Pages - Menu

Selasa, 31 Agustus 2021

SEDEKAH SELAIN HARTA DAN KEBAIKAN SEORANG MUSLIM SEJATI


SEDEKAH SELAIN HARTA DAN KEBAIKAN SEORANG MUSLIM SEJATI
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah menjadikan agama Islam yang dianut oleh umat muslim adalah kebaikan. Semua aktifitas mereka dinilai baik. Sehingga apa pun yang mereka dilakukan dinilai baik. Begitu juga ibadah mereka kepada Allah. Semua ini terjadi karena ajaran-ajaran yang diajarkan kepada mereka oleh Rasulullah ﷺ mereka ikuti dengan ikhlas dan benar. Oleh sebab itu akhlak mereka juga baik dan memahami islam dengan baik pula.

Selanjutnya, ajaran-ajaran tersebut terekam dalam riwayat-riwayat hingga saat ini dipelajari dan diamalkan oleh umat muslim dimanapun berada.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢٧٢)

Bukanlah kewajibanmu (Nabi Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, (manfaatnya) untuk dirimu (sendiri). Kamu (orang-orang mukmin) tidak berinfak, kecuali karena mencari rida Allah. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi. (QS. Al-Baqarah/2: 272)

Tulisan kali ini penulis paparkan ajaran-ajaran kebaikan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah kepada para shahabatnya. Hal tersebut diajarkan secara turun-temurun dan terus menerus.

Imam Abu Daud berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ
قَالَ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ. (رواه أبوداود: ٤٢٩٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abu Malik Al Asyja'i dari Rib'I bin Hirasy dari Hidzaifah ia berkata, "Nabi kalian ﷺ bersabda, "Setiap kebaikan adalah sedekah." (HR. Abu Daud: 4296 - shahih dari Hudzaifah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan qafat tahun 36 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 17992, 22281 dan 22290 - shahih dari Hudzaifah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan qafat tahun 36 H. Sementara itu imam Ahmad meriwayatkan dengan lafazh berbeda namun semakna, beliau berkata:

حَدَّثَنَا هَوْذَةُ قَالَ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ خِلَاسٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَلَى كُلِّ عُضْوٍ مِنْ أَعْضَاءِ بَنِي آدَمَ صَدَقَةٌ. (رواه أحمد: ٨٧٧٠)

Telah menceritakan kepada kami Haudzah telah menceritakan kepada kami 'Auf dari Khilas dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Pada setiap anggota tubuh anak Adam terdapat (kewajiban) sedekah." (HR. Ahmad: 8770 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'ut dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: hadits riwayat Ahmad: 8770, periwayat yang menerima langsung dari Abu Hurairah terputus.

Satu lagi, dari Jalur sanad Jabir bin 'Abdullah, imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا الْمُنْكَدِرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ وَمِنْ الْمَعْرُوفِ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ وَأَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَائِهِ. (رواه أحمد: ١٤١٨٢)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Al Munkadir bin Muhammad bin Al Munkadir dari bapaknya dari Jabir bin Abdullah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap yang baik adalah sedekah, dan diantara kebaikan adalah kamu bertemu saudaramu dengan wajah ceria, dan kamu menuangkan air dari timba kamu pada bejana (baskom) nya". (HR. Ahmad: 14182 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'ut dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 14182, terdapat periwayat yang dinilai jarah oleh para ulama kritikus hadits. Ia adalah Al Munkadir bin Muhammad bin al Munkadir, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal menilainya tsiqah, Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi, an Nasa'i dan al 'Ajli menilainya dha'if. Sementara Ibnu Hajar menilainya layyinul hadits. Sedangkan Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai'.

Demikian halnya lafazh berikut yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُنْكَدِرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ وَإِنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ وَأَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ أَخِيك. (رواه أحمد: ١٨٣٤٨)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id Telah menceritakan kepada ku Al Munkadir bin Muhammad Al Munkadir dari bapaknya dari Jabir bin Abdullah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap hal yang baik adalah sedekah. Termasuk dari kebaikan adalah kamu bertemu dengan saudaramu dengan wajah ceria dan kamu mengisi ember saudaramu dengan timbamu". (HR. Ahmad: 14348 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'ut dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Catatan: hadits riwayat imam Ahmad: 14348 juga terdapat al Munkadir bin Muhammad (lihat hadits riwayat Ahmad: 14182. Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 1893, namun dishahihkan oleh imam al Albani.

Berbeda dengan lafazh di atas imam Ahmad juga meriwayatkan dari Jalur Jundub bin Junadah, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَارِمٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ وَاصِلٍ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيْلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَتَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَتَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَتَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ أَحَدَكُمْ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى. (رواه أحمد: ٢٠٥٠١)

Telah menceritakan kepada kami 'Arim dan 'Affan keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun dari Washil budak Abu Uyainah, dari Yahya bin 'Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abul 'Aswad Ad Dili dari Abu Dzar berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap ruas tulang kalian berkewajiban untuk disedekahi pada setiap harinya, setiap tasbih adalah sedekah, tahlil adalah sedekah, takbir adalah sedekah, tahmid adalah sedekah, menyuruh untuk kebaikan adalah sedekah dan mencegah dari yang munkar adalah sedekah. Dan itu semua bisa kalian dapatkan dengan dua rakaat shalat Duha." (HR. Ahmad: 20501 - shahih, isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya: Muhammad bin al Fadhal dan 'Affan bin Muslim bin 'Abdullah)

Masih jalur Jundub bin Junadah (Abu Dzar) imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ وَاصِلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُصْبِحُ كُلَّ يَوْمٍ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ ابْنِ آدَمَ صَدَقَةٌ ثُمَّ قَالَ إِمَاطَتُكَ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ وَتَسْلِيمُكَ عَلَى النَّاسِ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَمُبَاضَعَتُكَ أَهْلَكَ صَدَقَةٌ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَقْضِي الرَّجُلُ شَهْوَتَهُ وَتَكُونُ لَهُ صَدَقَةٌ قَالَ نَعَمْ أَرَأَيْتَ لَوْ جَعَلَ تِلْكَ الشَّهْوَةَ فِيمَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ وِزْرٌ قُلْنَا بَلَى قَالَ فَإِنَّهُ إِذَا جَعَلَهَا فِيمَا أَحَلَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَهِيَ صَدَقَةٌ قَالَ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ صَدَقَةً صَدَقَةً قَالَ ثُمَّ قَالَ وَيُجْزِئُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ رَكْعَتَا الضُّحَى. (رواه أحمد: ٢٠٥٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Washil dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abu Dzar dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Setiap jiwa di tiap matahari terbit harus mensedekahi dirinya, beliau melanjutkan sabdanya, "Menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah, ucapan salammu pada manusia adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan persetubuhanmu terhadap istrimu adalah berpahala." Kami lantas bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seorang yang melepas syahwatnya bisa menjadi sedekah?" Beliau menjawab, "Ya, apa pendapatmu jika syahwat itu diletakkan di tempat yang Allah haramkan, bukankah itu akan menjadi dosa?" Kami menjawab, "Tentu." Beliau bersabda, "Demikian juga kalau diletakan pada sesuatu yang Allah halalkan, maka ia akan menjadi sedekah." Abu Dzar berkata, "Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal yang termasuk sedekah, beliau meneruskan sabdanya, "Dan cukuplah sedekah-sedekah ini diwakili dengan mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha." (HR. Ahmad: 20568 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Sedangkan imam Muslim meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ وَهُوَ ابْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى. (رواه مسلم: ١١٨١)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba`i telah menceritakan kepada kami Mahdi yaitu Ibnu Maimun telah menceritakan kepada kami Washil mantan budak Abu 'Uyainah dari Yahya bin 'Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abul Aswad Ad Du`ali dari Abu Dzarr dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Setiap pagi dari anggota badan masing-masing kalian (harus) ada sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma'ruf nahi munkar sedekah, dan semuanya itu dapat tercukupi dengan dua rakaat dhuha." (HR. Muslim: 1181 - shahih dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Jalur yang sama dan semakna, imam Abu Daud meriwayatkan,

حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ وَاصِلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيِّ قَالَ
بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ أَبِي ذَرٍّ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ فَلَهُ بِكُلِّ صَلَاةٍ صَدَقَةٌ وَصِيَامٍ صَدَقَةٌ وَحَجٍّ صَدَقَةٌ وَتَسْبِيحٍ صَدَقَةٌ وَتَكْبِيرٍ صَدَقَةٌ وَتَحْمِيدٍ صَدَقَةٌ فَعَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ ثُمَّ قَالَ يُجْزِئُ أَحَدَكُمْ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَا الضُّحَى. (رواه أبوداود: ١٠٩٤)

Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyah telah mengabarkan kepada kami Khalid dari Washil dari Yahya bin 'Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abu Al Aswad Ad Du`ali dia berkata, "Ketika kami berada di dekat Abu Dzar, dia berkata, "Hendaklah masing-masing dari kalian setiap harinya bersedekah untuk setiap ruas tulangnya. Setiap shalat (yang ia kerjakan) menjadi sedekah baginya, puasa adalah sedekah, haji adalah sedekah, bacaan tasbih adalah sedekah, bacaan takbir juga sedekah, bacaan tahmid adalah sedekah." Rasulullah ﷺ menghitung (menyebutkan) semua amal Shalih ini, lalu bersabda, "Cukuplah salah seorang dari kalian mengerjakan shalat dua rakaat dhuha untuk menggantikan semua itu." (HR. Abu Daud: 1094 - shahih dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Setiap Muslim wajib bersedekah, sebagaimana hadits riwayat imam al Bukhari, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ فَقَالُوا يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ يَعْمَلُ بِيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ وَلْيُمْسِكْ عَنْ الشَّرِّ فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ. (رواه تلبخاري: ١٣٥٣)

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Burdah dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi ﷺ bersabda, "Wajib bagi setiap muslim bershadaqah". Mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai Nabi Allah, bagaimana kalau ada yang tidak sanggup?". Beliau menjawab, "Dia bekerja dengan tangannya sehingga bermanfaat bagi dirinya lalu dia bershadaqah". Mereka bertanya lagi, "Bagaimana kalau tidak sanggup juga?". Beliau menjawab, "Dia membantu orang yang sangat memerlukan bantuan". Mereka bertanya lagi, "Bagaimana kalau tidak sanggup juga?". Beliau menjawab, "Hendaklah dia berbuat kebaikan (ma'ruf) dan menahan diri dari keburukan karena yang demikian itu berarti shodaqah baginya". (HR. Al Bukhari: 1353 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 5563, Muslim: 1676 (hadits 'aziz, karena imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya), an Nasa'i: 2491, Ahmad: 18710 dan 18855, ad Darimi: 2629 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H.

Imam al Bukhari meriwayatkan dengan redaksi tafshil (rinci) bahwa kebaikan selain harta tersebut disebutkan ada beberapa macam, sebagaimana beliau berkata:

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ وَيُمِيطُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ. (رواه البخاري: ٢٧٦٧)

Telah bercerita kepadaku Ishaq telah mengabarkan kepada kami 'Abdur Rozzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap ruas tulang pada manusia baginya shadaqah dan setiap hari disaat terbitnya matahari, seseorang yang mendamaikan antara dua orang yang bertikai adalah shadaqah dan menolong seseorang untuk menaiki hewan tunggangannya lalu mengangkat barang-barangnya ke atas hewan tunggangannya adalah shadaqah dan ucapan yang baik adalah shadaqah dan setiap langkah yang ditujukan untuk shalat adalah shadaqah dan menyingkirkan sesuatu yang bisa menyakiti atau menghalangi orang di jalanan adalah shadaqah". (HR. Al Bukhari: 2767 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 1677 dan Ahmad: 7836 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Al Bukhari: 5562, Muslim: 1673 (hadits 'aziz, karena imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya) - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H.

Selanjutnya imam Abu Daud meriwayatkan hadits masyhur diakhir sanad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ح و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ وَهَذَا لَفْظُهُ وَهُوَ أَتَمُّ عَنْ وَاصِلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ ابْنِ آدَمَ صَدَقَةٌ تَسْلِيمُهُ عَلَى مَنْ لَقِيَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُهُ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيُهُ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُهُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ وَبُضْعَتُهُ أَهْلَهُ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِي شَهْوَةً وَتَكُونُ لَهُ صَدَقَةٌ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ وَضَعَهَا فِي غَيْرِ حَقِّهَا أَكَانَ يَأْثَمُ قَالَ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ رَكْعَتَانِ مِنْ الضُّحَى قَالَ أَبُو دَاوُد لَمْ يَذْكُرْ حَمَّادٌ الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ
حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ وَاصِلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِىِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَذَكَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسْطِهِ. (رواه أبوداود: ٤٥٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid. (Dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' dari Abbad bin Abbad -ini adalah lafadz darinya, dan ini lebih lengkap- dari Washil dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abu Dzar dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Setiap hari setiap persendian anak Adam harus disedekahi, salam yang diberikan kepada orang yang dijumpainya adalah sedekah, setiap perintahnya kepada kebaikan adalah sedekah, setiap larangannya dari yang munkar adalah sedekah, membuang hal yang mengganggu jalan adalah sedekah, dan persetubuhannya dengan istri adalah sedekah." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, mendatangi istri dengan syahwat juga dihitung sebagai sedekah!" beliau menjawab, "Apa pendapatmu jika itu ia lakukan kepada yang bukan haknya, apakah ia berdosa?" Beliau lalu bersabda lagi, "Dan itu semua bisa diganti dengan dua rakaat dhuha." Abu Daud berkata, "Hammad tidak menyebutkan memerintahkan dan melarang (amar ma'ruf)." Telah menceritakan kepada kami Wahab bin Baqiyyah berkata, telah mengabarkan kepada kami Khalid dari Washil dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abul Aswad Ad Dili dari Abu Dzar dengan hadits yang sama. Dan ia menyebutkan Nabi ﷺ pada bagian tengahnya (hadits)." (HR. Abu Daud: 4564 - shahih dari dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Hadits masyhur diakhir sanad)

Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud: 1093 - shahih dari dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Hadits 'aziz, karena imam Abu Daud meriwayatkan dari dua orang gurunya.

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa baik ibadah wajib maupun sunat, bahkan kebaikan tersebut selalu menghampiri setiap detak jantung dan gerakan orang Muslim. Semua itu terkait dengan aktifitas pisik maupun non pisik seorang muslim. Sehingga bagi mereka tidak terlepas dari kebaikan-kebaikan hidup. Begitu juga waktu lapang maupun waktu sempit, waktu lelat maupun waktu jaganya.

Inilah aplikasi dari sabda Rasulullah ﷺ bahwa,

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَكَانَ يَقُولُ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا. (رواه أحمد: ٦٢١٥)

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Syaqiq dari Masruq dari Abdullah bin Amru bin Ash Sesungguhnya, Rasulullah ﷺ tidaklah keji dan tidak pula pernah berkata-kata keji, dan beliau bersabda, "Orang-orang yang paling baik diantara kalian adalah mereka yang akhlaknya paling bagus." (HR. Ahmad: 6215 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 5575, at Tirmidzi: 1898, Ahmad: 6526 (hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya) - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Sedangkan hadits riwayat imam Ahmad: 9640, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا إِذَا فَقِهُوا. (رواه أحمد: ٩٦٤٠)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Muhammad bin Ziyad berkata; Aku mendengar Abu Hurairah ia berkata; Aku mendengar Abul Qasim ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaqnya, jika ia paham (syariat islam)." (HR. Ahmad: 9640 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Wallaahu a'lam bis shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Sabtu, 28 Agustus 2021

ORANG KUAT EMOSINYA MENIKMATI KEMENANGAN


ORANG KUAT EMOSINYA MENIKMATI KEMENANGAN

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ فِيكُمْ الصُّرَعَةَ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ قَالَ لَا وَلَكِنْ الصُّرَعَةُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. (رواه أحمد: ٣٤٤٤)

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Ibrahim At Taimi dari Al Harits bin Suwaid dari Abdullah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang kalian anggap orang kuat?" ia berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak dapat dikalahkan. Ia berkata; Beliau bersabda, "Bukan, tetapi ia adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Ahmad: 3444 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam al Bukhari, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَب. (رواه البخاري: ٥٦٤٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Musayyib dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah orang yang kuat adalah orang yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah." (HR. Al Bukhari: 5649 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga lafazh yang diriwayatkan oleh imam Muslim: 4723, Ahmad: 6921 dan 10284, Malik: 1409 (tsulatsiyat, hadits ahlul Madinah) - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Lafazh dimaksud adalah:

" ... لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَب. (رواه البخاري، مسلم، أحمد و مالك)

" ... Tidaklah orang yang kuat adalah orang yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah." (HR. Al Bukhari, Muslim, Ahmad dan Malik)

Lihat kisah Talut dan bala tentara yang diabadikan dalam al Qur'an. Mereka melawan Raja Jalut dari suku Amalik yang gagah perkasa dan memiliki bala tentara besar dan senjata yang hebat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢبِيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ. (قرآن شورة البقرة/٢: ٢٤٩)

Maka, ketika Talut keluar membawa bala tentara(-nya), dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sesungguhnya dia tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk (golongan)-ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah/2: 249)

وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَالُوْا رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ۗ. (قرآن شورة البقرة/٢: ٢٥٠)

Ketika mereka maju melawan Jalut dan bala tentaranya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan menangkanlah kami atas kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah/2: 250)

فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِ  ۗوَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَاۤءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut. Kemudian, Allah menganugerahinya (Daud) kerajaan dan hikmah (kenabian); Dia (juga) mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam. (QS. Al-Baqarah/2: 251)

Tatkala raja Ṭalut keluar membawa tentaranya berperang melawan orang-orang Amalik, beliau memberi petunjuk lebih dahulu tentang peristiwa-peristiwa yang akan dialami, yaitu bahwa mereka nanti akan diuji oleh Allah dengan sebuah sungai yang mengalir di padang pasir. Beliau memperingatkan bahwa sungai itu bukan sungai biasa tetapi sungai untuk menguji mereka siapa yang teguh imannya dan siapa yang akan tergoda. Beliau berkata, “Siapa minum dari air sungai itu, maka bukanlah ia termasuk pengikutku, dan siapa yang tidak minum, maka ia adalah pengikutku, kecuali jika minum sekadar seciduk tangan saja.

Diriwayatkan bahwa ketika Bani Israil melihat Tabut telah kembali, mereka tidak ragu-ragu lagi bahwa mereka akan mendapat kemenangan, karena itu mereka segera mempersiapkan tentara untuk berperang. Atas petunjuk dari raja Ṭalut maka yang boleh ikut perang itu hanyalah laki-laki yang masih muda dan sehat badannya, tidak diperkenankan seorang yang sedang membangun rumah tetapi belum selesai atau seorang pedagang yang sedang sibuk mengurus perniagaannya dan tidak pula laki-laki yang mempunyai utang dan tidak pula pengantin yang belum berkumpul dengan istrinya. Dengan seleksi demikian maka raja Ṭalut dapat menghimpun 80.000 tentara yang dapat diandalkan untuk berperang. Oleh karena pada waktu mereka berangkat itu adalah musim panas dan penjalanan amat jauh melalui padang pasir, maka mereka mohon agar di tengah perjalanan diberi kesempatan minum dari sungai. Sebagian besar tentara itu tidak menghiraukan peringatan raja Ṭalut. Mereka minum sepuas hati dari air sungai itu dan ada pula yang minum hanya seciduk tangan, dan sedikit sekali yang tidak minum sama sekali.
Ketika raja Ṭalut dan orang-orang yang beriman telah menyeberangi sungai itu untuk melangsungkan jihad fī sabilillāh, maka berkatalah orang-orang yang telah minum itu,  Kami tidak sanggup pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.

Jalut itu adalah seorang yang besar tubuhnya dan menjadi raja bagi orang-orang Amalik.
Ucapan demikian itu tidak menakutkan tentara Ṭalut yang beriman yang berkeyakinan akan menemui Allah pada hari Kiamat dengan penuh keteguhan hati. Mereka berkata,  Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak, dengan izin Allah. Sebab Allah menyertai orang-orang yang sabar dengan pertolongannya.
Ketika raja Ṭalut beserta tentaranya telah berhadap-hadapan dengan raja Jalut dan tentaranya, dan menyaksikan betapa banyaknya jumlah musuh dan perlengkapan yang serba sempurna, mereka berdoa kepada Allah agar dilimpahkan iman ke dalam hati mereka, sabar dan tawakal pada Allah dan agar Allah menolong mereka mengalahkan musuh-musuhnya yang menyembah berhala itu.

Kemudian tentara Ṭalut mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah. Dalam peperangan itu, Nabi Dawud, yang juga ikut berperang, berhasil membunuh raja Jalut. Sebelum terjadi peperangan yang dahsyat itu, raja Jalut yang tubuhnya sangat besar dan tinggi dan memakai baju besi, dengan penuh kesombongan menantang untuk melakukan perang tanding seorang lawan seorang. Dari pihak Bani Israil sendiri tidak ada yang berani tampil ke muka untuk melayani tantangan itu, maka datanglah seorang pemuda penggembala kambing yaitu Dawud (yang kemudian menjadi nabi) dan beliau menyatakan kesediaannya untuk menghadapi raja Jalut. Ternyata yang dipergunakannya hanya sebuah alat pelempar batu yang selalu dipergunakan untuk melindungi kambing-kambingnya dari serangan serigala. Karena raja Jalut ini memakai baju besi, maka sukar sekali ditembus badannya dengan batu. Karena itu Dawud dengan kepandaiannya membidik lobang diantara dua matanya sebagai sasarannya, ternyata lemparan beliau tepat mengenai sasaran sehingga raja Jalut rubuh seketika karena dahinya ditembus oleh peluru batu itu.

Setelah itu Dawud mengambil pedangnya dan memenggal leher Jalut sehingga putus dan terpisah dari badannya. Maka dengan gugurnya raja Jalut itu buyarlah seluruh kaum Amalik karena rajanya telah terbunuh. Seluruh tentara Bani Israil dengan suara gemuruh dan gegap gempita menyambut Dawud yang kemudian dijadikan menantu oleh raja Ṭalut sebagai penghargaan atas jasanya.
Selain kemenangan itu, Allah menganugerahkan pula hikmah dan kerajaan kepada Dawud sehingga ia menjadi orang yang pertama-tama merangkap dua jabatan sekaligus, yaitu sebagai nabi dan raja.

Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, rusaklah bumi ini; dan seandainya Allah tidak menolak orang-orang jahat dan zalim dengan orang-orang yang berbuat kebajikan niscaya kejahatan itu akan tambah merajalela dan menghancurkan orang-orang yang baik. Tetapi Allah sengaja mengatur benteng-benteng pertahanan itu karena Allah mempunyai karunia yang dianugerahkan kepada semesta alam.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Talut dan Jalut raja Amalik yang bertubuh besar dan punya bala tentara yang kuat dan bersenjata lengkap mampu dikalahkan. Perang tanding yang dikehendaki karena kesombongan Jalut, sehingga membuat dia percaya diri. Ternyata hal tersebut tidak menjamin kemenangan mereka.

Kemenangan yang diraih adalah karena keimanan dan kesabaran. Sehingga tidak banyak diantara mereka yang mampu mengendalikan diri. Sehingga karena memperturut hawa nafsunya mereka menjadi lemah. Akhirnya Nabi Dawud dari kalangan bani Israil berhasil mengalahkan Jalut tersebut.

Hal ini menjadi bukti, bahwa golongan dan tubuh yang besar tidak menjadi jaminan meraih kemenangan. Hanya dengan keimanan, kesabaran dan pengetahuan hikmah yang kuat meraih kemenangan atas segala kejahatan.

Lebih lanjut, kondisi yang hampir sama juga dialami oleh Rasulullah waktu meletusnya perang badar. Hal ini juga diabadikan dalam al Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌ  ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٢٣)

Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah.*) Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur. (QS. Āli ‘Imrān/3: 123)

*) Perang Badar terjadi ketika umat islam jumlahnya sedikit dan perlengkapan perangnya kurang.

Sebagai penambah kekuatan jiwa dan ketabahan hati dalam menghadapi segala bahaya dan kesulitan, Allah mengingatkan mereka kepada perang Badar ketika mereka berada dalam keadaan lemah dan jumlah yang amat sedikit dibanding, dengan kekuatan dan jumlah musuh.
Berkat pertolongan Allah, mereka berhasil memporak-porandakan musuh hingga banyak di antara pembesar Quraisy yang jatuh menjadi korban dan banyak pula yang ditawan dan tidak sedikit harta rampasan yang diperoleh kaum Muslimin. Karena mereka ingat pada perintah Allah agar  mereka bersabar dan bertakwa kepada-Nya dan dengan sabar dan takwa itu mereka akan mendapat pertolongan daripada-Nya dan akan mendapatkan kemenangan.

Begitu juga waktu perang Uhud, Allah berfirman:

اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ

(Ingatlah) ketika engkau (Nabi Muhammad) mengatakan kepada orang-orang mukmin, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Tuhanmu membantumu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”. (QS. Āli ‘Imrān/3: 124)

بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ

“Ya (cukup).” Jika kamu bersabar dan bertakwa, lalu ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.(QS. Āli ‘Imrān/3: 125)

Untuk lebih memperkuat hati dan tekad kaum Muslimin dalam menghadapi Perang Uhud ini, Nabi mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan dibantu oleh Allah dengan 3.000 malaikat. Apabila mereka sabar dan tabah menghadapi segala bahaya dan bertakwa, Allah akan membantu mereka dengan 5.000 malaikat.
Menurut riwayat Aḍ-aḥḥāk, bantuan dengan 5.000 malaikat ini adalah janji dari Allah yang dijanjikan-Nya kepada Muhammad jika kaum Muslimin sabar dan bertakwa. Ibnu Zaid meriwayatkan, ketika kaum Muslimin melihat banyaknya tentara kaum musyrikin dan lengkapnya persiapan mereka, mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Apakah dalam perang Uhud ini Allah tidak akan membantu kita sebagaimana Dia telah membantu kita dalam Perang Badar?” Maka turunlah ayat ini.
Memang dalam Perang Badar Allah telah membantu kaum Muslimin dengan 1000 malaikat sebagai tersebut dalam firman-Nya:

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ 

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ”Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfāl/8: 9)

Pada mulanya dalam Perang Uhud ini pasukan kaum Muslimin sudah dapat mengacaubalaukan musuh sehingga banyak di antara kaum musyrik yang lari kocar-kacir meninggalkan harta benda mereka, dan mulailah tentara Islam berebut mengambil harta benda itu sebagai ganimah (rampasan). Melihat keadaan ini para pemanah diperintahkan oleh Nabi Muhammad ﷺ agar tetap bertahan di tempatnya, apa pun yang terjadi. Menyangka kaum musyrikin telah kalah, para pemanah pun meninggalkan tempat mereka dan turun untuk ikut mengambil harta ganimah.

Karena tempat itu telah ditinggalkan pasukan pemanah, Khalid bin Walid panglima musyrikin Quraisy waktu itu, dengan pasukan berkudanya naik ke tempat itu dan mendudukinya, lalu menghujani kaum Muslimin dengan anak panah dari belakang sehingga terjadilah kekacauan dan kepanikan di kalangan kaum Muslimin. Dalam keadaan kacau balau itu kaum musyrikin mencoba hendak mendekati markas Nabi ﷺ, tetapi para sahabat dapat mempertahankannya walaupun Nabi sendiri mendapat luka di bagian muka, bibirnya serta giginya pecah.

Akhirnya berkat kesetiaan mereka membela Nabi dan kegigihan mereka mempertahankan posisinya, mereka bersama Nabi naik kembali ke bukit Uhud dengan selamat. Dengan demikian berakhirlah pertempuran dan pulanglah kaum musyrikin menuju Mekah dengan rasa kecewa karena tidak dapat mengalahkan Muhammad dan pasukannya, walaupun mereka sendiri masih selamat dari kehancuran.

Wallaahu a'alam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Jumat, 27 Agustus 2021

HADITS TENTANG SHALAT DHUHA (hadits dha'if sanad dan matan-nya)


HADITS TENTANG SHALAT DHUHA
(hadits dha'if sanad dan matan-nya)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي الرِّشْكَ حَدَّثَتْنِي مُعَاذَةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَزِيدَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ وَقَالَ يَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ. (رواه مسلم: ١١٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Yazid yaitu Yazid Ar Risyk telah menceritakan kepadaku Ma'adzah, ia pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiallahu'anha, "Berapa rakaatkah Rasulullah ﷺ melakukan shalat (sunnah) dhuha?" Aisyah menjawab, "Empat rakaat, namun terkadang beliau menambah sekehendaknya." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Yazid dengan sanad seperti ini, Yazid mengatakan, "Sekehendak Allah." (bukan sekehehdaknya -pent). (HR. Muslim: 1175 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari tiga orang gurunya)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 23497, 23742, 24182 (hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya) dan 24219 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.

Terkait dengan hadits di atas terdapat hadits berbeda, sehingga ia bertentangan maknanya dengan hadits riwayat imam Muslim dan Ahmad di atas. Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ ابْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ أَبُو قُدَامَةَ الْعُمَرِيُّ قَالَ حَدَّثَتْنَا عَائِشَةُ بِنْتُ سَعْدٍ عَنْ أُمِّ ذَرَّةَ قَالَتْ
رَأَيْتُ عَائِشَةَ تُصَلِّي الضُّحَى وَتَقُولُ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَّا أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ. (رواه أحمد: ٢٣٦٠٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abdul Malik Abu Qudamah Al-Umary, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Aisyah binti Saad, dari Ummu Dzarrah berkata; saya melihat Aisyah melaksanakan shalat Duha, dan dia (Aisyah) mengatakan, "Saya tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat (dhuha) melainkan empat rakaat." (HR. Ahmad: 23602 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Catatan: Dalam hadits riwayat Ahmad: 23602 terdapat periwayat yang majhul (tidak dikenal) yaitu: Ya'qub bin Ibrahim bin 'Abdullah bin 'Abbas, ia tabi'in kalangan pertengahan. Oleh karena itu, hadits tersebut dinilai dha'if, bukan saja sanad-nya yang bermasalah tetapi matan-nya berbeda dengan riwayat orang tsiqah.
Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Kamis, 26 Agustus 2021

DUA PAKAIAN YANG DISUKAI RASULULLAH


DUA PAKAIAN YANG DISUKAI RASULULLAH
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup. Ia juga merupakan simbol kemuliaan dan kehormatan. Sehingga muncul berbagai model dan fungsi yang diciptakan. Hal ini menyebabkan kreatifitas perancang dan industri pakaian, selanjutnya menjadi fashion atau karakter (akhlak) seseorang. Bahkan pada giliran sebagai kultur pada suku, kelompok,  wilayah, atau bangsa tertentu.

Secara khusus tidak dijelaskan bahwa ada pakaian tertentu menjadi pakaian islamiy. Hanya saja, dalam Islam diajarkan bagaimana berpakaian yang baik dan terhindar dari hal yang haram baik cara atau pun bahan yang digunakan. Islam mengajarkan berpakaian untuk melindungi diri (pisik maupun non pisik), menutup aurat dan kenyamanan bagi pemkai dan yang melihat.

Selanjutnya, Rasulullah sebagai pribadi yang sangat memerhatikan mur'ah, martabat dan akhlak beliau lebih senang memakai pakaian yang sederhana, longgar dan tidak ribet. Nah, kesenangan pada pakaian beliau tunjukkan waktu beliau bergaul dengan para shahabat beliau. Diinformasikan oleh Ummu Salamah, Anas bin Malik, Ibnu Umar dan Buraidah bahwa beliau senang dan lebih suka pakaian gamis dan al Hibarah (kain yang direnda dari wol atau bergaris yang terbuat dari katun atau kapas). Ini ditemukan dalam riwayat imam al Bukhari, Muslim, at Tirmidzi, an Nasa'i, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad.

Lebih jelasnya, simak hadits-hadits dimaksud sebagaimana penulis paparkan di bawah ini.

Imam at Tirmidzi berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تُمَيْلَةَ وَالْفَضْلُ بْنُ مُوسَى وَزَيْدُ بْنُ حُبَابٍ عَنْ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ
كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَمِيصُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ بْنِ خَالِدٍ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ مَرْوَزِيٌّ وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي تُمَيْلَةَ عَنْ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أُمِّهِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ. (رواه الترمذي: ١٦٨٤)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid Ar Razi berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Tumailah dan Al Fadhl bin Musa dan Zaid bin Hubab dari Abdul Mukmin bin Khalid dari Abdullah bin Buraidah dari Ummu Salamah ia berkata, "Pakaian yang paling disukai oleh Nabi ﷺ adalah gamis." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan gharib, kami mengetahuinya dari hadits Abdul Mukmin bin Khalid dengan periwayatan tunggal, dan dia adalah seorang Marwazi. Sebagian mereka juga meriwayatkan hadits ini dari Abu Tumailah, dari Abdul Mukmin bin Khalid, dari Abdullah bin Buraidah, dari ibunya, dari Ummu Salamah." (HR. At Tirmidzi: 1684 - shahih dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H. Hadits masyhur)

Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 1685 dan 1686, Abu Daud: 3507 - shahih dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H.

Sementara itu imam al Bukhari meriwayatkan bahwa pakaian yang disukai Rasulullah adalah al Hibarah (kain yang direnda dari wol atau bergaris yang terbuat dari katun atau kapas). Beliau berkata,

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الْأَسْوَدِ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ أَحَبُّ الثِّيَابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَلْبَسَهَا الْحِبَرَةَ. (رواه البخاري: ٥٣٦٦)

Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Al Aswad telah menceritakan kepada kami Mu'adz dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Qatadah dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu dia berkata, "Pakaian yang paling disukai oleh Nabi ﷺ adalah memakai hibarah (kain yang direnda atau bergaris)." (HR. Al Bukhari: 5366 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 5365 (hadits ahlul Bashrah), Muslim: 3878, at Tirmidzi: 1709, (hadits ahlul Bashrah), an Nasa'i: 5220, Ahmad: 12438, 13134 dan 13594 (hadits ahlul Bashrah) - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Dalam redaksi semakna imam Abu Daud meriwayat,

حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْنَا لِأَنَسٍ يَعْنِي ابْنَ مَالِكٍ أَيُّ اللِّبَاسِ كَانَ أَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَعْجَبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحِبَرَةُ. (رواه أبوداود: ٣٥٣٨)

Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid Al Azdi berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah ia berkata, "Kami berkata kepada Anas -maksudnya Anas Ibnu Malik-, "Baju apa yang paling disukai atau dikagumi oleh Rasulullah ﷺ?" ia menjawab, "Kain hibarah (yaitu kain halus yang berasal dari yaman menurut orang-orang yaman ini adalah kain terbaik)." (HR. Abu Daud: 3538 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa baju atau pakaian yang sangat disukai dan disenangi oleh Rasulullah memakainya adalah gamis dan al Hibarah (kain yang direnda dari wol atau bergaris yang terbuat dari katun atau kapas). Kedua baju ini terbuat dari kapas atau berendakan wol.

Umar bin Khaththab pernah didoakan oleh Rasulullah karena memakai baju putih, sebagai imam Ibnu Majah meriwayatkan:

حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى عُمَرَ قَمِيصًا أَبْيَضَ فَقَالَ ثَوْبُكَ هَذَا غَسِيلٌ أَمْ جَدِيدٌ قَالَ لَا بَلْ غَسِيلٌ قَالَ الْبَسْ جَدِيدًا وَعِشْ حَمِيدًا وَمُتْ شَهِيدًا. (رواه إبن ماجه: ٣٥٤٨)

Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Mahdi Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq Telah memberitakan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ melihat Umar mengenakan pakaian putih, maka beliau pun bertanya, "Apakah pakaianmu ini habis di cuci atau benar-benar baru?" dia menjawab, "Tidak, akan tetapi bajuku habis di cuci." Beliau bersabda, "ILBAS JADIDAN WA 'ISY HAMIDAN WA MUT SYAHIDAN (Pakailah baju baru dan hiduplah dengan terhormat serta matilah sebagai syahid) '." (HR. Ibnu Majah: 3548 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad terdapat tanbahan dalam riwayatnya, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ ثَوْبًا أَبْيَضَ فَقَالَ أَجَدِيدٌ ثَوْبُكَ أَمْ غَسِيلٌ فَقَالَ فَلَا أَدْرِي مَا رَدَّ عَلَيْهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَسْ جَدِيدًا وَعِشْ حَمِيدًا وَمُتْ شَهِيدًا أَظُنُّهُ قَالَ وَيَرْزُقُكَ اللَّهُ قُرَّةَ عَيْنٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. (رواه أحمد: ٥٣٦٣)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Zuhri dari Salim, dari Ibnu Umar, dia berkata, Nabi ﷺ pernah melihat Umar memakai baju warna putih lalu beliau bertanya kepadanya, "Apakah baju ini baru atau habis dicuci?" dia (Ibnu Umar) berkata, saya tidak tahu apa jawaban Umar saat itu, tapi Nabi ﷺ lalu mendoakannya, "ILBAS JADIIDAN WA 'ISY HAMIIDAN WA MUT SYAHIIDAN, (Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan mulia dan matilah dengan mati syahid)." Dan seingatku beliau menambahkan doa, "WAYARZUQUKALLAAHU QURRATA AININ FID DUNYA WAL AAKHIRAH (Dan semoga Allah memberimu suatu hal yang menyejukkan pandangan di dunia maupun di akhirat). (HR. Ahmad: 5363 - rijalnya tsiqah menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Kasih dan sayang beliau kepada dua orang cucu beliau memakai baju warna merah. Pada saat beliau berkhuthbah tetap tercurah kasih dan sayang kepada mereka. Hal ini diinformasikan oleh imam Ibnu Majah dalam riwayatnya, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرِ بْنِ بَرَّادِ بْنِ يُوسُفَ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ قَاضِي مَرْوَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ قَالَ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَأَقْبَلَ حَسَنٌ وَحُسَيْنٌ عَلَيْهِمَا السَّلَام عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ فَنَزَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَهُمَا فَوَضَعَهُمَا فِي حِجْرِهِ فَقَالَ صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
{ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ }
رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ ثُمَّ أَخَذَ فِي خُطْبَتِهِ. (رواه إبن ماجه: ٣٥٩٠)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Abdullah bin 'Amir bin Barrad bin Yusuf bin Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy'ari dia berkata; telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid Qadli Marwa telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah bahwa Ayahnya telah menceritakan kepadanya, dia berkata, "Saya melihat Rasulullah ﷺ berkhutbah, kemudian Hasan dan Husain 'alaihima salam menghampiri beliau dengan mengenakan baju warna merah dan keduanya berdiri. Nabi ﷺ lalu mengambil keduanya serta meletakkannya di pangkuan, beliau lalu bersabda, "Mahabenar Allah dan rasul-Nya; 'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)…' (QS. At Taghabun/64: 15), aku melihat kedua anak ini dan aku tidak sanggup menahan diri (untuk memeluknya)." Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya." (HR. Ibnu Majah: 3590 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)

Lebih lanjut dijelaskan Rasulullah memeluknya disebabkan kedua cucu beliau terjatuh karena baju mereka sendiri. Oleh sebab itu beliau memendekkan khutbah. Sebagaimana hadits riwayat imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ أَنَّ زَيْدَ بْنَ حُبَابٍ حَدَّثَهُمْ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ ثُمَّ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ
{ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ }
رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ. (رواه أبوداود: ٩٣٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` bahwa Zaid bin Al Hubab telah menceritakan kepada mereka, katanya; telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah dari ayahnya dia berkata; Rasulullah ﷺ tengah berkhutbah di tengah-tengah kami, tiba-tiba Hasan dan Husain radhiallahu'anhuma membawakan dua baju yang berwarna merah. Keduanya lalu terjatuh, Rasulullah ﷺ turun dari mimbar dan menggendong keduanya lalu kembali ke mimbar dengan bersabda, "Mahabenar Allah atas firman-Nya: 'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan'. (QS. At Taghaabun/64: 15). Aku melihat kedua anak ini terjatuh dalam kedua bajunya, maka aku tidak sabar hingga aku mempersingkat khutbahku." (HR. Abu Daud: 935 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 3707, an Nasa'i: 1396 dan 1567, Ahmad: 21917 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H.

Ayat al Qur'an dibaca Rasulullah saat itu adalah penggalan firman Allah QS. At Taghaabun/64 ayat 15. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ  ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة التغاين/٦٤: ١٥)

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar. (QS. At-Tagābun/64: 15)

Sedangkan pada QS. Al Anfaal/8 ayat 28 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ  ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة الأنفال/٨: ٢٨)

Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. (QS. Al-Anfāl/8: 28)

Allah memperingatkan kaum Muslimin agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak-anak mereka itu adalah cobaan. Maksudnya ialah bahwa Allah menganugerahkan harta benda dan anak-anak kepada kaum Muslimin sebagai ujian bagi mereka itu apakah harta dan anak-anak banyak itu menambah ketakwaan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah ditentukan Allah. Apabila seorang muslim diberi harta kekayaan oleh Allah, kemudian ia bersyukur atas kekayaan itu dengan membelanjakannya menurut ketentuan-ketentuan Allah berarti memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah terhadap mereka. Tetapi apabila dengan kekayaan yang mereka peroleh kemudian mereka bertambah tamak dan berusaha menambah kekayaannya dengan jalan yang tidak halal serta enggan menafkahkan hartanya, berarti orang yang demikian ini adalah orang yang mengingkari nikmat Allah. Dalam kehidupan manusia di masyarakat, harta benda adalah merupakan kebanggaan dalam kehidupan dunia. Sering orang lupa bahwa harta benda itu hanyalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada mereka, sehingga mereka kebanyakan tertarik kepada harta kekayaan itu dan melupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan.

Demikian juga anak adalah salah satu kesenangan hidup dan menjadi kebanggaan seseorang. Hal ini adalah merupakan cobaan pula terhadap kaum Muslimin. Anak itu harus dididik dengan pendidikan yang baik sehingga menjadi anak yang saleh. Apabila seseorang berhasil mendidik anak-anaknya menurut tuntutan agama, berarti anak itu menjadi rahmat yang tak ternilai harganya. Akan tetapi apabila anak itu dibiarkan sehingga menjadi anak yang menuruti hawa nafsunya, tidak mau melaksanakan perintah-perintah agama, maka hal ini menjadi bencana, tidak saja kepada kedua orang tuanya, bahkan kepada masyarakat seluruhnya. Oleh sebab itu, wajiblah bagi seorang muslim memelihara diri dari kedua cobaan tersebut. Hendaklah dia mengendalikan harta dan anak untuk dipergunakan dan dididik sesuai dengan tuntutan agama serta menjauhkan diri dari bencana yang ditimbulkan oleh harta dan anak tadi.

Allah menegaskan bahwa sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maksudnya ialah barang siapa yang mengutamakan keridaan Allah dari pada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapat pahala yang besar dari sisi Allah. Peringatan Allah agar manusia tidak lupa kepada ketentuan agama lantaran harta yang banyak dan anak yang banyak disebutkan pula dalam ayat yang lain.
Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ. (قرآن سورة المنافقون/٦٣: ٩)

Wahai orang-orang yang beriman! janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Munafiqūn/63: 9)

Demikianlah pada tulisan kali ini yang dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat. Billaahi fii sabiilil haqq.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. 

Rabu, 25 Agustus 2021

MANUSIA TERBAIK ADALAH MEMAHAMI ISLAM DENGAN BAIK


MANUSIA TERBAIK ADALAH MEMAHAMI ISLAM DENGAN BAIK
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Umat Islam adalah umat terbaik. Secara religius dan sosial, islam menawarkan kepada umatnya ajaran ilahiyah yang mengesakan Tuhan sebagaimana layaknya fitrah kemanusiaan terbaik. Berdasarkan keturunan semua manusia sama, namun dalam secara kultural mereka disuguhkan kultur yang berbeda dengan yang lainnya. Hal ini berkembang dari nilai-nilai ketuhanan dan karakter "rahmatan lil 'aalamien. Sehingga tindak tanduknya mengacu pada ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah berdasarkan wahyu Allah berupa kitab suci yang diakui kebenarannya. Oleh karena itu melekat pada tiap kabilah, suku dan bangsa yang bertuhankan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١١٠)

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (QS. Āli ‘Imrān/3: 110)

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسُ مَعَادِنُ تَجِدُونَ خِيَارَهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارَهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا. (رواه أحمد: ٧١٨٣)

Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Manusia itu ibarat barang tambang, kalian dapati orang yang terbaik dari mereka pada masa jahiliyyah adalah orang yang terbaik pula di dalam Islam, yaitu jika mereka memahami Islam." (HR. Ahmad: 7183 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat kuniyahnya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 7228 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat kuniyahnya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Sedangkan imam al Bukhari meriwayatkan, bahwa beliau berkata:

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَجِدُونَ النَّاسَ مَعَادِنَ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا وَتَجِدُونَ خَيْرَ النَّاسِ فِي هَذَا الشَّأْنِ أَشَدَّهُمْ لَهُ كَرَاهِيَةً وَتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَيَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ. (رواه البخاري: ٣٢٣٤)

Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Jarir dari 'Umarah dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalian akan temui manusia beragam asal-usulnya (dan kwalitas perilakunya) maka orang-orang yang baik pada zaman jahiliyyah akan menjadi baik pula pada zaman Islam bila mereka memahami (Islam), dan akan kalian temui pula manusia yang paling baik dalam urusan (khilafah/pemerintahan) ini, yaitu mereka yang tidak selera terhadap jabatan dan akan kalian temui orang yang paling buruk dalam urusan ini adalah mereka yang bermuka dua (Oportunis), dia datang kepada satu golongan dengan wajah (pendapat) tertentu dan datang kepada kelompok lain dengan wajah (pendapat lain) lain". (HR. Al Bukhari: 3234 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat kuniyahnya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 4588 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat kuniyahnya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits masyhur dari Abu Hurairah. Lafazh semakna diriwayatkan juga oleh imam Muslim, beliau berkata:

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ بِحَدِيثٍ يَرْفَعُهُ
قَالَ النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا وَالْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ. (رواه مسلم: ٤٧٧٤)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam; Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Burqan; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Al Asham dari Abu Hurairah -sebagai hadits marfu'- dia berkata, "Sesungguhnya manusia itu seperti tambang perak dan emas. Mereka yang terhormat pada masa masa jahiliah akan terhormat pula di masa lslam, jika mereka memahami (lslam). Ruh-ruh itu seperti prajurit yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan maka mereka akan saling berselisih." (HR. Muslim: 4774 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat kuniyahnya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Kemudian, redaksi lain diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ عَنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ أَبِي وَدَاعَةَ قَالَ قَالَ الْعَبَّاسُ
بَلَغَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضُ مَا يَقُولُ النَّاسُ قَالَ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ مَنْ أَنَا قَالُوا أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِ خَلْقِهِ وَجَعَلَهُمْ فِرْقَتَيْنِ فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِ فِرْقَةٍ وَخَلَقَ الْقَبَائِلَ فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِ قَبِيلَةٍ وَجَعَلَهُمْ بُيُوتًا فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِهِمْ بَيْتًا فَأَنَا خَيْرُكُمْ بَيْتًا وَخَيْرُكُمْ نَفْسًا. (رواه أحمد: ١٦٩٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Nua'im dari Sufyan dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Al Muththalib bin Abu Wada'ah berkata; Al Abbas berkata; Rasulullah ﷺ mendengar sebagian yang dibicarakan orang-orang, maka beliau naik mimbar dan berkata, "Siapakah aku?" Orang-orang menjawab, "Engkau adalah Rasulullah." Lalu beliau berkata lagi, "Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu, dan menjadikanku makhluk terbaik-Nya. Dia menjadikan makhluk-makhluk-Nya dalam dua kelompok. Dia menjadikanku dalam kelompok yang terbaik. Dia menjadikan mereka dalam berbagai kabilah, dan menjadikanku dalam kabilah yang terbaik. Dia menjadikan mereka dalam berbagai rumah (bait), dan menjadikanku dalam rumah (bait) yang terbaik. Dan aku adalah orang yang terbaik rumahnya, serta terbaik jiwanya." (HR. Ahmad: 1692 - hasan lighairihi menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdu Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Fadhal negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 32 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 16862 dengan tambahan setelah kaimat "khairu nafsan", yaitu "صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"... - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdul Muthallib bin Rabi'ah bin al Harits, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 62 H. Dalam sanad terdapat dua orang periwayat yang dinilai jarah (buruk) dari ulama kritikus hadits, yaitu:

1. Yazid bin Abi Ziyad, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 136 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Hatim dan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi. Sementara Abu Zur'ah menilainya layyin, Ibnu Sa'ad, Ibnu Qani', dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan adz Dzahabi menilainya shaduq, syi'ah.

2. Yazid bin 'Atha' bin Yazid, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Hity dan wafat tahun 177 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan an Nasa'i menilainya dha'if. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya layyinul hadits. Sementara Ahmad bin Hanbal menilainya laisa bihi ba'sa.

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

AMALAN BILAL DAN AR RUMAISHA' BINTI MILHAN MEMBAWANYA KE SURGA


AMALAN BILAL DAN AR RUMAISHA' BINTI MILHAN MEMBAWANYA KE SURGA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ يَعِيشَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ أَبِي حَيَّانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْفَعَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ بِلَالٌ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا فِي الْإِسْلَامِ أَرْجَى عِنْدِي مَنْفَعَةً مِنْ أَنِّي لَا أَتَطَهَّرُ طُهُورًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلَا نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِي أَنْ أُصَلِّي. (رواه مسلم: ٤٤٩٧)

Telah menceritakan kepada kami 'Ubaid bin Ya'isy dan Muhammad bin Al A'laa Al Mahdani keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Abu Hayyan; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Abu Hayyan At Taimi Yahya bin Sa'id dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Subuh, "Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ' Bilal menjawab; 'Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya. (HR. Muslim: 4497 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari tiga orang gurunya)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 1081 dan Ahmad: 8052 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Keduanya menggunalan kalimat,

" ... أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ ...".

" ... "Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu') pada suatu kesempatan malam ...".

Sebagaimana imam al Bukhari berkata,

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ أَبِي حَيَّانَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ
قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ دَفَّ نَعْلَيْكَ يَعْنِي تَحْرِيكَ. (رواه البخاري: ١٠٨١)

bin Nashr telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Abu Hayyan dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu bahwa Nabi ﷺ berkata, kepada Bilal radhiallahu'anhu ketika shalat Fajar (Subuh): "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga". Bilal berkata, "Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhuk) pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhuk tersebut disamping shalat wajib". Berkata, (Abu 'Abdullah): Istilah "Daffa na'laika maksudnya gerakan sandal". (HR. Al Bukhari: 1081 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Dari hadits di atas dipahami bahwa amalan Bilal yang konsisten ia lakukan adalah menjaga berwudhuk dan shalat sunat. Selanjutnya, imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah diperlihat kepada beliau surga dan meliau melihat di dalamnya istri Abu Thalhah dan mendengar langkah kaki Bilal. Sebagaimana hadits riwayat imam Muslim, beliau berkata:

حَدَّثَنِي أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَرَجِ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُرِيتُ الْجَنَّةَ فَرَأَيْتُ امْرَأَةَ أَبِي طَلْحَةَ ثُمَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَةً أَمَامِي فَإِذَا بِلَالٌ. (رواه مسلم: ٤٤٩٥)

Telah menceritakan kepadaku Abu Ja'far Muhammad bin Al Faraj; Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab; Telah mengabarkan kepadaku 'Abdul 'Aziz bin Abu Salamah; Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin 'Abdillah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Surga pernah di perlihatkan kepadaku, lalu aku melihat istri Abu Thalhah. Kemudian aku mendengar suara gesekan sandal di depanku yang ternyata adalah langkah Bilal." (HR. Muslim: 4495 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Redaksi semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad, menginformasikan tentang mimpi Rasulullah ﷺ, beliau berkata:

حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيتُنِي دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِالرُّمَيْصَاءِ امْرَأَةِ أَبِي طَلْحَةَ وَسَمِعْتُ خَشْفَةً أَمَامِي قُلْتُ مَنْ هَذَا يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا بِلَالٌ قَالَ وَرَأَيْتُ قَصْرًا أَبْيَضَ بِفِنَائِهِ جَارِيَةٌ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالَتْ هَذَا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَهُ فَأَنْظُرَ إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ فَقَالَ عُمَرُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَعَلَيْكَ أَغَارُ. (رواه أحمد: ١٤٦٥٦)

Telah bercerita kepada kami Suroij telah bercerita kepada kami Abdul Aziz yaitu Ibnu Abu Salamah dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin Abdullah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya bermimpi melihat diriku masuk surga. Lalu saya melihat Rumaisha' istri Abu Thalhah. Dan saya mendengar suatu suara dari depanku, lalu saya bertanya siapakah itu Wahai Jibril? Dia menjawab, itu adalah Bilal." (Rasulullah ﷺ bersabda, "Lalu saya melihat sebuah istana putih dan di terasnya ada seorang gadis." (Rasulullah ﷺ) bertanya, untuk siapa istana itu? Dia menjawab, untuk 'Umar bin Khattab, lalu saya hendak memasukinya dan melihatnya. (Rasulullah ﷺ) bersabda, "Lalu saya ingat kecemburun 'Umar. Lalu 'Umar berkata; 'Demi bapak dan ibumu Wahai Rasulullah apakah saya akan cemburu kepadamu?." (HR. Ahmad: 14656 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 14472 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya. Riwayat lain menjelaskan masih riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ قَالَ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْفَةً فَقُلْتُ مَا هَذِهِ الْخَشْفَةُ فَقِيلَ الرُّمَيْصَاءُ بِنْتُ مِلْحَانَ. (رواه أحمد: ١٣٣٢٧)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad berkata; telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Anas sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya masuk surga lalu mendengar suara terompah kaki, lalu saya bertanya suara apakah itu? Maka ada yang menjawab, itu adalah ar Rumaisha' binti Milhan". (HR. Ahmad: 13327 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Ditambahkan lagi pada hadits riwayat imam Ahmad: 13026, bahwa r Rumaisha' dimaksud adalah ibu Anas bin Malik, beliau berkata:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشَفَةً فَقُلْتُ مَا هَذِهِ الْخَشَفَةَ فَقِيلَ هَذِهِ الرُّمَيْصَاءُ بِنْتُ مِلْحَانَ وَهِيَ أُمُّ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ. (رواه أحمد: ١٣٠٢٦)

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunnani dari Anas bin Malik berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya masuk surga dan mendengar derapan langkah kaki. Saya bertanya suara siapakah itu? Tiba-tiba ada jawaban, itu adalah derapan langkah ar-Rumaisha' binti Milhan". Alias ibu Anas bin Malik. (HR. Ahmad: 13026 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Kenapa Rasulullah melihat istri Abu Thalhah di surga? Apa amalannya? Imam Muslim meriwayatkan bahwa amalannya adalah melayani suaminya dengan penuh cinta dan menjaga perasaan dengan mengobati letihnya. Hal ini diceritakan dalam hadits riwayat imam Muslim, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كَانَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ فَقُبِضَ الصَّبِيُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِي قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مِمَّا كَانَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارُوا الصَّبِيَّ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَعْرَسْتُمْ اللَّيْلَةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ احْمِلْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَعَثَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَمَعَهُ شَيْءٌ قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَضَغَهَا ثُمَّ أَخَذَهَا مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ ثُمَّ حَنَّكَهُ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَنَسٍ بِهَذِهِ الْقِصَّةِ نَحْوَ حَدِيثِ يَزِيدَ. (رواه مسلم: ٣٩٩٦)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu 'Aun dari Ibnu Sirin dari Anas bin Malik ia berkata; suatu ketika bayi milik Abu Thalhah jatuh sakit. Bayi tersebut kemudian meninggal tatkala Abu Thalhah sedang keluar rumah. Saat Abu Thalhah kembali kerumah dia bertanya kepada Ummu Sulaim; 'Bagaimana keadaan anakku? Dia menjawab; 'Aku lihat dia sekarang lebih tenang di dari sebelumnya. Kemudian, seperti biasa, Ummu Sulaim menghidangkan makan malam untuk suaminya. Selesai makan malam, keduanya tidur dan melakukan hubungan suami istri. Tak lama setelah itu, Ummu Sulaim mulai menceritakan keadaan anaknya yang sebenarnya, bahwa dia telah dikuburkan. Keesokan harinya, Abu Thalhah menemui Rasulullah ﷺ seraya menceritakan hal itu. Lalu Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah kalian sudah menjadi pengantin semalaman? Abu Thalhah menjawab;; 'Ya'. Kemudian Rasulullah ﷺ mendoakan: 'Ya Allah berkatilah mereka berdua. Ketika Ummu Sulaim melahirkan seorang anak, Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas); 'Bawalah anak ini ke hadapan Rasulullah ﷺ! Maka anak itu aku bawa ke hadapan Rasulullah ﷺ dengan beberapa buah kurma. Lalu beliau mengambil anak itu sambil bertanya: 'Adakah sesuatu yang di bawa bersamanya? Para sahabat menjawab; Ya ini ada beberapa buah kurma. Rasulullah ﷺ mengambil kurma itu dan langsung mengunyahnya. Setelah itu, beliau ambil kurma yang telah dikunyahnya itu dan memasukannya ke dalam mulut bayi tersebut, beliau menggerak-gerakan mulut bayi tersebut dan memberinya nama Abdullah. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas'adah; Telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Aun dari Muhammad dari Anas dengan cerita ini sebagaimana Hadits Yazid. (HR. Muslim: 3996 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Jalur hadits kedua adalah ahlul Bashrah, hadits ini sanadnya 'aziz karena imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya)

Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 5048 - shahih dari Anaa bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Jalur hadits kedua adalah ahlul Bashrah, hadits ini sanadnya 'aziz karena imam al Bukhari meriwayatkan dari dua orang gurunya.

Selanjutnya Ummu Sulaim adalah wanita yang rajin mengikuti dan bertanya kepada Rasulullah tentang masalah agama. Salah satu contoh hadits riwayat imam Malik meriwayatkan, beliau berkata:

حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ
جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِي طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيِّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ نَعَمْ إِذَا رَأَتْ الْمَاءَ. (رواه مالك: ١٠٦)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari Zainab binti Abu Salamah dari Ummu Salamah istri Nabi ﷺ dia berkata, "Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah Al Anshari menemui Rasulullah ﷺ dan berkata; 'Wahai Rasulullah, Allah tidak malu dari yang haq, apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi basah? ' Maka beliau menjawab, "Ya. Jika dia melihat air." (HR. Malik: 106 - isnadnya shahih menurut Salim bin 'Ied al Hilaliy dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H. Hadits ahlul Madinah)

Hadita senada juga diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 127, 273, 3081, 5626, 5656, Muslim: 468 dan 741, at Tirmidzi: 113, an Nasa'i: 197 dan 198, Abu Daud: 205, Ibnu Majah: 592, Ahmad: 23469, 25295, 25367 dan 25397 - semuanya shahih. Hadits-hadits diriwayatkan dari Ummu Salamah, 'Aisyah, Anas bin Malik, khusus hadits riwayat an Nasa'i: 198 diriwayatkan dari Khawla binti Hakim bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Syarik. Abu Daud: 205 dan an Nasa'i: 196 diriwayatkan dari 'Aisyah. Muslim: 468 dan Ahmad: 12582 dan 13499 (keduanya hadits ahlul Bashrah), ad Darimi: 757 (dha'if)  - diriwayatkan dari Anas bin Malik. Selebihnya dari Ummu Salamah. Selanjutnya, tentang pertanyaan Ummu Sulaim tersebut diriwayatkan juga oleh imam Malik: 105 - isnadnya shahih dari 'Urwah bin az Zubair bin al 'Awwan bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bin Qu, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah, Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalan ats tsiqat".

Diriwayatkan oleh imam Muslim, bahwa Ummu Sulaim pernah ikut perang bersama Rasulullah, beliau berkata:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْزُو بِأُمِّ سُلَيْمٍ وَنِسْوَةٍ مِنْ الْأَنْصَارِ مَعَهُ إِذَا غَزَا فَيَسْقِينَ الْمَاءَ وَيُدَاوِينَ الْجَرْحَى. (رواه مسلم: ٣٣٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin Sulaiman dari Tsabit dari Anas bin Malik dia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah berperang bersama-sama dengan Ummu Sulaim dan beberapa wanita Anshar, ketika perang berkecamuk, mereka memberi minum dan mengobati tentara yang terluka." (HR. Muslim: 3375 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 1500 dan Abu Daud: 2168 (hadits ahlul Bashrah) - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Keberanian Ummu Sulaim ketika ikut perang Hunain dan suaminya (Abu Thalhah) bersama Rasulullah, sebagaimana imam Ahmad meriwayakatkan:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ قَالَ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ كَانَتْ مَعَ أَبِي طَلْحَةَ يَوْمَ حُنَيْنٍ فَإِذَا مَعَ أُمِّ سُلَيْمٍ خِنْجَرٌ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ مَا هَذَا مَعَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ اتَّخَذْتُهُ إِنْ دَنَا مِنِّي أَحَدٌ مِنْ الْكُفَّارِ أَبْعَجُ بِهِ بَطْنَهُ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَلَا تَسْمَعُ مَا تَقُولُ أُمُّ سُلَيْمٍ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُتِلَ مَنْ بَعْدَنَا مِنْ الطُّلَقَاءِ انْهَزَمُوا بِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ كَفَانَا وَأَحْسَنَ. (رواه أحمد: ١٣٥٣٨)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad berkata; telah mengabarkan pada kami Tsabit dari Anas Ummu Sulaim bersama Abu Thalhah pada Perang Hunain, dia (Ummu Sulaim radhiallahu'anha) membawa pisau, lalu Abu Thalhah bertanya, apa yang kau bawa Wahai Ummu Sulaim? Ummu Sulaim menjawab, saya bawa, kalau ada orang kafir yang mendekat maka akan saya bedah perutnya. Abu Thalhah berkata; Wahai Nabiyullah tidakkah Anda mendengar apa yang dikatakan Ummu Sulaim, begini dan begitu. Lalu dia (Ummu Sulaim radhiallahu'anha) berkata; apakah orang yang baru saja bebas yang menyerang Anda akan dibunuh Wahai Rasulullah. Lalu beliau bersabda, "Wahai Ummu Sulaim, Allah 'Azza wa Jalla telah mencukupkan dan berbuat baik". (HR. Ahmad: 13538 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. 

KEUTAMAAN ANAS BIN MALIK


KEUTAMAAN ANAS BIN MALIK
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Anas bin Malik, nama lengkap beliau adalah Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Beliau shahabat kecil dan bertemu pertama kali berumur 10 tahun. Menjani pelayan di rumah Rasulullah selama 9 tahun. Jadi, Rasulullah wafat beliau berumur 19 tahun. Keistimewaan beliau adalah cerdas, pernah di doakan oleh Rasulullah agar banyak harta dan keturunan yang berkah. Hal ini teebukti pada perjalanan hidup beliau sampat tutup usia.

Nah, untuk lebih lengkapnya simak riwayat-riwayat yang penulis paparkan dibawah ini.

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ أَخَذَتْ بِيَدِهِ مَقْدَمَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا أَنَسٌ ابْنِي وَهُوَ غُلَامٌ كَاتِبٌ قَالَ أَنَسٌ فَخَدَمْتُهُ تِسْعَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ أَسَأْتَ أَوْ بِئْسَمَا صَنَعْتَ. (رواه أحمد: ١٢٥٩٤)

Telah bercerita kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Humaid dari Anas, Ummu Sulaim menggandeng tangannya saat kedatangan nabi di Madinah, lalu berkata, wahai Rasulullah, ini Anas anakku, dia adalah anak yang pintar di dunia tulis-menulis. Anas berkata, maka aku menjadi pelayannya selama sembilan tahun, dan beliau tidak pernah berkata kepadaku atas perbuatan yang kulakukan 'sangat jelek kau bertindak', dan tidak pula mengatakan 'alangkah buruknya yang kau lakukan'. (HR. Ahmad: 12594 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tsulatsiyat, hadits dengan tiga periwayat dalam satu sanad)

Rasulullah pernah mendoakan Anas bin Malik, sebagaimana diinformasikan oleh imam al Bukhari, beliau berkata:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ
عَنْ أُمِّ سُلَيْمٍ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسٌ خَادِمُكَ ادْعُ اللَّهَ لَهُ قَالَ اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
وَعَنْ هِشَامِ بْنِ زَيْدٍ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ مِثْلَهُ. (رواه البخاري: ٥٩٠١)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; saya mendengar Qatadah dari Anas dari Ummu Sulaim bahwa dia berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah pelayanmu yaitu Anas!." Beliau lalu mengucapkan: 'Ya Allah, karuniailah dia harta dan anak yang banyak dan berkahilah terhadap apa yang telah Engkau berikan kepadanya.' Dan dari Hisyam bin Zaid saya mendengar Anas bin Malik seperti itu. (HR. Al Bukhari: 5901 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz pada tingkat tabi'in yaitu Qatadah bin Da'amah bin Qatadah dan Hisyam bin Zaid bin Anas bin Malik)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 5902, Muslim: 1055, 4529 dan 4530, at Tirmidzi: 3769, Ahmad: 13104 dan 26158 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Diantara hadits-hadits tersebut, yang menjelaskan lebih rinci dengan sabab wurudnya adalah hadits riwayat Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى أُمَّ حَرَامٍ فَأَتَيْنَاهُ بِتَمْرٍ وَسَمْنٍ فَقَالَ رُدُّوا هَذَا فِي وِعَائِهِ وَهَذَا فِي سِقَائِهِ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ تَطَوُّعًا فَأَقَامَ أُمَّ حَرَامٍ وَأُمَّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا وَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ فِيمَا يَحْسَبُ ثَابِتٌ قَالَ فَصَلَّى بِنَا تَطَوُّعًا عَلَى بِسَاطٍ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِنَّ لِي خُوَيْصَّةً خُوَيْدِمُكَ أَنَسٌ ادْعُ اللَّهَ لَهُ فَمَا تَرَكَ يَوْمَئِذٍ خَيْرًا مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَلَا الْآخِرَةِ إِلَّا دَعَا لِي بِهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ
قَالَ أَنَسٌ فَأَخْبَرَتْنِي ابْنَتِي أَنِّي قَدْ دَفَنْتُ مِنْ صُلْبِي بِضْعًا وَتِسْعِينَ وَمَا أَصْبَحَ فِي الْأَنْصَارِ رَجُلٌ أَكْثَرَ مِنِّي مَالًا ثُمَّ قَالَ أَنَسٌ يَا ثَابِتُ مَا أَمْلِكُ صَفْرَاءَ وَلَا بَيْضَاءَ إِلَّا خَاتَمِي. (رواه أحمد: ١٣١٠٤)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Anas bin Malik Rasulullah ﷺ mendatangi Umu Haram lalu kami membawa kurma dan mentega, lalu (Rasulullah ﷺ) bersabda, "Kembalikan ini pada tempatnya dan ini pada bejananya, karena saya sedang berpuasa". (Anas bin Malik Radliyalllahu'anhu) berkata; kemudian nabi berdiri, mengimami shalat sunnah dua rakaat bersama kami. Beliau meletakkan Ummu Harram dan Ummu Sulaim di belakang kami dan saya di sebelah kanannya. Hanya seingat Tsabit (Anas bin Malik Radliyalllahu'anhu) berkata; lalu shalat sunnah bersama kami di atas tikar. Tatkala selesai shalat Ummu Sulaim berkata; saya mempunyai pelayan kecil spesial agar menjadi pelayanmu, Anas, doakanlah dia. Sejak saat itu tidaklah beliau meninggalkan kebaikan dunia maupun akhirat kecuali beliau mendoakannya, kemudian bersabda, "ALLAHUMMA AKTSIR MAALAHU WA WALADAHU WA BAARIK LAHU FIIHI (Ya Allah perbanyaklah hartanya, anaknya dan berkahilah padanya). Anas berkata; kemudian hari anak perempuanku memberitahukan, bahwa telah wafat dari keturunanku sebanyak sembilan puluh orang lebih, dan tidak ada dari kalangan Anshar laki-laki yang lebih banyak hartanya daripada saya. Kemudian Anas berkata; wahai Tsabit, tidak ada cincin warna kuning ataupun putih kecuali saya memilikinya. (HR. Ahmad: 13104 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Bahkan diriwayatkan lebih lanjut, bahwa anak dan cucu Anas bin Malik lebih dari seratus yang telah dimakamkan ketika beliau masih hidup, hal ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ وَحَجَّاجٌ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أُمِّ سُلَيْمٍ أَنَّهَا
قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسٌ خَادِمُكَ ادْعُ اللَّهَ لَهُ قَالَ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
قَالَ حَجَّاجٌ فِي حَدِيثِهِ قَالَ فَقَالَ أَنَسٌ أَخْبَرَنِي بَعْضُ وَلَدِي أَنَّهُ قَدْ دُفِنَ مِنْ وَلَدِي وَوَلَدِ وَلَدِي أَكْثَرُ مِنْ مِائَةٍ. (رواه أحمد: ٢٦١٥٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu'bah berkata, aku mendengar Qatadah telah menceritakan dari Anas bin Malik dari Ummu Sulaim bahwa dia berkata, "Wahai Rasulullah, Anas pelayanmu, doakanlah kepada Allah untuknya." Anas lalu berkata, "Maka Nabi ﷺ pun berdoa, "Ya Allah, berilah dia harta dan anak yang banyak, dan berkahilah apa yang telah Engkau berikan padanya." Hajjaj menyebutkan dalam haditsnya, dia berkata, "Anas lalu berkata, "Sebagian anakku mengabarkan kepadaku, bahwa anak dan cucu-cucuku yang sudah dimakamkan lebih dari seratus." (HR. Ahmad: 26158 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sahlah binti Milhan bin Khalid, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Sulaim dan negeri hidup Madinah. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya)

Anas bin Malik menjadi pelayan Rasulullah selama sembilan tahun sejak kecil diserahkan oleh ibunya (Ummu Sulaim istri Abu Thalhah). Beliau tidak pernah dikomentari apa pun yang dilakukan anak pintar tersebut oleh Rasulullah. Keistimewaan beliau disamping kepintaran adalah didoakan oleh Rasulullah, "ALLAHUMMA AKTSIR MAALAHU WA WALADAHU WA BAARIK LAHU FIIHI (Ya Allah perbanyaklah hartanya, anaknya dan berkahilah padanya) - HR. Ahmad. Sementara dalam riwayat imam al Bukhari ditambahkan "... fiimaa a'thaahu" apa yang telah Engkau berikan padanya. Hal ini bermaksud, bahwa harta dan anak keturunan yang membawa berkah kepada beliau. Hal ini terbukti di sepanjang hidup beliau.

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.