Pages - Menu

Kamis, 20 Januari 2022

RASUL DISUGUHI ARAK


RASUL DISUGUHI ARAK
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

IMAM an Nasa'i berkata,

أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنَ خَالِدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَاقِدٍ أَخْبَرَنِي خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ فَتَحَيَّنْتُ فِطْرَهُ بِنَبِيذٍ صَنَعْتُهُ لَهُ فِي دُبَّاءٍ فَجِئْتُهُ بِهِ فَقَالَ أَدْنِهِ فَأَدْنَيْتُهُ مِنْهُ فَإِذَا هُوَ يَنِشُّ فَقَالَ اضْرِبْ بِهَذَا الْحَائِطَ فَإِنَّ هَذَا شَرَابُ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ السَّكَرِ قَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ وَلَيْسَ كَمَا يَقُولُ الْمُخَادِعُونَ لِأَنْفُسِهِمْ بِتَحْرِيمِهِمْ آخِرِ الشَّرْبَةِ وَتَحْلِيلِهِمْ مَا تَقَدَّمَهَا الَّذِي يُشْرَبُ فِي الْفَرَقِ قَبْلَهَا وَلَا خِلَافَ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ السُّكْرَ بِكُلِّيَّتِهِ لَا يَحْدُثُ عَلَى الشَّرْبَةِ الْآخِرَةِ دُونَ الْأُولَى وَالثَّانِيَةِ بَعْدَهَا وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ. (رواه النسائي: ٥٥١٦)

Telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Ammar ia berkata; telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid dari Zaid bin Waqid berkata, telah mengabarkan kepadaku Khalid bin Abdullah bin Husain dari Abu Hurairah ia berkata, "Aku tahu bahwa Rasulullah ﷺ biasa melakukan puasa, maka aku menyiapkan buka puasanya dengan arak yang aku buat dalam wadah Ad Duba, wadah itu lantas aku bawa kepada beliau. Beliau bersabda, "Dekatkanlah wadah itu kepadaku, " maka aku dekatkan wadah tersebut kepadanya, dan ternyata arak tersebut sedang menguap (seperti air mendidih). Beliau lalu bersabda, "Buanglah minuman ini ke dinding, sebab ia untuk orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kiamat." Abu 'Abdurrahman berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil atas haramnya sesuatu yang memabukkan, baik sedikit atau banyaknya. Dan bukan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang menipu diri mereka sendiri, bahwa keharaman itu hanya terdapat pada tegukan terakhir, sedang pada tegukan pertama atau sebelumnya adalah halal. Tidak ada perselisihan di antara para ahli ilmu bahwa keharamannya itu mencakup keseluruhannya, sebab mabuk tidak akan terjadi hanya pada tegukan terakhir tanpa adanya yang pertama, kedua dan seterusnya. Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan." (HR. An Nasa'i: 5516 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H).

Demikian juga hadits yang diriwayat oleh imam an Nasa'i: 5608, Abu Daud: 3228 (jalur sanad yang sama), dan Ibnu Majah 3400 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H). Pada riwayat imam an Nasa'i: 5608, terdapat tambahan penjelasa, "...Dan termasuk yang mereka jadikan sebagai dalil adalah perbuatan Umar Ibnul Khaththab radhiallahu'anhu."

Dari informasi hadits-hadits di atas dipahami bahwa permentasi perasan nabiz (minuman perasan buah yang telah disimpan agar menjadi anggur). Anas bin Malik membenci ini. Sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ
سَأَلْتُ أَنَسًا عَنْ نَبِيذِ الْجَرِّ فَقَالَ لَمْ أَسْمَعْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ شَيْئًا قَالَ وَكَانَ أَنَسٌ يَكْرَهُهُ. (رواه أحمد: ١٣٤٢٧)

Telah bercerita kepada kami Abu Daud telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Qotadah berkata; saya bertanya Anas tentang Nabidz (minuman perasan buah yang telah disimpan agar menjadi anggur) yang ada di kendi, maka dia menjawab, saya tidak pernah mendengar apapun tentangnya dari Rasulullah ﷺ. (Qotadah radhiallahu'anhu) berkata; Anas membencinya. (HR. Ahmad: 13427 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Oleh karena itu keharaman Arak yang terbuat dari perasan buah yang dipermentasi sedikit maupun banyak adalah haram. Hal tersebut adalah minuman yang biasa diminum oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Artinya, ketika seorang muslim meminumnya maka saat itu ia tidaklah dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir. Pengaruh daripada minuman tersebut memabukkan bahkan sampai melupakan diri sendiri dan Allah. Sehingga perbuatan tersebut diharamkan bagi orang yang beriman.

Memakan makanan atau pun minuman haram adalah kebiasaan orang-orang yang Yahudi dan ahlul kitab. Sedangkan para ulama dan pendeta mereka justru membiarkan perbutan tersebut. Namun keadilan terhadap mereka tetap ditegakkan dengan adil. Hal ini terekam dalam beberapa firman Allah berikut:

سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ اَكّٰلُوْنَ لِلسُّحْتِۗ فَاِنْ جَاۤءُوْكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ اَوْ اَعْرِضْ عَنْهُمْ ۚوَاِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَّضُرُّوْكَ شَيْـًٔا ۗ وَاِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٤٢)

Mereka (orang-orang Yahudi itu) sangat suka mendengar berita bohong lagi banyak memakan makanan yang haram. Maka, jika mereka datang kepadamu (Nabi Muhammad untuk meminta putusan), berilah putusan di antara mereka atau berpalinglah dari mereka. Jika engkau berpaling, mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Akan tetapi, jika engkau memutuskan (perkara mereka), putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Mā'idah/5: 42)

وَتَرٰى كَثِيْرًا مِّنْهُمْ يُسَارِعُوْنَ فِى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَۗ  لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٦٢)

Kamu akan melihat banyak di antara mereka (Ahlulkitab) berlomba-lomba dalam perbuatan dosa, permusuhan, dan memakan (makanan) yang haram. Sungguh, itulah seburuk-buruk apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al-Mā'idah/5: 62)

Para ulama dan pendeta dikalangan mereka tidak melarang perbuatan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لَوْلَا يَنْهٰىهُمُ الرَّبّٰنِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْاِثْمَ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَۗ  لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٦٣)

Mengapa para ulama dan pendeta tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan (makanan) yang haram? Sungguh, itulah seburuk- buruk apa yang selalu mereka perbuat. (QS. Al-Mā'idah/5: 63)

Selanjutnya, firman Allah:

قُلْ لَّا يَسْتَوِى الْخَبِيْثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ اَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيْثِۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ١٠٠)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung.” (QS. Al-Mā'idah/5: 100)

Demikian sikap Rasulullah dan hal tersebut diikuti oleh para sahabatnya. Sehingga perbuatan tersebut menunjukkan keharamannya secara mutlak. Oleh karena itu, pertama perbuatan haram, kedua ia adalah perbuatan kaum Yahudi yang jelas tidak beriman kepada Allah, dan yang ketiga adalah perbuatan terburuk yang pernah dilakukan oleh kaum dimaksud. Atas dasar pernyataan tersebut, menjaga hati dan ketakwaan adalah sesuatu hal yang wajib bagi orang yang berakal sehat 6ang terhindari dan menghindari perbuatan haram dimaksud agar memperoleh keberuntungan.

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Selasa, 18 Januari 2022

AYAT-AYAT AL-QUR'AN TERKAIT GEOLOGI


AYAT-AYAT AL-QUR'AN TERKAIT GEOLOGI

Oleh: Samsurizal, MA

ABSTRAK

Latar belakang penulisan artikel ini adalah karena keperluan pengembangan ilmu pengetahuan kandungan al-Qurán dan menemukan hubungan yang erat dengan geologi sebagai cabang ilmu. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui sejauh mana al-Qur’an dan Geolog berbicara tentang dinamika bumi. Metode penulisan artikel ini penulis menggnakan metode library research dengan penelusuri sumber-sumber yang relevan dengan bahasan. 

Berdasarkan penelusuran penulis memperoleh informasi bahwa Al-Quran memberikan informasi tentang geologi yaitu tentang penciptaan alam semesta dan sebab musababnya, unsur-unsur alam semesta, dan masa penciptaannya. Sehingga informasi tersebut dapat menjadi petunjuk bagi ilmuan khususnya para geolog. Bukan saja al-Qur’an yang memberikan informasi tersebut tetapi hadis-hadis Nabi Muhammad juga menyinggung tentang hal tersebut. Dari informasi yang ada maka muncul satu bidang keilmuan tentangnya yang dikenal dengan geologi. Maksud dari geologi yaitu ilmu yang mempelajari dinamika bumi berikut sejarah dan proses pembentukannya. Oleh karena itu, perbincangan dalam al-Quran ada juga disebutkan gunung sebagai pasak, ciri fisikal gunung, pergerakan gunung, pergerakan benua, pembentukan gunung berapi di bawah laut, gempa bumi, pengajaran dibalik kejadian gempa bumi dan gunung berapi, dan kemenangan Bizantium. Kesemuanya dibincangkan karena mempunyai kaitan antara satu sama lain.

Kata kunci: Al-Qur’an dan Geologi

Abstract

The background of writing this article is because of the need to develop knowledge of the content of the Qur'an and find a close relationship with geology as a branch of science. The purpose of writing this article is to find out to what extent the Qur'an and Geologists talk about the dynamics of the earth. The method of writing this article the author uses the library research method by tracing sources relevant to the discussion.‎

Based on the search, the author obtained information that the Al-Quran provides information about geology, namely about the creation of the universe and its causes, the elements of the universe, and the time of its creation. So that this information can be a guide for scientists, especially geologists. It is not only the Qur'an that provides this information, but the traditions of the Prophet Muhammad also mention this. From the available information, a scientific field about it emerged which is known as geology. Geology is the science that studies the dynamics of the earth and its history and processes of formation. Therefore, the discussion in the Qur'an also mentions mountains as pegs, physical characteristics of mountains, movement of mountains, movement of continents, formation of volcanoes under the sea, earthquakes, teachings behind earthquakes and volcanoes, and victory Byzantine. All of them are discussed because they have a relationship between each other.

Keywords: Al-Qur'an and Geology

نبذة مختصرة

تعود خلفية كتابة هذا المقال إلى الحاجة إلى تطوير المعرفة بمحتوى القرآن وإيجاد علاقة وثيقة مع الجيولوجيا كفرع من فروع العلم. الغرض من كتابة هذا المقال هو معرفة إلى أي مدى يتحدث القرآن والجيولوجيون عن ديناميكيات الأرض. طريقة كتابة هذا المقال يستخدم المؤلف أسلوب البحث بالمكتبة من خلال تتبع المصادر ذات الصلة بالمناقشة.

وبناءً على البحث ، حصل المؤلف على معلومات تفيد بأن القرآن يقدم معلومات عن الجيولوجيا ، أي عن خلق الكون وأسبابه ، وعناصر الكون ، وزمن نشأته. حتى تكون هذه المعلومات دليلاً للعلماء وخاصة الجيولوجيين. لم يكن القرآن هو الذي يوفر هذه المعلومات فحسب ، بل إن أحاديث النبي محمد تذكر ذلك أيضًا. من المعلومات المتاحة ، ظهر مجال علمي عنها يعرف بالجيولوجيا. الجيولوجيا هي العلم الذي يدرس ديناميكيات الأرض وتاريخها وعمليات تكوينها. لذلك فإن الحديث في القرآن يذكر الجبال على أنها أوتاد ، وخصائص الجبال ، وحركة الجبال ، وحركة القارات ، وتشكيل البراكين تحت البحر ، والزلازل ، والتعاليم وراء الزلازل والبراكين ، والنصر البيزنطي. تمت مناقشة كل منهم لأن لديهم علاقة بين بعضهم البعض.

الكلمات المفتاحية: القرآن والجيولوجيا

PENDAHULUAN

Al-Quran memberikan informasi tentang geologi. Maksud dari geologi yaitu ilmu yang mempelajari dinamika bumi berikut  sejarah dan proses pembentukannya. Oleh karena itu, perbincangan dalam al-Quran ada juga disebutkan gunung sebagai pasak, ciri fisikal gunung, pergerakan gunung, pergerakan benua, pembentukan gunung berapi di bawah laut, gempa bumi, pengajaran dibalik kejadian gempa bumi dan gunung berapi, dan kemenangan Bizantium. Kesemuanya dibincangkan kerana mempunyai kaitan antara satu sama lain. 

Al-Qur’an bukanlah kitab sains, tetapi kewajiban Allah sebagai pencipta adalah memberitahukan informasi tentang alam semesta yang telah Ia ciptakan. Sehingga dapat dipelajari dan diamati dan diteliti oleh manusia agar dapat dimanfaatkan dan dijaga dengan baik. Banyak sejarah tentang penciptaan alam dan kandungan yang ada di dalamnya yang belum dapat diungkap secara tuntas oleh manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya. Oleh karena itu, berdasarkan informasi dari Allah berupa wahyu (al-Qur’an) tersebut manusia mengikuti dan meneliti ciptaan-Nya.

Berdasarkan pernyataan di atas perlu penulis paparkan bagaimana kaitannya al-Qur’an dengan Geologi, pertama sebagai sumber absolut, dan yang kedua adalah hasil karya manusia dengan akal dan budayanya atau budi-dayanya yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada makhluk-Nya bernama manusia.

Metode yang penulis tempuh untuk memahami dua tern ini adalah dengan menggunakan metode library research (kajian kepustakaan). Langkah-langkah yang penulis tempuh adalah dengan mengumpulkan referensi-referensi yang relefan dengan bahasan atau kajian ini. Memahami dan menyuguhkannya secara sistematis dan terbuka. 

Sebagaimana lazimnya penelitian lain tentang sains tak kalah pentingnya mengupas ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan Geologi atau ilmu tentang dinamika bumi, sejarah dan pembentukannya.

Berdasar penelusuran penulis menemukan beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara tentang Geologi. Sedangkan untuk memahaminya penulis gabungkn dengan beberapa sumber. Berikut penulis paparkan satu persatu dengan menjelaskan maksud dan keterkiatannya dalam bidang ilmiah (geologi). 

Alam raya ini diciptakan oleh Allâh dengan haqq (benar) tidak ada ketimpangan dan kejanggalan. Allâh menciptakannya dengan penuh ketelitian dan disiapkan untuk makhluknya sebagai wadah yang sanggup menampung berapa pun banyaknya makhluk yang diciptakan-Nya. Tentunya untuk keberlangsungan tersebut Allâh sudah mengatur kadar dan ketetapan-Nya sendiri. Selanjutnya dikenal dengan sunnatullah. Dikatakan sunnatullah, karena semua ciptaan-Nya patuh kepada aturan-Nya.

Alam yang luas ini dan segala isinya diciptakan untuk manusia. Langit yang tujuh lapis untuk bernaung dan bumi dengan segala isinya untuk keperluan kesejahteraan mereka (QS. al-Baqarah/2: 22, 29 dan al-An`âm/6: 6).

Setelah Allâh menciptakan ini semua, timbul pertanyaan dari apa Ia menciptakan alam raya yang sangat luas ini? Pesan apa yang ingin disampaikan-Nya dari hasil yang maha luas ini?. 

Pertanyaan di atas, orang mencoba menjawabnya dengan berbagai dalil baik akal, naql dan hikmah. Jawaban menurut akal mereka gunakan dengan dugaan-dugaan teologis dan filosofis. Seperti Al-Kindi, ia berpendapat bahwa alam disebabkan oleh yang jauh, yakni Allâh. Ia yang menciptakan alam dari tiada (creation ex nihilo) atau ibdâ’, ia bersifat baharu dan terbatas. Sedang Ibnu Rusyd berpendapat bahwa alam diciptakan dari sesuatu yang sudah ada atau ijâd, yakni dari al-mâ’ dan al-dukhân dan dari materi inilah alam diciptakan, bersifat berkesinambungan sejak azali (sampai sekarang).

Pendapat Al-kindi dan Ibnu Rusyd di atas nampak bertentangan, namun pada dasarnya “ijtihad” mereka tentang penciptaan alam ini tidaklah mempengaruhi iman seseorang, karena Allâh sendiri dalam Al-Qur’ân tidak menyebutkan secara tegas dari apa Ia menciptakan alam ini.

Selanjutnya, Sirajuddin Zar menyimpulkan bahwa berdasarkan temuan kosmolog kekinian sama dengan pendapat Al-Kindi dari segi asal, membantah bahwa alam diciptakan dari yang sudah ada, namun dari ketiadaan. Sementara materi yang disebut Ibnu Rusyd sebagai asal alam semesta adalah menunjukkan proses penciptaan alam semesta sedang berlangsung yang pernah berbentuk al-mâ’ (zat alir, sopkosmos) dan al-dukhân (kondensasi dan pengembunan) dan bukan asal. Jawaban ini berawal dari pengembangan teori Big Bang, yang distandarisasi oleh Georges Lemaitre (1894-1966) kebangsaan Belgia pada tahun 1927 M, teori ini kemudian dikuatkan oleh A. Baiquni.

Kata "geologi" pertama kali digunakan oleh Jean-André Deluc dalam tahun 1778 dan diperkenalkan sebagai istilah yang baku oleh HoraceBénédict de Saussure pada tahun 1779. Orang yang mempelajari ilmu geologi disebut geolog atau ahli geologi. Muhammad Zuhdi menjelaskan Ahli geologi telah membantu dalam menentukan umur bumi yang diperkirakan sekitar 4.5 milyar (4.5x109 ) tahun, dan menentukan bahwa kulit bumi terpecah menjadi lempeng tektonik yang bergerak di atas mantel yang setengah cair (astenosfir) melalui proses yang sering disebut lempeng tektonik. 

Lebih lanjut Ahli geologi membantu menemukan dan mengatur sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, dan uranium serta mineral lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis, kuarsa, dan silika, dan juga elemen lainnya seperti belerang, klorin, dan helium. Ilmu geologi terus berkembang dan terbagi lagi menjadi ilmu-ilmu yang menjadi dasar geologi. Cabang-cabang ilmu geologi tersebut diantaranya: Mineralogi, Petrologi, stratigrafi, Paleontologi, Geologi Struktur, Geomorfologi, Geologi fisik dan Geokimia. 

Perlu difahami bahwa geologi fisik berbeda dengan geofisika. Geologi fisik adalah cabang geologi yang mempelajari sifat fisis bumi dan batuan dendangkan geofisika adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari bumi dengan metode dan instrumen fisika. Pada prinsipnya ilmu geologi dapat diterapkan pada planet-planet di tata surya. Aplikasi ilmu geologi pada planet lainnya dalam tata surya (solar sistem) disebut Astrogeologi. Namun juga terdapat istilah khusus lainnya seperti selenology (ilmu tentang bulan), areologi (ilmu tentang tentang planet Mars) dan lain-lain.  

Abdul Basith dan Dalia Shiddiq dalam bukunya “Ensiklopedi Ilmiah dalam al-Qur’an dan Sunnah” membahas secara khusus tentang Ilmu Geologi. Mereka mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan ilmu geologi adalah ilmu yang berkaitan dengan pengamatan struktur batu-batuan yang ada di dalam bumi dan bentuk-bentuknya serta rekahan batu-batuan tersebut dan pengaruhnya. Sebagai sebuah ilmu, ia mempunyai dasar dan cabang-cabangnya yang banyak. 

Isyarat ilmiah yang terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an terkait dengan kondisi geologi bumi seperti struktur bumi yang memiliki ketinggian tertentu. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Nahal/16 ayat 15, al-Rum/30 ayat 1 – 3 dan 9, al-An`am/6: 125, al-Tariq/86 ayat 11, dan Fathir/35 ayat 27, al-Hadid/57 ayat 25, al Naazi`ant/79 ayat 31, al-Nur/24 ayat 43, dan al-Namal/27 ayat 60.

A. Gunung sebagai pasak bagi bumi

Allah berfirman dengan ketelitian penggunaan kata, ayat dimaksud adalah sebagai berikut: 

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ. (قرآن سورة النحل/16: 15)

Artinya: “Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Naḥl/16: 15)

Berdasarkan geomorphologi, gunung memiliki fungsi sebagai pasak yang menancap bumi di jaqat alam raya ini. Puncaknya menjadi penahan keseimbangan bumi dari arah atas. Bagian yang menancap di kedalaman bumi menjadi peyeimbang dari arah bawah, dan berhubungan dengan inti bumi. Dengan adanya gunung keseimbangan bumi jadi terjaga, sehingga tidak terlalu condong ke salah satu arah di tengah-tengah alam raya yang melingkupinya.

Jika diamati ayat di atas maka dapat dipahami dari penggunaan kata al-Qaa, menunjukkan adanya peristiwa pemindahan materi-materi pembentuk gunung, baik yang berasal dari dasar bumi, lalu mengendap dipermukaannya, maupun dari salah satu bagian dari permukaan bumi yang terbawa ke permukaannya ke bagian lain. Pemindahan yang terjadi dari dasar bumi ke permukaanya, terdapat pada gunung vulkanik yang menyemburkan lava dari kawahnya. Ada pun yang terbentuk karena endapan yang terjadi dipermukaan bumi, maka hal ini dapat terjadi karena pelapukan dan pengikisan yang diiringi oleh serangkaian proses perubahan alami dan kimiawi sehingga endapan tersebut menjadi keras dan terkumpul menjadi materi pembentuk gunung. 

Selanjutnya penggunaan kata an tamida bikum, menjelaskan fungsi gunung dalam menekan dan mengontrol gerakan bumi, sehingga keseimbangan di tengah-tengah jagat raya ini terjaga.

B.  Tempat peperangan Romawi dengan Persia di lembah sungai Yordania

Peristiwa perang antara Romawi dengan Persia ini menujukkan adanya dataran rendah di permukaan bumi. Informasi tersebut terdapat dalam firman Allah QS. Al-Rum ayat 1-3, sebagai berikut:

الۤمّۤ ۚ. غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ.  فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ. (قرآن سورة الروم/30: 1-3)

Artinya: “Alif Lām Mīm. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat580)dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang.” (QS. Al-Rūm/30: 1-3)

Penelitian yang dilakukan oleh ahli geologi menunjukkan, bahwa lembah sungai Yordania saat itu, merupakan daratan terendah, dibandingkan daerah lain dibelahan bumi lain.

C. Gas bumi dan Grafitasi

Ayat al-Qur’an terkait dengan gas bumi dan gaya grafitasinya disinggung oleh Allah dalam firmannya,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَّاَثَارُوا الْاَرْضَ وَعَمَرُوْهَآ اَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوْهَا وَجَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِۗ فَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَۗ. (قرآن سورة الروم/30: 9)

Artinya: “Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan mereka telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya melebihi apa yang telah mereka makmurkan. Para rasul telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Allah sama sekali tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi dirinya sendiri.” (QS. Al-Rūm/30: 9)

Ayat ini penjelaskan bahwa bumi telah dilapisi oleh lapisan gas yang menjaganya dari pengaruh sinar matahari. Pengaruh lapisan ini dapat dirasakan secara langsung dalam kehidupan kita. Lapisan tersebut dikenal dengan atmosfir bumi, yang mengelilingi seluruh permukaan planet bumi. Dengan adanya atmosfir ini maka al-Qur’an mengungkapkan bahwa manusia hidup di bumi (fil Ardhi), bukan di atas bumi. Karena kalau kita hidup di atas bumi maka permukaan kulit bumi adalah bagian terluar dari bumi. Dan ini tentunya bertentangan dengan realitas alam, dengan adanya atmosfir bumi yang mengelilingi semua permukaan bumi dengan kekuatan gaya grafitasinya.

D. Atmosfir bumi

Terkait dengan sifat atmosfir, Allah berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ. (قرآن سورة الأنعام/6: 125)

Artinya: “Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An‘ām/6: 125)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa semakin tinggi  meninggalkan bumi maka tekanan udara pada ketinggian makin berkurang. Hal ini berpengaruh pada benda-benda hidup seperti manusia untuk bernafas pada ketinggian tersebut. Karena saluran pernafasannya terganggu karena persediaan oksigen menipis. Bahkan akibat dari persediaan oksigen yang yang sedikit itu bisa mengakibatkan manusia seperti tercekik atau hampir mati.

Pada ayat tersebut, yang dimaksud “dadanya sempit lagi sesak” adalah terjadi kekurangan oksigen pada saluran pernafasan. Dan perumpamaannya dengan pendakina ke langit, hal tersebut menunjukkan kurangnya persediaan oksigen pada ketinggian tertentu pada lapisan atmosfir bumi.

Selanjutnya terkait dengan sifat lain dari atmosfir bumi, disinggung dalam firman Allah QS. Al-Thariq/86 ayat 11, ayat dimaksud sebagai berikut:

وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الرَّجْعِۙ. (قرآن سورة الطارق/86: 11)

Artinya: “Demi langit yang mengandung hujan.” (QS. Aṭ-Ṭāriq/86: 11)

Yang dimaksud dengan kalimat “dzaatu al-raj`i”, mengandung arti bahwa atmosfir memiliki daya melindungi bumi, sekaligus membantulkan kembali gelombang elektronik yang membenturnya kepermukaan bumi. Kondisi ini dimanfaatkan oleh manusia untuk membuat radio yang memanfaatkan energi gelombang udara. Pada umum, manfaat dari atmosfirni juga digunakan secara luas dalam bidang telekomunikasi. Selanjutnya, Raj'i bearti 'kembali berputar'.  Hujan dinamakan raj'i karena berasal dari uang yang naik dari bumi ke udara, kemudian turun ke bumi, kemudian menguap kembali ke atas, lalu turun lagi ke bumi, dan begitu seterusnya.

E. Sebab terbentuknya Gunung 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ ثَمَرٰتٍ مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهَا ۗوَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ ۢبِيْضٌ وَّحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهَا وَغَرَابِيْبُ سُوْدٌ. (قرآن سورة فاطر/35: 27)

Artinya: “Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan (air) itu Kami mengeluarkan hasil tanaman yang beraneka macam warnanya. Di antara gunung-gunung itu ada bergaris-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (QS. Fāṭir/35: 27)

Ayat di atas menunjukkan sebab terbentuknya gunung yang berwarna putih atau merah adalah air. Ini adalah isyarat bahwa air mempunyai pengaruh dalam reaksi kimia yang menyebabkan warna pada bebatuan dan tambang. Isyarat lain, dalam surat al-Hadid/57 ayat 25 Allah berfirman, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ. (قرآن سورة الحديد/٥٧: ٢٥)

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ḥadīd/57: 25)

Kalimat “... Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat ...” وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ, ayat ini menunjukkan salah satu unsur terpenting yang terdapat pada lapisan bebatuan yang ada di dalam bumi, yaitu unsur besi (logam). Para peneliti menjelaskan bahwa unsur besi, mustahil terjadi dalam perut bumi. Karena dalam pembentukannya ia membutuhkan energi yang banyak dan sulit tersedia di dalamnya. Mereka berkesimpulan unsur besi telah terbentuk di planet lain yang di dalamnya tersedia energi yang memungkinkan pembentukkannya. Kemudian unsur besi itu dibawa atau dipindahkan ke bumi dengan satu mekanisme yang tidak diketahui. Hal ini terungkap pada kaliamat “Kami turunkan”. Jika demikian tentu terjadinya dari yang tinggi kepada yang rendah yaitu tingkat energi yang dibutuhkan.

F. Lapisan bebatuan (lempeng tektonik)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ. وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ. (قرآن سورة الزلزلة/99: 1-2)

Artinya: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, bumi mengeluarkan isi perutnya.” (QS. Az-Zalzalah/99: 1-2)

Peristiwa rekahan yang terjadi di kulit bumi, terjadi pada lipatan lempengan tektonik yang membentuk struktur bumi. Hal tersebut berpengaruh pada terbelahnya lapisan bebatuan yang ada di perut bumi dan terbentuknya lubang besar. Sehingga tercipta palung besar yang membentuk lautan dan samudra. Contohnya palung yang terdapat di laut merah yang berasal dari lubang besar di daratan Afrika. 

Pembagian ketebalan bebatuan menurut para ahli geologi dan geofisika bahwa ketebalan yang terdapat pada bebatuan dibagia inti bumi lebih besar daripada yang terdapat pada bebatuan dibagian kulit bumi. Itulah sebabnya berat bumi terletak pada intinya, bukan di kulitnya. Petunjuk lain juga ditunjukkan oleh para ahli yaitu bumi bisa menumpahkan isinya yang terdiri dari bebatuan-bebatuan besar ketika terjadi letusan gunung atau gempa yang dahsyat. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ. وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ. (قرآن سورة الزلزلة/99: 1-2) 

Artinya: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, bumi mengeluarkan isi perutnya.” (QS. Az-Zalzalah/99: 1-2)

Pesan ilmiah yang dalam ayat di atas adalah: Pertama, ketebalan lapisan bebatuan di bagian inti bumi dibandingkan dengan lapisan bebatuan yang terdapat di kulit bumi. Kedua, gelombang gempa yang dahsyat dapat menyebabkan bumi mengeluarkan kandungan batu-batu besar yang terdapat di dalamnya ke permukaan bumi.

Selanjutnya, diisyaratkan juga bahwa terdapatnya lapisan air yang terdapat di antara lapisan bebatuan sebagai pembentuk bumi bersama dengan lapisan udara yang terletak pada celah-celah disekitar lapisan bebatuan yang ada. Lapisan air ini juga tersedia sangat banyak di lautan, samudra,  dan sungai, sehingga membentuk permukaan air yang mengelilingi semua permukaan bumi. Lebih lanjut sebagai gambaran hal tersebut terdapat dalam al-Qur’an surat al-Nazi` at ayat 31 dan al-Namal ayat 60.

Pesan yang ingin disampaikan dalam masalah ini adalah betapa besarnya kekuasaan Allâh yang mampu menciptakan alam raya yang mahaluas ini dari ketiadaan menjadi wujud dan dapat dimanfaatkan oleh manusia dan tempat hidup makhluk-Nya yang lain seperti Malaikat, Iblis, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Semua yang diciptakan-Nya itu mesti mengabdi kepada aturan dan kehendak-Nya. Mereka semua berada diluar ranah Allâh keberadaan-Nya, tetapi tetap dalam pengawasan-Nya. Rasulullah SAW juga menyinggung tentang pembentukan bumi, sebagaimana hadits berikut:

كَانَتِ الْكَعْبَةُ خُشَعَةٌ عَلَى الْمَاءِ فَدَخِيَتْ مِنْهَا الْأَرْضَ. 

Artinya: “Dahulu Ka`bah adalah bukit kecil di atas air kemudian dibentangkanlah bumi dari (bawah)nya."

Hadits ini dianggap gharib (aneh) oleh ulama-ulama dahulu maupun modern mengandung fakta ilmiah yang belum ditemukan manusia kecuali pada pertengahan dekade 60-an abad ke-20. Setelah usaha keras yang melibatkan ribuan pakar dan waktu yang cukup panjang. Dibuktikanlah pada umat manusia bahwa bumi kita ini pada awal penciptaan-Nya penuh dengan air sampai tidak ada kawasan kering yang tampak sedikit pun.

Kemudian Allah menghendaki untuk memuntahkan dasar samudra luas dengan letusan gunung berapi hebat yang terus menerus memuntahkan lava yang menggumpal satu sama lain, membentuk rentetan pegunungan di tengah samudra belantara ini. Pegunungan ini terus meninggi dan meninggi sampai nampak kepermukaan air yang membentuk daratan pertama dalam bentuk pulau vulkanik yang mirip dengan  sejumlah kepulauan vulkanik yang sekarang tersebar di seluruh samudra, misalnya kepulauan Jepang, Filipina, Indonesia, dan Hawaii. Sampai sekarang kepulauan-kepulauan vulkanik tetap membentuk sebagai puncak-puncak rantai pegunungan samudra.

Mencermati hadis dan penjelasan di atas dipahami bahwa pembentukan bumi yang disabdakan oleh Rasulullah tersebut adalah sebuah ungkapan yang padat makna (al-jam`ul kalim) yang bersifat qudsiyah. Oleh karena itu, patutlah dipahami dengan penelitian yang mendalam. Karena jelas pengetahuan tersebut adalah dari Allah yang menjadi sabda beliau. 

Pernyataan tersebut menyebabkan para pakar baik Muslim maupun non-muslim selalu meneliti dan penelusuri terus-menerus kebenaran fakta teks hadis ini. Banyak lagi contoh sabda beliau yang menunjukkan para ilmuan di bidang sains yang sangat penting bagi mereka, seperti fenomena gerhana bulan dan matahari, kebuatan bumi dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan pengetahuan yang seterusnya menjadi ilmu yang teratur dan sistematis dalam kehidupan manusia modern. Hal ini akan senantiasa berlanjut.

REFERENSI

Abdul Basith dan Daliya Shiddiq, Ensiklopedi Ilmiah dalam al-Qur’an dan Sunnah, penerjemah: Ahrul Tsani dan Subhan Nur, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002), Cet. I

Asep Kurnia Permana, Regulasi dan Pengembangan Warisan Geologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s), (Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kamis 2 Juli 2020) ... https://psg.bgl.esdm.go.id/docs_gsm/2020/20200702-Webiner-1.pdf

Buchari. M, Kaidah Keshahihan Matan Hadits, (Padang: Azka, 2004), Cet. I

Faruq Sherif, Al-Qur’ân menurut Al-Qur’ân (Penterjemah M. H. Assagaf  dan Nur Hidayah), (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, November 2001), Cet. I

Harun Nasution, Akal dan Wahyu, 1986, h. 15,  17)

Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1960)

Manna’ Al-Khalil Al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’ân, (Jakarta: PT. Lentera AntarNusa, 1994), Cet. II

Mahmud Syaltut, Islam Aqidah dan Syari`ah, (Jakarta: Pustaka Amani, 1998), Cet. II

T. M. Hasbi Ash-Shiddieqiy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’ân/tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), Cet. Ke-7

Muhammad ibn Hajjaj, al-Musnad al-Shahîh al-Mukhtashar min al-Sunan bi naql al-`Adl `an Rasûl Allâh Shallâ Allâh  `alaihi wa Sallam, (selanjutnya disebut Shahîh Muslim), naskah di-tahqiq oleh Muhammad Fu’ad `Abd al-Bâqiy, (Bairût: Dâr al-Fikr, [t. th.]),  jilid II

Pengertian Geologi – Pengetahuan, Alam, Sejarah, Cabang Ilmu (khasanahkonsultama.co.id)

Muhammad Zuhdi, Buku Ajar Pengantar Geologi, (Lombok: Duta Pustaka Ilmi, 2019), Cet. I

Nia Ainiah, Ayat-ayat Geologi dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Tafsir Ilmi dan Sains Modern, (Jakarta: Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ), 2020

Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), Cet. II

Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), Ed. 2

Rosihan Anwar, Ulumul Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), Cet. II

Zainal Abidin S., Seluk-beluk Al-Qur’ân, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), Cet. I

Sabtu, 15 Januari 2022

ONTOLOGI, METAFISIKA, DAN EPISTEMOLOGI SERTA AKSIOLOGI ILMU


ONTOLOGI, METAFISIKA, DAN 

EPISTEMOLOGI SERTA AKSIOLOGI ILMU

Oleh: Samsurizal, MA



Abstrak


Latar belakang penulisan ini adalah karena perlunya mengumpulkan dan menyatukan pemahaman tentang apa dan bagaimana ontologi, metafisika, epistemologi dan aksiologi dipahami. Oleh karena itu perlu difokuskan dengan memberi judul pembahasan ini yaitu, “Ontologi, Metafisika, Epistemologi, dan Aksiologi. 

Metode penulisan yang penulis terapkan adalah metode kepustakaan (library research), dengan cara mengumpulkan dan menganalisa informasi dari berbagai sumber referensi yang ada dan dapat dipertanggungjawabkan kevalidannya. Sehingga dapat diambil manfaat dan pemahaman yang cermat dan kompreensif.

Sebagai kata kunci pemabahasan dimaksud adalah: Kata kunci: Ontologi, Metafisika, Epistemologi, dan Aksiologi.


Abstract 


The background of this writing is because of the need to collect and unify the understanding of what and how ontology, metaphysics, epistemology and axiology are understood. Therefore, it is necessary to focus on giving the title of this discussion, namely, “Ontology, Metaphysics, Epistemology, and Axiology. 

The writing method that the author applies is the library research method, by collecting and analyzing information from various existing reference sources and its validity can be accounted for. So that it can be taken advantage of and a 'careful and comprehensive understanding.'

The keywords of the discussion are: Keywords: Ontology, Metaphysics, Epistemology, and Axiology.


نبذة مختصرة


تعود خلفية هذه الكتابة إلى الحاجة إلى جمع وتوحيد فهم ماذا وكيف يتم فهم الأنطولوجيا والميتافيزيقيا ونظرية المعرفة وعلم الأكسيولوجيا. لذلك ، من الضروري التركيز على إعطاء عنوان لهذه المناقشة ، أي "علم الوجود ، والميتافيزيقا ، ونظرية المعرفة ، وعلم الأكسيولوجيا. 

طريقة الكتابة التي يطبقها المؤلف هي طريقة البحث في المكتبة ، من خلال جمع وتحليل المعلومات من مختلف المصادر المرجعية الموجودة ويمكن حساب صحتها. حتى يمكن الاستفادة منها و "الفهم الدقيق والشامل". 

الكلمات الرئيسية للمناقشة هي: الكلمات الرئيسية: علم الوجود ، الميتافيزيقيا ، نظرية المعرفة ، وعلم الأكسيولوجيا.



  1. PENDAHULUAN


Pada bagian ini, kita akan membahas lebih detail tentang definisi ontologi, baru kemudian diimplementasikan dalam konteks ilmu hukum. Cakupan bagian ini adalah: pertama, membedakan ontologi dengan metafisika. Kedua, memahami obyek material dan obyek formal. Dan ketiga, medefinisikan Hukum secara ontologis. Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang ada. Ontologi berasal dari istilah dalam bahasa Latin, ontologia yang berarti “ilmu keberadaan”.

Sains cenderung pada pengalaman empiris (dibuktikan secara inderawi). Filsafat menambahkan pikiran-pikiran logis (rasional) yang tidak selalu harus dibuktikan oleh indera. Agama menambahkan lagi “rasa”, dimensi bathin di atas indera dan rasio. Oleh karena itu filsafat Ilmu adalah cara filosofis untuk memahami ilmu. Sirajuddin Zar berkomentar dalam pengantar bukunya berjudul, “Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya” ada orang yang beranggapan bahwa filsafat Islam bertentangan dengan Alquran dan hadis. Padahal, yang dibicarakan di dalamnya  adalah masalah-masalah yang tidak ditemukan penegasannya dalam Alquran dan hadits (zhanny al-dalalah). Dengan kata lain, filsafat dari filosof Muslim ini dapat disebut hasil ijtihad, sama posisinya dengan hasil ijtihad ahli fiqih dalam bidang hukum Islam dan termasuk kebudayaan.


Metode penulisan yang penulis terapkan adalah metode kepustakaan (library research), dengan cara mengumpulkan dan menganalisa informasi dari berbagai sumber referensi yang ada dan dapat dipertanggungjawabkan kevalidannya. Sehingga dapat diambil manfaat dan pemahaman yang cermat dan kompreensif.


Filsafat Ilmu juga disebut sebagai theory of science karena membahas pokok-pokok dari suatu ilmu. Secara tautologis juga disebut science of science karena meneliti suatu ilmu secara ilmiah. Disebut juga metascience karena bersifat melampaui (beyond) suatu ilmu. Kadang juga disamakan dengan methodology karena fokus kuatnya pada cara kerja suatu ilmu. Sehingga memunculkan aksiologi keilmuan yang semakin memberikan warna dalam budaya berpikir manusia yang beragam dan kritis. Baik terkait dengan penilaian baik-buruk maupun tentang keindahan.


Pembahasan kali ini penulis berusaha dengan maksimal mungkin untuk memaparkan tentang ontologi, metafisika, epistemologi dan aksiologi. Sekaligus sebagai kata kunci dari analisis ini. Oleh karena itu perlu dibuatkan fokus pembahasannya yaitu apa dan bagaimana keempat istilah tersebut dapat dipahami dan diaplikasikan dalam memahami ilmu sebagai tumpuan harapan untuk kemajuan dan perkembangan budaya berpikir dan memupuk akal-budi terus memunculkan budaya kemanusiaan sebagai wakil Tuhan (khalifah fil ardh) di bumi sekaligus sebagai hamba yang akan memakmurkan bumi Tuhan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga menjadi rahmat seluruh alam.


Filsafat Ilmu merupakan upaya untuk memastikan suatu pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu (sains).


  1. PEMBAHASAN


  1. Ontology/Metafisika


  1. Definisi Ontologi

Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang ada. Ontologi berasal dari istilah dalam bahasa Latin, ontologia yang berarti “ilmu keberadaan”. Istilah tersebut dimunculkan pertama kali oleh filsuf Jerman Jacob Lorhard (1561-1609) dan kemudian semakin dipopulerkan oleh rasionalis Jerman Christian Wolff (1679-1754). Dengan demikian ontologi merupakan istilah yang relatif baru. Adapun pembahasan tentang “ada” dalam sejarah filsafat tercakup dalam pembahasan metafisika. Ontologi disebut pula sebagai metafisika umum (Mustansyir, 2001: 11). Perihal yang dikaji dalam metafisika adalah masalah keberadaan, tepatnya tentang karaktersitik umum dari keberadaan.


  1. Sejaran Munculnya Istilah Ontologi

Pertanyaan yang perlu dijawab terkait dengan Ontologi dan hubungannya dengan Metafisika adalah Ontologi dan Metafisika, apa bedanya?. Ketika istilah Ontologi belum banyak digunakan, para filsuf dan orang terpelajar lebih familiar dengan istilah Metafisika. Sama halnya Ontologi yang mempertanyakan hakikat, Metafisika juga mempertanyakan “hakikat segala sesuatu yang ada dan mungkin ada”. Yang dipikirkan dalam Metafisika bukan hanya fenomena/physic, namun metha (beyond/ melampaui) fisik. Apapun yang dapat dipikirkan, meskipun tidak dapat diidentifikasi dimensi fisik/meterinya, dapat masuk wilayah kajian metafisika. Sekedar contoh, dapat dilihat pada diskursus filsuf klasik berikut: Perdebatan para “pencari hakikat” pada periode filsafat (Barat) klasik yg hidup sekitar 600-300 SM.

Pertanyaan-pertanyaan muncul dari para filosof seperti Thales berkesimpulan tentang inti alam semesta adalah air, Anaximedes berkesimpulan udara, Anaximandros to aperion, Phytagoras mengatakan bilangan, Herakleitos menjawab Api (Pantha rei), Parmeneides menjawab Ada (satu, tetap), dan Demokrituos berpendapat Atomos. 

Dari contoh di atas dapat kita lihat, ketika ditanyakan hakekat alam semesta, sebagian filsuf menjawab dengan menunjuk suatu materi fisik: air, udara, api, atomos (benda terkecil yang tak terbagi, kemudian disebut atom, meski terbukti dalam sains modern atom masih dapat dibagi lagi). Sebagian menjawab dengan menyebut sesuatu yang tidak jelas fisiknya, beyond physic, sesuatu yang abstrak: bilangan, to apeiron (yang tak terbatas), pentha rei (yang terus berubah), yang satu ada (monisme). Baik yang merujuk pisik maupun non-pisik, semuanya masuk dalam ranah metafisika. 

Pengakuan dua dimensi itu dibakukan oleh Plato dengan dualisme (alam idea dan non-idea). Namun namun saat itu belum dikenal istilah metafisika. Metafisika didapati dalam risalah Aristoteles, murid Plato. Aristoteles menyebutnya sebagai “The Firs Philosophy”. Istilah metafisika justru tidak dibuat oleh Aristoteles sendiri. Tetapi oleh Andronikos (tahun 70 M), editor karya-karya Aristoteles.

Dualisme Plato bertahan sangat lama, ketika masa dominasi Kristen Eropa (abad 3 – 15) dan masa keemasan filsafat Islam di Baghdad dan Andalusia (9-13), metafisika masih ada. Namun sejak Barat berubah sekuler, mencampakkan tuhan agama (abad 15), memuja kemanusiaan dan akal, dan ditopang keberhasilan sains dan teknologi dalam revolusi industri, maka metafisika ikut tersingkir dan digantikan Ontologi.


  1. Lahirnya Ontologi

Sebagai konsep ontologi diulas pertama kali oleh Jacob Lorhard dalam bukunya Ogdoas Scholastica (1606). Namun baru populer setelah muncul karya Christian Wolf “Philosophia Prima Sive Ontologia” (1730). Ontologi mempertanyakan “hakekat ada” namun membatasi diri pada paradigma sains saat itu yang telah berubah kearah “pisik” (empiris, materialis), dan menafikan dimensi abstrak, apalagi mistis dan agama. Dengan keilmuan barat yang sekuler saat itu, Ontologia berhasil mengambil alih posisi Metafisika.

Meskipun ontologi telah menjadisalah satu indikator keilmiahan suatu bidang ilmu, bukan berarti Metafisika sama sekali hilang. Keinginan untuk kembali pada metafisika juga selalu ada. Untuk menjembatani dua corak pencarian hakikat ini, biasanya dibuat pembagian berikut:

Intinya, ilmu-ilmu di luar teologi, kosmologi, dan ilmu-ilmu sosial humaniora, harus dihakimi dengan ontologi. Bahkan dalam perkembangannya, ilmu sosial juga terkena imbas ontologi.


  1. Ontologi dalam Filsafat

Dalam filsafat ilmu, Ontologi mempertanyakan hakikat suatu ilmu. Untuk menjawab pertanyaan ontologi ini, setiap ilmu dituntut memiliki kejelasan dan distingsi (pembeda) dibanding ilmu-ilmu lain. Caranya dengan menegaskan “Obyek Material dan Obyek Formal” dari ilmu tersebut. Obyek material memberikan kejelasan tentang “apa yang dikaji” oleh suatu ilmu. Obyek formal, memberikan batasan ruang lingkup kajian ilmu tersebut.

Sebagai contoh dapat dilihat tentang ontologi ilmu hukum, sebagai berikut:

Obyek material hukum     : Hukum adalah ekspresi kebenaran dan keadilan yang dapat ditemukan baik pada undang-undang yang dibentuk oleh legislator maupun pada putusan hakim atau pada buku-buku hukum karya para ilmuan hukum.

Obyek formal hukum    : 

1. Sejarah hukum yang meneliti tentang perkembangan historial dari pengertian hak milik;

 2. Sosiologi hukum : suatu kajian atau telaah sosiologikal tentang faktor-faktor yang menentukan efektivitas atau keberhasilan perundang-undangan;

3. Ilmu hukum praktikal : mengkaji teks-teks otoritatif seperti anotasi putusan-putusan pengadilan (jurisprudensi) dengan pendekatan normatif. 

Definisi Ontologi tersebut sudah sah dan benar, sebab ontologi hanya menghendaki kejelasan obyek kajian. Artinya, untuk membuat definisi ontologis suatu ilmu, kita tidak perlu menyebutkan kegunaan ilmu itu (sebab itu wilayah aksiologi), atau bagaimana ilmu itu diuji validitasnya (wilayah epistemologi). Lain halnya jika kita hendak membuat definisi filosofis suatu ilmu, maka akan jadi lebih panjang, sebab melibatkan dimensi epistemologis dan aksiologis.

 

  1. Epistemologi 


  1. Definisi Epistemologi

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “episteme” dan “logos”. Episteme berarti pengetahuan (knowledge) dan logos dapat berarti teori, sehingga dalam literatur berbahasa Inggris, epistemology juga sering disamakan dengan theory of knowledge. Sedangkan dalam bahasa Indonesia juga sering diterjemahkan sebagai filsafat pengetahuan. Secara terminologis, epistemologi diartikan sebagai cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan. Dapat pula diartikan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari karakter, batasan, dan metode pengetahuan. Waston juga mengutip mendapat Suriasumantri epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan, yakni meliputi apa saja yang menjadi sumber-sumber pengetahuan, kemudian hakikat pengetahuan, batas-batas dan lingkup pengetahuan, kemungkinan manusia mendapat pengetahuan, hingga batas kemampuan manusia terhadap pengetahuan. Dari segi sejarah, istilah epistemologi pertamakali digunakan oleh J. F Ferier pada tahun 1854. Solihin, menyimpulkan pendapat para ahli tentang definisi epistemologi yaitu teori tentang ilmu yang membahas ilmu dan cara memerolehnya, kemudian membahasnya secara mendalam (subtansial). 

Epistemologi memiliki objek material berupa pengetahuan, sedangkan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan. Persoalan penting yang dikaji dalam epistemologidi antaranya adalah: 

1. Asal-usul pengetahuan 

2. Peran pengalaman (empiris) dalam pengetahuan 

3. Peran akal (rasio) dalam pengetahuan 

4. Hubungan antara pengetahuan dan keniscayaan 

5. Hubungan antara pengetahuan dan kebenaran 

6. Kemungkinan skeptisisme universal 7. Bentuk-bentuk perubahan pengetahuan. 

Waston menguraikan pendapat Sudarminta, bahwa epistemologi bermanfaat karena tiga alasan. Pertama, atas dasar pertimbangan strategis, sebab mempelajari epistemologi sangat penting karena ilmu pengetahuan juga sangat penting bagi manusia untuk mengetahui validitas ilmu. Karena ilmu pengetahuan tidak dapat diukur hanya dari manfaatnya saja. Namun proses pemerolehannya juga perlu dicermati. Kedua, pertimbangan kebudayaan. Epistemologi diperlukan untuk mengungkap pesan sesunggunya yang ada dalam setiap ekspresi budaya. Baik material maupun non-material, lisan maupun tulisan, seringkali berbentuk simbolik. Hal ini bertujuan menjaga kebermanfaatannya bagi orang yang berada dalam lingkup budaya tersebut. Ketiga, atas dasar pendidikan. Karena sifat pendidikan adalah usaha sadar. Ia tidak sesimbolik budaya. Transparansi menjadi ciri utama bagi pendidikan. Hal ini berguna untuk penetapan visi, kurikulum, capaian pembelajaran, penentuan mata kajian untuk diajarkan, proses pembelajaran, hingga evaluasi hasil pembelajaran. Seluruhnya merupakan proses yang menuntut ketajaman dalam memahami striktur ilmu pengetahuan. Hal tersebut menujukkan bahwa epistemologi akan selalu bermanfaat karena ia bagian dalam setiap tahapan pendidikan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Lebih lanjut, epistemologi dapat diklasifikasikan dalam tiga corak yaitu epitemologi metafisi, epistemologi skeptis, dan epistemologi kritis. 

Pertama, epistemologi metafisis untuk melihat gejala pengetahuan yang berangkat dari pengandaian metafisis. Seringkali diawali dari pemahaman tertentu terhadap kenyataan. Setalah itu, membahas bagaimana memahami kenyataan tersebut. Sebagai contoh: ketika Plato beranggapan bahwa realitas hakiki adalah dunia ide, artinya epistemologi hanya sebagai kegiatan jiwa untuk mengingat (anamnesis) kenyataan hakiki yang pernah dilihat oleh jiwa dalam dunia ide. 

Kedua, epistemologi skeptis yaitu mengidentifikasi sedini mungkin apa saja yang diyakini sebagai nyata dan yang tidak dapat diyakini sebagai nyata. Kemudian yang nyata dianggap benar, sedangkan yang tidak nyata atau yang meragukan dianggap tidak benar. Contoh filsuf yang menggunakan epistemologi ini adalah Rene Descartes yang dikenal dengan metode skeptisnya dimana segala sesuatu perlu diragukan kecuali keragu-raguan itu sendiri.

Ketiga, epistemologi kritis. Corak ini berangkat dari pemiiran ilmiah yang sudah ada dalam kehidupan, lalu ditanggapi secara kritis baik asumsi, prosedur, dan kesimpulan yang ada pada pemikiran dimaksud. Artinya, pemikiran yang telah lalu diposiskan sebagai data untuk diuji kebenarannya. Langkah pertama yang mesti dilakukan adalah mempertanyakan kembali pemikiran yang selama ini dianggap benar.

Keempat, epistemologi individual (natural epistemology). Corak ini menitikberatkan pada proses manusia sebagai subjek penahu, terlepas dari konteks sosialnya atau dalam maksud lain bagaimana struktur pemikiran manusia bekerja untuk mengatahui sesuatu secara alami. Selanjutnya epistemologi individual juga dikenal dengan evolutionary spistemology. Karena ia bersifat evolutif (lambat) tidak banyak perubahan.

Kelima, epistemologi sosial. Corak ini menitiberaykan pada data sosiologis. Faktor yang sangat menetukan epistemologi sosial ini adalah hubungan sosial, kepentingan sosial, dan lembaga sosial dalam proses, cara maupun memperoleh pengetahuan.

Menyimak penjelasan di atas bahwa secara metodogis adalah baik ontologi, metafisika dan epistemologi adalah komponen penting untuk mencari kebenaran sesuatu. Dalam sistem kebenaran sebagai realitas sering dipadukan bagaimana kedudukan kebenaran Agama, ilmu dan filsafat?. Pertama, kebenaran agama. Schuon sebaimana dikutip oleh Hidayat bahwa hakikat kebenaran dalam agama-agama terletak pada pada tingkat esoteris yang hanya dapat diperoleh melalui pengetahuan metafisik. Oleh karena itu, pemgetahuan metafisik merupakan “sumber asal kebenaran”. Wujud dari kebenaran tersebut ada pada pengetahuan teologis yang hanya bisa dipahami dengan bahwa “dogmatis”. Selanjutnya menyikapi kebenaran agama menurut Reimundo Panikkar sebagai mana diuraikan Hidayat bahwa hal tersebut dapat dipahami secara eksklusivisme, inklusivisme, dan paralelisme. Eksklusivisme adalah  menganggap agama sendiri yang benar. Inklusivisme adalah sikap menerima dan toleran terhadap adanya tatanan-tatanan berbeda, artinya kebenaran agama bersifat “relatif murni”. Sedangkan paralelisme adalah sikap menyejajarkan semua kebenaran agama. Dari penjelasan tersebut dipahami bahwa kebenaran agama mencakup kebenaran tektual (wahyu) yakni kebenaran yang ada dalam kitab suci dan kebenaran empirik berdasarkan penyikapan, pemahaman, dan interpretasi dari kebenaran tektual. Kedua, kebenaran filsafat adalah kebenaran dari penganalisisan yang logis dan rasional yang tidak membutuhkan pembuktian empiris. Sedangkan yang ketiga adalah kebenaran ilmu. Kebenaran keilmuan mempunyai ruang lingkup yang terbatas. Ia adalah kebenaran yang mesti didukung oleh fakta-fakta empiris sebagai tolak ukur diterima atau tidaknya kebenaran dimaksud.

Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa kebenaran agama, filsafat, dan ilmu adalah berbeda disebabkan paradigma atau kerangka berpikir yang digunakan juga berbeda. Namun, ketiga corak kebenaran tersebut secara fungsional sangat berguna bagi pengembangan dan kemajuan kehidupan manusia agar lebih baik.


  1. Aksiologi

Aksiologi berasal dari kata axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, sedangkan logos bearti akal, teori, atau ilmu. Dengan demikian, aksiologi merupakan ilmu tentang nilai atau teori nilai. Kemudian aksiologi dibagi dua, yaitu etika (baik-buruk) dan estetika (keindahan). Pertama, Etika membahas tentang nilai kebaikan. Kedua, estetika membahas tentang nilai keindahan.

Contoh kasus etika: “Satu pleton tentara sedang berlatih melempar granat aktif. Tanpa disengaja, sebuah granat yang telah ditarik pemicunya terlepas di tengah-tengah gerombolan tentara yang berjumlah 10 orang. Dapat dibayangkan apa yang segera terjadi jika granat tersebut meledak di tengah-tengah mereka. Tentu 10 orang tentara akan menjadi korban ledakan granat tersebut. Lalu tiba-tiba salah seorang dari mereka menjatuhkan diri dan mendekap granat itu di dadanya. Seketika granat tersebut meledak. Satu orang tewas dan sembilan lainnya selamat”.

Contoh kasus estetika: A memilih lukisan nomor 1, karena dengan melihat lukisan itu ia merasa bersemangat, adreanalinnya terpacu. Bagi B, lukisan nomor 3 jelas lebih indah, ia merasakan kesejukan, bukan hanya karena keindahan alam, namun ditambah lagi dengan nuansa relijius yang menentramkan. Tapi C bilang lukisan 2 lebih indah, karena terbukti terjual dengan harga paling mahal.

Dari kasus tersebut muncul banyak pertanyaan:


  • Mengapa pilihan kita tidak sama? 

    • Keindahan itu melekat pada bendanya, atau hadir dari subyektfitas penikmatnya? 

    • Apakah pilihan anda pasti lebih baik daripada pilihan orang lain? 

    • Apakah boleh kita mengatakan, “selera kamu rendah”? 

    • Kalau boleh, lantas apa ukuran rendah dan tingginya selera terhadap keindahan? 

    • Apakah yang mahal selalu yang paling indah bagi setiap orang? 

(sama dengan pertanyaan: Apakah lebih kaya adalah jaminan lebih bahagia)

Banyak yang menyerah ketika harus menjawab pertanyaan itu, sebab indikator indah-jelek (estetika) menjadi penyelidikan paling sulit, dibanding mencari benar-salah (logika) dan baikburuk (etika).

Beberapa upaya merumuskan estetika/keindahan: Confucius, Filsuf Cina: yang indah adalah yang mengembangkan karakter manusia. Earl of Shaftesbury, seniman inggris abad 17, yang indah adalah yang ekuivalen dengan kebaikan moral. Friedrich Schiller, filsuf abad 18, yang indah adalah yang memadukan secara sempurna aspek rasio dan sifat manusia. Agamawan umumnya: yang indah adalah yang mengungkap keagungan Tuhan.


Indah universal

Meskipun indikator keindahan sulit ditentukan, namun boleh saja kita meyakini adanya keindahan universal (meminjam istilah Imanuel Kant, meski lebih tepat diistilahkan keindahan komunal). Artinya ada realitas-realitas yang secara umum dianggap indah (meski tidak tentu 100% sepakat). Misalnya, kita dapat mengatakan “suara Nisa Sabyan indah” karena banyak orang yang menyukai (meskipun kita tahu sebagian orang lebih suka suara Habib Syech). “Claudia Cynthia Bella cantik” karena banyak orang mengakui itu, meskipun bagi saya istri saya lebih cantik. 

Keindahan universal memudahkan kita untuk mengenali: “kelompok mana suka dengan keindahan jenis ini”


• Kelompok mana suka warna pink? remaja putri 

• Kelompok mana suka rasa stroberi? Anak-anak 

• Kelompok mana suka pasta gigi aroma cengkeh? Bapak-bapak


Empat islatilah tersebut digunakan dan diaplikasikan dalam berbagai bidang keilmuan. Baik bidang theologi maupun humaniora (sosial), dan muncul kajian tentang agama-agama seperti Islamologi, begitu juga bahkan tentang manusia dan realitas. Berdasarkan pernyata ini, penulis memberikan empat contoh pembahasan yang berbeda tersebut. Sebagaimana penulis paparkan dibawah ini.


  1. Bidang Theology

Salah satu cara berpikir terbaru yang diambil dari pola berpikir yang sudah lama berkembang di Nusantara (indonesia) yang digagas oleh Taufik Rahzen tentang Spritualitas Bumintara, beliau menyimpulkan pada lima point penting terkait dengan hal tersebut. Menurut Taufik Rahzen ada lima Kaidah Umum Spritualitas Bumintara, yaitu:


  1. Kaidah pertama: Peleburan antara diri, alam dan Yang-tak-terungkap. Semuanya terhubung dalam jaringan kehidupan yang disimbolkan dalam Pohon Hayat. Upaya memanjatkan doa dan kepasrahan pada kuasa bumi, menjadi ciri utama pengalaman spritual bersama. Beragam mitos dan prasasti, senantiasa mengisahkan kembali tentang pertumbuhan diri dan asal usul. Kalpawreksa, Kalpataru, Batang Garing, Gunungan dan Perahu leluhur, senantiasa hadir kembali.

  2. Kaidah kedua: Rasa dan bukan rasio sebagai pendekatan utama untuk menilai realitas. Rasa melahirkan tepa selira dan tenggang rasa atas kehadiran yang lain. Karenanya budi-daya lingkungan dicapai melalui pengelahan daya-budi yang terus menerus. Kebudayaan merupakan dialektika antara budi-daya dan daya-budi dalam ruang waktu.

  3. Kaidah ketiga: Daya bertahan hidup dicapai melalui kemampuan adaptasi dan kecerdasan dalam kerjasama. Mereka yang bertahan bukanlah yang paling kuat, namun yang mampu berinteraksi. Gotong royomh menjadi cara sekaligus tujuan keberadaan; baik untuk melewati beragam bencana dan wabah maupun dalam menciptakan tatanan baru.

  4. Kaidah keempat: Upacara merupakan wahana utama untuk menyelesaikan kritis. Melalui ritus sosial kenyataan diciptakan kembali, disegarkan dalam pertumbuhan bersama. Ritus lebih utama daripada doktrin, karena upacara melampaui perbedaan dan sengketa. Setiap individu menyerahkan diri dalam komunitas, dan setiap komunitas melebur dalam upacara. 

  5. Kaidah kelima: Kebenaran selalu hadir secara simbolik dalam bahasa lisan. Karenanya kelisanan lebih utama daripada tulisan (teks) dalam mengungkapkan yang sakral. Berbeda dengan umat-kitab, pada penganut spritualitas Bumintara mempunyai hirarki bahasa yang kompleks. Kebenaran diperoleh melalui percakapan dan belarasa, bukan melalui doktrin tunggal. Konteks lebih utama dari teks.

Lima kaidah utama spritualitas Bumintara di atas, dapat menjadi platform untuk pemajuan kebudayaan dan kerja sama global. Kaidah utama ini telah tersirat dan tersurat dalam rumusan Pancasila. Menyonsong alaf baru dunia paska pandemi, dibutuhkan modal spritual yang lebih inklusif (terbuka), adaptif (interaksi) dan lebih peka terhadap imajinasi spesies manusia.


  1. Bidang Humaniora 

Contoh yang penulis paparkan berikut adalah salah satu bidang humaniora, yaitu satu bidang ilmu terkait dengan Psikologi Islam. Penulis akan memaparkan sejarah pemikiran asal-usul munculnya psikologi Islam. Kemudian menerapkannya dalam beberapa point yang dirasa penting untuk dipelajari dan dipahami agar dapat menjadi nilai aksiologis yang berkesinambungan. 

Tonggak awal psikologi adalah di Laboratorium Psikologi di Frankfurt oleh Wilhelm Wunt tahun 1879. Aliran mainstream psikologi Barat yaitu Psiko Analisis, Behaviorisme dan Humanistik. Tiga aliran ini tidak mengakui eksistensi Spritualitas apalagi agama. 

Pertama: Psiko Analisis tokohnya yang terkenal adalah Sigmund Freud. Objek psikologi ini adalah ketidak sadaran (uncounscious). Padangan terhadap manusia bersifat pesimistis: manusia ditentukan oleh masa lalunya. Jika masa lalunya jelek, maka tidak mungkin lagi dia menjadi baik. Kedua: Aliran Behaviorisme tokohnya adalah Watson, dimana objek psikologi ini adalah prilaku, karena hanya prilaku yang bisa distudi secara ilmiah. Cirinya pandangan terhadap manusia sangat pesimis, karena manusia sepenuhnya dikendalikan oleh lingkungan (secara konsisten dari teori Stimulus dan Responnya). Dan Ketiga: Aliran Humanistik. Tokohnya adalah Abraham Maslow. Objek kajian psikologi ini adalah sifat-sifat manusia yang tinggi seperti cinta kasih, kebijakan dan lain-lain. Ciri psikologi ini pandangan terhadap manusia over-optimistik. Karena manusia dianggap sangat kuat dan hebat, mampu melakukan apa saja, dan tidak memerlukan “tuhan” lagi (play-god).

Perkembangan lebih lanjut dari aliran Humanistik adalah Psikologi Transpersonal (spritual). Tokohnya antara lain yaitu Charles T. Tart. Objek Psikologi selain personal juga transpersonal (spritual). Untuk pertama kali dalam secara psikologi barat mengakui eksistensi spritualitas. Menurut Charles T. Tart, akar persoalan kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, bencana, kerusakan lingkungan, kekerasan dan lain-lain adalah bersumber dari rusaknya spritualitas manusia. Oleh karenanya perbaikannya adalah dengan memperbaiki spritualitas juga. 

Paparan tema ini diuraikan oleh Sekar Ayu Arya dalam moment Kuliah Filsafat di Sekolah Filsafat Musa Asy `Arie melalui kuliah Zoom pada hari Minggu tanggal 21 November 2021 dengan dimoderatori oleh Naufal Kurniawan, M.Ag.


  1. Starting Point Religius Studies

Kebutuhan agamawan akan Psikologi untuk menyembuhkan penyakit psikologis korban PDII. Semangat studi agama secara ilmiah, khususnya yang dipelopori aliran emperisme Amerika yaitu oleh William James, G. Stanley Hall, J.H. Leuba, Albert Cue.


  1. Aksesntuasi Filsafat Ilmu

Ilmu pengetahuan Yunani menitik beratkan pada aspek Ontologi. Hal yang dikejar adalah kebenaran substantif, menekankan pembahasan mendalam pada substansi atau sesuatu yang ada, baik dalam kognisi maupun pengalaman indrawi. Sedangkan ilmu pengetahuan barat menitik beratkan pada dimensi Epistemologi. Filsafat ilmunya menekankan pada proses dan motode ilmiah sebagai sarana mencapai kebenaran. Asumsinya: kebenaran sangat tergantung pada metode yang digunakan untuk sampai kepada kebenaran yang absah.

Paradigma barat kurun perempat abad 20 yang dipelopori oleh Toulmin, Thomas Kuhn, Karl Popper dan Bohm. Mereka mendudukkan ilmu dalam perspektif Weltanschauung. Tesisnya adalah pengamatan dipengaruhi oleh pandangan hidup, bahwa pemberian makna terkait dengan pandangan hidup.

Sementara itu Islam menekankan pada Aksiologi. Aksiologi merupakan Weltanschouung yang berfungsi sebagai landasan untuk mengkonstruksi fakta. Artinya, Islam tidak menghendaki keterpisahan ilmu  dengan sistem nilai (agama). Ilmu adalah fungsionalisasi ajaran wahyu, hasil dialog antara ilmuan dengan realitas yang diarahkan perkembangannya oleh wahyu (Al Qur’an).

Ahli-ahli Tasawuf menganggap bahwa dunia makrokosmos (seluruh tatanan ciptaan Tuhan) dan mikrokosmos (tatanan ciptaan pada manusia) terdiri dari materiil (bendawi), psikis (animistik) dan spritual (malakut). Sedangkan ahli lain beranggapan bahwa baik makrokosmos maupun mikrokosmos terdiri dari: Observable area (wilayah yang teramati), conceivable area (wilayah yang terpikirkan) dan unconceivable (wilayah tak terpikirkan).

Secara umum dalam nalar keilmuan Barat, sesuatu dikatakan benar jika, “terdeteksi oleh indera (observable, empiric), dapat diukur (measurable), dan dibuktikan ulang (verifiable). Hal-hal yang metafisik dan transendental tidak dapat dikenai kriteria tersebut sehingga tidak bisa disebut kebenaran.

Dalam Islam, hal yang transendental termasuk kebenaran. Karena Islam juga mengakui unconceivable area dan observable area. Bahkan kebenaran mutlak hanya milik Allah, sementara kebenaran yang dicapai manusia tetap bersifat probabilitas (ada proporsi benar dan mungkin memuat proporsi salah). Oleh karena itu, kebenaran dalam Psikologi Islam bersifat: Pertama,  Integratif-probabilistik. Hal ini dapat dicapai melalui usaha-usaha ilmiah, namun tetap mengakui bahwa hasilnya memuat nilai benar dan salah. Kedua, Aspektif yaitu tergantung dari karakteristik objeknya. Tidak semuanya harus dicari, tetapi ada beberapa hal yang cukup disyukuri. Jadi, tidak semuanya harus diempiriskan, ada yang cukup dinalar logis, ada yang memerlukan penjelasan etis, ada yang cukup disyukuri saja. Misalnya: Syukur kita tidak tahu kapan ajal menjemput, besok kaya atau miskin, dan lain-lain.

Dengan dua karakteristik tersebut, membuat manusia semakain arif dalam meneliti. Untuk meneliti yang empirik kita bisa mempergunakan metodologi positivisme, meneliti yang teoritik bisa digunakan metode rasionalistik. Meneliti keagamaan dengan metodologi realisme metafisik.

Salah satu weltanschauung Islam adalah menjadi rahmat semesta alam. Maka dari itu Psikologi Islam juga harus berguna bagi semua, tidak eksklusif pada muslim saja. Kata “Islam (i)” dalam Psikologi Islam (i) menunjukkan bukan Psikologi konvensional. “Islam (i)” disini adalah sebuah proses atau hasil “pengislaman”?. “Pengislaman” disini apakah masuk dalam kategori “islamisasi Ilmu Pengetahuan” atau Pengilmuan Islam?.

Islamisasi Pengetahuan dilakukan dari konteks ke teks. Sebagai contoh: konsep manusia menurut Psikologi mainstream Barat ke konsep Manusia menurut Islam. Sedangkan Pengilmuan Islam berawal dari teks ke konteks. Sebagai contoh dapat dilihat pada teks-teks al-Qur’an dan Hadits tentang manusia ke konsep manusia menurut Islam.

Berdasarkan paparan di atas dapat dipahami bahwa pengilmuan Islam adalah proses. Sedangkan paradigma Islam adalah hasil dari pengilmuan Islam terhadap teks ke konteks. Oleh karena itu, paradigma Islam adalah konstruksi pengetahuan yang memungkin kita memahami realitas sebagaimana al-Qur’an memahaminya. Begitu juga Islam sebagai ilmu adalah proses dan hasil sekaligus.

Cara kerja yang diikuti adalah dengan Mendemistifikasi Islam (penghilangan mistik-menghubungkan agama dengan ilmu), untuk menghasilkan paradigma al-Qur’an untuk merumuskan teori yang akan menghasilkan Humaniora dalam al-Qur’an. Ilmu tersebut terdiri dari qauliyah, kauniyah dan nafsiyah).


  1. Epistemologi Paradigma

Strukturalisme Transendental yaitu bangunan ilmu pengetahuan bersifat transendental (abstrak, metafisik dan melampaui). Hal ini dapat diketahui dari empat ciri dan sifatnya dari transendentalisme transendental ini adalah: Pertama, Wholeness-suatu koherensi, sebagai contoh tentang Islam kaffah. Kedua, Transformation, mampu mengembangkan diri, tidak statis. Sebagai contoh transformasi Islam dari gerakan keagamaan di Mekah ke Politik di Madinah dan seterusnya. Ketiga, Self-regulation (mengatur diri sendiri) mesti ada pengembangan, tetapi tetap memelihara struktur, hal ini terlihat pada ijma’, qiyas terhadap al-Qur’an. Keempat, Inter-connectedness (keterkaitan) sebagai contoh; hablum minallah dan hablum minannas, innate structuring capacity (kekuatan pembentuk struktur). Sebagai contoh tauhid dan binary opposition (gejala saling betentangan) seperti mukmin vs musyrik, syukur vs kufur, surga vs neraka dan lain-lain.

Integralisasi dan Objektifikasi. Integralisasi yaitu pengintegralisasi kekayaan keilmuan manusia dengan Wahyu. Sedangkan Objektifikasi yaitu menjadikan pengilmuan Islam sebagai rahmat bagi semua orang (rahmatan lil `alamin). Dengan kata lain menerjemahkan nilai-nilai internal agama ke dalam kategori-kategori objektif. Suatu perbuatan disebut objektif bila perbuatan tersebut dirasakan oleh orang beda agama (non Muslim) sebagai sesuatu yang natural (sewajarnya), tidak sebagai perbuatan agama. Contoh: Sistem Ekonomi Islam, Sistem Politik Islam yang mendasarkan pada musyawarah dan berpihak pada kaum du`afa dan lain.

Ilmu integralistik adalah alur Agama (grand theory) – teoantroposentris (sumberilmu wahyu dan pikiran manusia). Dediferensiasi (penyatuan agama dengan sektor lain). Integralistik (ilmu penyatuan wahyu dengan temuan pikiran manusia). Sedangkan hal ini berbanding terbalik dengan Ilmu sekuler, alurnya Filsafat Rasionalisme-Antroposentrisme-Diferensiasi, selanjutnya menghasikan Ilmu sekuler.


  1. Quo Vadis Psikologi Islam?

Hal yang menjadi pertanyaan adalah Islamisasi Ilmu Pengetahuan? Dan termasuk dalam Versi manakah?. 

Ismail Faruqi berpendapat bahwa mesti masuk dalam perkembangan Ilmu Pegetahuan Barat yang ada dan filter yang sesuai dan tidak. Sedangkan Ziauddin Sadar memberi komentar bahwa ilmu pengetahuan Barat mengandung cacat bawaan, karenanya harus diganti dengan yang Islam secara keseluruhan. Mulai dengan membangun paradigma terlebih dahulu, dimana semuanya berasal dari dalam Islam.


  1. Psikologi Islami: Pengilmuan Islam atau Islamisasi Pengetahuan

Psikologi Islami, bagaimana operasionalisasinya jika dengan islamisasi Ilmu Pengetahuan? Apa plus minusnya versi Faruqi dan Ziauddin Sardar? Mana yang lebih menguntungkan bagi kita?

Pengilmuan Islam memungkinkankah diterapkan untuk “islamisasi” Psikologi”? Apa plus minusnya? Samakah Islamisasi ilmu versi Ziauddin Sadar?

Islam yang moderat, wasathiyah, tidak ekstrim, keras, konfrontatif, takfiri, dan  merasa benar sendiri, atau bersifat tengahan, damai, toleran, menyatukan, membebaskan, memerdayakan dan memajukan, atau beragama yang mencerahkan. Karena itulah Islam rahmatan lil `alamin membawa rahmat dan manfaat tidak hanya untuk seluruh umat manusia, tetapi juga bagi semesta alam. Inilah makna Islam rahmatan lil `alamin yang dipahami Islam moderat.


  1. Upaya melalui Pengembangan Ilmu

Pengilmuan Islam, yaitu menurunkan nilai Islam yang normatif menjadi teoritik. Hal ini dilakukan dengan dua cara:

  1. Menurunkan nilai Islam dari sumbernya yaitu al-Qur’an dan Hadis, kemudian dihadapkan pada fakta empirik, kemudian dilakukan proses Theory-Contruction. Seperti dalam Ekonomi Islam. 

  2. Proses integrasi-interkoneksi, yaitu mendialogkan ilmu keIslaman dengan ilmu lain yang relevan. Sehingga menghasikan ilmu ilmu yang solutif, dapat menjawab permasalahan jaman.

Kedua cara di atas mengandaikan adanya sikap terbuka terhadap keilmuan lain di luar Islam. Sejarah Islam mengajarkan kita tentang Paradigma Ilmu yang sifatnya terbuka. Hal ini dapat terlihat pada Ilmu Politik Keagamaan Rumawi dan Filsafat Yunani.


  1. Potensi Pengahambat Islamisasi Ilmu


  1. Ilmuan muslim yang mempunyai prejudice permanen terhadap keilmuan Barat.

  2. Penolakan terhadap ilmu yang jelas bermanfaat, tetapi ditolak karna dasar prejudice. Contoh: penolakan terhadap hermeneutik dan Studi Agama-agama (pluralisme Agama). Padahal, hermeneutik diperlukan untuk menafsirkan yang bersifat kontekstual, dan studi Agama-agama diperlukan untuk kehidupan yang harmonis antar penganut agama dan bidaya berbeda.


  1. Perkembangan Keilmuan Barat (yang perlu dipertimbangkan)

Sekularisme dan Liberalisme Barat terpengaruh Trauma Dominasi Gereja dan Feodalisme dalam pengalaman Barat. Perkembangan Filsafat Ilmu Barat dari dominasi Positivisme menuju Post Positivisme yang lebih humanis. Barat dengan segala sumber dayanya sangat produktif dalam mengahasikan ilmu dan teknologi. Sikap yang tertutup hanya akan menjadikan umat Muslim semakin tertinggal. Yang diperlukan adalah sikap terbuka dan kritis.


  1. Islamologi

Abu Su`ud dalam bukunya, “Islamologi: Sejarah, Ajaran, dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia” menjelaskan bahwa Islamologi sudah banyak dipelajari di kampus-kampus dan beredar kajian-kajiannya secara luas. Penyebaran pembelajaran ini tersebar di Kampus pada Fakultas Hukum, Fakultas Sosial, Politik maupun Sastra Jurusan Sejarah. Diberbagai perguruan tinggi. Oleh karena untuk memperjelas kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana islamologi? Perlu dibahas dan diberikan pemahaman.

Islamologi mengandung arti ilmu tentang agama Islam. Yang dimaksud tentu saja apa yang berkaiatan dengan agama Islam, bahkan tentang penduduk negeri-negeri Islam, serta peranan Islam dalam peradaban umat manusia. Kata imbuhan logi yang berasal dari kata Latin logos, bearti pengetahuan, kajian, atau studi tentang suatu objek kajian tertentu. Oleh sebab itu Islamologi dimaksud adalah kajian atau studi tentang Islam.


  1. Manusia dan Realitas

Tulisan ini didasari dari Kuliah Filsafat pada Sekolah Filsafat Musa Asy`arie. Materi kuliah pertemuan kesebelas oleh DR. Fahruddin Faiz berjudul “Keberagamaan Manusia Masakini: Etos Digital dan etos spritual”. Manusia dengan segala keistimewaannya sebagai makhluk yang mulia, mukallaf, mukhayyar dan mujzi akan tanpak pada pembahasan berikut secara jelas dan rasional. Pada akhirnya tujuan akhir penciptaan makhluk adalah manusia, dan sekaligus tujuan akhir hidup manusia adalah untuk kembali lagi kepada Allah sang Mahapencipta dan Mahamenerima segala kondisi manusia sekarang maupun kelak di akhirat.


  1. Keistimewaan Manusia dalam Filsafat (ISLAM)


  1. Tujuan akhir penciptaan

  1. Kesadaran keistimewaan Manusia

  2. Arogansi, Rasa tinggi dan kuasa atas yang lain

  1. Mikrokosmos

  1. Kesadaran bagian dari kosmos, harmoni, rasionalitas

  2. Pasif, kekurangan inisiatif dan tanggung jawab pengembangan

  1. Cermin Tuhan

  1. Kesadaran spritual, hakikat hidup

  2. Menyisihkan diri manusiawi


  1. Perkembangan Manusia


  1. Perspektif fatalistik

  2. Perspektif humanistik

  3. Perspektif dualistik

  4. Perspektif behavioristik


  1. Mengapa Harus Rasional

Rasional adalah pendayagunaan akal budi. Prinsip-prinsip rasional itu adalah hidup yang tertib, tertata dan sesuai aturan. Hidup secara benar, sesuai dengan akal budi. 


  1. Eksistensial

Manusia itu butuh eksis sebagai dirinya, karena manusia itu hewan yang berpikir. Jika ingin eksis sebagai manusia harus berpikir. Keberadaan manusia dimuka bumi adalah binatang yang berpikir.


  1. Fitrah 

Dorongan yang (fitri) hakiki dari Allah, setiap orang pasti ingin hidup secara benar dan tidak mau hidup secara salah atau keliru.


  1. Alasan pragmatis

Kita hidup ada target-target, hal ini dapat kita capai kalau mendayakan akal budi, kalau kita berpikir secara rasional. Bahkan orang anti akal pun keputusan untuk itu dari akalnya.


  1. Kebutuhan untuk adabtasi 

Hidup manusia itu dinamis tidak seperti matematika satu tambah satu dua, berubah terus-menerus. Kalau kapasitas berpikir akal/rasio kita tidak beradabtasi maka akan terus gelisah, jika tidak tidak tidak bisa beradabtasi dengan akal budi perubahan-perubahan hidup.


  1. Kebutuhan untuk kreatif

Kebutuhan kreatifitas adalah penting agar tetap bergerak. Karena manusia itu adalah makhluk yang berpikir.


  1. Kebutuhan refleksi dan pengembangan diri

Manusia ingin hidup untuk lebih baik dengan menggunakan akal budi dengan memikirkan hidup mana yang cocok dan mana yang terbaik.


  1. Rasional Characters

Seorang yang belajar filsafat mesti memiliki lima kapasitas berikut:


  1. Logis, masuk akal. Jangan mudah tertipu dengan hal-hal yang tidak masuk akal. 

  2. Obyektif, berpikir berbasis objek. Bukan keinginan pribadi, orientasi kelompok. Kalau benar disampaikan benar dan kalau salah disampaikan salah.

  3. Independen, tidak ada keterikatan-keterikatan yang menghalangi pemikiran jernih. Keputusan bukam karena kepentingan-kepentingan kelompok atau karena segan dan lain sebagainya.

  4. Komprehensif, menyeluruh. Tidak dipilih sesuai dengan keinginan sendiri, kelompok atau pun kesenangan sendiri. Dengan melihat semua aspek, tidak ada satu pun yang tertinggal atau tidak menggeralisasi.

  5. Argumentatif, ada data. Menyimpulkan sesuatu ada argumen dan dasarnya.


Hal tersebut di atas adalah nyawanya berpikir secara filsafat. Sekaligus sebagai ciri seorang filosof. 


  1. Rationality Functions

Apa gunanya rasioanalitas itu?


  1. Menyeriusi hidup, hidup secara serius. Karena akal yang akan memilih dan mencari dan mendasari hidup kita. Kata Socrates, “Hidup yang tidak diuji adalah hidup yang tidak berharga” yaitu diuji dengan rasionalitas.

  2. Memahami hidup, jangan mengalir saja. Dalam konteks filsafat dengan rasionalitasnya harus berpikir. Aliran ini cocok, sesuai, bermanfaat apa tidak. Ini perlu memahami hidup tidak sekedar menjalani hidup.

  3. Memaknai hidup, karena hidup manusia adalah dalam kubangan makna-makna. Tak pernah terbatas, tetapi maknai hidup jangan sampai memaknai hidup dengan asal-asalan. Tetapi dengan secara tertib dan tertata sesuai dengan prinsip-prinsip rasionalitas.

  4. Memperbaiki hidup, setelah mampu memaknai hidup maka secara tidak langsung bearti telah mengalami perbaikan dalam hidup.

  5. Menikmati hidup, ketika kita tahu bahwa hidup sudah pas, sesuai, cocok, dan selaras dengan yang kita inginkan maka kita bisa menikmati hidup. Tetapi sebelum kita memahami rasinality functions agak sulit menikmati hidup.

Way to Functions? atau “Bagaimana menjalankan hidup secara rasional itu?”. Setidaknya ada tiga jalan yang mesti ditempuh: Clarifying concepts, memperjelas konsep dalam hidup. Dalam hidup ini, ada banyak hal yang seolah-olah kita sudah tahu, padahal belum tahu. Disinilah pentingnya clarifying concepts. Misalnya tentang khalifah, ada yang memahami semacam kerajaan atau sistem pemerintahan. Satu lagi memahaminya mendefinisikan tanggung jawab seluruh manusia (inni jaa` ilun fil ardhi khaliifah). Akibatnya tidak ada kesepakatan dalam diskusi, oleh karena itu perbaiki/diperjelas konsepnya. Constructing arguments, menyusun argumen. Kalau ingin hidup yang serius apa pun yang dipikirkan dan dilakukan maka harus ada argumennya. Cara paling mudah untuk menemukan argumen maka ajukan pertanyaan “mengapa?”, jawabannya pasti argumen. Critisizing, mengeritisi argumen agar memeroleh jawaban, jika tidak relevan. Inilah hidup secara masuk akal (rasional).


  1. Rational Measurements


  1. Kesesuaian antara ideal/pernyataan dengan kenyataan

  2. Kesesuaian antara yang dipikirkan/yang dikatakan dengan asumsi-asumsi yang mendasari

  3. Kesesuaian antara yang dipikirkan/dilakukan dengan norma-norma yang menjadi rujukan

  4. Kesesuaian antara yang dikatakan/dilakukan dengan tujuan


  1. Types of Rationality


  1. Mitos - Logos

  2. Logical – Dialectical

  3. Theoritical – Practical

  4. Practical – Interests 

  5. Positivistic – Humanistik


  1. Rationality Standards


Standar rasionalitas dalam kaitan berpikir filsafat adalah:


  1. Clarity (jelas, terukur, dan terarah)

  2. Accuracy (tepat)

  3. Relevance (kesesuaiaan)

  4. Depth (Kedalaman)

  5. Breadth (Keluasan))

  6. Fairness (Adil)


  1. Rationality in Relations


  1. I – IT ---    Objective: tidak mengandung kepentingan atau keinginan sendiri/independen.

  2. I – I --- Subjective: Aku dengan diriku sendiri, reflektif (mengembangkan diri) yaitu membaca ke dalam diri dengan cara merenungi.

  3. I – You ----- Intersubjectivs: Pertemuan antar subjek atau dengan orang lain, rasionalitas objektif dengan komunikasi secara serius dan harmoni.


  1. Rationality Blockers (Penghambat Rasional)


  1. Herd instinct (insting kerumunan)

  2. Partisan mindset (berpikir partisan) 

  3. Egoism (aku sudah atau aku sudah ngerti)


  1. Thinking Idols


  1. Idola Tribus: menarik kesimpulan tanpa dasar secukupnya, berhenti pada sebab-sebab yang diperiksa secara dangkal (sebagaimana pada umumnya manusia biasa/awam/tribus). Hambatan ini sifatnya sangat umum sebagai manusia, misalnya “over-simplification” (menyederhanakan/menggeneralisir masalah) atau propensity (kecendrungan/keberpihakan karena terpengaruh oleh sesuatu yang sebenarnya tidak representatif)

  2. Idola Specus (The Idols of the Cave): menarik kesimpulan berdasarkan prasangka pribadi, prejudice ( ..... ), selera a priori (seperti manusia dalam gua); disebabkan sifat pribadinya yang khas karena membaca buku-buku dan karena otoritas yang ia hormati dan kagumi, atau karena kesan berbeda pada pikiran yang sedang dikuasai sesuatu. Misalnya: ada orang yang lebih melihat kesamaan, ada yang lebih melihat perbedaan, ada yang lebih melihat detil, ada yang melihat keutuhan/totalitas.

  3. Idola Fora (The Idols of the Market Place): menarik kesimpulan karena masyarakat umum berpendapat demikian, atau ikut pendapat umum (opini public/pasar).

  4. Idola Theatri/panggung (The Idols of the Theatre): menarik kesimpulan berdasarkan kepercayaan dogmatis, mitos, dan lain sebagainya.

  1. Batas Nalar


  1. Our Own Norms (Religious, Ethics, Social, Cultural Political, etc)

  2. Biological & Psychological Situations 

  3. Human – limitations on Information and Experience

Tujuan hidup manusia akan tercapai dengan sempurna apabila mengetahui dan memahami lebih banyak aspek yang memang Allah siapkan bagi mereka. Baik alam maupun apa pun yang ada dan yang telah dipersiapkan oleh Allah. Sehingga potensi-potensi tersebut tergali dengan baik dan semakin sempurna.

Selanjutnya pengaruh luar diri manusia juga akan berpengaruh kepada pembentukan dan pengembangan diri dan meningkat kemampuannya untuk berinteraksi dengan yang ada dan yang tidak ada baik makro-kosmos maupun mikro-kosmos. Hal terakhir ini, tercermin dalam Tuhan dan dalam diri manusia itu sendiri sebagai ciptaan Tuhan.


  1. Penutup

Berdasar paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa asal dari semua ilmu adalah metafisika, kemudian untuk pengembangannya perlu ontologi dan mendapatkan makna yang lebih meyakinkan mesti dengan epistemologi. Usaha ini dilakukan agar diperoleh ilmu yang meyakinkan. Hal tersebut relatif memberikan makna dan manfaat maksimal, baik secara keilmuan maupun mistis. Semua aspek, baik ontologi, maupun epistemologi sejalan, sehingga memeroleh kepastian dalam mendefinisikan suatu ilmu baik dari sisi material maupun formalnya. Selanjutnya, perlu juga dipahami dari semua hal tersebut terdapat nilai, dan nilai dimaksud diperoleh dalam bidang ilmu aksiologi. Selanjutnya, bukan hanya tentang ilmu diluar manusia, bahkan pengetahuan tentang manusia sendiri dapat dipelajari dan dipahami dengan empat aspek keilmuan atau teori ini.

Dalam buku tersebut membahas tentang Sejarah Islam mulai dari sejarah Pra-Islam sampai Islam di Asia Tenggara, terkait dengan Ajaran Islam dimulai dari Ajaran Islam itu sendiri, syariat dan akhlaknya. Kemudian Sumbangan Islam dan Peradabannya, dimulai dari Tasauf, bidang keilmua, Aliran-aliran, dan paham agama Islam di Indonesia.

Dengan perkembangan budaya dan daya pikir manusia akan semakin jelas tujuan dari semua ilmu pengetahuan adalah untuk kesejahteraan manusia dan efeknya adalah rahmatan lil `alamin. Sehingga tujuan akhir hidup manusia menjadi komplit dan berdaya guna serta bernilai sepanjang masa.


REFERENSI



M. Solihin, Epistemologi Ilmu dalam Sudut Pandang al-Ghazali, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), Cet. I, 

Hidayat, Pemikiran Islam Kontenporer: Suatu Refleksi Keagamaan yang Dialogis, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2005), Cet , I

Waston, Filsafat Ilmu: Ontologi, Metafisika, Epistemologi, Aksiologi, (Yogyakarta: Sekolah Silsafat Musa Asy`Arie, Minggu tanggal, 5 Desember 2021.

Waston, Filsafat Ilmu dan Logika, (Jawa Tengah: Muhammadiyah University Press, 2019), Cet. I

Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), Ed. 2, h. v

Taufik Rahzen, Spritualitas Bumintara, (Yogyakarta: eSFIMA, 2021), Minggu,  https://youtu.be/KcMKElJ6qQw

Waston, https://youtu.be/5PcB0G3akEM

Sekar Ayu Aryani, Dialog Psikologi dan Agama, (Yogyakarta: eSFIMA, 2021), Minggu, 21 November 2021

Abu Su`ud, Islamologi: Sejarah, Ajaran, dan Perannya dalam Peradaban Umat Manusia, (Jakarta: PT Rineka  Cipta, 2003, h. 1

Fahruddin Faiz, Manusia dan Moralitas, (Yogyakarta: eSFIMA, 2021), Minggu, 28 November 2021, https://youtu.be/Z1Q60VUnDQc

Waston, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: eSFIMA, 2021), Minggu, 5 Desember 2021, https://youtu.be/5PcB0G3akEM


Selasa, 11 Januari 2022

BERFILSAFAT ZAMAN SEKARANG


BERFILSAFAT ZAMAN SEKARANG

Mingggu, 19 Desember 2021

Oleh: Samsurizal, MA



  1. Pendahuluan

Kebahagiaan terkait amat erat dengan kemampuan kita mengelola perasaan (emosi) – kesedihan, kekecewaan, frustrasi, kesepian, dan sebagainya. Selain dari agama, pengelolaan emosi dikendalikan oleh rasio. Ada satu Quote yang bagus, “You can be the ripest sweetest strawberry, but there will be still people who don’t like to eat it”....Kita bisa menjadi strauberi yang besar, manis, jussy, enak. Tetapi tetap saja akan ada orang yang tidak suka memakannya. Artinya “kita bisa menjadi orang yang baik, cerdas, santun, suka menolong orang lain. Tetapi tetap ada orang yang tidak suka dengan kita. Jadi, sejauh kita bisa mengelola kekecewaan, kesedihan dan frustrasi maka kita akan bahagia.


  1. Pembahasan


  1. Manfaat Praktis Filsafat

Banyak orang yang meragukan manfaat praktis filsafat, apa gunanya menjelajahi gagasan abstrak para filosof? Kepuasan intelektual? Karier? Selebresi. Terdapat banyak ungkapan yang berkembangan dikalangan para pelajar filsafat seperti, “Aku klik maka aku ada”. Selanjutnya ada juga sebagai selebrasi seperti ungkapan “Tuhan telah mati”. Hanya saja untuk pendukung karir tentu perlu dilihat dan pahami lagi.

Filsafat yang bertolak dari kehidupan harus kembali menggeluti masalah keseharian. Jika dilihat filosof zaman Plato, Aristoteles bahkan zaman pra Socrates, selalu bertanya tentang kehidupan seperti pertanyaan “dari mana asal mula kehidupan ini?”. Selanjutnya, filosof muslim juga mempertanyakan bagaimana kehidupan setelah mati. Ini suatu yang eskatologis, tetapi hal ini hubungannya sangat erat dengan kehidupan keseharian agar termotifasi untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati. 

Alain de Botton membahas pemikiran beberapa filosof untuk menunjukkan bagaimana mereka mengatasi persoalan keseharian: kekurangan uang, patah hati, atau kegagalan. Ia mengajak kita berpikir bersama para filosof bagaimana persoalan-persoalan hidup harus dihadapi dan diselesaikan.

Kemudian perlu juga kita belajar dari Socrates. Sejarah juga menunjukkan bahwa sejak awal, bahkan masa Socrates, filsafat sudah erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Ia pergi ke pasar-pasar dan berbincang dengan masyarakat. Mengajak masyarakat berpikir atas apa yang selama ini mereka terima mentah. Kemudian ia memancing orang untuk berpikir secara otonom dan menolak common sense (kewajaran) tanpa menyelidiki logikanya. Dari segi dialog-dialognya kita belajar bahwa orang lain bisa saja keliru: “Kebenaran suatu pernyataan bukan ditentukan oleh mayoritas, maupun keyakinan orang-orang penting selama berabad-abad. Pernyataan yang benar adalah tidak dapat dibuktikan mengandung kontradiksi dan pikiran.

Sebagai salah satu contoh:

Bagi yang patah hati ... dalam hidup mungkin kita sering kali mengalami masalah, termasuk pata hati ... bagi yang berduka karena cinta, barangkali Arthur Schopenhauer (1788-1860) adalah filofof terbaik. Kisah hidupnya dipenuhi oleh berbagai kisah sedih: “Eksistensi manusia pastilah suatu kesalahan,” dan “Kehidupan adalah urusan yang menyedihkan, aku memutuskan untuk menggunakan hidupku untuk memikirkannya,” katanya. Penyebab ia berkata demikian adalah: ia kurang mendapat perhatian di rumah, ayahnya bunuh diri, ditolak wanita, dan kuliahnya kurang diminati. Ia mengatakan: “Setiap kehidupan adalah sejarah penderitaan.” Pengalaman dan pandangan hidup Arthur Schopenhauer memberi kita pelajaran bahwa “kepediahan itu normal”. Ketika cinta kita ditolak tidak ada yang aneh dalam karakter kita, wajah kita tidak buruk. Kita tidak perlu membenci diri sendiri ...”. hal seperti ini akan dilalui oleh setiap orang, hanya saja ada orang yang ekstrovert (terbuka) atau intrivert (tertutup). Pertama adalah orang yang suka menceritakan kepada orang lain, sehingga jiwanya plong. Dan yang kedua orang yang suka memendam masalahnya, orang-orang seperti ini lebih rentan sakit jantung. Ingatlah, semua orang mengalaminya, punya kegagalan dan kesedihan. Arthur Schopenhauer mengajarkan pada jita untuk tidak kaget dengan kesedihan. Ia bermaksud membebaskan kita dari pengharapan yang mengandung kesedihan. Sebuah pepatah Inggris mengingtakan yaitu “Time Heals” waktu menyembuhkan. Kita bukan merupakan manusia yang menderita sendirian, namun merupakan bagian dari umat manusia yang juga merasakan banyak kesediahan. 


  1. Filsafat dan Kesuksesan

Dalam konteks modern, orang mulai mengatakan bahwa berfilsafat pun bisa membawa kepada kebahagiaan (baca: kesuksesan) ekonomi dan bisnis. Pertanyaannya, mana mungkin?. Walau pun tidak detail, tetapi cara pikir seseorang yang bertolak dari filsafat membimbing perspektif pemikiran menjadi lebih baik dan terbuka. Tom Morris dalam karyanya “If Aristotle Ran General Motor”, ia mendemonstrasikan betapa kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno Aristoteles bisa membimbing seorang pengusaha kepada kesuksesan bisnis. Lebih jauh dari itu, dua penulis lain, yaitu Gay Hendricks dan Kate Ludeman, dalam buku-keduanya berjudul The Corporate Mystic – malah menyebutkan bahwa di antara 11 karakter pengusaha dan eksekutif sukses di Amerika Serikat adalah spritualitas dan pengetahuan diri (self knowligh). Hal ini tidak terlepas dari perspektif kita terhadap konsep yang mengantarkan pada kesuksesan. Oleh karena itu persepsi, konsep serta berfikir filsafat harusnya dapat membuat kita berpikir lebih terbuka dan bahagia, sehingga mampu menyelesaikan masalah hidup keseharian. Relevansi filsafat dalam hidup dan kehidupan keseharian sangat membahagiaankan. Karena mengarahkan pemikiran pada hal-hal yang positif dan lebih bermakna, baik secara konseptual maupun praktikal.


  1. Filsafat Islam Zaman Sekarang

Filsafat islam saat ini dapat dilihat dari dua sisi: Filsafat Islam sebagai proses berpikir, dan sebagai produk pikir. Pertama, kita melihat proses berpikir kreatif para filosof dengan cara berpikir bagaimana memadukan antara akal dan agama. Kedua, ada hal praktis yang dapat dipraktekkan dalam keseharian. Selanjutnya terkait dengan filsafat islam sering membawa kita terutama untuk membahas masalah-masalah yang masuk ke alam metafisis, yakni alam khayal dan bahkan alam ruhani. Seperti, bagaimana terkait dengan proses penciptaan dan hidup setelah mati. Pembahasan filsafat, khususnya Filsafat Islam, mengangkat kita dari eksistensi sehari-hari yang umumnya bersifat fisikal dan indrawi (eksistensial) ke “dunia lain” yang di dalamnya pengertian agama dan keimanan beroperasi (esensial). 

Pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari para filosof Muslim adalah keberaniannya untuk berpikir secara kritis dengan tetap mendasarkannya pada fundamental text of Islam. Memang seharusnya demikian, sebagai Muslim lepas dari teks wahyu. Era digital menawarkan pada kita beragam informasi, misalnya, mensyaratkan kita secara mutlak untuk berpikir kritis sehingga kita dapat membedakan antara fakta obyektif dan opini yang dibentuk secara emosional. Seharusnya informasi yang diterima mestinya disaring dulu sebelum disebarkan “saring sebelum sharig”. Karena banyak kita menyaksikan dan medapat informasi bahwa banyak keluarga yang bubar disebabkan keliru megelola informasi yang ada. Kondisi seperti saat ini, sebaiknya hal yang perlu dilakukan: Pertama, kita perlu memahami ulang prinsip-prinsip dasar logika, sebab seringkali sebuah opini dibentuk dengan logika orang yang akan dibohongi, sehingga mudah diterima. Kedua, kenyataan bahwa pembahasan Filsafat Islam membawa kita ke alam ruhani bisa mendekatkan diri kita kepada (pengetahuan) tentang elemen-elemen keimanan termasuk tentang Tuhan, Malaikat, Nabi, dan Hari Akhir. Hal ini lebih pada aspek epistemologisnya. Ketiga, memahami Tuhan dan ciptaan-Nya, proses penciptaan, dan hirarki wujud, yang merupakan tema-tema penting dalam Filsafat Islam, pada giliranya bisa meningkatkan keimanan kita, hal ini adalah pada level aksiologisnya. Perlu direnungi juga bahwa Aristoteles menyatakan bahwa, “hidup yang tidak direnungi adalah hidup yang tidak layak dijalai”. Sehingga, jika para filosof merenungi kehidupan sesungguh mereka sedang menjani kehidupan. Hanya saja orang-orang yang memandangnya aneh. 

Dengan realitas ini saya berpikir bahwa, “Matikan dirimu dengan menulis, semakin banyak tulisamu maka semakin sering kamu mati. Karena kematian adalah tujuan kebahagiaan.” Pernyataan ini bertujuan agar semakin mengenal diri, bahwa kebahagiaan tersebut harusnya menghindari emosional liar dan saling menyalahkan dan mengafirkan. Begitu juga hal-hal yang meracuni kebahagiaan. 

Nah, pertanyaan bagi kita semua: Bagaimana dengan hidup anda: apakah merupakan kehidupan yang layak dijalani?


  1. Penutup

“Selamat berbangga menjadi pecinta filsafat, dan teruslah menerangi orang-orang di sekitar anda dengan pikiran yang jernih, yang radix, menyeluruh, dan membawa manfaat bagi semua.”