Pages - Menu

Rabu, 29 Juni 2022

HASAD DAN SOLUSINYA


HASAD DAN SOLUSINYA
(Hadits dhaif dapat jadi sandaran amal dengan memahami maknanya)

Imam Abu Daud berkata,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ. (رواه أبوداود: ٤٢٥٧)

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Shalih Al Baghdadi berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Amir -maksudnya Abdul Malik bin Amru- berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Ibrahim bin Abu Asid dari Kakeknya dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar." (HR. Abu Daud: 4257 - dha'if dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Karena Jad (kakek Ibrahim bin Abi Asid) menerima riwayat langsung dari Abu Hurairah adalah tabi'in kalangan tua dinilai majhul. Sementara imam Ibnu Majah meriwayat dengan matan hadits yang lebih panjang daripada hadits riwayat imam Abu Daud. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَمَّالُ وَأَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَر قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ عَنْ عِيسَى بْنِ أَبِي عِيسَى الْحَنَّاطِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالصَّلَاةُ نُورُ الْمُؤْمِنِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ. (رواه إبن ماجه: ٤٢٠٠)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah Al Hammal dan Ahmad bin Al Azhar keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dari Isa bin Abu Isa Al Hannath dari Abu Az Zinad dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kedengkian akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar, dan sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air dapat mematikan api. Salat adalah cahaya seorang mukmin, sedangkan puasa adalah perisai dari api neraka." (HR. Ibnu Majah: 4200 - dha'if dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Dalam sanad hadits riwayat imam Ibnu Majah: 4200 terdapat periwayat bernama Isa bin Maisarah, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Madinah dan wafat tahun 151 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in berkata, "la yuktab haditsuhu". Abu Daud menilainya matrukul hadits, dan Ahmad bin Hanbal menilainya la yusawwi syai'an. Selain dia adalah periwayat maqbul. Termasuk hadits 'aziz diakhir sanadnya.

Walaupun hadits-hadits di atas dha'if karena terdapat periwayat yang dinilai buruk oleh ulama kritikus hadits. Tetapi, perbuatan hasad adalah sifat yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Sehingga dalam berbagai redaksi beliau mencela sikap tersebut. Bahkan dalam Al Qur'an surat Al Falaq/113 ayat 5, agar berlindung kepada Allah dari orang yang hasad (dengki), apabila dia dengki. Demikian juga penjelasan Allah tentang nikmat petunjuk yang diturunkan Allah terhadap para Nabi dan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ اَنْ يَّكْفُرُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بَغْيًا اَنْ يُّنَزِّلَ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۚ فَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ عَلٰى غَضَبٍۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٩٠)

Buruk sekali (perbuatan) mereka menjual dirinya dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan. (QS. Al-Baqarah/2: 90)

Seperti itu juga dalam QS. Al Baqarah/2 ayat 109, tentang kedengkian para ahlul kitab untuk mengembalikan orang yang telah beriman menjadi kafir. Hal tersebut mereka lakukan atas dasar kedengkian setelah mereka mengetahui kebenaran Al Qur'an.

Pernyataan tersebut telah diungkap oleh Allah dalam Al Qur'an.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلٰى مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۚ فَقَدْ اٰتَيْنَآ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاٰتَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٥٤)

Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah menganugerahkan kerajaan (kekuasaan) yang sangat besar kepada mereka. (QS. An-Nisā'/4: 54)

Lebih lanjut, kasus hasad pernah juga terjadi di masa Rasulullah ﷺ yaitu waktu akan terjadinya perang Khaibar. Hal tersebut datang dari kaum munafik Arab Badui. Sebagaimana diabadikan Allah dalam Al Qur'an surat Al Fath ayat 15.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

سَيَقُوْلُ الْمُخَلَّفُوْنَ اِذَا انْطَلَقْتُمْ اِلٰى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوْهَا ذَرُوْنَا نَتَّبِعْكُمْ ۚ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِ ۗ قُلْ لَّنْ تَتَّبِعُوْنَا كَذٰلِكُمْ قَالَ اللّٰهُ مِنْ قَبْلُ  ۖفَسَيَقُوْلُوْنَ بَلْ تَحْسُدُوْنَنَا ۗ بَلْ كَانُوْا لَا يَفْقَهُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا. (قرآن سورة الفتح/٤٨: ١٥)

Apabila kamu nanti berangkat untuk mengambil rampasan perang, orang-orang Badui yang ditinggalkan itu akan berkata, “Biarkanlah kami mengikutimu.” Mereka hendak mengubah janji Allah.*)  Katakanlah, “Kamu sekali-kali  tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah difirmankan Allah sebelumnya.” Maka, mereka akan berkata, “Sebenarnya kamu dengki kepada kami,” padahal mereka tidak mengerti kecuali sedikit sekali. (QS. Al-Fatḥ/48: 15)

Orang-orang Arab Badui yang tidak ikut mengerjakan umrah ke Mekah bersama Rasulullah ﷺ berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ pada waktu beliau akan pergi ke Khaibar, “Hai Muhammad, berilah kesempatan kepada kami untuk ikut bersamamu ke Khaibar.” Kesediaan mereka untuk pergi ke Khaibar itu karena mereka yakin bahwa Perang Khaibar akan dimenangkan oleh kaum Muslimin, sehingga akan memperoleh harta rampasan yang banyak dalam peperangan itu.

Rasulullah ﷺ bersama sahabat pergi ke medan Perang Khaibar pada bulan Muharram tahun ketujuh, sekembali beliau dari Perjanjian Hudaibiyyah. Dalam peperangan itu, kaum Muslimin mendapat kemenangan dan memperoleh harta rampasan yang banyak dari orang Yahudi.
Dalam satu hadis sahih, diterangkan bahwa Allah telah menjanjikan kepada para sahabat yang ikut bersama Rasulullah ﷺ ke Hudaibiyyah bahwa mereka akan mendapat kemenangan di Perang Khaibar dan harta rampasan yang banyak. Janji ini secara tidak langsung menolak kesediaan orang-orang Arab Badui yang ingin ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ karena perang ini khusus diikuti oleh kaum Muslimin yang ikut ke Hudaibiyyah.

Karena maksud mereka yang tidak baik, maka Allah memerintahkan kepada Rasul untuk mengatakan kepada orang-orang yang bersedia ikut ke Khaibar, tetapi tidak ikut ke Hudaibiyyah, “Kamu tidak perlu ikut dengan kami ke Khaibar karena kamu telah mengenal kami. Kamu hanya mau ikut jika akan memperoleh keuntungan diri sendiri, sedangkan jika tidak ada keuntungan bahkan yang ada hanya kesengsaraan dan malapetaka, maka kamu tidak mau pergi bersama kami, dan mengemukakan alasan yang bermacam-macam. Demikianlah Allah telah membukakan rahasia hatimu kepada kami sebelum kami kembali dari Hudaibiyyah dan Allah telah menyatakan kepada kami bahwa rampasan Khaibar hanya akan diterima oleh orang-orang yang ikut ke Hudaibiyyah saja, itulah sebabnya kamu tidak boleh ikut bersama kami.”

Orang-orang Arab Badui menjawab, “Wahai Muhammad, kamu mengadakan kebohongan terhadap kami. Sebenarnya Allah tidak mengatakan demikian. Kamu mengadakan kebohongan itu semata-mata karena rasa dengki yang timbul dalam hatimu terhadap kami.” Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa orang-orang munafik Arab Badui yang mengatakan hal itu adalah orang yang tidak mengetahui agama Allah. Mereka juga tidak mengetahui tujuan perintah jihad. Allah memerintahkan jihad bukan karena Dia tidak mampu menghancurkan mereka, melainkan untuk membedakan siapa di antara mereka yang beriman dan siapa pula yang kafir.

Riwayat shahih tentang masalah larang bersikap hasad ini diriwayatkan oleh imam Abu Daud, dengan redaksi berbeda. Beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ. (رواه أبوداود: ٤٢٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian saling marah, saling hasad, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal seorang muslim menjauhi (mendiamkan) saudaranya lebih dari tiga malam." (HR. Abu Daud: 4264 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Hadits pendukung terkait hal tersebut ditemukan dalam ensiklopedi kitab 9 imam (EH v11.1.2) sebanyak 27 buah dengan berbagai redaksi. Riwayat dimaksud seperti HR. Al Bukhari: 5605 dan 5612, Muslim: 4648 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Dan, HR. Muslim: 4648 dan 4650 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. 

Contoh kasus hasad, sebagaimana hadits riwayat imam Al Bukhari dan Muslim berikut:

Imam Al Bukhari berkata,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا يَزِيدَنَّ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلَا يَخْطُبَنَّ عَلَى خِطْبَتِهِ وَلَا تَسْأَلْ الْمَرْأَةُ طَلَاقَ أُخْتِهَا لِتَسْتَكْفِئَ إِنَاءَهَا. (رواه البخاري: ٢٥٢٢)

Telah bercerita kepada kami Musaddad, telah bercerita kepada kami Yazid bin Zurai', telah bercerita kepada kami Ma'mar dari Az Zuhriy dari Sa'id dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah orang yang hadir (orang kota) membeli untuk yang tidak hadir (orang desa), dan janganlah seseorang menyewa melakukan najasy dan janganlah kalian melebihkan harga tawaran barang (yang sedang ditawar) saudaranya dan janganlah pula seseorang meminang (wanita) pinangan saudaranya dan janganlah seorang istri meminta suaminya menceraikan saudaranya (istri suaminya yang lain) demi untuk mencukupi periuknya". (HR. Al Bukhari: 2522 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 2533 -  shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Dengan tiga jalur sanad, masyhur diakhirnya.

Penjelasan di atas memberikan i'tibar agar lebih berhati-hati bersikap. Walau demikian jalan hidup manusia cendrung berubah agar Allah perlihatkan karunia dan kebaikan luar biasa pada penciptaan manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna. 

Menyimak dari berbagai sumber ternyata kesempatan untuk baik dan buruk telah dibuka luas oleh Allah untuk manusia. Apakah memilih jalan fujur (kehinaan) atau takwa (kemuliaan). Hal tersebut tergantung TAUFIQ ALLAH PADA MANUSIA.

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ. (رواه أحمد: ١١٨٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Anas berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya, sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ia berubah dan beramal dengan amal keburukan. Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ia berubah dan beramal dengan amal kebaikan. Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya, " para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?" beliau bersabda, "Memberinya taufik untuk beramal kebaikan, setelah itu Ia mewafatkannya." (HR. Ahmad: 11768 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ menjelaskan, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْمُونٍ أَخْبَرَنِي قَالَ سَمِعْتُ رَجُلًا مِنْ بَنِي الْحَارِثِ قَالَ سَمِعْتُ رَجُلًا مِنَّا يُقَالُ لَهُ أَيُّوبُ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ

مَنْ تَابَ قَبْلَ مَوْتِهِ عَامًا تِيبَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَابَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِشَهْرٍ تِيبَ عَلَيْهِ حَتَّى قَالَ يَوْمًا حَتَّى قَالَ سَاعَةً حَتَّى قَالَ فُوَاقًا قَالَ قَالَ الرَّجُلُ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ مُشْرِكًا أَسْلَمَ قَالَ إِنَّمَا أُحَدِّثُكُمْ كَمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ. (رواه أحمد: ٦٦٢٦)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dia berkata, Ibrahim bin Maimun, telah mengabarkan kepada kami, dia berkata, aku mendengar seorang lelaki dari Bani Al Harits berkata, aku mendengar seorang lelaki yang biasa dipanggil Ayub dari suku kami berkata, aku mendengar Abdullah bin 'Amru berkata, "Barang siapa bertobat setahun sebelum kematiannya maka tobatnya akan diterima, dan barang siapa bertobat sebulan sebelum kematiannya maka tobatnya akan diterima, hingga ia mengatakan; sehari sebelum kematiannya, hingga ia mengatakan satu jam sebelum kematiannya, dan hingga ia mengatakan fuwaqon (yakni jarak waktu dari perahan pertama ke perahan kedua). Dia berkata, ada seorang lelaki bertanya, "Bagaimana dengan seorang musyrik yang kemudian menyatakan masuk Islam?" Ia menjawab, "Aku hanya berbicara kepada kalian apa yang kudengar dari ucapan Rasulullah ﷺ." (HR. Ahmad: 6626 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hadits mubhamat)

Catatan: sanad hadits riwayat imam Ahmad terdapat periwayat yang tidak diketahui, yaitu periwayat yang menerima langsung dari Ayyub (tabi'in kalangan tua, ia tsiqah).

Jumat, 10 Juni 2022

DOA YANG SERING DIUCAPKAN RASULULLAH ﷺ DALAM BERBAGAI KESEMPATAN: Menelusuri hadits munkar


DOA YANG SERING DIUCAPKAN RASULULLAH ﷺ DALAM BERBAGAI KESEMPATAN

(Menelusuri hadits munkar)

Bismillahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Pada kesempatan kali ini penulis ingin memaparkan hadits-hadits terkait dengan doa-doa yang sering atau senantiasa dibaca oleh Rasulullah dan atau yang sering diajarkan kepada para shahabat beliau bahkan kepada anak-anak mereka. Semoga hal dimaksud juga dapat kita hafal dan amalkan pada setiap kesempatan dalam lafal atau hembusan nafas kita. Berikut penulis awali sedikit tentang ilmu penelusuran hadits yang mesti diikuti dan ditinggalkan karena pertentangan yang menjadikannya lemah dan tidak perlu diamalkan. Dalam hal ini penulis maksud adalah hadits munkar (dha'if) karena riwayatnya dan matannya bertentangan sebagaimana lazimnya hadits shahih atau hasan (maqbul).

IMAM at Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ عَنْ أَبِي كَعْبٍ صَاحِبِ الْحَرِيرِ حَدَّثَنِي شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ قَالَ قُلْتُ لِأُمِّ سَلَمَةَ
يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ فَتَلَا مُعَاذٌ
{ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا }
وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَالنَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ وَأَنَسٍ وَجَابِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَنُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. (رواه الترمذي: ٣٤٤٤)

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al Anshari, telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Mu'adz dari Abu Ka'b pemilik sutra, ia telah menceritakan kepadaku Syahr bin Hausyab ia berkata, aku katakan kepada Ummu Salamah, wahai Ummul mukminin, apakah doa Rasulullah ﷺ yang paling sering, apabila ada padamu? Ia berkata, doa beliau yang paling sering adalah, "YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu). Ummu Salamah berkata, wahai Rasulullah, betapa sering Anda berdoa, "YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu). Beliau berkata, "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada diantara dua jari diantara jari-jari Allah, barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan meluruskannya dan barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan membelokkannya." Kemudian Mu'adz membaca ayat, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami." Dan dalam bab tersebut terdapat riwayat dari Aisyah serta An Nawwas bin Sam'an serta Anas, Jabir, Abdullah bin 'Amr dan Nu'aim bin Hammam. Abu Isa berkata, hadits ini adalah hadits hasan. (HR. At Tirmidzi: 3444 - shahih dari Hind binti Abi Umayyah bin Al Mughira, ia shahabiyah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)

Demikian juga hadits melalui jalur Anas bin Malik, dimana dialog beliau dengan Rasul tentang doa ini. Imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ فَقَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا. (رواه أحمد: ١١٦٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Anas ia berkata, Bahwasanya Nabi ﷺ banyak mengucapkan doa, "YA MUQALLIBAL QULUUBI TSABBIT QALBI 'ALA DINIKA (ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu)." Anas berkata, Maka kami berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada wahyu yang engkau bawa, maka apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?" beliau menjawab, "Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara jari-jari Allah 'Azza wa Jalla, Dialah yang membolak-balikkannya." (HR. Ahmad: 11664 - isnadnya qawi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Begitu juga lafazh yang sama pada jalur sanad yang berbeda bahwa Telah menceritakan kepada kami 'Affan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mihran, dari Abu Sufyan, dari Anas bin Malik, ia berkata: "....". Hadits dimaksud diriwayatkan oleh imam Ahmad: 13200 - isnadnya qawi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Pada tempat lain 'Aisyah meriwayatkan bahwa Rasul menengadahkan wajahnya ke langit. Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ صَالِحِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ زَائِدَةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ
مَا رَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ إِلَّا قَالَ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ. (رواه أحمد: ٩٠٥٢)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dari Shalih bin Muhammad bin Za`idah dari Abu Salamah dari 'Aisyah ia berkata, Rasulullah ﷺ tidak pernah mengangkat kepalanya ke langit kecuali beliau berdoa, "Wahai Dzat yang mengubah hati tetapkanlah hatiku untuk menaati-Mu." (HR. Ahmad: 9052 - shahih lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] negeri negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Terdapat hadits munkar terkait dengan doa Rasul ini, yang menyatakan bahwa beliau membaca doa tersebut saat tasyahud akhir. Sebagaimana hadits riwayat imam at Tirmidzi beliau berkata:

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُفْيَانَ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَعْدَانَ قَالَ أَخْبَرَنِي عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ الْجَرْمِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ
دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي وَقَدْ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ وَبَسَطَ السَّبَّابَةَ وَهُوَ يَقُولُ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ٣٥١١)

Telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Mukram, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Sufyan Al Jahdari, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ma'dan dia berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Ashim bin Kulaib Al Jarmi dari ayahnya dari kakeknya dia berkata, "Aku menemui Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang mengerjakan salat. (saat itu) beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya seraya menggenggam jari jemarinya dan membentangkan jari telunjuknya sambil mengucapkan, "YAA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIK (Wahai DZAT yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)."

Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya gharib melalui jalur ini." (HR. At Tirmidzi: 3511 - hadits munkar dengan bentuk seperti ini menurut Al Albani dari Syihab bin Al Majnun, ia shahabat hanya dia meriwayatkan hadits ini)

Catatan: Hadits riwayat imam at Tirmidzi: 3511, matannya bertentangan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, Anas bin Malik dan 'Aisyah. Mereka adalah Periwayat yang tsiqah dari kalangan shahabat/shahabiyah, atau lebih berkualitas daripada Syihab bin Al Majnun. Begitu juga matan yang diriwayatkan berbeda dengan apa yang diriwayatkan oleh periwayat yang banyak tersebut. Inilah sebagian alasan kenapa dinilai hadits munkar. Disamping itu juga hadits dimaksud gharib melalui jalur sanad ini menurut imam at Tirmidzi.

Alasan, bahwa yang sering bahkan senantiasa diingatkan oleh Rasul adalah berlindung dari siksa kubur. Hal inilah yang dibaca oleh Rasullullah ketika selesai membaca shawat pada tasyahud akhir dalam shalat. Imam Al Bukhari berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنَا عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنْ الْمَغْرَمِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ
وَعَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ فِي صَلَاتِهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ. (رواه البخاري: ١٢٨٧)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Urwah bin Az Zubair dari 'Aisyah istri Nabi ﷺ, dia telah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah ﷺ di dalam salat membaca doa: 'ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN 'ADZAABIL QABRI, WA A'UUDZU BIKA MIN FITNATIL MASIIHID DAJJAAL, WA A'UUDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYAA WA FITNATIL MAMAAT. ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL MA'TSAMI WAL MAGHRAM (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al Masihid Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan utang).' Tiba-tiba ada seseorang berkata kepada beliau, "Kenapa tuan banyak meminta perlindungan dari utang?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya seseorang apabila berutang dia akan cenderung berkata dusta dan berjanji lalu mengingkarinya." Dan dari Az Zuhri ia berkata, 'Urwah bin Az Zubair telah mengabarkan kepadaku, bahwa 'Aisyah radhiallahu'anha berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ dalam salatnya meminta perlindungan dari fitnah Dajjal." (HR. Al Bukhari: 1287 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 789, 2222 (hadits 'aziz diakhir sanadnya) - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Lihat juga Abu Daud: 746 - shahih dari 'Aisyah. Dari jalur 'Abdullah bin 'Abbas hadits semakna juga diriwayat oleh imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ الْيَمَامِيُّ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. (رواه أبو داود: ٨٣٤)

Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyah, telah mengabarkan kepada kami Umar bin Yunus Al Yamami, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari Thawus dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ bahwa setelah tasyahud beliau sering membaca doa, "Allahumma inni a'uudzu bika min 'adzaabi jahanam wa a'uudzu bika min 'adzzabil qabri wa a'uudzu bika min fitnatid Dajjal wa a'uudzu bika min fitnatil mahyaa wal mamaati (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahanam, dari siksa kubur, dan dari fitnah Dajjal fitnah serta fitnah kehidupan dan kematian." (HR. Abu Daud: 834 - hasan shahih menurut Al Albani dari 'Abdullah bin 'Abbas bin'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Begitu juga Sa'ad bin Abi Waqas mengajarkan doa-doa kepada anak-anaknya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Al Bukhari, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ مَيْمُونٍ الْأَوْدِيَّ قَالَ كَانَ سَعْدٌ
يُعَلِّمُ بَنِيهِ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمُعَلِّمُ الْغِلْمَانَ الْكِتَابَةَ وَيَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
فَحَدَّثْتُ بِهِ مُصْعَبًا فَصَدَّقَهُ. (رواه البخاري: ٢٦١٠)

Telah bercerita kepada kami Musa bin Isma'il, telah bercerita kepada kami Abu 'Awanah, telah bercerita kepada kami 'Abdul Malik bin 'Umair aku mendengar 'Amru bin Maimun Al Audiy berkata, adalah Sa'ad biasa mengajarkan anak-anaknya kalimat-kalimat (bacaan doa) sebagaimana seorang guru mengajarkan anak-anak kecil menulis dan berkata, "Sesungghnya Rasulullah ﷺ berlindung dengan membaca kalimat-kalimat tersebut pada akhir salat (yaitu): "ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL JUBNI WA A'UUDZU BIKA AN URADDA ILAA ARDZALIL 'UMURI WA A'UDZU BIKA MIN FITNATID DUNYA WA A'UUDZU BIKA MIN 'ADZAABIL QABRI" ("Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada serendah-rendahnya usia (pikun) dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa qubur") Lalu aku ceritakan hal ini kepada Mush'ab dan dia membenarkannya. (HR. Al Bukhari: 2610 - shahih dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H. Hadits 'aziz dipertengahan sanadnya yaitu 'Amru bin Maimun w. 74 H dan Mus'ab bin Sa'ad w. 103 H keduanya hidup di Kufah)

Hadits terkait dengan konteks di atas ditemukan dalam ensiklopedi hadits kitab 9 imam sebanyak 88 buah dengan redaksi beragam.

Lihat juga bahasanya di link berikut:
https://ibnusyamsir.blogspot.com/2020/02/pertanyaan-dan-siksa-kubur.html?m=1

https://ibnusyamsir.blogspot.com/2021/03/macam-macam-tasyahud-dalam-shalat-wajib.html?m=1

Pada konteks lain, Rasulullah juga membaca doa-doa berikut:

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ
سُئِلَ أَنَسٌ عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ. (رواه أحمد: ١٢٦٥٨)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adi dari Humaid, pernah Anas ditanya tentang siksa kubur maka dia menjawab, Nabi ﷺ senantiasa memohon perlindungan dengan memanjatkan doa, "Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung dari kemalasan, kelemahan, ketakutan, kebakhilan, fitnah Dajjal dan siksa kubur". (HR. Ahmad: 12658 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Doa lain,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنِي سَعْدُ بْنُ أَوْسٍ عَنْ بِلَالِ بْنِ يَحْيَى شَيْخٌ لَهُمْ عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ عَنْ أَبِيهِ
قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَنْتَفِعُ بِهِ قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَبَصَرِي وَقَلْبِي وَمَنِيِّي
حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ أَوْسٍ عَنْ بِلَالٍ الْعَبْسِيِّ عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ عَنْ أَبِيهِ شَكَلِ بْنِ حُمَيْدٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ. (رواه أحمد: ١٤٩٩٢)

Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata; telah menceritakan kepadaku Sa'd bin Aus dari Bilal bin Yahya guru mereka, dari Syutair bin Syakal dari Bapaknya berkata; saya berkata; Wahai Rasulullah! ajarikan kepadaku sebuah doa yang saya bisa mengambil manfaat darinya. Beliau bersabda, "Bacalah: ALLAHUMMA INNII A'UDZU BIKA MIN SYARRI SAM'I WA BASHARI WA QALBI WA MANIYYI (Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari kejelekan pendengaranku, penglihatanku dan hatiku serta angan-anganku)." Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Sa'd bin Aus dari Bilal Al Absi dari Syutair bin Syakal dari Bapaknya, Syakal bin Humaid berkata; saya datang kepada Nabi ﷺ. Lalu menyebutkan hadits seperti yang di atas. (HR. Ahmad: 14992 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Syakal bin Humaid, ia shahabat. Hadits 'aziz dan ahlul Kufah)

Imam an Nasa'i meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ حُصَيْنٍ سَمِعْتُ هِلَالَ بْنَ يَسَافٍ عَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ
أَخْبِرِينِي بِدُعَاءٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِ قَالَتْ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ. (رواه النسائي: ٥٤٣٣)

Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Daud ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Hushain ia berkata; aku mendengar Hilal bin Yasaf dari Farwah bin Naufal ia berkata; aku berkata kepada 'Aisyah; "Kabarkanlah kepadaku doa apa yang biasa dibaca oleh Rasulullah ﷺ?" 'Aisyah berkata, "Beliau membaca: ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA 'AMILTU WA MIN SYARRI MAA LAM A'MAL (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukan sesuatu yang belum aku lakukan)." (HR. An Nasa'i: 5433 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: hadits riwayat an Nasa'i: 5433 di atas periwayatnya dari Madinah, 2 Kufah, 2 Bashrah dan Baghdad.

Demikian juga lafazh hadits yang sama riwayat imam Muslim: 4891, 4892, dan 4893; Abu Daud: 1326; Ibnu Majah: 3829, Ahmad: 22905, 23543, 23933, 24601, 25008, 25164, dan 25167 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Demikian yang dapat penulis paparkan, semoga bermanfaat dan dapat dipahami.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Jumat, 03 Juni 2022

KEHENDAK ALLAH ATAS MAKHLUK-NYA

KEHENDAK ALLAH ATAS MAKHLUK-NYA

(Kehendak bebas manusia)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah berkehendak dengan sesukanya sedangkan manusia berkehendak atas anugerah-Nya. Kehendak Allah tanpa batas dengan sendirinya (tanpa pilihan), sedangkan kehendak bebas manusia atas anugerah-Nya (pilihan). Karena semuanya atas izin Allah sebagai penguasa, raja, dan seterusnya menghendaki makhluknya khususnya manusia agar menyadari betapa besar nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada mereka. Begitu juga kebesaran dan keagungan Allah tak dapat dihalangi oleh apapun, tetapi sebaliknya semua keunggulan manusia dibatasi dengan pemberian-Nya saja. Oleh karena itu, menjadi istimewa mesti disyukuri dan dikembangkan, dan menjadi canggih harus untuk memakmurkan bumi.

Mari kita renungkan firman-firman Allah berikut:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۚ فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِاِذْنِهٖ ۗ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢١٣)

Manusia itu (dahulunya) umat yang satu (dalam ketauhidan). (Setelah timbul perselisihan,) lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidak ada yang berselisih tentangnya, kecuali orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). (QS. Al-Baqarah/2: 213)

Ingatlah...

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَۗ  قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ اَنْ يُّهْلِكَ الْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۗوَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. (قرآن سورة المائدة/٥: ١٧)

Sungguh, benar-benar telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itulah Almasih putra Maryam.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Jika benar begitu,) siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Almasih putra Maryam, ibunya, dan seluruh yang berada di bumi?” Milik Allahlah kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Mā'idah/5: 17)

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚوَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖ ۚوَسَخَّرَ لَكُمُ الْاَنْهٰرَ. (قرآن سورة إبراهيم/١٤: ٣٢)

Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Dia juga telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia pun telah menundukkan sungai-sungai bagimu. (QS. Ibrāhīm/14: 32)

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَاۤىِٕبَيْنِۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ. (قرآن سورة إبراهيم/١٤: ٣٣)

Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah pula menundukkan bagimu malam dan siang.*.(QS. Ibrāhīm/14: 33)

* Allah SWT menundukkan matahari dan bulan dengan hukum-hukum-Nya di alam sehingga bumi terus mengitari matahari (yang tampak seolah matahari yang mengitari bumi) dan bulan terus mengitari bumi, dan bumi terus berotasi sehingga menampakkan fenomena malam dan siang.

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ. (قرآن سورة إبراهيم/١٤: ٣٤)

Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur. (QS. Ibrāhīm/14: 34)

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ. (قرآن سورة إبراهيم/١٤: ٣٥)

(Ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala. (QS. Ibrāhīm/14: 35)

Dan seterusnya...

Simak firman Allah dalam QS. Ar Rum/30 ayat 25 dan 26 berikut:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ تَقُوْمَ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُ بِاَمْرِهٖۗ  ثُمَّ اِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةًۖ مِّنَ الْاَرْضِ اِذَآ اَنْتُمْ تَخْرُجُوْنَ. (قرآن سورة الروك/٣٠: ٢٥)

Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian, apabila Dia memanggil kamu (pada hari Kiamat) dengan sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur). (QS. Ar-Rūm/30: 25)

وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلٌّ لَّهٗ قٰنِتُوْنَ. (قرآن سورة الروم/٣٠: ٢٦)

Milik-Nyalah siapa yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk kepada-Nya. (QS. Ar-Rūm/30: 26)

Dan, firman Allah:

سَيَقُوْلُ لَكَ الْمُخَلَّفُوْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ شَغَلَتْنَآ اَمْوَالُنَا وَاَهْلُوْنَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا ۚيَقُوْلُوْنَ بِاَلْسِنَتِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ لَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا اَوْ اَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۗبَلْ كَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا. (قرآن سورة الفتح/٤٨: ١١)

Orang-orang Arab Badui yang ditinggalkan (karena tidak mau ikut ke Hudaibiah) akan berkata kepadamu, “Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.” Mereka mengucapkan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki mudarat terhadap kamu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu? Bahkan, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Fatḥ/48: 11)

Menelaah maksud ayat-ayat di atas maka hal terpenting menurut penulis adalah akal dan pengorbanan untuk pergerakan sebagai bukti wujudnya diri. Simak uraian berikut:

PENTINGNYA PENDAYAGUNAAN AKAL DAN PENGORBANAN UNTUK BERAMAL

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٧٢)

Sungguh, telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itulah Almasih putra Maryam.” Almasih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu!” Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. (QS. Al-Mā'idah/5: 72)

Penjelasan Allah dalam QS. Al Maidah ayat 72 ini menunjukkan bahwa Nabi Isa 'alaihi salam menggugah Bani Israil untuk berfikir tentang dirinya. Kemudian mengajarkan untuk menyembah hanya kepada Allah. Begitu juga terkait nasip mereka yang tetap musyrik. Karena musyrik tersebut sama dengan berbuat zhalim dan bahkan kezhaliman yang besar, tidak akan diampuni oleh Allah. Itulah kesesatan yang sangat jauh (lihat QS. Luqman/31 ayat 13 dan an Nisa'/4 ayat 48 dan 116).

Sejalan dengan firman Allah di atas, Imam ad Darimi berkata,

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ أَخْبَرَنَا بِهِ حُمَيْدُ بْنُ الْأَسْوَدِ عَنْ عِيسَى قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ يَقُولُ إِنَّمَا كَانَ يَطْلُبُ هَذَا الْعِلْمَ مَنْ اجْتَمَعَتْ فِيهِ خَصْلَتَانِ الْعَقْلُ وَالنُّسُكُ فَإِنْ كَانَ نَاسِكًا وَلَمْ يَكُنْ عَاقِلًا قَالَ هَذَا أَمْرٌ لَا يَنَالُهُ إِلَّا الْعُقَلَاءُ فَلَمْ يَطْلُبْهُ وَإِنْ كَانَ عَاقِلًا وَلَمْ يَكُنْ نَاسِكًا قَالَ هَذَا أَمْرٌ لَا يَنَالُهُ إِلَّا النُّسَّاكُ فَلَمْ يَطْلُبْهُ فَقَالَ الشَّعْبِيُّ وَلَقَدْ رَهِبْتُ أَنْ يَكُونَ يَطْلُبُهُ الْيَوْمَ مَنْ لَيْسَتْ فِيهِ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا لَا عَقْلٌ وَلَا نُسُكٌ. (رواه الدارمي: ٣٧٣)

Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin 'Amir telah mengabarkan kepada kami Humaid bin Al Aswad dari Isa ia berkata, "Aku pernah mendengar As Sya'bi berkata, "Sesungguhnya yang mencari ilmu (agama) ini adalah yang terkumpul dalam dirinya dua hal: akal dan pengorbanan untuk ibadah, jika dia (hanya) memiliki sifat pengorbanan untuk ibadah tetapi tidak berakal, dia akan berkata, 'Ilmu agama ini tidak didapat kecuali orang-orang yang berakal', lantas ia tidak mencarinya. Dan jika dia orang berakal namun tak memiliki jiwa pengorbanan untuk ibadah, ia akan berkata "Ini adalah urusan yang tidak didapat kecuali orang-orang yang memiliki jiwa pengorbanan untuk ibadah' lantas ia tidak mencarinya. Asy Sya'bi berkata, 'Sungguh aku betul-betul takut kalau hari ini ilmu agama dicari oleh seseorang yang dalam dirinya tidak terkumpul satu pun sifat di atas: tidak berakal dan tidak pula memiliki jiwa pengorbanan untuk ibadah'". (HR. Ad Darimi: 373 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Amir bin Syarahil, ia tabi'in kalangan Pertengahan kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 104 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Abu Zur'ah menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya tsiqah masyhur dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh)

Imam Al Bukhari meriwayatkan sebagai contoh kasus menggunakan akal dan sikap pengorbanan tersebut. Beliau meriwayatkan:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِي بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ فَقَالَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ الَّتِي غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ. (رواه البخار: ٥٣١٧)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ufair telah menceritakan kepada kami Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Khalid dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ pernah memutuskan perkara antara dua wanita dari Bani Hudzail yang sedang berkelahi, salah seorang melempar lawannya dengan batu dan mengenai perutnya padahal ia sedang hamil, hingga menyebabkan kematian anak yang dikandungnya. Lalu mereka mengadukan peristiwa itu kepada Nabi ﷺ. Beliau memutuskan hukuman (bagi wanita pembunuh) untuk membayar diyat janin dengan seorang hamba sahaya laki-laki atau perempuan, lantas wali wanita yang menanggung (diyat) berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana saya harus menanggung orang yang belum bisa makan dan minum, bahkan belum bisa berbicara ataupun menjerit sama sekali?, tidakkah hal itu dapat dikatagorikan sebagai kecelakaan yang tidak dapat dihindari?" Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya perkara itu seperti perkara paranormal yang membacakan mantera-mantera." (HR. Al Bukhari: 5317 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri Hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 5318 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri Hidup Madinah dan wafat tahun 57 H dan Sa'id bin Musayyab bin Hazan bin Abi Wahab bin 'Amru, ia tabi'in kalangan kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H ('aziz pada tabaqat tabi'in). Sedangkan hadits riwayat Imam Malik: 1346 diriwayatkan dari Jalur Sa'id bin Musayyab (hadits ahlul Madinah).

Contoh lain, hadits riwayat imam Ibnu Majah, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ الْمِصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ ابْنِ لَهِيعَةَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي خَالِدُ بْنُ أَسْلَمَ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ
خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ فَلَحِقَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لَهُ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
{ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ }
قَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ مَنْ كَنَزَهَا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهَا فَوَيْلٌ لَهُ إِنَّمَا كَانَ هَذَا قَبْلَ أَنْ تُنْزَلَ الزَّكَاةُ فَلَمَّا أُنْزِلَتْ جَعَلَهَا اللَّهُ طَهُورًا لِلْأَمْوَالِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَقَالَ مَا أُبَالِي لَوْ كَانَ لِي أُحُدٌ ذَهَبًا أَعْلَمُ عَدَدَهُ وَأُزَكِّيهِ وَأَعْمَلُ فِيهِ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه إبن ماجه: ١٧٧٧)

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Sawwad Al Mishri berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Ibnu Lahi'ah dari 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepadaku Khalid bin Aslam -mantan budak Umar bin Khaththab- ia berkata, "Aku keluar bersama Abdullah bin Umar, kemudian seorang Arab Badui menyusulnya dan bertanya kepadanya seputar firman Allah 'Azza wa Jalla, " (Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, dan mereka tidak menginfakkannya di jalan Allah)?" Lalu Ibnu Umar berkata kepadanya, "Barangsiapa menimbun dan tidak menunaikan zakatnya, maka kecelakaanlah baginya. Sesungguhnya ayat ini turun sebelum perintah zakat, maka tatkala ayat tersebut diturunkan, Allah menjadikannya sebagai pembersih bagi harta. " Kemudian dia berlalu seraya berkata, "Aku tidak peduli, sekiranya aku memiliki segunung Uhud emas dan aku mengetahui jumlahnya, aku akan tetap menunaikan zakatnya dan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ibnu Majah: 1777 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Al Bukhari: 1316 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Hadits-hadits di atas menunjukkan pentingnya akal dan sikap pengorbanan untuk mendorong seseorang beramal atas dasar menggunakan potensi akal dengan benar. Sehingga semua yang terkait dengan amalnya, sejalan dengan apa yang dicerna oleh akalnya. Oleh sebab itu, pendayagunaan antara akal dan jiwa atau sifat pengorbanan menjadi penting agar terjadi keharmonisan dalam pengabdian yang benar menurut ajaran yang sesungguhnya. Pernyataan tersebut sejalan dengan ungkapan "إنما الأفكار ٱمهات الأعمال" sesungguhnya berfikir itu adalah induk segala amal.

Selanjutnya benarkah "HIDUP DALAM GENGGAMAN TAKDIR TUHAN" ilustrasi berikut insya Allah dapat sedikit melegahkan hati yang gundah.

"Ternyata hidup ini, seperti pokok Durian yang penulis tampilkan di atas, "Bibit yang sama, dalam satu polibek tetapi hasilnya berbeda walaupun sudah dipisah menanamnya atau pun tidak. Mereka tumbuh sesuai takdir yang ditetapkan Allah". Beberapa menit kemudian, junjungan jatuh dengan sendirinya (pas ketika saya menulis "takdir"), sungguh tak ku sangka ketika menyiapkan postingan ini junjungan jatuh (lihat photo ke-3). Semoga menjadi i'tibar dari ta'bir ini".

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۗ وَيُمْسِكُ السَّمَاۤءَ اَنْ تَقَعَ عَلَى الْاَرْضِ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة الحج/٢٢: ٦٥)

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di laut dengan perintah-Nya. Dia menahan (benda-benda) langit sehingga tidak jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. Al-Ḥajj/22: 65)

Allah tegaskan lagi,

۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ. (قرآن سورة الأنغام/٦: ٥٩)

Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (QS. Al-An‘ām/6: 59)

Kedua ayat tersebut terdapat dalam Qur'an dan Surat berbeda, tetapi hanya satu ayat masing-masingnya. Hal ini menunjukkan ketegasan takdir Allah berlaku tanpa sepengetahuan makhluk. Sekaligus pembatasan takdir itu, hanya Allah yang mengetahui. Sedangkan manusia penuh dengan prasangka. Oleh karena itu, jangan pernah larut dalam prasangka.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.