Pages - Menu

Rabu, 31 Maret 2021

NIKMAT YANG TERLUPAKAN


NIKMAT YANG TERLUPAKAN
(sejarah akan berulang: hadits al jam'ul kalim)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanirrahiim,

Assalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh,

Allah mencukupkan nikmatnya kepada makhluk untuk memenuhi hidup dan kehidupannya. Ia menganugerahkan kesehatan, waktu lapang dan hati. Semua itu mesti dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebelum datang kematian atau dekat dengan kubur. Oleh karena itu jauhkanlah perbuatan yang menjadikan sakit jasad dan hati. Karena hal tersebut akan berpengaruh pada yang sehat jasad dan hatinya.

Menghindari dan melakukan hal baik atau buruk berada dalam pengawasan Allah setiap waktu. Sehingga mempergunakan waktu dengan baik sangat disarankan. Begitu juga halnya memanfaatkan kesehatan untuk semua aktivitas adalah keharusan bagi setiap insan.

Imam al Bukhari berkata,

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ هُوَ ابْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ قَالَ عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ. (رواه البخاري: ٥٩٣٣)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Sa'id yaitu Ibnu Abu Hindi dari Ayahnya dari Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma dia berkata; Nabi ﷺ bersabda, "Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang." 'Abbas Al 'Anbari mengatakan; telah menceritakan kepada kami Shufwan bin Isa dari Abdullah bin Sa'id bin Abu Hind dari Ayahnya saya mendengar Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ seperti hadits di atas. (HR. Al Bukhari: 5933 - shahih dari 'Abdullah bin al 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Hadits 'aziz)

Demikian juga hadits riwayat at Tirmidzi: 2226 [hadits masyhur], Ibnu Majah: 4160, Ahmad: 3038 - shahih dari 'Abdullah bin al 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Sementara imam Ahmad meriwayatkan dengan redaksi terbalik, namun memiliki makna yang sama. Beliau berkata,

حَدَّثَنِي مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُحَدِّثُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصِّحَّةَ وَالْفَرَاغَ نِعْمَتَانِ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ. (رواه أحمد: ٢٢٢٤)

Telah menceritakan kepadaku Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id bin Abu Hind bahwa ia telah mendengar bapaknya menceritakan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat dari nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia." (HR. Ahmad: 2224 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin al 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Demikian juga lafazh hadits riwayat ad Darimi: 2591 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin al 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.

Lebih lanjut Rasulullah berpesan, sebagaimana diriwayatkan oleh imam al Bukhari:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو المُنْذِرِ الطُّفَاوِيُّ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ قَالَ حَدَّثَنِي مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. (رواه البخاري: ٥٩٣٧)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman Abu Al Mundzir At Thufawi dari Sulaiman Al A'masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Mujahid dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma dia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah memegang pundakku dan bersabda, 'Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara." Ibnu Umar juga berkata; 'Bila kamu berada di sore hari, maka janganlah kamu menunggu datangnya waktu pagi, dan bila kamu berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.' (HR. Al Bukhari: 5937 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi: 2255 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H, diriwayat secara masyhur, dengan tambahan kalimat:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ جَسَدِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ فِي أَهْلِ الْقُبُورِ فَقَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ إِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالْمَسَاءِ وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالصَّبَاحِ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا اسْمُكَ غَدًا.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ الْأَعْمَشُ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ نَحْوَهُ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ لَيْثٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ. (رواه الترمذي: ٢٢٥٥)

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Laits dari Mujahid dari Ibnu 'Umar berkata, Rasulullah ﷺ meraih sebagian badanku lalu bersabda, Jadilah di dunia seperti orang asing atau pelintas jalan dan anggaplah dirimu termasuk penghuni kubur." Ibnu 'Umar berkata kepadaku: Bila di waktu pagi, jangan kau bisiku dirimu bisa peroleh sore hari dan bila di waktu sore jangan bisiki dirimu bisa kau peroleh waktu pagi, manfaatkan kesehatanku sebelum kau sakit dan hidupmu sebelum kau mati karena sesungguhnya kau tidak tahu wahai hamba Allah siapa namamu esok."

Berkata Abu Isa: Al A'masy meriwayatkan hadits ini dari Mujahid dari Ibnu 'Umar sepertinya. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin 'Abdah Adl Dlabyi Al Bashri telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Laits dari Mujahid dari Ibnu 'Umar dari Nabi ﷺ Sepertinya. (HR. At Tirmidzi: 2255 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H, diriwayat secara masyhur)

Atau dengan lafazh lain yaitu kalimat "ahlil qubur", sebagaimana imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَرَبِيٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ لَيْثٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ جَسَدِي فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ كَأَنَّكَ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ. (رواه إبن ماجه: ٤١٠٤)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habib bin 'Arabi telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Laits dari Mujahid dari Ibnu Umar dia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah memegang sebagian dari tubuhku seraya bersabda, "Wahai Abdullah, jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara, dan persiapkanlah dirimu sebagai calon penghuni kubur." (HR. Ibnu Majah: 4104 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Matan semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ لَيْثٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ جَسَدِي فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَاعْدُدْ نَفْسَكَ فِي الْمَوْتَى. (رواه أحمد: ٤٥٣٤)

Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Laits dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah memegang tubuhku seraya bersabda, "Wahai Abdullah, jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang dalam perjalanan, dan persiapkanlah dirimu untuk menghadapi kematian." (HR. Ahmad: 4534 - hasan lighairihi, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Catatan: dalam sanad hadits terdapat Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits. Sedangkan al Bukhari menilainya shaduq yuham. Begitu juga pada jalur lain hadits riwayat Ahmad: 4760.

Jagalah kesehatan jasadmu, terutama hatimu. Karena sehat sesungguhnya adalah kesehatan hati (qalbu), Imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مُجَالِدٍ حَدَّثَنَا الشَّعْبِيُّ سَمِعَهُ مِنَ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ إِذَا سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ظَنَنْتُ أَنْ لَا أَسْمَعَ أَحَدًا عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي الْإِنْسَانِ مُضْغَةً إِذَا سَلِمَتْ وَصَحَّتْ سَلِمَ سَائِرُ الْجَسَدِ وَصَحَّ وَإِذَا سَقِمَتْ سَقِمَ سَائِرُ الْجَسَدِ وَفَسَدَ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ. (رواه أحمد: ١٧٦٨٦)

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Mujalid Telah menceritakan kepada kami Asy Sya'bi ia mendengarnya dari An Nu'man bin Basyir berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ, dan jika aku mendengarnya berkata, 'Aku mendengar Rasulullah ﷺ, maka aku mengira bahwa aku tidak akan bisa mendengar lagi orang yang berada di atas mimbar mengatakan 'Aku mendengar Rasulullah ﷺ'. Beliau bersabda, "Sesungguhnya dalam jasad manusia terdapat segumpal darah, jika ia baik dan sehat maka seluruh jasad akan baik dan sehat. Namun jika ia sakit, maka seluruh jasad pun akan ikut sakit dan rusak. Ketahuilah, bahwa segumpal darah itu adalah hati." (HR. Ahmad: 17686 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari an Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 65 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 17686 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Ia adalah Mujallid bin Sa'ad bin 'Umair, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 144 H. Penilaian ulama: an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya laisa bi qawi. Ibnu Sa'ad menilainya dha'iful hadits, Yahya bin Ma'in menilainya dha'if. Al Bukhari menilainya shaduq dan disebutkan dalam adh dhu'afa'. Ibnu Hajar menjelaskan, "berubah pada akhir usianya".

Oleh karena itu Rasulullah bersabda, sebagaimana dikatakan imam Ahmad,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورَدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ. (رواه أحمد: ٨٨٩٥)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah yang sakit lewat di depan yang sehat." (HR. Ahmad: 8895 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Artinya orang-orang yang sakit jasad dan hatinya memperlihatkan keburukan bentuk dan perangainya kepada yang sehat jasad dan hatinya agar perbuatannya tidak mempengaruhi yang sehat. Dengan makna lain perbaikilah diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Selasa, 30 Maret 2021

PERBANYAK KETURUNAN MEMBANGGAKAN RASULULLAH ‏DI DUNIA DAN AKHIRAT

PERBANYAK KETURUNAN MEMBANGGAKAN RASULULLAH ﷺ DI DUNIA DAN AKHIRAT
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanirrahiim, 
Assalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh,

FITRAH manusia adalah hidup tumbuh dan berkembang dengan kebabasan berfikir dan berkolaborasi dengan makhluk lain sesuai dengan sunnatullah. Oleh karena itu, hal tersebut sejatinya menjadi kebanggaan mereka. Sehingga memudahkan dan memperkuat eksistensi hidup dan kehidupan mereka sebagai khalifah di muka bumi. 

Sunnatullah-lah menjadikan manusia berkehendak untuk memperbaiki dan mengelola bumi dengan baik dan berperadaban maju. Pada gilirannya inilah yang menjadi kebanggan Rasulullah ﷺ kelak dihadapan para nabi di akhirat. 

Rasulullah ﷺ telah disiapkan telaga di akhirat yang siap menunggu umat beliau berbondong-bondong mendatangi beliau. Namun, sepanjang hidup beliau dan setelah beliau wafat terjadi perobahan pola hidup. Oleh karena itu beliau berpesan, "janganlah ada diantara kalian murtad meninggalkan agama Islam setelah aku wafat". Kenyataannya malah di penantian beliau di telaga itu, diceritakan dalam banyak riwayat bahwa ada yang telah beliau panggil ternyata terhijab karena kelakuan waktu hidup di dunia. Pengahalang tersebut antara beliau dengan umat beliau tersebut terjadi karena murtad (pindah agama), bahkan ada yang kembali kepada agama nenek moyang mereka dahulu. Padahal beliau telah menunggu hari-hari pertemuan yang begitu lama sejak kewafatan beliau hingga akhir zaman (kiamat datang). 

Luas telaga beliau diceritakan dalam banyak riwayat seluas Makkah hingga Baitul Maqdis atau Jarba' hingga Adzrah. Beliau bersabda, "Sesungguhnya saya memiliki telaga (yang luasnya) antara Ka'bah hingga Baitul Maqdis, putihnya seperti putih susu, dan tempat minumnya sejumlah bintang-bintang, dan sesungguhnya aku adalah Nabi yang paling banyak pengikut di antara para nabi kelak di hari kiamat." (HR. Ibnu Majah: 4291 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Bahkan imam Muslim meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَمَامَكُمْ حَوْضًا كَمَا بَيْنَ جَرْبَاءَ وَأَذْرُحَ وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ الْمُثَنَّى حَوْضِي و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ وَزَادَ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ قَرْيَتَيْنِ بِالشَّأْمِ بَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ ثَلَاثِ لَيَالٍ وَفِي حَدِيثِ ابْنِ بِشْرٍ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ و حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّه. (رواه مسلم: ٤٢٥٣) 

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna serta Ubaidullah bin Sa'id mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Al Qaththan dari Ubaidullah Telah mengabarkan kepadaku Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Sesunggunya di hadapan kalian ada telaga, yang luasnya sebagaimana jarak antara Jarba dan Adzrah." Sedangkan menurut riwayat Ibnu Mutsanna disebutkan 'Haudhi' (telagaku). Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair Telah menceritakan kepada kami Bapakku Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Namun ada tambahan, Ubaidullah berkata; 'Aku bertanya kepada Nafi', lalu dia menjawab; bahwa Jarba dan Adzrah itu adalah dua desa di negeri Syam yang jarak tempuh antara keduanya memakan waktu tiga malam. Sedangkan di dalam Hadits Bisyr; 'Memakan waktu tiga hari.' Dan telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa'id Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah dari Musa bin Uqbah dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ yang serupa dengan Hadits Ubaidullah. (HR. Muslim: 4253 - shahih dari 'Abdullah bin Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits Masyhur) 

Oleh karena itu raihlah secara berbondong-bondong telaga Rasulullah ﷺ tersebut. Karena Allah berfirman,

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا. (قرآن سورة النساء/٤: ١٢٤) 

Siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, akan masuk ke dalam surga dan tidak dizalimi sedikit pun. (QS. An-Nisā'/4: 124)

Ayat senada juga diulang dalam QS. Maryam/19: 60. Allah memperlakukan mereka dengan adil dan bijaksana, sesuai dengan apa yang Ia kehendaki. 

Kemudian ditegaskan oleh Allah,

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ. (قرآن سورة التوبة/٩: ١٠٠) 

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. At-Taubah /9: 100)

Berdasarkan uraian di atas selayaknyalah seorang Muslim sejati mewujudkan cita-cita Rasulullah tersebut sebagai wujud kecintaan kepada beliau. Imam Ahmad berkata, 

حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ حَدَّثَنِي حَفْصُ بْنُ عُمَرَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه أحمد: ١٢١٥٢) 

Telah menceritakan kepada kami Husain dan Affan berkata, Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Khalifah telah bercerita kepadaku Hafs bin Umar dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ  memerintahkan kita untuk menikah dan melarang dari membujang dengan larangan yang keras, dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Menikahlah dengan seorang wanita yang memiliki kasih sayang serta manghasilkan banyak keturunan, karena sesungguhnya saya berlomba-lomba untuk saling memperbanyak umat dengan para nabi pada hari kiamat." (HR. Ahmad: 12152 - shahih lighairihi, isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang guru yang tsiqah)

Demikian juga dari jalur 'Affan bin Muslim bin 'Abdullah yaitu hadits riwayat Ahmad: 13080 - shahih lighairihi, isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Selanjutnya imam Ibnu Majah meriwayatkan matan semakna, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ قَيْسٍ عَنْ الصُّنَابِحِ الْأَحْمَسِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ فَلَا تَقَتِّلُنَّ بَعْدِي. (رواه إبن ماجه: ٣٩٣٤) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku dan Muhammad bin Bisyr keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il dair Qais dari As Shunabih Al Ahmas dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya aku menunggu kalian di telaga surga, dan di jadikan untukku pengikut yang sangat banyak dari kalian, maka janganlah kalian saling memerangi sepeninggalku." (HR. Ibnu Majah: 3934 - shahih dari Sunnabih bin al A'mar, ia shahabat dan negeri hidup Kufah. Hadits ahlul Kufah) 

Rasulullah ﷺ nanti di akhirat menunggu umatnya di telaga surga lebih dahulu, imam al Bukhari berkata, 

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ. (رواه البخاري: ٦٠٨٩) 


Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Sulaiman dari Syaqiq dari Abdullah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Akulah yang mendahului kalian yang mendatangi telaga." (HR. Al Bukhari: 6089 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H) 

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 6101 - shahih dari 'Jundub bin 'Abdullah bin Sufyan, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 64 H. Matan yang sama diriwayat oleh imam Muslim: 4263 - shahih dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H. 

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 6090 dan 6527, Muslim: 4250 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. 

Hanya saja tidak semua umat beliau yang mendekati telaga yang ditempati itu, hal ini diceritakan oleh Imam al Bukhari, 


حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ فَمَنْ وَرَدَهُ شَرِبَ مِنْهُ وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا لَيَرِدُ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ قَالَ أَبُو حَازِمٍ فَسَمِعَنِي النُّعْمَانُ بْنُ أَبِي عَيَّاشٍ وَأَنَا أُحَدِّثُهُمْ هَذَا فَقَالَ هَكَذَا سَمِعْتَ سَهْلًا فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَ وَأَنَا أَشْهَدُ عَلَى أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ لَسَمِعْتُهُ يَزِيدُ فِيهِ قَالَ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي. (رواه البخاري: ٦٥٢٨) 

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Abdurrahman dari Abu Hazim mengatakan aku mendengar Sahal bin Sa'd mengatakan, aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Aku manusia pertama-tama diantara kalian yang menuju telaga, barangsiapa mendatanginya, maka tak akan haus selama-lamanya, sungguh beberapa orang menemuiku yang aku mengenal mereka dan juga mereka mengenalku, lantas tiba-tiba aku dan mereka terhalang." Abu Hazim mengatakan; dan Nu'man bin Abi 'Ayyasy mendengar aku ketika aku sedang menceritakan kepada mereka hadits ini, lantas ia bertanya kepadaku; 'kamu mendengar dari Sahal? Kujawab; 'Iya.' Ia katakan; 'Dan saya bersaksi kepada Abu Sa'id Al Khudriy, sungguh aku mendengarnya dengan tambahan redaksi, "Mereka adalah dari umatku' lantas ada suara yang menjawab; kamu tidak tahu perubahan yang mereka lakukan sepeninggalmu! Sehingga aku berkata; 'Celaka, celaka bagi siapa saja yang mengganti agama sepeninggalku!" (HR. Al Bukhari: 6528 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H) 

Demikian juga hadits riwayat Muslim: 4243 dan 6097 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H. Hadits ini masyhur, yaitu diriwayatkan oleh tiga jalur sanad namun tidak sampai pada jumlah mutawatir. 

Redaksi lain diriwayat oleh Imam Ahmad, 

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْهُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ فَمَنْ وَرَدَ أَفْلَحَ وَيُؤْتَى بِأَقْوَامٍ فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ فَيُقَالُ مَا زَالُوا بَعْدَكَ يَرْتَدُّونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ. (رواه أحمد: ٢٢١٢) 

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya dari Jarir dari Laits bin Abu Sulaim dari Abdul Malik bin Sa'id dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku yang mendahului kalian ke telaga, barangsiapa mendatanginya maka ia beruntung. Dan didatangkan orang-orang lalu diletakkan di sebelah kiri, maka aku berkata; 'Wahai Rabb-ku.' Lalu dikatakan, "Mereka murtad, kembali kepada (kepercayaan) lama mereka setelah ketiadaanmu." (HR. Ahmad: 2212 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H) 

Dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 2212 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits. Sedangkan al Bukhari menilainya shaduq yuham. 

Imam Ibnu Majah meriwayat bahwa telaga Rasulullah ﷺ seluas antara Ka'bah hingga Baitul Maqdis. Beliau berkata, 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا حَدَّثَنَا عَطِيَّةُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِي حَوْضًا مَا بَيْنَ الْكَعْبَةِ وَبَيْتِ الْمَقْدِسِ أَبْيَضَ مِثْلَ اللَّبَنِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ وَإِنِّي لَأَكْثَرُ الْأَنْبِيَاءِ تَبَعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه إبن ماجه: ٤٢٩١) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Zakariya telah menceritakan kepada kami 'Athiyah dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya saya memiliki telaga (yang luasnya) antara Ka'bah hingga Baitul Maqdis, putihnya seperti putih susu, dan tempat minumnya sejumlah bintang-bintang, dan sesungguhnya aku adalah Nabi yang paling banyak pengikut di antara para nabi kelak di hari kiamat." (HR. Ibnu Majah: 4291 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H) 

Lebih lanjut imam Muslim meriwayatkan, 

و حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَمَامَكُمْ حَوْضًا كَمَا بَيْنَ جَرْبَاءَ وَأَذْرُحَ فِيهِ أَبَارِيقُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ وَرَدَهُ فَشَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا. (رواه مسلم: ٤٢٥٤) 

Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahab Telah menceritakan kepadaku Umar bin Muhammad dari Nafi' dari Abdullah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di hadapan kalian ada telaga, yang luasnya sebagaimana jarak antara Jarba dan Adzrah. Di dalamnya terdapat gelas-gelas bagaikan bintang-bintang di langit. Barangsiapa yang mengambil dan meminum darinya maka setelah itu dia tidak akan pernah haus selamanya." (HR. Muslim: 4254 - shahih dari 'Abdullah bin Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H) 

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 6091, Muslim: 4252 dan 4253 (keduanya hadits 'aziz, imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya yang tsiqah) dan Abu Daud: 4120 sampai lafazh "jarba' wa adzrah" - shahih dari 'Abdullah bin Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Demikianlah dijelaskan oleh Rasulullah tentang cita-cita beliau terhadap umat beliau yaitu memperbanyak keturunan, jangan ada yang murtad setelah beliau wafat dan berpaling dari ajaran yang beliau sampaikan. Karena beliau telah menunggu umatnya ditelaga yang indah dan airnya membuat mereka tidak pernah haus selamanya. 

Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya mewadahi dengan syari'at dan hikmah-hikmah yang menjadi petunjuk bagi hidup dan kehidupan manusia. Hal tersebut terhimpun dalam al Qur'an dan Hadits-hadits beliau. Kemudian diwariskan kepada para ulama-ulama, sehingga beliau mengizinkan mereka berijtihad terhadap apa yang belum dijelaskan dalam keduanya agar umat memahami dan mudah menjalankan syari'at. Apa pun yang disyari'atkan oleh Allah dan Rasul-Nya pasti mendatangkan kebaikan. Apa-apa yang belum diketahui hikmahnya juga mesti dijalani dengan ridha dan ikhlas, sehingga mendapatkan ketenangan jiwa dan keberkahan hidup. Wallaahu a'lam bish shawaab. 

Billlahittaufiq wal hidayah,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

MENINGGALKAN DEBAT DAPAT RUMAH DI SURGA


MENINGGALKAN DEBAT DAPAT RUMAH DI SURGA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh,

Berdebat pada dasarnya terjadinya dialog tentang dua sisi pandangan yang berbeda untuk mencari persamaan pandangan yang disepakati atau toleransi terhadap pendangan siapa pun. Sehingga tercipta perkembangan pikiran, mengasah akal memahami masalah dan mengambil kesimpulan secara universal dan berakhlak serta memberikan ketenangan jiwa.

Imam Abu Daud berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الدِّمَشْقِيُّ أَبُو الْجَمَاهِرِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو كَعْبٍ أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيُّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ. (رواه أبوداود: ٤١٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman Ad Dimasyqi Abu Al Jamahir ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Ka'b Ayyub bin Muhammad As Sa'di ia berkata; telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Habib Al Muharibi dari Abu Umamah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik." (HR. Abu Daud: 4167 - hasan menurut al Albani dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)

Terdapat juga hadits semakna namun terjadi penambahan lafazh sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ وَهَارُونُ بْنُ إِسْحَقَ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَرْدَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَهُوَ بَاطِلٌ بُنِيَ لَهُ قَصْرٌ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِهَا وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَةُ بُنِيَ لَهُ فِي أَعْلَاهَا. (رواه إبن ماجه: ٥٠)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim Ad Dimasyqi dan Harun bin Ishaq, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dari Salamah bin Wardan dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, " Barangsiapa meninggalkan dusta, sementara dia bathil, maka akan dibangunkan baginya istana di tepian surga. Barangsiapa meninggalkan debat meskipun ia benar, maka akan dibangunkan baginya istana di tengah surga. Barangsiapa memperbaiki akhlaknya maka baginya akan dibangunkan istana di surga yang paling tinggi." (HR. Ibnu Majah: 50 - isnadnya dha'if menurut al Albani dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Catatan: dalam sanar hadits riwayat Ibnu Majah: 50 terdapat periwayat yang dinilai lemah oleh ulama kritikus hadits yaitu Salamah bin Wardan, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Ya'laa negeri hidup Madinah dan wafat tahun 106 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Daud, an Nasa'i, ad Daruquthni, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan Ibnu Syahin mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Walau pun hadits ini diriwayatkan dari dua orang guru yang tsiqah oleh Ibnu Majah, namun bersumber dari periwayat yang dha'if.

Meninggalkan debat dan berbohong walau pun sedang bergurau dikaitkan dengan iman, karena hal tersebut dapat menghilangkan eksistensinya sebagai manusia. Begitu juga terlalu banyak bergurau dapat mengeraskan hati jauh dari ketawadhukan. Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا حُجَيْنٌ أَبُو عُمَرَ وَحَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ مَنْصُورِ بْنِ أُذَيْنٍ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الْإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِي الْمُزَاحَةِ وَيَتْرُكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقًا. (رواه أحمد: ٨٢٧٦)

Telah menceritakan kepada kami Hujain Abu Umar dan telah menceritakan kepada kami Abdul 'Aziz dari Manshur bin Udzain dari Makhul dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang hamba tidak dikatakan beriman dengan sepenuhnya hingga ia meninggalkan berbohong ketika sedang bergurau, dan meninggalkan berdebat meski ia benar." (HR. Ahmad: 8276 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: hadits riwayat Ahmad: 8276 sanadnya terputus, yaitu periwayat yang menerima langsung dari Abu Hurairah. Selanjutnya terdapat juga periwayat dinilai pendusta oleh ulama kritikus hafits bernama Mansur bin Udzain, ia tabi'ul atba' kalangan tua. Ibnu Hibban menilainya pendusta. Begitu juga sanad hadits riwayat Ahmad: 8411 (jalur lain).

Bagi yang berdebat mengenai hadits tentang "pemimpin itu mesti dari Quraisy", mungkin akan bertahan dengan paham mereka. Padahal resiko kebenaran dan kekeliruan berkemungkinan ada pada mereka, begitu juga terhadap non Quraisy. Rasulullah memberikan isyarat, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَهْلِ أَبِي الْأَسَدِ قَالَ حَدَّثَنِي بُكَيْرُ بْنُ وَهْبٍ الْجَزَرِيُّ قَالَ قَالَ لِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا مَا أُحَدِّثُهُ كُلَّ أَحَدٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَى بَابِ الْبَيْتِ وَنَحْنُ فِيهِ فَقَالَ الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا وَلَكُمْ عَلَيْهِمْ حَقًّا مِثْلَ ذَلِكَ مَا إِنْ اسْتُرْحِمُوا فَرَحِمُوا وَإِنْ عَاهَدُوا وَفَوْا وَإِنْ حَكَمُوا عَدَلُوا فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ. (رواه أحمد: ١١٨٥٩)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sahl Abul Asad berkata; telah menceritakan kepadaku Bukair bin Wahb Al Jazari ia berkata; Anas bin Malik berkata kepadaku, Aku akan ceritakan kepadamu sebuah hadits yang tidak aku ceritakan kepada setiap orang, sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah berdiri di depan pintu, sedang kami ada di situ, beliau lalu bersabda, "Sesungguhnya pemimpin itu dari Quraisy, mereka punya hak yang harus kalian penuhi sebagaimana kalian juga mempunyai hak yang harus mereka penuhi. Jika diminta untuk mengasihi, mereka akan mengasihi, jika membuat janji mereka penuhi, jika menetapkan hukum mereka berlaku adil. Maka barangsiapa dari mereka yang tidak melakukan seperti itu, mereka akan mendapatkan laknat Allah, malaikat dan semua manusia." (HR. Ahmad: 11859 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 11859 terdapat Bukair bin Wahab, ia tabi'in kalangan biasa. Penilaian ulama: al Azdi menilainya laisa bi qawi, Ibnu Hajar menilainya maqbul, Ad Dzahabi tidak menyebutkannya. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Berdasarkan hadits-hadits terkait dengan perdebatan, selalu digabungkan dengan berbuat kebohongan dan bergurau. Sehingga ketiga perbuatan tersebut menjadi tern yang bisa jadi membawa kebaikan, namun meninggalkannya akan lebih baik. Bagi orang yang meninggalkan perbuatan dimaksud Rasulullah memberi kabar gembira dengan "Allah akan membangunkan untuk mereka rumah di surga" sesuai dengan tingkatannya.

Perdebatan itu harusnya dengan baik dan cara yang baik dan benar. Menghindari kemudharatan, diantaranya kebohongan dan terlalu banyak bergurau. Sehingga menghilangkan eksistensi kemanusiaan dan membuat pelakukanya jauh dari nilai akhlak yang mulia. Oleh karena itu akhkak yang mulia dan terpuji haruslah menjadi dasar perdebatan dan bergurau sekalipun.

Billlahittaufiq wal hidayah,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

MENGATASI FITNAH DUNIA

MENGATASI FITNAH DUNIA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh,

Al Qur'an dan al Hadits senantiasa saling mendukung dan menguatkan hukum, hujjah, kisah, nasehat dan cara beribadah kepada Allah. Disatu sisi, ia saling melengkapi agar terjadi kesesempurnaan satu sama lain. Sehingga apa bila terjadi perbedaan atau ketidaksesuaian maka harus dikompromikan. Jika tidak ada jalan untuk hal demikian maka al hadits mesti ditinggalkan dan diaebut juga dapat dikatakan dha'if [lemah] atau hadits tersebut ditolak.

Selanjutnya, jika hadits bersesuaian dengan al Qur'an maka ia mesti diterima. Begitu pun halnya kalau apa yang diajarkan Rasul sementara al Qur'an tidak ditemukan, maka hal tersebut menjadi rujukan tambahan atau memfungsikan sabda Rasul sebagai bayanul tasyri' (pembuat hukum).

Nah, pada Tulisan kali ini penulis ingin memaparkan tentang bagaimana mengatasi firnah dunia?. Bagaimana al Qu'an menjadi rujukan dan al Hadits sebagai pemberi solusi sekaligus sebagai bayanut tafshil (perinci syari'at)? Mari simak wejangan berikut:

Allah berfirman, bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Sebagaimana lafazhnya:

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِۚ فَاِنْ قٰتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْۗ  كَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ. (سورة البقرة/٢: ١٩١)

Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir. (QS. Al Baqarah/2: 191)

Dan Allah memerintahkan untuk memeranginya,

وَقٰتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ لِلّٰهِ ۗ فَاِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ اِلَّا عَلَى الظّٰلِمِيْنَ. (سورة البقرة/٢: ١٩٣)

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zalim.(QS. Al Baqarah/2: 193)

Ayat tersebut juga diulang dalam QS. Al Baqarah ayat 217 sebagai berikut:

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِۗ  قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ ۗ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَكُفْرٌۢ بِهٖ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاِخْرَاجُ اَهْلِهٖ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللّٰهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ اَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْا ۗ وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ. (سورة البقرة/٢: ٢١٧)

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah/2: 217)

Kemudian dilanjutkan dengan kabar gembira,

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (سورة البقرة/٢: ٢١٨)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.(QS. Al Baqarah/2: 218)

Allah mengajarkan doa,

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. (سورة الممتحنة/٦٠: ٥)

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al Mumtahanah/60: 5)

Ingatlah firman Allah berikut:

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ  ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ. (سورة التغابن/٦٤: ١٥)

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar. (QS. At Taghaabun/64: 15)

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ. (سورة التغابن/٦٤: ١٦)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At Taghaabun/64: 16)

اِنْ تُقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ شَكُوْرٌ حَلِيْمٌۙ. (سورة التغابن/٦٤: ١٧)

Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun. (QS. At Taghaabun/64: 17)

عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. (سورة التغابن/٦٤: ١٨)

Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. At Taghaabun/64: 18)

Rasul juga menunjukan solusi terhadap berkenaan pemahaman ayat-ayat di atas bahwa, "Fitnah seseorang di keluarganya, hartanya dan anaknya serta tetangganya bisa terhapus oleh shalat, sedekah, dan amar ma'ruf nahyi mungkar". Sebagaimana hadits-hadits berikut:

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا شَقِيقٌ سَمِعْتُ حُذَيْفَةَ يَقُولُ بَيْنَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ عُمَرَ إِذْ قَالَ أَيُّكُمْ يَحْفَظُ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ قَالَ فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ لَيْسَ عَنْ هَذَا أَسْأَلُكَ وَلَكِنْ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ قَالَ لَيْسَ عَلَيْكَ مِنْهَا بَأْسٌ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا قَالَ عُمَرُ أَيُكْسَرُ الْبَابُ أَمْ يُفْتَحُ قَالَ بَلْ يُكْسَرُ قَالَ عُمَرُ إِذًا لَا يُغْلَقَ أَبَدًا قُلْتُ أَجَلْ قُلْنَا لِحُذَيْفَةَ أَكَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ الْبَابَ قَالَ نَعَمْ كَمَا يَعْلَمُ أَنَّ دُونَ غَدٍ لَيْلَةً وَذَلِكَ أَنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَهُ مَنْ الْبَابُ فَأَمَرْنَا مَسْرُوقًا فَسَأَلَهُ فَقَالَ مَنْ الْبَابُ قَالَ عُمَرُ. (رواه البخاري: ٦٥٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy telah menceritakan kepada kami Syaqiq Aku mendengar Khudzaifah menuturkan; ketika kami duduk-duduk bersama Umar, tiba-tiba ia bertanya; 'Siapa diantara kalian yang menghafal sabda Nabi ﷺ tentang fitnah? ' maka Khudzaifah menjawab; 'Fitnah seseorang di keluarganya, hartanya dan anaknya serta tetangganya bisa terhapus oleh shalat, sedekah, dan amar ma'ruf nahyi mungkar.' Umar berkata; 'Bukan tentang ini yang aku tanyakan kepadamuakan tetapi tentang (fitnah) yang bergelombang seperti gelombang lautan.' Khudzaifah berkata; 'kamu tidak terkena dampaknya dari fitnah itu ya amirul mukminin, sebab antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu tertutup.' Umar bertanya; 'Apakah pintunya dipecahkan atau dibuka? ' Khudzaifah menjawab; 'bahkan di pecahkan.' Maka Umar berkata; 'kalau begitu tidak ditutup selama-lamanya.' aku menjawab; 'Betul.' Saya bertanya kepada Khudzaifah; 'Apakah Umar mengetahui pintu itu? ' Khudzaifah menjawab; 'Ya, sebagaimana ia mengetahui bahwa setelah esok ada malam, yang demikian itu karena aku menceritakan Hadits kepadanya dengan tanpa kekeliruan, maka kami khawatir untuk menanyakan kepada Umar siapa pintu sebenarnya.' lalu kami perintahkan kepada Masruq untuk bertanya kepada Khudzaifah; (siapakah pintu itu), Khudzaifah menjawab; 'Umar.' (HR. Al Bukhari: 6567 - shahih dari Hudzaidah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H. Hadits ini adalah hadits ahlul Kufah)

Begitu juga hadits riwayat al Bukhari: 494, 1345 dan 1762, Muslim: 5150 dan Ibnu Majah: 3945, Ahmad: 22322 [ketiganya hadits ahlul Kufah], at Tirmidzi: 2184 - semunya shahih dari Hudzaidah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H. Hadits riwayat Ahmad: 22322 adalah termasuk hadits 'aziz, karena beliau meriwayatkan dari dua orang gurunya yang tsiqah.

Billlahittaufiq wal hidayah,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Senin, 29 Maret 2021

ALLAH TELAH MENCIPTAKAN PENGHUNI SURGA DAN NERAKA

ALLAH TELAH MENCIPTAKAN PENGHUNI SURGA DAN NERAKA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah menciptakan surga dan neraka berikut sudah menciptakan penghuninya. Hal ini dimaksudkan bahwa Allah sudah menakdirkannya sejak awal penciptaannya. Sehingga peran nabi dan rasul untuk menjelaskan dengan baik dan benar kepada umatnya bahwa janganlah menjadi penduduk neraka, tetapi jadilah penduduk surga yang penuh kenikmatan. Atas dasar inilah Allah menetapkan siapa saja yang pantas masuk surga atau neraka. Melewati takdir Allah inilah peran manusia diberi jalan takwa dan kekafiran. Siapa yang lewati jalan pertama, maka ia akan masuk surga. Apabila sebaliknya menempuh jalan kedua, maka ia akan Allah masukkan kedalam neraka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٣٣)

Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Āli ‘Imrān/3: 133)

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ فُضَيْلِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ تُوُفِّيَ صَبِيٌّ فَقُلْتُ طُوبَى لَهُ عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَ لَا تَدْرِينَ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ وَخَلَقَ النَّارَ فَخَلَقَ لِهَذِهِ أَهْلًا وَلِهَذِهِ أَهْلًا. (رواه مسلم: ٤٨١٢)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al 'Ala bin Al Musayyab dari Fudhail bin 'Amr dari 'Aisyah binti Thalhah dari 'Aisyah Ummul Mu'minin dia berkata; 'Suatu ketika seorang bayi meninggal, maka aku katakan; beruntunglah dia, apakah dia akan menjadi burung dari burung-burung surga? Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak tahukan kamu bahwa Allah telah menciptakan surga serta menciptakan penghuninya, dan menciptakan neraka serta menciptakan penghuninya. (HR. Muslim: 4812 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Ada pun sabab an nuzul dari pernyataan beliau diriwayatkan juga oleh imam Muslim, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى عَنْ عَمَّتِهِ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دُعِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جَنَازَةِ صَبِيٍّ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ طُوبَى لِهَذَا عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ لَمْ يَعْمَلْ السُّوءَ وَلَمْ يُدْرِكْهُ قَالَ أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ وَخَلَقَ لِلنَّارِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى

ح و حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ مَعْبَدٍ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حَفْصٍ ح و حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ كِلَاهُمَا عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى بِإِسْنَادِ وَكِيعٍ نَحْوَ حَدِيثِهِ. (رواه مسلم: ٤٨١٣)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Thalhah bin Yahya dari bibinya, 'Aisyah binti Thalhah dari 'Aisyah ummul Mu'minin dia berkata, "Pada suatu ketika, Rasulullah ﷺ pernah diundang untuk melayat jenazah seorang bayi dari kaum Anshar. Kemudian saya (Aisyah) berkata kepada beliau; 'Ya Rasulullah, sungguh berbahagia bayi kecil ini! Ia seperti seekor burung dari sekian burung surga yang belum pernah berbuat dosa dan belum pernah ternodai oleh dosa.' Mendengar pernyataan tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda, 'Mungkin juga tidak seperti itu hai Aisyah. Sebenarnya Allah telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni surga ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk (sulbi) bapak-bapak mereka. Dan sebaliknya, Allah pun telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk bapak-bapak mereka.'

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Zakaria dari Thalhah bin Yahya Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Ma'bad telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Hafsh

Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yusuf keduanya dari Sufyan Ats Tsauri dari Thalhah bin Yahya dengan sanad Waki' seperti haditsnya. (HR. Muslim: 4813 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits ini termasuk hadits masyhur diriwayatkan oleh tiga (tidak sampai pada tingkat mutawatir) periwayat pertabaqat atau salah satu thabaqat dalam sanadnya)

Demikian juga hadits riwayat Abu Daud: 4090, Ahmad: 23002 dan 24560 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Surga Thuba "طوبى" (ada yang berpendapat nama pohon di surga).

Berdasarkan pernyataan Rasulullah dalam hadits-hadits di atas bahwa belum ada jaminan seorang manusia itu pasti masuk surga atau neraka. Baik mereka masih kecil maupun sudah baligh atau dewasa dan tua. Hanya ridha dan kasihsayang Allah-lah manusia masuk surga.

Jawaban dari pernyataan di atas dijelaskan dalam hadits riwayat Ahmad berikut:

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ وَيَزِيدُ قَالَا حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنِ الْحَسَنِ حَدَّثَنِي صَعْصَعَةُ قَالَ يَزِيدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ إِنَّهُ لَقِيَ أَبَا ذَرٍّ وَهُوَ يَقُودُ جَمَلًا لَهُ وَفِي عُنُقِهِ قِرْبَةٌ فَقُلْتُ لَهُ أَلَا تُحَدِّثُنِي حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلَى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ لَهُمَا ثَلَاثَةٌ مِنْ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ وَمَا مِنْ مُسْلِمٍ يُنْفِقُ مِنْ زَوْجَيْنِ مِنْ مَالِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا ابْتَدَرَتْهُ حَجَبَةُ الْجَنَّةِ وَقَالَ يَزِيدُ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ. (رواه أحمد: ٢٠٤٨٠)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dan Yazid keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Al Hasan telah menceritakan kepadaku Sha'sha'ah. Yazid bin Mu'awiyah berkata, bahwa ia bertemu Abu Dzar yang sedang menuntun untanya, sementara pada leher unta tersebut tergantung sebuah geriba. Aku bertanya, 'Wahai Abu Dzar, ceritakanlah apa yang kau dengar dari Rasulullah! ' Ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tiada seorang suami istri yang Muslim ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum berumur baligh, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga karena kasih sayang-Nya kepada mereka. Dan tidaklah seorang muslim menginfakkan sepasang dari hartanya di jalan Allah kecuali para malaikat penjaga surga akan berebut untuk menerimanya." Yazid menyebutkan, "Kecuali Allah akan memasukan keduanya ke dalam surga dengan keutamaan kasih sayang-Nya kepada mereka." (HR. Ahmad: 20480 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya yang tsiqah)

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang penangguhan azab pada orang yang acuh terhadap peringatan Allah,

وَرَبُّكَ الْغَفُوْرُ ذُو الرَّحْمَةِۗ  لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوْا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَۗ بَلْ لَّهُمْ مَّوْعِدٌ لَّنْ يَّجِدُوْا مِنْ دُوْنِهٖ مَوْىِٕلًا. (قرآن سورة الكهف/١٨: ٥٨)

Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Pemilik rahmat. Seandainya Dia hendak menyiksa mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka. Akan tetapi, bagi mereka ada waktu (untuk mendapat siksa) yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung selain-Nya. (QS. Al-Kahfi/18: 58)

Lebih spesipik Allah menegaskan,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِيْ مَآ اَفَضْتُمْ فِيْهِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة النور/٢٤: ١٤)

Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang sangat berat disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang (berita bohong) itu. (QS. An-Nūr/24: 14)

Ayat semakna juga terdapat dalam QS. An Nur/24 ayat 21,

۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ. (قرآن سورة النور/٢٤: ٢١)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan! Siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh (manusia mengerjakan perbuatan) yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Akan tetapi, Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nūr/24: 21)

Oleh karena itu, sangat dibutuhkan sikap yang istiqamah pada setiap amalan yang dilakukan, sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah seperti yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ. (رواه أحمد: ٢١٧٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Yazid telah bercerita kepada kami Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh ada seseorang melakukan amalan-amalan penghuni neraka namun akhirnya ia menjadi penghuni surga, dan sungguh ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga namun akhirnya ia menjadi penghuni neraka, sesungguhnya amal perbuatan itu dihitung dengan penutupannya." (HR. Ahmad: 21768 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 68 H)

Berusahalah untuk beramal secara terus-menerus walau pun sedikit, imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُطَّلِبِ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ. (رواه أحمد: ٢٥١٣٨)

Telah menceritakan kepada kami Ya'qub berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Al Muthalib dari Musa bin Uqbah dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Berkatalah yang benar dan cobalah lakukan itu! Ketahuilah, sesungguhnya amal perbuatan tidak akan memasukkan salah seorang di antara kalian masuk surga. Sesungguhnya amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinu sekalipun sedikit." (HR. Ahmad: 25138 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 5983 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.

Lafazh semakna juga diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 5986,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ قَالَ أَظُنُّهُ عَنْ أَبِي النَّضْرِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ وَقَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَدِّدُوا وَأَبْشِرُوا قَالَ مُجَاهِدٌ { قَوْلًا سَدِيدًا } وَسَدَادًا صِدْقًا. (رواه البخاري: ٥٩٨٦)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Az Zabriqan telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya; 'Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah? ' Beliau bersabda, 'Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.' Perawi berkata; aku kira dari Abu An Nadhir dari Abu Salamah dari Aisyah. 'Affan mengatakan; telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Musa bin 'Uqbah dia berkata; saya mendengar Abu Salamah dari Aisyah dari Nabi ﷺ dengan redaksi "Saddidu (beristiqamahlah dalam beramal) wa absyiruu (dan berilah kabar gembira)." Mujahid mengatakan mengenai firman Allah "Qaulan sadida" yaitu berkataan yang benar." (HR. Al Bukhari: 5986 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Lebih lanjut ditegaskan oleh Rasulullah bahwa "Amal seseorang tidak akan memasukkan ke dalam surga dan juga tidak akan menyelamatkannya dari neraka." Sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ حَدَّثَنِي جَابِرٌ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يُدْخِلُ أَحَدَكُمْ الْجَنَّةَ عَمَلُهُ وَلَا يُنَجِّيهِ عَمَلُهُ مِنْ النَّارِ قِيلَ وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه أحمد: ١٤٧٠٠)

Telah bercerita kepada kami Hasan telah bercerita kepada kami Ibnu Lahi'ah telah bercerita kepada kami Abu Az-Zubair telah bercerita kepadaku Jabir telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Amal seseorang tidak akan memasukkan ke dalam surga dan juga tidak akan menyelamatkannya dari neraka." Ada yang bertanya, tidak juga Anda Wahai Rasulullah? Beliau menjawab, "Tidak juga saya, terkecuali dengan rahmat Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ahmad: 14700 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. Terdapat periwayat bernama 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'id dan adz Dzahabi menilainya dha'if, Hakim menilainya dzahibul hadits, Abu Zur'ah menilainya la yadhbith, sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq)

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 5042 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. Sementara itu imam meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ مِنْهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ. (رواه أحمد: ٧٢٧١)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Abu 'Ubaid pelayan Abdurrahman bin 'Auf, dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada satu orangpun dari kalian yang amalannya bisa memasukkan ke dalam surga." Para sahabat bertanya, "Tidak juga engkau wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak juga dengan aku, tetapi Allah telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku." (HR. Ahmad: 7271 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 7980 dan 8173 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Al Bukhari: 5982, Muslim: 5036 dan 5037 - shahih dari Abu Hurairah.

Lafazh lain menegaskan,

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَلَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ. (رواه البخاري: ٥٢٤١)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu 'Ubaid bekas budak Abdurrahman bin Auf bahwa Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya, "Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?" beliau bersabda, "Tidak juga dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku, oleh karena itu berlaku luruslah dan bertaqarublah dan janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa menambah amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga bisa menjadikannya dia bertobat." (HR. Al Bukhari: 5241 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 9455 sampai lafazh,

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ وَيُونُسُ قَالَا حَدَّثَنَا لَيْثٌ قَالَ حَدَّثَنِي بُكَيْرٌ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُنَجِّي أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ فَقَالَ رَجُلٌ وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ وَلَكِنْ سَدِّدُوا. (رواه أحمد: ٩٤٥٥)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dan Yunus mereka berkata; telah menceritakan kepadaku Laits telah menceritakan kepadaku Bukair dari Busr bin Sa'id dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya, " maka seorang lelaki bertanya, "Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?" beliau bersabda, "Tidak juga dengan aku, hanya saja Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku, akan tetapi hendaklah kalian beramal dengan baik dan istiqamah." (HR. Ahmad: 9455 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz, karena Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya yang tsiqah yaitu Hajjaj bin Muhammad (w. 206 H) dan Yunus bin Muhammad bin Muslim (w. 207) negeri hidup meraka masing-masing adalah Syam dan Baghdad)

Berdasarkan penjelasan hadits di atas maka dapat dipahami bahwa amal bukanlah penjamin seseorang akan masuk neraka atau pun neraka. Oleh karena itu, kejarlah rahmat, hidayah dan ampunan Allah dengan istiqamah dan penuh keikhlasan di jalan keridhaan Allah. Hal ini hanya dapat diperoleh dengan keistiqamahan melakukannya dengan konsisten sampai akhir hidup.

Rahmat Allah yang hanya satu persen dilimpahkan kepada makhluknya di dunia, maka rebutlah rahmat dan ridha-Nya agar memperoleh rahmat-Nya 99 persen di akhirat. Hal ini diketahui dari sabda Rasulullah ﷺ, sebagaimana Imam al Bukhari berkata,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَلَقَ اللَّهُ مِائَةَ رَحْمَةٍ فَوَضَعَ وَاحِدَةً بَيْنَ خَلْقِهِ وَخَبَأَ عِنْدَهُ مِائَةً إِلَّا وَاحِدَةً. (رواه البخاري: ٤٩٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al 'Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah telah menciptakan seratus rahmat. Yang satu Dia letakan di antara para Makhluk-Nya, sedangkan yang Sembilan puluh Sembilan Dia simpan di sisi-Nya." (HR. Al Bukhari: 4943 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian juga hadits riwayat at Tirmidzi: 3464 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

PUASA NISHFU SYA'BAN DAN KEDUDUKANNYA (berhenti puasa pada pertengahannya)


PUASA NISHFU SYA'BAN DAN KEDUDUKANNYA (berhenti puasa pada pertengahannya) 

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

BULAN SYA'BAN (SYAKBAN) adalah bulan dimana Allah dengan keagungan-Nya turun ke langit dunia menyaksikan hamba-Nya. Sehingga para hamba yang memohon kepada-Nya sesuatu permohonan akan dikabulkan, menurut apa yang Ia kehendaki. Memperbanyak puasa di bulan ini termasuk suatu hal yang disunnahkan. Namun, pengkhususan puasa pada pertengahan bulan ini adalah termasuk perbuatan yang menjadi ikhtilaf. Oleh karena itu, berhati-hati memahami hadits-hadits yang mengatakan "puasa nishfu syakban" adalah lebih baik, agar amal yang dilakukan bermanfaat dan diridhai oleh Allah.

Pada sisi lain terdapat keterangan bahwa Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan Syakban, namun juga terdapat hadits pelarangan (berhenti) berpuasa pada pertengahan bulan Syakban. Jadi, puasa pada awal sampai pertengahan bulan Syakban dibolehkan dan termasuk sunnah. Ada pun puasa pada pertengahan bulan Syakban dianjurkan untuk ditinggalkan.

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan dan sejalan dengan pernyataan di atas sebagai berikut:

Imam Ibnu Majah mengatakan,

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ أَبِي سَبْرَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ. (رواه إبن ماجه: ١٣٧٨)

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad dari Mu'awiyah bin Abdullah bin Ja'far dari Bapaknya dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila malam Nishfu Syakban (pertengahan bulan Syakban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman, "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rezeki maka Aku akan memberinya rezeki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar." (HR. Ibnu Majah: 1378 - dha'if jiddan atau maudhu' menurut al Albani dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu al Muthalib bin bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ibnu Majah: 1378 terdapat periwayat bernama Abu Bakar bin 'Abdullah bin Muhammad bin Abu Sabrah, ia tabi'ut tabi'in negeri hidup Madinah dan wafat tahun 162 H. Penilaian ulama: dha'if. Sedangkan periwayat yang lainnya maqbul.

Sedangkan 'Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Ja'far negeri hidup Madinah dan wafat tahun 80 H. Jadi hadits ini diriwayatkan dari shahabat kepada shahabat.

Beberapa pakar hadits mempermasalahkan Ibnu Abi Sabrah. Diantaranya adalah pernyataan Al-Haitami,

أبو بكر ابن أبي سبرة وهو متروك.

Abu Bakar Ibnu Abi Sabrah, ia adalah perawi yang ditinggalkan. (Majma’ Zawaid, 1/213).

Demikian juga halnya Fuad Abdul Baqi menukil keterangan dari Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in tentang Ibnu Abi Sabrah,

قال فيه أحمد بن حنبل وابن معين يضع الحديث.

Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in menilai Ibnu Abi Sabrah, "Dia telah memalsukan hadits". (Ta’liq ‘ala Sunan Ibnu Majah, 1/444).

Pendapat-pendapat tersebut tentu belum memadai, karena hadits-hadits semakna dengan hadits dimaksud masih ada. Sehingga, masih ada kemungkinan kebenaran dari matan hadits tersebut.

Pada riwayat lain ditemukan bahwa imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا حُيَيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا لِاثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ. (رواه أحمد: ٦٣٥٣)

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin 'Amru, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah Ta'ala mengamati makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Syakban, lalu Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali dua saja; orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh seseorang." (HR. Ahmad: 6353 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 6353 terdapat dua orang periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits, yaitu: 1. Huyyai bin 'Abdullah bin Syuraih, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 143 H. Penilaian ulama: al Bukhari menilainya fiihi nazhar, Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa. Sedangkan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi, Ibnu Hajar menilainya shaduq yuham. Sementara Ibnu Hibban mengataka, "disebutkan dalam ats tsuqat". 2. 'Abdullah bin Lahiah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'id dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth. Sementara Hakim menilainya dzahibul hadits dan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Periwayat yang lainnya adalah periwayat maqbul.

Riwayat lain,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ لِي أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ قُلْتُ ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ. (رواه أحمد: ٢٤٨٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Hajaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah dari Aisyah berkata, "Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah ﷺ, lalu saya keluar dan ternyata beliau sedang di Baqi', mengangkat pandangannya ke langit seraya bersabda kepadaku: 'Apakah engkau takut, Allah akan menzhalimimu dan rasul-Nya? ' Aisyah berkata, "Saya berkata; 'Saya mengira engkau mendatangi sebagian istri-istrimu." Beliau bersabda, 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla turun di pertengahan malam ke langit dunia di bulan Syakban, lalu ia mengampuni untuk sejumlah bulu rambut kambing atau anjing'." (HR. Ahmad: 24825 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 24825 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits yaitu: Hajjaj bin Arthah bin Tsaur, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Artha'ah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 145 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah, Abu Hatim dan Ibnu Hajar menilainya yudallis. Ibnu Hajar juga menilainya shaduq banyak salah dan ahli fiqih. Abu Hatim dan Abu Zur'ah juga menilai shaduq, begitu juga Yahya bin Ma'in menilainya shaduq, mudallis dan laisa bi qawi.

Lebih lanjut dapat dilihat hadits riwayat Ahmad: 20758 - shahih dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Imam Ahmad berkata,


حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو غُصْنٍ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ الْأَيَّامَ يَسْرُدُ حَتَّى يُقَالَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ الْأَيَّامَ حَتَّى لَا يَكَادَ أَنْ يَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ إِنْ كَانَا فِي صِيَامِهِ وَإِلَّا صَامَهُمَا وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ. (رواه أحمد: ٢٠٧٥٨)


Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Qais Abu Ghushni, telah menceritakan kepadaku Abu Sa`id Al Maqburi, telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa beberapa hari berturut-turut, sampai-sampai dikatakan, beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau juga berbuka beberapa hari hingga hampir beliau tidak puasa kecuali dua hari dalam sepekan, yaitu dua hari yang biasa beliau gunakan untuk berpuasa, jika tidak (berpuasa terus menerus), maka beliau akan berpuasa dua hari itu. Dan tidaklah beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya'ban, Aku bertanya; 'Wahai Rasulullah, engkau berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah berbuka dan engkau berbuka seakan engkau tidak berpuasa kecuali dua hari saja, yaitu Senin dan Kamis." Beliau bersabda: "Itulah dua hari yang amalan seorang hamba ditampakkan di hadapan Rabb semesta alam, aku senang ketika amalanku ditampakkan, diriku sedang berpuasa." Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; "Dan kami tidak melihat engkau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya'ban?." Beliau bersabda: "Itulah bulan orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa." (HR. Ahmad: 20758 - shahih dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)


Lihat juga hadits ke-1942. Shahih lighairi. Seperti itu juga hadits riwayat an Nasa'i: 2317 - hasan dari  Usamah bin Zaid. Sebagaimana lafazhnya,


أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ. (رواه النسائي: ٢٣١٧)


Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dari 'Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Qais Abu Al Ghushn - seorang syaikh dari penduduk Madinah - dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Maqburi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid dia berkata; Aku bertanya; "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban?" Beliau bersabda: "Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa." (HR. An Nasa'i: 2317 - hasan dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)


Sedangkan hadits pembatas dengan hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh imam Ahmad, sebagaimana beliau berkata:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الْعُمَيْسِ عُتْبَةُ عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنْ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ. (رواه أحمد: ٩٣٣٠)

Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata; telah menceritakan kepada kami Abul 'Umais 'Utbah dari Al 'Ala` bin Abdurrahman bin Ya'qub dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika bulan Syakban telah sampai pertengahan maka janganlah berpuasa hingga datang bulan Ramadhan." (HR. Ahmad: 9330 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikianlah kedudukan puasa pada bulan Syakban yang diinformasikan oleh ulama hadits yang dapat dipahami bahwa berpuasa pada pertengahan bulan Syakban dianjurkan agar berhenti berpuasa hingga datangnya bulan Ramadhan.

Peluang ini dianjurkan untuk dimanfaatkan, agar kita beramal sesuai dengan sunnah. Mengeluarkan diri dan amal dari ikhtilaf adalah sesuatu hal yang sangat bijak. Karena sesuatu amal dilakukan dengan ragu-ragu tidak berfaidah hingga ia melahirkan keyakinan.

Memahami ajaran atau pun hasil ijtihad, bahkan pendapat seorang ahli dibutuhkan ilmu. Oleh karena hal tersebut maka Rasulullah mengajarkan agar meninggalkan sesuatu yang meragukan dan mengikuti sesuatu yang meyakinkan. Hal tersebut disinyalir oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana dipaparkan dalam beberapa riwayat berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ وَفِي الْحَدِيثِ قِصَّةٌ قَالَ وَأَبُو الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيُّ اسْمُهُ رَبِيعَةُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدٍ فَذَكَرَ نَحْوَهُ. (رواه الترمذي: ٢٤٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al Anshari telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa'di berkata, Aku bertanya kepada Al Hasan bin Ali: Apa yang kau hafal dari Rasulullah ﷺ? Ia menjawab: Aku menghafal dari Rasulullah ﷺ, "Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan." Dalam hadits ini ada kisahnya. Abu Al Haura` As Sa'di namanya Rabi'ah bin Syaiban. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. Telah menceritakan kepada kami Bundar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid ia menyebut sepertinya. (HR. At Tirmidzi: 2442 - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H)

Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 5615, Ahmad: 1630 dan 1636 [keduanya isnad shahih menurut Syu'aib al Arna'uth] - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H. Imam Ad Darimi meriwayatkan:

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا تَحْفَظُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ مَسْأَلَةٍ لَا أَدْرِي مَا هِيَ فَقَالَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ. (رواه الدارمي: ٢٤٢٠)

Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin 'Amir telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa'di, ia berkata; aku berkata kepada Al Hasan bin Ali; "Apa yang engkau hafal dari Rasulullah?, " Ia menjawab, "Seorang laki-laki bertanya kepada beliau mengenai suatu permasalahan, namun aku tidak tahu permasalahan apa itu, kemudian beliau bersabda, "Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu." (HR. Ad Darimi: 2420 - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H)

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Kamis, 25 Maret 2021

NABI MUHAMMAD DIUTUS KEPADA GENERASI TERBAIK DAN MEMUJI GENERASI YANG BERIMAN KEPADA BELIAU WALAU TIDAK PERNAH BERJUMPA

NABI MUHAMMAD DIUTUS KEPADA GENERASI TERBAIK DAN MEMUJI GENERASI YANG BERIMAN KEPADA BELIAU WALAU TIDAK PERNAH BERJUMPA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Nabi Muhammad diutus kepada umatnya, para shahabat maupun orang-orang yang beriman kepada beliau dan istiqamah terhadap ajarannya. Generasi ke generasi Islam selanjutnya, tentu generasi terbaik sepanjang sejarah adalah para shahabat dengan pengakuan dan dukungan yang kuat. Namun, beliau sangat memuji umatnya yang beriman kepada beliau walau pun tidak pernah melihat dan tidak pernah bertemu. Hal semacam itu dikarenakan kasih sayang yang sangat besar kepada umatnya. 

Imam al Bukhari berkata, 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا حَتَّى كُنْتُ مِنْ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ. (رواه ألبخاري: ٣٢٩٣) 

Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah bercerita kepada kami Ya'qub bin "Abdur Rahman dari "Amru dari Sa'id Al Maqbariy dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku diutus pada masa generasi terbaik anak keturunan Adam, dari generasi ke generasi hingga aku berada pada generasi yang dimasanya aku hidup (generasi shahabat)". (HR. Al Bukhari: 3293 - shahih  dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 8502 dan 9023 - isnadnya jayyid menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Kemudian imam al Bukhari juga meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانَ أَصْحَابُنَا يَنْهَوْنَا وَنَحْنُ غِلْمَانٌ أَنْ نَحْلِفَ بِالشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ. (رواه البخاري: ٦١٦٦) 

Telah menceritakan kepada kami Sa'd bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur dari Ibrahim dari 'Abidah dari 'Abdullah mengatakan, Pernah Nabi ﷺ ditanya, "Siapakah manusia yang terbaik?" Nabi menjawab, "Yaitu generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian akan datang suatu kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksian mereka." Kata Ibrahim; 'dan kawan-kawan kami -ketika itu kami masih kecil-melarang kami bersumpah untuk melaksanakan kesaksian dan janji.' (HR. Al Bukhari: 6166 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah) 

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 2458, 3378, 5949, 6201, Muslim: 4600 dan 4601 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Al Bukhari: 2457, 3377, 5948, Muslim: 4603 - shahih dari Imran bin Husain bin 'Ubaid bin Khalaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Najid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits yang semakna, 

حَدَّثَنَا حَسَنٌ وَيُونُسُ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ عَنْ خَيْثَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ حَسَنٌ ثُمَّ يَنْشَأُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ أَيْمَانُهُمْ شَهَادَتَهُمْ وَشَهَادَتُهُمْ أَيْمَانَهُمْ. (رواه أحمد: ١٧٦٢٦) 

Telah menceritakan kepada kami Hasan dan Yunus keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ashim bin Bahdalah dari Khaitsamah bin Abdurrahman dari An Nu'man bin Basyir, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik umat ini adalah generasi yang aku diutus kepada mereka (yakni para sabahat), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelahnya." Hasan menyebutkan, "Kemudian muncullah suatu kaum yang sumpah-sumpah mereka mendahului persaksian mereka dan persaksian mereka mendahului sumpah-sumpahnya mereka." (HR. Ahmad: 17626 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari an Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 65 H)

Catatan: Hadits riwayat Ahmad: 17626 ini tergolong hadits 'aziz karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya yaitu: 1. Al Hasan bin Musa (w. 209) dan 2. Yunus bin Muhammad bin Muslim (w. 207 H).

Riwayat dha'if tentang ini, 

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رُبَيِّعَةَ قَالَ قَالَ سَلْمَانُ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا بَقِيَ الْأَوَّلُ حَتَّى يَتَعَلَّمَ الْآخِرُ فَإِذَا هَلَكَ الْأَوَّلُ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْآخِرُ هَلَكَ النَّاسُ. (رواه الدارمي: ٢٥١) 

elah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Aun telah mengabarkan kepada kami Khalid dari 'Atha` bin As Sa`ib dari Abdullah bin Rabi'ah ia berkata, " Salman berkata, 'Manusia akan tetap dalam keadaan baik-baik saja selama masih ada generasi awal, hingga generasi berikutnya belajar (darinya), jika generasi awal telah hilang sebelum generasi akhir belajar, hancurlah manusia". (HR. Ad Darimi: 251 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Salman bin al Islam, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 33 H) 

Demikian juga hadits riwayat ad Darimi: 244 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Salman bin al Islam, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 33 H.

Disisi lain Rasulullah ﷺ sangat memuji orang-orang yang beriman kepada beliau padahal tidak pernah melihat dan bertemu dengan beliau. Sehingga iman mereka patut dipuji dan disanjung. Sebagaimana diabadikan dalam al Qur'an surat al Jum'ah/62 ayat 1 sampai 3. Selanjutnya diakui oleh beliau sendiri. 

Berikut oenulis paparkan hadits-hadits terkait dan ayat al Qur'an yang dimaksud dalam hal tersebut. 

Imam at Tirmidzi meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنِي ثَوْرُ بْنُ زَيْدٍ الدِّيْلِيُّ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أُنْزِلَتْ سُورَةُ الْجُمُعَةِ فَتَلَاهَا فَلَمَّا بَلَغَ { وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ } قَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِنَا فَلَمْ يُكَلِّمْهُ قَالَ وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ فِينَا قَالَ فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو الْغَيْثِ اسْمُهُ سَالِمٌ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ مَدَنِيٌّ. (رواه الترمذي: ٣٨٦٨) 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja'far telah menceritakan kepadaku Tsaur bin Zaid Ad Diili dari Abu Al Ghaits dari Abu Hurairah dia berkata, "Ketika kami berada di sisi Rasulullah ﷺ yaitu ketika turunnya surah Al Jumu'ah, maka beliau membacanya hingga ketika beliau sampai pada ayat "Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka ..." (QS. Al Jum'ah ayat 3. Maka ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang belum berhubungan dengan kami?" beliau tidak menjawabnya, Abu Hurairah berkata, "Saat itu Salman Al Farisi berada di antara kami." Abu Hurairah melanjutkan; Kemudian Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya kepada Salman seraya bersabda, "Sekiranya iman itu di perbintangan, sungguh iman itu akan diraih oleh mereka." Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan, dan telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, adapun Abu Al Ghaits nama aslinya adalah Salim mantan budak (yang telah dimerdekakan oleh) Abdullah bin Muthi' Madani." (HR. At Tirmidzi: 3868 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Begitu juga hadits riwayat al Bukhari: 4518 (hadits 'azis, karena imam al Bukhari meriwayatkan dari dua orang gurunya yang maqbul), Muslim: 4619, at Tirmidzi: 3232, Ahmad: 9038 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Firman Allah dimaksud adalah:

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ. (قرآن سورة الچمعة/٦٢: ١) 

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah Yang Maharaja, Mahasuci, Mahaperkasa, lagi Mahabijaksana. (QS. Al-Jumu‘ah/62: 1)

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ. (قرآن سورة الچمعة/٦٢: ٢) 

Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al-Jumu‘ah/62: 2)

وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُۙ. (قرآن سورة الچمعة/٦٢: ٣) 

(Allah juga mengutus Nabi Muhammad) kepada (kaum) selain mereka yang belum (datang) menyusul mereka. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Al-Jumu‘ah/62: 3)

Pada hadits riwayat imam Muslim: 4618 tidak menyebutkan sabab wurudnya, sebagaimana beliau berkata, 

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ جَعْفَرٍ الْجَزَرِيِّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ الدِّينُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَذَهَبَ بِهِ رَجُلٌ مِنْ فَارِسَ أَوْ قَالَ مِنْ أَبْنَاءِ فَارِسَ حَتَّى يَتَنَاوَلَهُ. (رواه مسلم: ٤٦١٨) 

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi' dan 'Abad bin Humaid keduanya berkata; 'Abad Telah mengabarkan kepada kami dan berkata Ibnu Rafi'; Telah menceritakan kepada kami 'Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Ja'far Al Jazari dari Yazid bin Al Asham dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, 'Seandainya agama ini berada di tempat bintang-bintang di langit, tentu seorang laki-laki dari Persia -atau beliau bersabda, 'dari generasi Persia, - akan menuju ketempat bintang-bintang itu hingga ia mencapainya.' (HR. Muslim: 4618 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 7735 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. 

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَيْمَنَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَطُوبَى سَبْعَ مِرَارٍ لِمَنْ آمَنْ بِي وَلَمْ يَرَنِي. (رواه أحمد: ٢١٢٤٦) 

Telah bercerita kepada kami 'Abdush Shomad dan 'Affan keduanya berkata; Telah bercerita kepada kami Hammam telah bercerita kepada kami Qotadah dari Aiman dari Abu Umamah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Beruntunglah orang yang melihatku, beruntunglah -beliau mengucapkannya sebanyak tujuh kali- orang yang beriman padaku tapi tidak melihatku." (HR. Ahmad: 21246 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H) 

Begitu juga hadits riwayat Ahmad: 21187 dan 21121 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H.

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Anas bin Malik, beliau berkata, 

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا جَسْرٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَرَآنِي مَرَّةً وَطُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي سَبْعَ مِرَارٍ. (رواه أحمد: ١٢١١٨) 


Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim berkata, Telah menceritakan kepada kami Jasr dari Tsabit dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Beruntunglah orang yang beriman kepadaku dan melihatku (Rasulullah ﷺ mengucapkannya sekali) dan beruntung pula orang yang beriman kepadaku meskipun tidak melihatku (Dan Rasulullah ﷺ mengucapkannya tujuh kali)." (HR. Ahmad: 12118 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H) 

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 12118 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu Jisir bin Farqad, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Ja'far dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai', an Nasa'i menilainya dha'if, sedangkan Abu Hatim menilainya laisa bi qawi. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Hadits-hadits tersebut diriwayatkan secara makna dengan lafazh berbeda. Namun, mempunyai maksud yang sama. 

Walau pun demikian terdapat juga hadits yang dha'if dengan redaksi lebih panjang daripada hadits dari Shadiy bin 'Ajlan seperti hadits riwayat imam Ahmad di atas sebagai berikut:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ لَهِيعَةَ قَالَ ثَنَا دَرَّاجٌ أَبُو السَّمْحِ أَنَّ أَبَا الْهَيْثَمِ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ طُوبَى لِمَنْ رَآكَ وَآمَنَ بِكَ قَالَ طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي قَالَ لَهُ رَجُلٌ وَمَا طُوبَى قَالَ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا. (رواه أحمد: ١١٢٤٥) 

Telah menceritakan kepada kami Hasan berkata; aku mendengar Abdullah bin Lahi'ah berkata; telah menceritakan kepada kami Darraj Abu As Samh bahwa Abu Al Haitsam menceritakan kepadanya dari Abu Sa'id Al Khudri dari Rasulullah ﷺ, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya orang yang dapat melihat dan beriman kepadamu." Lalu beliau bersabda, "Beruntunglah orang yang melihat dan beriman kepadaku, kemudian beruntunglah, beruntunglah dan beruntunglah orang yang beriman kepadaku dan dia belum pernah melihatku." Laki-laki tersebut berkata, "Apakah keberuntungan orang tersebut?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Sebuah pohon di surga yang besarnya seperti jarak seratus tahun perjalanan, pakaian penduduk surga yang keluar dari lengan bajunya." (HR. Ahmad: 11245 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H) 

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 11245 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu: 1. Darraj bin Sam'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu as Samah negeri hidup Maru dan wafat tahun 126 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, sementara Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin mentsiqahkannya. Sedangkan Ahmad bin Hanbal mengatakan, "haditsnya mungkar". 2. 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Hakim menilainya dzahibul hadits, Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth, sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq.  Selebihnya adalah periwayat maqbul. 

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.