Pages - Menu

Minggu, 30 Agustus 2020

HADITS TENTANG MENUNTUT ILMU (contoh hadits palsu)


HADITS TENTANG MENUNTUT ILMU
(contoh hadits palsu)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Pembahasan kali ini menelusuri lafazh hadits berikut:

" ... مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى.

" ... "Barangsiapa menuntut ilmu, hal itu dapat menghapus dosanya di masa lampau". (HR. Ad Darimi, at Tirmidzi)

Hadits lengkapnya,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُعَلَّى حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَخْبَرَةَ عَنْ سَخْبَرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى. (رواه الدارمي: ٥٦٠)

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Humaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mu'alli telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Khaitsamah dari Abu Daud dari Abdullah bin Sakhbarah dari Sakhbarah dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Barangsiapa menuntut ilmu, hal itu dapat menghapus dosanya di masa lampau". (HR. Ad Darimi: 560 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Shakhbara, ayah 'Abdullah, ia shahabat)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi: 560 terdapat periwayat bernama: Nufai' bin al Harits, ia adalah tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Daud dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Abu Zur'ah menilainya lam yakun bits tsiqah. An Nasa'i menilainya matrukul hadits, sementara Abu Hatim dan as Saji menilainya mungkarul hadits. Ad Daruquthni dan Ibnu Hajar menilainya mastuur. Kemudian at Tirmidzi menilainya dha'iful hadits. Sedangkan adz Dzahabi berkata, "mereka meninggalkannya". Selebihnya maqbul.

Imam at Tirmidzi meriwayatkan dan menjelaskannya, sebagaimana riwayatnya:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُعَلَّى حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَخْبَرَةَ عَنْ سَخْبَرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفُ الْإِسْنَادِ أَبُو دَاوُدَ يُضَعَّفُ فِي الْحَدِيثِ وَلَا نَعْرِفُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَخْبَرَةَ كَبِيرَ شَيْءٍ وَلَا لِأَبِيهِ وَاسْمُ أَبِي دَاوُدَ نُفَيْعٌ الْأَعْمَى تَكَلَّمَ فِيهِ قَتَادَةُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ. (رواه الترمذي: ٢٥٧٢)

Telah bercerita kepada kami Muhammmad bin Humaid ar Razi telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mu'alla telah bercerita kepada kami Ziyad bin Khaitsamah dari Abu Daud dari Abdullah bin Syakhbarah dari Syakhbarah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa menuntut ilmu, maka itu sebagai penghapus dosa-dosanya yang telah lalu". Abu Isa berkata; 'Hadits ini sanadnya dhaif, karena Abu Daud dilemahkan dalam hadits ini, dan kami tidak mengetahui Abdullah bin Syakhbarah memiliki sesuatu yang besar, dan tidak pula bapaknya. Adapun nama Abu Daud adalah Nufai' Al A'ma. Qatadah dan tidak hanya seorang ahli ilmu membicarakannya.' (HR. At Tirmidzi: 2572 - palsu menurut al Albani dari Shakhbara, ayah 'Abdullah, ia shahabat)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 2572 terdapat periwayat bernama: 1. 'Abdullah bin Shakhbarah, ia tabi'in kalangan biasa. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya majhul dan hanya meriwayatkan satu hadits tersebut dalam riwayat at Tirmidzi: 2572. 2. Nufai' bin al Harits, ia adalah tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Daud dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Abu Zur'ah menilainya lam yakun bits tsiqah. An Nasa'i menilainya matrukul hadits, sementara Abu Hatim dan as Saji menilainya mungkarul hadits. Ad Daruquthni dan Ibnu Hajar menilainya mastuur. Kemudian at Tirmidzi menilainya dha'iful hadits. Sedangkan adz Dzahabi berkata, "mereka meninggalkannya".

Sementara dalam riwayat ad Darimi: 560 di atas 'Abdullah bin Shakhbara diketahui ia adalah tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Ma'mar dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnu Sa'ad, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Sementara adz Dzahabi menilainya shaduq. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiaqat". Selain ini sama periwayatnya dengan sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 2572.

Adapun hadits riwayat at Tirmidzi: 2571 dijelaskan juga:

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ الْعَتَكِيُّ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الرَّازِيِّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَرَوَاهُ بَعْضُهُمْ فَلَمْ يَرْفَعْهُ. (رواه الترمذي: ٢٥٧١)

Telah bercerita kepada kami Nahsr bin Ali dia berkata, telah bercerita kepada kami Khalid bin Yazid Al Ataki dari Abu Ja'far Ar Razi dari Ar Rabi' bin Anas dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali." Abu Isa berkata; 'Hadits ini hasan gharib, sebagian perawi telah meriwayatkannya namun tidak merafa'kannya.' (HR. At Tirmidzi: 2571 - dha'if menurut al Albani dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Ar Rabi'bin Anas menurut Ibnu Hajar tertuduh syi'ah. Namun shaduq, ada keraguan. Sementara al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya shaduq dan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Begitu ketatnya para ahli hadits dalam menetapkan sebuah hadits shahih atau dha'if, bahkan palsu. Sehingga jelas mana yang dapat diterima dan yang ditolak sebagai hadits yang benar dari Rasulullah. Oleh karena itu ingatlah riwayat berikut:

أَخْبَرَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يُونُسَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ كَانَ مَنْ مَضَى مِنْ عُلَمَائِنَا يَقُولُونَ الِاعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ وَالْعِلْمُ يُقْبَضُ قَبْضًا سَرِيعًا فَنَعْشُ الْعِلْمِ ثَبَاتُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَفِي ذَهَابِ الْعِلْمِ ذَهَابُ ذَلِكَ كُلِّهِ. (رواه الدارمي: ٩٦)

Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Al `Auza'i dari Yunus bin Yazid dari Az Zuhri ia berkata, "Tak terlewat satu pun dari ulama-ulama kita melainkan mereka berkata, 'Berpegang teguh kepada sunnah merupakan kesuksesan, dan ilmu akan dicabut dengan cepat, penegakan ilmu itu merupakan penegakan agama dan dunia, dan dengan hilangnya ilmu maka hilanglah semua itu". (HR. Ad Darimi: 96 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin Syihab, ia tabi'in tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 124 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya faqih hafizh mutqin dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh)

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

MAHAR BAGI ISTRI


MAHAR BAGI ISTRI
(mahar istri yang belum digauli, haknya dan kasus terkait mahar istri menurut al Qur'an dan al Hadits)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Mahar atau maskawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan. Istilah yang sama pula digunakan sebaliknya bila pemberi mahar adalah pihak keluarga atau mempelai perempuan.

Tulisan kali ini penulis ingin memaparkan beberapa kasus tentang mahar yang dibicarakan dalam al Qur'an dan al Hadits. Seperti kasus menceraikan istri yang yang belum disetubuhi dan maharnya belum ditentukan maka diganti dengan mut'ah (pemberian sesuai kesanggupan). Jika telah ditentukan jumlah maharnya maka hak istri yang demikian separoh dari yang telah ditentukan.

لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ مَا لَمْ تَمَسُّوْهُنَّ اَوْ تَفْرِضُوْا لَهُنَّ فَرِيْضَةً ۖ وَّمَتِّعُوْهُنَّ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهٗ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهٗ ۚ مَتَاعًا ۢبِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ. (سورة البقرة/٢: ٢٣٦)

Tidak ada dosa bagimu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu yang belum kamu sentuh (campuri) atau belum kamu tentukan maharnya. Dan hendaklah kamu beri mereka mut‘ah, bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya, yaitu pemberian dengan cara yang patut, yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Al Baqarah/2: 236)

وَاِنْ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيْضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ اِلَّآ اَنْ يَّعْفُوْنَ اَوْ يَعْفُوَا الَّذِيْ بِيَدِهٖ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ۗ وَاَنْ تَعْفُوْٓا اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۗ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ. (سورة البقرة/٢: ٢٣٧)

Dan jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu sentuh (campuri), padahal kamu sudah menentukan Maharnya, maka (bayarlah) seperdua dari yang telah kamu tentukan, kecuali jika mereka (membebaskan) atau dibebaskan oleh orang yang akad nikah ada di tangannya. Pembebasan itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah/2: 237)

Kewajiban memberi mahar kepada istri,

وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا. (سورة النساء/٤: ٤)

Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati. (QS. An Nisa'/4: 4)

Mengembalikan mahar pada suami yang kafir,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا جَاۤءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوْهُنَّۗ  اَللّٰهُ اَعْلَمُ بِاِيْمَانِهِنَّ فَاِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوْهُنَّ اِلَى الْكُفَّارِۗ  لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّۗ وَاٰتُوْهُمْ مَّآ اَنْفَقُوْاۗ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّۗ وَلَا تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقُوْاۗ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللّٰهِ ۗيَحْكُمُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ. (سورة الممتحنة/٦٠: ١٠)

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayar (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS. Al Mumtahanah/60: 10)

وَاِنْ فَاتَكُمْ شَيْءٌ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ اِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَاٰتُوا الَّذِيْنَ ذَهَبَتْ اَزْوَاجُهُمْ مِّثْلَ مَآ اَنْفَقُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ. (سورة تلممتحنة/٦٠: ١١)

Dan jika ada sesuatu (pengembalian mahar) yang belum kamu selesaikan dari istri-istrimu yang lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu dapat mengalahkan mereka maka berikanlah (dari harta rampasan) kepada orang-orang yang istrinya lari itu sebanyak mahar yang telah mereka berikan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah yang kepada-Nya kamu beriman. (QS. Al Mumtahanah/60: 11)

Riwayat tentang pemberian mahar pada istri

Meringankan mahar dan niat pemberiannya akan menjadi beban yang akan menghalangi kebaikan. Pada akhirnya menjadi upatan. Sebagaimana hadits berikut:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ عَلْقَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ نُبِّئْتُ عَنْ أَبِي الْعَجْفَاءِ السُّلَمِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ يَقُولُ
أَلَا لَا تُغْلُوا صُدُقَ النِّسَاءِ أَلَا لَا تُغْلُوا صُدُقَ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرُمَةً فِي الدُّنْيَا أَوْ تَقْوَى عِنْدَ اللَّهِ كَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ امْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ أُوقِيَّةً وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُبْتَلَى بِصَدُقَةِ امْرَأَتِهِ وَقَالَ مَرَّةً وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُغْلِي بِصَدُقَةِ امْرَأَتِهِ حَتَّى تَكُونَ لَهَا عَدَاوَةٌ فِي نَفْسِهِ وَحَتَّى يَقُولَ كَلِفْتُ إِلَيْكِ عَلَقَ الْقِرْبَةِ قَالَ وَكُنْتُ غُلَامًا عَرَبِيًّا مُوَلَّدًا لَمْ أَدْرِ مَا عَلَقُ الْقِرْبَةِ قَالَ وَأُخْرَى تَقُولُونَهَا لِمَنْ قُتِلَ فِي مَغَازِيكُمْ وَمَاتَ قُتِلَ فُلَانٌ شَهِيدًا وَمَاتَ فُلَانٌ شَهِيدًا وَلَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ قَدْ أَوْقَرَ عَجُزَ دَابَّتِهِ أَوْ دَفَّ رَاحِلَتِهِ ذَهَبًا أَوْ وَرِقًا يَلْتَمِسُ التِّجَارَةَ لَا تَقُولُوا ذَاكُمْ وَلَكِنْ قُولُوا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ أَوْ كَمَا قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ أَوْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ. (رواه أحمد: ٢٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il Telah menceritakan kepada kami Salamah Bin 'Alqamah dari Muhammad Bin Sirin dia berkata; telah diberitakan kepadaku dari Abul Ajfa' As Sulami dia berkata; aku mendengar Umar berkata; "Ketahuilah, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam masalah mahar wanita, ketahuilah, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam masalah mahar wanita, karena jika perbuatan itu terhormat di dunia atau merupakan ketakwaan kepada Allah, maka orang yang lebih patut dalam hal itu adalah Nabi ﷺ, sementara Rasulullah ﷺ tidak memberikan mahar kepada istri-istrinya dan juga tidak meminta mahar untuk anak-anak perempuannya melebihi dari dua belas uqiyah, sesungguhnya seorang lelaki pasti akan diuji dengan mahar istrinya." Dalam kesempatan lain dia berkata; "Sesungguhnya seorang lelaki pasti akan memberikan mahar yang tinggi kepada istrinya sampai menjadi musuh bagi dirinya dan sampai berkata; 'aku terbebani untuk mengalungi qirbah (bejana dari kulit) ini karena kamu." Abul 'Auja` berkata; "Saat itu aku seorang anak badui yang masih bau kencur, dan tidak tahu apa itu mengalungi bejana." Umar berkata; "Dan yang lain adalah ketika ada orang yang terbunuh dalam peperangan kemudian dia meninggal, lalu kalian mengatakan; 'Si fulan syahid, ' padahal mungkin dia telah membawa hewan tunggangannya atau pelana kudanya dengan berisi emas atau perak dengan tujuan berdagang, maka janganlah kalian mengatakan demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi atau Muhammad ﷺ: "Barangsiapa terbunuh dalam berperang di jalan Allah maka dia masuk surga." (HR. Ahmad: 272 - hasan dari 'Umar bin Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafsah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)

Catatan: periwayat yang menerima dari Harim bin Nusaib, ia tabi'in kuniyahnya Abu al 'Ajfa negeri hidup Bashrah tidak dikerahui namanya. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Tidak boleh berlebih-lebihan dalam memberi mahar. Sebagaimana pesan Rasul berikut:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ مَنْصُورِ بْنِ زَاذَانَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي الْعَجْفَاءِ السُّلَمِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَطَبَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَلَا لَا تُغَالُوا فِي صُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرُمَةً فِي الدُّنْيَا أَوْ تَقْوَى عِنْدَ اللَّهِ كَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ امْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ فَوْقَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أُوقِيَّةً أَلَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُغَالِي بِصَدَاقِ امْرَأَتِهِ حَتَّى يَبْقَى لَهَا فِي نَفْسِهِ عَدَاوَةٌ حَتَّى يَقُولَ كَلِفْتُ إِلَيْكِ عَلَقَ الْقِرْبَةِ أَوْ عَرَقَ الْقِرْبَةِ. (رواه الدارمي: ٢١٠٣)

Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Aun telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Manshur bin Zadzan dari Ibnu Sirin dari Abu Al 'Ajfa` As Sulami, ia berkata; Aku mendengar Umar bin Al Khathab berkhutbah, ia memuji Allah, kemudian berkata; "Ketahuilah, janganlah kalian berlebihan dalam mahar wanita, apabila berlebihan dalam mahar merupakan bentuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di sisi Allah, niscaya yang paling pertama kali melakukannya adalah Rasulullah ﷺ. Tidaklah beliau memberikan mahar kepada seorangpun dari para istrinya dan tidak seorangpun dari anak-anak wanitanya yang diberi mahar di atas dua belas 'uqiyah. Sungguh salah seorang diantara kalian berlebihan dalam mahar istrinya, hingga tinggallah dalam dirinya permusuhan kepada istrinya, sampai dirinya mengatakan; "Aku telah menanggung segala sesuatu hingga tali geriba, atau hingga berkeringat seperti geriba berkeringat." (HR. Ad Darimi: 2103 - shahih dari 'Umar bin Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafsah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)

Catatan: hadits ad Darimi: 2103 mentashih hadits riwayat Ahmad: 272 sebagai pem-muttashil-an sanadnya. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah: 1877, Abu Daud: 1801 - hasan, an Nasa'i: 3297, at Tirmidzi: 1033,  Ahmad: 322 - shahih dari 'Umar bin Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafsah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H.

Salah satu keputusan Zaid bin Tsabit sebagai penengah bagi kasus penuntutan mahar bagi istri yang belum disetubuhi.

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَةَ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَأُمُّهَا بِنْتُ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ كَانَتْ تَحْتَ ابْنٍ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ فَمَاتَ وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا وَلَمْ يُسَمِّ لَهَا صَدَاقًا فَابْتَغَتْ أُمُّهَا صَدَاقَهَا فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ
لَيْسَ لَهَا صَدَاقٌ وَلَوْ كَانَ لَهَا صَدَاقٌ لَمْ نُمْسِكْهُ وَلَمْ نَظْلِمْهَا فَأَبَتْ أُمُّهَا أَنْ تَقْبَلَ ذَلِكَ
فَجَعَلُوا بَيْنَهُمْ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَقَضَى أَنْ لَا صَدَاقَ لَهَا وَلَهَا الْمِيرَاثُ. (رواه مالك: ٩٧٠)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi' berkata, "Putri Ubaidullah bin Umar - ibunya adalah putri Zaid bin Al Khattab- adalah istri dari putranya Abdullah bin Umar, lalu ia (putra Abdullah bin Umar) meninggal dunia dan belum sempat menyetubuhinya serta belum disebutkan maharnya. Maka ibu dari istrinya menginginkan mahar putrinya, Abdullah bin Umar lalu berkata; "Tidak ada mahar baginya, sekiranya ia berhak tentu kami tidak akan menahan mahar tersebut atau berbuat zalim kepadanya." Ibunya merasa keberatan menerima keputusan itu, lalu orang-orang mengambil seseorang yang bisa menjadi penengah, yaitu Zaid bin Tsabit. Lalu Zaid memutuskan bahwa wanita tersebut tidak mendapatkan mahar, tetapi ia mendapatkan warisan." (HR. Malik: 970 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Kasus yang hampir sama terjadi (istri yang belum disetubuhi), ditanyakan kepada Ibnu Mas'ud tentang mahar yang ditentukan tetapi suaminya sudah meninggal. Maka sang istri berhak atas mahar tersebut dan berhak menerima warisan. Simak riwayat berikut:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ
أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا حَتَّى مَاتَ فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ لَهَا مِثْلُ صَدَاقِ نِسَائِهَا لَا وَكْسَ وَلَا شَطَطَ وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ وَلَهَا الْمِيرَاثُ فَقَامَ مَعْقِلُ بْنُ سِنَانٍ الْأَشْجَعِيُّ فَقَالَ قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بِرْوَعَ بِنْتِ وَاشِقٍ امْرَأَةٍ مِنَّا مِثْلَ الَّذِي قَضَيْتَ فَفَرِحَ بِهَا ابْنُ مَسْعُودٍ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ الْجَرَّاحِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ وَعَبْدُ الرَّزَّاقِ كِلَاهُمَا عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَنْصُورٍ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ مَسْعُودٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ وَبِهِ يَقُولُ الثَّوْرِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ عُمَرَ إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا حَتَّى مَاتَ قَالُوا لَهَا الْمِيرَاثُ وَلَا صَدَاقَ لَهَا وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ قَالَ لَوْ ثَبَتَ حَدِيثُ بِرْوَعَ بِنْتِ وَاشِقٍ لَكَانَتْ الْحُجَّةُ فِيمَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُوِي عَنْ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ رَجَعَ بِمِصْرَ بَعْدُ عَنْ هَذَا الْقَوْلِ وَقَالَ بِحَدِيثِ بِرْوَعَ بِنْتِ وَاشِقٍ. (رواه الترمذي: ١٠٦٤)

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah bercerita kepada kami Zaid bin Al Habhab, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari 'Alqamah dari Ibnu Mas'ud bahwa dia ditanya tentang seorang lelaki yang menikahi seorang wanita. Lelaki tersebut belum menentukan mahar juga belum menyetubuhinya dan tiba-tiba meninggal. Ibnu Mas'ud menjawab; "Wanita itu berhak mendapatkan mahar yang sama dengan mahar istri lainnya, tanpa dikurangi atau ditambah. Dia harus menjalani masa iddah dan dia mendapatkan harta warisan." Lantas Ma'qil bin Sinan Al Asyja'i berdiri sambil berkata; "Rasulullah ﷺ telah memberi keputusan hukum mengenai Barwa' binti Wasyiq, salah seorang dari kaum kami seperti yang kau putuskan. Ibnu Mas'ud merasa senang. Abu Isa; "Hadits semakna diriwayatkan dari Al Jarrh. Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal, telah bercerita kepada kami Yazid bin Harun dan Abdurrazaq keduanya meriwayatkan dari Sufyan dari Manshur seperti hadits di atas." Abu 'Isa berkata; "Hadits Ibnu Mas'ud merupakan hadits hasan shahih. Telah diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud melalui lebih dari satu jalur dan hadits ini diamalkan oleh sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan yang lainnya. Di antaranya: Ats Tsauri, Ahmad dan Ishaq. Sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di antaranya: Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, berpendapat; Jika seorang lelaki menikahi seorang wanita, namun sebelum bersetubuh dengannya dan menentukan mahar untuknya dia meninggal, maka si wanita mendapatkan warisan tetapi tidak mendapatkan mahar. Dia wajib menjalani masa iddah. Ini merupakan pendapat Syafi'i. Dia berkata: Jika hadits Barwa' binti Wasyiq yaitu hadits shahih, maka hujjah masalah ini ialah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Syafi'i bahwa dia mencabut pendapat ini di Mesir lalu berpendapat dengan hadits Barwa' binti Wasyiq." (HR. At Tirmidzi: 1064 - shahih dari Ma'qil bin Sinan bin Miththahar, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad dan wafat tahun 63 H)

Begitu juga hadits riwayat an Nasa'i: 3303, 3305 dan 3466, ad Darimi: 2147 dan Ahmad: 15378 - shahih dari Ma'qil bin Sinan bin Miththahar, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad dan wafat tahun 63 H. An Nasa'i: 3305 - shahih [menurut al Albani] dari periwayat tidak diketahui [pen-kemungkinan Ma'qil bin Sinan]. Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 3891, 4053 - shahih dari Jarrah bin Abi Jarrah.

Hadits tentang kasus Barwa' binti Wasyiq dari Salamah bin Yazid, sebagaimana riwayat Ahmad: 17733 berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ وَالْأَسْوَدِ قَالَ
أَتَى قَوْمٌ عَبْدَ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ فَقَالُوا مَا تَرَى فِي رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْجَعَ قَالَ مَنْصُورٌ أُرَاهُ سَلَمَةَ بْنَ يَزِيدَ فَقَالَ فِي مِثْلِ هَذَا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ رَجُلٌ مِنَّا امْرَأَةً مِنْ بَنِي رُؤَاسٍ يُقَالُ لَهَا بِرْوَعُ بِنْتُ وَاشِقٍ فَخَرَجَ مَخْرَجًا فَدَخَلَ فِي بِئْرٍ فَأَسِنَ فَمَاتَ وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَمَهْرِ نِسَائِهَا لَا وَكْسَ وَلَا شَطَطَ وَلَهَا الْمِيرَاثُ وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ. (رواه أحمد: ١٧٧٣٣)

Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Telah menceritakan kepada kami Za`idah Telah menceritakan kepada kami Manshur dari Ibrahim dari Alqamah dan Al Aswad ia berkata; Orang-orang mendatangi Abdullah yakni Ibnu Mas'ud dan mereka pun bertanya, "Bagaimana pendapatmu, mengenai seorang laki-laki yang menikahi seorang wanita?" Lalu ia pun menyebutkan hadits. Al Qamah berkata; Kemudian seorang laki-laki dari Asyja' -Manshur berkata; Menurutku ia adalah Salamah bin Zaid - dan berkata, "Dalam persoalan ini, Rasulullah ﷺ telah memutuskan. Pernah seorang laki-laki dari kami menikahi wanita dari Bani Ru`as yang biasa dipanggil Birwa' bintu Wasyiq. Suatu hari, laki-laki itu keluar kemudian memasuki kawasan sumur lalu ia pingsan dan meninggal. Sedangkan ia belum memberikan mahar kepada wanita yang dinikahinya. Kemudian orang-orang pun mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: "Ia berhak mendapatkan mahar sebagaimana istri-istri yang lain, tidak ada tipu daya dan ketidakadilan. Ia juga mendapat bagian dari harta warisan dan baginya keharusan menunggu masa iddah." (HR. Ahmad: 17733 - shahih dari Salamah bin Yazid, ia shahabat negeri hidup Kufah. Hadits ini termasuk hadits ahlul Kufah, kecuali 'Abdur Rahman bin 'Abdullah bin 'Ubaid, maula bani Hasyim negeri hidup Marur Rawdz w. 197 H)

Beberapa pendapat tentang jumlah mahar yang harus dikeluarkan oleh sang suami, walaupun dua sandal. Simak riwayat berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَجَازَهُ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَسَهْلِ بْنِ سَعْدٍ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَنَسٍ وَعَائِشَةَ وَجَابِرٍ وَأَبِي حَدْرَدٍ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْمَهْرِ فَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْمَهْرُ عَلَى مَا تَرَاضَوْا عَلَيْهِ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ و قَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ لَا يَكُونُ الْمَهْرُ أَقَلَّ مِنْ رُبْعِ دِينَارٍ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْكُوفَةِ لَا يَكُونُ الْمَهْرُ أَقَلَّ مِنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ. (رواه الترمذي: ١٠٣١)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id, Abdurrahman bin Mahdi dan Muhammad bin Ja'far mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Ashim bin 'Ubaidullah berkata; saya telah mendengar Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah dari Bapaknya bahwa ada seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah ﷺ bertanya: "Apakah kamu rela atas diri dan hartamu dengan dua sandal ini?" Dia menjawab; "Ya." ('Amir bin Rabi'ah) berkata; (Nabi ﷺ) membolehkannya. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Umar, Abu Hurairah, Sahal bin Sa'ad, Abu Sa'id, Anas, 'Aisyah, Jabir dan Abu Hadrad Al Aslami. Abu 'Isa berkata; "Hadits Amir bin Rabi'ah merupakan hadits hasan shahih. Para ulama berselisih pendapat mengenai mahar. Sebagian ulama berkata: jumlah mahar sesuai dengan yang disepakati kedua belah pihak. ini merupakan pendapat Sufyan Ats Tsauri, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. Adapun Malik bin Anas berpendapat: Mahar tidak boleh kurang dari seperempat dinar. Sebagian ahlul Kufah berpendapat: Mahar tidak boleh kurang dari sepuluh dinar." (HR. At Tirmidzi: 1031 - dha'if dari 'Amir bin Rabi'ah bin Ka'ab, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Catatan: dalam sanad terdapat 'Ashim bin 'Ubaidillah bin 'Ashim, ia tabi'in kalangan biasa negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Ibnu Hajar menilainya dha'if, Abu Hatim dan al Bukhari menilainya munkarul hadits. Sementara Ibnu Sa'ad berkomentar, "tidak boleh berhujjah dengan haditsnya". Ibnu Kharasy menilainya dha'iful hadits. Ad Daruquthni menilainya ditinggalkan. Al 'Ajli menilainya la ba'sa bihi. Sedangkan as Saji menilainya mudhtharibul hadits. Selebihnya periwayat maqbul.

Selanjutnya hadits semakna dan terdapat juga dalam sanadnya periwayat bernama 'Ashim bin 'Ubaidillah adalah:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَ امْرَأَةً عَلَى نَعْلَيْنِ فَأَجَازَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِكَاحَهُ. (رواه أحمد: ١٥١٢٢)

Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Ashim bin 'Ubaidulloh dari Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah dari Bapaknya ada seorang laki-laki dari Bani Fazarah menikahi seorang wanita dengan mahar sepasang sandal, dan Nabi ﷺ membolehkan pernikahannya. (HR. Ahmad: 15122 - dha'if dari Amir bin Rabi'ah bin Ka'ab, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Dan riwayat berikut,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ وَحَجَّاجٌ قَالَ سَمِعْتُ شُعْبَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَجُلًا تَزَوَّجَ امْرَأَةً عَلَى نَعْلَيْنِ قَالَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ ذَاكَ لَهُ فَقَالَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ شُعْبَةُ فَقُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ أَجَازَ ذَلِكَ قَالَ كَأَنَّهُ أَجَازَهُ قَالَ شُعْبَةُ ثُمَّ لَقِيتُهُ فَقَالَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ فَقَالَتْ رَأَيْتُ ذَاكَ فَقَالَ وَأَنَا أَرَى ذَاكَ. (رواه أحمد: ١٥١٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Hajjaj berkata; saya telah mendengar Syu'bah dari 'Ashim bin 'Ubaidullah berkata; saya mendengar Abdullah bin 'Amir menceritakan dari Bapaknya ada seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan (maskawin) sepasang sandal, maka wanita itu berkata; 'Ya.' Syu'bah berkata; saya berkata kepada ('Ashim bin 'Ubaidullah radhiyallahu 'anhu) sepertinya (Rasulullah ﷺ) membolehkannya. ('Ashim bin 'Ubaidullah radhiyallahu 'anhu) berkata; sepertinya (Rasulullah ﷺ) membolehkannya. Syu'bah berkata; kemudian saya menemuinya. ('Amir radhiyallahu 'anhu) berkata; apakah kamu rela dengan dirimu dan hartamu dengan maskawin sepasang sandal?, wanita itu menjawab. 'Saya pikir tidak masalah.' Maka ('Amir radhiyallahu 'anhu) berkata; 'Saya pikir juga tidak masalah.' (HR. Ahmad: 15125 - dha'if dari Amir bin Rabi'ah bin Ka'ab, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Lebih lanjut 'Aisyah menjelaskan,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُمْنُ الْمَرْأَةِ تَيْسِيرُ خِطْبَتِهَا وَتَيْسِيرُ صَدَاقِهَا. (رواه أحمد: ٢٣٤٦٦)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Usamah bin Zaid, dari Shafwan bin Sulaim, dari Urwah, dari Aisyah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Wanita yang berbarakah adalah yang memudahkan dalam khitbahnya dan meringankan maharnya." (HR. Ahmad: 23466 - hasan dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Para periwayat:

1. 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
2. 'Urwah bin az Zubair bin al Awwam bin Khuwailid bin asad bin 'Abdul 'Izzi bin Qu, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah, Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
3. Syafwan bin Sulaim, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dna wafat tahun 132 H. Penilaian ulama: Ibnu 'Uyainah, Ahmad bin Hanbal, al 'Ajli, an Nasa'i dan Abu Hatim menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah ahli ibadah, Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah tsabat, adz Dzahabi menilainya tsiqah hujjah, Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah, tertuduh beraliran qadariyah. Selanjunya al 'Ajli menilainya shalih. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
4. Usamah bin Zaid, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Zaid negeri hidup Madinah dan wafat tahun 153 H. Penilaian ulama: al 'Ajli menilainya tsiqah, Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah shalih, sedangkan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi, Ibnu Hajar menilainya shaduq yuham. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
5. 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Ibnu Hajar menilainya shaduq, Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth, sedangkan Hakim menilainya dzahibul hadits.
6. Qutaibah bin Sa'id bin Jamil bin Tharif bin 'Abdullah, ia tabi'ut atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Raja' negeri hidup Himsi dan wafat tahun 240 H. Penilaian ulama: Abu Hatim, an Nasa'i dan Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, sementara Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat.

Lafazh lain,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ الطُّفَيْلِ بْنِ سَخْبَرَةَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مُؤْنَةً

Telah menceritakan kepada kami Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Thufail bin Sakhbarah, dari Al-Qasim bin Muhammad, dari Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ. bersabda: "Sesungguhnya pernikahan yang paling barakah adalah yang paling ringan maharnya." (HR. Ahmad: 23388 - dha'if dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 23388, terdapat periwayat dha'if yaitu Isa bin Maimun (Ibnu Thufail bin Sakhbarah), ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya matrukul hadits, al Bukhari menilainya munkarul hadits, an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah, Ibnu Hajar menilainya dha'if dan adz Dzahabi mengatakan, "mereka men-dha'if-kannya. Selebihnya adalah periwayat maqbul. Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 23966 - dha'if dari 'Aisyah. Sebagai berikut:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنِ ابْنِ سَخْبَرَةَ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً. (رواه أحمد: ٢٣٩٦٦)

Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ibnu Sakhirah dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah dari Nabi ﷺ bersabda, "Wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan maharnya." (HR. Ahmad: 23966 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Hafalan al Qur'an boleh dijadikan mahar, sebagaimana dikisahkan dalam riwayat berikut:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ
أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لِأَهَبَ لَكَ نَفْسِي فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَهُ فَلَمَّا رَأَتْ الْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ أَيْ رَسُولَ اللَّهِ إِنْ لَمْ تَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا فَقَالَ هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا وَجَدْتُ شَيْئًا قَالَ انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي قَالَ سَهْلٌ مَا لَهُ رِدَاءٌ فَلَهَا نِصْفُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ مِنْهُ شَيْءٌ فَجَلَسَ الرَّجُلُ حَتَّى طَالَ مَجْلِسُهُ ثُمَّ قَامَ فَرَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُوَلِّيًا فَأَمَرَ بِهِ فَدُعِيَ فَلَمَّا جَاءَ قَالَ مَاذَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا عَدَّدَهَا قَالَ أَتَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ اذْهَبْ فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ. (رواه البخاري: ٤٧٣١)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah Telah menceritakan kepada kami Ya'qub dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad bahwa ada seorang wanita datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku untuk Anda." Maka Rasulullah ﷺ mengamati wanita tersebut dengan cermat dan setelah itu beliau menundukkan kepala. Ketika wanita itu melihat, bahwa beliau belum memberikan putusan apa-apa terhadapnya, ia pun duduk. Tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki dari sahabat beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, bila Anda tak berhasrat pada wanita itu, maka nikahkanlah aku dengannya." Beliau bertanya: "Apakah kamu punya sesuatu (sebagai mahar)?" ia menjawab, "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Kalau begitu, pergilah kepada keluargamu, dan lihatlah apakah ada sesuatu yang kamu dapatkan." Laki-laki itu pun pergi, lalu kembali dan berkata, "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak mendapatkan sesuatu." Beliau bersabda: "Lihatlah meskipun itu hanya cincin dari besi." Laki-laki itu pergi lagi, lalu kembali dan berkata, "Tidak ada, demi Allah wahai Rasulullah, meskipun hanya cincin besi. Tetapi, ini adalah kainku." Sahal berkata; Ia tidaklah memiliki baju, maka untuknya setengah sarungnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Apa yang bisa kamu lakukan jika kamu gunakan setengah sarungmu. Bila kamu memakainya, maka separoh badanmu tak tertutup kain, dan bila calon istrimu memakainya, separoh badannya pun tak tertutup kain." Akhirnya laki-laki itu pun duduk hingga lama, lalu ia beranjak hendak pergi. Kemudian Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau pun memerintahkan agar orang itu dipanggil. Dan ketika laki-laki itu datang beliau bertanya: "Apa yang kamu hafal dari Al Qur`an?" laki-laki itu menjawab, "Aku menghafal surat ini dan ini." Ia menghitungnya. Kemudian beliau bersabda: "Bacalah dari hafalanmu itu untuknya." Ia menjawab, "Baik". Beliau bersabda: "Pergilah, sesungguhnya aku telah menikahkanmu dengan wanita itu dan hafalan Al Qur`anmu sebagai mahar." (HR. Al Bukhari: 4731 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H)

Lihat juga: al Bukhari: 4642, 4697, 4727, 4737, 4740 dan 4752, Muslim: 2554 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H.

Riwayat berbeda,

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ الْعَمِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا سَلَمَةُ بْنُ وَرْدَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِهِ هَلْ تَزَوَّجْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا عِنْدِي مَا أَتَزَوَّجُ بِهِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ قَالَ بَلَى قَالَ ثُلُثُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ تَزَوَّجْ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. (رواه الترمذي: ٢٨٢٠)

Telah menceritakan kepada kami 'Uqbah bin Mukram Al Ammi Al Bashri telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Fudaik telah mengabarkan kepada kami Salamah bin Wardan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ bertanya kepada salah seorang sahabat beliau: "Apakah kamu sudah menikah hai fulan?" ia menjawab; "Belum, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak memiliki sesuatu untuk aku pakai menikah." Rasulullah bertanya: "Bukankah kamu punya (hafalan) QUL HUWALLAHU AHAD?" Ia menjawab; "Betul." Beliau bersabda: "Sepertiga al-Qur'an." Beliau bertanya: "Bukankah kau punya (hafalan) IDZAA JAA`A NASHRULLAAHI WAL FATH?" ia menjawab; "Benar." Beliau bersabda: "Seperempat al-Qur'an." Beliau bertanya: "Bukankah kamu punya (hafalan) QUL YAA`AYYUHAL KAAFIRUUN?" ia menjawab; "Benar." Beliau bersabda: "Seperempat al-Qur'an." Beliau bertanya: "Bukankah kau punya (hafalan) IDZAA ZULZILATIL ARDHU?" ia menjawab; "Benar." Beliau bersabda: "Seperempat al-Qur'an." Beliau bersabda: "Menikahlah." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan. (HR. At Tirmidzi: 2820 - dha'if dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Catatan: Dalam sanadnya terdapat periwayat bernama Salamah bin Wardan, ia tabi'in kalangan biasa, kuniyahnya Abu Ya'la negeri hidup Madinah dan wafat tahun 106 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Daud, an Nasa'i, ad Daruquthni, Ibnu Hajar, al 'Ajli menilainya dha'if. Sedangkan Ibnu Syahin mengatakan, "diaebutkan dalam ats tsiqat". Selebihnya periwayat maqbul.

Mahar untuk Fathimah binti Muhammad,

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِسْمَعِيلَ الطَّالَقَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
لَمَّا تَزَوَّجَ عَلِيٌّ فَاطِمَةَ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطِهَا شَيْئًا قَالَ مَا عِنْدِي شَيْءٌ قَالَ أَيْنَ دِرْعُكَ الْحُطَمِيَّةُ

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isma'il Ath Thalaqani, telah menceritakan kepada kami 'Abdah, telah menceritakan kepada kami Sa'id, dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; tatkala Ali menikahi Fathimah, Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: "Berikan sesuatu kepadanya!" Ia berkata; aku tidak memiliki sesuatu. Beliau berkata: "Dimanakah baju besimu besar dan berat itu?" (HR. Abu Daud: 1815 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Hadits senada lihat An Nasa'i: 3323 - shahih 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.

Lebih lengkapnya,

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيًّا قَالَ
تَزَوَّجْتُ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنِ بِي قَالَ أَعْطِهَا شَيْئًا قُلْتُ مَا عِنْدِي مِنْ شَيْءٍ قَالَ فَأَيْنَ دِرْعُكَ الْحُطَمِيَّةُ قُلْتُ هِيَ عِنْدِي قَالَ فَأَعْطِهَا إِيَّاهُ. (رواه النسائي: ٣٣٢٢)

Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin Manshur, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Abdul Malik, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub dari 'Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Ali berkata; Dahulu saat saya akan menikahi Fathimah radhiyallahu 'anha, saya berkata; wahai Rasulullah, tolong Fatimah serumahtanggakan denganku, beliau bersabda: "Baik, berilah ia sesuatu", saya berkata; saya tidak memiliki sesuatu, beliau bersabda: "Dimanakah baju zirahmu yang anti pedang itu?, " saya menjawab ia ada padaku, beliau bersabda: "Berikan padanya." (HR. An Nasa'i: 3322 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Ini adalah riwayat shahabat kepada shahabat yaitu dari 'Ali bin Abi Thallib kepada 'Abdullah bin 'Abbas)

KESIMPULAN

Berdasarkan ayat-ayat al Qur'an di atas dapat disimpulkan bahwa memberikan mahar kepada para istri merupakan kewajiban, bukan sebagai pembelian atau sebagai ganti rugi. Dan kemudian apabila istri telah menerima maharnya dengan tanpa paksaan ataupun tipu muslihat lalu ia memberikan sebagian maharnya kepada suami maka bagi suami tersebut diperbolehkan menerimanya. Apabila sang istri ketika akan memberikan mahar tersebut karena malu atau takut pada suaminya maka bagi suami tidak halal untuk menerimanya.

Selanjutnya, apabila sang istri merupakan wanita yang ingin hijrah atau masuk islam dengan sungguh-sungguh dan bercerai dengan suaminya yang kafir maka sang suami muslim yang menikahinya wajib mengembalikan mahar yang telah diterima oleh istrinya terdahulu. Begitu juga berlaku sebaliknya, bagi istri yang kafir. Ini dilakukan demi memelihara syari'at dan keadilan.

Terkait dengan sebab suami menetapkan atau tidak mahar tersebut maka konsekwensinya adalah ijtihadiyah. Hal semacam ini dilakukan untuk menjaga hubungan kedua belah pihak. Demikian juga ketika itu berlaku, sementara sang suami belum sempat menggaulinya lalu meninggal dunia maka hak istri mendapatkan warisan dan wajib menjalani masa iddah (empat bulan sepuluh hari). Tetapi istri tidak berhak atas mahar yang telah ditetapkan. Jika mahar tidak ditetapkan maka hak istri adalah seperti mahar istri yang lain, berhak atas warisannya dan wajib menjalani masa iddah.

Mahar yang dimaksudkan di atas ini hukumnya wajib diberikan kepada istri, agar istri senang dan ridha atas pemberian suami pada dirinya. Bukan hanya itu, akan tetapi mahar juga diberikan supaya memperkuat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang serta cinta.

Begitupun dengan hadits-hadits yang di atas menjelaskan bahwa dalam hal mahar, Islam tidak menetapkan jumlah besar kecilnya dikarenakan adanya perbedaaan kaya dan miskin, luas dan sempit rizki seseorang.

Oleh karena itu dalam menyerahkan mahar berdasarkan kemampuannya masing-masing, atau keadaan dan tradisi keluarganya. Semua nash yang menjelaskan tentang mahar ini menunjukkan betapa penting nilainya. Jadi, boleh saja memberi mahar dengan cincin besi, segantang kurma atau bahkan dengan beberapa ayat Al-Qur’an. Yang terpenting sudah disepakati oleh kedua belah pihak dan saling ridha atas hal tersebut.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

SHALAT SUNAT TAHYATUL MASJIDketika jumatan dan lainnya(contoh hadits musalsal)


SHALAT SUNAT TAHYATUL MASJID
ketika jumatan dan lainnya
(contoh hadits musalsal)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Seorang muslim sejati semestinya membuktikan iman dan cintanya kepada Allah dengan mengikuti Rasul-Nya baik perkataan, amalan, ketetapannya bahkan prikehidupannya secara istiqamah dan tulus ikhlash karena Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ٣١)

"Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS.Āli ‘Imrān/3: 31)

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ٣٢)

"Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”" (QS.Āli ‘Imrān/3: 31)

Salah satu contoh dan tauladan yang diinformasikan sampai kepada kita hari ini adalah tentang amalan shalat dua raka'at ketika telah masuk masjid dan dilakukan sebelum duduk. Ini dikenal dengan shalat tahyatul masjid. Adapun menyangkut konteks hadits terkait adalah bersifat musalsal.

Menurut bahasa musalsal berasal dari kata يُسَلْسِلُ,سَلْسَلَةٌ ,سَلْسَلَ yang berarti berantai dan bertali menali. Dinamakan musalsal karena ada kesamaan dengan rantai (silsilah) dalam segi pertemuan pada masing-masing perawi atau ada kesamaan dalam bagian-bagiannya. Nah, dalam hal ini penulis mengambil contoh pada hadits tentang shalat tahyatul masjid. Sebagaimana penulis paparkan berikut ini.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ عَمْرٍو وَهُوَ ابْنُ دِينَارٍ عَنْ جَابِرٍ
أَنَّ رَجُلًا جَاءَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ. (رواه أبوداود: ٩٤١)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad dari 'Amru yaitu Ibnu Dinar dari Jabir bahwa seorang laki-laki datang pada hari jum'at, sementara Nabi ﷺ sedang berkhutbah, lalu beliau bersabda: "Apakah kamu sudah shalat (sunnah) wahai fulan?" jawabnya; "Belum." Beliau bersabda: "Berdiri dan kerjakanlah shalat (sunnah)." (HR. Abu Daud: 941 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Begitu juga hadits riwayat imam Muslim berikut,

و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا وَقَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا
دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَصَلِّ الرَّكْعَتَيْنِ
وَفِي رِوَايَةِ قُتَيْبَةَ قَالَ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ. (رواه مسلم: ١٤٤٥)

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Ishaq bin Ibrahim -Qutaibah berkata- telah menceritakan kepada kami -dan Ishaq berkata- telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Amru ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata; Seorang laki-laki masuk Masjid sementara Rasulullah ﷺ sedang menyampaikan khutbah Jum'at, maka beliau pun bertanya: "Apakah kamu telah shalat?" Laki-laki itu menjawab, "belum." Maka beliau bersabda: "Bangun dan shalatlah dua raka'at." dan dalam riwayat Qutaibah, "Shalatlah dua raka'at." (HR. Muslim: 1445 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah)

Lihat juga: al Bukhari: 879 dan Ahmad: 13789 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah. Ibnu Majah: 1103 dan Ahmad: 11242 - hasan dari Sa'ad bin Malik.

Pada kondisi lain,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَحْبُوبٍ وَإِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ وَعَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَا
جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ أَصَلَّيْتَ شَيْئًا قَالَ لَا قَالَ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ تَجَوَّزْ فِيهِمَا
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ الْوَلِيدِ أَبِي بِشْرٍ عَنْ طَلْحَةَ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّ سُلَيْكًا جَاءَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ زَادَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَتَجَوَّزْ فِيهِمَا. (رواه أبوداود: ٩٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahbub dan Isma'il bin Ibrahim sedangkan maksud haditsnya sama, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir dan Abu Shalih dari Abu Hurairah katanya; "Sulaik Al Ghathafani datang, sedangkan Rasulullah ﷺ tengah berkhutbah, maka beliau bersabda kepadanya; "Apakah kamu sudah shalat (sunnah)?" jawabnya; "Belum." Beliau bersabda: "Shalatlah dua raka'at yang ringan." Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far dari Sa'id dari Al Walid Abu Bisyr dari Thalhah bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah bercerita bahwa Sulaik datang…" kemudian dia menyebutkan hadits semisalnya, ia menambahkan; "Kemudian beliau menghadap kepada orang-orang sambil bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian datang, sedangkan imam tengah berkhutbah, hendaknya ia shalat dua raka'at yang ringan." (HR. Abu Daud: 942 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lihat juga: at Tirmidzi: 469 - hasan dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. An Nasa'i: 1383 dan Ahmad: 13910 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. An Nasa'i: 1391 - hasan dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Lafazh lain,

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَجْلَانَ عَنْ عِيَاضٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَاءَ الْجُمُعَةَ الثَّانِيَةَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَاءَ الْجُمُعَةَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ تَصَدَّقُوا فَتَصَدَّقُوا فَأَعْطَاهُ ثَوْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ تَصَدَّقُوا فَطَرَحَ أَحَدَ ثَوْبَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَوْا إِلَى هَذَا أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ بِهَيْئَةٍ بَذَّةٍ فَرَجَوْتُ أَنْ تَفْطِنُوا لَهُ فَتَتَصَدَّقُوا عَلَيْهِ فَلَمْ تَفْعَلُوا فَقُلْتُ تَصَدَّقُوا فَتَصَدَّقْتُمْ فَأَعْطَيْتُهُ ثَوْبَيْنِ ثُمَّ قُلْتُ تَصَدَّقُوا فَطَرَحَ أَحَدَ ثَوْبَيْهِ خُذْ ثَوْبَكَ وَانْتَهَرَهُ. (رواه النسائي: ٢٤٨٩)

Telah mengabarkan kepada kami 'Amru bin 'Ali dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Yahya dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ajlan dari 'Iyadh dari Abu Sa'id bahwa seseorang masuk ke masjid pada hari Jum'at dan Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, lalu beliau bersabda: "Shalatlah dua rakaat!" Kemudian orang itu datang pada Jum'at kedua dan Nabi ﷺ sedang berkhutbah, lalu beliau bersabda: 'Shalatlah dua rakaat! ' Kemudian orang itu datang pada Jum'at ketiga dan Nabi ﷺ sedang berkhutbah, lalu beliau bersabda: 'Shalatlah dua rakaat! ' Kemudian bersabda: 'Bersedekahlah kalian! ' Lalu mereka bersedekah dan beliau memberikannya dua pakaian, kemudian bersabda: 'Bersedekahlah kalian! ' Lalu ia melemparkan salah satu pakaiannya, maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidakkah kalian melihat orang ini bahwa ia masuk ke masjid dengan kondisi yang kusut, aku berharap kalian memahaminya lalu kalian mau bersedekah kepadanya, tetapi kalian tidak melakukannya'. Lalu kukatakan, 'Bersedekahlah kalian! ' Lalu kalian bersedekah dan kuberikan dia dua pakaian. Kemudian kukatakan, 'Bersedekahlah kalian! ' Lalu ia melemparkan salah satu pakaiannya. 'Ambillah pakaianmu'. Dan beliau membentaknya. (HR. An Nasa'i: 2489 - hasan dari Sa'ad bin Malik)

Kondisi serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad tentang seseorang masuk Masjid waktu jum'at:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ حَدَّثَنَا عِيَاضٌ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَدَعَاهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ الْجُمُعَةَ الثَّانِيَةَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَدَعَاهُ فَأَمَرَهُ ثُمَّ دَخَلَ الْجُمُعَةَ الثَّالِثَةَ فَأَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ تَصَدَّقُوا فَفَعَلُوا فَأَعْطَاهُ ثَوْبَيْنِ مِمَّا تَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ تَصَدَّقُوا فَأَلْقَى أَحَدَ ثَوْبَيْهِ فَانْتَهَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَرِهَ مَا صَنَعَ ثُمَّ قَالَ انْظُرُوا إِلَى هَذَا فَإِنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فِي هَيْئَةٍ بَذَّةٍ فَدَعَوْتُهُ فَرَجَوْتُ أَنْ تُعْطُوا لَهُ فَتَصَدَّقُوا عَلَيْهِ وَتَكْسُوهُ فَلَمْ تَفْعَلُوا فَقُلْتُ تَصَدَّقُوا فَتَصَدَّقُوا فَأَعْطَيْتُهُ ثَوْبَيْنِ مِمَّا تَصَدَّقُوا ثُمَّ قُلْتُ تَصَدَّقُوا فَأَلْقَى أَحَدَ ثَوْبَيْهِ خُذْ ثَوْبَكَ وَانْتَهَرَهُ. (رواه أحمد: ١٠٧٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Ibnu 'Ajlan berkata; telah menceritakan kepada kami Iyadh dari Abu Sa'id ia berkata, "Pada hari Jumat seorang lelaki masuk ke dalam masjid sedang Rasulullah ﷺ di atas mimbar, lalu beliau memanggil dan menyuruhnya shalat dua rakaat. Kemudian ketika ia masuk ke dalam masjid pada Jumat kedua dan Rasulullah ﷺ ada di atas mimbar, beliau memanggil dan menyuruhnya shalat dua rakaat. Kemudian ketika ia masuk ke dalam masjid pada Jumat ketiga dan Rasulullah ﷺ ada di atas mimbar, beliau memanggil dan menyuruhnya shalat dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, "Bersedekahlah kalian, " lalu mereka pun melakukannya, beliau kemudian memberikan kepada orang tersebut dua lembar kain dari apa yang para sahabat sedekahkan. Setelah itu beliau bersabda lagi, "Bersedekahlah kalian, " lalu orang tersebut melemparkan salah satu kain miliknya sehingga Rasulullah ﷺ menghardiknya karena tidak suka dengan apa yang ia perbuat. Beliau lalu bersabda, "Lihatlah kepada laki-laki ini, sesungguhnya ia masuk ke dalam masjid dalam keadaan kotor, lalu aku panggil dia dan aku berharap agar kalian bisa memberikan kepadanya lalu kalian pun bersedekah kepadanya, dan agar kalian memberikan pakaian kepadanya tetapi kalian tidak melakukannya, lalu aku katakan kepada kalian, "Bersedekahlah kalian, " lalu kalian pun bersedekah. Lalu aku berikan kepadanya dua lembar kain dari yang kalian sedekahkan, setelah itu aku berkata, "Bersedekahlah kalian, " lalu ia melemparkan salah satu kain miliknya, ambillah kain milikmu, " dan beliau pun menghardiknya. (HR. Ahmad: 10768 - isnadnya qawi menurut Syu'aib bin al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

MALAIKAT MENUTUP CATATANNYA JIKA IMAM SUDAH MASUK MASJID

حَدَّثَنَا يُونُسُ قَالَ حَدَّثَنَا الْخَزْرَجُ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَهُ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَرَأَى غُلَامًا فَقَالَ لَهُ يَا غُلَامُ اذْهَبْ الْعَبْ قَالَ إِنَّمَا جِئْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ قَالَ يَا غُلَامُ اذْهَبْ الْعَبْ قَالَ إِنَّمَا جِئْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ قَالَ فَتَقْعُدُ حَتَّى يَخْرُجَ الْإِمَامُ قَالَ نَعَمْ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَجِيءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَتَقْعُدُ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَيَكْتُبُونَ السَّابِقَ وَالثَّانِيَ وَالثَّالِثَ وَالنَّاسَ عَلَى مَنَازِلِهِمْ حَتَّى يَخْرُجَ الْإِمَامُ فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طُوِيَتْ الصُّحُفُ. (رواه أحمد: ٩٨٨٢)

Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Al Khazraj dari Abu Ayub dari Abu Hurairah. Abu Ayub berkata, "Aku pernah masuk masjid bersama Abu Hurairah di hari Jumat, lalu ia melihat seorang anak kecil seraya berkata, "Wahai anak kecil, pergi dan mainlah, " ia menjawab, "Aku datang hanya untuk ke masjid." Abu Hurairah berkata, "Wahai anak kecil, pergi dan mainlah, " ia menjawab, " aku datang hanya untuk ke masjid." Abu Hurairah berkata, "Kalau begitu hendaklah kamu duduk sehingga imam keluar, " ia menjawab, "Ya." Abu Hurairah berkata; Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di setiap hari Jumat malaikat datang, lalu mereka duduk di depan pintu-pintu masjid, mereka mencatat orang yang pertama kali datang, kemudian kedua dan ketiga, dan seterusnya sesuai dengan tingkatan mereka sehingga imam datang, maka jika imam telah datang buku catatan akan ditutup." (HR. Ahmad: 9882 - shahih dan isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 7439 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Namun tidak menyebut tentang anak kecil masuk Masjid.

SUNNAH SHALAT TAHYATUL MASJID SETIAP MASUK MASJID

Imam Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ. (رواه البخاري: ٤٢٥)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari 'Amir bin 'Abdullah bin Az Zubair dari 'Amru bin Sulaim Az Zaraqi dari Abu Qatadah As Salami, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah ia shalat dua rakaat sebelum ia duduk." (HR. Al Bukhari: 425 - shahih dari al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 1097 dan Muslim: 1166, Abu Daud: 395 [hadits ahlul Madinah] dan Ahmad: 21485 [isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth] - shahih dari al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Bukan hanya sabda beliau namun beliau mencontohkan sebagaimana informasi hadits berikut,

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِيهِ وَعَمِّهِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ. (رواه البخاري: ٢٨٥٨)

Telah bercerita kepada kami Abu 'Ashim dari Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab dari 'Abdur Rahman bin 'Abdullah bin Ka'ab dari bapaknya dari pamannya, 'Ubaidullah bin Ka'ab dari Ka'ab radhiallahu'anhu bahwa Nabi ﷺ apabila tiba kembali dari bepergian di waktu Duha, beliau memasuki masjid lalu shalat dua rakaat sebelum duduk". (HR. Al Bukhari: 2858 - shahih dari Ka'ab bin Malik bin Abi Ka'ab 'Amru, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H)

Lebih lanjut, bahkan ketika pulang dari perang (perang tabuk) sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ ضُحًى فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ وَكَانَ إِذَا جَاءَ مِنْ سَفَرٍ فَعَلَ ذَلِكَ. (رواه أحمد: ١٥٢١٣)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik dari Bapaknya Nabi ﷺ datang dari Perang Tabuk pada waktu Duha lalu beliau shalat di masjid dua rakaat, dan beliau jika datang dari perjalanan melakukan seperti itu (Shalat dua rakaat di masjid sebelum ke rumah). (HR. Ahmad: 15213 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ka'ab bin Malik bin Abi Ka'ab 'Amru, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H. Hadits ahlul Madinah)

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 15214 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ka'ab bin Malik bin Abi Ka'ab 'Amru, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H.

Dimasa tabi'in pernah terjadi peristiwa berikut:

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ قَالَ لَهُ أَلَمْ أَرَ صَاحِبَكَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَجْلِسُ قَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ قَالَ أَبُو النَّضْرِ يَعْنِي بِذَلِكَ عُمَرَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ وَيَعِيبُ ذَلِكَ عَلَيْهِ أَنْ يَجْلِسَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ قَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ قَالَ يَحْيَى قَالَ مَالِك وَذَلِكَ حَسَنٌ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ. (رواه مالك: ٣٥٠)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Abu Nadlar mantan budak Umar bin Ubaidullah, dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa dia bertanya; "Bukankah aku telah melihat, bahwa sahabatmu jika masuk ke dalam masjid, ia duduk sebelum shalat dua rakaat. " Abu Nadlar menjawab; "Yang dimaksud Umar bin Ubaidullah. " Abu Salamah mencela dia karena hal tersebut, yaitu langsung duduk ketika masuk masjid sebelum mengerjakan dua rekaat. " Yahya berkata, Malik berkata; "Yang demikian itu hukumnya sunnah bukan kewajiban." (HR. Malik: 350 - maqthu' shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abdur Rahman bin 'Auf, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 94 H)

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Sabtu, 29 Agustus 2020

SALING MEMUDAHKAN


SALING MEMUDAHKAN
(Rasul sebagai bayan at taqrir)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Islam rahmat bagi seluruh alam, saling melengkapi satu sama lain. Begitu juga halnya kehidupan sehari-hari mesti menganut ikrar persamaan hak dan kewajiban. Sehingga muncul sikap saling menghargai dan menjaga martabat sesama secara berkesinambungan. Dengan demikian terpatrilah pada diri masing-masing manusia fitrah yang telah Allah anugerahkan semenjak azali.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْاۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٢)

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS.Al-Mā'idah/5: 2)

Ayat di atas diperkuat dengan riwayat berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا. (رواه مسلم: ٣٢٦٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib sedangkan lafadznya dari Abu Bakar, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dia berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ mengangkat seseorang dari sahabatnya untuk melaksanakan perintahnya, beliau bersabda: "Berilah mereka kabar gembira dan janganlah menakut-nakuti, mudahkan urusan mereka jangan kamu persulit." (HR. Muslim: 3262 - shahih menurut ijma' dari Abu Musa, nama aslinya 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)

Lihat juga: al Bukhari: 67 dan 5660, Muslim: 3262 dan 3264 - shahih menurut ijma' dari Anas bin Malik bin an Nadhar bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Abu Daud: 4195, Ahmad: 18868 - shahih menurut al Albani dari Abu Musa.

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ وَسَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
دَخَلَ أَعْرَابِيٌّ الْمَسْجِدَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَصَلَّى فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَقَدْ تَحَجَّرْتَ وَاسِعًا فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ بَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَأَسْرَعَ إِلَيْهِ النَّاسُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْرِيقُوا عَلَيْهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ دَلْوًا مِنْ مَاءٍ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
قَالَ سَعِيدٌ قَالَ سُفْيَانُ وَحَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ نَحْوَ هَذَا قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَقَدْ رَوَى يُونُسُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. (رواه الترمذي: ١٣٧)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar dan Sa'id bin Abdurrahman Al Makhzumi mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Sa'id bin Al Musayyib dari Abu Hurairah ia berkata; "Seorang arab dusun masuk ke dalam masjid ketika Nabi ﷺ shalat, arab dusun itu lalu shalat. Setelah shalat ia berdo'a, "Ya Allah, sayangilah aku dan Muhammad, dan jangan engkau sayangi seorang pun bersama kami." Nabi ﷺ lalu berpaling ke arahnya seraya bersabda: "Sungguh engkau telah mempersempit sesuatu yang luas." Setelah itu ia kencing di dalam masjid hingga membuat orang-orang segera menghampirinya, namun Nabi ﷺ bersabda: "Siramlah dengan seember air, " atau beliau mengatakan: "dengan satu timba air." Setelah itu beliau bersabda lagi: "Sesungguhnya kalian diutus dengan memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan." Sa'id berkata; "Sufyan berkata; "Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Sa'id dari Anas bin Malik seperti ini." Ia berkata; "Dalam bab ini juga ada riwayat dari Abdullah bin Mas'ud, Ibnu Abbas dan Watsilah bin Al Asqa'." Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan shahih, dan sebagian ahli ilmu beramal dengan hadits ini. Ini adalah pendapat Ahmad dan Ishaq. Yunus juga meriwayatkan hadits ini dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Abu Hurairah." (HR. At Tirmidzi: 137 - shahih dari Abu Hurairah)

Lihat juga: an Nasa'i: 1202 dan Ahmad: 6957 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shkhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

AKIBAT MEMINTA KEMBALI PEMBERIAN


AKIBAT MEMINTA KEMBALI PEMBERIAN

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢٦٧)

"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji." (QS.Al-Baqarah/2: 267)

Hendaknya berinfak dengan niat mengharap ridha Allah agar pahalanya sempurna,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٢٧٢)

"Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan)." (QS.Al-Baqarah/2: 272)

Selanjutnya dijelaskan lagi oleh Rasul sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ حَمَلْتُ عَلَى فَرَسٍ عَتِيقٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأَضَاعَهُ صَاحِبُهُ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ بَائِعُهُ بِرُخْصٍ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ لَا تَبْتَعْهُ وَلَا تَعُدْ فِي صَدَقَتِكَ فَإِنَّ الْعَائِدَ فِي صَدَقَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ و حَدَّثَنِيهِ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ مَهْدِيٍّ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ لَا تَبْتَعْهُ وَإِنْ أَعْطَاكَهُ بِدِرْهَمٍ. (رواه مسلم: ٣٠٤٤)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Zaid bin Aslam dari Ayahnya bahwa Umar bin Khattab berkata, "Saya pernah mensedekahkan seekor kuda yang sangat bagus kepada seorang pejuang untuk perang di jalan Allah, akan tetapi pemiliknya menyia-nyiakannya dan saya mengira bahwa dia akan menjualnya dengan harga murah, maka saya menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, beliau lantas bersabda, "Janganlah kamu membelinya dan jangan kamu ambil kembali sedekahmu, sesungguhnya orang yang mengambil kembali sedekahnya sama seperti anjing yang menjilat kembali muntahannya." Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bi Harb telah menceritakan kepada kami Abdurrahman -yaitu Ibnu Mahdi- dari Malik bin Anas dengan sanad ini, dan dia menambahkan, "Janganlah kamu membelinya lagi, walaupun kamu memberikan uang dirham." (HR. Muslim: 3044 - shahih dari 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H. Hadits ahlul Madinah)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 1395, Muslim: 3044 [hadits ahlul Madinah] - shahih dari 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H. Sementara dalam jalur lain tidak menggunakan lafazh:

" ... فَإِنَّ الْعَائِدَ فِي صَدَقَتِهِ كَالْكَلْبِ ...". (رواه البخاري و مسلم)

" ... sesungguhnya orang yang mengambil kembali sedekahnya sama seperti anjing yang menjilat kembali muntahannya."

Seperti hadits riwayat al Bukhari: 2442 dan 2748 - shahih dari 'Umar bin al Khaththab, al Bukhari: 2749 [hadits ahlul Madinah], 2568, 2780, Muslim: 3046 dan 3047 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
Camkanlah, semoga kita menjadi orang yang ikhlash semata mengharap ridha Allah dalam berinfak.
Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

SAFAR SENDIRIAN DI MALAM HARI

SAFAR SENDIRIAN DI MALAM HARI
(contoh hadits syadz dan mahfuzh) 
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem, 
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ أَنَّ النَّاسَ يَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ مِنْ الْوِحْدَةِ مَا سَرَى رَاكِبٌ بِلَيْلٍ يَعْنِي وَحْدَهُ. (رواه الترمذي: ١٥٩٦) 

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah Adh Dhabbi Al Bashri berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Ashim bin Muhammad dari Bapaknya dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sekiranya manusia mengetahui (bahayanya) sendiri sebagaimana yang aku ketahui, maka tidak seorang pun yang akan berjalan sendirian di waktu malam." (HR. At Tirmidzi: 1596 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H) 

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 2776, Ibnu Majah: 3758, Ahmad: 4518, 4540, 5001, 5324, 5640 dan 5742 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Terdapat penambahan lafazh "abada" pada riwayat Ahmad: 4518, 4540 dan 5001.

" ... لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الْوَحْدَةِ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ أَبَدًا."

" ... Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya manusia mengetahui bahayanya kesendirian, niscaya tidak ada seorang pengendara berjalan sendirian di malam hari selamanya."

Oleh karena kasus tersebut hadits riwayat Ahmad: 4518, 4540 dan 5001 mukhtalif terhadap hadits riwayat al Bukhari, at Tirmidzi dan Ibnu Majah. Sehingga, pertama: ia menjadi syadz, sebab bertentangan dengan riwayat orang banyak dan lebih tsiqah darinya (Ahmad). Kedua: Kualitas hadits sama-sama sahih, namun terjadi penambahan yang kemungkinan penambahan dari periwayat. Dalam istilah lain disebut hadits mudraj. Wallaahu a'lam bish shawaab. 

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Jumat, 28 Agustus 2020

KEUTAMAAN SURATUL KAHFI

KEUTAMAAN SURATUL KAHFI

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Al Qur'an adalah firman Allah yang bersifat qad'iy wurud. Semua kandungannya memiliki keutamaan dan merupakan mukjizad. Sehingga, masing-masing surat dan ayat-nya itu mendatangkan manfaat dan obat (penyembuh penyakit pisik dan non pisik. Sugesti yang dipancarkan darinya mendatangkan pengaruh positif terhadap kehidupan jasmani dan rohani.

Selanjutnya, setiap kalimat, huruf-hurufnya merupakan cahaya hidup. Salah satu contoh surat al Kahfi berikut, sebagaimana dijelaskan dalam banyak riwayat. Setelah ini akan penulis paparkan.

Sekian banyak riwayat, tentu tidak seluruhnya yang dapat diperpegangi karena riwayat atau hadits-hadits tersebut zhanniy wurud, bisa benar dan bisa keliru. Pada gilirannya perlu diketahui kekeliruannya. Oleh karena itu, penulis berusaha memaparkan kebenaran dan kekeliruan dimaksud. Tentunya berdasarkan pendapat dan penelitian para ulama terdahulu dan ahli dibidangnya.

Mari simak paparannya berikut ini:

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ حَدَّثَنَا أَبُو هَاشِمٍ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ. (رواه الدارمي: ٣٢٧٣)

Telah menceritakan kepada kami Abu An Nu'man telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Abu Hasyim dari Abu Mijlaz dari Qais bin Ubad dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jumat maka ia akan diterangi oleh cahaya yang terangnya mencapai jarak antara dirinya dan Baitul 'Atiq. (HR. Ad Darimi: 3273 - isnadnya shahih sampai Abu Sa'id menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dn wafat tahun 74 H)

Lafazh lain, "Barangsiapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Al-Kahfi, maka ia terlindung dari fitnah Dajjal.". Sebagaimana hadits riwayat Ahmad: 26244:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ وَحَجَّاجٌ قَالَ ثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَجَّاجٌ فِي حَدِيثِهِ سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ أَبِي الْجَعْدِ يُحَدِّثُ عَنْ مَعْدَانَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالَ حَجَّاجٌ مَنْ قَرَأَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ سُورَةِ الْكَهْفِ. (رواه أحمد: ٢٦٢٤٤)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far dan Hajjaj berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah, Hajjaj menyebutkan dalam haditsnya; aku mendengar Salim bin Abu Al Ja'd menceritakan dari Ma'dan dari Abu Darda' dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Al-Kahfi, maka ia terlindung dari fitnah Dajjal." Hajjaj menyebutkan, "Barangsiapa membaca sepuluh terakhir dari surah Al-Kahfi." (HR. Ahmad: 26244 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Uwaimir bin Malik bin Qais bin Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu ad Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)

Riwayat yang isnadnya dha'if dalam masalah ini menurut Husain Salim Asad ad Darani yaitu:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ عَبْدَةَ عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ قَالَ مَنْ قَرَأَ آخِرَ سُورَةِ الْكَهْفِ لِسَاعَةٍ يُرِيدُ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ قَامَهَا قَالَ عَبْدَةُ فَجَرَّبْنَاهُ فَوَجَدْنَاهُ كَذَلِكَ. (رواه الدارمي: ٣٢٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir dari Al Auza'i dari Abdah dari Zirr bin Hubaisy ia berkata; Barangsiapa yang membaca akhir surah Al-Kahfi karena ingin bangun pada malam hari, maka ia terbangun. Abdah berkata; Maka kami membuktikannya, ternyata kami mendapatkan seperti itu. (HR. Ad Darimi: 3272 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Zurra bin Hubaisy, ia tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Maryam negeri hidup Kufah dan wafat tahun 81 H. Al 'Ajli dan Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah jalil)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi: 3272 terdapat periwayat bernama Mihammad bin Katsir bin Abi 'Atha', ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Yusuf negeri hiduo Mashishah dan wafat tahun 216 H. Penilaian ulama: an Nasa'i dan Hakim menilainya laisa bi qawi. Yahya bin Ma'in, adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Sementara Ahmad bin Hanbal menilainya dha'if jiddan dan al Bukhari menilainya layyin jiddan. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Lebih rinci (semakin nampak cacatnya) :

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا زَبَّانُ عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَرَأَ أَوَّلَ سُورَةِ الْكَهْفِ وَآخِرَهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ قَدَمِهِ إِلَى رَأْسِهِ وَمَنْ قَرَأَهَا كُلَّهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ. (رواه أحمد: ١٥٠٧٣)

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami Zabban dari Sahl bin Mu'adz dari Bapaknya dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda, "Barangsiapa membaca awal surah Al-Kahfi dan akhirnya, dia mendapatkan cahaya dari kaki sampai kepalanya. Barangsiapa membaca semuanya, dia mendapatkan cahaya antara langit dan bumi". (HR. Ahmad: 15073 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib bin al Arna'uth dari Mu'adz bin Anas, ia shahabat dan negeri hidup Maru)

Perlu dijelaskan adalah dengan hadits berikut:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَرْوِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالَ أَبُو دَاوُد وَكَذَا قَالَ هِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ عَنْ قَتَادَةَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ مَنْ حَفِظَ مِنْ خَوَاتِيمِ سُورَةِ الْكَهْفِ و قَالَ شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ مِنْ آخِرِ الْكَهْفِ. (رواه أبوراود: ٣٧٦٥)

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Ma'dan bin Abu Thalhah dari hadits Abu Darda yang ia riwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa menghafal sepuluh ayat awal dari surah Al-Kahfi, maka ia akan dijaga dari fitnah Dajjal." Abu Daud berkata, "Seperti ini pula yang dikatakan oleh Hisyam Ad Dustuwa`i dari Qatadah, hanya saja (dalam hadits itu) Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menghafal akhir-akhir dari surah Al-Kahfi, " Syu'bah menyebutkan dari Qatadah, "Akhir dari surah Al-Kahfi." (HR. Abu Daud: 3765 - shahih dari Uwaimir bin Malik bin Qais bin Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu ad Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)

Demikian juga hadits riwayat Muslim: 1342 dan Ahmad: 20720 - shahih dari Uwaimir bin Malik bin Qais bin Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu ad Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H. Sementara hadits riwayat at Tirmidzi: 2811,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ ثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٢٨١١)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Ma'dan bin Abu Thalhah dari Abu Ad Darda` dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa membaca tiga ayat permulaan surah Al-Kahfi, maka ia akan terjaga dari fitnah Dajjal." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Qatadah dengan sanad dan maksud yang sama. Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. (HR. At Tirmidzi: 2811 - shahih dari Uwaimir bin Malik bin Qais bin Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu ad Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)

Catatan: menurut Muhammad Nashiruddin al Albani hadits riwayat at Tirmidz: 2811 adalah hasan. Shahih dengan lafazh: Barangsiapa menghafal sepuluh ayat... dst' sementara dengan lafazh 'kitab' adalah syadz.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Kamis, 27 Agustus 2020

PUASA 9 DAN 10 PADA BULAN MUHARAM


PUASA 9 DAN 10 PADA BULAN MUHARAM
(Hadits Hammiyah, Cta-cita nabi)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

BULAN MUHARAM

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ ابْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ. (رواه البخاري: ٢٩٥٨)

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al Mutsannaa telah bercerita kepada kami 'Abdul Wahhab telah bercerita kepada kami Ayyub dari Muhammad bin Sirin dari Ibnu Abi Bakrah dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ bersabda: "Zaman (masa) terus berjalan dari sejak awal penciptaan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah dan al-Muharam serta Rajab yang berada antara Jumadil (akhir) dan Sya'ban". (HR. Al Bukhari: 2958 - shahih dari Nufai' bin al Harits bin Kildah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakhrah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H)

Lihat juga: al Bukhari: 4294, Muslim: 3179 dan Abu Daud: 1663 - shahih dari Nufai' bin al Harits.

PUASA MUHARAM

حَدَّثَنِي قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم: ١٩٨٢)

Telah menceritakan kepadaku Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abu Bisyr dari Humaid bin Abdurrahman Al Himyari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Seutama-utama puasa setelah Ramadhan ialah puasa di bulan Muharam, dan seutama-utama shalat sesudah shalat Fardlu, ialah shalat malam." (HR. Muslim: 1982 - shahih dari Abu Hurairah)

Lihat juga: Abu Daud: 2074, at Tirmidzi: 402, 671 dan 672, an Nasa'i: 1595 - Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

PUASA TANGGAL 9 MUHARAM

و حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا غَطَفَانَ بْنَ طَرِيفٍ الْمُرِّيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه مسلم: ١٩١٦)

Dan telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepadaku Isma'il bin Umayyah bahwa ia mendengar Abu Ghathafan bin Tharif Al Murri berkata, saya mendengar Abdullah bin 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata saat Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari 'Asyura`dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa; Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharam)." Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah ﷺ wafat. (HR. Muslim: 1916 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Kemudian imam Ahmad juga meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ قَالَ أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَانَ قَالَ سَأَلْتُ الرُّبَيِّعَ بِنْتَ مُعَوِّذِ ابْنِ عَفْرَاءَ عَنْ صَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ صَائِمًا قَالَ قَالُوا مِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا الْمُفْطِرُ قَالَ فَأَتِمُّوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَأَرْسِلُوا إِلَى مَنْ حَوْلَ الْمَدِينَةِ فَلْيُتِمُّوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِمْ. (رواه أحمد: ٢٥٧٨٤)

Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Ashim dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Dzakwan dia berkata, aku bertanya kepada Ar Rubai' binti Mu'awidz bin Afra' mengenai puasa hari Asyura', dia lalu menjawab, "Rasulullah ﷺ bersabda pada hari As Syura': "Siapakah di antara kalian yang di pagi harinya berpuasa?" Lalu para sahabat sahabat menjawab, "Di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang berbuka." Beliau bersabda, "Maka sempurnakanlah dari sisa hari kalian, dan sebarkanlah keseluruh pelosok Madinah agar mereka menyempurnakan dari sisa hari mereka." (HR. Ahmad: 25784 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ar Rabi' binti Mu'awwidz bin 'Afra', ia shahabiyah dan negeri hidup Madinah)

Catatan: dalam sanad HR. Ahmad: 25784 terdapat periwayat bernama 'Ali bin 'Ashim bin Suhaib, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Haity dan wafat tahun 201 H. Penilaian ulama: adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya". Al 'Ajli menilainya tsiqah, sedangkan al Bukhari menilainya laisa bi qawi. Sementara Ibnu Hajar menilainya shaduq, terdapat kesalahan.

Selanjutnya, dalam hadits yang sanadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth yang diriwayatkan oleh imam Ahmad berikut:

قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ الْأَكْوَعِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ أَسْلَمَ أَذِّنْ فِي قَوْمِكَ أَوْ فِي النَّاسِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مَنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ. (رواه أحمد: ١٥٩٢٩)

(Ahmad bin Hanbal radhiallahu'anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Yazid bin Abu 'Ubaid berkata; telah menceritakan kepada kami Salamah bin Al Akwa' sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki dari Aslam, 'Umumkanlah kepada kaummu atau pada orang-orang pada Hari Asy-Syura`, Barangsiapa yang telah makan maka teruskanlah puasa pada sisa harinya, siapa yang belum makan maka berpuasalah.' (HR. Ahmad: 15929 - isnadnya shahahi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Salamah bin 'Amru bin al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74)

Begitu juga hadits berikut,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مَعْشَرٍ الْبَرَاءُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ حَرْمَلَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ هِنْدِ بْنِ حَارِثَةَ عَنْ أَبِيهِ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْحُدَيْبِيَةِ وَأَخُوهُ الَّذِي بَعَثَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ قَوْمَهُ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَهُوَ أَسْمَاءُ بْنُ حَارِثَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ فَقَالَ مُرْ قَوْمَكَ فَلْيَصُومُوا هَذَا الْيَوْمَ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ وَجَدْتُهُمْ قَدْ طَعِمُوا قَالَ فَلْيُتِمُّوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِمْ. (رواه أحمد: ١٦١١٧)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Bakar Al Muqaddami berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Ma'syar Al Bara` berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Harmalah dari Yahya bin Hind bin Haritsah dari Bapaknya salah seorang yang ikut Peristiwa Hudaibiyah, saudaranya adalah termasuk yang diutus Rasulullah ﷺ agar menyuruh kaumnya agar berpuasa hari Asy Syura` yaitu Asma` bin Haritsah sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengutusnya dan bersabda, "Perintahkan kaummu agar berpuasa pada hari ini." (Asma` bin Haritsah radhiallahu'anhu) berkata, "Bagaimana pendapat Anda jika saya dapatkan mereka telah makan?". Beliau bersabda, "Sempurnakanlah sisa harinya". (HR. Ahmad: 16117 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Hindi bin Asma' bin Haritsah, ia shahabat)

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.