Pages - Menu

Kamis, 30 September 2021

AJARAN PERTAMA BAGI MUALLAF

AJARAN PERTAMA BAGI MUALLAF

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Muallaf adalah orang yang punya keinginan yang kuat memeluk agama Islam dan ingin memperbaiki diri dan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya secara ikhlas dan sungguh-sungguh. Sehingga dapat menjadikannya teguh atas sumpah dan pengakuannya. Bersamaan dengan itu, ia telah mengemban kewajiban dan hak yang sama sebagaimana muslim lainnya.

Nah, menyimak daripada pernyataan di atas maka perlu dipaparkan bagaimana Rasulullah ﷺ mempraktekkan dalam hal ini membimbing para muallaf. Apa yang pertama kali diajarkan? dan, bagaimana beliau mengajarkannya?. Berikut penulis paparkan secara runtut disertai dengan firman Allah.

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَزْهَرَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
كَانَ الرَّجُلُ إِذَا أَسْلَمَ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ ثُمَّ أَمَرَهُ أَنْ يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي. (رواه مسلم: ٤٨٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Azhar Al Wasithi telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Abu Malik Al Asyja'i dari bapaknya, dia berkata; Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi ﷺ mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca doa: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rezeki). (HR. Muslim: 4864 - shahih dari Thariq bin Asyyam bin Mas'ud, ia shahabat)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 4863, namun tanpa kalimat "wa'aafini", shahih dari Thariq bin Asyyam bin Mas'ud, ia shahabat. Imam Ahmad juga meriwayatkan secara makna, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ يَعْنِي ابْنَ زِيَادٍ حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي طَارِقُ بْنُ أَشْيَمَ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُ مَنْ أَسْلَمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَهُوَ يَقُولُ هَؤُلَاءِ يَجْمَعْنَ لَكَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. (رواه أحمد: ١٥٣١٩)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yaitu Ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Abu Malik Al Asyja'i dari Abu Thariq bin Asyyam berkata saya mendengar Rasulullah ﷺ mengajar orang-orang yang masuk Islam untuk mengatakan, "Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku dan berilah aku rezeki" dan beliau berkata; semua hal itu telah menghimpun kebaikan dunia dan akhiratmu. (HR. Ahmad: 15319 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Thariq bin Asyyam bin Mas'ud, ia shahabat)

Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud, namun dalam konteks lain, beliu berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْعُودٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا كَامِلٌ أَبُو الْعَلَاءِ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي. (رواه أيوداود: ٧٢٤)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mas'ud telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Khubbab telah menceritakan kepada kami Kamil Abu Al 'Ala` telah menceritakan kepadaku Habib bin Abu Tsabit dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi ﷺ mengucapkan diantara dua sujudnya "ALLAHUMMA GHFIR LI WARHAMNI WA'AFINI WAHDINI WARZUQNI" (ya Allah anugerahkanlah untukku ampunan, rahmat, kesejahteraan, petunjuk dan rezeki)." (HR. Abu Daud: 724 - hasan dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Ajaran ini senantiasa dikembangkan agar kebaikan dunia dan akhirat menyertai para muallaf. Sehingga mereka tetap bertahan dan istiqamah dengan keimanan yang telah mereka ikrarkan dihadapan sebagai bukti kesungguhan dihadapan para saksi. Doa di atas harusnya diucapkan secara jelas dan dengan sikap ikhlas dan ridha.

Terkait dengan hadits riwayat imam Abu Daud berhubungan dengan bacaan shalat, ketika duduk diantara dua sujud. Hal ini telah mutawatir dan tidak perlu dijelaskan lebih rinci, karena sudah dimaklumi. Oleh sebab itulah setelah menjadi seorang muslim dalam shalatnya sangat dianjurkan membaca doa tersebut tanpa mengangkat atau menadahkan tangan.

Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارٍ كَشَاكِشٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدِ الْعَامِلِ إِذَا نَصَحَ. (رواه أحمد: ٨٠٦٠)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqodi dari Muhammad bin 'Ammar Kasyakisy berkata; Aku mendengar Sa'id Al Maqburi menceritakan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya jika dia ikhlash." (HR. Ahmad: 8060 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 8310, dengan memulai matannya dengan "Inna". Beliau berkata,

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمَّارٍ مُؤَذِّنُ مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ خَيْرَ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدَيْ عَامِلٍ إِذَا نَصَحَ. (رواه أحمد: ٨٣١٠)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ammar juru azan masjid Rasulullah ﷺ, ia berkata; aku mendengar Sa'id Al Maqburi berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya hasil usaha yang paling baik adalah hasil usaha tangan seorang pekerja, jika ia hatinya tulus." (HR. Ahmad: 8310 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Selanjutnya, sikap seperti di ataslah yang menjadi dasar syafaat Rasulullah ﷺ akan diperoleh di akhirat, sebagaimana diinformasikan oleh imam Ahmad dalam riwayatnya. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ والْخُزَاعِيُّ يَعْنِي أَبَا سَلَمَةَ قَالَا حَدَّثَنَا لَيْثٌ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي سَالِمٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ مُعْتِبٍ الْهُذَلِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا رَدَّ إِلَيْكَ رَبُّكَ فِي الشَّفَاعَةِ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَقَدْ ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَوَّلُ مَنْ يَسْأَلُنِي عَنْ ذَلِكَ مِنْ أُمَّتِي لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْعِلْمِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا يَهُمُّنِي مِنْ انْقِصَافِهِمْ عَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ أَهَمُّ عِنْدِي مِنْ تَمَامِ شَفَاعَتِي وَشَفَاعَتِي لِمَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا يُصَدِّقُ قَلْبُهُ لِسَانَهُ وَلِسَانُهُ قَلْبَهُ. (رواه أحمد: ٧٧٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Hasyim dan Al Khuza'i -yaitu Abu Salamah- mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Laits telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib dari Salim bin Abi Salim dari Muawiyah bin Mu'tib Al Hudzali bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata; Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Apa yang diserahkan oleh Allah kepada Tuan dalam hal syafaat?" lalu beliau bersabda, "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, sungguh aku telah mengira bahwa kamu adalah yang pertama kali dari umatku yang bertanya kepadaku tentang hal itu, karena aku tahu akan kesungguhanmu dalam mendapatkan ilmu, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, tidak ada sesuatu yang penting bagiku dengan berkerumunnya manusia di pintu surga daripada sempurnanya syafaatku, dan syafaatku akan diberikan kepada orang yang bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dengan ikhlash, hatinya membenarkan lisannya dan lisannya juga membenarkan hatinya." (HR. Ahmad: 7725 - shahih, namun isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya. Keduanya hidup di Baghdad)

Ingatlah firman Allah berikut:

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا. (قرآن سورة النساء/٤: ١٤٦)

Kecuali, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri,*) berpegang teguh pada (agama) Allah, dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah, mereka itu bersama orang-orang mukmin. Kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang mukmin. (QS. An-Nisā'/4: 146)

*) Maksudnya adalah melakukan amal-amal shalih untuk menghilangkan keburukan yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahannya dan menjelaskan kebenaran yang disembunyikan.

Hal ini juga maksud QS. Al Baqarah/2: 160, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَبَيَّنُوْا فَاُولٰۤىِٕكَ اَتُوْبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَاَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٦٠)

Kecuali orang-orang yang telah bertobat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan(-nya). Mereka itulah yang Aku terima tobatnya. Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah/2: 160)

Dan,

حُنَفَاۤءَ لِلّٰهِ غَيْرَ مُشْرِكِيْنَ بِهٖۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَكَاَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاۤءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ اَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ مَكَانٍ سَحِيْقٍ. (قرآن سورة الحج/٢٢: ٣١)

(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Siapa yang mempersekutukan Allah seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Ḥajj/22: 31)

Demikianlah penjelasan terkait dengan kewajiban seorang muallaf yang ingin memeluk agama Islam dengan sungguh-sungguh. Sehingga terpatrilah iman baru yang kokoh kepada ajaran Islam yang baru dianutnya. Oleh karena itu mengajarkan Al Qur'an dan Al Hadits kepada mereka menjadi penting ketika kebulatan tekatnya menjadi seorang muslim. Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

EMPAT PEREMPUAN PENGHULU ALAM DAN PALING MULIA DI SURGA


EMPAT PEREMPUAN PENGHULU ALAM DAN PALING MULIA DI SURGA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Perempuan yang mana yang dapat menandingi cintanya Khadijah kepada Rasulullah ﷺ yang rela mempertaruhkan semua hartanya untuk perjuangan suaminya agar Islam tegak dan agung. Perempuan yang mana, yang lebih suci dari Maryam binti 'Imran yang menjaga dirinya dari segala keburukan perangai dan rela menyendiri dari pergaulan yang keliru serta kuat dari berbagai macam hinaan dan fitnahan. Perempuan yang mana di dunia ini yang pernah merasakan sakit dan menderita seperti 'Asiyah istri Fir'aun yang hidup dalam bayang-bayang kekerasan dan kezhaliman. Namun ia tetap memegang teguh iman dan tanggungjawab sebagai istri. Selanjutnya perempuan mana yang pernah hidup di bumi seperti Fathimah yang setia dna selalu hadir serta mengayomi bapaknya, begitu juga mendukung gerakan suaminya.

Allah memberikan contoh-contoh perempuan yang buruk dan jahat. Sebaliknya Allah memberikan pencerahan dengan perumpamaan para perempuan tangguh dan mulia. Sebabagimana terekam dalam Al Qur'an surat at Tahrim ayat 10 sampai 12. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS. At-taḥrīm/66: 10)

Para perempuan tangguh dan memelihara kesucian iman dan kehormatannya, seperti istri Fir'aun dan Maryam, Allah abadikan dalam firman-Nya:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ. (القرآن سورة التحريم/٦٦: ١١)

Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-taḥrīm/66: 11)

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ. (القرآن سورة التحريم/٦٦: ١٢)

Demikian pula Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan yang membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, serta yang termasuk orang-orang taat. (QS. At-taḥrīm/66: 12)

Oleh sebab itulah, mereka mendapat keistimewaan disisi Allah dan kaum wanita tangguh dan menjaga kodratnya sebagai shahabat bagi suami mereka. Bukan sebagai pesaing. Sehingga apa yang baik-baik hadir bersama mereka baik waktu sempit maupun lapang.

Nah, kali ini penulis akan memaparkan dasar pemikiran terhadap empat perempuan penghulu dunia dan paling mulia di surga.

Imam at Tirmidzi meriwatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ زَنْجُوَيْهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٣٨١٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Zanjuwaih telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Qatadah dari Anas radhiallahu'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Cukuplah bagimu dari wanita (penghulu) dunia adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fathimah binti Muhammad serta Asiyah istri Fir'aun." Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits shahih." (HR. At Tirmidzi: 3813 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 11942 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Sementara dalam teks semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا دَاوُدُ حَدَّثَنَا عِلْبَاءُ بْنُ أَحْمَرَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَّ أَرْبَعَةَ خُطُوطٍ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ لِمَ خَطَطْتُ هَذِهِ الْخُطُوطَ قَالُوا لَا قَالَ أَفْضَلُ نِسَاءِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ ابْنَةُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ ابْنَةُ مُزَاحِمٍ. (رواه أحمد: ٢٨٠٥)

Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Daud telah menceritakan kepada kami 'Ilba` bin Ahmar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ membuat empat garis kemudian beliau bersabda, "Apakah kalian tahu mengapa aku membuat garis-garis ini?" mereka menjawab; tidak, beliau bersabda, "Wanita penghuni surga yang paling mulia adalah empat orang; Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad dan Asiyah binti Muzahim." (HR. Ahmad: 2805 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Selanjutnya perlu diuraikan tentang keempat perempuan yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dalam riwayat-riwayat di atas:

1. Maryam binti Imran

Maryam binti 'Imran adalah Ibu Nabi 'Isa 'alaihi salam. Seorang perempuan Bani Isra'il yang mempertahankan kesuciannya dan terhindar dari cela keburukan akhlak. Beliau mampu bertahan atas cacian dan hinaan dalam pergaulan maupun memakan makanan yang haram di masa itu. Sehingga keistiqamahannya dalam menjaga hal tersebut, Allah anugerahkan seorang anak yang dititipkan oleh Allah kepadanya. Dan, dari rahimnya yang suci itu lahirlah Nabi 'Isa 'alaihi salam.

2. Khadijah binti Khuwailid

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan bangsawan yang dinikahi oleh Rasulullah ﷺ. Waktu itu ia adalah seorang janda, merupakan istri pertama beliau yang rela mengorbankan hartanya bahkan nyawanya untuk menopang perjuangan, membina dan mengembangkan ajaran Islam. Bahkan sebelum beliau wafat ia pernah berwasiat kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh

Khadijah sendiri tidak pernah menyembah berhala. Bahkan ia turut berdakwah untuk tidak menyembah berhala. Keteguhannya itu ditegaskan juga kepada suaminya. Hal ini tertulis dalam hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ يَعْنِي ابْنَ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ حَدَّثَنِي جَارٌ لِخَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ أَنَّهُ
سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ لِخَدِيجَةَ أَيْ خَدِيجَةُ وَاللَّهِ لَا أَعْبُدُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَاللَّهِ لَا أَعْبُدُ أَبَدًا قَالَ فَتَقُولُ خَدِيجَةُ خَلِّ اللَّاتَ خَلِّ الْعُزَّى قَالَ كَانَتْ صَنَمَهُمْ الَّتِي كَانُوا يَعْبُدُونَ ثُمَّ يَضْطَجِعُونَ. (رواه أحمد: ١٧٢٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah Hammad bin Usamah telah menceritakan kepada kami Hisyam -yakni Ibnu Urwah- dari Bapaknya ia berkata, telah menceritakan kepadaku Tetangga Khadijah binti Khuwailid, bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ berkata kepada Khadijah, "Wahai Khadijah, demi Allah aku tidak akan pernah menyembah Lata dan 'Uzza. Demi Allah, selamanya aku tidak akan menyembahnya." Kemudian Khadijah berkata, "Tinggalkanlah Lata dan 'Uzza." Ia (perawi) berkata, "Itu adalah berhala yang mereka (orang-orang kafir Quraisy) biasa sembah dan sujud kepadanya." (HR. Ahmad: 17268 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari seorang tetangga Khadijah binti Khuwailid)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 21989 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari seorang tetangga Khadijah binti Khuwailid.

Selama pernikahan Rasulullah dengan Khadijah beliau tidak menikah lagi dengan perempuan lain hingga ia wafat. Beliau menikah lagi setelah tiga tahun kewafatan istri pertama beliau. Hal ini diinformasikan dalam hadits riwayat imam Muslim dan imam Ahmad.

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
لَمْ يَتَزَوَّجْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَدِيجَةَ حَتَّى مَاتَتْ. (رواه مسلم: ٤٤٦٦)

Telah menceritakan kepada kami 'Abad bin Humaid; Telah mengabarkan kepada kami 'Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Urwah dari 'Aisyah dia berkata, "Nabi ﷺ tidak pernah menikah lagi dengan wanita lain untuk memadu khadijah, kecuali setelah Khadijah meninggal dunia." (HR. Muslim: 4466 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَفَّى خَدِيجَةَ قَبْلَ مَخْرَجِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ بِسَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ وَأَنَا بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ جَاءَتْنِي نِسْوَةٌ وَأَنَا أَلْعَبُ فِي أُرْجُوحَةٍ وَأَنَا مُجَمَّمَةٌ فَذَهَبْنَ بِي فَهَيَّأْنَنِي وَصَنَعْنَنِي ثُمَّ أَتَيْنَ بِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ. (رواه أحمد: ٢٥١٩٣)

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya dari Aisyah berkata, "Rasulullah ﷺ menikahiku setelah Khadijah wafat dua tahun atau tiga tahun sebelum kepergian beliau ke Madinah. Sementara aku sedang berumur tujuh tahun. Ketika kami datang ke Madinah, para wanita mendatangiku sementara aku sedang bermain-main di Urjuhah dan rambutku masih turun di antara telingaku. Lalu mereka membawaku pergi dan mempersiapkanku serta menghiasiku. Mereka membawaku kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau mulai membangun keluarga denganku ketika aku berumur sembilan tahun." (HR. Ahmad: 25193 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Begitu juga 'Aisyah mengagumi istri pertama suaminya itu (Khadijah). Karena kesetiaan dan keikhlasannya menopang tumbuh dan berkembangnya Islam. Hal ini terekam dalam hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَلَقَدْ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِي بِثَلَاثِ سِنِينَ لِمَا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ مِنْ قَصَبٍ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ ثُمَّ يُهْدِي فِي خَلَائِلِهَا مِنْهَا. (رواه أحمد: ٢٤٤٧٨)

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari ayahnya dari Aisyah berkata, "Saya tidak cemburu kepada seorang wanitapun, saya tidak cemburu kepada Khadijah, sungguh dia telah wafat tiga tahun sebelum beliau menikahiku menurut apa yang aku dengar ketika beliau menceritakannya. Sungguh, Robbnya 'Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada beliau agar memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah dari bambu di surga. Beliau menyembelih seekor domba, kemudian menghadiahkannya kepada para sahabat-sahabatnya Khadijah." (HR. Ahmad: 24478 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Redaksi semakna juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah tentang keistimewaan Khadijah di mata 'Aisyah. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ قَطُّ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ مِمَّا رَأَيْتُ مِنْ ذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ
يَعْنِي مِنْ ذَهَبٍ قَالَهُ ابْن مَاجَةَ. (رواه إبن ماجه: ١٩٨٧)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaim dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah ia berkata, "Aku tidak pernah merasa cemburu melebihi rasa cemburuku kepada Khadijah, hal itu karena Rasulullah ﷺ selalu menyebut namanya. Dan Rabb-nya telah memerintahkan kepadanya agar beliau memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara, yakni emas." Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Majah. (HR. Ibnu Majah: 1987 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Al Bukhari: 1666, 3533, 4828, Muslim: 4461 dan 4462, at Tirmidzi: 3811, Ahmad: 1666, 3532, 18340, 18354, 18356, 18593, 25175 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Semua hadits ini meriwayatkan tentang kabar gembira kepada Khadijah dari Allah melalui malaikat Jibril, bahwa Allah telah mempersiapkan untuknya di surga terbuat dari mutiara tanpa dengan kenyamanan luar biasa.

Pada jalur riwayat lain imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ صَاحِبُ الْهَرَوِيِّ وَاسْمُهُ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ
بَشَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَدِيجَةَ بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ. (رواه أحمد: ١٨٣٥٤)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Abu Abdurrahman sahabat Al Harawi dan namanya adalah Ubaidullah bin Ziyad, telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin Abu Khalid dari Abdullah bin Abu Aufa ia berkata, "Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepada Khadijah dengan rumah di surga yang terbuat dari mutiara, yang tiada kebisingan di dalamnya dan tiada pula kepenatan." (HR. Ahmad: 13854 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Abi 'Awfaa 'Alqamah bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu Ibrahim negeri hidup Kufah dan wafat tahun 87 H)

Sedangkan imam Al Bukhari meriwayatkan dalam redaksi lain. Beliau meriwayatkan,

حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَسَنٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلَّا خَدِيجَةُ فَيَقُولُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ. (رواه أالبخاري: ٣٥٣٤)

Telah bercerita kepadaku 'Umar bin Muhammad bin Hasan telah bercerita kepada kami bapakku telah bercerita kepada kami Hafsh dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radhiallahu'anhu berkata, "Tidaklah aku cemburu kepada salah seorang istri-istri Nabi ﷺ sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya. Akan tetapi ini karena beliau sering sekali menyebut-nyebutnya (memuji dan menyanjungnya) dan acapkali beliau menyembelih kambing, memotong-motong bagian-bagian daging kambing tersebut, lantas beliau kirimkan daging kambing itu kepada teman-teman Khadijah. Suatu kali aku pernah berkata kepada beliau yang intinya seolah tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah. Maka spontan beliau menjawab, "Khadijah itu begini dan begini dan dari dialah aku mempunyai anak." (HR. Al Bukhari: 3534 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Al Bukhari: 6930, Muslim: 4465, at Tirmidzi: 3810, Ahmad: 25183 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.

Imam Muslim meriwayatkan alasan lain,  bahwa perlakuan beliau kepada Khadijah adalah karena beliau merasakan anugerah terbesar darinya yaitu cinta.

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا عَلَى خَدِيجَةَ وَإِنِّي لَمْ أُدْرِكْهَا قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَبَحَ الشَّاةَ فَيَقُولُ أَرْسِلُوا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيجَةَ قَالَتْ فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا فَقُلْتُ خَدِيجَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَبُو كُرَيْبٍ جَمِيعًا عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ إِلَى قِصَّةِ الشَّاةِ وَلَمْ يَذْكُرْ الزِّيَادَةَ بَعْدَهَا. (رواه مسلم: ٤٤٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Sahl bin 'Utsman; Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah dia berkata; Saya tidak pernah merasa cemburu kepada para istri Rasulullah ﷺ yang lain kecuali kepada Khadijah, meskipun ia tidak hidup semasa dengan saya. Pernah, pada suatu hari, ketika Rasulullah ﷺ menyembelih seekor kambing, beliau berkata, 'Berikanlah sebagian daging kambing kepada teman-teman Khadijah! ' maka saya marah kepada Rasulullah sambil berkata; Khadijah?" Lalu beliau menjawab, "Sesungguhnya aku benar-benar telah dianugerahi cinta Khadijah." Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Abu Kuraib seluruhnya dari Abu Mu'awiyah; Telah menceritakan kepada kami Hisyam melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa dengan Abu Usamah. Namun hanya sampai kisah seekor kambing, tidak ada tambahan setelah itu. (HR. Muslim: 4464 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari tiga orang gurunya)

'Aisyah ternyata pernah juga cemburu, tetapi beliau dengan kecerdasannya mampu mengembalikan keutamaan taat kepada suaminya daripada prasangka yang belum tentu menyelamatkannya. Hal dapat diketahui melalui riwayat berikut.

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
اسْتَأْذَنَتْ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ أُخْتُ خَدِيجَةَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَفَ اسْتِئْذَانَ خَدِيجَةَ فَارْتَاحَ لِذَلِكَ فَقَالَ اللَّهُمَّ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ فَغِرْتُ فَقُلْتُ وَمَا تَذْكُرُ مِنْ عَجُوزٍ مِنْ عَجَائِزِ قُرَيْشٍ حَمْرَاءِ الشِّدْقَيْنِ هَلَكَتْ فِي الدَّهْرِ فَأَبْدَلَكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهَا. (رواه مسلم: ٤٤٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa'id; Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Mushir dari Hisyam dari Bapaknya dari 'Aisyah dia berkata, "Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, pernah meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Rasulullah ﷺ. Sepertinya beliau mengenali suaranya yang mirip dengan suara Khadijah, hingga beliau merasa senang. Tak lama kemudian beliau berkata, ya Allah, ternyata ia adalah binti Khuwailid, adik perempuan Khadijah! ' Aisyah berkata; Tentu saja saya merasa cemburu dan berkata; 'Mengapa Anda masih mengingat-ingat perempuan Quraisy yang tua renta itu, yang kedua ujung bibirnya telah memerah dan ia sudah tidak ada lagi, Sedangkan Allah telah memberikan gantinya yang lebih dari padanya untuk engkau." (HR. Muslim: 4467 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Selain riwayat-riwayat di atas, masih banyak lagi riwayat menyebutkan keunggulan Khadijah bin Khuwailid. Oleh karena itu wajar Allah menghadiahinya dengan anugerah keistimewaan sebagai perempuan paling mulia di surga. Disamping istri Rasul-Nya yang mulia, juga berkat perjuangan dan kesabarannya mendukung perjuangan suaminya untuk keagungan agama Islam.

3. Fathimah binti Muhammad

Fathimah binti Muhammad adalah anak Rasulullah ﷺ yang senantiasa ada disisi beliau tak luput dari perhatian beliau, bahkan sampai wafat beliau. Ia juga istri shahabat beliau yaitu Ali bin Abi Thalib. Keikhlasan dan kesabarannya mendapingi suaminya baik sebagai shahabat sampai menjadi khalifah.

Ketangguhan Fathimah tertulis dalam sejarah, karena ia satu-satunya anak perempuan kandung Rasulullah ﷺ.

Keutamaan Fathimah, lihat tulisan penulis di blog yang sama; 

https://ibnusyamsir.blogspot.com/2021/07/keutamaan-fathimah-istri-ali-bin-abi.html?m=1

4. Asiyah istri Fir'aun

'Asiyah istri Fir'aun yang sangat memelihara keimanannya dibawah tekanan suaminya sendiri. Logika berfikir, yang ditawarkan dalam kisah mereka adalah sikap Istiqamahnya terhadap keyakinan kepada Allah. Beliau dikenal dengan kemampuannya mempertahankan imannya dibawah tekanan Fir'aun. Beliau tetap menghormati dan menghargai Fir'aun sebagai suaminya. Inilah keistimewaannya. Hal menjadi nilai terbaiknya adalah ia mampu bertahan dengan segala kemampuannya dan tidak lari dari kenyataan. Kekuatan bertahan itu dibarengi dengan keimanannya kepada Allah. Kenapa demikian besar penghargaan kepadanya? Karena ia mampu mempertahankan iman dan tetap melaksanakan kewajibannya sebagai istri Fir'aun.

Kisah 'Asiyah, memang tidak banyak dimuat dalam Al Qur'an dan Al Hadits tentang keistimewaannya dibanding Kahadijah, Maryam, dan Fathimah. Namun memberi bekas yang luar biasa terhadap ketangguhannya mempertahankan imannya kepada Allah, di tengah kekejaman dan keangkuhan Fir'aun. 

Allah berfirman, 

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ. . (اقرآن سورة التحريم/٦٦: ١١)

Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At Tahrim/66: 11)

Pada ayat ini, Allah membuat perumpamaan yaitu keadaan orang-orang yang beriman. Perumpamaan itu ialah Āsiyah binti Muzāhim, istri Fir‘aun. Dalam perumpamaan itu, Allah menjelaskan bahwa hubungan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir tidak akan membahayakan kalau diri itu murni dan suci dari kotoran. Sekalipun Āsiyah binti Muzāhim berada di bawah pengawasan suaminya, musuh Allah yang sangat berbahaya, tetapi ia tetap beriman. Ia selalu memohon dan berdoa, “Ya Tuhanku! Bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” 

Wallaahu 'alam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Selasa, 28 September 2021

TAWAKAL KEPADA ALLAH MAKA REZEKI AKAN DICUKUPKAN


TAWAKAL KEPADA ALLAH MAKA REZEKI AKAN DICUKUPKAN
Oleh: SAMSURIZAL, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tawakkal bermakna menyerahkan sepenuhnya kepada Allah atas takdir-Nya. Hal ini sesuai dengan kemampuan maksimal yang dilakukan hamba-Nya, pada dasarnya hanya Allah yang memiliki semuanya dan memberi atas kehendak-Nya juga. Allah tidak akan pernah bosan memberi sampai manusia bosan menikmatinya.

Ingatlah firman Allah,

وَقَالَ يٰبَنِيَّ لَا تَدْخُلُوْا مِنْۢ بَابٍ وَّاحِدٍ وَّادْخُلُوْا مِنْ اَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍۗ وَمَآ اُغْنِيْ عَنْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ. (قرآن سورة يوسف/١٢: ٦٧)

Dia (Ya‘qub) berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda. (Namun,) aku tidak dapat mencegah (takdir) Allah dari kamu sedikit pun. (Penetapan) hukum itu hanyalah hak Allah. Kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya (saja) orang-orang yang bertawakal (meningkatkan) tawakal(-nya).” (QS. Yūsuf/12: 67)

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Nabi Yakub berkata kepada anak-anaknya agar ketika sampai di istana raja Mesir, mereka tidak masuk bersama-sama dari satu pintu gerbang, tetapi masuk dari pintu-pintu gerbang yang lain, supaya terhindar dari penglihatan mata orang yang hasad atau mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Di samping itu agar Bunyamin sempat bertemu dengan Yusuf secara terpisah dari saudara-saudaranya yang lain.
Nabi Yakub menasihatkan pula bahwa walaupun mereka sudah berusaha menghindari berbagai kemungkinan yang membahayakan, namun beliau tidak dapat mencegah ketentuan dari Allah, sebab keputusan menetapkan sesuatu hanya berada di tangan-Nya. Semua pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan disertai keyakinan bahwa ketentuan dari Allah pasti terjadi, dan tidak seorang pun yang dapat menghalang-halanginya. Oleh karena itu, hanya kepada-Nyalah semua orang bertawakal dan berserah diri.

Dan,

اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٦٠)

Jika Allah menolongmu, tidak ada yang (dapat) mengalahkanmu dan jika Dia membiarkanmu (tidak memberimu pertolongan), siapa yang (dapat) menolongmu setelah itu? Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (Āli ‘Imrān/3: 160)

Jika benar-benar bertawakal kepada Allah maka Allah akan menyelesaikan semua urusannya dan mendatangkan rezeki dari arah yang tak terduga. Ini adalah kekuatan pamungkas orang beriman. Lihatlah pahamilah firman Allah berikut:

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا. (قرآن سورة الطلاق/٦٥: ٢)

Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, rujuklah dengan mereka secara baik atau lepaskanlah mereka secara baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil dari kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Yang demikian itu dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. (QS. Aṭ-Ṭalāq/65: 2)

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا.(قرآن سورة الطلاق/٦٥: ٣)

dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. Aṭ-Ṭalāq/65: 3)

Selanjutnya, Imam Ibnu Majah berkata,

حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ ابْنِ هُبَيْرَةَ عَنْ أَبِي تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ يَقُولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا. (رواه إبن ماجه: ٤١٥٤)

Telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku Ibnu Lahi'ah dari Ibnu Hubairah dari Abu Tamim Al Jaisyani dia berkata; Aku mendengar Umar berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan kalian rizeki sebagaimana burung mendapatkan rizeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore harinya dalam keadaan kenyang." (HR. Ibnu Majah: 4154 - shahih dari 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H. Hadits ahlul Maru)

Demikian juga hadits riwayat imam At Tirmidzi: 2266, Ahmad: 200, 348 dan 351 - shahih dari 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H. Selanjutnya, pada riwayat imam at Tirmidzi diakhir hadits menjelaskan, "Hadits ini hasan shahih, kami hanya mengetahuinya melalui jalur sanad ini dan nama Abu Tamim Al Jaisyani adalah 'Abdullah bin Malik". Hanya saja pada hadits riwayat imam Ahmad: 200 terdapat tambahan kalimat sebelum kalimat "taghdhu" yaitu "أَلَا تَرَوْنَ أَنَّهَا" (ketahuilah, tidakkah kau lihat?), Syu'aib Al Arna'uth menilai sanadnya qawi.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa penyerahan diri secara total kepada Allah adalah sebuah sikap orang-orang yang beriman yang tangguh. Ini terbukti dengan kecukupan yang Allah anugerahkan kepadanya. Sehingga semua urusan, masalah dan rezekinya dicukupkan oleh Allah, mereka ridha (puas) dengan apa yang diberikan oleh Allah dan Allah meridhai sikap dan perbuatan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ. (قرآن سورة النووية/٩: ٥١)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. (QS. At-Taubah/9: 51)

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Minggu, 26 September 2021

Waw Al-Tsamâniyah Dalam Perspektif Bahasa dan Tafsir


Waw Al-Tsamâniyah Dalam Perspektif Bahasa dan Tafsir 
Oleh : Samsurizal 

ABSTRAK 

Al-Qur'an merupakan dasar ajaran Islam yang qath`iy, turun dan ditulis secara tauqifiy, langsung ditulis oleh para shahabat kepercayaan Nabi Muhammad SAW bukan ishtilahiy apalagi hasil ijtihad Nabi Muhammad (ijtihadiy). Kandungan ada yang muhkam dan mutasyabih. Ini menandakan kekayaan yang sangat besar, memberikan kepada manusia untuk memahami huruf demi huruf, ayat demi ayat, surat demi surat, hubungan ayat dengan ayat, hubungan surat dengan surat dan lain sebagainya. Semua ini menghendaki penafsiran yang beragam asalkan tidak keluar dari akidah Islam. 

Pada bahasan kali ini penulis mencoba menguraikan satu huruf yaitu huruf waw. Tata bahasa yang dirujuk adalah tata bahasa Arab. Kajian ini, memunculkan berbagai macam waw sekaligus fungsi dan kegunaannya, dan yang lebih penting lagi adalah penafsiran atau kajian lanjutan dari hal-hal yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penulis menemukan baik dalam kaidah bahasa Arab maupun kaidah tafsir dengan merujuk kepada kitab tata bahasa Arab dan kitab tafsir yaitu waw sebagai harf al-jar, harf al-`athaf, harf al-qasam, waw za'idah, waw hakim dan terakhir waw al-tsamaniyah. Yang menjadi fokus bahasan penulis kali ini adalah waw yang terakhir ini. 

Pelacakan hadits dan informasi tentang penafsirannya penulis menggunakan program Maktabah Syamilah versi 2.11 dan Al Quran Digital, Versi 2.0, 2004. 

Kata kunci: al-waw dan al-tsamaniayah, maksudnya adalah waw delapan. Sedangkan kata “Perspektif” adalah pandangan. Jadi, maksud judul di atas adalah Waw al-Tsamaniyah dalam pandangan bahasa dan tafsir. 

 I. Pendahuluan 

Al-Wawu adalah satu huruf termasuk yang perlu diperhitungkan dari 28 buah huruf Ijaiyah yang lainnya. Dalam tata bahasa Arab dikenal beberapa fungsi huruf "waw", yaitu wawu disebut dengan istilah harf, yang dapat merobah akhir kata baik harakat maupun huruf. Ia dapat juga menjadi salah satu tanda i`rab raf' dan tanda jamak dari yang mufrad dan mutsanna. Kemudian ia dinamakan juga harf `illah bagi fi`il yaitu fi`l al-shahih dan fi`l al-mu`tal. Jika fi`il tidak dimasuki oleh huruf `illah "waw, alif dan ya" maka disebut fi`l al-shahih, begitu juga sebaliknya jika terdapat ketiga huruf tersebut maka dinamakan fi`l al-mu`tal, seperti mu`tal waw "وَجَبَ", mu`tal alif "جَاءَ" dan mu`tal ya "قَضَى". 

 Kemudian ada lagi yang dinamakan dengan waw ma`aniy. Bentuk ini kalau diterjemahkan berarti 'beserta'. Ia suka masuk kepada fi`il mudhari' dan me-nashab-kannya, seperti kalimat, "إِذْهَبْ وَأَخُوْكَ وَ يَحْسُنَ اِلَيْكَ" (pergilah kamu, beserta saudaramu akan berbuat baik kepadamu). 

Contoh lain sebagaimana firman Allah dalam Qur'an surat (QS.) Thâhâ ayat 42 tentang perintah-Nya kepada Nabi Musa a.s menghadap fir`aun:

 اِذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي (42). (طه/20: 42) 

 Artinya: "Pergilah kamu beserta saudaramu (Harun) dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku." (QS. Thâhâ/20: 42) 

Selanjutnya, ada juga yang dikenal dengan sebutan harf al-`Athaf (Kata Sambung), seperti firman Allah, " إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ " (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan). `Athaf menurut bahasa ialah lafazh yang mengikut kepada yang sebelumnya. Artinya ia mengikut kepadanya (lafazh sebelumnya dengan perantaraan huruf). Sedangkan menurut istilah ada yang mengatakan, "Pengikut yang diperantarai antara pengikut dan yang diikuti ada salah satu huruh dari huruf yang sepeluh". 

Huruf-huruf `athaf yaitu al-wawu, al-fa', tsumma, hatta, auw, am, bal, la, lakin dan imam ( الواو، الفاء، ثم، حتى، أو، أم، بل، لا، لكن، إما ). Demikian juga halnya dengan waw sebagai harf al-jar mempunyai pengertian sumpah (harf qasm) yang diterjemahkan dengan "demi". Pada dasarnya sama dengan harf al-jar yang lain, yaitu suka men-jar-kan kata sesudahnya. Manna' al-Qaththan menjelaskan dalam Mabahits fi `Ulum al-Qur'an bahwa qasm jamaknya aqsâm. Qasam berarti al-hilf dan al-yamîn yakni sumpah. Sighat aslinya ialah fi`il "aqsam" atau "ahlafa" yang dimuta`addiy (transitif)-kan dengan "ba" untuk sampai kepada muqsam bih (sesuatu yang digunakan untuk bersumpah), lalu disusul dengan muqsam `alaih (sesuatu yang karenanya sumpah diucapkan) yang dinamakan dengan jawab qasam. Sighat qasam tidak akan berfungsi tanpa di-ta`diyah-kan dengan huruf "ba". Seperti firman Allah: 

 وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَنْ يَمُوتُ بَلَى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(38). (سورة النحل/16: 38) 

 Artinya: "Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, "Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati." Tidak demikian (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari-Nya, tetapi kebanyakkan manusia tidak mengetaui." (QS. Al-Nahl/16: 38) 

 Maksudnya, orang-orang musyrik benar-benar dan sungguh-sungguh bersumpah atas nama Allah, bahwasanya Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati. Tidak demikian, bahkan pasti Allah akan membangkitkannya, karena hal itu sebuah janji yang benar dari Allah. Akan tetapi kebanyakkan manusia tidak mengetahui bahwa mereka akan dibangkitkan kembali. Banyak firman Allah menyatakan tentang penekanan bahwa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya baik Mukmin maupun Kafir, nikmat atau azab, surga atau pun neraka dan lain sebagainya. Selanjutnya Qaththan menjelaskan ada tiga unsur dalam sighat qasam, yaitu fi`il yang ditransitifkan dengan "ba", muqsam bih dan muqsam `alaih. Karena qasam sering digunakan dalam percakapan maka ia diringkas, yaitu fi`il qasam dihilangkan dan dicukupkan dengan "ba". Kemudian "ba" pun diganti dengan "waw" pada isim zhahir, seperti firman Allah والليل إذايغشى (demi malam, bila menutupi cahaya siang), dan diganti dengan "ta" pada lafazh jalalah, misalnya وتالله لأكيدن أصنامكم (Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu). Tetapi qasam dengan "ta" ini jarang digunakan, sedang yang banyak adalah dengan waw. Salah satu contoh harf al-qasam yang menggunakan huruf waw:

 فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ(23). (سورة الذاريات/51: 23) 

 Artinya: "Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. ". (QS. Al-Dzariyat/51: 23) 

Dengan masuknya huruf waw, sebagai huruf qasam maka `amil (pelaku) nya wajib dihapuskan. Setelah wawu harus diikuti oleh isim zhahir. Untuk mempertegas kevalidan sumpah ini dalam ajaran Islam perlu dipaparkan penjelasan Manna' al-Qaththan bahwa Allah dapat saja bersumpah dengan apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi sumpah manusia dengan selain nama Allah adalah salah satu bentuk kemusyrikan. Sebagaimana sabda Rasul berikut:

1. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ قَالَ سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ رَجُلاً يَحْلِفُ لاَ وَالْكَعْبَةِ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ ». (سنن أبي داود/2: 242) 

2. حدثنا قتيبة حدثنا أبو خالد الأحمر عن الحسن بن عبيد الله عن سعد بن عبيد أن ابن عمر سمع رجلا يقول : لا والكعبة فقال ابن عمر لا يحلف بغير الله فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من حلف بغير الله فقد كفر أو أشرك. (سنن الترمذي/4: 110) 

Maksud dua hadits di atas ialah: berkata Abu Dawud … (riwayat itu) … dari Sa`id bin `Ubaidah dia berkata Ibnu Umar mendengar seseorang bersumpah, "Tidak, Demi Ka`bah", maka Ibnu Umar menasehatinya, saya mendengar Rasul Allah SAW. bersabda, "Siapa yang bersumpah dengan selain (nama) Allah, maka ia telah musyrik. Dalam riwayat al-Tirmidziy dari Sa`id bin `Ubaid dengan lafazh, "sungguh ia telah kafir atau musyrik". Selanjutnya, Allah bersumpah dengan makhluk-Nya, karena makhluk itu menunjukkan Penciptanya, yaitu Allah, di samping menunjukkan pula keutamaan dan kemanfaatan makhluk tersebut, agar dijadikan pelajaran bagi manusia. Bentuk terakhir ini lebih banyak dalam al-Qur'an. Dari al-Hasan diriwayatkan, ia berkata: 

 إِنَّ اللهَ يُقْسِمُ بِمَا شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُّقْسِمَ إِلاَّ بِللَّهِ. (أخرجه إبن أبي حاتم) 

Artinya: "Allah boleh bersumpah dengan makhluk yang dikehendaki-Nya. Namun tidak boleh bagi seorang pun bersumpah kecuali dengan (nama) Allah." (HR. Ibnu Abiy Hatim) 

QASAM, Allah bersumpah dengan nama makhluk-Nya dalam al-Qur'an disebutkan dalam beberapa bentuk yaitu al-tîn, al-zaitûn, al-thûr, al-shâffât , al-syamsu , al-lail dan al-dhuhâ . Demikian juga dengan kata al-najm, kitâb dan lainnya. Tidaklah dikatakan qasam kecuali dengan nama yang dimuliakan. Muhammad bin Muhammad bin Abu Syuhbah mengemukakan tentang penulisan harf al-waw pada fi`il (kata kerja) dalam al-Qur'an. Ia mencontohkan ayat-ayat berikut: 

 1. وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا(11). (سورة الإسرأ/17: 11) 

Artinya: "Dan manusia(sering sekali)berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa". (QS. Al-Isrâ'/17: 11) 

2. أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَإِنْ يَشَأِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَى قَلْبِكَ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ(24). (سورة الشورى/42: 24) 

Artinya: "Ataukah mereka mengatakan, "Dia (Muhammad) telah mengada-adakan kebohongan tentang Allah." Sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia kunci hatimu. Dan Allah Menghapus yang batil dan Membenarkan yang benar dengan Firman-Nya (al-Qur'an). Sungguh Dia mengetahui segala isi hati". (QS. Al-Syurâ/42: 24) 

3. فَتَوَلَّ عَنْهُمْ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَى شَيْءٍ نُكُرٍ(6) خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ(7). (سورة القمر/54: 6 – 7) 

Artinya: "maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), sambil menundukkan pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan ". (QS. Al-Qamar/54: 6-7) 

4. سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ(18). (سورة العلق/96: 18) 

Artinya: "Kelak Kami akan Memanggil Malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa." (QS. Al-`Alaq/96: 18)

Ayat-ayat di atas tertulis di dalam Mushaf `Utsmaniy tanpa memakai waw. Peniadaan harf al-waw tersebut mengandung rahasia yang dalam bagi orang yang memiliki ketajaman akal. Al-Maraqisyiy berpendapat rahasia peniadaan atau pun penulisannya pada fi`il tersebut memperingatkan betapa cepat terjadinya suatu tindakan tersebut bagi pelakunya dan betapa beratnya kesan yang diterima orang yang terkena dampaknya. 

Adapun peniadaan harf al-waw dalam ungkapan yang pertama adalah untuk menunjukkan bahwa manusia begitu bergegas dalam berdo`a untuk kejahatan, sebagaimana halnya mereka bergegas berdo`a untuk kebaikan. Tetapi, penetapan kejahatannya lebih kuat daripada menetapan kebaikannya, apalagi dalam keadaan marah. Adapun rahasia peniadaan harf al-waw dalam ungkapan yang kedua menunjukkan betapa cepatnya ke-bathil-an itu sirna. Contoh ketiga menunjukkan peristiwa itu saat itu juga dipanggil dan keluar dari kubur mereka sambil menundukan pandangan. Sementara itu, rahasia peniadaan harf al-waw dalam ungkapan keempat menunjukkan betapa cepat tindakan dan jawaban dari Malaikat Zabaniyah. Ini sama halnya dengan penambahan huruf sin dan saufa ( س، سوف ) pada ayat-ayat berikut: 

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(142). (سورة البقرة/2: 142) 

Artinya: "Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus". (QS. Al-Baqarah/2: 142) 

Ayat ini memaparkan bahwa orang-orang yang kurang pikirannya sehingga tidak dapat memahami maksud pemindahan kiblat. Ketika Nabi Muhammad berada di Mekah di tengah-tengah kaum musyirikin beliau berkiblat ke Baitul Maqdis. Setelah 16 atau 17 bulan Nabi berada di Madinah ditengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani beliau disuruh oleh Tuhan untuk mengambil Ka'bah menjadi kiblat, terutama untuk memberi pengertian bahwa dalam ibadah salat bukanlah arah Baitul Maqdis dan Ka'bah itu menjadi tujuan, tetapi menghadapkan diri kepada Tuhan. Untuk persatuan umat Islam, Allah menjadikan Ka'bah sebagai kiblat. 

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ(3). (سورة التكاثر/102: 3) 

Artinya: "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)." (QS. Al-Takatsur/102: 3) 

Lihatlah, pada QS. Al-Baqarah ayat 142, respon orang-orang yang tidak mengetahui maksud pemindahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke arah Ka`bah sangat cepat. Sedangkan, pada QS. Al-Takatsur ayat tiga tersebut ada hal yang tersirat masa untuk mengetahui kejadiannya tidak tentu. Mereka yang bermegah-megah dan menumpuk-numpuk harta tanpa memanfaatkannya kepada hal yang diridhai Allah, nanti akan diperlihatkan Neraka kepadanya setelah ia dekat ke pintu kubur. Disamping penulis menemukan sebuah istilah dalam beberapa kitab tafsir, yaitu "waw al-tsamaniyah" (waw delapan). Istilah inipun tidak penulis ditemukan dalam kaidah-kaidah tafsir dan kitab atau buku yang membahas tentang ilmu-ilmu al-Qur'an, tetapi penulis temukan dalam kitab tafsir, seperti tafsir al-Mishbah, tafsir Ibnu Katsir, tafsir al-Qurthubiy dan al-Raziy. 

II. Bahasan 

A. Waw al-Tsamaniyah dalam al-Qur'an Surat (QS.) al-Zumar ayat 73,

 وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ (73) وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (74). (سورة الزمر/39: 73) 

 Artinya: "Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya. Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki; maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal." (QS. Al-Zumar/20: 42) 

Sebagaimana hadits-hadits berikut: 

 حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق أخبرنا معمر عن الزهري عن حميد بن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من أنفق زوجين من ماله في سبيل الله دعي من أبواب الجنة وللجنة أبواب فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة ومن كان من أهل الصدقة دعي من باب الصدقة ومن كان من أهل الجهاد دعي من باب الجهاد ومن كان من أهل الصيام دعي من باب الريان فقال أبو بكر والله يا رسول الله ما على أحد من ضرورة من أيها دعي فهل يدعى منها كلها أحد يا رسول الله قال نعم وإني أرجو ان تكون منهم. تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين. (مسند أحمد بن حنبل/2: 267) (خ م ت س) سهل بن سعد - رضي الله عنه - قال : قال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- : «إنَّ في الجنة بابا يقال له : الرَّيان ، يدخل منه الصائمون يوم القيامة ، لا يدخلُ منه أحد غيرُهم ، يقال : أين الصائمون ؟ فيقومون ، لا يدخل منه أحد غيرهم، فإذا دخلوا أغْلِق فلم يَدْخُل منه أحد ». وفي رواية « إنَّ في الجنة ثمانيةَ أبواب ، منها باب يسمى الريان ، لا يدخله إلا الصائمون » أخرجه البخاري ومسلم. (جامع الأصول من أحاديث الرسول/1: 7235) حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِى مَرْيَمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ قَالَ حَدَّثَنِى أَبُو حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ ». (صحيح البخاري/3: 1188) وَحَدَّثَنِى أَبُو عُثْمَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ كَانَتْ عَلَيْنَا رِعَايَةُ الإِبِلِ فَجَاءَتْ نَوْبَتِى فَرَوَّحْتُهَا بِعَشِىٍّ فَأَدْرَكْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَائِمًا يُحَدِّثُ النَّاسَ فَأَدْرَكْتُ مِنْ قَوْلِهِ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ». قَالَ فَقُلْتُ مَا أَجْوَدَ هَذِهِ. فَإِذَا قَائِلٌ بَيْنَ يَدَىَّ يَقُولُ الَّتِى قَبْلَهَا أَجْوَدُ. فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ قَالَ إِنِّى قَدْ رَأَيْتُكَ جِئْتَ آنِفًا قَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ - أَوْ فَيُسْبِغُ - الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ ». (صحيح مسلم/1: 144) أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حَرْبٍ الْمَرْوَزِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ وَأَبِي عُثْمَانَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فُتِّحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ. (النسائي/1: 100) 

Riwayat-riwayat di atas menginformasikan bahwa pintu-pintu surga akan memanggil calon penghuninya dari tiap-tiap pintu sesuai amalan mereka. Abu Hurairah berkata, bersabda Rasul Allah SAW, "Orang yang berinfak untuk jalan Allah maka mereka akan dipanggil dari salah satu pintu surga, yang gemar bersedekah maka dipanggil oleh pintu sadakah, orang yang selalu berjihad maka dipanggil oleh pintu jihad, begitu juga orang yang gemar berpuasa dipanggil oleh pintu surge yang disebut pintu al-Rayyan, begitu juga amalan-amalan yang lain. Demikian pula riwayat dari Sahal bin Sa`ad, dengan maksud yang sama dan tidak akan pernah tersalah. Selanjutnya, riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari Sahal bin Sa`ad tegas menyatakan bahwa pintu surga itu adalah delapan. Riwayat `Uqbah bin `Amir menambahkan bahwa apabila seorang muslim berwudhuk dan menyempurnakan wudhuknya kemudian salat dua rakaat maka ia berhak masuk surga ditambahkan lagi, setelah berwudhuk ia mengucapkan, "Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, maka Allah membukakan delapan pintu surga. 

Dan banyak lagi riwayat lain yang diungkapkan oleh Ibnu Katsir untuk menguatkan pendapat ini. Selanjutnya sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal hadits dari `Ubadah bin al-Shamad bahwasanya Nabi SAW bersabda asalkan tidak mempersekutukan-Nya, menegakkan salat, menunaikan zakat, tunduk dan patuh (sam`u wa atha`a) maka Allah akan memasukkan kedalam salah satu delapan pintu surga. Tentunya akan lebih banyak lagi apabila dilacak hadits-hadits yang berhubungan dan semakna dengan masalah ini ditemukan dalam kitab-kitab matn al-hadits baik kutub al-Sittah atau kutub al-Tis`ah, maupun kitab-kitab syarahnya. 

B. Waw al-Tsamaniyah dalam QS. Al-Taubah/9: ayat 112 

 التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (112). (سورة التوبة/9: 112) 

Artinya : " Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu." (QS. Al-Taubah/9: 112) 

 Yang dimaksud dengan kata al-Sâ'ihûn melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad. Ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa. Al-Qurthubiy menjelaskan huruf "waw" sebelum kata al-hâfizhûn, adalah waw al-tsamaniyah karena tujuh bagi orang Arab adalah hitungan yang sempurna, inilah pendapat yang benar. Demikian juga waw sebelum kata abkâra pada surat al-Tahrim ayat 5, al-Zumar ayat 73 huruf waw sebelum kata futihat, al-Kahfi ayat 22 huruf waw sebelum kata tsâminuhum. 

Biasanya orang Arab menyebutkan satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, dan delapan, sembilan, sepuluh, beginilah yang mereka sebutkan. Ketika sampai pada hitungan ke delapan maka mereka menggunakan huruf al-waw sebelum kata ke delapan tersebut. Quraish Shihab menafsirkan QS. Al-Taubah ayat 112 ini, bahwa, ”Allah menyebutkan taubat sebagai sifat pertama yang disandang oleh orang mukmin karena mereka telah berjuang dengan diri dan harta mereka untuk mengharap keridhaan-Nya. Ini terkait dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 111. Kemudian menjelaskan, karena memang jalan menuju Allah harus dimulai dengan membersihkan diri dari segala noda, sedang hal ini tidak dapat dilakukan tanpa taubat. Jalan menuju kebahagiaan panjang, sehingga beban berat harus ditinggalkan. 

Taubat adalah dasar dari segala amal saleh. Kemudian disusul dengan ibadah dalam pengertian umum, dank arena ibadah dan keberagamaan dibuktikan antara lain dengan pengakuan, maka yang disebut setelah ibadah adalah pengakuan yang berupa pujian. Pujian harus bersumber dari hati dan kenyataan yang disadari, maka yang disebut setelahnya adalah perjalanan di bumi dalam rangka melihat kenyataan serta melihat betapa banyak nikmat Allah yang harus diakui dan dipuji, dan ini pada akhirnya mengantar seseorang ruku` dan sujud salat patuh lagi tunduk kepada-Nya karena kepatuhan harus dilaksanakan oleh semua makhluk tidak terbatas pada diri seseorang, maka sifat berikutnya adalah upaya mengukuhkan kebaikan dan meluruskan kesalahan dengan memerintahkan yang ma`ruf dan mencegah yang munkar, dan ini bila dilaksanakan akan menghasilkan dan mengantar seseorang memelihara semua hokum dan ketentuan Allah. Demikian terlihat keserasian penyebutan sifat-sifat di atas. 

Lebih lanjut Quraish mengutib pendapat Thabathaba'i bahwa al-Ta'ibun/para yang bertaubat adalah yang kembali menuju Allah yang mengabdi kepada-Nya sehingga menjadi pengabdi. Pengabdian itu, bermula dari lidahnya, sehingga mereka menjadi para pemuji (Allah), juga dengan kakinya, sehingga menjadi para pelawat dari satu tempat dan lembaga agama atau masjid ke tempat dan lembaga yang lain, serta beribadah dengan badannya, ruku` dan sujud, sehingga menjadi para peruku` dan pensujud. Itulah keadaan mereka bila ditinjau dari kesendirian mereka. Adapun bila ditinjau dari keadaan mereka pada saat bersama dalam kelompok, maka mereka menjadi penyuruh ma`ruf dan mencegah munkar. 

Selanjutnya, baik dalam keadaan sendirian maupun bersama kelompok, mereka selalu memelihara dan melaksanakan hukum-hukum Allah. Ayat di atas tidak menggunakan huruf ( و )waw/dan untuk menghubungkan sifat dengan sifat lain kecuali dalam hal amar ma`ruf dan nahi munkar serta pemeliharaan hukum-hukum Allah. Ini, menurut al-Harrali yang dikutib oleh al-Biqa'I, adalah sebagai isyarat bahwa sifat-sifat --- selain amar ma`ruf dan nahi munkar itu tidak harus dilaksanakan dalam bentuk sesempurna mungkin, karena, menurutnya, apabila ada sifat yang digabung dengan sifat lain tanpa menggunakan penghubung (waw/dan) maka itu mengandung makna ketidaksempurnaan, berbeda dengan bila terdapat sekian sifat yang dirangkai dengan kata penghubung itu. 

Al-Biqa`i menegaskan bahwa karena amar ma`ruf dan nahi munkar, demikian juga memelihara hukum-hukum Allah. Keduanya digabung dengan kata dan, maka ini berarti perintah untuk menyempurnakannya. Thahir Ibnu `Asyur mengutib pendapat ulama yang memperkenalkan apa yang dinamai (واو الثمانية ) waw al-tsamaniyah / huruf waw delapan. Wahbah Zuhaili dalam ensiklopedia al-Qur'an menafsirkan QS. Al-Zumar ayat 73 bahwa orang-orang yang menjauhi azab Tuhan mereka dibawa dengan cepat dan lembut ke surge untuk memberikan kegembiraan bagi mereka secara berombongan dan berurutan sesuai dengan tingkat keimanan dan ibadahnya. Sehingga, apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka sebagai penghormatan dan penghargaan untuk menyambut mereka dengan sambutan yang baik dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya yaitu malaikat-malaikatnya, "Keselamatan bagi kalian dari semua bencana dan siksa, berbahagialah kalian disebabkan kesucian kalian dari dosa dan maksiat! Maka, masukilah surge ini, sedang kalian kekal di dalamnya. Selanjutnya ketika al-Qurthubiy menafsirkan QS. Al-Kahfi ayat 22: 

 سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمقُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا(22) (سورة الكهف/18: 22) 

Artinya : "Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya." Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit." Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka." (QS. Al-Kahfi/18: 22) 

Ia mengutib pendapat al-Tsa`labiy dari Abiy Bakar bin `Iyâs bahwasanya orang Quraisy berhitung enam, tujuh, dan delapan. Mereka memasukkan waw al-tsamaniyah pada hitungan ke delapan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh al-Baghawiy dalam tafsirnya Mu`alim al-Tanzil. Al-Raziy menambahkan, orang-orang menamakan waw semacam itu dengan waw al-tsamaniyah. Ia menambahkan tidak berlaku pada QS. Al-Hasyr/59 ayat 23: 

 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ(23). (الحشر/59: 23) 

Artinya: "Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Al-Hasyr/59: 23) 

Pada ayat ini dinamai dengan al-na`tu tsamin. Demikian juga al-Syaukaniy menyebutkan bahwa ada yang berpendapat waw sebelum kata "tsaminuhum" pada QS. Al-Kahfi ayat 22 adalah waw za'idah sebagai penguat (takkid) dan ada yang berpendapat itu adalah waw al-tsamaniyah, karena orang Arab bila sampai pada bilangan ke delapan maka sebelumnya ditambah dengan huruf waw. 

III. Penutup 

Kajian tentang harf al-waw di atas, menunjukkan penting dan luasnya kandungan firman Allah. Hilang satu huruf saja dari yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya maka besar konsekwensi yang harus dipertanggungjawabkan atau akibatnya. Tetapi betapa pun usaha manusia yang tidak senang kepada al-Qur'an untuk merobah, menghilangkan atau menyamarkan huruf-huruf yang ada di dalamnya, sungguh Allah Maha Pemelihara dari perbuatan atau pun niat seperti itu. Dia yang telah mewahyukan, Dia juga yang akan memeliharanya. 

Huruf waw dalam bahasan ini terdiri dari waw sebagai tanda rafa`, salah satu harf `illah, harf al-jar dan harf al-qasam, serta sebagai waw tambahan (ziyadah). Masing-masingnya mempunyai fungsi dan pengaruh terhadap kata sesudahnya. Penamaan Waw al-Tsamaniyah dikaitkan pada tradisi pengungkapan Bahasa Arab, kebiasaan orang Arab menyebut bilangan ke delapan dengan menggunakan waw al-tsamaniyah. Al-Qur’an menyebutkan jika menyebutkan maratib ke delapan dengan menggunakan ini, untuk memuliakan dan menyempurnakan nikmatnya berupa balasan yang sangat besar (surga). Menunjukkan pesan yang sempurna dan istimewa. Ini disebut juga al-wawu al-za’idah atau waw za'idah sebagai penguat pernyataan. 

DAFTAR RUJUKAN 

Abu Syuhbah, Muhammad bin Muhammad, Studi Ulumul Quran, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2003), Cet. I 

Al-Nasa'iy, Abu `Abd al-Rahman Ahmad bin Syu`aib, Sunan al-Nasa'iy bi Syarh al-Suyuthiy, (Bairut: Dar al-Ma`rifah, 1420 H), Cet. V, Juz I 

Al-Raziy, Abu `Abdillah Muhammad bin `Umar bin al-Hasan bin al-Husain al-Taimiy (gelarnya: Fakhr al-Din al-Raziy), Mafatih al-Ghaib, (ttp. : tp.. tth), Juz X 

Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairiy al-Naisyaburiy, Shahih Muslim, (Bairut: Dar al-Jil, tth.), Juz I 

Abu Muhammad al-Husain bin Mas`ud al-Baghawiy, Mu`alim al-Tanzil, (ttp.: Dar Thayyibah li al-Nasyar al-Tauzi`, 1997), Juz V Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), Cet. IX 

Ahmad bin Hanbal Abu `Abd Allah al-Syaibaniy, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, (Qahhira: Mu'assasah Qurthubah), Juz V 

Ahmad bin Hanbal Abu `Abdillah al-Syaibaniy, Musnad Ahmad bin Hanbal, (Qahirah: Mu'assasah al-Qurthubah, tth), Juz II Al-Tsa`labiy, Kasyf al-Bayan, (ttp.: tp., tth.), Juz VIII 

Ibnu Atsir, Jami` al-Ushul min Ahadits al-Rasul, (ttp.: tp, tth), Juz I Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-`Azhim, muhaqqiq: Samiy bin Muhammad Salamah, (ttp. : Dar Thaiyibah li al-Nasyar al-Tauzi`, 1999), Juz V 

Khalid bin `Utsman al-Sabat, Qawa`id al-Tafsir, (Madinah: Dar Ibnu `Affan, 1421 H), Cet. I 

Al-Qaththan, Manna' Khalil, Mabahits fi `Ulum al-Qur'an, (Riyadh: Manshurat al-`Ashr al-Hadits, 1973) 

Al-Syaukani, Muhammad bin `Aliy, Fath al-Qadir baina Fanniy al-Riwayah wa al-Dirayah min `Ilm al-Tafsir, (ttp. : tp., tth.), Juz III 

Al-Tirmidziy Al-Silmiy, Muhammad bin `Isa Abu `Isa, Al-Jami` al-Shahih Sunan al-Tirmidziy, tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, (Bairut: Dar al-Turats al-`Arabiy, tth.), Juz IV 

Al-Bukhariy al-Ja`fiy, Muhammad bin Isma`il Abu `Abd Allah, Shahih Al-Bukhariy, tahqiq: Musthafa Dib al-Bugha, (Bairut: Dar Ibnu Katsir, 1987), Juz III 

Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih, Pengantar Ilmu Tafsir, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2004), Cet. I 

Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur'an, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Cet. IX 

Salimudin, dkk, Tata Bahasa Arab untuk Mempelajari Al-Qur'an, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2004), Cet. V 

Abu Dawud Al-Sijistaniy al-Azdiy, Sulaiman bin al-Asy`ats, Sunan Abiy Dawud, tahqiq: Muhammad Muhy al-Din `Abd al-Hamid, (ttp.: Dar al-Fikr, tth.), Juz II Al-Qurthubiy, 

Syams al-Din, Tafsir al-Qurthubiy, (ttp.: tp, tth), Juz VIII Zuhaili, Wahbah, dkk., Ensiklopedia al-Qur'an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), Cet. I

Jumat, 24 September 2021

JANGAN MEREMEHKAN PENAMPILAN ORANG (Hadits al Barra' bin Malik dan Anjasyah)Tema ke-700


JANGAN MEREMEHKAN PENAMPILAN ORANG
(Hadits al Barra' bin Malik dan Anjasyah)
Tema ke-700
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam at Tirmidzi berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ حَدَّثَنَا سَيَّارٌ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ وَعَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ مِنْ أَشْعَثَ أَغْبَرَ ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ مِنْهُمْ الْبَرَاءُ بْنُ مَالِكٍ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ٣٧٨٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Ziyad telah menceritakan kepada kami Sayyar telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Tsabit dan 'Ali bin Zaid dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Berapa banyak orang yang rambutnya kusut masai, berdebu dan hanya memiliki dua pakaian usang serta tidak ada yang peduli dengannya, namun apabila dia bersumpah atas nama Allah, niscaya akan terkabul, di antara mereka adalah Al Barra` bin Malik." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan gharib dari jalur ini." (HR. At Tirmidzi: 3789 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz, karena diriwayatkan oleh dua orang tabi'in dari shahabat Anas bin Malik)

Siapakah al Barra' bin Malik?. Ia adalah pemandu jalan para musafir, sebagaimana hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau menceritakan:

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ وَعَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ الْبَرَاءَ بْنَ مَالِكٍ كَانَ يَحْدُو بِالرِّجَالِ وَأَنْجَشَةَ يَحْدُو بِالنِّسَاءِ وَكَانَ حَسَنَ الصَّوْتِ فَحَدَا فَأَعْنَقَتْ الْإِبِلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَنْجَشَةُ رُوَيْدًا سَوْقَكَ بِالْقَوَارِيرِ. (رواه أحمد: ١٣١٧٦)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil dan 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Anas bin Malik, pernah Al Barra' bin Malik memandu rombongan safar para laki-laki sedangkan Anjasyah menuntun rombongan para wanita. Kebetulan karena suara Anjasyah bagus, ia memandu sambil mendendangkan lagu dan mempercepat jalan untanya. Maka Rasulullah ﷺ menegur, "Wahai Anjasyah pelanlah jika memandu qawarir (bejana kaca) ini. (HR. Ahmad: 13176 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya)

Guru imam Ahmad dimaksud adalah:

1. Muzhaffar bin Mudrik, ia tabi'in (tidak jumpa shahabat) kuniyahnya Abu Kamil negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 207 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shaduq. Ibnu Sa'ad dan Abu Daud menilainya tsiqah. An Nasa'i menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Ibnu Hajar mejelaskan, "tsiqah mutqin, tidak meriwayatkan hadits melainkan dari yang tsiqah". Begitu juga Ibnu Hibban berkomentar, "disebutkan dalam ats tsiqat".

2. Affan bin Muslim bin 'Abdullah, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Utsman negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 219 H. Penilaian ulama: Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah dan adz Dzahabi menilainya hafizh. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa seseorang yang penampilannya miskin, namun ia dekat dengan Allah. Apabila ia bersumpah (berdoa) atas nama Allah akan terwujud. Di antara mereka adalah Al Barra` bin Malik. Walau pun Rasul menyebutkan nama al Barra' bin Malik, sesungguhnya hal ini menunjukkan karakter yang sama atau sepadan dengannya juga termasuk dalam kelompok ini. Mungkin saja ketaatan dan keistiqamahannya serta ke-tawadhuk-annya, sehingga membuat ia melenyapkan keinginan terhadap keduniawian. Sehingga apa pun yang ia mohonkan kepada Allah dikabulkan. Sebagai pemandu jalan pada saat musafir, beliaulah yang menjadi pemandu dalam perjalanan Rasulullah dan para shahabat lainnya.

Terkait dengan perjalanan jauh, dimasa Rasulullah ada pemandu bagi kaum laki-laki. Begitu juga bagi kaum perempuan, seperti Anjasyah. Menyesuaikan pemandu ini tentu agar terpeliharanya aib atau kemudahan komunikasi antara pemandu dengan yang dipandu. Sehingga perjalanan safar menjadi nyaman.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

MEMELIHARA MUR'AH (memakai sandal sebelah)


MEMELIHARA MUR'AH
(memakai sandal sebelah)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Mur'ah (harga diri) seorang muslim menjadi hal yang sangat penting untuk dijaga. Hal ini berlaku baik bagi hal-hal yang kecil maupun hal yang besar agar tetap terhormat dan dihargai. Sehingga dalam setiap aktivitas mereka senantiasa terpelihara. Ini bertujuan untuk menghindari perlakuan yang tidak baik dari orang lain.

Sebagai contoh perbuatan yang mungkin dianghap lumrah jika seseorang memakai sesuatu yang sumbang. Sebagaana diajarkan oleh Rasulullah dalam riwayat-riwayat berikut.

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا أَبُو نُوحٍ قُرَادٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَمْشِيَ الرَّجُلُ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ. (رواه أحمد: ١٣٩٦٥)

Telah bercerita kepada kami Abu Nuh Qurad telah bercerita kepada kami Malik dari Abu Az Zubair dari Jabir sesungguhnya Nabi ﷺ melarang seseorang berjalan dengan satu sandal. (HR. Ahmad: 13965 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Hadits lengkapnya diriwayatkan dalam riwayat-riwayat berikut:

Imam Malik berkata,

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَمْشِيَنَّ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيُحْفِهِمَا جَمِيعًا. (رواه مالك: ١٤٢٨)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian berjalan dengan menggunakan satu sandal, hendaknya dia memakai kedua-duanya atau melepaskannya semuanya." (HR. Malik: 1428 - shahih menurut Salim bin 'Ied al Hilaliy dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits ahlul Madinah, tsulatsiyat)

Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 1696 (hadits 'aziz, karena imam at Tirmidzi meriwayatkan dari dua orang gurunya) - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Pada akhir lafazh Imam Muslim: 3914 dan Abu Daud: 3607 (hadits ahlul Madinah) meriwayatkan dengan lafazh "aw liyakhla'huma" (melepas keduanya). Sedangkan imam al Bukhari: 5408 (hadits ahlul Madinah) dengan lafazh "aw liyun'ilhuma" memakai keduanya. Begitu juga hadits riwayat imam Ibnu Majah: 3607 dengan lafzh "aw liyamsyi fiihima" (memakai keduanya). Semuanya dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Redaksi lain diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ ذَكْوَانَ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا انْقَطَعَ شِسْعُ أَحَدِكُمْ فَلَا يَمْشِ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ. (رواه أحمد: ٩٨٣٠)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman dari Dzakwan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Jika tali sandal salah seorang dari kalian putus maka janganlah berjalan di atas satu sandal." (HR. Ahmad: 9830 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Berdasarkan teks hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa ia diriwayatkan secara makna bahwa menjadi hal yang tidak baik dilakukan oleh seseorang muslim apabila ia memakai sandal sebelahnya saja. Karena akan memengaruhi mur'ah (harga diri). Oleh sebab itu, ia harus meninggalkan perbuatan tersebut. Demikian juga hadits yang lainnya dalam redaksi berbeda, namun masih dalam konteks memakai sesuatu sebagaimana mestinya.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Selasa, 21 September 2021

KESALAHAN YANG TIDAK DISENGAJA WAKTU AKAN TIDUR DAN LARANGAN MENYALAHKAN SIAPA PUN

KESALAHAN YANG TIDAK DISENGAJA WAKTU AKAN TIDUR DAN LARANGAN MENYALAHKAN SIAPA PUN
Oleh: Samsurizal, MA


Bismillaahir rahmaanir rahiem, 

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.


Kebiasaan seseorang waktu akan tidur menyebabkan dapat memberi mudharat dan bisa juga memberi manfaat untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu membiasakan diri kepada hal yang baik waktu akan tidur merupakan suatu kemestian agar mendatangkan ketenangan dan kenyamanan. Diantara kebaikan tersebut adalah bersih-bersih waktu akan tidur. Hal ini untuk menghindari kebiasaan menyalahkan orang lain atau benda apa pun itu. Hendaknya salahkanlah diri sendiri agar melakukan hal yang baik waktu akan tidur. 

Nah, pada tulusan kali ini penulis paparkan riwayat-riwayat terkait dengan kebiasaan tidur dan larangan menyalahkan yang lain apabila terjadi sesuatu hal yang tidak disukai waktu tidur. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٩١) 

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Āli ‘Imrān/3: 191)

Ayat ini mengajarkan senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Begitu juga mereka senantiasa memikirkan keagungan ciptaan Allah, sehingga menanmbah kenyamanannya dalam iman dan ketenangannya. 

Imam Ibnu Majah berkata, 

حَدَّثَنَا جُبَارَةُ بْنُ الْمُغَلِّسِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ وَسِيمٍ الْجَمَّالُ حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ الْحَسَنِ عَنْ أُمِّهِ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْحُسَيْنِ عَنْ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أُمِّهِ فَاطِمَةَ ابْنَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا لَا يَلُومَنَّ امْرُؤٌ إِلَّا نَفْسَهُ يَبِيتُ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ. (رواه إبن ماجه: ٣٢٨٧) 

Telah menceritakan kepada kami Jubarah bin Al Mughallas telah menceritakan kepada kami 'Ubaid bin Wasim Al Jammal telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Al Hasan dari ibunya Fatimah binti Husain dari Al Husain bin Ali dari ibunya Fatimah putri Rasulullah ﷺ, dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah, jangan sekali-kali seseorang menyalahkan kecuali pada dirinya sendiri; dia bermalam sementara di tangannya masih ada minyak sisa makanan (yang belum dibersihkan)." (HR. Ibnu Majah: 3287 - hasan bima ba'dahu menurut al Albani dari Fathimah binti Rasulullah ﷺ kuniyahnya Ummu al Hasan negeri hidup Madinah dan wafat tahun 11 H) 

Hadits yang shahih daripada hadits Fathimah di atas adalah hadits berikutnya dari Abu Hurairah. Sebagaimana imam Ibnu Majah berkata, 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي الشَّوَارِبِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ حَدَّثَنَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَامَ أَحَدُكُمْ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ فَلَمْ يَغْسِلْ يَدَهُ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ. (رواه إبن ماجه: ٣٢٨٨) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik bin Abu Asy Syawarib telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Al Muhtar telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abu Shalih dari Ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian tidur sedang di tangannya masih menyisakan aroma masakan dan dia tidak mencuci tangannya kemudian mengenainya, maka jangan sekali-kali ia menyalahkan kecuali pada dirinya sendiri." (HR. Ibnu Majah: 3288 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga lafazh hadits riwayat imam Abu Daud: 3354 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Sementara imam Ahmad meriwayatkan hadits semakna dengan lafazh yang berbeda, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ أَخْبَرَنَا وُهَيْبٌ قَالَ مَعْمَرٌ حَدَّثَنَا عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا بَاتَ أَحَدُكُمْ وَفِي يَدِهِ غَمَرٌ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ. (رواه أحمد: ٨١٧٥) 

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah mengabarkan kepada kami Wuhaib, Ma'mar berkata; dia telah menceritakan kepada kami dari Az Zuhri dari Sa'id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian tidur dan di tangannya terdapat minyak samin kemudian mengenainya, maka janganlah mencela kecuali kepada dirinya sendiri." (HR. Ahmad: 8175 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lafazh selanjutnya (keempat) diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ الْبَغْدَادِيُّ الصَّاغَانِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَائِنِيُّ حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَاتَ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ١٧٨٣) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Ishaq Al Baghdadi Ash Shaghani, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far Al Mada`ini, telah menceritakan kepada kami Manshur bin Abul Aswad dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bermalam sementara di tangannya masih terdapat bau lemak daging, sehingga ia tertimpa sesuatu, maka janganlah ia mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya dari hadits Al A'masy kecuali dari jalur ini. (HR. At Tirmidzi: 1783 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga maksud hadits riwayat imam Ahmad berikut. Beliau berkata, 

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ وَفِي يَدِهِ غَمَرٌ وَلَمْ يَغْسِلْهُ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ. (رواه أحمد: ٧٢٥٣) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa tidur sedang ditangannya masih terdapat ghomar (minyak sisa daging) dan ia belum mencucinya kemudian mengenai sesuatu, maka janganlah mencela kecuali dirinya sendiri." (HR. Ahmad: 7253 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga lafazh hadits riwayat Ahmad: 10518 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Semakna juga dengan hadits di atas imam ad Darimi meriwayatkan, 

 أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ عَنْ خَالِدٍ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ فَعَرَضَ لَهُ عَارِضٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ. (رواه الدارمي: ١٩٧٤) 

Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Aun dari Khalid dari Suhail dari Ayahnya dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa ketika tidur di tangannya masih terdapat bau lemak daging, kemudian terjadi sesuatu padanya, maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri." (HR. Ad Darimi: 1974 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Perbedaan lafazh hadits tersebut di atas adalah pengginaan lafazh: naama (tidur), riihu (bau), dan baata (ketiduran) dan ghamar (minyak sisa daging). Sehingga hadits di atas dapat dipahami bahwa seseorang apa bila hendak tidur mesti membersihkan tangannya. Sehingga tidak mengganggu tidurnya. Jika ia merasa kesal maka kesalahan pada dirinya sendiri hendaknya ditebus dengan membersihkan tangannya. Hal ini sejalan dengan hadits terkait dengan berwudhuk apabila hendak tidur, membersihkan tempat tidur, menutup pintu atau jendela, wadah dan memadamkan lampu. Hal ini mengajarkan bahwa perlunya kenyamanan dan kebersihan waktu tidur. Sehingga terhindar dari sesuatu hal mengganggu tidurnya. Apakah disebabkan bau atau minyak yang melekat pada tangannya akan mengundang binatang seperti semut, tikus dan lain-lain. Begitu juga dikarenakan tidak menjaga kebersihan yang bersangkutan mengalami mimpi buruk. 

Oleh sebab itu Rasulullah mengajarkan kebiasaan positif diantaranya berwudhuk dan berdoa waktu mau tidur. Sebab kondisi bersih dan berserahdiri kepada Allah akan mendatangkan ketenangan dan menghilangkan mudharat. 

Wallaahu a'lam bish shawaab. 

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.