Pages - Menu

Jumat, 27 November 2020

KALIMAT INSYA ALLAH

KALIMAT INSYA ALLAH

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem, 
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Kalimat "insya Allah" adalah kalimat penyerahan penuh kepada keputusan Allah yang menghendaki segala hasrat dan kehendak bertumpu pada-Nya. 

Bukti tersebut direkam dalam al Qur'an dan hadits Rasul-Nya. Berikut nash yang terkait dengan kalimat tersebut. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ. (قرآن سورة الكهف/١٨: ٢٣) 

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” (QS.Al-Kahfi/18: 23)

اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۖوَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا. (قرآن سورة الكهف/١٨: ٢٤) 

"kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.” (QS.Al-Kahfi/18: 24)

Selanjutnya simaklah peristiwa berikut: 

فَلَمَّا دَخَلُوْا عَلٰى يُوْسُفَ اٰوٰٓى اِلَيْهِ اَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوْا مِصْرَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَ ۗ. (قرآن سورة يوسف/١٢: ٩٩) 

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia merangkul (dan menyiapkan tempat untuk) kedua orang tuanya seraya berkata, “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS.Yūsuf/12: 99)

Demikian juga firman Allah surat al Qashash/28: 27 tentang Nabi Syu'aib menikahkan anak perempuannya dengan Nabi Musa. Selanjutnya, QS. Ash Shaffat/37: 102, tentang keteguhan nabi Isma'il meyakinkan ayahnya Nabi Ibrahim. 

Ingatlah, 

أَخْبَرَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ قَالَ سُلَيْمَانُ لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى تِسْعِينَ امْرَأَةً تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقِيلَ لَهُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَلَمْ يَقُلْ فَطَافَ بِهِنَّ فَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ دَرَكًا لِحَاجَتِهِ. (رواه النسائي: ٣٧٩٦) 

Telah mengabarkan kepada kami Al Abbas bin Abdul 'Azhim berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata; telah memberitakan kepada kami Ma'mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Abu Hurairah dan ia memarfu'kannya, "Sulaiman berkata, "Sungguh, aku akan menggilir sembilan puluh istri pada malam ini, setiap orang dari mereka akan melahirkan anak yang akan berperang di jalan Allah." Kemudian dikatakan kepadanya, 'Ucapkanlah 'Insya Allah'.' Namun Sulaiman tidak mengucapkannya, kemudian ia menggilir mereka dan tidak ada di antara mereka yang melahirkan kecuali seorang wanita yang melahirkan setengah manusia." Rasulullah ﷺ lalu bersabda, "Seandainya Sulaiman mengucapkan, 'Insya Allah', maka ia tidak berdosa dan hal itu akan mewujudkan keperluannya." (HR. An Nasa'i: 3796 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 3171, 4841, 6148, dan 6225, Muslim: 3125, Ahmad: 7390 [rijal tsiqah menurut Syu'aib al Arna'uth] - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. 

Redaksi lain dengan kalimat "bisyiqqi ghulaam" atau anak yang cacat. Riwayat dengan redaksi ini adalah HR. 3124,

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامِ بْنِ حُجَيْرٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ نَبِيُّ اللَّهِ لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً كُلُّهُنَّ تَأْتِي بِغُلَامٍ يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ أَوْ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَلَمْ يَقُلْ وَنَسِيَ فَلَمْ تَأْتِ وَاحِدَةٌ مِنْ نِسَائِهِ إِلَّا وَاحِدَةٌ جَاءَتْ بِشِقِّ غُلَامٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ دَرَكًا لَهُ فِي حَاجَتِهِ و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ أَوْ نَحْوَهُ. (رواه مسلم: ٣١٢٤) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abbad dan Ibnu Abu Umar dan ini adalah lafadz Ibnu Abu Umar, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin Hujair dari Thawus dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Nabi Allah Sulaiman bin Daud pernah berkata, 'Sungguh aku akan menggilir tujuh puluh istriku dalam satu malam, yang nantinya masing-masing mereka akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan berjuang di jalan Allah', lantas sahabatnya -atau Malaikat- memberi saran, 'Ucapkanlah 'Insya Allah'.' Namun dia lupa mengucapkannya. Ternyata tidak seorang pun dari istrinya yang melahirkan kecuali hanya seorang istri yang melahirkan seorang anak yang cacat." Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya dia mengucapkan 'Insya Allah', tentu dia tidak akan melanggar sumpahnya, dan apa yang dihajatkannya akan terkabul." Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zannad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ seperti hadits di atas." (HR. Muslim: 3124 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Atau lafazh lain, "bisyiqqi rajulin" atau seorang yang cacat. Ini diriwayatkan oleh imam Muslim: 3126, an Nasa'i: 3771 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. 

Memperhatikan beberapa riwayat di atas, bahwa hadits tersebut diruwayatkan secara makna. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa kalimat "insya Allah" adalah sangat penting. Karena menyangkut akidah. Keyakinan bahwa takdir dan ketetapan Allah tetap pada pilihan utama. 

Wallaahu a'lam bish Shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Jumat, 20 November 2020

BERTEMAN DENGAN ORANG SHALIH DAN MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

BERTEMAN DENGAN ORANG SHALIH DAN MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

" ... فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ."

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Orang-orang shalih memiliki keutamaan dan nilai kezuhudan yang murni. Mereka tidak memilih teman dan status sosial yang melekat padanya. Sehingga keshalihan ijtima'iyah terbangun dengan baik. Oleh sebab itu keshalihannya bukan keshalihan diri sendiri tetapi dapat menularkan kepada orang lain bahkan dunia. Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang shalih adalah nikmat yang sangat besar.

Umar bin Khaththab berkata,

ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به.

“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sesama muslim) yang shalih. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang shalih maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]

Ingatlah firman Allah terhadap orang-orang Yahudi berikut:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَقَطَّعْنٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اُمَمًاۚ مِنْهُمُ الصّٰلِحُوْنَ وَمِنْهُمْ دُوْنَ ذٰلِكَ ۖوَبَلَوْنٰهُمْ بِالْحَسَنٰتِ وَالسَّيِّاٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٦٨)

"Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (QS.Al-A‘rāf/7: 168)

فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَدْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَاۚ وَاِنْ يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُۗ  اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِّيْثَاقُ الْكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِۗ وَالدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٦٩)

"Maka setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini. Lalu mereka berkata, “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam Kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?" (QS.Al-A‘rāf/7: 169)

Amalkanlah doa yang dimohonkan kepada oleh Nabi Yusuf berikut:

رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ. (قرآن سورة يوسف/١٢: ١٠١)

"Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS.Yūsuf/12: 101)

Hal tersebut juga diperkuat dengan sabda-sabda Rasulullah ﷺ berikut:

Imam at Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْآةُ أَخِيهِ فَإِنْ رَأَى بِهِ أَذًى فَلْيُمِطْهُ عَنْهُ.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَيَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ ضَعَّفَهُ شُعْبَةُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَنَسٍ. (رواه الترمذي: ١٨٥٢)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ubaidullah dari bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seorang dari kalian cermin bagi saudaranya, jika dia melihat ada aib padanya maka hendaknya dia menghilangkannya darinya."

Berkata Abu Isa: Yahya bin Ubaidillah didha'ifkan oleh Syu'bah. Hadits semakna diriwayatkan dari Anas. (HR. At Tirmidzi: 1852 - dha'if jiddan menurut al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 1852 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits yaitu periwayat bernama:

1. 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin Mauhab, ia tabi'in  kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Yahya dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ibnul al Qaththan menilainya majhulul hal, Ahamad bin Hanbal mengatakan, "hadits-haditsnya mungkar". Sementara Ibnu Hajar menilainya maqbul. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
2. Yahya bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ibnu Uyainah, an Nasa'i dan ad Daruquthni menilainya dha'if. Ahmad bin Hanbal menilainya mungkarul hadits. Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai'. Sementara Ibnu Hajar menilainya matruk. Sedangkan adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya".

Selebihnya adalah periwayat maqbul.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ وَأَبُو يَحْيَى الْحِمَّانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَدْتِ اللُّحُوقَ بِي فَلْيَكْفِكِ مِنْ الدُّنْيَا كَزَادِ الرَّاكِبِ وَإِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الْأَغْنِيَاءِ وَلَا تَسْتَخْلِقِي ثَوْبًا حَتَّى تُرَقِّعِيهِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ قَالَ و سَمِعْت مُحَمَّدًا يَقُولُ صَالِحُ بْنُ حَسَّانَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ وَصَالِحُ بْنُ أَبِي حَسَّانَ الَّذِي رَوَى عَنْهُ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ ثِقَةٌ.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَمَعْنَى قَوْلِهِ وَإِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الْأَغْنِيَاءِ عَلَى نَحْوِ مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قالَ مَنْ رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ هُوَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ.

وَيُرْوَى عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ قَالَ صَحِبْتُ الْأَغْنِيَاءَ فَلَمْ أَرَ أَحَدًا أَكْبَرَ هَمًّا مِنِّي أَرَى دَابَّةً خَيْرًا مِنْ دَابَّتِي وَثَوْبًا خَيْرًا مِنْ ثَوْبِي وَصَحِبْتُ الْفُقَرَاءَ فَاسْتَرَحْتُ. (رواه تلترمذي: ١٨٠٢)

Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Musa, telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Muhammad Al Warraq dan Abu Yahya Al Himmani keduanya berkata, Telah menceritakan kepadaku Shalih bin Hassan dari Urwah dari 'Aisyah radhiallahu'anha berkata; Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadaku, "Jika engkau ingin bersamaku (atau sederajat denganku) di surga, maka ambillah bekal dari dunia seperti bekalnya seorang musafir dan janganlah engkau bergaul dengan orang-orang kaya serta janganlah menganggap bajumu sudah lusuh (robek yaitu tidak layak pakai) sebelum engkau menambalnya."

Abu Isa berkata; Ini merupakan hadits Gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari haditnya Shalih bin Hassan. Dan aku mendengar Muhammad berkata, "Shalih bin Hassan seorang munkarul hadits adapun Shalih bin Abi Hassan yang mana Ibnu Abi Dzuaib meriwayatkan darinya ialah seorang yang tsiqqah."

Abu Isa berkata; Dan arti dari sabda Nabi ﷺ "Dan janganlah kamu bergaul dengan orang-orang kaya". Ialah sebagaimana dalam riwayatnya Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa yang melihat orang yang dilebihkan darinya dari segi rupa dan rezeki, maka hendaknya dia melihat orang yang lebih kurang darinya atas nikmat yang dilebihkan atasnya (baik dari segi rupa atau rezeki), karena hal itu akan mendorongnya untuk selalu mensyukuri nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya."

Diriwayatkan dari 'Aun bin Abdullah berkata, "Aku telah bergaul dengan orang-orang kaya, maka aku tidak melihat ada orang yang lebih memiliki kemauan daripada aku, bersama mereka aku melihat ada unta yang lebih bagus dari ontaku dan aku melihat baju yang lebih bagus dari bajuku. Lantas aku bergaul dengan para faqir dan hatiku menjadi tenang." (HR. At Tirmidzi: 1702 - dha'if dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Sebagaimana dijelaskan oleh imam at Tirmidzi dalam riwayatnya (1702), bahwa terdapat dua orang periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits dalam riwayat tersebut, yaitu:

1. Shalih bin Hassan, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Hatim dan Abu Daud menilainya dha'iful hadits. Sedangkan al Bukhari menilainya munkarul hadits, an Nasa'i menilainya matrukul hadits. Abu Nu'aim dan Ibnu Hajar menilainya matruk. Sementara ad Daruquthni menilainya dha'if dan Ahmad menilainya laisa bi syai'.

2. Sa'id bin Muhammad, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu al Hasan dan negeri hidup Baghdad. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Sa'ad, Abu Daud dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Abu Hatim menilainya laisa bi qawi, an Nasa'in menilainya laisa bi tsiqah. Sedangkan ad Daruqutni menilainya matruk. Sementara Hakim menilainya tsiqah dan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Selebihnya adalah periwayat maqbul (dapat diterima riwayatnya).

" .... مَنْ رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ هُوَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ ..."

Matan ini diriwayat oleh imam Ahmad sebagai berikut:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنِي الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ. (رواه أحمد: ٩٨٥٦)

Telah menceritakan kepada kami Waki', dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Lihatlah kepada orang-orang yang ada di bawah kalian dan jangan melihat kepada yang di atas kalian karena hal itu lebih membantu agar tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Ahmad: 9856 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Begitu juga hadits riwayat Ahmad: 7137 dan at Tirmidzi: 2437, Ibnu Majah: 4132 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja lafazhnya terdapat tambahan dhamir "huwa" pada kalimat " ... unzuruu ilaa man huwa asfal minkum... ". Lihat juga HR. Muslim berikut:

و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَلَيْكُمْ. (رواه مسلم: ٥٢٦٤)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir. Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah teks miliknya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih laik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah." (HR. Muslim: 5264 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Hadits riwayat Muslim: 5264 tersebut di atas adalah hadits masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan lebih dari dua jalur periwayat pada tiap tabaqat atau salah satu tabaqat, tetapi tidak sampai kepada tingkat mutawatir.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Kamis, 19 November 2020

MANDI SETELAH MENGUBURKAN MAYIT DAN MILLAH RASULILLAH


MANDI SETELAH MENGUBURKAN MAYIT DAN MILLAH RASULILLAH
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Mandi setelah menguburkan dianggap sebagai sunnah, karena merupakan perintah Rasulullaahi ﷺ. Tujuannya untuk menjaga kebersihan tubuh dari najis setelah menguburkan yang tidak diketahui keberadaannya. Sehingga menjaga hal tersebut menjadi anjuran bukan kewajiban seperti mandi junub. Sekaligus mengingatkan kembali kepada nikmat yang telah diputus terhadap mayit yang telah dikuburkan atau mengingatkan kita kepada kemuliaan dan kesucian yang hakiki. Oleh sebab itu, sunnah mandi setelah menguburkan menjadi sesuatu yang disukai.

Imam Abu Daud berkata,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَقَ عَنْ نَاجِيَةَ بْنِ كَعْبٍ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ
قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ قَالَ اذْهَبْ فَوَارِ أَبَاكَ ثُمَّ لَا تُحْدِثَنَّ شَيْئًا حَتَّى تَأْتِيَنِي فَذَهَبْتُ فَوَارَيْتُهُ وَجِئْتُهُ فَأَمَرَنِي فَاغْتَسَلْتُ وَدَعَا لِي. (رواه أبوداود: ٢٧٩٩)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq dari Nahiyah bin Ka'b dari Ali 'alaihis salam, ia berkata; aku katakan kepada Nabi ﷺ; sesunguhnya paman anda adalah orang tua yang sesat (Abu Thalib) telah meninggal. Beliau bersabda: "Pergilah dan kuburkan ayahmu, kemudian janganlah engkau mengadakan sesuatu hingga aku datang kepadamu!" kemudian aku datang dan telah menguburkannya kemudian datang kepadanya. Lalu beliau memerintahkanku untuk mandi, lalu aku mandi dan mendoakanku. (HR. Abu Daud: 2799 - shahih dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu al Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kudah dan wafat tahun 40 H)

DOA SETELAH MELETAKKAN MAYIT DALAM KUBUR ATAU LIANG LAHAD

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ ح و حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِي الْقَبْرِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ. (رواه أبوداود: ٢٧٩٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Abu Ash Shiddiq dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ apabila meletakkan mayit dalam kubur, beliau mengucapkan: "BISMILLAAH WA 'ALAA MILLATI RASUULILLAAH" (dengan nama Allah dan berada di atas sunnah Rasulullah ﷺ)." dan ini adalah lafazh Muslim. (HR. Abu Daud: 2798 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Dengan lafazh lain,

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُدْخِلَ الْمَيِّتُ الْقَبْرَ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَقَالَ أَبُو خَالِدٍ مَرَّةً إِذَا وُضِعَ الْمَيِّتُ فِي لَحْدِهِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَقَالَ هِشَامٌ فِي حَدِيثِهِ بِسْمِ اللَّهِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ. (رواه إبن ماجه: ١٥٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ayyasy berkata, telah menceritakan kepada kami Laits bin Abu Sulaim dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'di berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar berkata, telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Nafi' dari Ibnu Umar ia berkata, "Jika mayat dimasukkan ke dalam kubur, Nabi ﷺ mengucapkan: "BISMILLAHI WA 'ALA MILLATI RASUULILLAH (Dengan nama Allah dan atas millah Rasulullah). " Sekali waktu Abu Khalid menyebutkan, "Jika mayat dimasukkan ke dalam liang lahad, beliau menyebutkan: "BISMILLAAHI WA 'ALA SUNNATI RASUULILLAAH (Dengan nama Allah dan atas sunnah Rasulullah). " Sedangkan Hisyam menyebutkan dalam haditsnya: "BISMILLAAH WA FII SABIILILLAAHI WA 'ALA MILLATI RASUULILLAAH (Dengan nama Allah, dan di jalan Allah, dan atas millah Rasulullah). " (HR. Ibnu Majah: 1539 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar)

Catatan: terdapat periwayat yang dinilai jarah, yaitu Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim ar Raziy menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits, sedangkan al Bukhari menilainya shaduq yuham. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Lihat juga: at Tirmidzi: 967 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar. Dengan tambahan kalimat, "Ya Allah, selamatkanlah ia dari setan dan siksa kubur. Ya Allah, jauhkanlah bumi dari kedua rusuknya, naikkan ruhnya, dan pertemukan ia dengan-Mu dalam keadaan diridhai. "

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكَلْبِيُّ حَدَّثَنَا إِدْرِيسُ الْأَوْدِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ
حَضَرْتُ ابْنَ عُمَرَ فِي جِنَازَةٍ فَلَمَّا وَضَعَهَا فِي اللَّحْدِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ فَلَمَّا أُخِذَ فِي تَسْوِيَةِ اللَّبِنِ عَلَى اللَّحْدِ قَالَ اللَّهُمَّ أَجِرْهَا مِنْ الشَّيْطَانِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ جَافِ الْأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهَا وَصَعِّدْ رُوحَهَا وَلَقِّهَا مِنْكَ رِضْوَانًا قُلْتُ يَا ابْنَ عُمَرَ أَشَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ أَمْ قُلْتَهُ بِرَأْيِكَ قَالَ إِنِّي إِذًا لَقَادِرٌ عَلَى الْقَوْلِ بَلْ شَيْءٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه إبن ماجه: ١٥٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin 'Abdurrahman Al Kalbi berkata, telah menceritakan kepada kami Idris Al Audi dari Sa'id Ibnul Musayyab berkata; aku menemui Ibnu Umar ketika takziah jenazah, ketika meletakkan jenazah dalam liang lahad ia mengucapkan, "Dengan nama Allah, dan di jalan Allah, dan atas millah Rasulullah, " dan ketika ia meratakan tanah pada lubang lahad ia mengucapkan, "Ya Allah, selamatkanlah ia dari setan dan siksa kubur. Ya Allah, jauhkanlah bumi dari kedua rusuknya, naikkan ruhnya, dan pertemukan ia dengan-Mu dalam keadaan diridhai. " Aku lalu berkata, "Wahai Ibnu Umar, apakah itu sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah atau sesuatu yang muncul dari pikiranmu?" ia menjawab, "Jika begitu aku bisa mengatakan sesuatu (wahyu), itu adalah sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ." (HR. Ibnu Majah: 1542 - dha'if [menurut al Albani: dha'if, dan yang shahih adalah bagian yang pertama] dari 'Abdullah bin 'Umar)

LIANG LAHAD DAN PERMASALAHANNYA

Berkata imam Ibnu Majah,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ الرَّازِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ عَبْدِ الْأَعْلَى يَذْكُرُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا. (رواه إبن ماجه: ١٥٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata, telah menceritakan kepada kami Hakkam bin Salm Ar Razi ia berkata, "Aku mendengar Ali bin Abdul A'la menyebutkan hadits dari Bapaknya dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Liang lahad itu untuk kita, sedang lubang (di tengah) untuk selain kita." (HR. Ibnu Majah: 1543 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Lihat juga: Ibnu Majah: 1544 dan Ahmad: 18368 dan 18416- shahih dari Jarir bin 'Abdullah bin Jabir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 51 H. Abu Daud: 2793 dan an Nasa'i: 1982 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas.

Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama Idris bin Subaih, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua. Penilaian ulama: Abu Hatim, adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya majhul. Begitu juga yang menerima darinya, Hammad bin 'Abdur Rahman, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya munkarul hadits dan dha'if. Sementara, adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Lebih lanjut, dijelaskan oleh at Tirmidzi:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَنَصْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ وَيُوسُفُ بْنُ مُوسَى الْقَطَّانُ الْبَغْدَادِيُّ قَالُوا حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا
وَفِي الْبَاب عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَعَائِشَةَ وَابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ٩٦٦)

Telah bercerita kepada kami Abu Kuraib dan Nahr bin Abdurrahman Al-Kufi dan Yusuf bin Musa Al Qathan Al Bahgdadi mereka berkata; Telah bercerita kepada kami Hakkam bin Salm dari Ali bin Abdul A'la dari Bapaknya dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Nabi ﷺ bersabda: "Liang lahat itu untuk kami, sedangkan lubang di tengah kubur itu untuk selain kami." Hadits semakna diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah, 'Aisyah, Ibnu Umar dan Jabir. Abu 'Isa berkata; "Hadits Ibnu Abbas merupakan hadits hasan gharib melalui jalur ini." (HR. At Tirmidzi: 966 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Rabu, 18 November 2020

KEDATANGAN AL QUR'AN DI AKHIRAT

KEDATANGAN AL QUR'AN DI AKHIRAT
(bagi yang membaca dan mempelajarinya)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Al Qur'an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril, terkumpul dalam satu mushhaf diawali dengan surat al Fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas dan berpahala membacanya.

Kemudian ia merupakan sumber ajaran Islam yang utama dan sumber dari sekalian sumber hukum Islam. Sesudahnya adalah al Hadits Rasulullah ﷺ, sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al Qur'an. Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ, bahwa ia juga sebagai pemberi syafaat dan yang ikut mendoakan serta memberikan perlindungan bagi orang yang senantiasa membaca dan mempelajarinya.

Imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا بَشِيرُ بْنُ الْمُهَاجِرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ فَيَقُولُ لِصَاحِبِهِ أَنَا الَّذِي أَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَأَظْمَأْتُ هَوَاجِرَكَ. (رواه أحمد: ٢١٨٩٨)

Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Basyir bin Al Muhajir dari 'Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Al-Qur'an datang pada hari kiamat seperti orang kurus lalu berkata kepada pemiliknya: Akulah yang membuatmu begadang dimalam hari dan membuatmu haus disiang hari." (HR. Ahmad: 21898 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)

Selanjutnya, dari jalur:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ زَيْدٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِصَاحِبِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا يَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ يُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ. (رواه أحمد: ٢١١٦٩)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dari Zaid dari Abu Sallam dari Abu Umamah Al Bahili berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Bacalah Al-Qur'an karena ia datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada pemiliknya. Bacalah zahrawain; Al-Baqarah dan Ali 'Imran, karena keduanya datang pada hari kiamat seolah-olah naungan, seolah-olah awan atau seolah-olah dua kelompok burung berbaris berhujah membela para pemiliknya. Bacalah surah Al-Baqarah karena mengambilnya berkah, meninggalkannya rugi dan tidak bisa dikalahkan oleh tukang-tukang sihir." (HR. Ahmad: 21169 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)

Kalimat "ta'tiy syaafi'an" terdapat dalam riwayat berikut:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ زَيْدِ بْنِ سَلَّامٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا أُمَامَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي شَافِعًا لِأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا يَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ يُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا وَاقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ قَالَ عَبْد اللَّهِ هَذَا الْحَدِيثُ أَمْلَاهُ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ بِوَاسِطٍ. (رواه أحمد: ٢١١٨٦)

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Zaid bin Sallam dari Abu Sallam bahwa ia mendengar Abu Umamah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, " Bacalah Al-Qur'an karena ia datang pada hari kiamat memberi syafaat pada pembacanya. Bacalah zahrawain; Al-Baqarah dan Ali 'Imran, karena keduanya datang pada hari kiamat seolah-olah naungan, seolah-olah awan atau seolah-olah dua kelompok burung berbaris, berhujah untuk membela para pembacanya. Bacalah surah Al-Baqarah karena mengambilnya berkah, meninggalkannya rugi dan tidak bisa dikalahkan oleh tukang-tukang sihir." Berkata 'Abdullah; Hadits ini diimlakkan oleh Yazid bin Harun di Wasith. (HR. Ahmad: 21186 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)

Jadi, tafsiran "datang pada hari kiamat memberi syafaat pada pembacanya" terdapat pada riwayat Ahmad: 21186. Selanjutnya dalam lafazh hadits riwayat imam Muslim "ya'tiy yaumal qiyaamati syafii'an". Imam Muslim berkata:

حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ وَهُوَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَكَأَنَّهُمَا فِي كِلَيْهِمَا وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَ مُعَاوِيَةَ بَلَغَنِي. (رواه مسلم: ١٣٣٧)

Telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Ali Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Abu Taubah ia adalah Ar Rabi' bin Nafi', telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah yakni Ibnu Sallam, dari Zaid bahwa ia mendengar Abu Sallam berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Umamah Al Bahili ia berkata; Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yakni surah Al-Baqarah dan Ali 'Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al-Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barakah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir." Mu'awiyah berkata, "Telah sampai (kabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir." Dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya yakni Ibnu Hassan, Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah dengan isnad ini, hanya saja ia mentatakan, "Wa Ka`annahumaa fii Kilaihimaa." dan ia tidak menyebutkan ungkapan Mu'awiyah, "Telah sampai (kabar) padaku." (HR. Muslim: 1337 - shahih dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 21126 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H. Hadits riwayat Mulim: 1337 dan Ahmad: 21126 adalah hadits 'aziz, diriwayatkan pada salah satu tingkatan sanad oleh dua orang periwayat seperti riwayat imam Ahmad: 21126 yaitu: 1. 'Abdul Malik bin 'Amru, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Amir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 204 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnu Sa'ad dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Adz Dzahabi menilainya hafizh. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq, an Nasa'i menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". 2. 'Affan bin Muslim bin 'Abdullah, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Utsman negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 219. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, adz Dzahabi menilainya hafizh dan Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah. Selanjutnya, 'Abdullah Malik bin 'Amru meriwayatkan dari Hisyam bin Abi 'Abdullah Sanbar, ia tabi'in pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 154 H. Penilaian ulama: al 'Ajli menilainya tsiqah, Ibnu Sa'ad dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, adz Dzahabi menilainya hafizh. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Kemudian, 'Affan bin Muslim meriwayatkan dari Aban bin Yazid, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Yazid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 169 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, an Nasa'i, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Ibnul Madini berpendapat, "menurut kami dia adalah tsiqah". Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Ibnu 'Adi mengatakan, "harapanku dia adalah ahlul shidqi". Adz Dzahabi menilainya tsabat, tetapi Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam kitab adh dhu'afa' dengan menyebutkan orang yang menjarehnya (menilai buruk) tanpa menyebutkan orang yang mentsiqahkannya. Sedangkan Ahmad bin Hanbal mengatakan, "kokoh di setiap masyayikh".

Keduanya meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir Shalih bin al Mutawakkil, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Nashir negeri hidup Yamamah dan wafat tahun 132 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Sementara riwayat yang lain menggunakan lafazh "ta'allamul qur'aan". Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad: 21136,

مَضْرُوبٌ عَلَيْهِ قَالَ عَبْد اللَّهِ وَجَدْتُ هَذَا الْحَدِيثَ فِي كِتَابِ أَبِي بِخَطِّ يَدِهِ وَقَدْ ضَرَبَ عَلَيْهِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ ضَرَبَ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ خَطَأٌ إِنَّمَا هُوَ عَنْ زَيْدٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ شَافِعٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَعَلَّمُوا الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ تَعَلَّمُوا الزَّهْرَاوَيْنِ فَإِنَّهُمَا يَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ يُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا تَعَلَّمُوا الْبَقَرَةَ فَإِنَّ تَعْلِيمَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ. (رواه أحمد: ٢١١٣٦)

Berkata 'Abdullah; Saya menemukan hadits ini dalam buku ayahku dengan tulisan tangannya yang telah diberi cap, saya mengiranya memberi cap karena itu salah karena hadits ini dari Zaid dari Abu Sallam dari Abu Umamah. Telah menceritakan kepada kami 'Abdur Razaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Umamah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Palajarilah Al-Qur'an karena ia memberi syafaat pada hari kiamat. Pelajarilah Al-Baqarah dan Ali 'Imran, pelajarilah Az Zahrawain karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti dua awan, dua naungan atau seperti dua kelompok burung berbaris yang berhujjah untuk membela para pembacanya. Pelajarilah Al-Baqarah karena mengajarannya berkah, meninggalkannya rugi dan tidak bisa dikalahkan oleh tukang-tukang sihir." (HR. Ahmad: 21136 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)

Selanjutnya pada lafazh lain disebutkan dalam sunan ad Darimi. Sebagaimana beliau berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الرَّقِّيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ نِعْمَ الشَّفِيعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّهُ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا رَبِّ حَلِّهِ حِلْيَةَ الْكَرَامَةِ فَيُحَلَّى حِلْيَةَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ اكْسُهُ كِسْوَةَ الْكَرَامَةِ فَيُكْسَى كِسْوَةَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ أَلْبِسْهُ تَاجَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَلَيْسَ بَعْدَ رِضَاكَ شَيْءٌ. (رواه الدارمي: ٣١٧٧)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja'far Ar Raqqi dari Ubaidullah bin Amru dari Zaid bin Abu Unaisah dari 'Ashim dari Abu Shalih ia berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berkata, "Bacalah Al-Qur'an sebab ia adalah sebaik-baik pemberi syafaat pada hari kiamat, pada hari kiamat ia akan berkata 'Wahai Rabb-ku, hiasilah ia dengan hiasan kemuliaan, ' maka ia dihiasilah dengan hiasan kemuliaan. 'Wahai Rabb-ku, selimutilah ia dengan selimut kemuliaan, ' maka ia diselimuti dengan selimut kemuliaan. 'Wahai Rabb-ku, pakaikanlah padanya mahkota kemuliaan, wahai Rabb-ku ridhailah ia, sebab tidak ada sesuatu yang diharap lagi setelah ridha-Mu'." (HR. Ad Darimi: 3177 - isnadnya hasan menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Berdasarkan hadits di atas dapat difahami bahwa, membaca dan atau mempelajari al Qur'an adalah sebuah anjuran yang di hari kiamat dapat memberi syafaat kepada orang yang senantiasa membaca dan mempelajarinya. Demikian juga bagi yang senantiasa membaca dan mempelajari surat al Baqarah dan 'Ali 'Imraan akan melindunginya dan dapat mengalahkan ahli sihir (pen: pembantahnya).

Begitu juga hadits terakhir riwayat imam ad Darimi menjelaskan bahwa hal tersebut adalah pemberi pertolongan atau syafaat terbaik yang akan memohonkan kebaikan kepada Allah di akhirat bagi pembacanya waktu di dunia ini.

Selain itu Rasulullah ﷺ juga bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam al Bukhari,

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا. (رواه البخاري: ٤٦٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal Telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata, Telah mengabarkan kepadaku 'Alqamah bin Martsad Aku mendengar Sa'd bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman radhiallahu'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Abu Abdirrahman membacakan (Al-Qur'an) pada masa Utsman hingga Hajjaj pun berkata, "Dan hal itulah yang menjadikanku duduk di tempat dudukku ini." (HR. Al Bukhari: 4639 - shahih dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 35 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 4640, at Tirmidzi: 2832 dan 2833, Abu Daud: 1240, Ibnu Majah: 207 dan 208, Ahmad: 382 - shahih dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 35 H. Sementara hadits riwayat at Tirmidzi: 2834 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu al Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.

Sementara pada riwayat ad Darimi, sebagaimana beliau berkata,

حَدَّثَنَا الْمُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ نَبْهَانَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَ الْقُرْآنَ قَالَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَقْعَدَنِي هَذَا الْمَقْعَدَ أُقْرِئُ. (رواه الدارمي: ٣٢٠٥)

Telah menceritakan kepada kami Al Mu'alla bin Asad telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Nabhan telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Bahdalah dari Mush'ab bin Sa'd dari ayahnya ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an." Ia berkata; Lalu beliau meraih tanganku dan mendudukanku di tempat duduk ini lalu dibacakan Al-Qur'an kepadaku. (HR. Ad Darimi: 3205 - dha'if dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin  'Abdu Manaf bin Zuhrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits, yaitu: al Harits bin Nabhan, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: al Bukhari dan Abu Hatim menilainya mungkarul hadits. Abu Hatim dan an Nasa'i menilainya matrukul hadits. Al 'Ajli dan Ya'qub Ibnu Syaibah menilainya dha'iful hadits.
Sedangkan Ibnu Hajar menilainya matruk dan adz Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkannya". Husain Salim Asad ad Darani mengatakan, "Al Harits bin Nabhan matruk". Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Demikian halnya hadits riwayat ad Darimi: 3203 - dha'if dari Ali bin Abi Thalib. Sanadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani, yaitu 'Abdu Rahman bin Ishaq bin al Harits, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Syaibah dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnu Sa'ad, Ya'qub bin Sufyan, Abu Daud, an Nasa'in, Ibnu Hibban, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan, Ahmad bi Hanbal menilainya mungkarul hadits. Al Bukhari menilainya fiihi nazhar, Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi. Sedangkan Abu Hatim dan 'Uqaili menilainya dha'iful hadits. Selanjutnya adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya". Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Sabtu, 14 November 2020

ORANG SHALIH DAN ORANG MUFASSID

ORANG SHALIH DAN ORANG MUFASSID
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem, 
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam al Bukhari berkata:

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ بَيَانٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ مِرْدَاسٍ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الْأَوَّلُ فَالْأَوَّلُ وَيَبْقَى حُفَالَةٌ كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوْ التَّمْرِ لَا يُبَالِيهِمْ اللَّهُ بَالَةً قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ يُقَالُ حُفَالَةٌ وَحُثَالَةٌ. (رواه البخاري: ٥٩٥٤) 

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Bayan dari Qais bin Abu Hazim dari Mirdas Al Aslami dia berkata; Nabi ﷺ bersabda, "Orang-orang shalih akan pergi (wafat) satu demi satu, hingga yang tersisa adalah orang-orang yang kualitasnya seperti ampas gandum atau kurma, dan Allah tidak memperdulikan mereka." Abu Abdullah mengatakan; 'Hufalah disebut juga dengan hutsalah (ampas atau dedak).' (HR. Al Bukhari: 5954 - shahih dari Mirdas bin Malik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah) 

Demikian juga hadits riwayat ad Darimi: 2603 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Mirdas bin Malik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah.

Memilih dalam menuntut ilmu kepada orang yang shalih adalah melihat bagaimana ia menunailan shalatnya. Imam ad Darimi meriwayatkan bahwa, 

أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الرَّبِيعِ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ قَالَ كُنَّا نَأْتِي الرَّجُلَ لِنَأْخُذَ عَنْهُ فَنَنْظُرُ إِذَا صَلَّى فَإِنْ أَحْسَنَهَا جَلَسْنَا إِلَيْهِ وَقُلْنَا هُوَ لِغَيْرِهَا أَحْسَنُ وَإِنْ أَسَاءَهَا قُمْنَا عَنْهُ وَقُلْنَا هُوَ لِغَيْرِهَا أَسْوَأُ قَالَ أَبُو مَعْمَرٍ لَفْظُهُ نَحْوُ هَذَا. (رواه الدارمي: ٤٢٤) 

Telah mengabarkan kepada kami Abu Ma'mar Isma'il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Abu Ja'far Ar Razi dari ayahnya dari Ar Rabi' dari Abul 'Aliyah ia berkata, "Dahulu kami jika menemui seseorang untuk mengambil (ilmu) nya, maka kami melihat (bagaimana) shalatnya, jika ia baik dalam menunaikannya, kami duduk dengannya, lalu kami berkata, Dia (dalam amalan selain shalat) pasti lebih baik, tetapi jika ia buruk dalam menunaikannya, maka kami segera beranjak pergi meninggalkannya, lalu kami katakan: 'Dia (dalam amalan selain shalat) pasti lebih buruk". Abu Ma'mar berkata, "Redaksinya seperti ini". (HR. Ad Darimi: 424 - isnadnya hasan menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Rufai' bin Mihran, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu al 'Aliyah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 90 H, penilaian ulama: Abu Zur'ah ar Raziy, Abu Hatim, al 'Ajli dan Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat" ) 

Sehingga seseorang tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi dalam beramal. Seperti kaum Haruriy, Yahudi dan Nashrani, sebagaimana disinggung dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam al Bukhari, 

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبِي { قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا } هُمْ الْحَرُورِيَّةُ قَالَ لَا هُمْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى أَمَّا الْيَهُودُ فَكَذَّبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّا النَّصَارَى فَكَفَرُوا بِالْجَنَّةِ وَقَالُوا لَا طَعَامَ فِيهَا وَلَا شَرَابَ وَالْحَرُورِيَّةُ { الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ } وَكَانَ سَعْدٌ يُسَمِّيهِمْ الْفَاسِقِينَ. (رواه البخاري: ٤٣٥٩) 

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Amru bin Murrah dari Mush'ab bin Sa'ad dia berkata; Aku bertanya kepada Bapakku mengenai firman Allah; Katakanlah, "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" apakah mereka orang Haruriy (nama sebuah desa kaum khawarij)? Bapakku menjawab; bukan, mereka adalah Yahudi dan Nasrani. Adapun orang-orang Yahudi, mereka telah mendustakan Nabi ﷺ. Sedangkan Nasrani mereka telah mengingkari surga. Mereka mengatakan; di dalamnya tidak ada makanan dan minuman. Adapun Haruriy mereka adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh… dan Sa'ad menamakan mereka sebagai orang-orang yang fasik. (HR. Al Bukhari: 4359 - shahih dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zujrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H) 

Khalifah Umar bin 'Abdul 'Aziz berkata, sebagaimana atsar yang diriwayatkan oleh imam ad Darimi, 


أَخْبَرَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى أَهْلِ الْمَدِينَةِ إِنَّهُ مَنْ تَعَبَّدَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ قَلَّ كَلَامُهُ إِلَّا فِيمَا يَعْنِيهِ وَمَنْ جَعَلَ دِينَهُ غَرَضًا لِلْخُصُومَةِ كَثُرَ تَنَقُّلُهُ. (رواه الدارمي: ٣٠٧) 

Telah mengabarkan kepada kami Marwan bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abdul Aziz ia berkata, " Umar bin Abdul Aziz menulis surat untuk penduduk Madinah, "Barangsiapa beribadah tanpa ilmu, ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki, barangsiapa amalnya lebih banyak daripada perkataannya, ia sedikit berbicara kecuali dalam hal-hal yang bermanfaat, dan barangsiapa yang menjadikan agamanya sebagai bahan perdebatan, ia sering bersilat lidah". (HR. Ad Darimi: 307 - munqathi' dan para perawinya tsiqah menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Umar bin 'Abdul 'Aziz bin Marwan bin al Hakam, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Hafsah negeri hidup Syam dan wafat tahun 101 H. Penilaian ulama: Malik bin Anas dan Ibnu 'Uyainah menilainya imam. Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun. Ibnu Hajar menilainya amirul mukminin, sementara adz Dzahabi menilainya 'Alim 'Amil. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat")
Wallaahu a'lam bish shawaab, 

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

KAUM MUNAFIK YANG LEBIH BURUK DAN ORANG BERIMAN LEBIH BAIK

KAUM MUNAFIK YANG LEBIH BURUK DAN ORANG BERIMAN LEBIH BAIK

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem, 
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam al Bukhari berkata, 

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاصِلٍ الْأَحْدَبِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ الْيَوْمَ شَرٌّ مِنْهُمْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا يَوْمَئِذٍ يُسِرُّونَ وَالْيَوْمَ يَجْهَرُونَ. (رواه البخاري: ٦٥٨٠) 

Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Washil Al Ahdab dari Abu Wa`il dari Khudzaifah bin Yaman mengatakan; 'kaum munafikin hari ini jauh lebih buruk daripada mereka yang hidup di masa Nabi ﷺ, sebab dahulu mereka sembunyi-sembunyi, namun sekarang mereka lakukan secara terang-terangan.' (HR. Al Bukhari: 6580 - shahih dari Huzaifah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H)

Kemudian dikatakan juga bahwa bersabar menghadapi keburukan mereka adalah suatu tantangan yang luar biasa. Sehingga dibalasi pahala yang besar. Imam Ibnu Majah berkata: 

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ الرَّقِّيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ. (رواه إبن ماجه: ٤٠٢٢) 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Maimun Ar Raqqi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf dari Al A'masy dari Yahya bin Watsab dari Ibnu Umar dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang mukmin yang berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan bersabar atas perbuatan buruk mereka, lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan tidak sabar atas tindakan buruk mereka." (HR. Ibnu Majah: 4022 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H) 

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 4780 dan 22019 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. 

Oleh karena itu berhati-hatilah dari tindak-tindakan mereka, sebab semua tipu daya mereka akan menggiurkan. Ketika itu terjadi, serahkanlah urusanmu kepada Allah. 

Selanjutnya, tanggungjawab dan hak-hak yang telah berlaku saat mereka berbaur dengan kita mesti ditunaikan. Seperti; menjawab salam, memberi peringatan, dan sebagainya. Apakah mereka nanti akan beriman atau pun tidak setelah itu, serahkan kepada Allah. 

Hal yang terpenting kita lakukan adalah mendulang pahala untuk hari esok/kiamat. Karena hal tersebut adalah termasuk masalah ghaib yang hanya Allah yang mengetahuinya. Imam al Bukhari berkata, 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ لَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي الْأَرْحَامِ وَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيءُ الْمَطَرُ. (رواه البخاري: ٩٨١) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Abdullah bin Dinar dari Ibnu 'Umar berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada lima kunci ghaib yang tidak diketahui seorangpun kecuali oleh Allah; tidak seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, dan tidak seorangpun yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam rahim, dan tak satu jiwa pun yang tahu apa yang akan diperbuatnya esok, dan tak satu jiwa pun yang tahu di bumi mana dia akan mati serta tidak seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan." (HR. Al Bukhari: 981 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)  

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 4261, 4328 dan 6831, Ahmad: 3477, 4536, 5770 dan 21908 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits tersebut diriwayat secara makna. Karena, terkadang disebutkan yang didahulukan dan yang akhirkan. Seperti dalam riwayat Ahmad: mendahulukan hari kiamat dan pada riwayat al Bukhari 4368 dan 6831 mengakhirkan hari kiamat. Sementara pada hadits riwayat al Bukhari: 981 tidak ada yang tahu tentang hari esok. 

Ditelaah dari lafazh matan yang ada, dapat dipahami bahwa hari esok yang dimaksud dalam hadits-hadits tersebut adalah hari kiamat. Oleh sebab itu, hadits riwayat dengan makna dapat dipahami dengan baik dan benar setelah melihat hadits-hadits terkait dan semakna dengannya. Apa lagi dilihat dari jalur lain, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad berikut:

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ تَعَالَى { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ }. (رواه أحمد: ٢١٩٠٨) 

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab telah bercerita kepada kami Husain bin Waqid telah bercerita kepadaku 'Abdullah berkata, Aku mendengar Buraidah berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Lima hal yang tidak diketahui kecuali Allah; sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari kiamat, menurunkan hujan, mengetahi yang ada dirahim, jiwa tidak tahu apa yang akan diperbuat esok hari dan jiwa tidak tahu ditanah mana ia meninggal, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Melihat." (HR. Ahmad: 21908 - shahih lighairihi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H) 

Wallaahu a'lam bish shawaab, 

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Kamis, 12 November 2020

MENGINGAT KEMATIAN HUBUNGANNYA DENGAN AKHLAK (Dzikra haadzimi al ladzaati wa ahsanu khuluqan)

MENGINGAT KEMATIAN HUBUNGANNYA DENGAN AKHLAK 
(Dzikra haadzimi al ladzaati wa ahsanu khuluqan) 

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem, 
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Mengingat kematian erat hubungannya dengan iman dan akhlak seperti yang telah diajarkan oleh orang yang berkompeten dibidangnya. Kematian husnul khatimah dapat diperoleh dengan bimbingan al Qur'an dari orang terpercaya dan ahli atau dengan maksud lain bahwa mereka adalah para ulama.
Oleh karena hal tersebut, maka perlu diketahui nash (al Qur'an dan al Hadits) untuk menjelaskannya. Sebagaimana juga penting diajarkan dan dipelajari oleh para mu'allim dan para ulama. Berikut penulis paparkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 
اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَاِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ ۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ فَمَالِ هٰٓؤُلَاۤءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٧٨) 

"Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka mengatakan, “Ini dari engkau (Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?”" (QS.An-Nisā'/4: 78)

Juga Allah berfirman terhadap orang-orang yang kafir atau orang yang tidak mau mengakui kebenaran tentang kematian, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ. (قرآن سورة المؤمنون/٢٣: ٩٩) 

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia)," (QS.Al-Mu'minūn/23: 99)

Dan,

لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّا ۗاِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ. (قرآن سورة المؤمنون/٢٣: ١٠٠) 

"agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan." (QS.Al-Mu'minūn/23: 100)

Begitu pentingnya mengingat kematian tersebut, maka hal tersebut diulang-ulang pernyataannya dalam QS. Al Munafiqun/63: 10 - 11, sebagaimana firman-Nya, 

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ. (قرآن سورة المنافقون/٦٢: ١٠) 

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS.Al-Munāfiqūn/63: 10)

وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ. (قرآن سورة المنافقون/٦٢: ١١) 

"Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS.Al-Munāfiqūn/63: 11)

Imam at Tirmidzi berkata, 

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ. (رواه الترمذي: ٢٢٢٩) 

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Al Fadl bin Musa dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian" Berkata Abu Isa: Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Sa'id. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih gharib. (HR. At Tirmidzi: 229 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat Ibnu Majah: 4248 - hasan, Ahmad: 7884 - hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Imam Ahmad menjelaskan dalam riwayatnya, 

حَدَّثَنَا يَزِيدُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ قَالَ أَبِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ هُوَ أَبُو بَنِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو بِتِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ حَدِيثًا ثُمَّ أَتَمَّهَا بِهَذَا الْحَدِيثِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَمَامَ مِائَةِ حَدِيثٍ. (رواه أحمد: ٧٨٨٤) 

Telah menceritakan kepada kami Yazid dari Muhammad bin Ibrahim dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Perbanyaklah mengingat kematian." Ayahku (Imam Ahmad) berkata, Muhammad bin Ibrahim adalah Abu Bani Syaibah, Yazid telah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin 'Amru sembilan puluh sembilan hadits, kemudian ia menyempurnakannya dengan hadits ini dari Muhammad bin Ibrahim dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ hingga lengkap seratus hadits. (HR. Ahmad: 7884 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Selanjutnya, imam an Nasa'i juga meriwayatkan lafazh yang sama, 

أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ قَالَ أَنْبَأَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو ح و أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَالِدُ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ. (رواه تلنسائي: ١٨٠١) 

Telah mengabarkan kepada kami Al Husain bin Huraits dia berkata; telah memberitakan kepada kami Al Fadhl bin Musa dari Muhammad bin 'Amru. Dan diriwayatkan pula dari jalur lain, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Al Mubarak dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid dia berkata; telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim dari Muhammad bin 'Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan -yaitu kematian-." Abu Abdurrahman berkata; 'Muhammad bin Ibrahim adalah putra Abu Bakr bin Abu Syaibah.' (HR. An Nasa'i: 1801 - hasan dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz, karena diriwayatkan dua jalur sanad)

Sementara pada lafazh semakna dijelaskan sababul wurudnya, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majah: 4249,

حَدَّثَنَا الزُّبَيْرُ بْنُ بَكَّارٍ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ فَرْوَةَ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ. (رواه إبن ماجه: ٤٢٤٩) 

Telah mengabarkan kepada kami Az Zubair bin Bakkar telah mengabarkan kepada kami Anas bin 'Iyadl telah mengabarkan kepada kami Nafi' bin Abdullah dari Farwah bin Qais dari 'Atha` bin Abu Rabah dari Ibnu Umar bahwa dia berkata; Saya bersama dengan Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar kepada beliau, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ dan bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimanakah orang mukmin yang utama?" beliau menjawab, "Orang yang paling baik akhlaknya." Dia bertanya lagi, "Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling bijak?" beliau menjawab, "Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang bijak." (HR. Ibnu Majah: 4249 - hasan dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H) 

Lafazh baling baik imannya adalah orang yang berakhlak adalah hadits riwayat Abu Daud: 4062, ad Darimi: 2672 - hasan dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Adapun hadits yang shahih diriwayatkan oleh imam Ahmad: 10397,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ حَدَّثَنِي ابْنُ عَجْلَانَ عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. (رواه أحمد: ١٠٣٩٧) 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sa'id, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ibnu 'Ajlan dari Al Qa'qa' bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Ahmad: 10397 - shahih, isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga imam at Tirmidzi meriwayatkan dengan tambahan lafazh, 

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ١٠٨٢) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami 'Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin 'Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya." 

Abu Isa berkata, "Hadits semakna diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas." Dia menambahkan, "Hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan sahih." (HR. At Tirmidzi: 1082 - hasan menurut al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Pada hadits berikut terdapat perbedaan lafazh "khiyaarukum li nisaa'ihim khulqan", dalam riwayat berikut dengan lafazh "al Thafuhum bi ahlihiy". Sebagaimana imam at Tirmidzi berkata:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ. 

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَلَا نَعْرِفُ لِأَبِي قِلَابَةَ سَمَاعًا مِنْ عَائِشَةَ وَقَدْ رَوَى أَبُو قِلَابَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ رَضِيعٍ لِعَائِشَةَ عَنْ عَائِشَةَ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ وَأَبُو قِلَابَةَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الْجَرْمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ ذَكَرَ أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ أَبَا قِلَابَةَ فَقَالَ كَانَ وَاللَّهِ مِنْ الْفُقَهَاءِ ذَوِي الْأَلْبَابِ. (رواه الترمذي: ٢٥٣٧) 

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' al Baghdadi telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ulayyah telah menceritakan kepada kami Khalid al Hadzdza' dari Abu Qilabah dari Aisyah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya termasuk orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan paling lembut terhadap keluarganya." Dan dalam bab tersebut (juga diriwayatkan) dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik. 

Abu Isa berkata; 'Ini hadits shahih, dan kami tidak mengetahui Abu Qilabah memiliki riwayat mendengar dari Aisyah. Abu Qilabah telah meriwayatkan dari Abdullah bin Yazid, susuan Aisyah, dari Aisyah selain hadits ini. Abu Qilabah Abdullah bin Zaid al Jarmi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dia berkata, Ayyub as Sakhtiyani menyebutkan Abu Qilabah berkata, "Demi Allah, dia termasuk para fuqaha' yang memiliki ilmu." (HR. At Tirmidzi: 2537 - dha'if menurut al Albani dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Asbabul wurud hadits tentang mukmin terbaik adalah yang paling baik akhlaknya, sebagaimana imam al Bukhari berkata, 

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ سَمِعْتُ مَسْرُوقًا قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو حِينَ قَدِمَ مَعَ مُعَاوِيَةَ إِلَى الْكُوفَةِ فَذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا. (رواه البخاري: ٥٥٦٩) 

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman saya mendengar Abu Wa`il saya mendengar Masruq dia berkata; Abdullah bin 'Amru berkata. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Syaqiq bin Salamah dari Masruq dia berkata, "Kami pernah menemui Abdullah bin 'Amru ketika kami tiba di Kufah bersama Mu'awiyah, kemudian dia ingat Rasulullah ﷺ seraya berkata, "Beliau tidak pernah berbuat kejelekan dan tidak menyuruh untuk berbuat kejelekan." Lalu (Abdullah bin Amru) berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya." (HR. Al Bukhari: 5569 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hadits 'aziz)

Lafazh lain tentang akhlak yang baik, sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan, 

قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا. (رواه أحمد: ٦٤٧٨) 

(Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya), dia (Abdullah bin 'Amru) berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya." (HR. Ahmad: 6478 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Sanad dimaksud dalam riwayat Ahmad: 6478 adalah hadits tentang belajar al Qur'an dari empat orang shahabat, 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ يُحَدِّثُ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْتَقْرِئُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. (رواه أحمد: ٦٤٧٦) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman ia berkata; aku mendengar Abu Wa`il menceritakan kepada Masruq dari Abdullah bin 'Amru, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Kalian belajarlah Al-Qur'an dari empat orang: dari Abdullah bin Mas'ud, dari Salim pelayan Abu Hudzaifah, dari Mu`adz bin Jabbal dan dari Ubai bin Ka'ab." (HR. Ahmad: 6476 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Lebih lanjut, imam al Bukhari meriwayatkan, dengan menggabungkan dua matan hadits (Ahmad: 6478 dan 6478) tersebut sebagai berikut:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ قَالَ سَمِعْتُ مَسْرُوقًا قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَقَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا وَقَالَ اسْتَقْرِئُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ. (رواه البخاري: ٣٤٧٦) 

Telah bercerita kepada kami Hafsh bin 'Umar telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Sulaiman berkata, aku mendengar Abu Wa'il berkata, aku mendengar Masruq berkata, " 'Abdullah bin 'Amr berkata, "Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang suka berbicara kotor (keji) juga tidak pernah berbuat keji dan beliau bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya'. Dan beliau juga bersabda, "Ambillah bacaan Al-Qur'an dari empat orang. Yaitu dari 'Abdullah bin Mas'ud, kemudian Salim, maula Abu Hudzaifah, lalu Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal". (HR. Al Bukhari: 3476 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari, 

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ سَمِعْتُ مَسْرُوقًا قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو حِينَ قَدِمَ مَعَ مُعَاوِيَةَ إِلَى الْكُوفَةِ فَذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا. (رواه البخاري: ٥٥٦٩) 

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman saya mendengar Abu Wa`il saya mendengar Masruq dia berkata; Abdullah bin 'Amru berkata. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Syaqiq bin Salamah dari Masruq dia berkata, "Kami pernah menemui Abdullah bin 'Amru ketika kami tiba di Kufah bersama Mu'awiyah, kemudian dia ingat Rasulullah ﷺ seraya berkata, "Beliau tidak pernah berbuat kejelekan dan tidak menyuruh untuk berbuat kejelekan." Lalu (Abdullah bin Amru) berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya." (HR. Al Bukhari: 5569 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Demikianlah yang dapat penulis paparkan. Berdasarkan paparan dia atas bahwa sangat erat hubungan antara mengingat kematian dengan iman yang benar dan akhlak yang baik. Sehingga ketiga hal tersebut dikaitkan. Begitu juga mempelajari al Qur'an kepada empat orang shahabat, sebagaimana sabda beliau, "Ambillah bacaan Al-Qur'an dari empat orang. Yaitu dari 'Abdullah bin Mas'ud, kemudian Salim, maula Abu Hudzaifah, lalu Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal". 

Ini menunjukkan bahwa mengingat kematian tersebut dengan iman dan akhlak seperti yang telah diajarkan oleh orang yang berkompeten dibidangnya. Kematian husnul khatimah dapat diperoleh dengan bimbingan al Qur'an dari orang terpercaya dan ahli atau dengan maksud lain bahwa mereka adalah para ulama. Wallaahu a'lam bish shawaab. 

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Selasa, 10 November 2020

ALLAH JAUHKAN SURGA DARI PEMIMPIN (Tugas dan Kepemimpinan)

ALLAH JAUHKAN SURGA DARI PEMIMPIN
(Tugas dan Kepemimpinan)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem, 
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Semua kita adalah pemimpin, ini prinsip. Sedangkan tugasnya adalah mengajak semua manusia ke jalan Allah, memakmurkan isi bumi dan amar ma'ruf nahi munkar serta menghilangkan ketakutan atau memberi kenyamanan bagi orang yang dipimpinnya. Sifat seorang pemimpin itu menyontoh sifat Rasulullah: Shiddiq, amanah, fathanah dan tabligh. Secara pribadi semua manusia punya tanggung jawab. Nah, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing mesti memberikan konstribusi yang positif kepada dirinya. Sebagai makhluk sosial, tidak ada seorang pun yang dapat menafikan tugasnya sebagai khalifah secara estapet atau berkesinambungan. Begitulah yang dapat saya sampaikan, semoga dapat dipahami dan kembangkan.

Imam al Bukhari berkata, 

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ عَنْ الْحَسَنِ أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ زِيَادٍ عَادَ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ لَهُ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ. (رواه البخاري: ٦٦١٧) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Abul Asyhab dari Al Hasan, bahwasanya Abdullah bin Ziyad mengunjungi Ma'qil bin yasar ketika sakitnya yang menjadikan kematiannya, lantas Ma'qil mengatakan kepadanya; 'Saya sampaikan hadits kepadamu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ, aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, selain tidak akan mendapat bau surga." (HR. Al Bukhari: 6617 - shahih dari Ma'qil bin Yasar bin 'Abdullah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Ali dan negeri hidup Bashrah) 

Rasul menyamakan dengan resiko orang yang membunuh tanpa sebab, sebagaimana imam Ahmad berkata, 

وَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدَةً بِغَيْرِ حَقِّهَا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ. (رواه أحمد: ١٩٦٠١) 

Dan Abu Bakrah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa membunuh jiwa yang dalam perjanjian tanpa sebab yang dibenarkan, maka ia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga dapat tercium hingga jarak perjalanan lima ratus tahun." (HR. Ahmad: 19601 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Nafi' bin al Harits bin Kildah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakrah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H) 

Catatan: Dalam sanad hadits riwayat Ahnad: 19601 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritukus hadits yaitu 'Ali bin Zaid bin 'Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, al 'Ajli dan Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi. Sedangkan Yahya bin Ma'in, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya adalah periwayat dinilai ta'dil (baik) atau dapat diterima (maqbul). 

Seperti membunuh kafir zhimmiy, sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَتَلَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ أَوْ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ مَنْصُورٌ الشَّاكُّ إِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ قَدْرِ سَبْعِينَ عَامًا. (رواه أحمد: ٢٢٠٤٧) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Manshur dari Hilal bin Yasaf dari Al Qasim bin Mukhaimarah dari seorang sahabat Nabi ﷺ dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, ia tidak akan mendapatkan bau surga atau tidak akan menemukan bau surga -Manshur ragu- dan baunya bisa ditemukan dari jarak (perjalanan) tujuh puluh tahun." (HR. Ahmad: 22047 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari seorant shahabat Nabi ﷺ)

Begitu juga halnya hadits berikut:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَمَّنْ حَدَّثَهُ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ. (رواه أحمد: ٢١٣٤٥) 

Telah menceritakan kepada kami Isma'il telah bercerita kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari seseorang yang telah bercerita padanya dari Tsauban berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa pun wanita yang meminta talak pada suaminya tanpa alasan maka bau surga haram baginya." (HR. Ahmad: 21345 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H) 

Demikian tercelanya sikap seorang pemimpin yang tidak menjalankan sebagaimana mestinya. Sehingga bau surga pun ia tidak menciumnya. Ini bermakna, bahwa tidak mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, sebagaimana seseorang yang hidup dalam ridha Allah. Mereka menjalankan syari'at dan dengan ikhlas melaksanakannya dengan panduan Rasul-Nya dan para ulama. Wallaahu a'lam bish shawaab. 

Dapat dilihat juga pada link:

https://play.google.com/books/publish/u/0/a/8014917558606185665#home

https://ibnusyamsir.blogspot.com/

KETAATAN PADA ALLAH, RASUL DAN PEMIMPIN (dibatasi oleh kemaksiatan dan ketidakadilan)

KETAATAN PADA ALLAH, RASUL DAN PEMIMPIN
(dibatasi oleh kemaksiatan dan ketidakadilan)


Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem, 
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam al Bukhari berkata, 

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ أَنَّ الْأَعْرَجَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ. (رواه البخاري: ٢٧٣٦) 

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad bahwa Al A'raj bercerita kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu'anhu bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Kita adalah kaum yang datang terakhir (di dunia ini) yang akan mendahului yang lain (pada hari akhir) ". (HR. Al Bukhari: 2736 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Oleh karena itu, seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mesti mena'ati apa pun yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ. (قرآن سورة النسائي/٤: ٨٠) 

"Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (QS.An-Nisā'/4: 80)


Untuk membuktikan iman yang benar tersebut dibimbing oleh Allah melalui firman-Nya, 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


۞ قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة الحجورات/٤٩: ١٤) 

"Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” " (QS.Al-Ḥujurāt/49: 14)

Dan, 

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ. (قرآن سورة الحجورات/٤٩: ١٥) 

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS.Al-Ḥujurāt/49: 15)

Selanjutnya, hal tersebut secara umum dijelaskan dengan sabda Rasulullah sebagaimana yanh diriwayatkan imam al Bukhari:

وَبِهَذَا الْإِسْنَادِ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ. (رواه البخاري: ٢٧٣٧) 

Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya, dari Abu Hurairah; Dan dengan sanad di atas, beliau ﷺ juga bersabda, "Barangsiapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin berarti dia telah taat kepadaku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada pemimpin berarti dia telah bermaksiat kepadaku. Dan sesungguhnya imam (pemimpin) adalah laksana benteng, dimana orang-orang akan berperang mengikutinya dan berlindung dengannya. Maka jika dia memerintah dengan berlandaskan taqwa kepada Allah dan keadilan, maka dia akan mendapatkan pahala. Namun jika dia berkata sebaliknya maka dia akan menanggung dosa". (HR. Al Bukhari: 2737 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 6604, Muslim: 3417 dan 3418, an Nasa'i: 4122, Ahmad: 7786, 9655 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa Waki' berkata "aamir" adalah "imam".

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ الْأَمِيرَ وَقَالَ وَكِيعٌ الْإِمَامَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَقَالَ وَكِيعٌ الْإِمَامَ فَقَدْ عَصَانِي. (رواه أحمد: ٧١٢٥) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mentaatiku sungguh ia telah menaati Allah, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah, dan barangsiapa menaati pemimpinku, " -waki` berkata, yaitu Imam, - "Maka ia telah menaati aku, dan barangsiapa bermaksiat kepada pemimpinku, sungguh ia telah bermaksiat kepadaku." -Waki' berkata, yaitu Imam, - "Berarti Ia telah bermaksiat kepadaku." (HR. Ahmad: 7125 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Catatan: semuanya hadits pendukung di atas tanpa lafazh, "seorang imam adalah perisai.... ". Sementara lafazh tersebut berada pada hadits riwayat berikut:

Imam Muslim berkata, 

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنِي وَرْقَاءُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ. (رواه مسلم: ٣٤٢٨) 

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Muslim telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Syababah telah menceritakan kepadaku Warqa` dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Seorang imam itu ibarat perisai, seseorang berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. Jika seorang imam (pemimpin) memerintahkan supaya takwa kepada Allah 'Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (imam) akan mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia (imam) memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa." (HR. Muslim: 3428 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 4125 dan 10359 [shahih dan isnadnya qawi menurut Syu'aib bin al Arna'uth] keduanya shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Sedang imam Abu Daud meriwayatkan, 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ بِهِ. (رواه أبوداود: ٢٣٧٦) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah Al Bazzaz, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad, dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seorang imam adalah tameng yang digunakan untuk berperang." (HR. Abu Daud: 2376 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat Muslim: 3428 - dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Selanjutnya pada lafazh lain lagi imam Ahmad berkata, 

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ فَإِنْ صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَإِذَا وَافَقَ قَوْلُ أَهْلِ الْأَرْضِ قَوْلَ أَهْلِ السَّمَاءِ غُفِرَ لَهُ مَا مَضَى مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه أحمد: ٩٦٥٦) 

Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Abu Hurairah, "Sesungguhnya seorang imam itu adalah perisai, jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk, jika ia mengucapkan; SAMI'A ALLAHU LIMAN HAMIDAH (semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya) maka katakanlah; ALLAHUMMA RABBANA WALAKAL HAMDU (Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala pujian), jika ucapan penghuni bumi sama dengan ucapan penghuni langit maka akan dihapus dosanya yang telah berlalu." (HR. Ahmad: 9656 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Sanad dimaksud adalah hadits riwayat Ahmad: 9655,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَلْقَمَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي. (رواه أحمد: ٩٦٥٥) 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ya'la bin 'Atho` berkata; aku mendengar Abu Alqamah berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mentaatiku maka ia telah menaati Allah, dan barangsiapa mendurhakai aku maka ia telah mendurhakai Allah. Dan barangsiapa menaati pemimpinku maka ia telah mentaatiku, dan barangsiapa mendurhakai pemimpinku maka ia telah mendurhakaiku." (HR. Ahmad: 9655 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ketaatan kepada Rasul disamakan dengan taat kepada Allah, sedangkan ketaatan kepada pemimpin dengan syarat ia pun taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian, ketaatan kepada pemimpin adalah ketika ia senantiasa berlaku adil dan mengajak kepada ketakwaan, jika ia berlaku maksiat maka hal tersebut menjadi dosa dan siksa baginya. Pemimpin "aamir" dimaksud adalah "imam", artinya ia wajib diikuti baik dalam peperangan, pemerintahan maupun dalam shalat. Hadits-hadits di atas, semunya diriwayatkan dari Abu Hurairah dan diriwayat oleh imam al Bukhari, Muslim, an Nasa'i, Abu Daud dan Ahmad. Oleh karena itu, hadits tersebut saling melengkapi karena diriwayat secara makna. Kualitas hadits dimaksud semuanya adalah shahih. Demikianlah yang dapat penulis paparkan, semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam bish shawaab. 

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.