Pages - Menu

Sabtu, 14 Mei 2022

MENGGERAKKAN DAN ISYARAT JARI TELUNJUK SAAT TASYAHUD AKHIR


MENGGERAKKAN DAN ISYARAT JARI TELUNJUK SAAT TASYAHUD AKHIR

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Perkara menggerakkan, memberi isyarat atau melingkarkan jari saat tasyahud akhir dalam shalat adalah hal yang perlu dipahami sebagai variasi aktivitas shalat. Hal ini dilakukan sambil membaca doa, bukan tanpa tujuan. Doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ setelah shalawat pada tasyahud akhir adalah doa berlindung dari azab kubur dan fitnah hidup, fitnah mati dan fitnah masihud Dajjal.

Nah, hadits-hadits terkait dengan masalah ini diriwayatkan dari satu orang shahabat yaitu Wa'il bin Hujri bin Sa'ad ia hidup di Kufah. Hadits ahlul Kufah menyebutkan dengan kalimat "yuharrikuha" menggerakkan. Sedangkan yang lain hanya sebagai isyarat. Mengingat hal tersebut termasuk cara pelaksanaan ibadah shalat maka perlu dipahami dengan baik dan benar agar tidak terjadi kekeliruan. Oleh karena itu, penulis perlu kiranya menelusuri hadits-hadits terkait dan memaparkannya dengan analisa singkat supaya mudah dipahami. Hadits-hadits dimaksud diriwayatkan oleh imam ad Darimi, an Nasa'i, Abu Daud, dan Ahmad.

Imam ad Darimi berkata,

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ أَخْبَرَنِي أَبِي أَنَّ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ أَخْبَرَهُ قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ فَقَامَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى قَالَ ثُمَّ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَرَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا ثُمَّ سَجَدَ فَجَعَلَ كَفَّيْهِ بِحِذَاءِ أُذُنَيْهِ ثُمَّ قَعَدَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخْذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ ثِنْتَيْنِ فَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا قَالَ ثُمَّ جِئْتُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي زَمَانٍ فِيهِ بَرْدٌ فَرَأَيْتُ عَلَى النَّاسِ جُلَّ الثِّيَابِ يُحَرِّكُونَ أَيْدِيَهُمْ مِنْ تَحْتِ الثِّيَابِ. (رواه الدارمي: ١٣٢٣)

Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin 'Amru, telah menceritakan kepada kami Zaidah bin Qudamah, telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Kulaib, telah mengabarkan kepadaku Ayahku bahwa Wail bin Hujr, telah mengabarkan kepadanya, ia berkata, "Aku katakan, "Sungguh, aku akan memperhatikan salat Rasulullah ﷺ, bagaimana beliau melakukan salat." Kemudian aku memperhatikan Rasulullah, beliau berdiri dan takbir, lalu mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinga, dan meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya." Wail bin Hujr berkata, "Kemudian saat akan rukuk beliau mengangkat kedua tangannya seperti itu dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian mengangkat kepalanya dan mengangkat kedua tangannya seperti itu. Baru setelah itu beliau sujud dan menjadikan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua telinganya, kemudian duduk dan menyilangkan kaki kirinya, lalu meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha serta lutut kirinya dan menjadikan siku kanannya berada di atas paha kanannya, beliau menggenggam dua jarinya dan membuat lingkaran dengan mengangkat satu jari (telunjuk) nya, dan aku melihat beliau menggerakkan jari tersebut sambil membaca doa." Wail bin Hujri berkata, "Setelah itu aku kepada mereka saat musim dingin, dan aku lihat mereka memakai pakaian besar dan menggerakkan tangan mereka dari bawah pakaian." (HR. Ad Darimi: 1323 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Wa'il bin Hajar bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu Hunaidah dan negeri hidup Kufah. Hadits ahlul Kufah)

Demikian juga hadits riwayat imam an Nasa'i dari Wa'il bin Hujri hal semakna "menggerakkan telunjuk" (-kanan beliau-),

أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ زَائِدَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ أَخْبَرَهُ
قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ فَقَامَ فَكَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا قَالَ وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ لَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا ثُمَّ سَجَدَ فَجَعَلَ كَفَّيْهِ بِحِذَاءِ أُذُنَيْهِ ثُمَّ قَعَدَ وَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا. (رواه النسائي:٨٧٦)

Telah mengabarkan kepada kami Suwaid bin Nashr dia berkata, telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak dari Zaidah dia berkata, telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Kulaib dia berkata, bapakku, telah menceritakan kepadaku bahwasanya Wa'il bin Hujr mengabarkan kepadanya, dia berkata, "Aku melihat cara salat Rasulullah ﷺ. Aku melihat beliau ﷺ berdiri untuk salat, kemudian takbir dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya. Lantas beliau ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas telapak kirinya, juga di atas pergelangan tangannya, dan meletakkannya di atas lengannya. Ketika hendak rukuk beliau ﷺ mengangkat kedua tangannya sama seperti tadi (sejajar dengan kedua telinganya). Beliau ﷺ meletakkan kedua tangannya di kedua lututnya, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya, sejajar dengan kedua telinganya, kemudian sujud. Beliau ﷺ meletakkan kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya, kemudian duduk di atas kaki kiri. Beliau juga meletakkan telapak tangan kiri diantara paha dan lutut kiri. Lalu beliau ﷺ meletakkan ujung lengan kanan di atas paha kanan. Kemudian ia menggenggam dua jarinya serta membentuk lingkaran, lantas mengangkat jarinya. Aku melihat beliau ﷺ menggerak-gerakkannya dan berdoa dengannya." (HR. An Nasa'i: 876 - shahih dari Wa'il bin Hajar bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu Hunaidah dan negeri hidup Kufah)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 18115 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Wa'il bin Hajar bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu Hunaidah dan negeri hidup Kufah. Sedangkan hadits riwayat Abu Daud: 624 menyebutkan di musim dingin ia melihat orang-orang menggerakkan jari mereka terlihat bergerak-gerak. Jari telunjuk yang digerakkan tersebut adalah jari telunjuk tangan kanan. Sebagaimana hadits riwayat imam an Nasa'i: 1248, beliau berkata:

أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ قَالَ أَنْبَأَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ قَالَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ قُلْتُ
لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ فَلَمَّا سَجَدَ وَضَعَ رَأْسَهُ بِذَلِكَ الْمَنْزِلِ مِنْ يَدَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَّقَ وَرَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَأَشَارَ بِشْرٌ بِالسَّبَّابَةِ مِنْ الْيُمْنَى وَحَلَّقَ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى. (رواه النسائي: ١٢٤٨)

Telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin Mas'ud dia berkata, telah memberitakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadhdhal dia berkata, telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Kulaib dari Bapaknya dari Wa'il bin Hujr dia berkata, "Sungguh Aku akan melihat bagaimana Rasulullah ﷺ melaksanakan salat. Beliau berdiri menghadap kiblat, lalu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya, kemudian memegang tangan kiri dengan tangan kanannya. Apabila hendak ruku beliau mengangkat kedua tangannya seperti hendak takbir. Ketika sujud, beliau meletakkan kepalanya sejajar dengan kedua tangannya. Kemudian beliau duduk dengan menghamparkan kaki kirinya, meletakkan tangan kiri di atas paha kiri, dan meletakkan siku lengan kanan di atas paha kanan. lalu beliau menggenggam kedua jari dan melingkarkannya. Aku melihat beliau berkata, 'Begini.' Bisyir mengisyaratkan dengan telunjuk kanannya dan melingkarkan ibu jari dan jari tengah. (HR. An Nasa'i: 1248 - shahih dari Wa'il bin Hujri bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu Hunaidah dan negeri hidup Kufah)

Sedangkan hadits riwayat imam Abu Daud: 820, bahwa "isyarat dengan telunjuk" tanpa menggerakkannya. Beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ
قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً وَرَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَحَلَّقَ بِشْرٌ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ. (رواه أبوداود: ٨٢٠)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadlal dari 'Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa'il bin Hujr dia berkata, kataku, "Sungguh aku melihat bagaimana tata cara salat Rasulullah ﷺ!" yaitu Rasulullah ﷺ berdiri, lalu menghadap kiblat, bertakbir, mengangkat kedua tangan sehingga sejajar dengan kedua telinga, setelah itu tangan kanan beliau memegang tangan kirinya, sewaktu beliau hendak rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya seperti tadi." Katanya melanjutkan, "Kemudian beliau duduk, yaitu menduduki kaki kirinya dan meletakkan tangan kiri di atas paha kirinya sambil merenggangkan siku yang kanan terhadap paha sebelah kanan dan menggenggam kedua jari (kelingking dan manis) dan membentuk suatu lingkaran. Aku melihat beliau melakukan seperti ini Bisyr membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah serta menunjuk dengan jari telunjuk." (HR. Abu Daud: 820 - shahih dari Wa'il bin Hujri bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu Hunaidah dan negeri hidup Kufah)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 18095 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Wa'il bin Hujri bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu Hunaidah dan negeri hidup Kufah.

Dari penjelasan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa memberi isyarat dengan telunjuk tangan kanan baik menggerakkannya (yuharrikuha) maupun isyarat tanpa menggerakkannya adalah hal yang tidak perlu dipertentangkan karena riwayat di atas gharib dalam periwayatannya, dalam arti hanya dari jalur Wa'il bin Hujri. Namun terjadi perbedaan lafazh. Kemungkinan kedua cara tersebut dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dalam kondisi yang berbeda dan diamalkan oleh para shahabat beliau. Apalagi dalam konteks ini, terdapat dua kondisi yaitu waktu biasa dan musim dingin. Sedangkan jari telunjuk dimaksud adalah telunjuk tangan kanan. Perlu diingat dalam hal variasi pelaksanaan gerakkan shalat atau bacaan-bacaan dalam shalat juga terdapat banyak variasinya. Hal dimaksud dalam ilmu fiqhul hadits dikenal dengan tanawwu al ibadah.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Rabu, 11 Mei 2022

GETIRNYA DUNIA DAN MAWASDIRI

GETIRNYA DUNIA DAN MAWASDIRI
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Ingatlah firman Allah terkait dengan keadaan Bani Israil dulu, mereka senantiasa memperturutkan hawa nafsu duniawi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

لَقَدْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمْ رُسُلًا ۗ كُلَّمَا جَاۤءَهُمْ رَسُوْلٌۢ بِمَا لَا تَهْوٰٓى اَنْفُسُهُمْۙ فَرِيْقًا كَذَّبُوْا وَفَرِيْقًا يَّقْتُلُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٧٠)

Sungguh, Kami benar-benar telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah mengutus rasul-rasul kepada mereka. *) Setiap kali rasul datang kepada mereka dengan membawa apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (QS. Al-Mā'idah/5: 70)

* Yakni janji untuk beriman kepada Allah swt dan rasul-rasul-Nya.

وَحَسِبُوْٓا اَلَّا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ فَعَمُوْا وَصَمُّوْا ثُمَّ تَابَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوْا وَصَمُّوْا كَثِيْرٌ مِّنْهُمْۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٧١)

Mereka mengira bahwa tidak akan terjadi fitnah (azab akibat dosa-dosa mereka). Oleh karena itu, mereka menjadi buta dan tuli. Setelah itu Allah menerima tobat mereka, kemudian banyak di antara mereka buta dan tuli (lagi). Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Mā'idah/5: 71)

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ عَنْ شُرَيْحِ بْنِ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيِّ
أَنَّ أَبَا مَالِكٍ الْأَشْعَرِيَّ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ يَا سَامِعَ الْأَشْعَرِيِّينَ لِيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ مِنْكُمْ الْغَائِبَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حُلْوَةُ الدُّنْيَا مُرَّةُ الْآخِرَةِ وَمُرَّةُ الدُّنْيَا حُلْوَةُ الْآخِرَةِ. (رواه أحمد: ٢١٨٢٦)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah, telah menceritakan kepada kami Shafwan dari Syuraih bin 'Ubaid Al Hadhrami bahwa Abu Malik Al Asy'ari saat sekarat berkata, Wahai kaum Asy'ari yang mendengar, hendaklah yang hadir diantara kalian menyampaikan pada yang tidak hadir, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Manisnya dunia adalah getirnya akhirat dan getirnya dunia adalah manisnya akhirat." (HR. Ahmad: 21826 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu Malik negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H. Hadits ahlul Syam)

Catatan: HR. Ahmad: 21826 tidak terdapat periwayat yang dinilai lemah. Sementara itu dalam redaksi lain imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ كَثِيرِ بْنِ أَفْلَحَ عَنْ عُبَيْدِ سَنُوطَا عَنْ خَوْلَةَ
أَنَّهَا سَمِعَتْ حَمْزَةَ يُذَاكِرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا فَقَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَرُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِي مَالِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ لَهُ النَّارُ. (رواه أحمد: ٢٥٨٠٩)

Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Yahya bin Sa'id dari Umar bin Katsir bin Aflah dari Ubaid Sanutha dari Khaulah bahwa dirinya mendengar dari Hamzah menyebutkan kepada Nabi ﷺ tentang dunia, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan berapa banyak orang yang mengambil harta Allah dan harta rasul-Nya tanpa hak kemudian masuk neraka." (HR. Ahmad: 25809 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Khawla binti Qais bin Qahd, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Muhammad dan negeri hidup Madinah)

Demikian juga redaksi semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنِ ابْنِ عَوْنٍ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ أَلَا فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءً وَإِنَّ أَكْثَرَ ذَاكُمْ غَدْرًا أَمِيرُ الْعَامَّةِ فَمَا نَسِيتُ رَفْعَهُ بِهَا صَوْتَهُ. (رواه أحمد: ١١٣٦٩)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Adi dari Ibnu 'Aun dari Al Hasan dari Abu Sa'id Al Khudri dari Nabi ﷺ bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu hijau dan terasa manis, maka takutlah kalian dari dunia dan wanita, dan ketahuilah bahwa setiap pengkhianat akan dipasangkan padanya sebuah bendera, dan orang yang paling besar pengkhianatannya dari kalian adalah pemimpin umat, " dan aku masih ingat, bahwa beliau waktu itu mengeraskan suaranya pada kalimat tersebut." (HR. Ahmad: 11368 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Catatan: Al Hasan bin Abi Al Hasan Yasar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H dinilai oleh Ibnu Hibban periwayat yang yudallis dan disebut dalam Ats tsiqat. Al 'Ajli menilainya tsiqah, Muhammad bin Sa'id menilainya tsiqah ma'mun. 

Senada dengan hadits riwayat imam Ahmad: 11369, diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى اللَّيْثِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ خَطِيبًا فَكَانَ فِيمَا قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَنَاظِرٌ كَيْفَ تَعْمَلُونَ أَلَا فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ. (رواه إبن ماجه: ٣٩٩٠)

Telah menceritakan kepada kami 'Imran bin Musa Al Laitsi, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid bin Jud'an dari Abu Nadlrah dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah ﷺ berkhotbah, dan di antara isi khotbahnya adalah: 'Sesungguhnya dunia adalah lahan yang hijau dan manis, dan Allah menyerahkannya kepada kalian, lalu Allah akan melihat apa yang kalian kerjakan. Ketahuilah, berhati-hatilah kalian dari (keindahan) dunia dan wanita." (HR. Ibnu Majah: 3990 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Imam Ahmad dalam riwayat yang cukup panjang menceritakan tentang fitnah (ujian/kekacauan dan keraguan/syirik/azab/zhalim) terbesar adalah wanita baik bagi Bani Israil maupun umat Muslim:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي مَسْلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا نَضْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا لِيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ بْنَ سَهْلٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ فَذَكَرَ مَعْنَى حَدِيثِ غُنْدَرٍ عَنْ شُعْبَةَ فِي حُكْمِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ فَإِنِّي أَحْكُمُ أَنْ تُقْتَلَ مُقَاتِلَتُهُمْ وَتُسْبَى ذُرِّيَّتُهُمْ فَقَالَ لَقَدْ حَكَمْتَ فِيهِمْ بِحُكْمِ اللَّهِ وَقَالَ مَرَّةً لَقَدْ حَكَمْتَ فِيهِمْ بِحُكْمِ الْمَلِكِ أَوْ الْمَلَكِ شَكَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ. 

وَحَدَّثَنَاهُ عَفَّانُ قَالَ الْمَلِكُ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ فَذَكَرَ مِثْلَ حَدِيثِ ابْنِ جَعْفَرٍ تُقْتَلُ مُقَاتِلَتُهُمْ وَتُسْبَى ذُرِّيَّتُهُمْ وَقَالَ قَضَيْتَ بِحُكْمِ الْمَلِكِ قَالَ أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ. (رواه أحمد: ١٠٧٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Maslamah berkata, aku mendengar Abu Nadhr menceritakan dari Abu Sa'id Al Khudri dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Sesungguhnya dunia itu hijau dan manis, dan sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, agar Dia bisa melihat apa yang kalian lakukan, maka takutlah kalian akan fitnah dunia dan fitnah wanita, karena fitnah pertama kali yang menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita." 

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sa'd bin Ibrahim ia berkata, aku mendengar Abu Umamah bin Sahal menceritakan dari Abu Sa'id, lalu ia menyebutkan makna hadits Ghundar dari Syu'bah tentang hukum Sa'ad bin Mu'adz, hanya saja ia berkata, "Aku putuskan bahwa orang yang membunuh mereka dihukum dengan balas bunuh, dan anak serta istri-istri mereka akan ditawan, " beliau bersabda, "Engkau telah menghukumi mereka dengan hukum Allah." Dan dalam riwayat lain beliau mengatakan, "Sungguh engkau telah menghukumi mereka dengan hukum raja atau kerajaan, " Abdurrahman (perawi) masih merasa ragu. 

Dan telah menceritakannya kepada kami 'Affan ia berkata, yaitu raja. Telah menceritakan kepada kami Hajjaj berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'bah lalu menyebutkan sebagaimana hadits Ibnu Ja'far, "Orang-orang yang membunuh mereka akan dibalas bunuh, dan anak serta istri-istrinya akan ditawan, " beliau bersabda, "Engkau telah memutuskan dengan hukum raja, " demikian perkataan Abu Umamah bin Sahal dari Hunaif. (HR. Ahmad: 10743 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Selanjutnya lihat juga HR. Ahmad: 10716 (hadits 'aziz diakhir sanad) dan 11158, keduanya isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. 

Ingat pula firman Allah tentang tausiyah nabi Musa 'alaihi salaam kepada umatnya "yang muslim" sehingga mereka mengikutinya: 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

فَقَالُوْا عَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْنَا ۚرَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ. (قرآن سورة يومي/١٠: ٨٥)

Mereka pun berkata, “Kepada Allahlah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim. (QS. Yūnus/10: 85)

NASEHAT RASULULLAH YANG SERING DIBICARAKAN

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَنْبَأَنِي سَعْدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مَعْبَدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ
كَانَ مُعَاوِيَةُ قَلَّمَا يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا وَيَقُولُ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ قَلَّمَا يَدَعُهُنَّ أَوْ يُحَدِّثُ بِهِنَّ فِي الْجُمَعِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ فِي الدِّينِ وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ حُلْوٌ خَضِرٌ فَمَنْ يَأْخُذْهُ بِحَقِّهِ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ. (رواه أحمد: ١٦٢٣٤)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata, telah memberitakan kepadaku Sa'ad bin Ibrahim dari Ma'bad Al Juhani berkata, Mu'awiyah jarang menceritakan sesuatu dari Rasulullah ﷺ. Dan hanya beberapa kalimat berikut ini yang jarang ditinggalkannya atau kerap diceritakannya dalam perkumpulan orang, yaitu dari Nabi ﷺ bersabda, "Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah akan pahamkan dalam masalah agama. Harta ini sangat manis dan hijau (menyenangkan) siapa yang mengambilnya sesuai dengan haknya maka ia dapatkan berkah darinya. Janganlah kalian saling memuji karena hal itu sama halnya penyembelihan." (HR. Ahmad: 16234 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Mu'awwiyah bin Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 60 H)

Atau riwayat semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad tentang kalimat-kalimat yang jarang ditinggalkan oleh Mu'awwiyah dari Rasulullah ﷺ di hari Jum'at:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ وَحَجَّاجٌ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مَعْبَدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ
كَانَ مُعَاوِيَةُ قَلَّمَا يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَكَانَ قَلَّمَا يَكَادُ أَنْ يَدَعَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ أَنْ يُحَدِّثَ بِهِنَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ فِي الدِّينِ وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ حُلْوٌ خَضِرٌ فَمَنْ يَأْخُذْهُ بِحَقِّهِ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ. (رواه أحمد: ١٦٢٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Hajjaj berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Sa'd bin Ibrahim dari Ma'bad Al Juhani berkata, Mu'awiyah jarang menceritakan dari Nabi ﷺ. (Ma'bad Al Juhani radhiallahu'anhu) berkata, pada Hari Jumat bisa dikatakan sangat jarang dia meninggalkan kalimat-kalimat yang didengarnya dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan pahamkan urusan agamanya. Sesungguhnya harta ini sangat manis dan hijau (menyenangkan) siapa yang mengambilnya sesuai dengan haknya maka akan mendapatkan berkah. Janganlah kalian saling memuji karena hal itu ibarat penyembelihan." (HR. Ahmad: 16243 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Mu'awwiyah bin Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 60 H. Hadits 'aziz diakhir sanadnya)

Demikianlah Allah dan Rasul-Nya mengajarkan agar umatnya senantiasa ingat baik peristiwa masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Sehingga sebagai seorang muslim sejati dapat mawasdiri dan selalu ingat dan bertawakkal kepada Allah dengan rasa syukur dan menjaga diri. Walaupun semua yang dialami mempunyai hikmah disetiap peristiwa.

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.