“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.
Pages - Menu
Jumat, 27 November 2020
KALIMAT INSYA ALLAH
Jumat, 20 November 2020
BERTEMAN DENGAN ORANG SHALIH DAN MENSYUKURI NIKMAT ALLAH
BERTEMAN DENGAN ORANG SHALIH DAN MENSYUKURI NIKMAT ALLAH
" ... فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ."
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Orang-orang shalih memiliki keutamaan dan nilai kezuhudan yang murni. Mereka tidak memilih teman dan status sosial yang melekat padanya. Sehingga keshalihan ijtima'iyah terbangun dengan baik. Oleh sebab itu keshalihannya bukan keshalihan diri sendiri tetapi dapat menularkan kepada orang lain bahkan dunia. Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang shalih adalah nikmat yang sangat besar.
Umar bin Khaththab berkata,
ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به.
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sesama muslim) yang shalih. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang shalih maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]
Ingatlah firman Allah terhadap orang-orang Yahudi berikut:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَطَّعْنٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اُمَمًاۚ مِنْهُمُ الصّٰلِحُوْنَ وَمِنْهُمْ دُوْنَ ذٰلِكَ ۖوَبَلَوْنٰهُمْ بِالْحَسَنٰتِ وَالسَّيِّاٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٦٨)
"Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (QS.Al-A‘rāf/7: 168)
فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَدْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَاۚ وَاِنْ يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُۗ اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِّيْثَاقُ الْكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِۗ وَالدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٦٩)
"Maka setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini. Lalu mereka berkata, “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam Kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?" (QS.Al-A‘rāf/7: 169)
Amalkanlah doa yang dimohonkan kepada oleh Nabi Yusuf berikut:
رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ. (قرآن سورة يوسف/١٢: ١٠١)
"Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS.Yūsuf/12: 101)
Hal tersebut juga diperkuat dengan sabda-sabda Rasulullah ﷺ berikut:
Imam at Tirmidzi meriwayatkan,
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْآةُ أَخِيهِ فَإِنْ رَأَى بِهِ أَذًى فَلْيُمِطْهُ عَنْهُ.
قَالَ أَبُو عِيسَى وَيَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ ضَعَّفَهُ شُعْبَةُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَنَسٍ. (رواه الترمذي: ١٨٥٢)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ubaidullah dari bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seorang dari kalian cermin bagi saudaranya, jika dia melihat ada aib padanya maka hendaknya dia menghilangkannya darinya."
Berkata Abu Isa: Yahya bin Ubaidillah didha'ifkan oleh Syu'bah. Hadits semakna diriwayatkan dari Anas. (HR. At Tirmidzi: 1852 - dha'if jiddan menurut al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 1852 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits yaitu periwayat bernama:
1. 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin Mauhab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Yahya dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ibnul al Qaththan menilainya majhulul hal, Ahamad bin Hanbal mengatakan, "hadits-haditsnya mungkar". Sementara Ibnu Hajar menilainya maqbul. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
2. Yahya bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ibnu Uyainah, an Nasa'i dan ad Daruquthni menilainya dha'if. Ahmad bin Hanbal menilainya mungkarul hadits. Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai'. Sementara Ibnu Hajar menilainya matruk. Sedangkan adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya".
Selebihnya adalah periwayat maqbul.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ وَأَبُو يَحْيَى الْحِمَّانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَدْتِ اللُّحُوقَ بِي فَلْيَكْفِكِ مِنْ الدُّنْيَا كَزَادِ الرَّاكِبِ وَإِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الْأَغْنِيَاءِ وَلَا تَسْتَخْلِقِي ثَوْبًا حَتَّى تُرَقِّعِيهِ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ قَالَ و سَمِعْت مُحَمَّدًا يَقُولُ صَالِحُ بْنُ حَسَّانَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ وَصَالِحُ بْنُ أَبِي حَسَّانَ الَّذِي رَوَى عَنْهُ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ ثِقَةٌ.
قَالَ أَبُو عِيسَى وَمَعْنَى قَوْلِهِ وَإِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الْأَغْنِيَاءِ عَلَى نَحْوِ مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قالَ مَنْ رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ هُوَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ.
وَيُرْوَى عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ قَالَ صَحِبْتُ الْأَغْنِيَاءَ فَلَمْ أَرَ أَحَدًا أَكْبَرَ هَمًّا مِنِّي أَرَى دَابَّةً خَيْرًا مِنْ دَابَّتِي وَثَوْبًا خَيْرًا مِنْ ثَوْبِي وَصَحِبْتُ الْفُقَرَاءَ فَاسْتَرَحْتُ. (رواه تلترمذي: ١٨٠٢)
Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Musa, telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Muhammad Al Warraq dan Abu Yahya Al Himmani keduanya berkata, Telah menceritakan kepadaku Shalih bin Hassan dari Urwah dari 'Aisyah radhiallahu'anha berkata; Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadaku, "Jika engkau ingin bersamaku (atau sederajat denganku) di surga, maka ambillah bekal dari dunia seperti bekalnya seorang musafir dan janganlah engkau bergaul dengan orang-orang kaya serta janganlah menganggap bajumu sudah lusuh (robek yaitu tidak layak pakai) sebelum engkau menambalnya."
Abu Isa berkata; Ini merupakan hadits Gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari haditnya Shalih bin Hassan. Dan aku mendengar Muhammad berkata, "Shalih bin Hassan seorang munkarul hadits adapun Shalih bin Abi Hassan yang mana Ibnu Abi Dzuaib meriwayatkan darinya ialah seorang yang tsiqqah."
Abu Isa berkata; Dan arti dari sabda Nabi ﷺ "Dan janganlah kamu bergaul dengan orang-orang kaya". Ialah sebagaimana dalam riwayatnya Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa yang melihat orang yang dilebihkan darinya dari segi rupa dan rezeki, maka hendaknya dia melihat orang yang lebih kurang darinya atas nikmat yang dilebihkan atasnya (baik dari segi rupa atau rezeki), karena hal itu akan mendorongnya untuk selalu mensyukuri nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya."
Diriwayatkan dari 'Aun bin Abdullah berkata, "Aku telah bergaul dengan orang-orang kaya, maka aku tidak melihat ada orang yang lebih memiliki kemauan daripada aku, bersama mereka aku melihat ada unta yang lebih bagus dari ontaku dan aku melihat baju yang lebih bagus dari bajuku. Lantas aku bergaul dengan para faqir dan hatiku menjadi tenang." (HR. At Tirmidzi: 1702 - dha'if dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Sebagaimana dijelaskan oleh imam at Tirmidzi dalam riwayatnya (1702), bahwa terdapat dua orang periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits dalam riwayat tersebut, yaitu:
1. Shalih bin Hassan, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Hatim dan Abu Daud menilainya dha'iful hadits. Sedangkan al Bukhari menilainya munkarul hadits, an Nasa'i menilainya matrukul hadits. Abu Nu'aim dan Ibnu Hajar menilainya matruk. Sementara ad Daruquthni menilainya dha'if dan Ahmad menilainya laisa bi syai'.
2. Sa'id bin Muhammad, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu al Hasan dan negeri hidup Baghdad. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Sa'ad, Abu Daud dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Abu Hatim menilainya laisa bi qawi, an Nasa'in menilainya laisa bi tsiqah. Sedangkan ad Daruqutni menilainya matruk. Sementara Hakim menilainya tsiqah dan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Selebihnya adalah periwayat maqbul (dapat diterima riwayatnya).
" .... مَنْ رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ هُوَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ ..."
Matan ini diriwayat oleh imam Ahmad sebagai berikut:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنِي الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ. (رواه أحمد: ٩٨٥٦)
Telah menceritakan kepada kami Waki', dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Lihatlah kepada orang-orang yang ada di bawah kalian dan jangan melihat kepada yang di atas kalian karena hal itu lebih membantu agar tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Ahmad: 9856 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Begitu juga hadits riwayat Ahmad: 7137 dan at Tirmidzi: 2437, Ibnu Majah: 4132 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja lafazhnya terdapat tambahan dhamir "huwa" pada kalimat " ... unzuruu ilaa man huwa asfal minkum... ". Lihat juga HR. Muslim berikut:
و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَلَيْكُمْ. (رواه مسلم: ٥٢٦٤)
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir. Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah teks miliknya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih laik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah." (HR. Muslim: 5264 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Hadits riwayat Muslim: 5264 tersebut di atas adalah hadits masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan lebih dari dua jalur periwayat pada tiap tabaqat atau salah satu tabaqat, tetapi tidak sampai kepada tingkat mutawatir.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Kamis, 19 November 2020
MANDI SETELAH MENGUBURKAN MAYIT DAN MILLAH RASULILLAH
MANDI SETELAH MENGUBURKAN MAYIT DAN MILLAH RASULILLAH
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Mandi setelah menguburkan dianggap sebagai sunnah, karena merupakan perintah Rasulullaahi ﷺ. Tujuannya untuk menjaga kebersihan tubuh dari najis setelah menguburkan yang tidak diketahui keberadaannya. Sehingga menjaga hal tersebut menjadi anjuran bukan kewajiban seperti mandi junub. Sekaligus mengingatkan kembali kepada nikmat yang telah diputus terhadap mayit yang telah dikuburkan atau mengingatkan kita kepada kemuliaan dan kesucian yang hakiki. Oleh sebab itu, sunnah mandi setelah menguburkan menjadi sesuatu yang disukai.
Imam Abu Daud berkata,
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَقَ عَنْ نَاجِيَةَ بْنِ كَعْبٍ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ
قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ قَالَ اذْهَبْ فَوَارِ أَبَاكَ ثُمَّ لَا تُحْدِثَنَّ شَيْئًا حَتَّى تَأْتِيَنِي فَذَهَبْتُ فَوَارَيْتُهُ وَجِئْتُهُ فَأَمَرَنِي فَاغْتَسَلْتُ وَدَعَا لِي. (رواه أبوداود: ٢٧٩٩)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq dari Nahiyah bin Ka'b dari Ali 'alaihis salam, ia berkata; aku katakan kepada Nabi ﷺ; sesunguhnya paman anda adalah orang tua yang sesat (Abu Thalib) telah meninggal. Beliau bersabda: "Pergilah dan kuburkan ayahmu, kemudian janganlah engkau mengadakan sesuatu hingga aku datang kepadamu!" kemudian aku datang dan telah menguburkannya kemudian datang kepadanya. Lalu beliau memerintahkanku untuk mandi, lalu aku mandi dan mendoakanku. (HR. Abu Daud: 2799 - shahih dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu al Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kudah dan wafat tahun 40 H)
DOA SETELAH MELETAKKAN MAYIT DALAM KUBUR ATAU LIANG LAHAD
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ ح و حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِي الْقَبْرِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ. (رواه أبوداود: ٢٧٩٨)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Abu Ash Shiddiq dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ apabila meletakkan mayit dalam kubur, beliau mengucapkan: "BISMILLAAH WA 'ALAA MILLATI RASUULILLAAH" (dengan nama Allah dan berada di atas sunnah Rasulullah ﷺ)." dan ini adalah lafazh Muslim. (HR. Abu Daud: 2798 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Dengan lafazh lain,
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُدْخِلَ الْمَيِّتُ الْقَبْرَ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَقَالَ أَبُو خَالِدٍ مَرَّةً إِذَا وُضِعَ الْمَيِّتُ فِي لَحْدِهِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَقَالَ هِشَامٌ فِي حَدِيثِهِ بِسْمِ اللَّهِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ. (رواه إبن ماجه: ١٥٣٩)
Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ayyasy berkata, telah menceritakan kepada kami Laits bin Abu Sulaim dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'di berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar berkata, telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Nafi' dari Ibnu Umar ia berkata, "Jika mayat dimasukkan ke dalam kubur, Nabi ﷺ mengucapkan: "BISMILLAHI WA 'ALA MILLATI RASUULILLAH (Dengan nama Allah dan atas millah Rasulullah). " Sekali waktu Abu Khalid menyebutkan, "Jika mayat dimasukkan ke dalam liang lahad, beliau menyebutkan: "BISMILLAAHI WA 'ALA SUNNATI RASUULILLAAH (Dengan nama Allah dan atas sunnah Rasulullah). " Sedangkan Hisyam menyebutkan dalam haditsnya: "BISMILLAAH WA FII SABIILILLAAHI WA 'ALA MILLATI RASUULILLAAH (Dengan nama Allah, dan di jalan Allah, dan atas millah Rasulullah). " (HR. Ibnu Majah: 1539 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar)
Catatan: terdapat periwayat yang dinilai jarah, yaitu Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim ar Raziy menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits, sedangkan al Bukhari menilainya shaduq yuham. Selebihnya adalah periwayat maqbul.
Lihat juga: at Tirmidzi: 967 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar. Dengan tambahan kalimat, "Ya Allah, selamatkanlah ia dari setan dan siksa kubur. Ya Allah, jauhkanlah bumi dari kedua rusuknya, naikkan ruhnya, dan pertemukan ia dengan-Mu dalam keadaan diridhai. "
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكَلْبِيُّ حَدَّثَنَا إِدْرِيسُ الْأَوْدِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ
حَضَرْتُ ابْنَ عُمَرَ فِي جِنَازَةٍ فَلَمَّا وَضَعَهَا فِي اللَّحْدِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ فَلَمَّا أُخِذَ فِي تَسْوِيَةِ اللَّبِنِ عَلَى اللَّحْدِ قَالَ اللَّهُمَّ أَجِرْهَا مِنْ الشَّيْطَانِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ جَافِ الْأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهَا وَصَعِّدْ رُوحَهَا وَلَقِّهَا مِنْكَ رِضْوَانًا قُلْتُ يَا ابْنَ عُمَرَ أَشَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ أَمْ قُلْتَهُ بِرَأْيِكَ قَالَ إِنِّي إِذًا لَقَادِرٌ عَلَى الْقَوْلِ بَلْ شَيْءٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه إبن ماجه: ١٥٤٢)
Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin 'Abdurrahman Al Kalbi berkata, telah menceritakan kepada kami Idris Al Audi dari Sa'id Ibnul Musayyab berkata; aku menemui Ibnu Umar ketika takziah jenazah, ketika meletakkan jenazah dalam liang lahad ia mengucapkan, "Dengan nama Allah, dan di jalan Allah, dan atas millah Rasulullah, " dan ketika ia meratakan tanah pada lubang lahad ia mengucapkan, "Ya Allah, selamatkanlah ia dari setan dan siksa kubur. Ya Allah, jauhkanlah bumi dari kedua rusuknya, naikkan ruhnya, dan pertemukan ia dengan-Mu dalam keadaan diridhai. " Aku lalu berkata, "Wahai Ibnu Umar, apakah itu sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah atau sesuatu yang muncul dari pikiranmu?" ia menjawab, "Jika begitu aku bisa mengatakan sesuatu (wahyu), itu adalah sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ." (HR. Ibnu Majah: 1542 - dha'if [menurut al Albani: dha'if, dan yang shahih adalah bagian yang pertama] dari 'Abdullah bin 'Umar)
LIANG LAHAD DAN PERMASALAHANNYA
Berkata imam Ibnu Majah,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ الرَّازِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ عَبْدِ الْأَعْلَى يَذْكُرُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا. (رواه إبن ماجه: ١٥٤٣)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata, telah menceritakan kepada kami Hakkam bin Salm Ar Razi ia berkata, "Aku mendengar Ali bin Abdul A'la menyebutkan hadits dari Bapaknya dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Liang lahad itu untuk kita, sedang lubang (di tengah) untuk selain kita." (HR. Ibnu Majah: 1543 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Lihat juga: Ibnu Majah: 1544 dan Ahmad: 18368 dan 18416- shahih dari Jarir bin 'Abdullah bin Jabir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 51 H. Abu Daud: 2793 dan an Nasa'i: 1982 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas.
Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama Idris bin Subaih, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua. Penilaian ulama: Abu Hatim, adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya majhul. Begitu juga yang menerima darinya, Hammad bin 'Abdur Rahman, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya munkarul hadits dan dha'if. Sementara, adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya adalah periwayat maqbul.
Lebih lanjut, dijelaskan oleh at Tirmidzi:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَنَصْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ وَيُوسُفُ بْنُ مُوسَى الْقَطَّانُ الْبَغْدَادِيُّ قَالُوا حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا
وَفِي الْبَاب عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَعَائِشَةَ وَابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ٩٦٦)
Telah bercerita kepada kami Abu Kuraib dan Nahr bin Abdurrahman Al-Kufi dan Yusuf bin Musa Al Qathan Al Bahgdadi mereka berkata; Telah bercerita kepada kami Hakkam bin Salm dari Ali bin Abdul A'la dari Bapaknya dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Nabi ﷺ bersabda: "Liang lahat itu untuk kami, sedangkan lubang di tengah kubur itu untuk selain kami." Hadits semakna diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah, 'Aisyah, Ibnu Umar dan Jabir. Abu 'Isa berkata; "Hadits Ibnu Abbas merupakan hadits hasan gharib melalui jalur ini." (HR. At Tirmidzi: 966 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Rabu, 18 November 2020
KEDATANGAN AL QUR'AN DI AKHIRAT
KEDATANGAN AL QUR'AN DI AKHIRAT
(bagi yang membaca dan mempelajarinya)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Al Qur'an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril, terkumpul dalam satu mushhaf diawali dengan surat al Fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas dan berpahala membacanya.
Kemudian ia merupakan sumber ajaran Islam yang utama dan sumber dari sekalian sumber hukum Islam. Sesudahnya adalah al Hadits Rasulullah ﷺ, sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al Qur'an. Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ, bahwa ia juga sebagai pemberi syafaat dan yang ikut mendoakan serta memberikan perlindungan bagi orang yang senantiasa membaca dan mempelajarinya.
Imam Ahmad berkata:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا بَشِيرُ بْنُ الْمُهَاجِرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ فَيَقُولُ لِصَاحِبِهِ أَنَا الَّذِي أَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَأَظْمَأْتُ هَوَاجِرَكَ. (رواه أحمد: ٢١٨٩٨)
Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Basyir bin Al Muhajir dari 'Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Al-Qur'an datang pada hari kiamat seperti orang kurus lalu berkata kepada pemiliknya: Akulah yang membuatmu begadang dimalam hari dan membuatmu haus disiang hari." (HR. Ahmad: 21898 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)
Selanjutnya, dari jalur:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ زَيْدٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِصَاحِبِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا يَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ يُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ. (رواه أحمد: ٢١١٦٩)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dari Zaid dari Abu Sallam dari Abu Umamah Al Bahili berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Bacalah Al-Qur'an karena ia datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada pemiliknya. Bacalah zahrawain; Al-Baqarah dan Ali 'Imran, karena keduanya datang pada hari kiamat seolah-olah naungan, seolah-olah awan atau seolah-olah dua kelompok burung berbaris berhujah membela para pemiliknya. Bacalah surah Al-Baqarah karena mengambilnya berkah, meninggalkannya rugi dan tidak bisa dikalahkan oleh tukang-tukang sihir." (HR. Ahmad: 21169 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)
Kalimat "ta'tiy syaafi'an" terdapat dalam riwayat berikut:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ زَيْدِ بْنِ سَلَّامٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا أُمَامَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي شَافِعًا لِأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا يَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ يُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا وَاقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ قَالَ عَبْد اللَّهِ هَذَا الْحَدِيثُ أَمْلَاهُ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ بِوَاسِطٍ. (رواه أحمد: ٢١١٨٦)
Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Zaid bin Sallam dari Abu Sallam bahwa ia mendengar Abu Umamah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, " Bacalah Al-Qur'an karena ia datang pada hari kiamat memberi syafaat pada pembacanya. Bacalah zahrawain; Al-Baqarah dan Ali 'Imran, karena keduanya datang pada hari kiamat seolah-olah naungan, seolah-olah awan atau seolah-olah dua kelompok burung berbaris, berhujah untuk membela para pembacanya. Bacalah surah Al-Baqarah karena mengambilnya berkah, meninggalkannya rugi dan tidak bisa dikalahkan oleh tukang-tukang sihir." Berkata 'Abdullah; Hadits ini diimlakkan oleh Yazid bin Harun di Wasith. (HR. Ahmad: 21186 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)
Jadi, tafsiran "datang pada hari kiamat memberi syafaat pada pembacanya" terdapat pada riwayat Ahmad: 21186. Selanjutnya dalam lafazh hadits riwayat imam Muslim "ya'tiy yaumal qiyaamati syafii'an". Imam Muslim berkata:
حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ وَهُوَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَكَأَنَّهُمَا فِي كِلَيْهِمَا وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَ مُعَاوِيَةَ بَلَغَنِي. (رواه مسلم: ١٣٣٧)
Telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Ali Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Abu Taubah ia adalah Ar Rabi' bin Nafi', telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah yakni Ibnu Sallam, dari Zaid bahwa ia mendengar Abu Sallam berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Umamah Al Bahili ia berkata; Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yakni surah Al-Baqarah dan Ali 'Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al-Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barakah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir." Mu'awiyah berkata, "Telah sampai (kabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir." Dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya yakni Ibnu Hassan, Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah dengan isnad ini, hanya saja ia mentatakan, "Wa Ka`annahumaa fii Kilaihimaa." dan ia tidak menyebutkan ungkapan Mu'awiyah, "Telah sampai (kabar) padaku." (HR. Muslim: 1337 - shahih dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 21126 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H. Hadits riwayat Mulim: 1337 dan Ahmad: 21126 adalah hadits 'aziz, diriwayatkan pada salah satu tingkatan sanad oleh dua orang periwayat seperti riwayat imam Ahmad: 21126 yaitu: 1. 'Abdul Malik bin 'Amru, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Amir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 204 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnu Sa'ad dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Adz Dzahabi menilainya hafizh. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq, an Nasa'i menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". 2. 'Affan bin Muslim bin 'Abdullah, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Utsman negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 219. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, adz Dzahabi menilainya hafizh dan Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah. Selanjutnya, 'Abdullah Malik bin 'Amru meriwayatkan dari Hisyam bin Abi 'Abdullah Sanbar, ia tabi'in pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 154 H. Penilaian ulama: al 'Ajli menilainya tsiqah, Ibnu Sa'ad dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, adz Dzahabi menilainya hafizh. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Kemudian, 'Affan bin Muslim meriwayatkan dari Aban bin Yazid, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Yazid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 169 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, an Nasa'i, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Ibnul Madini berpendapat, "menurut kami dia adalah tsiqah". Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Ibnu 'Adi mengatakan, "harapanku dia adalah ahlul shidqi". Adz Dzahabi menilainya tsabat, tetapi Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam kitab adh dhu'afa' dengan menyebutkan orang yang menjarehnya (menilai buruk) tanpa menyebutkan orang yang mentsiqahkannya. Sedangkan Ahmad bin Hanbal mengatakan, "kokoh di setiap masyayikh".
Keduanya meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir Shalih bin al Mutawakkil, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Nashir negeri hidup Yamamah dan wafat tahun 132 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Sementara riwayat yang lain menggunakan lafazh "ta'allamul qur'aan". Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad: 21136,
مَضْرُوبٌ عَلَيْهِ قَالَ عَبْد اللَّهِ وَجَدْتُ هَذَا الْحَدِيثَ فِي كِتَابِ أَبِي بِخَطِّ يَدِهِ وَقَدْ ضَرَبَ عَلَيْهِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ ضَرَبَ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ خَطَأٌ إِنَّمَا هُوَ عَنْ زَيْدٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ شَافِعٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَعَلَّمُوا الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ تَعَلَّمُوا الزَّهْرَاوَيْنِ فَإِنَّهُمَا يَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ يُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا تَعَلَّمُوا الْبَقَرَةَ فَإِنَّ تَعْلِيمَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ. (رواه أحمد: ٢١١٣٦)
Berkata 'Abdullah; Saya menemukan hadits ini dalam buku ayahku dengan tulisan tangannya yang telah diberi cap, saya mengiranya memberi cap karena itu salah karena hadits ini dari Zaid dari Abu Sallam dari Abu Umamah. Telah menceritakan kepada kami 'Abdur Razaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Umamah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Palajarilah Al-Qur'an karena ia memberi syafaat pada hari kiamat. Pelajarilah Al-Baqarah dan Ali 'Imran, pelajarilah Az Zahrawain karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti dua awan, dua naungan atau seperti dua kelompok burung berbaris yang berhujjah untuk membela para pembacanya. Pelajarilah Al-Baqarah karena mengajarannya berkah, meninggalkannya rugi dan tidak bisa dikalahkan oleh tukang-tukang sihir." (HR. Ahmad: 21136 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)
Selanjutnya pada lafazh lain disebutkan dalam sunan ad Darimi. Sebagaimana beliau berkata,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الرَّقِّيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ نِعْمَ الشَّفِيعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّهُ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا رَبِّ حَلِّهِ حِلْيَةَ الْكَرَامَةِ فَيُحَلَّى حِلْيَةَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ اكْسُهُ كِسْوَةَ الْكَرَامَةِ فَيُكْسَى كِسْوَةَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ أَلْبِسْهُ تَاجَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَلَيْسَ بَعْدَ رِضَاكَ شَيْءٌ. (رواه الدارمي: ٣١٧٧)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja'far Ar Raqqi dari Ubaidullah bin Amru dari Zaid bin Abu Unaisah dari 'Ashim dari Abu Shalih ia berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berkata, "Bacalah Al-Qur'an sebab ia adalah sebaik-baik pemberi syafaat pada hari kiamat, pada hari kiamat ia akan berkata 'Wahai Rabb-ku, hiasilah ia dengan hiasan kemuliaan, ' maka ia dihiasilah dengan hiasan kemuliaan. 'Wahai Rabb-ku, selimutilah ia dengan selimut kemuliaan, ' maka ia diselimuti dengan selimut kemuliaan. 'Wahai Rabb-ku, pakaikanlah padanya mahkota kemuliaan, wahai Rabb-ku ridhailah ia, sebab tidak ada sesuatu yang diharap lagi setelah ridha-Mu'." (HR. Ad Darimi: 3177 - isnadnya hasan menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Berdasarkan hadits di atas dapat difahami bahwa, membaca dan atau mempelajari al Qur'an adalah sebuah anjuran yang di hari kiamat dapat memberi syafaat kepada orang yang senantiasa membaca dan mempelajarinya. Demikian juga bagi yang senantiasa membaca dan mempelajari surat al Baqarah dan 'Ali 'Imraan akan melindunginya dan dapat mengalahkan ahli sihir (pen: pembantahnya).
Begitu juga hadits terakhir riwayat imam ad Darimi menjelaskan bahwa hal tersebut adalah pemberi pertolongan atau syafaat terbaik yang akan memohonkan kebaikan kepada Allah di akhirat bagi pembacanya waktu di dunia ini.
Selain itu Rasulullah ﷺ juga bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam al Bukhari,
حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا. (رواه البخاري: ٤٦٣٩)
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal Telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata, Telah mengabarkan kepadaku 'Alqamah bin Martsad Aku mendengar Sa'd bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman radhiallahu'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Abu Abdirrahman membacakan (Al-Qur'an) pada masa Utsman hingga Hajjaj pun berkata, "Dan hal itulah yang menjadikanku duduk di tempat dudukku ini." (HR. Al Bukhari: 4639 - shahih dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 35 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 4640, at Tirmidzi: 2832 dan 2833, Abu Daud: 1240, Ibnu Majah: 207 dan 208, Ahmad: 382 - shahih dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 35 H. Sementara hadits riwayat at Tirmidzi: 2834 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu al Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.
Sementara pada riwayat ad Darimi, sebagaimana beliau berkata,
حَدَّثَنَا الْمُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ نَبْهَانَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَ الْقُرْآنَ قَالَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَقْعَدَنِي هَذَا الْمَقْعَدَ أُقْرِئُ. (رواه الدارمي: ٣٢٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Al Mu'alla bin Asad telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Nabhan telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Bahdalah dari Mush'ab bin Sa'd dari ayahnya ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an." Ia berkata; Lalu beliau meraih tanganku dan mendudukanku di tempat duduk ini lalu dibacakan Al-Qur'an kepadaku. (HR. Ad Darimi: 3205 - dha'if dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits, yaitu: al Harits bin Nabhan, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: al Bukhari dan Abu Hatim menilainya mungkarul hadits. Abu Hatim dan an Nasa'i menilainya matrukul hadits. Al 'Ajli dan Ya'qub Ibnu Syaibah menilainya dha'iful hadits.
Sedangkan Ibnu Hajar menilainya matruk dan adz Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkannya". Husain Salim Asad ad Darani mengatakan, "Al Harits bin Nabhan matruk". Selebihnya adalah periwayat maqbul.
Demikian halnya hadits riwayat ad Darimi: 3203 - dha'if dari Ali bin Abi Thalib. Sanadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani, yaitu 'Abdu Rahman bin Ishaq bin al Harits, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Syaibah dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnu Sa'ad, Ya'qub bin Sufyan, Abu Daud, an Nasa'in, Ibnu Hibban, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan, Ahmad bi Hanbal menilainya mungkarul hadits. Al Bukhari menilainya fiihi nazhar, Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi. Sedangkan Abu Hatim dan 'Uqaili menilainya dha'iful hadits. Selanjutnya adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya". Selebihnya adalah periwayat maqbul.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.