَابِهِ فَقَالَ لَوْ سَأَلْتَنِي هَذِهِ الْقِطْعَةَ مَا أَعْطَيْتُكَهَا وَلَنْ تَعْدُوَ أَمْرَ اللَّهِ فِيكَ وَلَئِنْ أَدْبَرْتَ لَيَعْقِرَنَّكَ اللَّهُ. (رواه البخاري: ٦٩٠٧)

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Abdullah bin Abu Husain, telah menceritakan kepada kami Nafi' bin Jubair dari Ibn Abbas berkata, "Pernah Nabi ﷺ berdiri pada Musailamah di sekelompok kawan-kawannya, lantas beliau berkata "Kalaulah engkau meminta sebidang tanah ini, niscaya aku tidak akan memberikannya kepadamu selama-lamanya, dan kamu sekali-kali tidak bisa melampaui urusan Allah yang ada padamu, dan kalaulah engkau berbalik ke belakang, Allah akan membunuhmu." (HR. Al-Bukhari: 6907 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Hadits tentang mimpi Nabi Muhammad ﷺ tentang dua orang yang akan mengaku nabi setelah beliau wafat. Sebagaimana hadits riwayat imam al-Bukhari,

حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْجَرْمِيُّ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ عُبَيْدَةَ بْنِ نَشِيطٍ قَالَ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
عَنْ رُؤْيَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي ذَكَرَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ ذُكِرَ لِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ أَنَّهُ وُضِعَ فِي يَدَيَّ سِوَارَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَفُظِعْتُهُمَا وَكَرِهْتُهُمَا فَأُذِنَ لِي فَنَفَخْتُهُمَا فَطَارَا فَأَوَّلْتُهُمَا كَذَّابَيْنِ يَخْرُجَانِ
فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ أَحَدُهُمَا الْعَنْسِيُّ الَّذِي قَتَلَهُ فَيْرُوزٌ بِالْيَمَنِ وَالْآخَرُ مُسَيْلِمَةُ. (رواه البخاري: ٦٥١٣)

Telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Muhammad Abu Abdullah Al Jarmi, telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih dari Ibnu Ubaidah bin Nasyith mengatakan, Ubaidullah bin Abdullah mengatakan; aku bertanya Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhuma tentang mimpi Rasulullah ﷺ yang pernah beliau ceritakan. Ibnu Abbas mengatakan; aku pernah diceritai, bahwa Rasulullah ﷺ mengatakan, "Ketika aku tidur, aku bermimpi bahwa di tanganku diletakkan dua gelang emas. Aku merasa jijik dan tidak suka terhadap kedua benda itu, kemudian aku diizinkan untuk meniupnya sehingga keduanya berterbangan. Kedua gelang itu kutakwilkan, akan muncul dua pendusta." Ubaidullah menjelaskan; salah satunya Al Aswad al 'Ansi yang dibunuh oleh Fairuz ad Dailami di Yaman, dan satunya lagi Musailamah. (HR. Al-Bukhari: 6513 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Begitu juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 2253 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.

Demikian juga dari Jalur Abu Hurairah diriwayat oleh imam Ibnu Majah,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ فِي يَدِي سِوَارَيْنِ مِنْ ذَهَبٍ فَنَفَخْتُهُمَا فَأَوَّلْتُهُمَا هَذَيْنِ الْكَذَّابَيْنِ مُسَيْلِمَةَ وَالْعَنْسِيَّ. (رواه إبن ماجه: ٣٩١٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya bermimpi bahwa di tanganku terdapat dua gelang dari emas kemudian keduanya aku tiup, aku lalu takwilkan keduanya sebagai dua orang pembohong, yaitu Musailamah dan Al 'Ansi." (HR. Ibnu Majah: 3912 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Semakna dengan hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad: 1806,

حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأَيْتُ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنَّ فِي يَدَيَّ سِوَارَيْنِ مِنْ ذَهَبٍ فَنَفَخْتُهُمَا فَرُفِعَا فَأَوَّلْتُ أَنَّ أَحَدَهُمَا مُسَيْلِمَةُ وَالْآخَرَ الْعَنْسِيُّ. (رواه أحمد: ٨١٠٦)

Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku melihat dalam mimpiku seakan akan ada dua gelang dari emas pada kedua tanganku, lalu aku meniup keduanya hingga terangkat, maka aku mengartikan mimpi itu bahwa salah satu dari keduanya adalah Musailamah sedangkan yang lainnya adalah Al 'Ansi." (HR. Ahmad: 8106 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Pada riwayat lain, imam Ahmad tidak mengatakan nama "Amsiy". Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأَيْتُ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنَّ فِي يَدِي سِوَارَيْنِ فَنَفَخْتُهُمَا فَرُفِعَا فَأَوَّلْتُ أَنَّ أَحَدَهُمَا مُسَيْلِمَةُ. (رواه أحمد: ٨١٧٤)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku melihat dalam mimpiku seakan di tanganku ada dua gelang, lalu aku meniupnya sehingga terangkat, maka aku menakwilkan bahwa salah satu dari kedua gelang itu adalah Musailamah." (HR. Ahmad: 8174 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lebih jelas lagi siapa Musailamah dan 'Ansiy dalam riwayat imam At-Tirmidzi. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ عَنْ شُعَيْبٍ وَهُوَ ابْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ وَهُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ فِي يَدَيَّ سِوَارَيْنِ مِنْ ذَهَبٍ فَهَمَّنِي شَأْنُهُمَا فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنْ أَنْفُخَهُمَا فَنَفَخْتُهُمَا فَطَارَا فَأَوَّلْتُهُمَا كَاذِبَيْنِ يَخْرُجَانِ مِنْ بَعْدِي يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا مُسَيْلِمَةُ صَاحِبُ الْيَمَامَةِ وَالْعَنْسِيُّ صَاحِبُ صَنْعَاءَ.

قَالَ هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ. (رواه الترمذي: ٢٢١٦)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'id Al Jauhari Al Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman dari Syu'aib bin Abu Hamzah dari Ibnu Abi Husain 'Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Husain dari Nafi' bin Jubair dari Ibnu 'Abbas dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku bermimpi seolah-olah di tanganku ada dua gelang emas. Kondisi keduanya membuatku gelisah. Lalu aku diwahyukan agar kutiup keduanya, lantas saat kutiup, keduanya terbang. Maka, aku menafsirkan kedua gelang emas tersebut adalah dua orang pendusta yang akan muncul sepeninggalanku, salah satunya bernama Musailamah, pemimpin Yamamah dan Al 'Ansi, pemimpin Shan'a`."

Berkata Abu Isa: Hadis ini shahih gharib. (HR. At-Tirmidzi: 2216 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Masih pada masa Rasulullah ﷺ masih hidup terdapat orang yang mengakui kenabian Musailamah. Hal ini diinformasikan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَنْبَأَنَا الْمَسْعُودِيُّ حَدَّثَنِي عَاصِمٌ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَيْثُ قُتِلَ ابْنُ النَّوَّاحَةِ إِنَّ هَذَا وَابْنَ أُثَالٍ كَانَا أَتَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولَيْنِ لمُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابِ فَقَالَ لَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْهَدَانِ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ قَالَا نَشْهَدُ أَنَّ مُسَيْلِمَةَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ قَاتِلًا رَسُولًا لَضَرَبْتُ أَعْنَاقَكُمَا قَالَ فَجَرَتْ سُنَّةً أَنْ لَا يُقْتَلَ الرَّسُولُ فَأَمَّا ابْنُ أُثَالٍ فَكَفَانَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا هَذَا فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ فِيهِ حَتَّى أَمْكَنَ اللَّهُ مِنْهُ الْآنَ. (رواه أحمد: ٣٥٢٤)

Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah memberitakan kepada kami Al Mas'udi, telah menceritakan kepadaku 'Ashim dari Abu Wa`il ia berkata, Abdullah berkata setelah Ibnu An Nawwahah terbunuh; Sesungguhnya orang ini dan anaknya Utsal pernah datang kepada Nabi ﷺ sebagai utusan dari Musailamah Al Kadzdzab, lalu Rasulullah ﷺ bertanya kepada keduanya, "Apakah kalian bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?" Mereka berdua menjawab, Kami bersaksi bahwa Musailamah adalah utusan Allah. Beliau pun bersabda, "Seandainya aku dibolehkan membunuh utusan, tentu aku telah memenggal leher kalian berdua." Ia berkata, Sunnah telah berlaku bahwa seorang utusan tidak boleh dibunuh, adapun Ibnu Utsal, Allah 'Azza wa Jalla telah menahan kami dari membunuhnya, sedangkan orang ini, ia masih tetap seperti itu hingga Allah memberikan kesempatan untuk membunuhnya sekarang. (HR. Ahmad: 3524 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 3524 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Ia adalah Ashim bin Bahdalah Abi an Najud, ia tabi'in [tidak jumpa sahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 128 H. Penilaian ulama: Ibnu Sa'ad, Al 'Ajli, Ya'qub bin Sufyan, Abu Zur'ah, dan adz Dzahabi menilainya tsiqah. Abu Hatim menilainya shalih. An-Nasa'i menilainya laisa bihi ba'sa. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats-tsiqat". Yahya bin Ma'in menilainya la ba'sa bih. Sedangkan Al 'Uqaili dan ad Daruquthni menilai, "buruk hafalannya". Ibnu Hajar menilainya shaduq tetapi punya keragu-raguan.

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 3573 dan 3644 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Kedua hadits ini juga terdapat peruwayat bernama Ashim bin Bahdalah.

Setelah Nabi Muhammad ﷺ meninggal Ibnu Mas'ud membunuh orang yang mengakui bahwa Musailamah adalah Rasul Allah. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat imam Ad-Darimi, namun masih terdapat dalam sanadnya 'Ashim bin Bahdalah. Imam Ad-Darimi berkata:

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ ابْنِ مُعَيْزٍ السَّعْدِيِّ قَالَ خَرَجْتُ أُسْفِرُ فَرَسًا لِي مِنْ السَّحَرِ فَمَرَرْتُ عَلَى مَسْجِدٍ مِنْ مَسَاجِدِ بَنِي حَنِيفَةَ فَسَمِعْتُهُمْ يَشْهَدُونَ أَنَّ مُسَيْلَمَةَ رَسُولُ اللَّهِ فَرَجَعْتُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَأَخْبَرْتُهُ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ الشُّرَطَ فَأَخَذُوهُمْ فَجِيءَ بِهِمْ إِلَيْهِ فَتَابَ الْقَوْمُ وَرَجَعُوا عَنْ قَوْلِهِمْ فَخَلَّى سَبِيلَهُمْ وَقَدَّمَ رَجُلًا مِنْهُمْ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُوَاحَةَ فَضَرَبَ عُنُقَهُ فَقَالُوا لَهُ تَرَكْتَ الْقَوْمَ وَقَتَلْتَ هَذَا فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا إِذْ دَخَلَ هَذَا وَرَجُلٌ وَافِدَيْنِ مِنْ عِنْدِ مُسَيْلَمَةَ فَقَالَ لَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْهَدَانِ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَا لَهُ تَشْهَدُ أَنْتَ أَنَّ مُسَيْلَمَةَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ لَوْ كُنْتُ قَاتِلًا وَفْدًا لَقَتَلْتُكُمَا فَلِذَلِكَ قَتَلْتُهُ وَأَمَرَ بِمَسْجِدِهِمْ فَهُدِمَ. (رواه الدارمي: ٢٣٩١)

Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin 'Ayyasy dari 'Ashim dari Abu Wa`il dari Ibnu Mu'aiz As Sa'di, ia berkata, Pada waktu sahur, aku keluar mencari kudaku, lalu aku melewati suatu masjid diantara masjid-masjid Bani Hanifah. Aku mendengar mereka bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasulullah. Aku bergegas kembali menemui Abdullah bin Mas'ud dan mengabarkan kepadanya. Lalu ia mengirimkan beberapa polisi untuk menangkap mereka, Orang-orang itu lalu dihadapkan kepadanya, akhirnya mereka bertobat dan mencabut perkataan mereka. Setelah Abdullah bin Mas'ud membebaskan mereka, ia mendatangi seseorang yang bernama Abdullah bin Nuwahah dan memenggal kepalanya. Orang-orang berkata kepadanya, "(Kenapa) Anda membiarkan orang-orang itu dan membunuh orang ini?" Abdullah menjawab, "Sungguh dahulu aku pernah duduk-duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba orang ini dan yang lain masuk sebagai kurir dari Musailamah, beliau lalu berkata kepada mereka berdua, "Apakah kalian bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?" Mereka berkata kepada beliau, "Apakah engkau bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasulullah?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, seandainya aku boleh membunuh utusan, niscaya aku bunuh kalian berdua." Oleh karena itulah aku membunuhnya. Ibnu Mas'ud memerintahkan supaya masjid mereka juga dihancurkan. (HR. Ad-Darimi: 2391 - isnadnya hasan menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)

MUNCULNYA PARA DAJJAL

Imam Muslim meriwayatkan,

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَهُوَ ابْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ يَنْبَعِثَ. (رواه مسلم: ٥٢٠٥)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Manshur, berkata Ishaq: telah mengabarkan kepada kami, sementara Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda, "Kiamat tidak terjadi hingga para Dajjal pendusta dimunculkan, (jumlah mereka) hampir tiga puluh, semua mengaku bawa ia adalah utusan Allah." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi', telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ sepertinya, hanya saja ia menyebut: Muncul. (HR. Muslim: 5205 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Hadits semakna diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 3772 dan 3773, At-Tirmidzi: 2144, Ahmad: 6930, 7790, 6930, 10445 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja lafzh hadits riwayat imam Abu Daud: 3772,

" ... حَتَّى يَخْرُجَ ثَلَاثُونَ دَجَّالُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ."

Ahmad: 9442,

" ...  حَتَّى يَخْرُجَ ثَلَاثُونَ كَذَّابًا رِجَالًا كُلُّهُمْ يَكْذِبُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ."

Lafazh lain diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ ثَلَاثُونَ كَذَّابًا. (رواه أحمد: ١٠٤٠٨)

Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Menjelang datangnya hari kiamat akan ada tiga puluh orang pendusta." (HR. Ahmad: 10408 - shahih dengan sanad hasan dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lebih lanjut, imam menjelaskan bahwa,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ الْعَلَاءَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ ثَلَاثُونَ دَجَّالُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَيَفِيضَ الْمَالُ فَيَكْثُرَ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ قَالَ قِيلَ وَأَيُّمَا الْهَرْجُ قَالَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ ثَلَاثًا. (رواه أحمد: ٩٥١٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah aku mendengar Al 'Ala` bin Abdurrahman menceritakan dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul tiga puluh lelaki pendusta, mereka semuanya mengaku sebagai utusan Allah, harta akan melimpah ruah, fitnah akan merajalela dan akan menyebar al harj, " Abu Hurairah berkata, maka ditanyakanlah kepada beliau, "Apa itu al harj?" beliau bersabda, "Pembunuhan, pembunuhan, " beliau ucapkan hingga tiga kali. (HR. Ahmad: 9518 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ. (قرآن سورة النحل/١٦: ١٠٥)

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka itulah para pembohong. (QS. An-Naḥl/16: 105)

مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة النحل/١٦: ١٠٦)

Siapa yang kufur kepada Allah setelah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa (mengucapkan kalimat kekufuran), sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanannya (dia tidak berdosa). Akan tetapi, siapa yang berlapang dada untuk (menerima) kekufuran, niscaya kemurkaan Allah menimpanya dan bagi mereka ada azab yang besar. (QS. An-Naḥl/16: 106)

Dan, sepadan dengan pernyataan para pembohong dimaksud sama sikap mereka dengan kaum musyrik. Sebagaimana diinformasikan dalam firman Allah berikut:

وَيْلٌ لِّكُلِّ اَفَّاكٍ اَثِيْمٍۙ. (قرآن سورة الجاثية/٤٥: ٧)

Celakalah setiap pembohong lagi bergelimang dosa. (QS. Al-Jāṡiyah/45: 7)

Kemudian Allah mengancam kaum musyrikin yang selalu mengingkari kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan ancaman yang sangat mengerikan. Mereka tetap mendustakan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an, padahal di dalamnya terdapat keterangan tentang dalil-dalil dan bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya yang cukup jelas. Bukti dan keterangan itu telah mereka dengar sendiri. Menurut ukuran yang wajar, tentu mereka telah memahaminya. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Itulah sebabnya mereka disebut dalam ayat ini orang-orang yang banyak berdusta dan banyak melakukan perbuatan dosa.

Selanjutnya diterangkan bahwa keadaan orang-orang musyrik sebelum dan sesudah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an tetap sama, tidak ada perubahan dalam sikap dan perilaku mereka, bahkan mereka bertambah ingkar dan menyombongkan diri. Itulah sebabnya dalam ayat ini mereka dikatakan seolah-olah tidak pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka.

Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa mereka sendiri mengakui tidak pernah merasa mendengar Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka. Allah berfirman:

وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ وَفِيْٓ اٰذَانِنَا وَقْرٌ وَّمِنْۢ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ اِنَّنَا عٰمِلُوْنَ. (قرآن سورة فصلت/٤١: ٥)

Dan mereka berkata, “Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami).” (QS. Fuṣṣilat/41: 5)

Dalam ayat lain:

وَالَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرٌ وَّهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى. (قرآن سورة فصلت/٤١: ٤٤)

Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. (QS. Fuṣṣilat/41: 44)

Pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya menyampaikan kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan memperoleh azab yang pedih di neraka. Dalam ayat ini disebutkan bahwa memberitakan adanya azab yang pedih merupakan suatu berita gembira, bukan suatu berita duka. Ungkapan ini sengaja dibuat demikian untuk membalas sikap mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepadanya dan untuk menunjukkan bahwa sikap mereka itu merupakan sikap yang sudah melampaui batas. Karena itu, yang dimaksud dengan kabar gembira di sini ialah lawan daripada kabar gembira itu, yaitu kabar sedih sebagai penghinaan kepada mereka.

Siapa saja menjadi pembohong dan bergelimang dosa sepanjang hidupnya, baik di masa Rasulullah ﷺ maupun sesudah beliau sampai hari kiamat. Mereka akan dibinasakan oleh Allah.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Minggu, 06 November 2022

HADITS MUBHAMAT (Terjadi pada sanad hadits)



HADITS MUBHAMAT

(Terjadi pada sanad hadits)

Oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Yang dinamakan Mubham adalah; Rawi yang tidak disebutkan namanya di dalam sanad. Rawi di dalam sanad yang dinisbatkan kepada negerinya, pekerjaan, atau penyakit, juga termasuk mubham. Hal ini terjadi karena PERIWAYAT tidak ingin menyebutkan nama asli gurunya karena khawatir diketahui cacatnya. Terkadang ia lupa nama asli gurunya, kemudian menggunakan nama laqab (gelar) atau nama yang masyhur dikalangan mereka. Begitu juga hal yang terpenting adalah memelihara mur'ah gurunya.

CONTOH HADITS MUBHAM

Imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي لَيْلَى عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
نَهَى عَنْ الْبَلَحِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ وَالتَّمْرِ. (رواه أحمد: ١٨٠٦٦)

Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Al Hakam ia berkata, saya mendengar Ibnu Abu Laila dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi ﷺ, bahwa beliau telah melarang Al Balah (Kurma basah yang masih hijau) dan At Tamr kemudian Az Zabib dan At Tamr. (HR. Ahmad: 18066 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari seorang shahabat Nabi ﷺ yang tidak diketahui namanya)

PERIWAYAT TIDAK MENYEBUTKAN NAMA SEORANG PERIWAYAT DALAM MERIWAYATKAN HADITS, NAMUN TERKADANG DIJELASKAN OLEH MUKHARRIJ.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ عَنْ شَيْخٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ.

قَالَ أَبُو عِيسَى قَالَ ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ كَانَ شُعْبَةُ يَرَى أَنَّهُ ابْنُ عُمَرَ. (رواه الترمذي: ٢٤٣١)

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna, telah bercerita kepada kami Ibnu Abi 'Adi dari Syu'bah dari Sulaiman Al A'masy dari Yahya bin Watsab dari seorang syeikh salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Jika seorang muslim bergaul (berinteraksi sosial) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul (tidak berinteraksi sosial) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka."

Abu 'Isa berkata, ibnu Abi Adi berkata, Syu'bah berpendapat syeikh itu adalah Ibnu Umar. (HR. At-Tirmidzi: 2431 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Dalam riwayat lain, yaitu riwayat imam Ahmad. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْمُونٍ أَخْبَرَنِي قَالَ سَمِعْتُ رَجُلًا مِنْ بَنِي الْحَارِثِ قَالَ سَمِعْتُ رَجُلًا مِنَّا يُقَالُ لَهُ أَيُّوبُ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ

مَنْ تَابَ قَبْلَ مَوْتِهِ عَامًا تِيبَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَابَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِشَهْرٍ تِيبَ عَلَيْهِ حَتَّى قَالَ يَوْمًا حَتَّى قَالَ سَاعَةً حَتَّى قَالَ فُوَاقًا قَالَ قَالَ الرَّجُلُ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ مُشْرِكًا أَسْلَمَ قَالَ إِنَّمَا أُحَدِّثُكُمْ كَمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ. (رواه أحمد: ٦٦٢٦)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dia berkata, Ibrahim bin Maimun, telah mengabarkan kepada kami, dia berkata, aku mendengar seorang lelaki dari Bani Al Harits berkata, aku mendengar seorang lelaki yang biasa dipanggil Ayub dari suku kami berkata, aku mendengar Abdullah bin 'Amru berkata, "Barang siapa bertobat setahun sebelum kematiannya maka tobatnya akan diterima, dan barang siapa bertobat sebulan sebelum kematiannya maka tobatnya akan diterima, hingga ia mengatakan; sehari sebelum kematiannya, hingga ia mengatakan satu jam sebelum kematiannya, dan hingga ia mengatakan fuwaqon (yakni jarak waktu dari perahan pertama ke perahan kedua). Dia berkata, ada seorang lelaki bertanya, "Bagaimana dengan seorang musyrik yang kemudian menyatakan masuk Islam?" Ia menjawab, "Aku hanya berbicara kepada kalian apa yang kudengar dari ucapan Rasulullah ﷺ." (HR. Ahmad: 6626 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hadits mubhamat)

Catatan: sanad hadits riwayat imam Ahmad terdapat periwayat yang tidak diketahui, yaitu periwayat yang menerima langsung dari Ayyub (tabi'in kalangan tua, ia tsiqah).

Selasa, 01 November 2022

PESAN TERAKHIR RASULULLAH ﷺ(Hadits ahlul Kufah, Bashrah dan Maru)


PESAN TERAKHIR RASULULLAH
(Hadits ahlul Kufah, Bashrah dan Maru)
Oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Imam Abu Daud meriwayatkan,

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفُضَيْلِ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أُمِّ مُوسَى عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ
كَانَ آخِرُ كَلَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ. (رواه أبوداود: ٤٤٨٩)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Utsman bin Abi Syaibah, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Mughirah dari Ummu Musa dari Ali 'Alaissalam, ia berkata, "Ucapan terakhir Rasulullah ﷺ adalah, "Jagalah salat, jagalah salat, dan bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak hamba sahaya kalian." (HR. Abu Daud: 4489 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Jalur sanad keduanya ahlul Kufah)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 552 - sahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.

Sementara itu imam Ibnu Majah meriwayatkan dalam redaksi semakna. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ. (روا إبن ماجه: ٢٦٨٨)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Miqdam, telah menceritakan kepada kami Al Mu'tamir bin Sulaiman, Aku mendengar Ayahku menceritakan dari Qatadah dari Anas bin Malik, ia berkata, "Wasiat yang kerapkali Rasulullah ﷺ utarakan menjelang wafat, ketika sakaratul mautnya yaitu, "Jagalah salat serta perhatikanlah segala apa yang kalian miliki." (HR. Ibnu Majah: 2688 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Demikian juga hadits riwayat imam Ibnu Majah: 2689 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.

Imam Ahmad menegaskan dengan riwayat berikut:

حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا التَّيْمِيُّ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَهُ الْمَوْتُ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ حَتَّى جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغَرْغِرُ بِهَا صَدْرُهُ وَمَا يَكَادُ يُفِيضُ بِهَا لِسَانُهُ. (رواه أحمد: ١١٧٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami At Taimi dari Qatadah dari Anas, ia berkata, "Kebanyakan wasiat Rasulullah ﷺ menjelang kematiannya adalah salat dan berbuat baik kepada hamba sahaya, dan hingga ketika nyawa beliau sudah di tenggorokan lisannya masih saja mengatakan wasiat tersebut." (HR. Ahmad: 11725 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Selanjutnya, terdapat juga hadits dari Ummu Salamah (istri nabi), yang diriwayat oleh imam Ahmad. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ سَفِينَةَ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَجَعَلَ يَتَكَلَّمُ بِهَا وَمَا يَفِيضُ. (رواه أحمد: ٢٥٥٠٢)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Al Khalil dari Safinah bekas budak Ummu Salamah, dari ummu Salamah, bahwa menjelang wafat, Nabi ﷺ bersabda, "Jagalah salat, jagalah salat, dan berbuat baiklah kepada budak-budak yang kalian miliki." Beliau senantiasa mengucapkannya dan hampir saja (beliau) tidak bisa mengungkapkan." (HR. Ahmad: 25502 - shahih lighairihi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, ia shahabiyah (istri nabi) kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)

Berbeda dengan hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عِيسَى الرَّاسِبِيُّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْفَضْلِ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
أَمَرَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ آتِيَهُ بِطَبَقٍ يَكْتُبُ فِيهِ مَا لَا تَضِلُّ أُمَّتُهُ مِنْ بَعْدِهِ قَالَ فَخَشِيتُ أَنْ تَفُوتَنِي نَفْسُهُ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَحْفَظُ وَأَعِي قَالَ أُوصِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ. (رواه أحمد: ٦٥٥)

Telah menceritakan kepada kami Bakar bin Isa Ar Rasibi, telah menceritakan kepada kami Umar bin Al Fadlal dari Nu'aim bin Yazid dari Ali bin Abu Thalib dia berkata, "Nabi ﷺ memerintahkan kepadaku untuk membawakan kepadanya sabaq (batu tulis) untuk menulis; di dalamnya perkara yang membuat umatnya tidak tersesat sepeninggalnya" Ali berkata, "Maka aku khawatir kehilangan beliau, " Ali berkata, aku berkata, "Aku akan menghafalnya dan memahami." Beliau bersabda, "Aku berwasiat tentang Salat, zakat dan sesuatu yang kalian miliki berupa budak-budak kalian." (HR. Ahmad: 655 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 655, terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Ia adalah Nu'aim bin Yazid, ia shahabat. Namun para ulama menilai majhul (periwayat yang tidak dikenal), imam Ahmad meriwayatkan hadits dari jalurnya hanya satu hadits ini. Dari segi matan, jika dibandingkan dengan hadits-hadits di atas,  dalam hadits ini terdapat kalimat "thabaq dan zakat". Sedangkan hadits-hadits di atas tidak terdapat kalimat tersebut. Dengan alasan ini, maka hadits tersebut bukan saja dha'if dari segi sanad, tetapi juga matan-nya.

Memahami hadits-hadits di atas, dapat dipahami bahwa sebagian pesan Rasulullah ﷺ ketika akan meninggal adalah agar istiqamah menegakkan shalat dan melindungi dan memperhatikan hak-hak hamba sahaya (diantaranya memerdekakan mereka). Hal ini yang sering diucapkan Rasulullah ﷺ ketika mendekati ajal beliau.

Hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh tiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, yaitu Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, dan Ummu Salamah.

Makna hadits-hadits di atas membuktikan rasa cinta kepada umat beliau. Sehingga, saat ajal beliau senantiasa mengingatkan agar menjaga shalat dan memperhatikan hak-hak para hamba sahaya agar berbuat baik kepada mereka, diantaranya adalah memerdekakan mereka. Hal ini ditunjukkan dalam banyak sabda beliau tentang pahala memerdekakan budak dan kafarat dari kesalahan yang dilakukan. Seperti melakukan hubungan suami-istri waktu siang hari bulan ramadhan, kafarat nadzr atau sumpah dan lain-lain.

Sebagaimana firman Allah,

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ  فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ فَكَفَّارَتُهٗٓ اِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيْنَ مِنْ اَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ اَهْلِيْكُمْ اَوْ كِسْوَتُهُمْ اَوْ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ ۗفَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ ۗذٰلِكَ كَفَّارَةُ اَيْمَانِكُمْ اِذَا حَلَفْتُمْ ۗوَاحْفَظُوْٓا اَيْمَانَكُمْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٨٩)

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka, kafaratnya (denda akibat melanggar sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang (biasa) kamu berikan kepada keluargamu, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Siapa yang tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasa tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah (dan kamu melanggarnya). Jagalah sumpah-sumpahmu! Demikianlah Allah menjelaskan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. Al-Mā'idah/5: 89)

Demikian juga diperkuat oleh Rasulullah ﷺ, sebagaimana diinformasikan oleh imam an Nasa'i,

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ الْوَزِيرِ بْنِ سُلَيْمَانَ وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ كَعْبِ بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِمَاسَةَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ. (رواه ألنسائي: ٣٧٧٢)

elah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Yahya bin Al Wazir bin Sulaiman dan Al Harits bin Miskin dengan membacakan riwayat, dan aku mendengar dari Ibnu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Amru bin Al Harits dari Ka'b bin 'Alqamah dari 'Abdurrahman bin Syimasah dari 'Alqamah bin 'Amir, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kafarat nadzar adalah kafarat sumpah." (HR. An-Nasa'i: 3772 - shahih dari 'Uqbah bin 'Amir bin 'Abbas, ia shahabat kuniyahnya Abu Hammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 58 H. Hadits 'aziz diakhir sanad. Hadits ahlul Maru)

Terdapat 17 hadits terkait dengan sabda Rasulullah ﷺ tentang kafarat nadzar dan  sumpah ini. Diantaranya hadits riwayat imam Muslim: 3103, Abu Daud: 2888, at Tirmidzi: 1448, Ibnu Majah: 2119, Abu Daud: 2887, Ahmad: 16663, 16681 - semuanya 'Uqbah bin 'Amir, kecuali hadits riwayat Ibnu Majah dan Abu Daud, yaitu dari Ibnu 'Abbas. Terakhir ini termasuk hadits dha'if. Namun hal yang terpenting adalah pesan yang terkandung semakna, yaitu kafarat nadzar sama dengan sumpah (untuk maksiat) yang disengaja. Maksiat dimaksud adalah melakukan hal yang dilarang secara nyata (jalli) maupun tersembunyi (khafiy).