Pages - Menu

Jumat, 31 Juli 2020

SHALAT DI MASJID NABAWIY DAN MASJIDIL HARAM


SHALAT DI MASJID NABAWIY DAN MASJIDIL HARAM
Oleh: SAMSURIZAL, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Keutamaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram disebut dalam riwayat-riwayat berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ أَبِي عُمَرَ جَمِيعًا عَنْ الثَّقَفِيِّ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ سَأَلْتُ أَبَا صَالِحٍ هَلْ سَمِعْتَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَذْكُرُ فَضْلَ الصَّلَاةِ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا وَلَكِنْ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ قَارِظٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ أَوْ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنْ الْمَسَاجِدِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
و حَدَّثَنِيهِ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ قَالُوا حَدَّثَنَا يَحْيَى الْقَطَّانُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ. (رواه مسلم: ٢٤٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Ats Tsaqafi - Ibnu al Mutsanna berkata- Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ia berkata, saya mendengar Yahya bin Sa'id berkata; Aku bertanya kepada Abu Shalih, "Apakah Anda pernah mendengar Abu Hurairah menyebutkan keutamaan shalat di dalam Masjid Rasulullah ﷺ?" Ia menjawab, "Tidak, akan tetapi Abdullah bin Ibrahim bin Qarizh yang telah mengabarkan kepadaku, bahwa ia mendengar Abu Hurairah menceritakan bahwasanya; Rasulullah ﷺ bersabda: 'Satu Shalat (yang dikerjakan) di masjidku ini, lebih baik daripada seribu shalat atau seperti seribu shalat di masjid lain, kecuali shalat itu dikerjakan di Masjidil Haram.'" Dan telah menceritakannya kepadaku Zuhair bin Harb dan Ubaidullah bin Sa'id dan Muhammad bin Hatim mereka berkata, Telah menceritakan kepada kami Yahya Al Qaththan dari Yahya bin Sa'id dengan isnad ini. (HR. Muslim: 2472 - shahih dari Abu Hurairah)

Lihat juga: al Bukhari: 1116, Muslim: 2469 dan 2470, at Tirmidzi: 299 dari Abu Hurairah, Muslim: 2473 dari 'Abdullah bin 'Umar.

Lafazh lain dari Maimunah istri Nabi,

و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ جَمِيعًا عَنْ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ
إِنَّ امْرَأَةً اشْتَكَتْ شَكْوَى فَقَالَتْ إِنْ شَفَانِي اللَّهُ لَأَخْرُجَنَّ فَلَأُصَلِّيَنَّ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَبَرَأَتْ ثُمَّ تَجَهَّزَتْ تُرِيدُ الْخُرُوجَ فَجَاءَتْ مَيْمُونَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُسَلِّمُ عَلَيْهَا فَأَخْبَرَتْهَا ذَلِكَ فَقَالَتْ اجْلِسِي فَكُلِي مَا صَنَعْتِ وَصَلِّي فِي مَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ صَلَاةٌ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنْ الْمَسَاجِدِ إِلَّا مَسْجِدَ الْكَعْبَةِ. (رواه مسلم: ٢٤٧٤)

Dan Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Muhammad bin Rumh semuanya dari Laits bin Sa'd - Qutaibah berkata- Telah menceritakan kepada kami Laits dari Nafi' dari Ibrahim bin Abdullah bin Ma'bad dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; Ada seorang wanita menderita sakit, lalu ia berkata, "Kalau Allah memberikan kesembuhan padaku, aku benar-benar akan keluar menuju Baitul Maqdis dan shalat di sana." Lalu wanita itu pun sembuh dari penyakitnya, maka ia pun segera mempersiapkan perjalanan. Kemudian ia mendatangi Maimunah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia mengucapkan salam atasnya dan mengabarkan tentang perjalanan yang akan ia lakukan. Maka Maimunah pun berkata, "Duduk dan makanlah apa yang kamu inginkan. Lalu shalatlah di Masjid Rasulullah ﷺ, karena saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Satu Shalat di dalamnya lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain selain Masjid Ka'bah [Masjidil Haram].'" (HR. Muslim: 2474 - shahih dari Maimunah binti al Harits, ia shahabiyah [istri Nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H)

Lihat juga: an Nasa'i: 684 - shahih dari Maimunah.

Shalat di Masjil Haram sebanding dengan 100.000 x di Masjid lainnya,

حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ وَعَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَطَّابِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو الرَّقِّيَّ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ قَالَ حُسَيْنٌ فِيمَا سِوَاهُ. (رواه أ حمد: ١٤١٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Husain yaitu Ibnu Muhammad dan Abdul Jabbar bin Muhammad Al Khutthabi berkata; telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah yaitu Ibnu 'Amr Ar-Raqi dari Abdul Karim dari 'Atha' dari Jabir berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Shalat sekali di masjidku ini lebih utama dari seribu Shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram. Shalat di Masjid Haram lebih utama dari seratus ribu shalat, Husain berkata (dalam riwayatnya) di masjid selainnya". (HR. Ahmad: 14167 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Lihat juga: Ahmad: 14733 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram.

Lafazh lain HR. Ahmad: 15533 - shahih dari 'Abdullah bin az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 73 H.

قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَبِيبٌ الْمُعَلِّمُ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنْ الْمَسَاجِدِ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ صَلَاةٍ فِي هَذَا. (رواه أ حمد: ١٥٥٣٣)

(Ahmad bin hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami Yunus berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Zaid berkata; telah menceritakan kepada kami Habib Al Mu'allim dari 'Atho` dari Abdullah bin Ibnu Az Zubair berkata; Rasulullah bersabda: "Shalat di masjidku ini, lebih utama dari seribu shalat di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram, dan shalat di Masjid Haram lebih utama seratus derajat dari shalat di masjidku ini." (HR. Ahmad: 15533 - shahih dari 'Abdullah bin az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 73 H).

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْخَطَّابِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا رُزَيْقٌ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَلْهَانِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ بِصَلَاةٍ وَصَلَاتُهُ فِي مَسْجِدِ الْقَبَائِلِ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ صَلَاةً وَصَلَاتُهُ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُجَمَّعُ فِيهِ بِخَمْسِ مِائَةِ صَلَاةٍ وَصَلَاتُهُ فِي الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى بِخَمْسِينَ أَلْفِ صَلَاةٍ وَصَلَاتُهُ فِي مَسْجِدِي بِخَمْسِينَ أَلْفِ صَلَاةٍ وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ. (رواه إبن ماجه: ١٤٠٣)

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khaththab Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Ruzaiq Abu Abdullah Al Alhani dari Anas bin Malik ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Shalat seorang laki-laki di rumahnya sebanding dengan satu shalat, shalatnya di masjid kabilahnya sebanding dengan dua puluh lima shalat, shalatnya di masjid jami' sebanding dengan seratus shalat, shalatnya di masjid Al Aqsha sebanding dengan seribu shalat, shalatnya di masjidku sebanding dengan lima puluh ribu shalat, dan shalat di Masjidil Haram sebanding dengan seratus ribu shalat. " (HR. Ibnu Majah: 1403 - dha'if dari Anas bin Malik)

Catatan:
Dalam sanadnya terdapat Hammad, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu al Khaththab negeri hidup Syam. Penilaian ulama: adz Dzahabi mengatakan, "tidak terkenal". Selebinya periwayat maqbul.

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

TAKDIR ALLAH UNTUK MASJID NABAWI


TAKDIR ALLAH UNTUK MASJID NABAWI

DIBALIK KISAH MARMER PENYERAP PANAS DI MASJIDIL HARAM & MASJID NABAWI

Bismillah...

Pria yg mendesain Masjidil Harom Mekkah & Masjidil Nabawi Madinah adalah insinyur dan arsitek Mesir yg lebih suka menjauh dari pusat perhatian publik, tidak diketahui banyak orang, ia adalah Muhammad Kamal Isma'eel (1908-2008)

Dia adalah:
Orang termuda dalam sejarah Mesir yg memperoleh ijazah sekolah menengah,

Orang termuda yg mendaftar di Royal School of Engineering dan yg menjadi wisudawan termuda,

Orang termuda dikirim ke Eropa utk mendapatkan 3 gelar doctor dalam Arsitektur Islam,

Orang termuda yg mendapatkan syal Nil dan pangkat besi dari Raja Saudi Arabia.

Dia adalah insinyur pertama yg melakukan perencanaan dan implementasi proyek perluasan Masjidil Haramain (Mekkah dan Madinah).

Dia menolak menerima bayaran untuk desain teknik dan pengawasan arsitekturalnya, meskipun ada upaya dari Raja Fahd dan perusahaan Bin Laden untuk membayar berapapun yang dia tuliskan dalam selembar cek.

Ketika dia mengembalikan cek kosongnya, dia mengatakan kepada Bakar Bin Ladan: "Mengapa saya harus menerima uang (untuk pekerjaan saya) di 2 Masjid Suci (Mekkah & Madinah), bagaimana saya akan menghadapi Allah (pada Hari Pengadilan nanti?)."

Dia menikah pada usia 44 tahun, istrinya melahirkan seorang putra, tetapi kemudian meninggal, dan setelah itu ia tetap melajang dan mengabdikan seluruh waktunya untuk menyembah Allah sampai ia wafat.

Dia melebihi 100 tahun waktu yang dihabiskannya untuk melayani 2 Masjid Suci tersebut dan jauh dari pusat perhatian media massa, ketenaran dan uang.

Jenius ini memiliki kisah yang luar biasa mengenai marmer (karya) Masjidil Harom, karena ia ingin menutupi lantai Masjidil Harom bagi mereka yg melakukan thowaf, dan marmer khusus utk menyerap panas, dan marmer ini hanya ada di gunung kecil di Yunani.

Dia melakukan perjalanan ke Yunani dan menandatangani kontrak untuk membeli marmer dalam jumlah yg banyak untuk Masjidil Haram (marbling), yakni hampir setengah dari gunung marmer itu.

Dia menandatangani perjanjian dan kembali ke Mekah, sampai marmer putih itu tiba di Mekkah. Memulai dan mengawasi proses  pemasangan marmer putih di lantai Masjidil Haram di Mekkah sampai selesai.

Setelah 15 tahun, pemerintah Saudi memintanya kembali untuk menggunakan jenis marmer yg serupa agar dipasang di Masjidil Nabawi di Madinah.

Insinyur Muhammad Kamal berkata, "Ketika Raja meminta untuk menggunakan jenis marmer yang sama untuk Masjid Nabawi, saya sangat bingung, karena hanya ada 1 tempat di bumi ini yang terdapat  marmer jenis ini, yaitu Yunani, dan saya sudah membeli 1/2 dari  deposit marmer yang ada di gunung tersebut."

Lantas Kamal pergi ke perusahaan yg sama di Yunani dan bertemu CEO, dan bertanya kepadanya tentang deposit marmer yg tersisa. CEO mengatakan bahwa setengah deposit marmer itu telah dijual segera setelah Kamal pergi 15 tahun yg lalu.

Kamal menjadi sangat sedih. Kamal meninggalkan pertemuan, dan ketika meninggalkan kantor mereka, dia bertemu dengan Sekretaris Kantor dan memintanya untuk mencari informasi  keberadaan orang yg telah membeli sisa deposit marmer itu.

Sekretaris Kantor mengatakan bahwa hal itu akan sulit diketahui jika tidak membuka arsip karena proses bisnis nya telah berlalu begitu lama. Atas permintaan Kamal, dia berjanji untuk mencari datanya di arsip. Kamal memberikan alamat dan nomor kamar hotelnya, serta berjanji akan mengunjungi kembali keesokan harinya.

Pada hari berikutnya, beberapa jam sebelum berangkat ke bandara, Kamal menerima panggilan telepon dari sekretaris yg mengatakan bahwa dia telah menemukan alamat pembeli, lantas Kamal menuju kantor yg dimaksud, ternyata pembelinya sebuah perusahaan di Saudi Arabia.

Kemudian Kamal terbang ke Arab Saudi pada hari yg sama dan pada saat kedatangan, dia langsung pergi ke kantor perusahaan tersebut dan bertemu dengan Direkturnya, dan bertanya kepadanya apa yang telah dia lakukan dengan marmer yang dia beli bertahun-tahu  lalu dari Yunani.

Direktur itu berkata, dia tidak ingat. Dia menghubungi bagian stok (perusahaan) dan bertanya kepada mereka tentang marmer putih dari Yunani dan mereka mengatakan kepada nya bahwa semua marmer masih ada, tidak pernah digunakan.

Kamal mulai menangis seperti bayi, dan selanjutnya menceritakan kisah lengkapnya kepada pemilik perusahaan. 

Kamal menyodorkan cek kosong (tanpa menulis besaran nilai transaksi) kepada pemilik marmer, dan memintanya menuliskan jumlah yang diinginkan, berapa pun besarnya.

Ketika Pemilik marmer mengetahui bahwa marmer itu untuk pembangunan Masjid Nabawi di Madinah, dia berkata: "Saya tidak akan menerima 1 Riyal pun. Allah yang membuat saya membeli marmer ini dan melupakannya, itu artinya marmer ini memang sudah ditakdirkan oleh Allah harus digunakan untuk Masjid Nabawi."

Semoga Allah memberkati Kamal tempat tertinggi di Jannah, aamiin.

Ditulis oleh:
Dr. Zaglool Al Najjar, seorang Ilmuwan Bumi

PENTINGNYA SYAHADAT DALAM SETIAP KHUTHBAH

PENTINGNYA SYAHADAT
DALAM SETIAP KHUTHBAH


حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا شَهَادَةٌ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ. (رواه أحمد: ٨١٦٢) 

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad berkata; telah mengabarkan kepada kami 'Ashim bin Kulaib berkata; bapakku telah menceritakan kepadaku, ia berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap khutbah yang tidak ada syahadatnya adalah seperti tangan yang buntung." (HR. Ahmad: 8162 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H) 

Pendapat imam at Tirmidzi tentang riwayat berikut, 

حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ. 

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ. (رواه الترمذي: ١٠٢٤) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Hisyam Ar Rifa'i, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari 'Ashim bin Kulaib dari Bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap khutbah yang di dalamnya tidak diucapkan syahadat seperti sebuah tangan yang buntung." 

Abu 'Isa berkata, "Ini merupakan hadits hasan sahih gharib." (HR. At Tirmidzi: 1024 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat Abu Daud: 4201- shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

BUKAN HANYA MENGUCAPKAN MASUK SURGA

BUKAN HANYA MENGUCAPKAN MASUK SURGA
Oleh: Samsurizal, MA

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ بْنِ أَبِي النَّضْرِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو النَّضْرِ هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ الْأَشْجَعِيُّ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ قَالَ فَنَفِدَتْ أَزْوَادُ الْقَوْمِ قَالَ حَتَّى هَمَّ بِنَحْرِ بَعْضِ حَمَائِلِهِمْ قَالَ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ جَمَعْتَ مَا بَقِيَ مِنْ أَزْوَادِ الْقَوْمِ فَدَعَوْتَ اللَّهَ عَلَيْهَا قَالَ فَفَعَلَ قَالَ فَجَاءَ ذُو الْبُرِّ بِبُرِّهِ وَذُو التَّمْرِ بِتَمْرِهِ قَالَ وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَذُو النَّوَاةِ بِنَوَاهُ قُلْتُ وَمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ بِالنَّوَى قَالَ كَانُوا يَمُصُّونَهُ وَيَشْرَبُونَ عَلَيْهِ الْمَاءَ قَالَ فَدَعَا عَلَيْهَا حَتَّى مَلَأَ الْقَوْمُ أَزْوِدَتَهُمْ قَالَ فَقَالَ عِنْدَ ذَلِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم: ٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin an-Nadlar bin Abu an-Nadlar dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu an-Nadlar Hasyim bin al-Qasim telah menceritakan kepada kami Ubaidullah al-Asyja'i dari Malik bin Mighwal dari Thalhah bin Musharrif dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, "Kami bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan". Lalu dia berkata, 'maka bekal kaum tersebut habis.' Selanjutnya dia berkata, "Hingga mereka berkeinginan untuk menyembelih sebagian hewan kendaraan mereka." Perawi berkata, "Maka Umar berkata, 'Wahai Rasulullah, kalau seandainya kamu mengumpulkan sebagian dari bekal kaum lalu kamu berdoa kepada Allah atasnya (niscaya itu baik)." Perawi berkata, "Lalu beliau melakukannya." Perawi berkata, "Lalu pemilik gandum datang dengan membawa gandumnya, pemilik kurma datang dengan membawa kurmanya." Perawi berkata, "Dan Mujahid berkata, 'Dan pemilik biji-bijian dengan biji-bijian mereka." Aku berkata, "Apa yang mereka perbuat dengan biji-bijian tersebut?" dia menjawab, "Mereka mengisap dan meminum air padanya." Dia berkata, "Lalu Rasulullah memanggil mereka hingga mereka dapat memenuhi wadah perbekalan mereka." Perawi berkata, "Maka Rasulullah berdoa ketika itu: 'Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan berpegang teguh padanya tanpa ada keraguan niscaya dia masuk surga'." (HR. Muslim: 39 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 40 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Ahmad: 10658 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Ahmad:12326 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Dan Ahmad: 14833 - shahih dari 'Aus bin Sha'ir, ia shahabat kuniyahnya Abu Mahdzurah negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 59 H hadits tentang adzan.

Rabu, 29 Juli 2020

SI BODOH TAAT PADA GURU

Beliau Guru Kami

SI BODOH TAAT PADA GURU
Diulas oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Alkisah cerita ini...!!!
Di pondok pesantren tersebut tinggallah seorang Kiyai yang memiliki seorang putri beserta para santri yang sedang menimba ilmu agama. Salah satu santri yang mengabdi di pondok pesantren tersebut adalah seorang pemuda yang sangat bodoh. Bertahun-tahun belajar ilmu agama di Pondok tidak ada satupun ilmu yang ia dapat karena kebodohannya itu. Dan hanya sepenggal ayat dari Surat Al-Lahab yang berbunyi “Tabat Yada” yang ia bisa. maka dari itu ia dipangil “Si Tabat”. Walaupun bodoh,  Si Tabat ini adalah seorang santri yang sangat patuh kepada sang guru yaitu kiyai tersebut. apapun perintah sang guru pasti akan ia laksanakan tanpa berfikir panjang

Pada suatu ketika sang putri kiyai tersebut sakit yang aneh. Bertahun-tahun berobat kesana-kemari ke orang-orang pintar, tabib dan dokter tidak kunjung sembuh juga. Sang Kiyai pun hampir putus asa karena sang putri tak kunjung sembuh. Akhirnya Kiyai berdoa memohon petunjuk kepada Allah agar  diberi petunjuk untuk kesembuhan sang putri. Saat Kiyai sedang tidur. Sang Kiyai bermimpi, ada sebuah suara yang mengatakan “Jika sang putri ingin sembuh maka yang tau obatnya adalah Nabi Khidir as. Setelah terbangun sang Kiyai merasa bingung terhadap mimpinya semalam dan beliau berfikir bagaimana cara mencari Nabi Khidir dan siapa yang akan mencarinya.

Setelah berfikir lama akhirnya Kiyai tersebut mendapatkan sesorang yang akan mencari Nabi. Tanpa berfikir panjang Si Tabat dipanggil untuk menghadap Kiyai dan diberi tugas untuk mencari Nabi Khidir. Karena kepatuhannya Si Tabat tanpa berfikir panjang langsung menerima apa yang diamanatkan Kiyai tanpa tau siapa dan dimana Nabi Khidir. Setelah mendapat amanat tersebut Tabat langsung pergi. Tetapi saat keluar dari pendopo padepokan. Tabat kembali lagi menemui Kiyai. Karena kebodohannya Tabat baru menyadari siapa dan dimana orang yang akan dicarinya. Akhirnya kiyai menjelaskan siapa Nabi Khidir itu. Dan Kiyai berkata, “Jika kamu ingin mencari Nabi Khidir kamu telusuri sungai hingga nanti akan bertemu dengan seseorang yang memakai jubah putih. Setelah bertemu dengan Nabi Khidir, kamu tanyakan apa obat agar putriku ini dapat sembuh dari penyakit aneh ini”. Setelah mendapatkan penjelasan dari Kiyai Tabat pun langsung berangkat dengan menyusuri sungai.

Butuh waktu bertahun-tahun Si Tabat untuk menemukan Nabi khidir. Saat di tengah perjalanan TAbat melewati sebuah kuburan tua. Pada saat itu juga terdengarlah suara tanpa rupa yang memanggilnya. “Tabat kamu mau kemana nak?”. Tabatpun langsung menjawab, “Siapa kisanak? Aku mau mencari Nabi Khidir”.  Suara itu menjawab: “Aku orang yang berada di dalam kuburan ini. Kebetulan sekali nak, bolehkah aku meminta tolong kepadamu?.”  Ternyata orang yang ada di dalam kubur tersebut adalah seorang ustadz, tetapi saat dia di dalam alam kubur selalu disiksa. Dan ia ingin meminta tolong kepada Tabat jika ia bertemu Nabi Khidir agar ditanyakan mengapa kok dia disiksa. Si Tabat pun langsung setuju dengan permintaan seorang di dalam kubur tersebut.

Tabat pun melanjutkan perjalanan menyusuri sungai. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan pohon mangga yang besar. Pohon mangga itupun juga berbicara pada Tabat dan meminta tolong agar ditanyakan kepada Nabi Khidir “Mengapa kok buah manggaku tidak pernah diambil dan dimakan  orang?” Tabat pun juga menyetujui permintaan pohon mangga itu.

Tabat pun melanjutkan pencariannya lagi di tengah perjalanan lagi ia menjumpai sebuah sumur tua. Dan anehnya sumur tua itupun juga berbicara kepada Tabat dan meminta tolong jika bertemu Nabi Khidir untuk ditanyakan “Mengapa air didalam sumurku ini tidak pernah diminum orang?”. Tabatpun juga menyetujui permintaan sumur tua itu dan menjawab “Ya”.

Setelah bertahun-tahun menyusuri sungai, akhirnya usaha Tabat membuahkan hasil. Ia menjumpai seorang pria yang memakai jubah putih bersih. Tabat pun menghampiri dan bertanya, “Apakah Kisanak adalah Nabi Khidir?”. Ternyata orang berjubah putih itu adalah Nabi Khidir. Tabat pun langsung menangis dan bersujud karena bersyukur kepada Allah karena usahanya diridhai.

Tabat langsung menyampaikan amanat dari kiyai bahwa Kiyai ingin meminta petunjuk untuk putrinya. Nabi Khidir pun menjawab dan memberi petunjuk jika sang putri ingin sembuh maka harus dinikahkan. Karena bodohnya Tabat, ia langsung menerima jawaban tanpa bertanya dengan siapa putri harus menikah.

Setelah itu Tabat menyampaikan pesan permasalahan  dari orang yang ada di dalam kubur, pohon mangga dan sumur tua. Nabi Khidir menjawab, “Sebenarnya orang di dalam kubur itu adalah seorang ulama, karena ia memiliki ilmu tetapi tidak pernah diamalkan kepada orang lain, maka di dalam kubur tidak tenang arwahnya. Jika orang itu ingin bebas, suruh berikan ilmunya kepadamu, maka ia akan tenang di alam kubur”.

“Mengapa pohon mangga buahnya tidak pernah diambil orang padahal buahnya besar-besar. Hal itu dikarenakan di dalam pohon mangga itu terdapat pusaka yang ampuh. Jika ingin buahnya diambil dan dimakan orang, maka ambillah pusaka itu.”

“Yang terakhir, "mengapa sumur itu airnya tidak pernah diambil orang. Itu karena di dalam sumur itu terdapat sebuah emas. Jika ingin airnya diambil oleh orang maka suruh sumur itu serahkan emasnya kepadamu.”

Setelah mendapatkan amanat dari Nabi Khidir, si Tabat langsung mohon pamit untuk kembali. Setiba di sumur tua, Tabat menyampaikan apa yang diamanatkan Nabi Khidir. Akhirnya diberikanlah kepada Tabat emas yang ada dalam sumur itu. Setelah menemui Mangga diberikanlah pusaka ampuh dari pohon mangga itu. Setelah sampai dikuburan diberikanlah kepada Tabat ilmu dari ulama itu. Akhirnya Si Tabat manjadi orang yang Pandai, Kaya dan Sakti.

Setelah bertahun-tahun berkelana akhirnya Tabat tiba di Pondok. Semua orang tidak ada yang mengenali karena Tabat terlihat bagaikan seorang yang pandai, berpendidikan, sopan dan santun. Berbeda dengan Tabat beberapa tahun yang lalu. Bahkan Kiyai pun juga tidak mengenali karena perubahan Tabat. Akhirnya setelah Tabat menceritakan apa yang terjadi akhirnya Kiyai pun terharu akan diri Tabat yang sekarang. Kiyai dan para teman santri tidak menyangka setelah kembali Tabat menjadi seorang yang pandai, kaya dan sakti. Tabat juga menyampaikan obat untuk kesembuhan putri Kiyai yaitu agar sang Putri dinikahkan. Tetapi Kiyai bertanya dengan penuh rasa ragu, "Dengan siapa harus kunikahkan Tabat?” Tabatpun juga tidak tau dengan siapa harus dinikahkan. Karena Si Tabat yang berjasa dan dapat menemukan Nabi Khidir akhirnya Tabat dinikahkan dengan Putri Kiyai tersebut. Akhirnya sang putripun sembuh dan menjadi istri Tabat serta hidup bahagia. Maka dari itu ... "ridhanya Allah SWT Ada pada ridha guru mu...".

Jujurlah dalam berguru,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ يَقُولُ جَالَسْتُ ابْنَ عُمَرَ سَنَةً فَمَا سَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا. (رواه إبن ماجة: ٢٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata, telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr dari Syu'bah dari Abdullah bin Abu As Safar ia berkata, "Aku mendengar Asy Sya'bi berkata, " Aku berguru kepada Ibnu Umar selama satu tahun, namun aku tidak pernah mendengar ia membacakan satu hadits pun dari Rasulullah ﷺ." (HR. Ibnu Majah: 26 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 6176, ad Darimi: 274 dan 275 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Semoga yang sedang menuntut ilmu mendapatkan keberkahan dari doa guru...Aamien

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

HARI RAYA IDUL ADHHA DAN IDUL FITRI (HIBURAN DAN KHUTHBAH)


HARI RAYA IDUL ADHHA

DAN IDUL FITRI

 

HIBURAN DI HARI RAYA

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِي أَيَّامِ مِنَى تُدَفِّفَانِ وَتَضْرِبَانِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَغَشٍّ بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ أَيَّامُ مِنًى وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُمْ عُمَرُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُمْ أَمْنًا بَنِي أَرْفِدَةَ يَعْنِي مِنْ الْأَمْنِ. (رواه البخاري: ٩٣٤)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Urwah dari 'Aisyah, bahwa Abu Bakar? radhiyallahu 'anhu pernah masuk menemuinya pada hari-hari saat di Mina (Tasyriq). Saat itu ada dua budak yang sedang bermain rebana, sementara Nabi menutupi wajahnya dengan kain. Kemudian Abu Bakar melarang dan menghardik kedua sahaya itu, maka Nabi melepas kain yang menutupi wajahnya seraya bersabda: "Biarkanlah wahai Abu Bakar. Karena ini adalah Hari Raya 'Ied." Hari-hari itu adalah hari-hari Mina (Tasyriq)." 'Aisyah berkata, "Aku melihat Nabi menutupi aku dengan (badannya) sedangkan aku menyaksikan budak-budak Habasyah yang sedang bermain di dalam masjid. Tiba-tiba 'Umar menghentikan mereka, maka Nabi pun bersabda: "Biarkanlah mereka dengan jaminan Bani Arfidah, yaitu keamanan." (HR. Al Bukhari: 934 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya 'Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H).

Lihat juga: al Bukhari: 3266, Muslim: 1480, an Nasa'i: 1579 dan Ahmad: 23400 - shahih dari 'Aisyah.

KHUTHBAH HARI RAYA

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ. قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَلَمْ يَزَلْ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ وَهُوَ أَمِيرُ الْمَدِينَةِ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ فَلَمَّا أَتَيْنَا الْمُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ فَجَبَذَنِي فَارْتَفَعَ فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَقُلْتُ لَهُ غَيَّرْتُمْ وَاللَّهِ فَقَالَ أَبَا سَعِيدٍ قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ فَقُلْتُ مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لَا أَعْلَمُ فَقَالَ إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ. (رواه البخاري: ٩٠٣)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Maryam berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari 'Iyadh bin 'Abdullah bin Abu Sarah dari Abu Sa'id Al Khudri berkata, "Pada hari raya Idul Fitri dan Adha Rasulullah keluar menuju tempat shalat (lapangan), dan pertama kali yang beliau kerjakan adalah shalat hingga selesai. Kemudian beliau berdiri menghadap orang banyak sedangkan mereka dalam keadaan duduk di barisan mereka. Beliau memberi pengajaran, wasiat dan memerintahkan mereka. Dan apabila beliau ingin mengutus pasukan, maka beliau sampaikan atau beliau perintahkan (untuk mempersiapkannya), setelah itu beliau berlalu pergi." Abu Sa'id Al Khudri berkata, "Manusia senantiasa melaksanakan (tata cara shalat hari raya) seperti apa yang beliau laksanakan, hingga pada suatu hari aku keluar bersama Marwan -yang saat itu sebagai Amir di Madinah- pada hari raya Adha atau Fitri. Ketika kami sampai di tempat shalat, ternyata di sana sudah ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Ash Shalt. Ketika Marwan hendak menaiki mimbar sebelum pelaksanaan shalat, aku tarik pakaiannya dan dia balik menariknya, kemudian ia naik dan khutbah sebelum shalat. Maka aku katakan kepadanya, "Demi Allah, kamu telah merubah (sunnah)!" Lalu dia menjawab, "Wahai Abu Sa'id. Apa yang engkau ketahui itu telah berlalu." Aku katakan, "Demi Allah, apa yang aku ketahui lebih baik dari apa yang tidak aku ketahui." Lalu dia berkata, "Sesungguhnya orang-orang tidak akan duduk (mendengarkan khutbah kami) setelah shalat. Maka aku buat (khutbah) sebelum shalat." (HR. Al Bukhari: 903 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Rasul memerintahkan para wanita untuk bersedekah,

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ دَاوُدَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ فَإِذَا جَلَسَ فِي الثَّانِيَةِ وَسَلَّمَ قَامَ فَاسْتَقْبَلَ النَّاسَ بِوَجْهِهِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ فَإِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ يُرِيدُ أَنْ يَبْعَثَ بَعْثًا ذَكَرَهُ لِلنَّاسِ وَإِلَّا أَمَرَ النَّاسَ بِالصَّدَقَةِ قَالَ تَصَدَّقُوا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَكَانَ مِنْ أَكْثَرِ مَنْ يَتَصَدَّقُ النِّسَاءُ. (رواه تلنسائي: ١٥٥٨)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz dari Dawud dari 'Iyadh bin 'Abdullah dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa Rasulullah pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke Mushalla (lapangan tempat shalat) lalu Beliau shalat bersama manusia. Bila beliau telah duduk pada rakaat kedua maka beliau mengucapkan salam, kemudian menghadap kepada manusia dengan wajahnya, sedangkan manusia duduk. Bila beliau mempunyai suatu keperluan, yakni hendak mengutus pasukan, maka beliau menyebutkannya, dan jika tidak ada keperluan maka beliau memerintahkan manusia untuk sedekah dengan bersabda "Bersedekahlah." Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Sebagian besar yang bersedekah adalah wanita. (HR. An Nasa'i: 1558 - shahih dari Abu Sa'id al Khudriy)

Hadits dha'if dari Abu Sa'id al Khudriy,

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ عَدِيٍّ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ وَكَانَ لَا يُصَلِّي قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِذَا قَضَى صَلَاتَهُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ. (رواه أحمد: ١٠٧٩٤)

Telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Adi berkata; telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah sarapan pada hari iedul fitri sebelum keluar untuk shalat, dan beliau tidak melaksanakan shalat sebelum shalat ied, dan apabila beliau telah selesai melaksanakan shalat ied beliau shalat dua raka'at." (HR. Ahmad: 10794 - dha'if dari Abu Sa'id al Khudriy)

Catatan: dalam sanadnya terdapat periwayat yang bernama: 'Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil bin Abi Thalib, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 142 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'id menilainya munkarul hadits, Yahya bin Ma'in mengatakan, "tidak boleh berhujah dengan haditsnya", Abu Hatim menilainya layyinul hadits dan Ibnu Hajar menilainya shaduq, terdapat kesalahan. Selebihnya adalah periwayat maqbul. Riwayat yang sama dalam musnad Ahmad: 10928.

SHALAT IDUL FITRI

Sebelum keluar untuk shalat idul fitri,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ حَفْصِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُفْطِرُ عَلَى تَمَرَاتٍ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى الْمُصَلَّى. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٤٩٨)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Muhammad bin Ishaq dari Hafsh bin 'Ubaidillah bin Anas dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shallahu 'alaihi wa sallam makan beberapa buah kurma di hari raya idul fitri sebelum keluar menuju tempat shalat. Abu Isa berkata, ini adalah hadits hasan gharib shahih. (HR. At Tirmidzi: 498 - shahih dari Anas bin Malik)

Lihat juga: Ibnu Majah: 1744, al Bukhari: 900 [makan kurma dengan bilangan ganjil] - shahih dari Anas bin Malik.

Hadits dha'if tentang ini,

حَدَّثَنَا جُبَارَةُ بْنُ الْمُغَلِّسِ حَدَّثَنَا مَنْدَلُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ صَهْبَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يُغَذِّيَ أَصْحَابَهُ مِنْ صَدَقَةِ الْفِطْرِ. (رواه إبن ماجه: ١٧٤٥)

Telah menceritakan kepada kami Jubarah bin Al Mughallas berkata, telah menceritakan kepada kami Mandal bin Ali berkata, telah menceritakan kepada kami Umar bin Shahban dari Nafi' dari Ibnu Umar ia berkata, "Pada hari raya Iedul Fitri Nabi tidak makan pagi hingga Beliau memberi makan pagi para sahabatnya dari zakat fitrah. " (HR. Ibnu Majah: 1745 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Catatan: dalam sanadnya terdapat periwayat bernama:

Pertama, 'Umar bin Shabhan, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Ja'far negeri hidup Madinah dan wafat tahun 157 H. Penilaian ulama: al Bukhari menilainya munkarul hadits, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Yahya bin Ma'in, Abu Hatim, Abu Zur'ah dan al Baghawi menainya dha'iful hadits. Sedangkan Al Azdi menilainya matrukul hadits.

Kedua, Mindal bin 'Ali, ia tabi'ut atba'kalangan kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 167 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, an Nasa'i, ad Daruquthni, Ibnu Qani dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. As Saji menilainya laisa bi tsiqah, sedangkan Hakim menilainya laisa bi qawi.

Ketiga, Juabarah bin al Mughallis, ia tabi'ut atba'kalangan tua negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: al Bukhari mengatakan, "haditsnya mudharib", ad Daruquthni menilainya matruk, sedangkan adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya dha'if.

SHALAT HARI RAYA QURBAN

Sebelum keluar shalat hari raya qurban,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ حَدَّثَنَا ثَوَابُ بْنُ عُتْبَةَ الْمَهْرِيُّ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَكَانَ لَا يَأْكُلُ يَوْمَ النَّحْرِ حَتَّى يَرْجِعَ. (رواه إبن ماجه: ١٧٤٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ashim berkata, telah menceritakan kepada kami Tsawab bin Utbah Al Mahri dari Ibnu Buraidah dari Bapaknya berkata, "Pada hari Iedul Fitri Rasulullah tidak keluar untuk shalat hingga beliau makan terlebih dahulu. Sementara pada hari raya kurban (Nahr) beliau tidak makan hingga kembali (dari shalat). " (HR. Ibnu Majah: 1746 - shahih dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)

Lihat juga Ahmad: 21906 - dha'if dari Buraidah.

Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama: 'Uqbah bin 'Abdullah, ia tabi'ut tab'in kalangan tua negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 166 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar, adz Dzahabi dan Abu Daud menilainya dha'if. Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai', sedangkan Abu Hatim menilainya layyinul hadits.

LARANGAN PUASA DI HARI TASYRIQ

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ مُوسَى بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ. قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَسَعْدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَجَابِرٍ وَنُبَيْشَةَ وَبِشْرِ بْنِ سُحَيْمٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُذَافَةَ وَأَنَسٍ وَحَمْزَةَ بْنِ عَمْرٍو الْأَسْلَمِيِّ وَكَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَعَائِشَةَ وَعَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ أَبُو عِيسَى وَحَدِيثُ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ الصِّيَامَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ إِلَّا أَنَّ قَوْمًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ رَخَّصُوا لِلْمُتَمَتِّعِ إِذَا لَمْ يَجِدْ هَدْيًا وَلَمْ يَصُمْ فِي الْعَشْرِ أَنْ يَصُومَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ وَبِهِ يَقُولُ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَأَهْلُ الْعِرَاقِ يَقُولُونَ مُوسَى بْنُ عَلِيِّ بْنِ رَبَاحٍ وَأَهْلُ مِصْرَ يَقُولُونَ مُوسَى بْنُ عُلِيٍّ و قَالَ سَمِعْت قُتَيْبَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ اللَّيْثَ بْنَ سَعْدٍ يَقُولُ قَالَ مُوسَى بْنُ عَلِيٍّ لَا أَجْعَلُ أَحَدًا فِي حِلٍّ صَغَّرَ اسْمَ أَبِي. (رواه الترمذي: ٧٠٤)

Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Waki' dari Musa bin Ali dari Ayahnya dari 'Uqbah bin Amir berkata; Rasulullah bersabda: "Hari Arafah, Idul Adha dan Hari-Hari Tasyriq merupakan hari raya kami sebagai kaum muslimin yaitu hari makan dan minum". Hadits semakna diriwayatkan dari 'Ali, Sa'ad, Abu Hurairah, Jabir, Nubaisyah, Bisyr bin Suhaim, Abdullah bin Hudzafah, Anas, Hamzah bin Amr As Sulami, Ka'ab bin Malik, 'A`isyah, Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Amr. Abu Isa berkata; "Hadits Uqbah bin Amir merupakan hadits hasan shahih dan diamalkan oleh para ulama, mereka sangat membenci puasa pada Hari-Hari Tasyriq. Ada sekelompok sahabat dan yang lain, memberi keringanan bagi yang berhaji tamattu', jika tidak mendapatkan hewan sembelihan dan tidak sempat untuk berpuasa pada hari tasyrik pertama bulan Dzul Hijjah. Demikian juga Anas bin Malik, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq membolehkan puasa pada hari tasyriq bagi yang berhaji tamattu' jika tidak mendapatkan hewan sembelihan dan tidak sempat berpuasa pada sepuluh Abu 'Isa berkata; "Penduduk Irak menyebutnya Musa bin Ali bin Robah sedangkan penduduk Mesir memanggilnya Musa bin aliy." (Abu Musa) berkata; "Saya telah mendengar Qutaibah berkata; 'Aku mendengar Al Laits bin Sa'ad berkata; 'Musa bin Ali berkata; saya tidak akan membiarkan orang yang mentashgir (mengecilkan) nama ayahku'." (HR. At Tirmidzi: 704 - shahih dari 'Uqbah bin 'Amir bin 'Abs, ia shahabat kuniyahnya Abu Hammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 58 H)

Lihat juga: Abu Daud: 2066, an Nasa'i: 2954, Ahmad: 16739 - shahih dari 'Uqbah bin 'Amir.

HARI RAYA QURBAN [hari Nahar]

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ بْنِ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْحَارِثِ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ يَوْمِ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ فَقَالَ يَوْمُ النَّحْرِ. (رواه الترمذي: ٨٨٠)

Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Abdushshamad bin Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Bapaknya dari Muhammad bin Ishaq dari Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali berkata; "Aku bertanya kepada Rasulullah tentang Haji Akbar. Beliau menjawab: 'Itu adalah hari Nahr'." (HR. At Tirmidzi: 880 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib).

Penjelasan at Tirmidzi,

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْحَارِثِ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: يَوْمُ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ يَوْمُ النَّحْرِ. قَالَ أَبُو عِيسَى وَلَمْ يَرْفَعْهُ وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ وَرِوَايَةُ ابْنِ عُيَيْنَةَ مَوْقُوفًا أَصَحُّ مِنْ رِوَايَةِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ مَرْفُوعًا هَكَذَا رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْحُفَّاظِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْحَارِثِ عَنْ عَلِيٍّ مَوْقُوفًا وَقَدْ رَوَى شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ قَالَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ الْحَارِثِ عَنْ عَلِيٍّ مَوْقُوفًا. (رواه الترمذي: ٨٨١)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Ibnu Ishaq dari Al Harits dari 'Ali berkata; "Hari Haji Akbar, ialah Hari Nahr." Abu 'Isa berkata; "Dia tidak memarfu'kannya, dan ini lebih shahih dari hadits yang pertama. Riwayat Ibnu Uyainah secara mauquf, lebih shahih dari riwayat Muhammad bin Ishaq secara marfu'. Demikian lebih dari seorang hafizh meriwayatkannya dari Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali secara mauquf. Syu'bah telah meriwayatkannya dari Abu Ishaq, berkata; dari Abdullah bin Murrah dari Al Harits dari Ali secara mauquf." (HR. At Tirmidzi: 881 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib)

Lihat juga: Abu Daud: 1661 shahih dari 'Umar bin al Khaththab. Begitu juga at Tirmidzi: 3013 dan 3014 - shahih keduanya dari 'Ali bin Abi Thalib. Sedangkan riwayat Ahmad: 15322 - shahih [mauquf] dari seseorang tak dikenal.

PUASA DAHAR DAN HARI TASYRIQ

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِمَنْ صَامَ الدَّهْرَ قَالَ لَا صَامَ وَلَا أَفْطَرَ أَوْ لَمْ يَصُمْ وَلَمْ يُفْطِرْوَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَأَبِي مُوسَى. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي قَتَادَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ كَرِهَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صِيَامَ الدَّهْرِ وَأَجَازَهُ قَوْمٌ آخَرُونَ وَقَالُوا إِنَّمَا يَكُونُ صِيَامُ الدَّهْرِ إِذَا لَمْ يُفْطِرْ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ فَمَنْ أَفْطَرَ هَذِهِ الْأَيَّامَ فَقَدْ خَرَجَ مِنْ حَدِّ الْكَرَاهِيَةِ وَلَا يَكُونُ قَدْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ و قَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ نَحْوًا مِنْ هَذَا وَقَالَا لَا يَجِبُ أَنْ يُفْطِرَ أَيَّامًا غَيْرَ هَذِهِ الْخَمْسَةِ الْأَيَّامِ الَّتِي نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ. (رواه الترمذي: ٦٩٨)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah dan Ahmad bin 'Abdah keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ghailan bin Jarir dari Abdullah bin Ma'bad dari Abu Qatadah dia berkata, ditanyakan (kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam), wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan orang yang berpuasa dahr (sepanjang tahun)? Beliau menjawab: " Dia sama saja dengan tidak berpuasa dan tidak juga berbuka. Dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Abdullah bin Amr, Abdullah bin Syikhkhir dan 'Imran bin Husain serta Abu Musa. Abu 'Isa berkata, hadits Abu Qatadah adalah hadits hasan. Sebagian ulama membenci puasa dahr sedangkan sebagian yang lain membolehkannya, mereka berkata, dilarangnya seseorang untuk puasa dahr hanya apabila dia tidak berbuka pada hari iedul fitri, iedul adha dan hari-hari tasyriq, maka barang siapa yang tidak berpuasa pada hari-hari tersebut, dia tidak dilarang untuk puasa dahr demikian pendapat yang diriwayatkan dari Malik bin Anas dan Syafi'i. Ahmad dan Ishaq juga berpendapat seperti pendapat tersebut, mereka berkata, hukumnya tidak wajib untuk berbuka pada selain lima hari yang telah disebutkan di atas. [Maksudnya 'Idul Fitri, 'Idul Adhha dan hari tasyriq]. (HR. At Tirmidzi: 698 - shahih dari Abu Qatadah, nama aslinya al Harits bin Rib'iy ia shahabat negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)

Lihat juga: an Nasa'i: 2338 - shahih dari 'Imran bin Husain bin 'Ubaid bin Khalaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Najid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H. An Nasa'i: 2339 dan 2340,  Ahmad: 15725 dan 15728 - shahih dari 'Abdullah asy Syakhir bin 'Auf ia shahabat dan negeri hidup Bashrah. Begitu juga riwayat an Nasa'i: 2341 - shahih dari 'Umar bin al Khaththab.

QURBAN MENURUT AL QUR'AN DAN AL HADITS


Image result for sapi qurban jokowi

QURBAN

MENURUT AL-QUR’AN DAN AL HADITS

OLEH: SAMSURIZAL, MA

 

Qurban adalah ibadah wajib bagi Muslim yang mempunyai kemampuan harta dengan waktu dan bagian tertentu.

Ayat-ayat tentang Qurban:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ. الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ. وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ. (سورة الحج/22: 34-37)

Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka. Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. al-Hajj/22: 34-37)

PENDISTRIBUSIAN DAGING QURBAN

Penyembelihan dilakukan setelah shalat `Id, sebagaimana sabda Nabi:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ زُبَيْدٍ عَنِ الشَّعْبِىِّ عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ خَطَبَنَا النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ: إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِى يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّىَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا ، وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَّلَهُ لأَهْلِهِ ، لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِى شَىْءٍ. فَقَامَ خَالِى أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَا ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أُصَلِّىَ وَعِنْدِى جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُسِنَّةٍ . قَالَ: اجْعَلْهَا مَكَانَهَا - أَوْ قَالَ اذْبَحْهَا - وَلَنْ تَجْزِىَ جَذَعَةٌ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ. (صحيح البخاري/4: 121)

Ini diikuti jumhur sahabat, tabi`in dan ahli fiqih. Rasul ketika akan menyembelih membaca:

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { لَمَّا ضَحَّى قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي. (سبل السلام/شروط الأطحية و حكمها/6: 309)

حَدَّثَنَا مُسْلِمٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الأَسْوَدِ عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ صَلَّى النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ خَطَبَ ، ثُمَّ ذَبَحَ فَقَالَ « مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا ، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ ». (صحيح البخاري/4: 151)

Lafazh-lafazh hadits-hadits tentang pendistribusian daging hewan Qurban:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِى عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا ». (صحيح البخاري/باب ما يؤكل من لحوم الأضاحى/5: 2115)

وَحَدَّثَنِى عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَاقِدٍ أَنَّهُ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْلِ لُحُومِ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى بَكْرٍ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقَالَتْ صَدَقَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ دَفَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ حَضْرَةَ الأَضْحَى فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ادَّخِرُوا لِثَلاَثٍ وَتَصَدَّقُوا بِمَا بَقِىَ ». قَالَتْ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَقَدْ كَانَ النَّاسُ يَنْتَفِعُونَ بِضَحَايَاهُمْ وَيَجْمِلُونَ مِنْهَا الْوَدَكَ وَيَتَّخِذُونَ مِنْهَا الأَسْقِيَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ « وَمَا ذَلِكَ ». أَوْ كَمَا قَالَ. قَالُوا نَهَيْتَ عَنْ لُحُومِ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلاَثٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِى دَفَّتْ عَلَيْكُمْ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَادَّخِرُوا ». (الموطأ-رواية محمد بن الحسن/2: 589)

حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ أَخْبَرَنِى عَطَاءٌ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ - رضى الله عنهما - قَالَ كُنَّا نَتَزَوَّدُ لُحُومَ الأَضَاحِىِّ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - إِلَى الْمَدِينَةِ. (صحيح البخاري/3: 1088)

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِى نَضْرَةَ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ لاَ تَأْكُلُوا لُحُومَ الأَضَاحِىِّ فَوْقَ ثَلاَثٍ ». وَقَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ. فَشَكَوْا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ لَهُمْ عِيَالاً وَحَشَمًا وَخَدَمًا فَقَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَاحْبِسُوا أَوِ ادَّخِرُوا ». قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى شَكَّ عَبْدُ الأَعْلَى. (صحيح مسلم/6: 81)

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَابِسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ قَالَتْ نَعَمْ أَصَابَ النَّاسَ شِدَّةٌ فَأَحَبَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُطْعِمَ الْغَنِيُّ الْفَقِيرَ ثُمَّ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ آلَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُونَ الْكُرَاعَ بَعْدَ خَمْسَ عَشْرَةَ قُلْتُ مِمَّ ذَاكَ فَضَحِكَتْ فَقَالَتْ مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خُبْزٍ مَأْدُومٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ حَتَّى لَحِقَ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ أَبِى لَيْلَى عَنْ عَلِىٍّ رضى الله عنه قَالَ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أُقَسِّمَ بُدْنَهُ أَقُومُ عَلَيْهَا وَأَنْ أُقَسِّمَ جُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَازِرَ مِنْهَا شَيْئاً وَقَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ». تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين. (مسند أحمد بن حنبل/1: 79)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى - وَاللَّفْظُ لأَبِى بَكْرٍ وَابْنِ نُمَيْرٍ - قَالُوا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِى سِنَانٍ - وَهُوَ ضِرَارُ بْنُ مُرَّةَ - عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِىِّ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنِ النَّبِيذِ إِلاَّ فِى سِقَاءٍ فَاشْرَبُوا فِى الأَسْقِيَةِ كُلِّهَا وَلاَ تَشْرَبُوا مُسْكِرًا ». قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ فِى رِوَايَتِهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ. (صحيح مسلم/2: 672)

حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَاقِدٍ أَنَّهُ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ لُحُومِ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلَاثٍ. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقَالَتْ صَدَقَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ دَفَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ حَضْرَةَ الْأَضْحَى فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادَّخِرُوا لِثَلَاثٍ وَتَصَدَّقُوا بِمَا بَقِيَ قَالَتْ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ كَانَ النَّاسُ يَنْتَفِعُونَ بِضَحَايَاهُمْ وَيَجْمُلُونَ مِنْهَا الْوَدَكَ وَيَتَّخِذُونَ مِنْهَا الْأَسْقِيَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ قَالُوا نَهَيْتَ عَنْ لُحُومِ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلَاثٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِي دَفَّتْ عَلَيْكُمْ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَادَّخِرُوا يَعْنِي بِالدَّافَّةِ قَوْمًا مَسَاكِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ. (موطأ مالك/3: 691)

الدافة : القوم يسيرون جماعة سيرا ليس بالشديد ، وهم قوم من الأعراب قَدموا المدينة عند الأضحى. (صحيح إبن حبان/24: 293)

Lafazh-lafazh hadits tentang ancaman orang yang tidak mau ber-qurban:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا. (إبن ماجه)

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا. (أحمد)

من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح ، فلا يحضر مصلانا. (حاكم)

من كان له مال فلم يضح فلا يقربن مصلانا. (حاكم)

من وجد سعة فلم يضح معنا فلا يقربن مصلانا. (حاكم)

مَنْ وَجَدَ سَعَةً لأَنْ يُضَحِّىَ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَحْضُرْ مُصَلاَّنَا. (البيهقي)

مَنْ وَجَدَ مِنْكُمْ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا. (الدار قطني)

من وجد سعة فلم يذبح فلا يقربن مصلانا. (البيهقي)

 

Kualitas hadits menurut Syaikh Al-Albaniy adalah “hasan”, sebagaimana paparan berikut:

(حسن ) من كان عنده سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا حسن أخرجه ابن ماجه والخطيب والحاكم عن أبي هريرة ( ر ) قال : قال النبي ( ص ) من كان له مال فلم يضح فلا يقربن مصلانا وقال مرة من وجد سعة فلم يذبح فلا يقربن مصلانا هذا لفظ المقري عند الحاكم وهو عند أحمد باللفظ الآخر وقال فلم يضح ولفظ ابن الحباب عند الحاكم من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح فلا يحضر مصلانا ولفظه عند ابن ماجة من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا. (تخريج مشكلة الفقر/أول الكتاب/1: 67)

Hadits yang berkenaan dengan “Siapa saja yang punya kemampuan untuk ber-qurban, maka wajib baginya untuk ber-qurban.” Adapun ancaman bagi yang tidak melakukannya maka ia dilarang untuk mendekati/menghadiri shalat `Idul Adha. Kalimat "fala yaqrabanna mushallana " dan "fala yahdhur mushallana" adalah ancaman. Ini menunjukkan ber-qurban bagi yang punya kemampuan untuk itu adalah wajib. Kewajiban ini mesti dilakukan, dengan demikian tidak ada faedah shalat `Id jika ini tidak dilakukan. Sebagaimana firman Allah:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. (سورة الكوثر: 2)

Kewajiban itu diberlakukan per keluarga, sebagaimana sabda Nabi:

(ت- د - س) مخنف بن سليم - رضي الله عنه - قال : كُنَّا وقوفا مع رسول اللَّه -صلى الله عليه وسلم- بعرفةَ ، فسمعته يقول : يا أيها الناسُ، إنَّ على [ أهلِ ] كُلَّ بيتٍ في كل عام أضحِية وعتِيرة ، هل تَدْرُونَ : ما العتيرةُ ؟ هي التي تُسَمُّونّها الرَّجبيَّة ». أخرجه الترمذي وأبو داود والنسائي. (جامع الأصول من أحاديث الرسول/3: 1623)

Hadits ini gharib dha`if, tetapi pada jalur al-Tirmidziy hasan, kalau dalam keluarga itu masing-masing telah berkemampuan untuk menunaikan qurban maka tetap pada kewajiban awal.

Lengkapnya,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ ح و حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا بِشْرٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَوْنٍ عَنْ عَامِرٍ أَبِي رَمْلَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مِخْنَفُ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ: وَنَحْنُ وُقُوفٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً أَتَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ هَذِهِ الَّتِي يَقُولُ النَّاسُ الرَّجَبِيَّةُ. قَالَ أَبُو دَاوُد الْعَتِيرَةُ مَنْسُوخَةٌ هَذَا خَبَرٌ مَنْسُوخٌ. (رواه أبوداود: ٢٤٠٦)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yazid, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas'adah, telah menceritakan kepada kami Bisyr dari Abdullah bin 'Aun dari 'Amir Abu Ramlah, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Mikhnaf bin Sulaim, ketika kami sedang berwukuf bersama Rasulullah di 'Arafah beliau berkata: "Wahai umat manusia, sesungguhnya kewajiban setiap penghuni rumah pada setiap tahun untuk menyembelih kurban serta 'atirah, tahukah kalian apakah 'atirah? Yaitu yang orang-orang menyebutnya rajabiyyah (menyembelih hewan pada sepuluh hari pertama)." Abu Daud berkata; 'atirah telah dihapuskan dan hadits ini adalah hadits yang telah terhapus. (HR. Abu Daud: 2406 - Mikhnaf bin Sulaim bin al Harits, ia shahabat negeri hidup Kufah dan wafat tahun 64 H)

Lihat juga: At Tirmidzi: 1438, an Nasa'i: 4152, Ibnu Majah: 3116, Ahmad: 17216 dan 19805. Semuanya dari Mikhnaf bin Sulaim bin al Harits.

Catatan: enam hadits tersebut terdapat periwayat bernama Amir Abu Ramlah, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Ramlah. Menurut Ibnu Hajar Ia tidak dikenal. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Lafazh lain,

حَدَّثَنَا أَبُو عَمَّارٍ الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ عَنْ عِلْبَاءَ بْنِ أَحْمَرَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَ الْأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَةِ سَبْعَةً وَفِي الْبَعِيرِ عَشَرَةً. قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي الْأَسَدِ السُّلَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ وَأَبِي أَيُّوبَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ الْفَضْلِ بْنِ مُوسَى. (رواه إبن ماجه: ١٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Ammar Al Husain bin Huraits berkata, telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Musa dari Al Husain bin Waqid dari Ilba bin Ahmar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata, "Kami bersama Rasulullah dalam perjalanan, lalu tibalah hari Idul Adhha. Kami lalu berserikat berkurban seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang." Abu Isa berkata; "Dalam bab ini ada hadits serupa dari Abul Asad As Sulami dari bapaknya dari kakeknya, dan hadits Abu Ayyub." Abu Isa berkata; "Hadits Ibnu Abbas derajatnya hasan gharib, dan kami tidak mengetahui hadits tersebut kecuali dari Al Fadhl bin Musa." (HR. At Tirmidzi: 1421 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas)

Lihat juga: Ibnu Majah: 3122 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthalib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H [hadits ahlul Hims, karena tiga periwayat terakhir dari Himsh.

Wallahu a'lam bish shawab.