Pages - Menu

Senin, 26 September 2022

MELACAK HADITS PALSU TENTANG MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QUR'AN


MELACAK HADITS PALSU TENTANG MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QUR'AN
(DIRIWAYATKAN OLEH PEMBOHONG)

Oleh: Samsurizal, MA

HADITS yang ingin dilacak dengan lafazh "man qara'al qur'aan wa hafizhahu" (Barang siapa membaca Al-Qur'an dan menghafalkannya...). Hadits ini matannya gharib (asing) dan melampaui akal sehat. Hadits dimaksud diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah dan imam Ahmad.

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ أَبِي عُمَرَ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَاذَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ. (رواه إبن ماجه: ٢١٢)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Utsman bin Sa'id bin Katsir bin Dinar Al Himshi berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harb dari Abu Umar dari Katsir bin Zadzan dari 'Ashim bin Dlamrah dari Ali bin Abi Thalib ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa membaca Al-Qur'an dan menghafalkannya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga serta akan memberi syafaat kepada sepuluh dari keluarganya yang seharusnya masuk neraka." (HR. Ibnu Majah: 212 - dha'if jiddan menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Para periwayat:

1. 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.

2. 'Ashim bin Dhamra, ia tabi'in kalangan pertengahan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Al 'Ajli dan Ibnul Madini menilainya tsiqah. An Nasa'i menilainya laisa bihi ba'sa. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduuq.

3. Katsir bin Zadzan, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Al Azdi menilainya fiihi nazhar, Ibnu Hajar menilainya majhul. Sedangkan adz Dzahabi menilainya laa yatsbut haditsuhu.

4. Hafsh bin Sulaiman, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Umar negeri hidup Kufah 180 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hambal menilainya matrukul hadits dan Yahya bin Ma'in menilainya kadzdzab. Sedangkan Ibnul Madini menilainya dha'iful hadits. Al Bukhari berkomentar, "mereka meninggalkannya".

5. Muhammad bin Harb, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 194 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shalihul hadits. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam Ats tsiqat. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah.

6. 'Amru bin 'Utsman bin Sa'id, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Hafsh negeri hidup Syam dan wafat tahun 250 H. Penilaian ulama: Abu Hatim dan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Sedangkan adz Dzahabi menilainya shaaduq hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam Ats tsiqat".

Lafazh semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad, dengan jalur sanad yang sama dengan hadits riwayat Ibnu Majah: 212. Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ يَعْنِي أَبَا عُمَرَ الْقَارِئَ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَاذَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ فَاسْتَظْهَرَهُ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ وَجَبَتْ لَهُمْ النَّارُ. (رواه أحمد: ١٢١٣)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Sulaiman yaitu Abu Umar Al Qari', dari Katsir bin Zadan dari 'Ashim bin Dhamrah dari Ali bin Abu Thalib berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa membaca Al-Qur'an kemudian dia menguasai dan menghafalnya, niscaya Allah akan memasukkan ke surga dan menjadikannya dapat memberikan syafaat kepada sepuluh orang dari keluarganya yang sudah ditetapkan masuk Neraka." (HR. Ahmad: 1213 - isnadnya dha'if jiddan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan meriwayatkan dari Hafsh bin Sulaiman. Sedangkan ia periwayat yang dinilai jarah oleh ulama kritikus hadits sampai pada penilaian matruk dan kadzdzab.

Muhammad bin Bakkar, ia tabi'ul atba'kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 238 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya Syaikh la ba'sa bih dan disebutkan dalam Ats tsiqat. Ibnu Hajar menilainya tsiqah dan adz Dzahabi menilainya mereka men-tsiqah-kannya. Imam Ahmad meriwayatkan dari beliau.

Hadits yang shahih terkait dengan makna hadits di atas dintaranya hadits riwayat oleh imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عُثْمَانَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ. (رواه أبوداود: ١٢٤٠)

Telah menceritakan kepada Kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada Kami Syu'bah dari 'Alqamah bin Martsad dari Sa'd bin 'Ubaidah dari Abu Abdurrahman dari Utsman dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Abu Daud: 1240 - shahih dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi Al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 35 H)

Hadits ini ditemukan dalam ensiklopedi hadits 9 imam sebanyak 16 hadits. Diantaranya HR. Al Bukhari: 4639 dan 4640, at Tirmidzi: 2832 dan 2833 (hadits masyhur dengan empat jalur sanad) - shahih dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi Al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 35 H. Sedangkan dari Jalur 'Ali bin Abi Thalib, sebagaimana hadits riwayat imam at Tirmidzi, beliau berkata:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ. (رواه الترمذي: ٢٨٣٤)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad dari Abdurrahman bin Ishaq dari An Nu'man bin Sa'd dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." Abu Isa berkata, Hadits ini tidak kami ketahui dari hadits Ali dari Nabi ﷺ kecuali dari hadits Abdurrahman bin Ishaq. (HR. At Tirmidzi: 2834 - shahih bimaa qablahu menurut Al Albani dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Hadits yang dilacak (palsu), jika dibandingkan sanad dan matannya dengan hadits yang diriwayatkan oleh periwayat yang tsiqah (adil lagi terpercaya) dan matannya yang shahih, maka dapat memberikan faidah; yang pertama ditolak dengan tidak dipercayai sebagai sabda Rasulullah ﷺ secara total dan yang shahih dapat diamalkan. Sehingga memberikan keyakinan bahwa mengetahui keshahihan sanad dan matan hadits sekaligus adalah suatu pilihan yang tepat daripada memercayai yang palsu atau tidak kuat dari Rasulullah ﷺ. Wallaahu a'lam bish shawaab.

TERBIT DAN TERBENAMNYA MATAHARI PADA MUSIM PANAS DAN DINGIN

TERBIT DAN TERBENAMNYA MATAHARI PADA MUSIM PANAS DAN DINGIN
(Nikmat dan Murka Allah)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِۚ. (قرآن سورة الرحمن/٥٥: ١٧)

(Dialah) Tuhan kedua tempat terbit (matahari pada musim panas dan musim dingin) dan Tuhan kedua tempat terbenam (matahari pada kedua musim itu). (QS. Ar-Raḥmān/55: 17)

Ayat ini menjelaskan tentang peredaran matahari dan bulan, Bahwa Dialah yang menciptakan keduanya dan yang mengatur peredaran menurut perhitungan yang tepat.

Tuhan memelihara dua tempat terbit, dua tempat terbenam matahari dan musim panas dan musim dingin. Atas perubahan-perubahan itu timbullah musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur dan menimbulkan pula perubahan udara yang mengakibatkan perubahan pada curah hujan, perubahan pada pohon-pohonan dan tumbuh-tumbuhan serta sungai-sungai.

Menurut kajian ilmiah “Dua Timur” dan “Dua Barat” yang tersurat dalam ayat di atas berkaitan dengan bulatnya bentuk bumi. Karena, hanya pada benda yang berbentuk seperti bola dapat terjadi hal yang demikian (dua timur dan dua barat). Secara kenyataan, memang bumi mempunyai dua titik tempat terbitnya matahari dan dua titik tempat terbenamnya matahari. Ternyata, ayat Allah dan ilmu pengetahuan ada kesesuaian. Penjelasannya demikian:
“Ketika matahari terbit di satu titik di bagian sebelah bumi, maka pada waktu yang sama matahari akan terbenam di bagian sebelah bumi lainnya (utara-selatan). Saat matahari terbenam di sebelah bagian bumi, kembali, pada waktu yang sama, di belahan bumi yang lain, matahari sedang terbit. Dengan demikian, pada kenyataannya, memang betul bahwa ada dua titik dimana matahari terbit, dan pada waktu yang sama, terdapat dua titik dimana matahari terbenam.”

Keadaan demikian ini dilaporkan oleh para antariksawan pada saat mereka memandang bumi dari ruang angkasa. Al-Qur'an menguraikan hal ini sedemikian rupa, seolah-olah konsep bumi yang seperti bola memang sudah dikenal manusia saat itu. Sedangkan sebenarnya tidaklah demikian.

Bentuk bumi yang seperti bola juga dapat dilihat pada beberapa ayat lainnya, seperti dua ayat di bawah ini:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۖ  كُلٌّ يَّجْرِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّاَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ. (قرآن سورة لقمان/٣١: ٢٩)

Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Luqmān/31: 29)

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۚ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ  اَلَا هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ. (قرآن سورة الزمر/٣٩: ٥)

Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun. (QS. az-Zumar/39: 5)

Saat ini, kita dapat melihat pada bola dunia (globe) gambaran tentang bumi yang mempunyai bentuk seperti bola. Sebenarnya, pada 1400 tahun yang lalu, Al-Qur'an telah memberikan indikasi yang demikian. Dua ayat di atas, dengan menggunakan perumpamaan, telah menjelaskan tentang bentuk bumi. Pada saat masyarakat di Eropa masih mempercayai bahwa bumi itu datar, maka para pelajar di universitas di dunia Islam sudah mempelajari bumi dengan menggunakan bola dunia.

Karena Al-Quran diturunkan bukan sebagai ilmu pengetahuan (science), maka di dalamnya tidak ada pernyataan secara khusus bahwa bentuk bumi adalah bulat seperti bola. Akan tetapi, dari beberapa ayat, manusia mulai berpikir bahwa bentuk bumi seperti bola. Contohnya pada Surah Luqmān/31 ayat 29. Ayat lainnya, Surah az-Zumar/39 ayat 5 menunjukkan bagaimana Allah “menggulung” siang dengan malam. Kata “menggulung” pada ayat di atas adalah terjemahan dari kata Arab “kawwara”, yang digunakan untuk menggambarkan seorang sedang menggulungkan sorban di sekeliling kepalanya.

Untuk dapat mengerti lebih jelas mengenai kedua ayat di atas, lakukanlah suatu percobaan di rumah. Alat yang diperlukan adalah bola dunia dan lampu senter. Bawa kedua alat ini ke kamar yang gelap. Sinari bola dunia dengan lampu senter dari salah satu sisinya. Sinar dari lampu senter ini akan berperan seperti sinar matahari. Maka akan tampak bahwa sebagian belahan dunia akan terang, dan belahan lainnya gelap. Lalu putarkan bola dunia secara perlahan, sebagaimana halnya bumi melakukan putaran pada sumbunya. Perhatikan saat bola dunia berputar, maka sinar matahari akan secara menerus mulai menerangi bagian bumi yang semula gelap. Demikian pula halnya gelap. Ia akan secara perlahan menggantikan terang di bagian bumi yang lain.

Ayat di bawah ini juga berbicara mengenai bentuk bumi:

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِۚ  (١٧) فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ (١٨). (قرآن سورة الرحمن/٥٥: ١٧-١٨)

Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (ar-Raḥmān/55: 17-18)

Pada saat manusia mempercayai bahwa bumi datar dan menetap (tidak bergerak), Al-Qur'an sudah mengungkapkan, secara eksplisit maupun implisit, bahwa bumi itu bulat. Tidak hanya bulat, akan tetapi lebih rinci, yaitu bentuknya lebih seperti telur daripada bulat.

Mengenai pemeliharaan tempat terbit dan tenggelamnya matahari. Ketika manusia memercayai bahwa bumi datar dan diam/tidak bergerak, maka Al- Qur'an mengungkapkan bahwa bumi itu bulat, melalui firman-Nya dalam ayat tersebut di atas. Karena hanya pada benda berbentuk seperti bola peristiwa tersebut dapat terjadi, dua timur dan dua barat ?
Sayyid Quṭb berpendapat mungkin itu tempat terbitnya matahari dan bulan serta tempat terbenamnya matahari dan bulan. Tapi bisa juga maksudnya dua tempat terbit matahari yang berbeda posisinya pada musim panas dan musim dingin. Demikian pula dua tempat terbenamnya.

Sementara Ilmu Pengetahuan berpendapat bahwa manakala matahari terbit di satu titik di belahan bumi, maka pada saat yang sama justru matahari tersebut akan terbenam dilihat dari titik belahan lainnya yang letaknya jauh ke arah timur. Begitu pula tatkala matahari terlihat terbenam di suatu titik di belahan bumi, maka pada saat yang bersamaan dari belahan bumi yang letaknya jauh ke sebelah barat, matahari tersebut dilihat sedang terbit.

Fenomena ini yang diartikan dengan (seolah) ada dua titik di mana matahari terbit dan pada waktu yang sama ada dua titik tempat matahari terbenam.
Apapun makna dari pesan tersebut, sesuatu yang penting untuk disyukuri adalah pemeliharaan Allah atas dua timur dan dua barat merupakan bagian dari nikmat-Nya di alam semesta ini?

Kemudian Allah berfirman:

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ. (قرآن سورة الرحمن/٥٥: ١٨)

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?. (QS. Ar-Raḥmān/55: 18)

Dalam ayat ini Allah menantang manusia dan jin, nikmat Tuhan yang manakah yang mereka dustakan. Apakah mereka mengingkari hujan dan faedah-faedahnya? Ataukah mereka mengingkari manfaat adanya perubahan musim yang di dalamnya terdapat perubahan tanaman-tanaman yang harus ditanam pada musim panas atau musim dingin? Ataukah mereka mengingkari tentang keistimewaan yang terdapat pada perubahan udara yang mengatur perasaan manusia dan binatang.

B. KEMURKAAN ALLAH 

1. Murka Allah kepada Kaum Luth

Dua tempat terbit ini juga Allah menurunkan azabnya. Karena manusia tidak mengindahkan perintah Allah dan larangan-Nya. Hal tersebut dapat diketahui dari kisah-kisah umat terdahulu. Seperti azab Allah kepada kaum Luth yang telah dikisahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan kalimat "la'amruka" demi umurmu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

لَعَمْرُكَ اِنَّهُمْ لَفِيْ سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُوْنَ. (قرآن سورة الحجر/١٥: ٧٢)

(Allah berfirman,) “Demi umurmu*) (Nabi Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan (demi melampiaskan hawa nafsu).” (QS. Al-Ḥijr/15: 72)

*) Sumpah Allah yang demikian ini menunjukkan kemuliaan beliau disisi-Nya.

فَاَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِيْنَۙ. (قرآن سورة الحجر/١٥: ٧٣)

Maka, mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari terbit. (QS. Al-Ḥijr/15: 73)

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ. (قرآن سورة الحجر/١٥: ٧٤) 

Maka, Kami menjungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami menghujani mereka dengan tanah yang membatu. (QS. Al-Ḥijr/15: 74)

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِيْنَۙ. (قرآن سورة الحجر/١٥: ٧٥)

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan (dengan saksama) tanda-tanda (itu). (QS. Al-Ḥijr/15: 75)

وَاِنَّهَا لَبِسَبِيْلٍ مُّقِيْمٍ. (قرآن سورة الحجر/١٥: ٧٦)

Sesungguhnya (negeri) itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).**). (QS. Al-Ḥijr/15: 76)

**) Negeri yang dimaksud adalah kota Sodom. Orang Quraisy (Mekah) biasa melaluinya dalam perjalanan mereka ke Syam.

2. Tenggelamnya Fir'aun dan Bala tentaranya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

فَاَتْبَعُوْهُمْ مُّشْرِقِيْنَ. (قرآن سورة الشعرآء/٢٦)

Lalu, (Fir‘aun dan bala tentaranya dapat) menyusul mereka pada waktu matahari terbit. (QS. Asy-Syu‘arā'/26: 60)

Ayat ini menerangkan bahwa Fir‘aun beserta segenap aparat pemerintahan dan bala tentaranya, baru bisa ke luar meninggalkan Mesir untuk menyusul Musa dan Bani Israil pada waktu pagi. Mengenai keterlambatan mereka ada dua pendapat:
Pertama: Sebagaimana disebut dalam kitab Perjanjian Lama (Keluaran 11-12), mereka ditimpa musibah maut pada malam keberangkatan Musa dan Bani Israil meninggalkan Mesir. Pada pertengahan malam itu, banyak perawan Mesir mati, baik manusia maupun binatang, sehingga menyebabkan mereka sibuk mengubur jenazah-jenazah itu sampai pagi. Kedua: Karena pada malam itu mereka diliputi kabut yang tebal dan udara yang sangat dingin sampai pagi.

Rabu, 07 September 2022

CARA MENJAMAK SHALAT MAGHRIB DAN 'ISYA (menelusuri hadits munkar)

CARA MENJAMAK SHALAT MAGHRIB DAN 'ISYA 
(menelusuri hadits munkar) 

Imam Ahmad berkata, 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ سَعِيدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ ح و عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ الْأَسَدِيِّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِجَمْعٍ صَلَّى الْمَغْرِبَ ثَلَاثًا وَالْعِشَاءَ رَكْعَتَيْنِ بِإِقَامَةٍ وَاحِدَةٍ. (رواه أحمد: ٤٦٦٠) 

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Sa'id dari Ibnu Umar. (dalam jalur lain disebutkan) Dan dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Malik Al Asadi dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ menjamak antara shalat Magrib dan Isya dengan cara melakukan shalat Magrib tiga rakaat dan shalat Isya dua rakaat dengan satu kali iqamah." (HR. Ahmad: 4660 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits 'aziz pada pertengahan sanad) 

Catatan: Hadits semakna dalam Ensiklopedi Hadits 9 imam terdapat 39 hadits. Bahwa Rasul menjamak shalat maghrib dengan 'Isya' ketika bepergian maupun sedang menetap setelah menempuh perjalanan lama. Begitu juga pada saat di Muzdalifah, hari hujan, Perang Bani Mushthaliq. Dengan satu kali iqamah, maupun dua kali iqamah, namun tanpa shalat sunat diantara dua shalat tersebut (maghrib dan isya'). Penjelasan ini ditemukan dalam hadits-hadits riwayat imam al Bukhari, Muslim, at Tirmidzi, an Nasa'i, Abu Daud, Ahmad, ad Darimi dan Malik. 

Sementara itu, hadits yang bertentangan dengan ini dinilai munkar, sebagaimana hadits riwayat imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نَافِعٍ عَنْ أَبِي مَوْدُودٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي يَحْيَى عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
مَا جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ قَطُّ فِي السَّفَرِ إِلَّا مَرَّةً
قَالَ أَبُو دَاوُد وَهَذَا يُرْوَى عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ مَوْقُوفًا عَلَى ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ لَمْ يَرَ ابْنَ عُمَرَ جَمَعَ بَيْنَهُمَا قَطُّ إِلَّا تِلْكَ اللَّيْلَةَ يَعْنِي لَيْلَةَ اسْتُصْرِخَ عَلَى صَفِيَّةَ وَرُوِيَ مِنْ حَدِيثِ مَكْحُولٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّهُ رَأَى ابْنَ عُمَرَ فَعَلَ ذَلِكَ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ. (رواه أبوداود: ١٠٢٣)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Nafi' dari Abu Maudud dari Sulaiman bin Abu Yahya dari Ibnu Umar dia berkata, "Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah menjamak shalat Magrib dan Isya dalam suatu perjalanan kecuali hanya sekali." Abu Daud mengatakan, "Hadits ini diriwayatkan dari Ayyub dari Nafi' dari Ibnu Umar. Mauquf sampai Ibnu Umar, bahwa dirinya tidak pernah melihat bila beliau pernah menjamak keduanya kecuali hanya malam itu, yaitu malam ketika dia diberitahu wafatnya Shafiyah, dan diriwayatkan pula dari haditsnya Makhul dari Nafi' bahwa dia melihat Ibnu Umar melakukan hal itu hanya sekali atau dua kali." (HR. Abu Daud: 1023 - munkar dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits ini masyhur pada pertengahan sanad)

Hadits munkar itu dha'if. Ini bertujuan menjelaskan bahwa ketidakbenaran hadits tersebut. Hal ini karena periwayat dha'if bertentangan riwayatnya dengan riwayat orang banyak atau yang lebih tsiqah (adil lagi terpercaya) darinya.

Shalat jamak itu dilakukan karena masyaqqah (kesulitan). Oleh karena itu, tidak benar kalau Rasul hanya satu kali melakukannya. Ini disebabkan banyak aktivitas yang menyulitkan dilalui oleh Rasul dan para shahabat, termasuk hal tersebut untuk memudahkan bagi umat melaksanakannya. Selanjutnya, tidak ada satu pun ibadah yang menyulitkan.

Sebagai bukti tentang kemudahan dalam beribadah, maka Rasulullah mencontohkan kepada para shahabatnya. Hal ini terekam dalam hadits beliau, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ قَالَ أَخْبَرَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَهُ أَصْحَابُهُ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجَ فَصَلَّى بِهِمْ فَخَفَّفَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتَهُ فَأَطَالَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى بِهِمْ فَخَفَّفَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتَهُ فَأَطَالَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْتَ فَجَعَلْتَ تُطِيلُ إِذَا دَخَلْتَ وَتُخَفِّفُ إِذَا خَرَجْتَ قَالَ مِنْ أَجْلِكُمْ فَعَلْتُ مَا فَعَلْتُ. (رواه أحمد: ١٣٥٨٨) 

Telah menceritakan kepada kami Bahz Telah menceritakan kepada kami Hammad berkata; telah mengabarkan kepada kami Tsumamah bin Abdulloh bin Anas dari Anas bin Malik Rasulullah ﷺ didatangi para sahabatnya pada suatu hari, lalu beliau menemui mereka dan shalat dengan ringan. Kemudian beliau masuk rumah dan shalat sedemikian lama. Kemudian keluar dan shalat bersama mereka dengan ringan, lalu masuk ke rumah beliau lagi dan shalat dengan panjang. Tatkala pagi hari mereka bertanya, Wahai Rasulullah, Anda Shalat dengan panjang jika di rumah, dan Anda ringankan jika keluar. (Rasulullah ﷺ) bersabda, "Ini karena mempertimbangkan kalian". (HR. Ahmad: 13588 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Lihat juga:

https://ibnusyamsir.blogspot.com/2022/08/mengerjakan-empat-shalat-sekaligus.html?m=1

Kamis, 01 September 2022

ALLAH TEBARKAN ILMU DIAKHIR ZAMAN (MUNCULNYA KAUM SOFIS)


ALLAH TEBARKAN ILMU DIAKHIR ZAMAN
(MUNCULNYA KAUM SOFIS)
Oleh: Samsurizal, MA

Imam ad Darimi meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ حَجَّاجِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ لَيْثِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ أَبِي الزَّاهِرِيَّةِ يَرْفَعُ الْحَدِيثَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ أَبُثُّ الْعِلْمَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ حَتَّى يَعْلَمَهُ الرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالْعَبْدُ وَالْحُرُّ وَالصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ فَإِذَا فَعَلْتُ ذَلِكَ بِهِمْ أَخَذْتُهُمْ بِحَقِّي عَلَيْهِمْ. (رواه الدارمي: ٢٥٥)

Telah mengabarkan kepada kami Makhlad bin Malik dari Hajjaj bin Muhammad dari Laits bin sa'ad dari Mu'awiyah bin Shalih dari Abu Az Zahiriyyah ia telah memarfu'kan hadits ini, " Allah telah berfirman: 'Aku tebarkan ilmu pada akhir zaman, sehingga laki-laki, wanita, budak, orang merdeka, anak kecil, serta orang dewasa mengetahuinya, jika Aku telah lakukan hal itu, niscaya Aku akan mengambil hak-Ku dari mereka.'" (HR. Ad Darimi: 255 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Hudair bin Kuraib, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu az Zahirriyah dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ya'qub bin Sufyan, an Nasa'i, dan adz Dzahabi menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq, dan Abu Hatim menilainya la ba'sa bih. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam Ats tsiqat". Hadits Qudsi, mauquf shahih)

Perlu dipahami bahwa kalimat, "... akhadztuhum bihaqqiy 'alaihim". Hak Allah tersebut adalah menyembah dan berkahlak sesuai tuntunan Allah.

Berhubungan dengan hal demikian akan bermunculan para pembohong dan pemuda kaum Sofis. Mereka yang mengajarkan ilmu dengan retorika untuk kepentingan tertentu saja.

Pada hadits riwayat imam Al Bukhari diinformasikan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ خَيْثَمَةَ عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
إِذَا حَدَّثْتُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَأَنْ أَخِرَّ مِنْ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكْذِبَ عَلَيْهِ وَإِذَا حَدَّثْتُكُمْ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ فَإِنَّ الْحَرْبَ خَدْعَةٌ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه البخاري: ٣٣٤٢)

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Khaitsamah dari Suwaid bin Ghafalah berkata, 'Ali radhiallahu'anhu berkata, "Sungguh, aku terjatuh dari langit lebih aku sukai daripada berbohong atas nama beliau ﷺ dan jika aku sampaikan kepada kalian tentang urusan antara aku dan kalian, (ketahuilah) bahwa perang itu tipu daya. Aku mendengar Rasulullah ﷺ yang bersabda, "Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang masih muda namun lemah pemahaman (kurang kekayaan intelektual). Mereka berbicara dengan ucapan manusia terbaik (mengambilnya dari Al-Qur'an dan as Sunnah) namun mereka keluar dari agama bagaikan anak panah melesat keluar dari target buruan yang sudah dikenainya. Iman mereka tidak sampai ke tenggorokan mereka. Maka dimana saja kalian menjumpai mereka, bunuhllah mereka karena pembunuhan atas mereka adalah pahala di hari kiamat bagi siapa yang membunuhnya". (HR. Al Bukhari: 3342 - shahih dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Demikian juga hadits semakna diriwayat oleh imam Al Bukhari: 4669 dan 6418 (hadits ahlul Kufah), Muslim: 1771 (masyhur diakhir sanad dari 9 jalur sanadnya), Abu Daud: 4138, an Nasa'i: 4033, Ibnu Majah: 164 ('aziz diakhir sanad), Ahmad: 582 dan 868 (hadits ahlul Kufah), dan 1032 (hadits 'aziz diakhir sanad), dan 3639 - shahih dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Sedangkan hadits riwayat imam Ahmad: 3639 menyebutkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ أَحْدَاثٌ أَوْ قَالَ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ النَّاسِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَمَنْ أَدْرَكَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا عِنْدَ اللَّهِ لِمَنْ قَتَلَهُمْ. (رواه أحمد: ٣٦٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin 'Ayyasy dari 'Ashim dari Zirr dari Abdullah ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Akan muncul pada akhir zaman para pemuda bodoh yang berbicara." Atau beliau bersabda, "Orang tua banyak bicara, mereka membaca Al-Qur'an dengan lisan mereka namun tidak melebihi kerongkongannya, mereka melesat keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Barang siapa yang mendapati mereka, hendaklah membunuhnya karena dalam membunuhnya ada pahala besar di sisi Allah bagi siapa yang membunuh mereka." (HR. Ahmad: 3639 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ أَبُو بِشْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَوْ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ أَوْ حُلُوقَهُمْ سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ إِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ أَوْ إِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ. (رواه إبن ماجه: ١٧١)

Telah menceritakan kepada kami Bakar bin Khalaf Abu Bisyr berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma'mar dari Qatadah dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Akan muncul sekelompok di akhir zaman, atau beliau mengatakan, "Dalam umat ini, mereka membaca Al-Qur'an namun tidak melampaui kerongkongan atau tenggorokan mereka, ciri-ciri mereka berkepala gundul, jika kalian melihat mereka atau bertemu dengan mereka maka bunuhlah." (HR. Ibnu Majah: 171 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Begitu juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 7007, Ahmad: 11188 - shahih dari Sa'ad bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad  menyatakan membunuh mereka wajib bagi setiap Muslim. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قِتَالُهُمْ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ. (رواه أحمد: ١٢٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Suwaid bin Ghafalah dari Ali radhiallahu'anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Akan muncul suatu kaum di akhir zaman, mereka membaca Al-Qur'an tapi (pengaruh dan keutamaannya) tidak melebihi tenggorokan mereka dan mereka keluar dari Islam seperti melesatnya anak panah dari sasarannya, maka memerangi mereka hukumnya wajib bagi setiap muslim." (HR. Ahmad: 1275 - shahih lighairihi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Hadits ahlul Kufah)

Sementara itu imam at Tirmidzi meriwayat dengan menyebutkan identitas mereka. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي ذَرٍّ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ وَصَفَ هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ إِنَّمَا هُمْ الْخَوَارِجُ الْحَرُورِيَّةُ وَغَيْرُهُمْ مِنْ الْخَوَارِجِ. (رواه الترمذي: ٢١١٤)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al 'Alla`, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin 'Ayyasy dari 'Ashim dari Zirr dari Abdullah bin Mas'ud berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Di akhir zaman akan muncul kaum berusia muda, lemah akal, mereka membaca Al-Qur'an tidak mencapai kerongkongan (sebatas di mulut tak sampai hati), mereka mengatakan dari perkataan orang terbaik, mereka meninggalkan agama dengan cepatnya seperti terlepasnya anak panah dari panah." Berkata Abu Isa: dalam hal ini ada hadits serupa dari 'Ali, Abu Sa'id dan Abu Dzarr, hadits ini hasan shahih. diriwayatkan dalam selain hadits ini dari Nabi ﷺ yang menyebutkan ciri-ciri kaum itu, mereka membaca Al-Qur'an dan tidak mencapai kerongkongan, mereka meninggalkan agama dengan cepatnya seperti terlepasnya anak panah dari panah itu tidak lain adalah kaum Khawarij Al Haruriyah dan kalangan Khawarij lain. (HR. At Tirmidzi: 2114 - hasan dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)

Lebih spesifik lagi periwayat (Sahal bin Hunaif) menunjukkan kemunculan kelompok Khawarij tersebut yaitu di Irak. Imam Al Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ
هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ. (رواه البخاري: ٦٤٢٢)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid, telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani, telah menceritakan kepada kami Yusair bin Amru mengatakan, aku bertanya kepada Sahal bin Hunaif, 'apakah engkau mendengar Nabi ﷺ bersabda tentang Khawarij?' Ia menjawab, aku mendengar beliau bersabda; -sambil beliau arahkan tangannya menuju Irak- "Dari sanalah muncul sekelompok kaum yang membaca Al-Qur'an tidak melebihi kerongkongan mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya." (HR. Al Bukhari: 6422 - shahih dari Sahal bin Hunaif bin Wahib, ia shahabat kuniyahnya Abu Tsabit negeri hidup Madinah dan wafat tahun 38 H)

Salah satu contoh hal yang diajarkan berdasarkan akal mereka sendiri dengan menetapkan hal khusus, padahal diluar yang pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada para shahabat beliau. Imam ad Darimi menceritakan,

أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ. (رواه الدارمي: ٢٠٦)

Telah mengabarkan kepada kami Al Hakam bin Al Mubarak, telah memberitakan kepada kami 'Amr bin Yahya ia berkata, "Aku mendengar ayahku menceritakan dari ayahnya, ia berkata, 'Dahulu kami pernah duduk di depan pintu Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu sebelum salat Subuh, ketika ia keluar kami berjalan bersamanya menuju masjid. Kemudian Abu Musa Al 'Asy'ari radhiallahu'anhu datang menemui kami dan bertanya: 'Apakah Abu Abdur Rahman telah datang menemui kalian?', kami menjawab, 'belum', lalu beliau duduk bersama kami hingga (Abu Abdur Rahman) datang. Tatkala ia datang, kami semua berdiri dan menghampirinya, Abu Musa berkata kepadanya: 'Wahai Abu Abdur Rahman, baru saja di masjid aku melihat satu kejadian baru yang tidak aku sukai. Setahuku, Alhamdulillah, sekali pun itu diniyati kebaikan. Ia bertanya: 'apakah itu gerangan?', 'Jika kamu masih hidup kamu akan melihatnya', Kata Abu Musa. Abu Musa melanjutkan: 'Aku melihat di masjid, sekelompok orang yang (duduk) melingkar sambil menunggu salat, setiap lingkaran ada seorang (pemandu) nya dan tangan-tangan mereka membawa kerikil, lalu si (pemandu) berkata, 'ucapkanlah takbir seratus kali' dan mereka bertakbir seratus kali, 'dan ucapkanlah tahlil seratus kali' lalu mereka bertahlil seratus kali, 'dan ucapkanlah tasbih seratus kali' lalu mereka mengucapkan tasbih seratus kali. Abu Abdurrahman bertanya: 'Lantas apa yang telah kau katakan kepada mereka?' Abu Musa menjawab, 'Aku belum berkata apa pun kepada mereka, karena aku menunggu pendapatmu atau perintahmu.' Abu Abdurrahman berkata, 'Tidak sebaiknyakah kamu perintahkan saja mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka, serta kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan hilang? Kemudian Abu Abdurrahman beranjak dan kami pun beranjak bersamanya, hingga ia sampai di lokasi jamaah zikir yang diceritakannya. Ia berdiri di hadapan mereka, dan berkata, 'Apa yang sedang kalian lakukan?', mereka menjawab, 'Wahai Abu Abdur Rahman, ini adalah batu-batu kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih.' Ia berkata, 'Hendaklah kalian menghitung dosa-dosa kalian (saja), aku menjamin amal kebaikan kalian tidak akan hilang, celakalah kalian umat Muhammad ﷺ, alangkah cepatnya masa kehancuran kalian, padahal mereka para sahabat Nabi ﷺ masih banyak, dan baju mereka belum basah, juga periuknya belum pecah, demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman tangannya, sesungguhnya kalian seakan-akan memiliki agama yang lebih baik dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ, atau kalian sengaja hendak membuka pintu kesesatan?, mereka menjawab, 'Demi Allah wahai Abu Abdur rahman kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.' Abu Abdurrahman menjawab, 'Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi ia tidak dapat mencapainya, sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami bahwa ada satu kaum yang membaca Al-Qur'an namun tidak melampaui tenggorokan mereka, demi Allah, aku tidak tahu siapa tahu mayoritas mereka adalah dari kalian", Abu Abdurrahman lantas berpaling dari mereka. 'Amr bin Salamah berkata, 'Kami melihat kebanyakan dari yang berada di kelompok jamaah zikir tersebut di hari selanjutnya mencaci-maki kami pada hari (perang) Nahrawan bersama orang-orang khawarij.'" (HR. Ad Darimi: 206 - isnadnya jayyid menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)